Pengkaji Budaya Yogya: Khazanah Jawa Semuanya Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengkaji budaya Yogyakarta, Salim A Fillah mengatakan sejak Sultan Hamengkubuwono I, Islam sudah menjadi asas dalam kehidupan Jawa, termasuk dalam hal makanan dan pakaian, antara lain Sego Wudhu dan Batik. 

Sego wudhu artinya nasi yang berwudhu dengan air santan, makannya pake lauk dan pelengkapnya sambal gepleng. Gepleng berasal dari kata geleng-geleng atau dzikir, yang terbuat dari kedelai hitam, bawang putih, garam. Itu satu contoh saja tata boga dari keraton,” tutur pendiri Majelis Jejak Nabi dalam acara Seminar Akbar Islam dan Nusantara di Aula Ar-Rahman Qur’anic Learning Center (AQL), Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (27/06/2015). 

Selain itu, lanjutnya, ada pula batik keraton. Salim mencontohkan batik-batik keraton parang dengan motif Wahyu Tumurun yang biasa dipakai oleh orang keraton pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan dan menyebutkan filosofinya.

“Baju batik dengan motif wahyu tumurun artinya laylatul Qadr. Dipakai untuk 10 malam terakhir di keraton. Ini membuktikan bahwa khazanah kita semuanya Islam," paparnya.

Bahkan, ia juga menjelaskan gambar-gambar yang ada dalam baju batik tersebut, antara lain gambar biji yang mengartikan orang mengamalkan Al-Qur’an itu sudah seharusnya seperti biji yang tumbuh.

“Batu-batu granit mengartikan orang yang hatinya selalu ingat Al-Qur’an maka hatinya tidak akan sekeras batu, keris di depan mengartikan kewaspadaan selalu lebih dikedepankan, kemudian ada surjan garisnya lurik artinya lurus dalam hati, lisan dan amal, samir melambangkan takwa dan selanjutnya adalah tanggung jawab," tuturnya sembari memegang baju batik keraton yang masih terbungkus rapi dalam plastik.

Kemudian, ada pula blankon yang biasa dipakai orang Jawa, khususnya orang Yogya sebagai simbol perlawanan.

“Blankon berawal dari sultan agung yang menjahit dan mengelim sebagai ganti sorban agar jadi lebih praktis. Kalau anda perhatikan, blankon gaya yogya seperti ikatan sorban yang berlapis-lapis, itu simbol perlawanannya orang yogya. Orang kalau pakai blankon maka harus bisa mengayomi masyarakat”, jelasnya.

Terakhir, Salim meminta doa dan menginfokan pada para peserta aka nada buku mengenai Ensiklopedi Dakwah dalam Tradisi Yogya.

Seminar Akbar Islam dan Nusantara merupakan seminar yang diadakan oleh Aliansi Pemuda Islam Indonesia (APII) dan didukung oleh AQL Islamic Centre, Young Islamic Leader (YI-Lead), Qur’anic Generation (Q-Gen), Komunitas Rajin Shalat dan Omah Peradaban. Selain Salim Fillah, Kandidat Doktor Sejarah Universitas Indonesia, Tiar Anwar Bakhtiar dan Ketua Dai dan Ulama se-ASEAN, Zaytun Rasmin, M.A., juga mengisi acara ini. Seminar yang sama akan diadakan pada Ahad tanggal 05 Juli 2015 di lokasi yang sama dengan pembicara Guru Besar Universitas Padjajaran Prof. Ahmad Mansur Suryanegara, Ketua Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia, Dr. Hamid Fahmy Zarkasy, M.Phil., dan Pengkaji Budaya Jawa Susiyanto M.P.I.

Kontributor : Fikri | Editor : Ally | Jurniscom

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X