Pengadilan Otoritas Tahan 6 Wartawan di Tepi Barat, Palestina

11 Agustus 2017
Pengadilan Otoritas Tahan 6 Wartawan di Tepi Barat, Palestina

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Pengadilan Otoritas pada hari Kamis (10/8/2017) memperpanjang penahanan enam wartawan selama beberapa hari, seorang anggota Sindikat Jurnalis Palestina (the┬áPalestinian Journalists’ Syndicate) mengatakan kepada Al Jazeera.

Omar Nazzal, anggota sindikat jurnalis di Tepi Barat yang diduduki, mengatakan bahwa kantor pengacara publik sedang mempersiapkan sebuah dakwaan terhadap enam wartawan karena melanggar undang-undang Kejahatan Elektronik yang kontroversial baru-baru ini.

“Keenam wartawan tersebut dituduh melanggar Pasal 20 undang-undang Kejahatan Elektronik,” kata Nazzal kepada Al Jazeera, mengacu pada klausul yang melarang diseminasi berita yang membahayakan keamanan internal atau eksternal negara.

Mereka ditangkap oleh pasukan keamanan Otoritas di Tepi Barat yang diduduki pada Selasa malam.

Amer Abu Arafeh, Qutaiba Qasem, Mamdouh Hamamreh, Ahmad Halaiqa, Islam Za’al dan Tarek Abu Zeid tetap berada dalam tahanan di berbagai kota di wilayah Palestina.

Beberapa jurnalis adalah freelancer (bekerja paruh waktu), sementara Abu Zaid dan Abu Arafeh bekerja sama dengan Al-Aqsa TV dan saluran Al-Quds, keduanya dianggap dekat dengan Hamas.

Ala Freijat, seorang pengacara sindikat wartawan Palestina, menyebut penangkapan tersebut “ilegal”.

“Proses penahanan itu ilegal karena melanggar kesepakatan khusus antara sindikat wartawan Palestina dan kantor pengacara publik Palestina,” kata Freijat kepada Al Jazeera.

Perjanjian tersebut, menurut Freijat, diajukan tahun lalu dan menetapkan bahwa hanya kantor pengacara publik yang dapat memanggil wartawan, bukan pasukan keamanan PA.

“Seorang perwakilan dari kantor kejaksaan juga harus hadir saat diinterogasi,” kenang Freijat.

Menurut Freijat, pasukan keamanan PA belum melakukan interogasi formal dengan wartawan.

Wafa, kantor berita resmi PA, melaporkan pada Rabu malam bahwa wartawan ditahan karena “membocorkan informasi ke pihak yang tidak bersahabat”.

Freijat percaya tidak ada dasar untuk tuduhan ini.

“Kami menolak penangkapan ini … yang merupakan ancaman serius terhadap kebebasan berekspresi,” kata Nazzal dari sindikat wartawan.

Al-Haq, sebuah organisasi hak asasi manusia Palestina non-pemerintah yang berbasis di Ramallah, juga mengecam penangkapan tersebut dan menuntut pembebasan segera para jurnalis tersebut.

“Kami menekankan lagi pada kebutuhan untuk menghentikan pemanggilan dan penangkapan wartawan karena melaksanakan pekerjaan mereka,” kata Al-Haq dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Rabu.

“Aturan hukum, termasuk hak kebebasan berekspresi, harus dihormati dan dijamin oleh hukum Palestina dan konvensi internasional.”

Komite untuk Melindungi Wartawan mengatakan bahwa pasukan keamanan PA harus menghentikan penangkapan jurnalis dengan tuduhan palsu.

“Pasukan keamanan Otoritas di Tepi Barat harus segera membebaskan kelima wartawan yang mereka tangkap kemarin dan menghentikan penghukuman wartawan karena perselisihan antara faksi-faksi Palestina,” kata Koordinator Program CPJ Timur Tengah dan Afrika Utara Sherif Mansour dari Washington DC.

Penangkapan keenam wartawan tersebut tidak dikonfirmasi oleh PA.

Pada hari Kamis, Forum Media Palestina di Kota Gaza mengadakan unjuk rasa solidaritas terhadap wartawan yang ditahan.

Forum tersebut mengatakan bahwa penangkapan itu bersifat politis dan tidak memiliki dimensi terkait dengan pekerjaan jurnalistik mereka.