BEKASI (jurnalislam.com)- Pemuda Muhammadiyah Jatiasih Bekasi sukses menyelenggarakan pelatihan literasi digital KAM Academy pada Ahad, (4/10/2026) bertempat di Gedung BLK Masjid Abdullah AbdulAziz Almani.
Pelatihan kali ini mengangkat tema “Pengantar Literasi Digital: Bagaimana Informasi Membentuk Cara Kita Berpikir?” dengan menghadirkan jurnalis dan pegiat literasi, Fajar Shadiq, S.Pd.I., S.Sos., M.Si., sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparannya, Fajar mengajak para peserta membedah secara kritis dinamika ruang digital saat ini yang dipenuhi oleh luapan informasi tak terbendung, serta pentingnya benteng etika berbasis nilai-nilai keislaman.
Mengawali materi, Fajar menjelaskan bahwa masyarakat modern saat ini sedang mengalami pergeseran era secara drastis, yaitu dari kelangkaan informasi (information scarcity) menuju kelimpahan informasi (information abundance).
“Dalam 24 jam terakhir, berapa banyak informasi yang masuk ke kepala kita? Masalah literasi digital saat ini bukan lagi sekadar akses terhadap informasi, melainkan kemampuan dalam mengelola informasi tersebut,” ujar Fajar Shadiq.
Ia menegaskan bahwa informasi yang berlimpah tidak otomatis membuat pengetahuan bertambah. Untuk menghasilkan keputusan yang tepat di era digital, masyarakat harus mampu mengolah data mentah menjadi informasi, pemahaman, serta penilaian yang matang
Fajar juga mengingatkan bahwa layar gawai yang ditatap masyarakat setiap hari bukanlah jendela yang sepenuhnya netral, melainkan hasil interaksi kompleks antara pengguna, platform, algoritma, serta konteks.
Kondisi ini kerap memicu fenomena filter bubble, kondisi saat pengalaman informasi dipersempit oleh personalisasi digital dan echo chamber, lingkungan sosial digital yang terus memperkuat pandangan tertentu hanya dari kelompok yang sehaluan.
“Virality adalah ukuran penyebaran, bukan ukuran kebenaran,” tegas Fajar.
Ia merinci beberapa ciri informasi yang patut diwaspadai dan diperiksa kebenarannya, antara lain judul clickbait, klaim terlalu absolut, tidak mencantumkan sumber jelas, screenshot tanpa konteks, potongan video yang hilang konteksnya, hingga informasi lama yang diunggah ulang seolah-olah berita baru.