JENEWA (Jurnalislam.com) – Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistur,a mengatakan bahwa pembicaraan damai di Suriah akan mendorong gencatan senjata bagi semua pihak yang bertikai di Suriah selain Jabhah Nusrah cabang resmi al Qaeda di Suriah dan Islamic State (IS), lansir Aljazeera, Senin (25/01/2016).
De Mistura mengumumkan pada konferensi pers di Jenewa bahwa pembicaraan damai yang awalnya dijadwalkan dimulai pada hari Senin, telah dijadwal ulang untuk hari Jumat (29/01/2016) dan diperkirakan berlangsung selama enam bulan.
Dia berharap untuk mengirim undangan pembicaraan pada Selasa (26/01/2016) dan putaran awal diskusi kemungkinan akan berlangsung dua sampai tiga pekan.
"Diskusi masih berlangsung dan saya sangat menyadari apa yang terjadi di Jenewa 2, oleh karena itu kami sangat berhati-hati dan teliti dalam memastikan bahwa ketika dan jika kita mulai, kita memulainya pada kaki yang tepat," De Mistura mengatakan pada hari Senin.
Dia mengatakan semua pihak akan terlibat dalam upaya gencatan senjata, selain dua kelompok yang ditunjuk sebagai "teroris" oleh PBB.
"Kondisi ini harus menjadi gencatan senjata nyata dan bukan hanya lokal," kata De Mistura.
"Suspensi pertempuran yang melibatkan Jabhah Nusrah dan IS tidak terjadi di atas meja. Namun ada banyak suspensi pertempuran lain yang dapat terjadi."
Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan pembicaraan antara pemerintah dan kelompok oposisi Suriah harus dimulai akhir Januari seperti yang direncanakan, tapi daftar undangan masih dipertanyakan.
Pembicaraan di Jenewa akan terjadi setelah serangkaian pertemuan di Wina dan New York antara komunitas internasional dan kelompok regional. Selama pertemuan Arab Saudi diharapkan untuk memberikan daftar oposisi yang menghadiri pembicaraan Jenewa.
Mohamed Alloush, pemimpin faksi Jaysh al-Islam, yang telah dipilih sebagai bagian dari daftar kelompok oposisi (tidak mewakili keseluruhan faksi), mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ada kondisi yang belum diterapkan sebelum pembicaraan bisa berlangsung.
"Ada tekanan pada kita untuk menyerahkan hak rakyat Suriah yang alami dan sah. Tekanan ini terlihat dalam mendorong delegasi kami untuk berangkat ke perundingan tanpa agenda yang jelas, ditambah menyerahkan tindakan terutama dalam menyikapi situasi kemanusiaan yang tidak ada hubungannya dengan politik.
"Oleh karena itu, kita tidak bisa memberitahu delegasi kita untuk menyerahkan hak mereka dan menuju ke Jenewa sebelum serangan udara dihentikan, pengepungan diakhiri, tahanan dilepaskan, atau bantuan dikirimkan pada rakyat Suriah."
Perang global di Suriah telah menewaskan sedikitnya 250.000 orang, menurut PBB, dan lebih dari setengah populasi Suriah yang semula berjumlah 22,4 juta telah terlantar atau telah mengungsi ke luar negeri.
Deddy | Aljazeera | Jurnalislam