Pasukan dari Negara-negara Afrika Barat Memasuki Gambia Dukung Presiden Terpilih

Pasukan dari Negara-negara Afrika Barat Memasuki Gambia Dukung Presiden Terpilih

GAMBIA (Jurnalislam.com) – Pasukan dari blok negara-negara Afrika Barat telah memasuki Gambia mendukung Adama Barrow, tak lama setelah presiden Gambia baru tersebut meminta dukungan internasional menyusul pelantikannya di negara tetangga Senegal, Aljazeera melaporkan, Kamis (19/01/2017).

Presiden sebelumnya, Yahya Jammeh, yang berkuasa lama sejak kudeta tahun 1994, menolak untuk mundur meski kalah dalam pemilihan presiden 1 Desember atas Barrow, dan memperdalam krisis politik.

Dalam sebuah pernyataan, militer Senegal mengatakan pada hari Kamis bahwa pasukan dari ECOWAS, blok regional Afrika Barat, memulai serangan sebagai bagian dari sebuah operasi yang ditujukan untuk menegakkan hasil pemilu bulan lalu.

Kolonel Abdou Ndiaye tidak menentukan jenis serangan, tapi mengatakan sumber serangan darat, udara dan laut secara signifikan telah tersedia.

Adama Barrow
Adama Barrow

Sebelumnya pada hari Kamis, Barrow, yang baru saja mencari perlindungan di Senegal, mengambil sumpah jabatan dalam upacara yang buru-buru diatur di kedutaan Gambia di ibukota Senegal, Dakar.

“Ini adalah hari yang tidak akan pernah dilupakan Gambia seumur hidup,” kata Barrow dalam pidatonya segera setelah dilantik.

Tidak lama setelah pelantikannya, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat menyetujui sebuah resolusi mendukung Barrow dan menyerukan transer kekuasaan yang damai.

“Rakyat Gambia berbicara dengan jelas di pemilu Desember. Mereka memilih Adama Barrow menjadi presiden mereka. Suara mereka sekarang perlu untuk didengar dan kehendak mereka perlu diperhatikan oleh hanya satu orang,” Peter Wilson, wakil duta UK untuk PBB, mengatakan.

Awal pekan ini, Jammeh mengumumkan keadaan darurat nasional, sementara parlemen memperpanjang masa jabatannya 90 hari. Dia belum terdengar sejak mandatnya berakhir pada tengah malam.

Sedikitnya 26.000 orang telah mengungsi dari Gambia menuju Senegal sejak awal krisis khawatir akan kerusuhan, badan pengungsi PBB UNHCR mengatakan pada hari Rabu, mengutip angka yang dikeluarkan pemerintah Senegal.

Bagikan
Close X