Pakistan Gelar Rapat Darurat Setelah 6 Tewas dalam Bentrokan dengan Gerakan Pembela Rasulullah

Pakistan Gelar Rapat Darurat Setelah  6 Tewas dalam Bentrokan dengan Gerakan Pembela Rasulullah

ISLAMABAD (Jurnalislam.com) – Perdana Menteri Pakistan, Shahid Khaqan Abbasi, memimpin rapat darurat dengan pejabat tinggi pemerintah, termasuk kepala militer, pada hari Ahad (26/11/2017) untuk meninjau kembali tindakan keamanan terhadap pemrotes yang menyebabkan enam orang tewas dan ratusan lainnya cedera.

Pertemuan sepanjang dua jam di ibukota Islamabad itu membahas cara-cara untuk mengatasi krisis tersebut, termasuk pembicaraan baru dengan pemrotes, seorang pejabat rumah perdana menteri mengatakan kepada Anadolu Agency dengan syarat untuk tidak disebutkan namanya karena pembatasan untuk berbicara dengan media.

Sebagian besar peserta, termasuk anggota kabinet, menyarankan perdana menteri untuk menghindari penggunaan kekerasan karena akan memicu lebih banyak kekerasan.

Ribuan pemrotes pada hari Ahad terus menduduki jalan-jalan utama di beberapa wilayah Pakistan, termasuk Islamabad, yang melumpuhkan aktivitas kehidupan dan memaksa panglima militer negara tersebut untuk menunda kunjungannya ke luar negeri, kata beberapa pejabat dan media setempat.

Panglima Angkatan Darat Jenderal Qamar Javed Bajwa, yang melakukan kunjungan resmi ke UAE, memotong perjalanannya dan bertemu perdana menteri pada Ahad malam.

Dia menyarankan perdana menteri untuk menghindari penggunaan kekuatan dan pemulihan saluran berita, seorang pejabat militer mengatakan kepada Anadolu Agency dengan syarat untuk tidak disebut namanya, karena pembatasan untuk berbicara dengan media.

Beberapa menit setelah pertemuan, pemboikotan saluran berita dua hari di seluruh negeri dicabut.

Demonstran yang membawa tongkat menyerang sebuah pos pemeriksaan polisi dan membakar sedikitnya lima kendaraan pada pagi hari di dekat Islamabad, kata penyiar lokal Geo TV.

Bentrokan Sengit Anti Ahmadiyah dengan Pasukan Pakistan di Islamabad, Ratusan Terluka

Para pemrotes dari Tehrik Labbaik Ya Rasulallah (Gerakan untuk membela Rasulullah) – sebuah kelompok yang baru dibentuk yang mewakili pemikiran Sunni-Barelvi – telah memblokir jalan raya utama yang menghubungkan kota Rawalpindi dengan Islamabad sejak awal November.

Mereka memprotes sebuah klausul pemilihan terkait Nabi Muhammad Saw – yang dirubah awal bulan ini di tengah demonstrasi di seluruh negeri.

Dalam undang-undang yang diusulkan bulan lalu, untuk membuka jalan bagi mantan Perdana Menteri Nawaz Sharif kembali berkuasa sebagai kepala partai setelah penggulingan oleh Mahkamah Agung, klausulnya diubah – pemerintah menyebutnya sebagai ‘kesalahan administrasi’.

Menurut klausul, para pemilih pada saat pendaftaran untuk pemilihan umum harus menyatakan bahwa mereka percaya bahwa Nabi Muhammad Saw adalah rasul terakhir. Siapa pun yang mengaku Islam tapi tidak menyatakan percaya bahwa Nabi Muhammad adalah rasul terakhir akan dimasukkan dalam daftar terpisah sebagai kelompok Ahmedis atau Qadianis – sebuah minoritas sekte yang dinyatakan non-Muslim oleh parlemen pada tahun 1974.

Kelompok Tehrik Labbaik tersebut menyalahkan kelompok Nawaz, partai Muslim Pakistan yang berkuasa saat ini, terutama Menteri Hukum Zahid Hamid, karena “dengan sengaja” memodifikasi klausul untuk mendukung sekte Ahmadiyah yang mengakui Nabi Muhammad bukan Nabi terakhir, dan Tehrik menuntut pengunduran dirinya.

Setelah aksi keras polisi hari Sabtu di negara tersebut, para pemrotes sekarang menuntut pengunduran diri seluruh kabinet.

Tindakan keras yang ditangguhkan pada Sabtu malam, terjadi setelah Mahkamah Agung memerintahkan untuk memindahkan paksa mereka para pengunjuk rasa oleh polisi.

Aksi protes disertai kekerasan, hingga membakar kendaraan dan harta benda, memaksa pemerintah memanggil tentara untuk mengamankan ibukota pada hari Sabtu.

Pasukan para- militer Rangers ditempatkan di dekat lokasi aksi duduk saat ratusan pemrotes masih berkemah di daerah Faizabad, sebuah persimpangan yang menghubungkan kota Rawalpindi dengan Islamabad.

Kendaraan tentara yang bergerak ke ibukota disambut oleh pemrotes yang meneriakkan slogan-slogan mendukung Angkatan Darat.

Para pemimpin politik dan masyarakat sipil menyangkan serangan pemrotes hari Sabtu di kediaman mantan Menteri Dalam Negeri Chaudhry Nisar Ali Khan di kota Rawalpindi dan juga kediaman mantan Menteri Dalam Negeri lainnya, Hamid, di Sialkot.

“Kami mengecam keras serangan terhadap rumah Nisar Ali Khan dan rumah pemimpin lainnya,” Syed Khurshid Shah, pemimpin oposisi di Majelis Nasional, majelis rendah parlemen mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Pemerintah provinsi Punjab timur laut memanggil Rangers untuk mengendalikan situasi tersebut karena ratusan pemrotes yang menggeledah properti publik pada hari Sabtu, masih menempati beberapa jalan dan lokasi di ibukota provinsi Lahore dan kota-kota lainnya.

Pengunjuk rasa masih berkemah di jalan-jalan di berbagai kota, termasuk Karachi, Multan, Hyderabad, Faisalabad, Bahawalpur, Gujrat dan kota-kota lain di provinsi Punjab, Sindh dan Khyber Pakhtunkhwa.

Bagikan
Close X