DPR Minta Menag Nggak Ngurusin Keyakinan Pribadi Umat

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Radikalisme menjadi salah satu bagian yang disorot anggota Komisi VIII DPR saat menggelar Rapat Kerja dengan Menteri Agama Fachrul Razi.

Salah satunya meminta Menag tidak terlalu masuk pada wilayah keyakinan yang bersifat privat. Menag diminta fokus pada usaha mengatur kehidupan dan kerukunan umat beragama.

Menag Fachrul Razi mengatakan bahwa sejak awal dirinya memang tidak bermaksud masuk pada wilayah keyakinan yang bersifat pribadi, berupa pengamalan ajaran agama.

Menurutnya, radikalisme yang disampaikan itu dalam konteks politik, menjaga keamanan dan keutuhan NKRI.

“Saya sejak awal memang tidak ingin masuk pada wilayah keyakinan dan pengamalan keagamaan seseorang. Itu bagian dari hak asasi. Konteks radikalisme yang saya sampaikan, lebih pada menggugah perhatian kita semua untuk bersama menjaga keamanan dan keutuhan NKRI,” terang Menag saat raker dengan DPR, di Jakarta, Kamis (07/11).

Karena konteksnya politik, tentu faktornya banyak. Selain agama, radikalisme juga bisa terkait dengan liberalisme, ekonomi, dan faktor lainnya.

Jadi tidak semata faktor agama. “Hanya, karena Menteri Agama, bicaranya pada wilayah keagamaan. Untuk membedakan, mungkin ke depan kita akan gunakan istilah penguatan moderasi beragama,” tuturnya.

Soal Sertifikasi Halal, Menag: Kita Mau Ngebut!

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Menag Fachrul Razi berharap polemik terkait radikalisme, cadar, dan celana cingkrang disudahi.

Pihaknya akan fokus ke depan untuk memberikan layanan terbaik kepada seluruh umat beragama.

Menurut Menag, proses mengenali beragam permasalahan umat beragama yang terkait dengan tugas Kementerian Agama terus dilakukan.

“Ada sejumlah target yang sudah dirumuskan. Penguatan moderasi beragama yang sudah masuk dalam RPJMN 2020-2024 juga kan segera diterjemahkan dalam bentuk program konkrit,” ujar Menag saat Raker dengan Komisi VIII DPR di Senayan, Jakarta, Kamis (07/11).

Pihaknya juga telah mempresentasikan sejumlah program dan kegiatan untuk peningkatan kualitas kehidupan keagaman di Indonesia, baik menyangkut kerukunan, pendidikan agama dan keagamaan, serta haji dan sertifikasi halal.

“Juga terkait sertifikasi halal yang tahun ini sudah mulai berjalan penyelenggaraannya oleh BPJPH. Jadi kita mau ngebut. Semoga bermanfaat bagi masyarakat,” sambungnya.

Tantangan ke depan lainnya yang menjadi konsentrasi Kemenag adalah diberlakukannya UU Pesantren.

Menurut Menag Fachrul perangkat regulasi turunannya harus segera disiapkan agar bisa dijalankan.

Terkait kerukunan, Menag mengatakan bahwa itu menjadi tugas bersama, seluruh elemen bangsa.

“Kami akan menggandeng ormas keagamaan dan stakeholder lainnya untuk bergandengan tangan menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia,” tandasnya.

Minta Masyarakat Sudahi Polemik Radikalisme, Menag: Saya Minta Maaf

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Menag Fachrul Razi berharap polemik terkait radikalisme, cadar, dan celana cingkrang disudahi.

Pihaknya akan fokus ke depan untuk memberikan layanan terbaik kepada seluruh umat beragama.

“Polemik tentang itu sudah clear. Saya minta maaf kalau sampai menimbulkan amarah. Kini akan fokus melayani seluruh umat beragama seadil-adilnya,” ujar Menag saat Raker dengan Komisi VIII DPR di Senayan, Jakarta, Kamis (07/11).

Menurut Menag, proses mengenali beragam permasalahan umat beragama yang terkait dengan tugas Kementerian Agama terus dilakukan.

Pihaknya juga telah mempresentasikan sejumlah program dan kegiatan untuk peningkatan kualitas kehidupan keagaman di Indonesia, baik menyangkut kerukunan, pendidikan agama dan keagamaan, serta haji dan sertifikasi halal.

Habib Ali Zainal Abidin: Keberkahan Suatu Bangsa Tergantung Pemimpinnya

Akademisi lainnya, Dr. Habib Ali Zainal Abidin Bilfaqih menegaskan keberkahan suatu negeri tergantung pemimpinnya, dalam acara bertema ‘Kontribusi Umat Islam untuk Keberkahan Bangsa’, Kamis, Malang (7/11/2019) yang digelar oleh Nasr Al-Fath Community College (NACC).

“Keberkahan suatu negeri disebabkan oleh pemimpinnya. Pemimpin itu luar biasa pengaruhnya untuk memakmurkan suatu negeri,” katanya.

Ia juga menyayangkan sejarah kontribusi umat Islam di Indonesia sering ditutupi,

“Perlawanan kaum muslimin di buku-buku sejarah tidak pernah diungkapkan. Proklamasi memang dideklarasikan di Jakarta. Tetapi, yang memgusir penjajah adalah arek-arek Surabaya dengan pertempuran selama 6 hari,” terangnya.

“Satu-satunya yang bisa menurunkan keberkahan di negeri ini adalah tegaknya syariat islam di indonesia,” tegasnya.

Reporter: Tyo

Umat Berkontribusi Besar untuk NKRI, Sudah Seharusnya Perda Syariah Diperbanyak

MALANG(Jurnalislam.com)–Dr. Mohammad Ghozali, MA, Dosen Syari’ah Universitas Darussalam Gontor memaparkan peran umat Islam dalam sejarah Indonesia dalam acara bertema ‘Kontribusi Umat Islam untuk Keberkahan Bangsa’, Kamis, Malang (7/11/2019) yang digelar oleh Nasr Al-Fath Community College (NACC).

“Setelah runtuhnya khilafah Turki Utsmani, negeri-negeri Islam dikuasai oleh negara-negara salib. Bila dilihat dalam sejarah, dulunya Nusantara adalah bagian dari kekhilafaan Turki utsmani,” terangnya.

Ia juga menilai besarnya kontribusi umat islam untuk NKRI ini, sudah semestinya muncul lebih banyak perda syari’ah,

“Bila kita lihat, umat islam indonesia dahulu berjuang mengorbankan nyawa mereka untuk melawan kekuatan kolonialis yang ingin menguasai negeri ini. Sudah layak bila saat ini muncul perda-perda syariah yang berlaku untuk umat Islam, karena umat Islam di negeri ini mayoritas dan sudah banyak berkontribusi untuk negara ini, ujarnya.

“Hak umat Islam di negeri ini terlanggar, sehingga keadilan bagi seluruh rakyat negeri ini patut dipertanyakan,” imbuhnya.

reporter: Tyo

NACC Gelar Diskusi Publik Ungkap Kontribusi Umat Islam Untuk Keberkahan Bangsa

MALANG(Jurnalislam.com)–Nasr Al-Fath Community College (NACC) sukses menggelar diskusi publik perdananya dengan tema ‘Kontribusi Umat Islam untuk Keberkahan Bangsa’, Kamis pagi (7/11/2019).

Bertempat di Ballroom Malang Strudel jl. Semeru no.47 diskusi ini dihadiri berbagai elemen masyarakat.

Di moderatori Agus Surosyid S.Pt, diskusi ini menghadirkan empat akademisi sebagai narasumber. Masing-masing adalah Akhmad Saleh Muwafik, M.Si dosen FISIP Universitas Brawijaya, Dr. Mohammad Ghozali, MA dosen syari’ah Universitas Darussalam Gontor, Dr. Habib Ali Zainal Abidin Bilfaqih, dan H. Rokhmad S.Sos DPRD Malang fraksi PKS.

Pembicara pertama Akhmad Saleh Muwafik, M.Si menjelaskan penjaga keberkahan suatu negeri adalah orang-orang soleh,

“Negeri ini merdeka tidak terlepas dari keterlibatan para ulama. Karena konsepsi Islam berlawanan dengan kolonialisme. Tidak heran bila para ulama yang pertama kali mengobarkan perlawanan terhadap kolonialisme,” katanya.

Ia juga menyoroti kriminalisasi terhadap umat islam dinegeri ini sering terjadi hanya karena perbedaan pandangan mengenai konsep kebangsaan,

“Shalatnya kaum muslimin indonesia adalah untuk menjaga negeri, heran bila di negeri ini kaum muslimin dilecehkan dan dikriminalisasi. Janganlah sedikit-sedikit kita bertikai hanya karena berseberangan tentang konsep kebangsaan,” terangnya.

Dia juga menerangkan bentuk keberkahan juga berwujud pada kepemimpinan, “Tinggal kita bertanya, apakah pemimpin kita saat ini bisa mendatangkan keberkahan,” ucapnya.

reporter: tyo

Tokoh Islam Abdul Kahar Mudzakkir dan Sardjito Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional

 

YOGYAKARTA(Jurnalislam.com)–Dua eks Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, yakni almarhum Prof KH Abdul Kahar Mudzakkir dan almarhum Prof dr M Sardjito dianugerahi gelar pahlawan nasional tahun 2019. Kepastian itu dikonfirmasi oleh Rektor UII Yogyakarta, Fathul Wahid.

“Iya (Kahar Mudzakkir dan Sardjito dianugerahi gelar pahlawan nasional). Itu dari kabar yang kami terima dari Dinas Sosial DIY dan juga dari keluarga, jadi ada dua usulan yang UII terlibat itu disetujui oleh Presiden,” jelas Fathul kepada detikcom, Jumat (8/11/2019).

“Kami keluarga besar UII juga bangga karena dua mantan Rektor kami Bapak Abdul Kahar Mudzakkir dan Bapak Sardjito diberi gelar pahlawan oleh Presiden. Hari ini (rencananya) disampaikan kepada keluarga dan juga didampingi oleh Gubernur,” sambungnya.

Kahar Mudzakkir merupakan salah satu perintis UII, yang dulunya bernama Sekolah Tinggi Islam (STI). STI didirikan di Jakarta pada 8 Juli 1945, dan baru dibuka di Yogyakarta pada 10 April 1946. STI menjadi universitas pada 1947 berkedudukan di Yogya.

“Pak Kahar Mudzakkir itu (rektor) tahun 1945 sampai 1960. Pak Kahar ini rektor perintis, beliau adalah peletak dasar, penyemai nilai di UII, nilai keislaman, nilai kebangsaan, termasuk nilai koligalitas, nilai Itu disemai beliau di awal-awal,” terang Fathul.

Tentu tak hanya sekedar memimpin UII prestasi yang ditorehkan kedua tokoh tersebut. Seperti Kahar Mudzakkir merupakan salah satu anggota BPUPKI dan panitia sembilan yang merumuskan Piagam Jakarta. Kahar merupakan tokoh di Muhammadiyah.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Fathul, penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Kahar Mudzakkir dan Sardjito akan dilangsungkan hari ini, tepatnya usai salat Jumat di Istana Negara. Ahli waris penerima anugerah juga diminta datang ke istana.

sumber:detik.com

Jurnalis Surat Kabar Pertama, Rohana Kudus Jadi Pahlawan Nasional

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Aktivis sekaligus jurnalis perempuan asal Sumatra Barat (Sumbar) Rohana Kudus ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun ini.

Kepastian diperoleh melalui surat keputusan Kementerian Sosial RI yang dikeluarkan pada Kamis (7/11).

“Usulan almarhumah Rohana Kudus menjadi pahlawan nasional telah disetujui setelah adanya pertemuan Dewan Gelar dan Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan dengan Bapak Presiden RI Joko Widodo, Rabu (6/11),” kata Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial, Pepen Nazaruddin.

Penganugerahan gelar pahlawan nasional untuk Rohana Kudus ini akan dilaksanakan hari ini, Jumat (8/11), di Istana Negara, Jakarta. Nantinya, penganugerahan ini akan diberikan kepada ahli waris dan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno.

Rohana Kudus diketahui lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumbar, 20 Desember 1884. Pejuang di zaman penjajahan ini meninggal di Jakarta, 17 Agustus 1972, pada usia 87 tahun. Selama hidup, Rohana dikenal sebagai wartawan yang vokal memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama di bidang pendidikan.

Pada 1911 Rohana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang. Sembari aktif di bidang pendidikan, Rohana menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia. Ketika diberedel pemerintah Belanda, Ruhana berinisiatif mendirikan surat kabar bernama Sunting Melayu yang tercatat sebagai salah satu surat kabar perempuan pertama di Indonesia.

Rohana hidup sezaman dengan RA Kartini. Saat itu, akses perempuan untuk mendapat pendidikan sangat dibatasi pemerintah kolonial.

Saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi, Rohana turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda.

Rohana pun memelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Dia mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Koto Gadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.

Ekonomi Melambat, Ekonom Minta Pemerintah Bersiap Hadapi Krisis

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Peneliti INDEF Abdul Manap Pulungan menjelaskan realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal III 2019 yang kian melambat dibanding kuartal sebelumnya menjebak Indonesia pada pertumbuhan sekitar 5%.

“Simpul krisis makin dekat dan menjadi tantangan berat untuk Kabinet Indonesia Maju untuk mengakselerasi perekonomian,” kata Abdul dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (7/11/2019).

Dia mengungkapkan saat ini ada beberapa sumber gejolak ekonomi global seperti perdagangan, energi, perlambatan ekonomi negara maju dan utang, risiko perkembangan politik AS dan risiko dari sektor keuangan.

Abdul mengungkapkan perang dagang yang terjadi antara AS dan China membuat prospek ekonomi global mengalami perlambatan. Tahun lalu ada defisit US$ 419 miliar terhadap China pada 2019 periode Januari-Agustus defisit sudah mencapai US$ 231 miliar. Kedua negara ini menguasai sekitar 35% PDB di dunia.

Perlambatan ekonomi China juga terus menurun ini akan mempengaruhi ekonomi global karena porsi PDB China mencapai 19% dari PDB dunia.

Direktur INDEF Eko Listiyanto mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin melambat hal ini menandakan Indonesia sedang menghadapi masa sulit, baik karena tekanan ekonomi global maupun kurangnya tenaga untuk mendongkrak perekonomian domestik.

sumber: detik.com

BPS Catat Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Terus Melesu

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi untuk periode kuartal III-2019.

Sepanjang kuartal III-2019, BPS mencatat bahwa perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,02% secara tahunan (year-on-year/YoY).

Angka pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai 5,02% tersebut lantas berada di bawah capaian periode kuartal I-2019 dan kuartal II-2019.

Capaian tersebut juga jauh lebih rendah dari capaian pada kuartal III-2018 kala perekonomian Indonesia mampu tumbuh 5,17% secara tahunan.

Untuk diketahui, pada kuartal I-2019 perekonomian Indonesia tercatat tumbuh sebesar 5,07% secara tahunan, sementara pada kuartal II-2019 perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,05% secara tahunan.

Angka pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan pertama tahun ini sedikit berada di atas capaian periode yang sama tahun sebelumnya (kuartal I-2018) yang sebesar 5,06%.

Sementara untuk periode kuartal-II 2019, pertumbuhan ekonomi jauh lebih rendah jika dibandingkan capaian kuartal II-2018 yang mencapai 5,27%.

Melansir data Refinitiv, pada tahun 2015 atau tahun pertama di mana Jokowi menjabat penuh sebagai presiden, pertumbuhan ekonomi justru longsor ke angka 4,79%. Selepas itu, pertumbuhan ekonomi selalu nyaman berada di batas bawah 5%.

sumber: cnbcindonesia.com