Kiai Ma’ruf Dorong Dana Wakaf untuk Berdayakan UMKM

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin menyatakan, dana sosial syariah mampu memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Oleh karena itu, lini ini menjadi bagian ekonomi syariah yang akan pemerintah dorong.

Kiai Ma’ruf menjelaskan, dana sosial Islam berupa wakaf dan zakat merupakan dana murah.

Kalau itu didayagunakan untuk menumbuhkan UMKM, berarti tidak butuh biaya besar. Pada akhirnya, jika UMKM tumbuh, keuangan syariah komersial bisa masuk, baik instrumen keuangan syariah  ataupun pasar modal.

Sebenarnya, proses menumbuhkembangkan UMKM sudah dimulai dengan adanya bank wakaf mikro di pesantren-pesantren.

“Tapi kan dananya masih terbatas. Kita ingin dana wakaf ini menjadi besar sehingga lebih banyak lagi UMKM yang kita bisa dorong, ” ungkap Kiai Ma’ruf di Kantor Wapres, Jakarta, belum lama ini.

Yang dibiayai oleh bank wakaf mikro pun tidak diberi beban karena pembiayaan dalam jumlah sangat kecil agar pelaku UMKM dapat bertahan.

Keuangan sosial merupakan salah satu dari empat bagian ekonomi syariah yang akan pemerintah dorong.

Pemerintah melihat, dana sosial, terutama wakaf dan zakat, sangat penting dalam membangun kekuatan umat.

“Zakat kita itu kan baru Rp 8 triliun atau 3,5 persen dari potensinya Rp 230 triliun per tahun. Karena itu, kita dorong ini menjadi kekuatan,” kata Kiai Ma’ruf.

Sumber: republika.co.id

Penghimpunan Dana Zakat Tahun Ini Alami Kenaikan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Potensi dana zakat yang dapat dikumpulkan pada tahun ini diperkirakan akan mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya. Direktur Utama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Arifin Purwakananta, mengatakan kenaikan pengumpulan dana zakat diperkirakan mencapai 24 persen.

“Setiap tahun mengalami kenaikan, tahun lalu mencapai Rp 8 triliun. Untuk tahun ini bisa naik Rp 9-10 triliun yang bisa digunakan untuk pengentasan kemiskinan,” kata Arifin, pada Ahad (27/10/2019) lalu.

Arifin mengatakan, Baznas memandang kemiskinan dari sudut pandang yang lengkap.

Pertama, orang yang dianggap miskin itu yakni orang yang tidak mengikuti program pendidikan, tidak sehat, tidak bisa mengakses kebutuhan-kebutuhan dasar seperti air bersih, pangan dan rumah tinggal.

Bahkan mereka juga tidak bisa beribadah sesuai dengan agamanya, dan mereka yang tidak bisa mengatasi masalah-masalah tanggap darurat.

Kedua, Baznas memandang orang miskin lainnya yakni yang tidak dapat tumbuh secara ekonomi.

Mereka tidak berkembang, kekurangan modal, kekurangan produksi, dan kekurangan akses pasar. Kemudian yang ketiga,  kondisi kemiskinan yang disebabkan oleh struktural, yang memang tertindas secara kebijakan, tidak bisa berjejaring, dan kekurangan memperoleh pembangunan kapasitas.

“Visi Baznas adalah setiap tahun mengentaskan satu persen dari keluarga miskin di Indonesia. Kenapa satu persen, karena ada pihak-pihak lain yang menjalankan misi yang sama untuk pengentasan kemiskinan,” ucap Arifin.

Sumber: republika.co.id

Rabu Pagi, Jet Tempur Israel Kembali Bombardir Gaza

GAZA (Jurnalislam.com) – Sejumlah pesawat jet tempur Israel membombardir target-target di sebelah barat kota Rafah dan Khan Younis, Jalur Gaza, Palestina, Rabu (27/11/2019) pagi.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan serangan udara itu sebagai respons atas tembakan dua roket dari Gaza pada hari Selasa malam.

“Menanggapi roket yang ditembakkan dari Gaza terhadap warga sipil Israel tadi malam, jet tempur kami baru saja menyerang sejumlah sasaran teror Hamas di Gaza,” kata IDF, yang dikutip dari akun Twitter-nya @IDF. “Hamas akan menanggung konsekuensi atas tindakan terhadap warga sipil Israel.”

Jurnalis Palestina, Diaa Mahmoud, melaporkan adanya suara serangan udara yang menghantam wilayah barat Khan Younis di Gaza selatan.

Militer Zionis telah mengaktifkan alarm di Dewan Regional Ashkelon sebelum serangan Angkatan Udara ke Gaza. Dewan Regional Ashkelon kemudian mengumumkan bahwa tidak ada proyektil yang jatuh di kota tersebut, meski alarm berbunyi.

Pada hari Selasa, dua roket ditembakkan dari Jalur Gaza yang memicu IDF mengaktifkan sistem pertahanan rudal Iron Dome. Serangan terbaru yang dilakukan oleh Angkatan Udara Israel ketika Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berjanji untuk menanggapi dengan tegas setiap serangan musuh. (sindonews)

Minat Keislaman Tinggi, Guru Ngaji Perlu Pembekalan Intensif

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pembekalan terhadap guru ngaji perlu digencarkan seiring dengan bertumbuhnya minat keislaman di tengah-tengah masyarakat Indonesia saat ini. Guru ngaji yang kompeten dinilai mampu memperkuat penyaluran pesan-pesan ajaran agama secara efektif.

Peneliti dari Lembaga Pengkajian Hadis El-Bukhari Institute, Masrur Irsyadi, mengatakan, pembekalan guru ngaji perlu dilakukan secara masif. Sebab pola pendidikan dan pengajaran di era digitalisasi saat ini kerap berubah dan dinamis.

“Harus dibekali dan diberikan pendampingan agar guru ngaji ini bisa beradaptasi dengan dinamika zaman yang cepat berubah,” kata Masrur saat ditemui Republika, di Jakarta, Selasa (26/11/2019).

Dia membeberkan bahwa kompetensi guru ngaji salah satunya dapat diukur dengan sikap, keilmuan, serta ketangkasan guru dalam memberikan pemahaman pelajaran-pelajaran agama. Guru ngaji, kata dia, juga harus memiliki kecakapan membaca Alquran dengan baik yang tartil dan juga mampu menghapal beberapa juz dalam Alquran.

Standar-standar tersebut, menurutnya, dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang ada. Jangan sampai kompetensi guru ngaji yang minim membuat masyarakat dan umat justru mendapatkan pemahaman keliru sebagai dasar dari ajaran agama.

“Baca-tulis Alquran kan suatu hal yang dasar, jadi memang harus benar-benar terukur kemampuan guru ngaji tersebut,” ungkapnya.

Di sisi lain dia juga menyoroti rendahnya upah atau gaji guru ngaji yang masih terjadi saat ini. Selain belum adanya sistem tertentu yang mengatur mengenai besaran tarif guru ngaji, para jamaah juga berasal dari kalangan ekonomi yang beragam. Sehingga besaran tarif tenaga guru ngaji akan sulit untuk dirata-ratakan.

Sumber: republika.co.id

Kenaikan UMK: Maju Kena, Mundur Kena

Oleh: Chusnatul Jannah

Kenaikan UMP/UMK setiap tahun membuat ketar ketir pengusaha. Tahun 2020 UMP/UMK akan mengalami kenaikan hingga 8,51 persen. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa telah menetapkan UMK Jatim 2020 naik sebesar 8,51 persen.

Senasib dengan UMK Jawa Barat. Karawang menjadi kabupaten dengan UMK tertinggi. Maju kena, mundur kena. Saat upah naik, buruh bahagia. Namun, saat itu pula bakal menjadi beban bagi perusahaan. Bagai buah simalakama.

Pemerintah akan dianggap memperhatikan nasib buruh karena menaikkan upah. Sementara pemerintah akan dianggap mengabaikan pengusaha karena terus menaikkan upah buruh tiap tahunnya.

Kenaikan UMP/UMK selalu menjadi momok tiap tahun bagi pengusaha. Bahkan beberapa pabrik yang beroperasi di Jawa Timur dan Jawa Barat buru-buru berpindah lokasi.

Demi menghindari kenaikan upah yang terus menanjak. Jawa Tengah menjadi incaran baru bagi industri padat karya. Sebab, UMK di Jawa Tengah masih tergolong rendah. Tak mencekik pengusaha. Tak mengancam produktivitas usaha mereka. Jawa Tengah pun menjelma menjadi sasaran empuk investasi di Indonesia.

Upah yang masih murah menjadi daya tarik investor menanamkan modal di Jateng terutama di sektor padat karya. UMP di Jateng pada 2020 saja masih Rp 1,7 juta, kurang dari separuh dari UMK-UMK di Banten dan Jabar.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dalam akun media sosialnya, sempat memamerkan kegiatan pemda se-Jateng bertemu dengan calon investor dari China, Jepang, Korea dan lainnya dalam forum Central Java Investment Business Forum (CJIBF). (Cnbcindonesia, 11/11/2019).

Bila banyak pabrik merelokasi industrinya ke tempat lain, maka hal ini akan berpengaruh pada tenaga kerja. Ketika Pabrik pindah, mungkinkah semua karyawan diboyong ke lokasi baru? Bila hal ini tak memungkinkan, maka akan berpengaruh pada tingkat pengangguran di wilayah tersebut.

Sungguh dilematis. Di satu sisi buruh senang, di sisi lain pengusaha nampak suram. Di satu sisi menetapkan kebijakan pro buruh, di sisi lain justru memicu angka pengangguran terbuka.

Persoalan upah memang selalu menjadi pemandangan tahunan yang tak berkesudahan. Nasib buruh belum sejahtera. Wajar bila mereka meminta upah yang lebih  besar. Sebab, mereka menghidupi anak istri secara mandiri. Mulai dari kebutuhan dasar, pendidikan, kesehatan hingga taraf keamanan. Pengusaha pun dituntut hal sama.

Upah dalam Islam

Dalam Islam, upah merupakan hak pekerja yang harus dibayarkan sesuai dengan jenis pekerjaannya. Upah bisa berbeda-beda dan beragam karena berbeda dan beragamnya pekerjaan. Besaran upah dalam Islam diukur berdasarkan jasanya, bukan tenaganya. Sehingga penetapan upah berbeda-beda.

Inilah yang menjadi masalah buruh di sistem saat ini. Upah ditentukan berdasarkan penetapan kebijakan suatu provinsi/kota/kabupaten. Meski berbeda jenis pekerjaan, upah yang didapat sama.

Selain itu, para buruh juga dibebani dengan pemenuhan kebutuhan dasar. Seandainya negara menjamin kebutuhan sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan bagi rakyat, tentu tak ada tuntutan kenaikan upah yang terjadi tiap tahun. Pengusaha  juga tak akan merasa berat menanggung upah karyawannya. Sebab, mereka juga tak perlu terbebani dengan pemenuhan kebutuhan dasar ini.

Sayangnya, negara berlepas diri dari tanggungjawab itu. Rakyat justru dibebani dengan berbagai biaya untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka. Tak ada yang menjamin terpenuhinya sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan mereka.

Semua kebutuhan itu bergantung pada upah kerja kepala keluarga. Tak ada yang benar-benar gratis. Bahkan kenaikan upah menjadi tak berarti setelah pemerintah menaikkan iuran BPJS Kesehatan hingga 100 persen. Belum lagi kenaikan TDL dan berbagai kebutuhan lainnya.

Berharap sejahtera dengan mekanisme aturan kapitalis memang jauh panggang dari api. Butuh sistem yang berkeadilan dan proporsional dalam mengatur perekonomian. Sistem yang menyejahterakan karyawan. Pengusaha tak khawatir gulung tikar. Dan negara memainkan perannya sebagai pengurus rakyat.

Yakni menjamin kebutuhan pokok mereka mulai dari pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Semua tujuan itu akan terwujud manakala mau menjadikan Islam sebagai kekuatan baru dalam perekonomian. Pertanyaannya, maukah kita menerapkan Islam sebagai solusi permasalahan ekonomi dan bidang lainnya? Wallahu a’lam.

*Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

 

WMI dan AQL lakukan Refleksi Satu Tahun Tsunami Selat Sunda

PANDEGLANG (Jurnalislam.com) – Wahana Muda Indonesia (WMI) dan AQL peduli melakukan road show pasca satu tahun bencana tsunami selat Sunda. Aneka program dari WMI dan AQL selama fase emergency dan recovery di selat Sunda selama satu tahun terakhir dikunjungi oleh donatur dari Majelis Nasional Turkistan Timur.

Perwakilan Majelis Nasional Turkistan Timur (MNTT) yang dipimpin oleh Seyit Tumturk ingin belajar dan berbagi tentang program penanggulangan bencana di Indonesia khususnya selat Sunda.

“Selama ini kami kerjasama dengan NGO atau yayasan di Indonesia yang concern dengan isu kemanusiaan dan dakwah. Hal ini sangat penting bagi kami bagaimana sebuah kerjasama sinergis bisa terjalin dengan baik untuk kemaslahatan umat,” ujar Seyit disela peresmian fasilitas training bersama di desa Cisiih Kecamatan Cimanggu, Banten, Senin (26/11/2019).

Direktur WMI Care, M Zainul menyambut baik inisiasi AQL Peduli dan MNTT terkait kesamaan visi kemanusiaan. WMI dan AQL pada masa tanggap darurat dan recovery telah menurunkan relawan untuk menjalankan program kemanusiaan.

Hasil assesment tim WMI Care pasca tsunami terdapat banyak program yang perlu disinergikan. Hasil koordinasi dengan seluruh stakeholder dan kajian di lapangan disimpulkan beberapa hal, pertama masalah kelangkaan air di beberapa desa di kecamatan Sumur dan Cimanggu. Kedua terkait kepastian kepemilikan Hunian Tetap para penyitas pasca Huntara yang bersifat sementara. Ketiga terkait recovery ekonomi para penyintas yang perlu pelatihan enterpreneurship.

Firman Direktur AQL Peduli menekankan bahwa penanganan penyintas gempa dan tsunami di selat Sunda harus secara holistik. Banyak variabel yang kita perhatikan selain program fisik dan bantuan material, aspek spiritual dan enterpreneur perlu diperhatikan secara serius baik pemerintah dan NGO karena hal ini masih perlu sinergi.

Pemerintah cukup responsif selama proses rekonstruksi dan pembangunan infrastruktur kawasan Pandeglang Banten cukup cepat. Kita bisa merasakan perbedaan signifikan infrastruktur jalan raya Kecamatan Cimanggu hingga sumur dalam setahun pasca tsunami Selat Sunda.

WMI dan AQL Peduli Ubah Huntara Cimanggu Jadi Training Center

PANDEGLANG (Jurnalislam.com) – Refleksi 1 tahun pasca Tsunami Selat Sunda WMI dan AQL Peduli sepakat mengubah Huntara di Kecamatan Cimanggu, Pandeglang, Banten menjadi Training Center bersama.

“Traning Center WMI dan AQL ini berfungsi untuk pelatihan mitigasi, kesiapsiagaan dan pemberdayaan,” ungkap Direktur WMI Care M Zainul di Huntara Cimanggu, Senin (26/10/2019)

Hal tersebut disampaikan M. Zainul ketika menyambut tim Majelis Nasional Turkistan Timur ketika mengunjungi Traning Center WMI dan AQL Peduli. WMI dan AQL peduli akan menginisiasi program air bersih dan berharap MNTT dapat berkontribusi dan partisipasi dalam program ini.

Training Center WMI dan AQL merupakan kebutuhan penting untuk para relawan saat mitigasi bencana, persiapan, respon tanggap darurat, dan recovery untuk menjalankan program-program kemanusiaan. Aktifitas perdana dari Training Center ini adalah pelatihan dasar Search and Rescue WMI.

Firman Fabi, Direktur AQL Peduli menekankan pentingnya Training Center ini untuk penanganan penyintas secara holistik. Dari Traning Center ini kita dapat mengurai variabel terkait edukasi, pemberdayaan para pemuda dan penyintas. Pendekatannya lebih terprogram dan berjangka panjang. “Yang diperhatikan selain program fisik juga aspek edukasi, mental, spiritual dan enterpreneur prosesnya tidak bisa instan”, pungkas Firman Fabi.

Status HRS Sedang Dibicarakan Otoritas Saudi -Indonesia

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Essam bin Abed Al-Thaqafi, mengungkapkan, status Habib Rizieq Shihab (HRS) tengah dinegosiasikan oleh pejabat tinggi Indonesia-Arab Saudi.

Ia mengaku tak bisa membicarakan status HRS lebih jauh karena proses tersebut tengah berjalan.

“Masalah ini sebenarnya sedang dinegosiasikan oleh otoritas/pejabat tinggi kedua negara dan kami berharap ini segera bisa diselesaikan,” jelas Essam usai bertemu Menko Polhukam, Mahfud MD di Kemenki Polhukam, Jakarta Pusat, Senin (25/11).

Essam mengaku tak dapat berbicara lebih banyak tentang hal tersebut, termasuk benar-tidaknya ada pencekalan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia terhadap HRS. Kini, proses negosiasi tengah dilaksanakan secara mendalam oleh kedua belah negara.

“Saya tidak bisa bicara apapun karena ini sedang dinegosiasikan secara mendalam oleh kedua otoritas, antara Arab Saudi dan Indonesia. Untuk sementara waktu ini kami sedang menegosiasikannya,” katanya.

Essam mengatakan, dalam pertemuan dengan Mahfud MD, ia tidak membahas mengenai HRS. Hal yang mereka bahas, yakni tentang hubungan kerja sama antara Arab Saudi dengan Indonesia, baik yang sudah terjalin maupun yang akan datang.

“Seperti hubungan kerja sama Islam, seperti konferensi tahunan Islam di Jakarta dan Arab Saudi dan juga kita mendiskusikan mengenai membawa ulama Saudi mengunjungi Jakarta dan berkeliling ke berbagai kota di Indonesia,” jelas dia.

Mahfud MD menyatakan, proses negosiasi terkait status HRS itu tidak dilakukan olehnya. Ia mengaku hanya berbicara mengenai kerja sama jangka panjang untuk melawan terorisme dan membangun Islam yang damai dan terbuka terhadap semua perbedaan dengan perwakilan dari negara Timur Tengah itu.

“Membangun Islam wasatiah, Islam yang damai dan terbuka terhadap semua perbedaan, berlaku adil terhadap orang lain, dan harus diberlakukan adil juga,” ungkap Mahfud.

Sumber: republika.co.id

SKB 11 Menteri tentang Radikalisme Dinilai Bentuk Represi Pemerintah

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Penerbitan Surat Keputusan Bersama (SKB) yang ditandatangani 11 instansi pemerintah mengenai penanganan radikalisme untuk aparat sipil negara (ASN) dan pembuatan portal aduanasn.id menjadi sorotan oleh DPR RI.

Politikus Gerindra Sodiq Mujahid menilai surat itu bentuk represi pemerintah.

Anggota Komisi II DPR RI ini menganggap SKB tersebut dapat mengekang kebebasan berpendapat para pegawai.

Pasalnya, poin surat tersebut sampai mengatur pegawai dalam memberikan pendapat di media sosial.

Sodiq khawatir adanya SKB itu malah membuat kemunduran pada reformasi dan balik ke zaman orde baru. “Ini sebuah tindakan represif ya saya kira harusnya tidak usah dengan kelembagaan formal ini,” ujar Sodiq di Kompleks Parlemen RI, Jakarta, Senin (25/11).

Sodiq menyebut, SKB ini seperti pada zaman orde baru saat pemerintah kebablasan dalam mengontrol ASN. SKB ini, kata Sodiq menjadi langkah mundur dalam demokrasi di Indonesia. Di samping itu, SKB ini juga dinilai berpotensi menghambat kinerja pemerintah.

“Kita paham bahwa ASN harus profesional, ya kan tapi profesionalisme mereka akan terganggu justru jika mereka amat sangat dibatasi dan ini juga bertentangan dengan reformasi birokrasi,” ujar dia.

Pengawasan soal radikalisme ini, kata Sodiq, cukup dilakukan dengan penguatan intelejen dan aparat keamanan. Pemerintah tak perlu melakukan pendekatan formal seperti SKB ini yang menyebabkan kegaduhan, bahkan mengganggu hak asasi manusia dan kebebesan berpendapat.

SKB ini, dinilai Sodiq juga justru membuat kinerja ASN kontraproduktif. “ltukan mereka makin loyal, bukan mereka makin sesuai harapan pemerintah, justru mereka memendam sesuatu, akibatnya apa? Produktivitas yang kita harapkan tidak terjadi,” kata dia.

Diketahui, sejumlah Kementerian dan Badan melakukan penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) Penanganan Aparatur Sipil Negara(ASN) di Hotel Grand Sahid, Jakarta Selatan, Selasa (12/11). Dalam kesempatan ini juga diluncurkan portal aduan ASN, di laman aduasn.id.

Sumber: republika.co.id

Tito: Ormas Berperan Penting sebagai Penyeimbang Demokrasi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyatakan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) sebagai penyeimbang negara demokrasi. Hal itu diungkapkannya dalam acara Penganugerahan Ormas Award Tahun 2019 di Jakarta Selatan, Senin (25/11/2019).

Tito menyoroti munculnya istilah negara bangsa atau nation-state menggantikan kerajaan-kerajaan. Hal ini dipicu oleh Revolusi Prancis yang mulai menimbulkan bentuk negara bangsa.

“Salah satu munculnya civil society yang diharapkan menjadi sistem seimbang, check and balance nation state, civil society ini berkembang dan kita tau diakomodir dalam norma-norma internasional, adanya freedom, bukan hanya freedom untuk berekspresi, menyampaikan pendapat, tetapi juga freedom untuk berserikat dan berkumpul,” kata Tito dalam kegiatan itu.

Menurut Tito, kebebasan sepatutnya dimaknai sebagai penyeimbang agar negara tidak mengarah pada sistem otoriter. Lebih dari itu, ormas juga mendapat posisi strategis untuk mendorong sistem check and balance dalam negara demokrasi.

Freedom dalam konteks ini satu peran penting daripada civil society di mana ormas adalah salah satu wujudnya sebagai penyeimbang, agar negara tidak semau-maunya, mulai dari planning, eksekusi sampai dengan evaluasi,” ujar Tito.

Mantan Kapolri itu optimis kehadiran Ormas akan mencegah negara menjari otoriter terhadap rakyatnya.

“Ini akan menghindari sistem yang otoriter ke arah sistem yang lebih demokratis, dan peran penting selain sebagai penyeimbang juga untuk mendorong sistem check and balance percepatan untuk lahirnya negara dan bangsa itu,” ucap Tito.

Walau begitu, Tito menyebut ormas punya batasan dalam berserikat dan berkumpul. Batasan itu ialah harus hargai hak-hak asasi orang lain, menjaga ketertiban umum atau ketertiban publik, harus mengindahkan etika dan moral.

“Terakhir, harus menjaga dalam Bahasa ICCPR (International Covenant on Civil and Political Rights) yaitu menjaga keamanan nasional,” sebut Tito.

Sumber: republika.co.id