Sejarah Kebangkitan Pers dan Media Islam

SEJARAH telah mencatat perjalanan panjang perjuangan media dan pers Islam di Nusantara sampai Indonesia mendapatkan kemerdekaanya. Peran para aktivis media Islam dan jurnalis muslim sangatlah besar dalam kehidupan masyarakat bangsa dan Negara. Dalam catatan awal tahun Mujahid Dakwah ini, akan mengupas beberapa hal tentang media Islam dalam tinjauan sejarah dan fungsinya serta lahirnya puluhan bahakan ratusan media massa Islam dalam sejarah dan agenda kebangkita media Islam.

Kebangkitan pers dan media Islam telah tercatat dalam sejarah Nusantara, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Pers Islam memiliki andil yang sangat besar dalam melakukan berbagai perlawanan terhadap berbagai bentuk kolonialisme dan penjajahan yang dilakukan oleh Belanda dan sekutunya.

Sejarah perjalanan pers dan media Islam dalam analisa kami, telah melalui beberapa fase. Fase pertama adalah fase Nusantara sebelum kemerdekaan Indonesia dari tahun 1900-an sampai 1945. Fase kedua adalah fase kemerdekaan di Orde Lama dan Orde Baru sekitar tahun 1945-1998. Dan fase ketiga adalah fase reformasi yang di mulai tahun 1998-sekarang.

Perjuangan ummat Islam di Indonesia melalui media massa tampaknya telah berurat dan berakar, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Jika kita bercermin melalui sejarah, maka akan terlihat media massa Islam menjadi roda-roda penggerak dalam perjuangan Islam, menjadi minyak sebagai pembakar perjuangan umat Islam bahkan menyelami nasib umat yang terpuruk di negeri ini.

Pada fase awal sekitar tahun 1906 berdiri Al-Imam sebagai majalah Islam pertama di Asia Tenggara. Ia diterbitkan di Singapura pada Jumadil Akhir 1324 H / Juli 1906 M dan berakhir pada permulaan 1909. Majalah yang menggunakan aksara Arab-Melayu atau Jawi dan diterbitkan Melayu ini dirilis di Mathba’ah (Drukkery) Melayu Tanjung Pagar, Singapura.

Michael Laffan, dalam bukunya Kebangsaan Islam dan Indonesia Kolonial, Umma Below the Winds (2002), mencatat kehadiran tokoh kunci di balik lahirnya majalah ini. Di antara nama-namanya adalah Sayyid Ahmad Al-Hadi, yang merupakan anak angkat dari Raja Ali Kelana bin Raja Ahmad Riau, dan Syekh Muhammad Taher bin Muhammad Jalaluddin Al-Azhari, seorang ulama muda Minangkabau yang merupakan sepupu dari ulama Syaikh Ahmad Khatib Al- Minangkabawi (1860 – 1916). Pada tahun 1890, pindah dari Riau ke Lingga ke Kairo, Mesir, untuk tugas belajar dan Haji Abbas bin Muhammad Taha (Aceh). Selain Al-Hadi dan Syekh Taher, nama lain yang juga menonjol dalam majalah Al-Imam adalah Sayyid Muhammad bin Aqil bin Yahya dan Syekh Muhammad Salim Al-Kalali.

Begitu menjamurnya surat kabar pada masa itu seperti Vendunieuws (1744), Bataviasche Coloniale Courant (1801), Bintang Hindia dan lainnya. Namun sangat disayangkan karena tak satupun dari mereka menyuarakan nasib dan aspirasi umat Islam. Berbagai latar belakang yang membuat para Ulama ini merintis Al Imam menjadi media massa Islam pertama di tanah Melayu-Nusantara.

Berbagai latar belakang lahirnya Al Imam adalah keterpurukan, kehancuran dan kerusakan kondisi masyarakat dan umat di bawah penjajahan belanda, inggris dan sekutunya, berbagai cekaman, penindasan, kekerasan, kemiskinan di alami oleh masyarakat serta tidak adanya wadah untuk menyampaikan aspirasi ummat dan tegaknya amar ma’ruf dan nahi mungkar. Dan yang paling penting adalah agar umat Islam dapat meraih kemerdekaanya.

Sejak awal Al Imam memang bersuara menyatakan penyesalannya akan nasib umat Islam di tanah Melayu-Nusantara  yang tertajajah di mana-mana. Dalam sebuah edisinya, mereka menyebut “Tanah Sumatera, Tanah Manado, Tanah Jawa, Tanah Borneo dalam genggaman Belanda, hingga tanah melayu peninsula dalam cengkeraman Inggris.” (Al Imam Vol. 1, No. 3, 19 September 1906). Harapan mereka tak lain agar umat Islam mampu meraih kemerdekaannya.

Al Imam berdiri mengibarkan Islam sebagai dasarnya. Menyebarkan dakwah Islam. Mengikuti jejak jejak Al Manar yang dipimpin oleh Syekh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dengan semangat pembaruan dan pemurnian Islam, Al Imam menegaskan haluannya dalam sebuah edisinya, “Untuk mengingatkan mereka yang terlupa, membangunkan mereka yang terlelap, menunjukkan arah yang benar kepada mereka yang tersesat, memberi suara kepada mereka yang berbicara dengan bijak, mengajak umat Islam berupaya sebisa mungkin untuk hidup menurut perintah Allah, serta mencapai kebahagiaan terbesar di dunia dan memperoleh kenikmatan Tuhan di Akhirat.” (Al Imam, I Juli 1906).

Pada fase awal ini dalam rentang tahun 1906 sebagai awal lahirnya media massa Islam pertama di Nusantara, juga bertaburan media-media massa Islam di tahun-tahun berikutnya. Sebut saja Al Munir di Padang Panjang.

Tahun 1911 Al Munir didirikan di Sumatera Barat oleh Haji Abdullah Ahmad yang sebelumnya juga perwakilan Al Imam di Padang Panjang. Serta di bantu oleh Haji Abdul Karim Amrullah (ayah dari Buya Hamka) dan Syekh Jamil Jambek. Mereka semua adalah murid langsung dari Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi.

Al Munir sangat bersuara keras terhadap berbagai praktek bid’ah, menyuarakan kritik-kritik keras terhadap pemerintah kolonial Belanda, menyuarakan persatuan umat Islam dan kemerdekaan bangsa. Dan penyebaran Al Munir tersebar di Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan Malaya.

“Al Munir bertujuan untuk memperoleh agama Islam yang sejati serta menegakkan syariat Nabi Muhammad yang benar dengan dorongan menghidupkan kembali tradisi Nabi dan mengutuk bid’ah dalam praktik ibadah umat Muslim.” (Al Munir 3, 2, 1913).

Perjalanan sejarah media massa dan pers Islam terus berkembang baik secara kualitas dan kuantitas utamanya di pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Namun, tentu tulisan yang singkat ini kami tidak bisa menyebutkannya secara rinci.

Di Sumatera pada waktu itu sebagai pusat dan lumbungnya media massa Islam seperti Majalah Suluh Melayu di Padang (1913), Majalah Al-Radd wa Al-Mardud di bukittinggi (1926), Majalah Suara Tarbiyah Islamiyah di bukittinggi (1937-1945), Al Itqan dan Al-Mizan (1918) di Minanjau dan banyak lagi yang lainnya.

Pada tahun 1929 Tokoh Persis, Ustad A. Hassan bersama Fachrudin Al Kahiri dan Muh. Natsir mendirikan Majalah Pembela Islam. Pembela Islam menjadi media massa Islam yang gigih membela Islam. Pembela Islam menjadi salah satu lawan dari tokoh-tokoh Nasionalis sekuler yang menggelorakan ide sekularisme (contohnya, polemik antara Sukarno dan M. Natsir mengenai Islam melawan sekularisme).

Kritik-kritik keras Pembela Islam terhadap praktek kristenisasi dan pelecehan oleh missionaries. Seperti misalnya tulisan Muh. Natsir yang berjudul Zending Contra Islam (1931). Pembela Islam juga menyerang paham sesat Ahmadiyah Qadian, dengan menurunkan tulisan perdebatan langsung antara A. Hassan dengan Rahmat Ali dari Ahmadiyah di tahun 1933 dan 1934.

Semangat Majalah Pembela Islam untuk mengajak masyarakat kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sangat besar, serta menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Sangat tegas terhadap berbagai aliran sesat, perbuatan bid’ah dan paham-paham sekularisme. Kekuatan idealisme Pembela Islam mampu memberikan pengaruh yang sangat besar dan mendapatkan berbagai apresiasi dari para pembacanya, tokoh dan ulama di Nusantara.

Buya Hamka yang menjadi salah satu pembaca Pembela Islam yang juga Pendiri Pedoman Masyarakat mengatakan,

“Mulai saja majalah itu dibaca, timbullah dalam jiwa semangat yang terpendam yaitu semangat hendak turut berjuang dalam Islam. Artikel-artikel yang dimuat di dalamnya menggugah perasaan hati untuk bangun, bergerak, berjuang hidup dan mati dalam Islam.”

“Artikel-artikel dari M. Natsir di dalam majalah Pembela Islam itu sangat menarik hati saya. Saya pun seorang pengarang. Tetapi saya mengakui bahwa karangan Natsir memberi saya bahan untuk hidup, sehingga saking tertariknya saya kepada tulisan-tulisannya itu…” (Dikutip dari Panitya Peringatan M. Natsir/M. Roem 70 tahun. 1978. M. Natsir 70 tahun Kenang-kenangan Kehidupan & Perjuangan. Jakarta: Pustaka Antara).

Media Massa Islam

Buya Hamka sendiri sangat aktif dalam perjuangan dan pergerakan di media massa Islam. Pada tahun 1935, Buya Hamka dan Yunan Nasution mendirikan Pedoman Masyarakat di Medan Sumatera Barat. Pedoman Masyarakat memasang motto ‘Memajukan Pengetahuan dan Peradaban Berdasarkan Islam’.

Pedoman Masyarakat menjadi salah satu media massa Islam yang besar di zaman itu. Berhasil mencapai dan mencetak sebanyak 4000 eksemplar. Melalui Pedoman Masyarakat ini pula Buya Hamka melahirkan karya-karyanya yang banyak dan fenomenal. Namun pada masa awal pemerintahan Jepang banyak sekali media massa yang menemukan ajalnya termasuk Pedoman Masyarakat. Akan tetapi, hal ini tidak membuat Buya Hamka berhenti dalam perjuangan media Islam. Pada tahun 1942-1945 mendirikan Semangat Islam bersama beberapa kawannya.

Perjalanan panjang media massa Islam terus berlanjut pada fase kedua, yakni fase kemerdekaan Indonesia. Dalam catatan sejarah, telah terbukti bahwa media massa Islam menjadi penyuara aspirasi yang dihadapi oleh umat, baik dari segi keagamaan, social, ekonomi dan politik.

Pasca kemerdekaan berbagai media massa Islam muncul diantaranya Harian Abadi. Harian Abadi menjadi corong pergerakan dari Partai Masyumi yang menjadi pengawal terhadap pemerintahan Soekarno waktu itu. Menjadi media massa yang kritis terhadap pemerintahan dalam menyuarakan aspirasi umat. Namun, akhirnya Harian Abadi tutup tahun 1970. Begitupun dengan lahirnya kembali media massa Islam dibawah pimpinan Buya Hamka yakni Panji Masyarakat dan Harian Duta Masyarakat yang menjadi suara Nahdlatul Ulama.

Bukankah, sejarah panjang perjalanan media massa Islam ini begitu banyak pelajaran yang bisa dipetik oleh para aktivis media Islam hari ini. Kebangkitan, kemunduran dan kejatuhan media massa Islam telah tercatat dalam sejarah. Media Islam bukan sekedar berenang-renang di tepian, tetapi ia langsung terjun ke dalam pusaran perjuangan di negeri ini.

Sejarah ini bagi para aktivis media Islam adalah bagaikan sebongkah mutiara yang ia dapatkan dan sebagai api yang membara dan membakar semangat perjuangan dalam dirinya. Membuat ia terus bergerak, menebarkan cahaya Islam ke seluruh sendi kehidupan negeri ini.

Peran Media Islam

Menarik sebuah pertanyaan yang mengatakan, mengapa harus ada media Islam?

Maka jawabannya ada dalam sejarah negeri ini, bahwa media Islam lahir untuk memperjuangkan aspirasi dan suara umat, kezaliman, kemungkaran dan kebatilan yang merajalela, menjadi penyuara kebenaran (amar ma’ruf dan nahi mungkar), mempersatukan umat dan menjaga ukhuwah Islamiyah, membela kepentingan masyarakat, membangkitkan semangat perjuangan, hidup dan mati dalam Islam serta Ia menyatu dengan kondisi yang dialami oleh masyarakat.

Di tengah pergolakan dan problematika yang dihadapi umat saat ini, maka penguasaan media massa menjadi salah satu hal yang turut menentukan perjuangan umat Islam. Melalui media massa, peperangan pemikiran yang sengit, penyebaran ilmu serta penguasaan opini di masyarakat dapat dikuasai.

Oleh sebab itu, kebangkitan media Islam sangat dinanti oleh umat dan masyarakat hari ini. Di tengah krisisnya penyebaran informasi, maka media Islam dengan konsepnya yang sesuai tuntunan syariat diharapkan dapat menjadi cahaya di tengah krisisnya informasi hari ini.

Kebangkitan media Islam juga diharapkan melahirkan jurnalis Muslim yang handal dan profesional, sebab sejarah telah mencatat lahirnya karya para ulama hadir ditengah pergolakan media massa Islam yang banyak kala itu. Sebab, hari ini umat juga menghadapi masalah yakni krisis literasi di kalangan para aktivis dan penggeraknya. Minimnya budaya baca dan tulis menjadi salah satu faktor kemunduran umat Islam hari ini.

Padahal, dalam catatan sejarah peradaban Islam. Para ulama telah menoreh tinta emasnya dengan ratusan sampai ribuan karyanya. Seorang ulama salaf Ibnu Jauzi yang telah menulis ribuan jilid kitab sebagaimana pengakuan cucu Imam Ibnu Jauzi yang bercerita, “Menjelang akhir hayatnya, saya pernah mendengar kakek berkata di atas mimbar, “Jari-jari tanganku ini telah menghasilkan dua ribu jilid kitab. Selama hidupku ada seratus ribu orang yang menyatakan diri tobat di hadapanku dan dua puluh ribu Yahudi dan Nasrani yang menyatakan diri masuk Islam di hadapanku.”

Seorang ulama dan jurnalis Muslim sangat dinantikan umat hari ini dengan karya-karya mereka. Bacalah perkataan Imam al-Hasan al-Bashri: “Ditimbang tinta pena ulama dengan darah para syuhada, maka akan lebih berat tinta para ulama atas darah para syuhada.” (Al-Ihya (1/18).

Kebangkitan media Islam akan sejalan dengan lahirnya para ‘alim ulama dan Jurnalis Muslim, dalam sejarah media massa Islam di Nusantara dan Indonesia setiap media Islam lahir dari tangan para ulama dengan semangat amar ma’ruf dan nahi mungkar serta jihad fisabilillah.

Oleh sebab itu, melalui catatan awal tahun Mujahid Dakwah ini. Kami meluncurkan berbagai program dalam melahirkan para pejuang dan aktivis media Islam. Program ini bernama Daar Al-Qalam dengan visinya Jurnalis Muslim Bangkitkan Peradaban Islam. Serta meluncurkan Catatan Mujahid Dakwah yang terbit setiap pekan dengan pembahasan Jurnalisme, aktivitas media serta agenda kebangkitan peradaban Islam. Olehnya itu, sudah saatnya media Islam bangkit mengikuti jejak sejarahnya dan menoreh karya-karyanya.

“Penderitaan Muslim Uighur Sudah Terjadi Sejak 2009”

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Berita tentang penderitaan Muslim Uighur telah terjadi sejak tahun 2009 dan belum diketahui oleh masyarakat di Indonesia secara luas. Pernyataan itu disampaikan langsung oleh penulis buku Alazhi Perawan Xinjiang, Nuthyla Anwar dalam diskusi Kejahatan Kemanusiaan RRC atas Kaum Uighur pada Kamis (16/1/2020) di Cikini, Jakarta Pusat.

Saat itu, kata dia, dikabarkan bahwa terjadi kerusuhan di Xinjiang, kemudian dia pergi mengunjungi Xinjiang untuk melihatnya secara langsung.

“Kerusuhan sudah tidak ada, tapi bekasnya masih ada seperti rumah yang hancur, orang Uighur seperti ketakutan, saat diajak bicara ketakutan, tapi ada yang bisa diwawancara sambil sembunyi-sembunyi,” katanya saat diwawancara Jurnalislam.com di sela-sela diskusi.

Ia juga menceritakan, sejak tahun 2009 rumah-rumah milik orang Uighur dan masjid sudah dihancurkan. dan sekolah-sekolah Islam diubah menjadi sekolah Cina. Dulu belum ada kamp konsentrasi seperti sekarang yang keberadaannya mulai terungkap.

Penulis buku Alazhi Perawan Xinjiang yang diterbitkan Mizan 2012 ini mengaku, awalnya mau membuat artikel tentang Muslim Uighur. Tapi ketika kembali ke Guangzhou bertemu orang Uighur yang lari dari Xinjiang, bernama Alazhi.

“Ketika saya interview dia, kisah hidup dia, keluarga dipecah-pecah, ibu, ayah dan anak dipisahkan, kisah hidupnya saya tulis jadi novel Alazhi Perawan Xinjiang,” ujarnya.

Menurutnya, keluarga Muslim Uighur sengaja dipisah-pisahkan untuk menghilangkan keislamannya. Nuthyla juga menceritakan, tahun lalu dia berkunjung lagi ke Guangzhou untuk menemui Alazhi, namun Alazhi sudah tidak ada dan dikabarkan sudah menikah dengan pria non Muslim.

Ia menyampaikan, di Guangzhou memang orang-orang Uighur membuka restoran Muslim. Tapi mereka takut kalau diajak bicara tentang Uighur. Mereka seperti diawasi dengan ketat sehingga ketakutan.

Berdasarkan pengalaman Nuthyla di Guangzhou, orang Cina memperlakukan Muslim Uighur seperti warga kelas bawah. Warga Cina juga membenci orang Uighur, mereka menganggap orang Uighur sebagai pemberontak yang ingin memerdekakan diri.

Santri Pesantren Al Barokah Tasik akan Segera Mempunyai Bangunan Layak

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Selama 25 Tahun berdiri, Pesantren Al barokah yang berada di Desa Gunungsari, Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya ini belum pernah direnovasi. Saat tim ACT Tasikmalaya menyambangi pesantren ini di bulan Juli lalu, kondisinya begitu memprihatinkan, atapnya sudah bolong, tembok retak-retak dan dinding bilik yang sudah rapuh.

Pesantren yang menjadi tempat belajar agama bagi 150 orang santri dari tingkat TK hingga SMP ini hanya menampung 50 orang saja, seringkali santri belajar membludak hingga keluar.

Namun hal tersebut tidak menjadikan mereka berhenti belajar, mereka tetap semangat walaupun di tengah-tengah keterbatasan fasilitas. Tapi kondisi tersebut tak akan terjadi lagi, pasalanya tim ACT Tasikmalaya sedang melakukan proses pembangunan kembali madrasah tersebut menjadi lebih layak, Kamis (16/1/2020).

M Fauzi Ridwan selaku tim program menyebutkan pembangunan ini sudah dimulai dan diperkirakan akan selesai dalam jangka waktu 3 minggu kedepan. “Sudah dimulai dan Insyaa Allah akan selesai 3 minggu ke depan” ungkapnya Kamis (16/1/2020)

Ustadz Tatang Zaelani yang sejak tahun 1995 sudah mendedikasikan dirinya sebagai pengajar di pesantren ini menyampaikan rasa harusnya karena pesantren ni sedang di renovasi bahkan dibangun kembali menjadi lebih layak.

“Abdi mah ngaraoskeun kumaha suka dukana ti kawit 25 tahun kapengker, ngaraos cukeri upami ningal murangkalih kedah belajar berdesakan bahkan dugikeun kaluar, ayeuna alhamdulillah nuju dibangun, simkuring ngahaturkeun nuhun sinareng do’a mudah-mudahkan ACT sareng para donaturna dipasihan kasehatan sareng kaberkahan ti Allah SWT, jazakallah ahsanak jaza” ungkapnya

YLBHI: Pelanggaran HAM Makin Buruk, Didominasi Kriminalisasi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) memprediksi 2020 akan menjadi tahun yang mengancam hak asasi manusia (HAM) rakyat atau warga Indonesia.

Terdapat beberapa indikator untuk menyatakan hal tersebut.

“Memburuk (dari tahun sebelumnya). Sehingga kami memproyeksikan tahun 2020 akan menjadi tahun yang mengancam kehidupan rakyat atau warga,” jelas Ketua YLBHI, Asfinawati, di Jakarta Pusat, Rabu (15/1/2020).

Asfinawati melihat ada beberapa indikator yang menyebabkan pihaknya memprediksi hal tersebut.

Pertama, terdapat hilangnya nyawa yang sangat besar untuk sesuatu hal yang mulanya umum dilakukan, yaitu hak menyampaikan pendapat di muka umum.

“Indonesia sejak tahun 1998 sudah memiliki Undang-Undang (UU) Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum dan di UU itu dikatakan, polisi harus menjaga orang yang demonstrasi karena demontrasi adalah hak,” katanya.

Berdasarkan catatan YLBHI, selama 2019 tercatat telah terjadi sebanyak 53 kasus pelanggaran kemerdekaan berekspresi.

Selain itu, ada pula 32 kasus pelanggaran kemerdekaan berkumpul dan dua kasus pelanggaran kemerdekaan berserikat.

Dari jumlah tersebut terdapat beberapa modus pelanggaran umum yang dilakukan. Modus pelanggaran tersebut di antaranya kriminalisasi, penghalangan kegiatan, razia, dan pembubaran paksa kegiatan.

Persentase terbesar dari penggunaan modus tersebut ialah modus kriminalsisasi, yakni mencapai 51 persen.

Modus kriminlaisasi itu dilakukan mulai dari penangkapan sewenang-wenang, pemeriksaan, sampai dengan menjadikan tersangka atau terdakwa.

Asfinawati menyebutkan, indikator kedua, yakni tingginya kasus kriminalisasi terhadap pembela HAM. Menurutnya, jika pembela HAM demi hukum saja mendapatkan serangan atau kriminalisasi, apalagi yang dibela oleh mereka.

“Padahal seorang advokat itu dia lakukan pembelaan itu adalah bagian dari tugas UU, dijamin UU,” katanya.

sumber: republika.co.id

BPS: Rokok Berkontribusi Besar terhadap Kemiskinan di Indonesia

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rokok kretek filter menjadi salah satu komoditas yang memberikan kontribusi besar terhadap garis kemiskinan dengan angka sebesar 11,17 persen di perkotaan dan 10,37 persen di perdesaan.

“Rokok kretek filter menjadi (kontributor) terbesar kedua terhadap garis kemiskinan,” kata Kepala BPS Suhariyanto di Jakarta, Rabu (15/1/2020).

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) September 2019, rokok masuk jajaran untuk komponen makanan penyumbang garis kemiskinan.

Komponen makanan yang berada di posisi pertama adalah beras yang memberikan sumbangan sebesar 20,35 persen di perkotaan dan 25,82 persen di perdesaan.

Selain itu, posisi ketiga adalah telur ayam ras 4,44 persen di perkotaan dan 3,47 persen di perdesaan, dan selanjutnya daging ayam ras 4,07 di perkotaan dan 2,48 persen di perdesaan.

Kemudian disusul mi instan sebesar 2,32 persen di perkotaan dan 2,16 persen di perdesaan, gula pasir 1,99 persen di perkotaan dan 2,78 persen di perdesaan hingga kopi bubuk dan instan 1,87 persen di perkotaan dan 1,88 persen di perdesaan.

Sedangkan, komponen bukan makanan penyumbang garis kemiskinan terbesar baik di perkotaan dan perdesaan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan dan perlengkapan mandi.

BPS menilai peranan komoditas makanan masih jauh lebih besar dibandingkan peranan bukan makanan terhadap garis kemiskinan yakni mencapai 73,75 persen.

Sumber: republika.co.id

BPJS: Kenaikan Iuran Berdasarkan Peraturan Presiden

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sebagai badan hukum publik, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mengklaim menyelenggarakan program JKN-KIS berdasarkan prinsip kehati-hatian dan akuntabilitas.

BPJS Kesehatan juga dituntut taat pada peraturan yang telah ditetapkan termasuk penerapan implementasi Peraturan Presiden Nomor 75 tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan, khususnya terkait implementasi penyesuaian iuran Program JKN-KIS di tahun 2020.

“Pemberlakuan penyesuaian iuran harus kami lakukan, jika tidak kami melanggar tata kelola dan regulasi pengelolaan Program JKN-KIS, kami harus tunduk pada regulasi dan tidak bisa bertindak melampaui kewenangan,” ujar Kepala Humas BPJS Kesehatan, M Iqbal Anas Maruf dalam Ngopi Bareng JKN Rabu (15/1/2020).

Iqbal juga menambahkan, sesuai dengan hasil Rapat Tingkat Menteri (RTM) pada 06 Januari 2020 Pemerintah dalam hal ini kementerian/lembaga terkait sepakat untuk melaksanakan Perpres 75/Tahun 2019 seperti apa adanya.

Ia menjelaskan, keputusan penyesuaian iuran peserta BPJS Kesehatan telah melewati proses pembahasan dan perhitungan yang matang melalui hasil rapat bersama pihak-pihak terkait. Termasuk mempertimbangkan kemungkinan penurunan kelas kepesertaan PBPU.

Pemerintah juga sudah mempersiapkan sejumlah skema guna mengantisipasi pelaksanaan atas keputusan Perpres No. 75/2019. Diantaranya ialah menyangkut pengalihan kepesertaan PBPU kelas III menjadi penerima bantuan iuran (PBI).

Iqbal juga menambahkan untuk memberikan keleluasaan membayar iuran secara rutin bagi peserta JKN-KIS, BPJS Kesehatan membuat kebijakan kemudahan perubahan kelas ke kelas yang lebih sesuai dengan kemampuannya. BPJS Kesehatan memiliki program BPJS Perubahan Kelas Tidak Sulit (Praktis).

“Sedangkan bagi peserta pekerja bukan penerima upah (PBPU) yang merasa tidak mampu bisa mendaftar ke peserta PBI yang iurannya ditanggung pemerintah sepenuhnya dengan cara mendaftar di Dinas Sosial sesuai dengan prosedur yang kini berjalan,” ujarnya.

Sumber: republika.co.id

MUI: Kongres Umat Islam Diharap Urai Masalah Akar Rumput Umat

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Abdullah Jaidi menuturkan Kongres Umat Islam VII 2020 yang digelar akhir Februari mendatang tidak sekadar kongres.

Kongres kali ini melihat dan mengkaji seperti apa kondisi keumatan sekarang ini untuk menemukan solusi alternatif.

“Bagaimana masyarakat umat di akar rumput, apa yang diharapkan, tentang banyak hal. Maka kami juga mengadakan pertemuan di FGD (Focus Group Discussion). Seperti misalnya berbagai permasalahan ekonomi,” ujar dia di kantor MUI, Jakarta, Rabu (15/1/2020).

Selain ekonomi, juga permasalahan soal bagaimana merajut kebersamaan dalam konteks berbangsa dan bernegara.

“Jadi kita harus menyingkirkan hal-hal yang berkenaan dengan masalah-masalah khilafiyah. Tapi kita harus merajut bagaimana menyatukan pandangan umat atas berbagai permasalahan umat,” ujar dia.

Menurut Jaidi, persoalan yang penting disoroti pada Kongres Umat Islam 2020 adalah ekonomi.

Berbagai narasumber yang dihadirkan pada FGD sebagai rangkaian acara menuju Kongres pun mengutarakan tentang pentingnya perekonomian umat Islam.

“Ekonomi yang sekarang ini menjadi masalah penting. Bahwa masalah kita ini yang terpenting adalah masalah ekonomi tapi mustahil kita upayakan bersama kalau tidak punya sifat-sifat atau perilaku-perilaku kebersamaan,” ujar dia.

Upaya membangun kebersamaan itu, lanjut Jaidi, di antaranya dapat dilakukan dengan saling berkomunikasi, saling bersilaturahim dan tidak melihat pandangan yang bersifat khilafiyah.

“Tapi melihat masalah yang lebih besar, masalah keumatan yang menjadi fokus kita saat ini,” kata Ketua Dewan Syuro al-Irsyad al-Islamiyah itu.

Sumber: republika.co.id

Kemenag Dorong Kongres Umat Islam Bahas Dakwah Medsos

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Prof Abdurrahman Mas’ud Kaban menuturkan Kongres Umat Islam VII 2020 perlu memberi perhatian secara khusus pada media sosial.

Menurut dia, dakwah yang memuat moderasi beragama perlu dimasifkan di media sosial.

“Dakwah sosmediyah seperti ini masih sangat kecil di kita. Kita masih kalah dengan hal-hal yang bersifat radikal,” tutur dia usai menghadiri Focus Group Discussion bertajuk ‘Arah Baru Kehidupan Keagamaan Umat Islam Indonesia’, di kantor MUI, Jakarta, Rabu (15/1/2020).

“Misalnya situs-situs atau jaringan-jaringan yang bisa diakses itu lebih banyak yang radikal. Maka ini perlu disuarakan bersama untuk lebih dikonkretkan lagi,” kata dia menambahkan.

Mas’ud menilai, generasi muda yang saat ini menjadi mayoritas harus menjadi pelaku utama dan juga target. “Ini perlu, dan enggak bisa dilakukan oleh NU (Nahdlatul Ulama) dan Muhammadiyah saja, kita ini hanya sebagai pendorong untuk lahirnya generasi Islam yang santun dan toleran,” ujarnya.

Menurut Mas’ud, perlu dibuat agenda dakwah digital terutama bagi kalangan milenial-muda yang menjadi bagian terbesar penduduk Indonesia saat ini.

“Gunakan bahasa mereka. Khaatibinnaas bi qadri uquulihim, misalnya melalui medsos itu,” paparnya.

Beragama dengan ilmu, lanjut Mas’ud, pun harus menjadi habit atau style. Majelis taklim untuk orang tua atau dewasa dan pengajian anak harus digalakkan.

Para ustaz dan guru ngaji harus tersebar secara merata hingga ke semua lapisan kalangan.

“Termasuk juga kelas atas seperti artis. Kolaborasikan dengan pemerintah atau Kementerian Agama dalam penyediaan guru atau ustaz penyuluh agama yang dibutuhkan,” jelasnya.

Menurut Mas’ud, isu yang perlu dikedepankan adalah pengembangan ekonomi umat, yakni isu yang lintas ormas dan jauh dari perdebatan furu’iyah (persoalan yang bersifat cabang, bukan prinsip) dan tendensi politis.

Kongres Umat Islam juga perlu menyuarakan tentang pengarusutamaan kebhinekaan dan moderasi beragama. “Gelorakan kembali konsep ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basariyah,” ucapnya.

Sumber: republika.co.id

Muhammadiyah Harap KUII Mampu Fokuskan Arah Perjuangan Umat

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Anwar Abbas menuturkan Kongres Umat Islam VII 2020 harus menyadarkan umat Islam tentang titik lemah umat Islam saat ini.

Kongres tersebut juga harus menentukan arah tujuan umat Islam.

“Kita harus jadi penentu. Karena sekarang ini belum. Kita harus bisa mewarnai kehidupan politik dengan nilai-nilai agama. Agama adalah nilai yang luhur sehingga tidak boleh terjadi pembunuhan karakter seseorang,” kata dia di kantor MUI, Rabu (15/1/2020).

Menurut Anwar, politik hendaknya menggunakan etika dan adab.

“Tapi hari ini masih membunuh karakter orang, buat ini, buat isu menyebar fitnah, yang lama-kelamaan kalau terus disampaikan maka itu menjadi kebenaran padahal tidak benar,” ujar dia.

Anwar menambahkan, Kongres yang akan digelar pada Februari mendatang itu harus bisa menyadarkan bangsa Indonesia terhadap Pasal 29 ayat 1 UU Dasar 1945, bahwa negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

“Kita boleh bebas, tapi ada identitasnya, ada karakternya,” ujarnya.

Ukhuwah islamiyah, menurut Anwar, yang selama ini sering disuarakan belum sampai pada tataran praktik. Dia mengatakan ukhuwah tersebut masih sebatas di bibir. “Ukhuwah islamiyah ini memang enak diucapkan,” katanya.

Pemerintah pun perlu memberdayakan ekonomi keumatan secara masif. “Bagaimana caranya? Beli barang-barangnya agar permintaan meningkat lalu produksi menjadi meningkat. Beli produk Indonesia. Kalau produk Indonesia kita beli, berarti permintaan meningkat, pendapatan perusahaan meningkat,” ujarnya.

sumber: republika.co.id

Masyarakat Teheran Demo Besar-besaran Kecam Pemerintahan Iran

TEHERAN (Jurnalislam.com) – Demonstrasi di  Iran masih berlangsung. Bahkan, Reuters menuliskan, terdapat seruan besar-besaran di sosial media negara itu untuk kembali berdemo menuntut pemerintah.

Massa yang marah masih menyayangkan peristiwa jatuhnya pesawat Ukraine International Airlines di Teheran, akibat salah tembak rudal Iran, 8 Januari lalu. Apalagi pesawat naas tujuan Kiev Ukraina itu juga berisi banyak penumpang warga Iran.

“Kami akan turun ke jalan,” bunyi salah satu unggahan di sosial media Rabu (15/1/2020). Ajakan itu juga memuat ketidakpercayaan pada pemerintah, yang dinilai korup.

Demo di Iran sudah terjadi sejak Sabtu pekan lalu. Tepat setelah pemerintah Iran mengumumkan secara tak sengaja menembak pesawat Ukraina karena human error.

Demo pun terus terjadi. Bukan hanya menuntut ada pihak yang bertanggung jawab, demo juga mengarah pada upaya melengserkan pemerintah termasuk Pemimpin Spiritual Iran Ayatollah Khamenei.

sumber: cnbc