MUI Godok Fatwa Ibadah untuk Petugas Medis

JAKARTA(Jurnalislam.com) –Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat, KH. Asrorun Niam Sholeh mengatakan bahwa Komisi Fatwa sedang membahas dua fatwa yang diajukan oleh Wakil Presiden RI, KH. Ma’ruf Amin. Hal itu disampaikan Kiai Niam, Senin (23/03) dalam keterangan yang diterma Jurnalislam.com.

Kiai Ma’ruf di Jakarta, Senin (23/03)  mengatakan bahwa dirinya meminta MUI dan ormas Islam di Indonesia membahas dua fatwa terkait Corona.

Fatwa pertama, kata dia, adalah tentang  penanganan jenazah penderita Covid-19 bila terjadi kekurangan petugas atau kondisi yang tidak memungkinkan, seperti tidak memungkinkan memandikan jenazah.

Fatwa kedua yang diminta Kiai Ma’ruf adalah terkait kebolehan sholat tanpa wudhu dan tanpa tayamum sehingga bisa menenangkan petugas medis.

Menurutnya, selama bertugas menangani Corona ini, para petugas medis tidak diperkenankan membuka pakaiannya sampai delapan jam, sehingga tidak kemungkinan bertayamum atau wudhu.

 

“Kemungkinan dia tidak bisa melakukan, kalau mau sholat tidak bisa wudhu, tidak bisa tayamum, saya mohon ada fatwanya misalnya tentang kebolehan orang sholat tanpa wudhu, tanpa tayamum, ini menjadi penting sehingga petugas bisa tenang,” paparnya.

 

Kejadian-kejadian seperti itu, menurutnya, sudah dialami oleh para petugas medis di lapangan.

 

Terkait wabah Corona ini, Komisi Fatwa MUI Pusat sendiri sebelumnya sudah mengeluarkan Fatwa No 14 Tahun 2020. Fatwa itu berisi tentang penyeleggaraan ibadah dalam situasi terjadi wabah Covid-19.

Pada poin ke tujuh, disebutkan bahwa pengurusan jenazah terpapar Covid-19, terutama dalam memandikan dan mengkafani harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang, dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat. Sedangkan untuk menshalatkan dan menguburkannya dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar Covid-19.

 

Pengurusan Jenazah Covid-19 dalam Fatwa tersebut, belum membahas bila terjadi kekurangan petugas untuk mengurus jenazah atau situsi menjadi tidak memungkinkan.  (MUI)

MUI Diminta Keluarkan Fatwa terkait Jenazah Korban Virus Corona

JAKARTA(Jurnalislam.com) –Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat, KH. Asrorun Niam Sholeh mengatakan bahwa Komisi Fatwa sedang membahas dua fatwa yang diajukan oleh Wakil Presiden RI, KH. Ma’ruf Amin. Hal itu disampaikan Kiai Niam, Senin (23/03) dalam keterangan yang diterma Jurnalislam.com.

 

Kiai Ma’ruf di Jakarta, Senin (23/03)  mengatakan bahwa dirinya meminta MUI dan ormas Islam di Indonesia membahas dua fatwa terkait Corona.

Fatwa pertama, kata dia, adalah tentang  penanganan jenazah penderita Covid-19 bila terjadi kekurangan petugas atau kondisi yang tidak memungkinkan, seperti tidak memungkinkan memandikan jenazah.

 

“Untuk mengantisipasi ke depan, saya juga meminta MUI dan ormas Islam mengeluarkan fatwa kalau terjadi kesulitan mengurusi jenazah penderita Corona. Ini karena kurang misalnya petugas medisnya atau karena situasi yang tidak memungkinkan,”katanya.

 

“Kami ingin meminta supaya MUI dan Ormas Islam membuat fatwa sehingga tidak kesulitan kalau itu terjadi,” imbuhnya.

Cegah Covid-19, Sinergi Foundation Semprot Disinfektan di Lingkungan Kantor

BANDUNG(Jurnalislam.com)–Sinergi Foundation melalui tim Sinergy For Humanity (S4H) melakukan penyemprotan disinfektan di Gedung Wakaf di Jalan Sidomukti No. 99H dan Kantor Sinergi Foundation di Jalan Pasir Kaliki. Penyemprotan tersebut dilakukan untuk antisipasi dan pencegahan penyebarluasan virus corona atau COVID-19 di lingkungan kerja.

“Adapun kegiatan ini dilakukan untuk mensterilkan ruangan-ruangan yang biasanya digunakan karyawan untuk bekerja,” tutur Asep Irawan, CEO Sinergi Foundation, melalui press release, Senin (23/3/2020).

Ia menuturkan, disinfektan ini merupakan bahan kimia yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau virus serta membunuh mikroorganisme dan kuman penyakit lainnya. “Insya Allah, ini adalah ikhtiar Bersama menangkal wabah,” imbuhnya.

Ia pun bersyukur, di tengah krisis, tim S4H menjadi garda terdepan melawan COVID-19. Asep mengatakan, ada banyak peran yang bisa dilakukan di tengan krisis COVID-19. Untuk tim medis, kontribusi itu berbentuk layanan kesehatan terbaik bagi pasien terinfeksi. Bagi kita non-medis, bisa dilakukan dengan social distancing.

“Atau, seperti tim Sinergy For Humanity (S4H), menjadi garda terdepan dengan melakukan aksi semprot disinfektan,” katanya.

Selain penyemprotan disinfektan, Sinergi Foundation pun membagikan ribuan masker dan handsanitizer untuk para masyarakat Bandung agar terjaga kesehatannya. Kini, mereka tengah menggalang dana guna membantu tenaga medis, para dhuafa terdampak COVID-19, dan edukasi untuk masyarakat luas.

“Bagi yang ingin bersinergi melawan COVID-19, bisa berdonasi di www.sinergifoundation.org,” pungkasnya.

Hikmah di Balik Musibah Wabah Corona

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُم بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ الأنعام

 

 

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.” (Al-An’am: 42)

 

Salah satu hikmah dari ujian dan musibah yang Allah timpakan pada seseorang atau kaum bahkan bangsa supaya mereka interopeksi diri. Menengok kesalahan dan dosa untuk perbaikan dan taubat.

 

Sebab terkadang, manusia sangat sulit untuk bertaubat meskipun dia telah menyadari dosa-dosanya. Seperti kisah pembunuh 99 orang. Mencari jalan taubat tetapi terus melakukan pembunuhan. Ia terhenti melakukan dosa ketika mendapat musibah luka parah. Dalam pelariannya menahan sakit itulah dia baru dapat memohon kepada Allah dengan merendah diri.

 

لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

 

“Supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.

 

Yaitu kembali, istighfar dan taubat dari penyebab-penyebab datangnya musibah.

 

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:

 

إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ

 

“Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani)

 

Covid-19 merupakan salah satu tanda Allah mencintai hamba. Cara Allah mencintai hamba-Nya. Allah membantunya agar dia terpuruk merasakan sakit dan derita, lalu mudahlah dia bertaubat padahal sebelumnya sangat sulit.

 

Allah ta’ala juga berfirman:

 

لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

 

“Supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum: 41)

 

Yaitu merasakan sesuatu yang berat pada harta, jiwa serta lainnya agar menjauhi dosa dan maksiat.

 

Seorang shalih ditanya, apa itu kesabaran yang indah? Ia menjawab: “Kamu mendapat ujian dan hatimu berkata Alhamdulillah.”

 

Seperti kata Nabi Yakub ayah Yusuf:

 

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ

 

“Maka kesabaran yang indah itulah kesabaranku.” (Yusuf: 18).

[Agus Riyanto, Ponpes Salman Alfarisi]

Digempur Corona, Ekonomi Dunia di Ambang Resesi

INTERNASIONAL(Jurnalislam.com) – Perekonomian dunia benar-benar terpukul akibat penyebaran virus corona yang semakin masif. Pelaku pasar menilai tren pertumbuhan ekonomi global akan terhenti pada kuartal I-2020, dan tanda-tanda resesi semakin kuat.

Berdasarkan jajak pendapat Reuters yang melibatkan 41 institusi di Benua Amerika dan Eropa, 31 di antaranya memperkirakan ekspansi ekonomi akan berhenti pada kuartal I tahun ini. Kali terakhir perekonomian dunia mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif) adalah pada 2009.

“Tidak ada keraguan. Ekspansi ekonomi terpanjang sepanjang sejarah akan berakhir kuartal ini. Sekarang masalahnya apakah kontraksi akan berlangsung lama sehingga menciptakan resesi?” kata Bruce Kasman, Head of Global Economic Research di JP Morgan, seperti dikutip dari Reuters.

Resesi bisa diartikan sebagai kontraksi ekonomi dalam dua kuartal beruntun pada tahun yang sama. Survei Reuters menunjukkan perekonomian global masih tumbuh 1,6% tahun ini, jauh melambat dibandingkan pencapaian tahun lalu.

Namun bukan berarti tidak ada resesi. Bisa saja kontraksi terjadi secara beruntun pada kuartal I dan II, kemudian baru bangkit pada dua kuartal berikutnya. Kontraksi pada kuartal I dan II sudah masuk kategori resesi.

sumber: cnbcindonesia

 

MUI Serukan Shalat Ghaib untuk Korban Corona

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sholeh mengimbau masyarakat untuk melakukan shalat ghaib. Hal tersebut dilakukan guna mendoakan umat Islam yang wafat akibat merebaknya virus Covid-19 alias Corona.

“Shalat ghaib bisa dilaksanakan di rumah masing-masing baik berjamaah maupun sendiri-sendiri,” kata Asrorun Niam Sholeh dalam keterangan tertutlis di Jakarta, Ahad (22/3).

Asrorun juga mengimbau agar masyarakat melakukan qunut nazilah di setiap shalat fardlu. Hal tersebut dilakukan agar terhindar dari wabah serta berdoa agar wabah segera sirna.

Dia meminta pemerintah untuk melakukan pengurusan jenazah (tajhiz al-janaiz) mengikuti ketentuan fatwa MUI Nomor 14/2020. Artinya, pengurusan jenazah terpapar COVID-19, terutama dalam memandikan dan mengkafani harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat.

“Sedangkan untuk menshalatkan dan menguburkannya dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar COVID-19,” kata Asrorun lagi.

Sementara, kasus positif Covid-19 di Indonesia bertambah sebanyak 64 kasus menjadi 514 orang. Jumlah angka kematian juga bertambah 10 orang menjadi 48. Data tersebut dihitung hingga hingga Ahad sore ini.

Sumber: republika.co.id

Rupiah Tembus Rp 15.950 per Dollar AS

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah di perdagangan pasar spot hari ini, kembali menembus level Rp 16.000/US$.

Pada Jumat (20/3/2020), US$ 1 dibanderol Rp 15.950/US$ di pasar spot. Rupiah melemah 0,31% dibandingkan dengan penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Berikut kurs dolar AS di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) pada pukul 7:40 WIB:

Periode Kurs
1 Pekan Rp16.515
1 Bulan Rp16.675
2 Bulan Rp16.865
3 Bulan Rp17.040
6 Bulan Rp16.866,1
9 Bulan Rp17.515
1 Tahun Rp17.673,8
2 Tahun Rp18.164,7

sumber: cnbcindonesia

Corona di RI 514 Kasus, Tersebar di 20 Provinsi

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Jumlah pasien positif corona di Indonesia per 22 Maret kemarin kembali bertambah. Angkanya kini naik 64 kasus positif sehingga total menjadi 514 kasus.

Hal ini ditegaskan Juru Bicara Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto kemarin. Selain itu, ada penambahan pasien yang sembuh menjadi sembilan orang sehingga total sebanyak 29 orang.

Namun terdapat juga penambahan yang meninggal sebanyak 10 orang. “Meninggal jadi sebanyak 48 orang, semua datanya sudah didistribusikan dan diberikan ke pemerintah provinsi,” kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan ini.

Sementara itu, berdasarkan provinsi, ada total 20 daerah di mana corona menyebar. DKI Jakarta menjadi provinsi dengan penambahan terbanyak yakni 40 kasus baru sehingga total menjadi 307 orang.

Selain itu Jawa Barat, dengan tambahan empat kasus baru menjadi 59 orang. Lalu Banten tetap 47 kasus dan Jawa Timur bertambah 15 kasus baru menjadi 41 orang.

Ada pula Jateng (total 15 kasus), Kalimantan Timur (9), DI Yogyakarta (5), Kepulauan Riau (4), Bali (3), Sulawesi Tenggara (3), Kalimantan Barat (2), Kalimantan Tengah (2), Sumatera Utara (2), Sulawesi Selatan (2), Papua (2), Kalimantan Selatan (1), Sulawesi Utara (1), Lampung (1), Riau (1), Maluku (1).

Menyusul Masjidil Haram dan Nabawi, Masjid Al Aqsa Akhirnya Ditutup

ALQUDS(Jurnalislam.com)- Komplek Masjid Al-Aqsa di Yerusalem per hari ini, Senin (23/3/2020) akan sepenuhnya ditutup. Hal ini diumumkan secara resmi oleh pengelola situs muslim tersebut Ahad (22/3/2020).

Langkah ini diambil guna meminimalisir penyebaran virus corona (COVID-19). Sebelumnya larangan umroh juga diberlakukan Arab Saudi untuk membendung virus ini.

“Ini merupakan pertama kalinya sejak 1967 penutupan dilakukan di situs ketiga Islam itu,” tulis AFP, mengutip Direktur Masjid Al-Aqsa, Sheikh Omar al-Kisswani.

Sejak corona mewabah, jumlah jamaah yang shalat di mesjid tersebut berkurang drastis, dari 30 ribu orang menjadi ratusan orang saja per hari. Meski ditutup, karyawan masjid masih bisa masuk dan berdoa di sana.

Sebelumnya, Israel yang mengontrol pintu masuk ke komplek Al-Aqsa sudah memblokir akses ke situs ini. Wilayah Yerusalem sendiri masih diperebutkan Israel dan Palestina.

Sementara itu, Israel melaporkan angka kasus positif corona sebanyak 1.071 orang dengan satu pasien meninggal. Sedangkan Palestina melaporkan 57 kasus di Tepi Barat dan dua kasus di Jalur Gaza.

Sebelumnya pada 20 Maret lalu, Arab Saudi juga menutup sementara halaman luar dua masjid suci di Makkah dan Madinah untuk shalat. Ini dilakukan untuk membendung penyebaran corona.

“Otoritas dan lembaga-lembaga keamanan dan kesehatan memutuskan untuk menghentikan kehadiran orang-orang dan shalat di halaman luar Masjid Al-Haram di Makkah dan Nabawi di Madinah yang dimulai dari 20 Maret,” tulis Saudi Gazette mengutip pengurus masjid tersebut

Jika Tak Lockdown, Ini Rekomendasi IDI untuk Pemerintah

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memintah pemerintah menegaskan penerapan social distancing agar dapat dijalankan dengan maksimal. Hal tersebut dilakukan sebagai langkah alternatif jika pemerintah tak ingin penerapakan lockdown.

“Pertama, ini masalah serius jadi harus bekerja cepat sekali nggak boleh sebaliknya,” kata Ketua Satgas Covid-19 IDI Profesor Zubairi Djoerban di Jakarta, Senin (23/3).

Dia juga menyarankan untuk menerjemahkan sosial distancing ke dalam bahasa yang lebih mudah dimengerti publik. Misal batalkan piknik, batalkan rapat, batalkan arisan dan jangan ada pertemuan-pertemuan apapun dengan tetap tinggal di rumah.

Dia mengatakan, penerimaan informasi masyarakat juga harus terus diperbarui karena kerja sama dengan mereka amat diperlukan. Dia meminta pemerintah dan mengimbau media untuk tidak hanya melontarkan informasi terkait corona tapi ubah perilaku publik.

“Perliaku ini penting karena kalau mereka ini tidak mengikuti anjuran pemerintah maka bisa gagal,” katanya.

Dia meminta pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan yang tidak ngawur dan terbukti ilmiah untuk kemudian disebarluaskan. Dia juga mengimbau agar pemerintah melakukan tes seluas dan sebanyak mungkin secara cuma-cuma dan mengisolasi warga yang terinfeksi.

Menurutnya, jika hal tersebut dilakukan dengan tegas maka sebenarnya sama dengan membatasi akses masyarakat. Namun, dia mengatakan, pengetatan pergerakan itu menjadi istilah lain dari lockdown.

“Sebetulnya kan itu sama saja tapi itu istilah lain saha, “lockdown kecil” lah. Jadi kalo lockdown bagus tapi kalau tidak lockdown asal isunya sama aja ya nggak apa-apalah,” katanya.

Sementara, kasus positif Covid-19 di Indonesia bertambah sebanyak 64 kasus menjadi 514 orang. Jumlah angka kematian juga bertambah 10 orang menjadi 48. Data tersebut dihitung hingga hingga Ahad sore.