PBNU: Ikuti Protokol Pemerintah, Tetap Diam di Rumah!

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini menyampaikan rasa keprihatinan atas adanya musibah wabah virus korona baru (Covid-19).

Pihaknya juga menyampaikan duka yang sangat mendalam bagi para korban, termasuk sejumlah tenaga medis yang gugur dalam perjuangan melawan Covid-19.

Atas kondisi wabah virus Corona yang kian meningkat, PBNU mengimbau agar seluruh kaum Muslimin, termasuk warga NU, untuk mematuhi instruksi serta protokol yang telah ditetapkan pemerintah.

Dalam pernyataannya, Helmy juga meminta seluruh jajaran PBNU, sejak pusat hingga wilayah dan ranting, agar aktif turut melakukan sosialisasi protokol pemerintah itu.

Sosialisasi dapat melalui sarana-sarana yang dimiliki. Misalnya, melalui speaker (pengeras suara), media sosial dan lainnya.

“Hindari kegiatan-kegiatan yang bersifat kolosal, berkumpul dan bergerombol. Segala aktivitas keagamaan bisa dilakukan di rumah demi keamanan bersama,” kata Helmy, Selasa (24/3).

Selain itu, Helmy juga mengimbau kepada seluruh pesantren yang berada di bawah naungan NU untuk senantiasa mengikuti protokol dan edaran yang telah dikeluarkan oleh PBNU.

Ia juga mengajak umat untuk tetap memperbanyak do’a, dan memohon pertolongan Allah SWT. Hal itu menurutnya bisa dilakukan melalui istighotsah, pembacaan shalawat thibbil qulub, dan amalan-amalan dari para kiai dan guru.

Hingga Selasa (24/3), jumlah pasien positif terinfeksi virus Corona di Indonesia dilaporkan bertambah menjadi 686 orang. Dari jumlah itu, korban meninggal mencapai 55 orang, dengan jumlah yang sembuh 33 orang.

Sumber: republika.co.id

 

MUI: Fatwa Demi Kemasalahatan Pribadi dan Banyak orang

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Hasanuddin AF menyampaikan bahwa Fatwa MUI adalah pedoman atau petunjuk bagi umat Islam. Supaya wabah virus corona atau Covid-19 tidak semakin menyebar di tengah masyarakat Indonesia.

KH Hasanuddin mengatakan, masing-masing individu harus memiliki kesadaran untuk menaati dan melaksanakan Fatwa MUI.

“Contoh Masjid Istiqlal sudah mengikuti Fatwa MUI, di Masjid Raya Bandung juga seperti itu, mengikuti Fatwa MUI ini demi (keselamatan) diri sendiri dan demi orang lain juga,” kata KH Hasanuddin, Senin (23/3).

Menurutnya, setelah Fatwa MUI dikeluarkan selanjutnya tinggal sosialisasi yang perlu dibuat masif agar setiap Muslim memahaminya. Misalnya para dai dan ormas-ormas Islam ikut lebih menyebarluaskan dan mensosialisasikan Fatwa MUI.

Komisi Fatwa MUI berpandangan kesadaran masyarakat untuk melaksanakan fatwa ulama juga berkaitan dengan pengetahuan mereka tentang bahaya wabah Covid-19. Jadi semestinya pemerintah lebih gencar mensosialisasikan bahaya wabah Covid-19 ke masyarakat.

“Upaya pemerintah harus benar-benar bisa menyadarkan masyarakat dengan berbagai upaya, kalau kesadarannya kurang saya kira perlu lebih digencarkan lagi,” ujarnya.

Komisi Fatwa MUI juga menanggapi adanya masyarakat yang tidak terima masjid ditutup sementara waktu untuk shalat jamaah. KH Hasanuddin menceritakan, saat menjelaskan Fatwa MUI dalam forum memang harus detail dan menyampaikan banyak hal.

Bahkan ada yang mengatakan mengapa menanggulangi wabah Covid-19 bukan dengan meningkatkan ketakwaan tapi malah mengurangi ketakwaan dengan tidak melaksanakan shalat berjamaah.

Jadi, dia mengatakan, bila di tengah masyarakat ada yang tidak terima masjid ditutup untuk shalat jamaah sementara waktu itu hal yang wajar. Tapi, KH Hasanuddin mengingatkan, mana yang lebih besar mudharatnya antara ketakwaan berkurang atau ketakwaan berhenti karena terinfeksi wabah Covid-19 dan mati.

“Kalau Fatwa MUI ini dianggap mengurangi ketakwaan, saya bilang mana yang lebih besar bahayanya, ketakwaan kita berkurang atau ketakwaan kita berhenti. Ini (Fatwa MUI) bukan hanya untuk diri sendiri tapi untuk keselamatan orang lain juga,” jelasnya.

Sumber: republika.co.id

Palestina Catat Kematian Pertama Akibat Virus Corona

RAMALLAH(Jurnalislam.com) — Palestina melaporkan kematian pertama akibat infeksi virus corona tipe baru penyebab Covid-19 pada Rabu (25/3) waktu setempat. Juru Bicara Pemerintah Palestina, Ibrahim Milhem, mengatakan bahwa orang yang meninggal tersebut ialah pasien perempuan berusia 60 tahun dengan riwayat penyakit yang serius.

“Meninggal di Tepi Barat yang diduduki,” kata Milhem kepada wartawan di Ramallah, sebagaimana dilansir kantor berita Turki, Anadolu Agency, Kamis (26/3).

Milhem mengatakan, data saat ini menunjukkan ada 64 kasus Covid-19 terdeteksi di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Sementara itu, 17 pasien Covid-19 dinyatakan telah pulih.

Pada Kamis (5/3) lalu, Otoritas Palestina mengonfirmasi tujuh kasus infeksi virus corona di Tepi Barat yang diduduki. Menteri Kesehatan Palestina Mai Al-Kaileh saat itu mengatakan dalam konferensi pers bahwa tujuh warga Palestina dinyatakan positif virus corona baru dan kini sedang dikarantina.

Al-Kaileh mengatakan, saat ini telah diputuskan untuk mengaktifkan peta kedaruratan di wilayah Betlehem dan Jericho. Dengan demikian, semua lembaga pendidikan dan pusat pelatihan di Kegubernuran Betlehem ditutup selama 14 hari.

Tak hanya itu, semua masjid dan gereja, termasuk gereja Nativity di Bethlehem, juga akan ditutup selama dua pekan. Waktu dua pekan ini adalah periode yang diperlukan virus untuk menunjukkan gejala.

Sebelumnya, pada hari yang sama, Kamis (5/3), Kementerian Kesehatan Palestina mengumumkan keadaan darurat di kota Betlehem dan Jericho di Tepi Barat atas dugaan kasus virus corona. Kementerian mengatakan sebuah hotel di Betlehem dikarantina karena sejumlah kasus yang diduga.

Selain itu, Kementerian Kesehatan Palestina juga mengumumkan dua kasus infeksi virus corona jenis baru di Jalur Gaza pada Ahad (22/3). Ini menjadi kasus pertama yang terdiagnosis di wilayah Gaza. Kasus Covid-19 terjadi pada dua warga yang baru kembali dari Pakistan ke Jalur Gaza.
Sumber: republika.co.id

PBNU Ingatkan Pesantren Agar Ikuti Protokol Pencegahan Corona

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini mengimbau kepada pesantren yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) untuk mematuhi protokol pencegahan virus corona atau Covid-19 yang telah dikeluarkan PBNU.

“Kepada seluruh pesantren yang berada di bawah Nahdlatul Ulama untuk senantiasa mengikuti protokol dan edaran yang telah dikeluarkan oleh PBNU,” ujar Helmy, Selasa (24/3).

Sebelumnya, Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) atau asosiasi pesantren-pesantren di bawah nauangan NU telah menerbitkan panduan untuk pesantren-pesantren agar terhindar dari virus Corona. Panduan tersebut disampaikan melalui Surat Edaran Nomor: 835/A/PPRMI/SE/III/2020 pada 13 Maret 2020 M/18 Rajab 1441 H tentang Protokol Pencegahan Penyebaran virus Corona di Pondok Pesantren.

Di antara isi surat edaran tersebut, semua orang yang akan masuk ke pesantren, baik guru, tamu, santri, maupun wali santri diharuskan mencuci tangan menggunakan sabun atau disinfektan yang telah disediakan. Selain itu, pesantren juga diminta menyediakan tempat cuci tangan dan sabun di setiap pintu masuk pesantren.

Selain itu, Helmy mengimbau kepada seluruh warga NU mematuhi instruksi dan imbauan dan protokol yang telah ditetapkan pemerintah selama menghadapi pandemi Covid-19 ini. “Hindari kegiatan-kegiatan bersifat kolosal, berkumpul, dan bergerombol. Segala aktivitas keagamaan bisa dilakukan di rumah demi keamanan bersama,” ucap Helmy.

Dia juga meminta seluruh jajaran pengurus NU dari wilayah sampai ranting untuk aktif menyosialisasikan protokol dan imbauan pemerintah melalui sarana-sarana yang dimiliki, seperti menggunakan pelantang, media sosial, dan lain sebagainya.

“Mari tetap memperbanyak doa, memohon pertolongan Allah SWT melalui istighotsah, pembacaan shalawat thibbil qulub, dan amalan-amalan dari para kiai dan guru,” kata Helmy.

Sumber: republika.co.id

 

 

Imbas Corona, AS Gelontorkan Paket Ekonomi Senilai Dua Triliun Dollar

WASHINGTON(Jurnalislam.com) – Senat Amerika Serikat (AS) dan pemerintahan Gedung Putih menyepakati Rancangan Undang-Undang (RUU) paket stimulus ekonomi senilai 2 triliun dolar AS untuk mengurangi dampak ekonomi dari wabah virus corona (Covid-19). Kesepakatan dicapai pada Rabu (25/3) pagi waktu setempat.

Seperti dilansir Reuters, Rabu, House of Representatives atau DPR akan mengikuti kesepakatan setelah Senat.

Kesepakatan diambil setelah anggota parlemen dari Partai Republik dan Demokrat bernegosiasi berhari-hari bersama Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dan pejabat lain dalam pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Kesepakatan tersebut disampaikan oleh Pemimpin Mayoritas Senat Republik Mitch McConnell dalam sebuah pidato. “Ini adalah besaran investasi kita dalam menghadapi kondisi kritis saat ini. Kami akan mengesahkan undang-undang hari ini,” tuturnya.

McConnel menambahkan, paket stimulus akan membantu warga AS membayar pajak di tengah potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) sekarang. Selain itu, pemerintah akan memperluas asuransi pengangguran dan memberikan pinjaman darurat untuk usaha kecil.

Paket stimulus juga akan menstabilkan industri nasional utama dan memberikan bantuan keuangan bagi rumah sakit maupun penyedia layanan kesehatan. Mereka kini sedang berjuang mendapatkan peralatan kesehatan untuk pasien.

Sementara itu, Pemimpin Senat Demokrat Chuck Schumer menyebutkan, paket stimulus tersebut menjadi paket penyelamatan terbesar sepanjang sejarah Amerika. Ia menambahkan, bantuan dalam skala besar kini sudah dalam perjalanan yang diutamakan bagi masyarakat AS.

Paket stimulus diharapkan mampu meningkatkan perekonomian dengan suntikan bantuan besar-besaran. Di antaranya dana 500 miliar dolar AS untuk membantu industri yang terpukul dan bantuan langsung tunai hingga 3.000 dolar AS ke jutaan keluarga AS.

Schumer mengatakan, paket ini juga berisi 100 miliar dolar AS bagi rumah sakit dan fasilitas kesehatan, bersama dengan uang tambahan untuk kebutuhan perawatan kesehatan. Sebesar 150 miliar dolar AS lainnya akan digunakan untuk membantu pemerintah negara bagian dan lokal dalam melawan wabah Covid-19.

Pandemi global Covid-19 telah menewaskan lebih dari 660 orang di AS dan membuat lebih dari 50 ribu orang sakit. Pandemi juga menuntut ribuan bisnis tutup, membuat jutaan orang kehilangan pekerjaan dan menyebabkan negara-negara bagian memerintahkan hampir sepertiga dari populasi untuk tinggal di rumah.

Uang yang dipertaruhkan dalam undang-undang stimulus ini melebihi akumulasi anggaran yang dihabiskan AS untuk bidang pertahanan nasional, penelitian ilmiah, pembanguann jalan raya dan program diskresioner lain.

 

Pemerintah Lamban, Kasus Corona di Indonesia Bisa Tembus 5 Juta Orang

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Para pakar kesehatan menyatakan, Indonesia menghadapi lonjakan kasus penyebaran virus corona atau Covid-19, lantaran lambannya respons pemerintah dan terkesan menutupi terkait skala wabah di negeri berpenduduk sekitar 260 juta, yang merupakan terpadat keempat di dunia tersebut. Hingga Selasa (24/3), Indonesia tercatat memiliki 686 kasus pasien positif corona.

Tetapi data ini dilihat dianggap mengecilkan skala infeksi karena rendahnya jumlah tes di lapangan, dan tingkat kematian yang tinggi. Indonesia telah melaporkan 55 kematian, tertinggi di Asia Tenggara. (Data terbaru pada Rabu menunjukkan, jumlah pasien corona mencapai 790 kasus dengan tingkat kematian 58 orang).

Dilansir dari Reuters, sebuah studi terkait Pusat Pemodelan Matematika untuk Penyakit Menular yang berbasis di London, Inggris, yang dirilis pada Senin, memperkirakan hanya dua persen dari dari jumlah keseluruhan kasus infeksi corona di Indonesia yang telah dilaporkan. Hal itu berarti menunjukkan angka sebenarnya pasien dapat mencapai 34.200 orang, atau lebih banyak dari Iran. Pemodelan lain memproyeksikan, dalam skenario terburuk, jumlah kasus bisa meningkat hingga menyerang 5 juta orang terinfeksi di Jakarta pada akhir April mendatang.

“Kita telah kehilangan kendali, ini telah menyebar di mana-mana,” kata ekonomi kesehatan masyarakat Ascobat Gani. “Mungkin kita akan mengikuti Wuhan atau Italia. Saya pikir kita berada dalam kisaran itu.”

Sistem kesehatan Indonesia sangat buruk dibandingkan dengan negara lain, yang terkena dampak virus corona. Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia hanya memiliki 321.544 tempat tidur rumah sakit. Angka itu berarti sekitar 12 tempat tidur per 10 ribu orang. Bandingkan dengan Korea Selatan (Korsel) yang memiliki 115 per 10 ribu orang, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pada 2017, WHO juga menemukan Indonesia hanya memiliki empat dokter per 10 ribu. Angka itu lebih rendah dibandingkan Italia yang memiliki 10 kali lebih banyak, atau Korsel yang memiliki dokter enam kali lebih banyak per kapita.

Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19, Achmad Yurianto membantah tentang hasil studi simulasi yang menunjukkan angka terburuk penularan corona. “Kita tidak akan sampai seperti itu,” kata Yuri merujuk perbandingan wabah yang menyebar di Italia dan Cina. “Yang penting adalah kita mengerahkan orang-orang … mereka harus menjaga jarak.”

Yuri menuturkan, dengan langkah-langkah menjaga jarak yang tepat, seharusnya tidak ada kebutuhan untuk tempat tidur tambahan. dan staf medis yang ada cukup untuk mengatasi wabah corona.

Hanya saja, seorang ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI) Budi Waryanto, mengatakan, “Rumah sakit tidak siap untuk mendukung kasus-kasus yang bakal muncul. Perawatan akan terbatas.”

Sumber: republika.co.id

Merasa Kena Corona? Ini Yang Seharusnya Dilakukan

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Meluasnya persebaran virus corona COVID-19 membuat banyak orang merasa cemas dan ingin segera memeriksakan diri saat tidak sehat. Pemerintah Indonesia mengingatkan untuk tidak perlu panik.

“Manakala kemudian merasa dirinya tidak enak badan dengan gejala mirip influenza, kita berharap mereka segera mengakses layanan kesehatan untuk segera berkonsultasi,” kata juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona COVID-19, Achmad Yurianto, Rabu (25/3/2020).

Yuri menyarankan untuk segera mengakses layanan kesehatan dan berkosultasi. Tidak lupa, disarankan untuk memakai masker agar saat batuk atau bersin, tidak menyebarkan droplet ke mana-mana.

“Nanti tenaga kesehatanlah yang akan membantu melakukan pemeriksaan secara lebih detail, bahkan kemudian menentukan pemeriksaan lanjut yang perlu dilakukan,” lanjut Yuri.

Menurut Yuri, bisa saja keluhan tersebut disebabkan oleh COVID-19. Namun sebaliknya, bisa juga bukan COVID-19.

“Tidak perlu menebak-nebak sendiri,” tegas Yuri.

Sumber: detik.com

 

 

Masyarakat Diminta Jangan Stigma Perawat dan Petugas Medis

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Direktur Utama (Dirut) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan Jakarta Rita Rogayah meyakinkan masyarakat tidak panik dan takut dengan keberadaan perawat termasuk yang pulang ke rumah masing-masing usai bertugas di rumah sakit.

Sehingga, ia meminta warga sekitar tak menolak keberadaan perawat lantaran dicurigai membawa virus corona ke lingkungan sekitar.

“RSUP Persahabatan merupakan rumah sakit rujukan. Ini berarti perawat kami menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai standar dan lengkap dalam menangani pasien Covid-19,” kata Rita di Jakarta, Rabu (25/3).

Hal tersebut disampaikan Rita menanggapi adanya penolakan dari warga terhadap kepulangan perawat RSUP Persahabatan ke kos-kosannya beberapa waktu lalu.

Namun, Rita menegaskan, bahwa perawat tersebut bukan diusir oleh warga sebagaimana sejumlah pemberitaan yang beredar, melainkan adanya stigma masyarakat bahwa mereka membawa virus dan warga takut tertular Covid-19.

“Masyarakat dan lingkungannya berpikir bahwa mereka bekerja di rumah sakit infeksi itu membawa penyakit dan virus,” katanya.

Terkait stigma masyarakat itu, ia mengatakan sudah seharusnya semua pihak memberikan edukasi lebih kepada masyarakat. Sehingga, mereka tidak perlu takut dan panik dengan keadaan semacam itu.

Apalagi, ujar dia, yang terpenting untuk dilakukan saat ini sebenarnya ialah tidak keluar rumah dan mengisolasi diri sendiri. Di sisi lain, ia mengakui kondisi tersebut menjadi beban mental tersendiri bagi perawat. Namun, rumah sakit telah memberikan solusinya. Bahkan, sudah ada beberapa pihak yang siap membantu untuk hotel dan apartemen.

“Alhamdulillah sudah banyak yang bantu. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua partisipan yang peduli dengan tenaga kesehatan kami,” ujarnya.

Sumber: republika.co.id

Polri: Bahkan Resepsi Pernikahkan Kami Bubarkan!

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Kadiv Humas Polri Irjen Pol Mohammad Iqbal mengatakan, sejumlah kegiatan kerumunan warga telah dibubarkan oleh aparat sebagai upaya untuk menekan penularan Covid-19.

Sejak diterbitkannya maklumat kapolri tentang kepatuhan terhadap kebijakan pemerintah dalam penanganan penyebaran virus corona (Covid-19) pada Kamis 19 Maret 2020, seluruh personel Polri langsung menggelar patroli untuk mengimbau warga agar tidak berkerumun.

“Dalam dua-tiga hari terakhir sejak berlakunya maklumat kapolri, banyak acara kegiatan kerumunan warga yang kami bubarkan,” ujar Irjen Iqbal di Mabes Polri, Jakarta, Senin (23/3).

Iqbal menjelaskan beberapa kerumunan warga yang dibubarkan, yakni resepsi pernikahan, baik di daerah Jawa Tengah maupun di Jakarta, serta warga yang duduk-duduk di kafe, persimpangan jalan, hingga sejumlah taman.

“Bahkan, resepsi pernikahan kami bubarkan dengan mengedepankan upaya persuasif dan humanis. Sejauh ini pembubaran kerumunan tidak ada insiden apa pun. Masyarakat kooperatif, paham dengan ancaman wabah ini,” ucapnya.


Iqbal menambahkan, bila ada masyarakat yang tidak mematuhi imbauan petugas Polri, yang bersangkutan akan diproses hukum. Ia pun berharap masyarakat mengindahkan imbauan pemerintah dengan tetap berdiam di rumah dan tidak berkerumun demi mencegah penularan pandemi Covid-19.

sumber: republika.co.id

 

Ojek Online Harus Diingatkan Agar Jaga Jarak

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Polisi Raden Prabowo Argo Yuwono meminta para pengemudi ojek online/daring untuk saling menjaga jarak fisik guna mencegah penularan Covid-19. Pengemudi juga diimbau menggunakan masker dan menghindari berkerumun.

“Pelayanan ojek online harus juga memperhatikan social distancing atau menjaga jarak fisik khususnya saat berkumpul menunggu customer atau orderan dengan harus tetap menjaga jarak dan tidak berkumpul,” kata Brigjen Argo saat dihubungi, Rabu (25/3).

Imbauan untuk menjaga jarak sangat penting demi menghindari penyebaran Covid-19 di Indonesia sesuai dengan imbauan pemerintah. Imbauan itu meminta masyarakat untuk bekerja dari rumah, menjaga jarak, serta menjaga kebersihan.

Kapolri Jenderal Pol Idham Azis pun telah mengeluarkan Maklumat Kapolri tentang Kepatuhan terhadap Kebijakan Pemerintah dalam Penanganan Penyebaran Covid-19. Salah satu isi maklumat adalah meminta masyarakat menghindari kerumunan.

Indonesia saat ini berada di posisi ke-13 dunia berdasarkan jumlah kematian akibat Covid-19. Total kasus hingga Rabu mencapai 790 orang.

Sumber:republika.co.id