Islam Jadi Agama dengan Pertumbuhan Tercepat di Dunia, Ungkap Studi Terbaru Pew Research Center

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Islam menjadi agama dengan pertumbuhan tercepat di dunia selama dekade 2010 hingga 2020, menurut laporan terbaru yang dirilis Pew Research Center pada Senin (9/6). Laporan bertajuk Global Religious Landscape ini menunjukkan bahwa pertumbuhan jumlah pemeluk Islam terutama disebabkan oleh faktor demografi alami, bukan perpindahan agama.

“Umat Muslim memiliki lebih banyak anak dan usia rata-rata mereka lebih muda dibandingkan penganut agama-agama besar lainnya,” demikian bunyi laporan tersebut.

Berdasarkan data tahun 2015–2020, perempuan Muslim diperkirakan memiliki rata-rata 2,9 anak sepanjang hidupnya. Sebagai perbandingan, perempuan non-Muslim rata-rata memiliki 2,2 anak.

Meski Kristen masih menjadi agama terbesar di dunia dengan 2,3 miliar pengikut, kesenjangan antara jumlah pemeluk Kristen dan Muslim terus menyempit. Islam kini menjadi agama terbesar kedua dengan sekitar 2 miliar pemeluk, atau sekitar seperempat dari populasi dunia. Sejak 2010, jumlah pemeluk Islam bertambah hampir 350 juta orang tiga kali lipat pertumbuhan jumlah umat Kristen dalam periode yang sama.

Studi tersebut juga mencatat bahwa perubahan jumlah pemeluk Islam secara global “hampir tidak berkaitan dengan perpindahan agama.” Artinya, mayoritas pertumbuhan Islam terjadi secara alami, bukan karena perpindahan keyakinan.

Negara-negara dengan mayoritas Muslim masih menjadi pusat pertumbuhan utama Islam. Namun, pertumbuhan pesat juga tercatat di beberapa negara seperti Kazakhstan, Benin, dan Lebanon. Sebaliknya, jumlah pemeluk Islam menurun di Oman dan Tanzania.

Sementara itu, persentase orang yang tidak berafiliasi dengan agama mengalami lonjakan signifikan, terutama di Amerika Serikat yang mencatat peningkatan sebesar 97 persen sejak 2010. Mayoritas dari kelompok ini tinggal di Tiongkok, yang memiliki sekitar 1,3 miliar orang tanpa afiliasi agama.

Agama Kristen tercatat mengalami penurunan jumlah pemeluk di setidaknya 40 negara, dengan hanya satu negara yang mengalami peningkatan signifikan. Penurunan ini sebagian besar dipengaruhi oleh perpindahan keyakinan. Antara 2010 hingga 2020, untuk setiap satu orang dewasa yang memeluk Kristen, ada tiga orang yang meninggalkannya.

Sebaliknya, dalam kategori “tidak beragama”, tren menunjukkan arah yang berlawanan: untuk setiap satu orang yang meninggalkan kelompok ini, ada tiga orang yang justru bergabung.

Islam menjadi satu-satunya agama besar di mana lebih banyak orang dewasa yang masuk ke dalamnya dibandingkan yang keluar. Selain Islam, kelompok “tidak beragama” juga mengalami pertumbuhan signifikan, dengan penambahan sekitar 270 juta orang sejak 2010.

Agama Hindu, yang merupakan agama terbesar ketiga di dunia dengan 1,2 miliar pemeluk, juga mengalami pertumbuhan sebesar 126 juta orang. Namun, proporsinya terhadap total populasi dunia tetap stabil.

Agama-agama lain seperti Sikhisme, Baha’i, dan lainnya kini mencakup sekitar 200 juta orang atau 2,2 persen dari populasi dunia. Sementara itu, agama Yahudi bertambah hampir satu juta orang, tetap stabil di angka 0,2 persen dari populasi global.

Agama Buddha tercatat mengalami penurunan signifikan, dengan jumlah pemeluknya berkurang sebesar 18,6 juta orang. Proporsinya terhadap populasi dunia turun dari lima persen menjadi empat persen. (Bahry)

Sumber: MEE

Lebih dari 440 Anak Palestina Ditahan di Penjara Israel, Jumlah Tahanan Capai 10.400 Orang

PALESTINA (jurnalislam.com)– Komisi Urusan Tahanan dan Eks-Tahanan Palestina (Commission of Detainees and Ex‑Detainees Affairs) merilis pembaruan komprehensif terkait kondisi para tahanan Palestina di penjara pendudukan Israel. Hingga awal Juni 2025, jumlah tahanan Palestina tercatat telah melampaui 10.400 orang, belum termasuk mereka yang ditahan di kamp-kamp militer Israel. Angka ini diyakini lebih tinggi dari data resmi yang tersedia.

Dalam laporan yang dipublikasikan pada Rabu (4/6/2025), Komisi menyebutkan bahwa dari total tersebut, terdapat 49 perempuan Palestina yang masih mendekam di balik jeruji, termasuk 8 di antaranya yang ditahan melalui mekanisme penahanan administratif, yaitu penahanan tanpa dakwaan atau proses pengadilan.

Situasi serupa juga dialami oleh anak-anak Palestina, yang jumlahnya kini melebihi 440 orang. Mereka ditahan dalam kondisi yang memprihatinkan dan jauh dari perlindungan hukum internasional yang seharusnya diberikan kepada anak-anak di bawah umur.

Lebih dari 3.562 warga Palestina juga kini ditahan di bawah sistem penahanan administratif. Sistem ini kerap dikecam oleh berbagai organisasi HAM internasional karena memungkinkan otoritas Israel untuk menahan seseorang tanpa tuduhan jelas dalam jangka waktu yang tidak terbatas.

Laporan tersebut juga menyoroti nasib 2.214 tahanan asal Jalur Gaza, yang diklasifikasikan oleh otoritas Israel sebagai “pejuang melanggar hukum”. Mereka ditempatkan di bawah perlakuan yang sangat ketat dan dikabarkan banyak dari mereka belum tercatat secara resmi dalam sistem penjara sipil Israel karena masih ditahan di kamp militer. Hal ini menunjukkan bahwa angka keseluruhan tahanan dari Gaza kemungkinan jauh lebih besar.

Komisi Urusan Tahanan Palestina menyerukan kepada komunitas internasional untuk segera turun tangan dan menekan Israel agar menghentikan praktik penahanan sewenang-wenang, serta memberikan perlindungan hukum kepada para tahanan, khususnya anak-anak dan perempuan. (Bahry)

Sumber: CDA

Milisi Bayaran Pro-Israel Dihabisi Hamas, 50 Anggotanya Tewas

GAZA (jurnalislam.com)– Kelompok perlawanan Palestina Hamas mengklaim telah menewaskan lebih dari 50 anggota geng bersenjata Palestina yang dipersenjatai oleh Israel dalam beberapa bulan terakhir. Geng tersebut dipimpin oleh Yasser Abu Shabab, seorang tokoh yang dikenal di Rafah karena keterlibatannya dalam aktivitas kriminal, dan kini dilaporkan mendapat perlindungan langsung dari militer Israel.

Bentrokan antara Hamas dan geng bersenjata ini pecah pada Selasa pagi (10/6/2025) di wilayah Rafah, Gaza selatan. Media Israel, i24 News, melaporkan bahwa pasukan Israel ikut campur langsung dalam pertempuran tersebut untuk menyelamatkan Abu Shabab, yang hampir ditangkap atau dibunuh oleh Hamas. Akibat bentrokan itu, korban jiwa dilaporkan terjadi di kedua belah pihak.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis kepada media, kelompok Abu Shabab yang menamai dirinya sebagai “pasukan rakyat” atau “dinas antiteror” mengaku bahwa lebih dari 50 anggotanya telah dibunuh oleh Hamas, termasuk kerabat pemimpin mereka. Mereka mengklaim bertugas menjaga konvoi bantuan kemanusiaan dan mendistribusikan pasokan dari perbatasan Kerem Shalom.

“Kami telah membersihkan bahan peledak dari wilayah tersebut dan kehilangan anggota dalam prosesnya,” ujar pernyataan kelompok itu.

Sementara itu, laporan dari media Israel Ynet menyebut bahwa milisi Abu Shabab juga telah menyergap dan membunuh enam anggota unit “Arrow” milik Hamas unit yang dikenal menargetkan kolaborator Israel di Gaza.

Pejabat pertahanan Israel sebelumnya telah mengakui bahwa mereka mempersenjatai kelompok tersebut dengan tujuan untuk memperlemah cengkeraman Hamas di Gaza. Namun, para pengamat memperingatkan bahwa langkah ini bisa memicu konflik internal yang lebih luas dan bahkan mendorong Gaza ke jurang perang saudara.

Abu Shabab sendiri memiliki catatan kriminal dan pernah dipenjara oleh otoritas Hamas atas tuduhan perdagangan narkoba. Ia diketahui berada dalam penjara Hamas pada 7 Oktober 2023, ketika serangan besar-besaran Hamas terhadap Israel terjadi dan memicu perang. Dalam kekacauan yang terjadi, penjara itu dibobol dan Abu Shabab berhasil keluar, meski detail pembebasannya masih belum jelas.

Saat ini, milisi bersenjata di bawah kendalinya diperkirakan berjumlah lebih dari 100 orang dan beroperasi di wilayah timur Rafah.

Di media sosial Gaza, Abu Shabab dijuluki sebagai “agen Israel” dan dianggap sebagai pengkhianat. Hamas secara terbuka menyatakan tekad untuk membunuhnya.

“Jika bukan karena intervensi udara Zionis untuk melindungi pengkhianat Yasser Abu Shabab, dia pasti sudah berada dalam cengkeraman perlawanan hari ini,” ujar Hamas dalam pernyataan resminya.

“Kami akan terus mengejar para pengkhianat ini. Perlindungan dari penjajah Zionis tidak akan bertahan lama. Cepat atau lambat, kami akan menangkapnya.”

Situasi ini menambah kompleksitas konflik yang sedang berlangsung di Gaza, di tengah kehancuran infrastruktur sipil, rumah sakit yang lumpuh, dan krisis kemanusiaan yang memburuk akibat blokade Israel. (Bahry)

Sumber: the guardian

Bencana Kelaparan Gaza: Tanggung Jawab Seluruh Kaum Muslim

Israel telah memblokade total masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza sejak 2 Maret 2025 lalu. Sejak itu wilayah tersebut memasuki kondisi mematikan akibat kekurangan pangan, air bersih dan obat-obatan. Puluhan dapur umum yang menyuplai makanan bagi warga Gaza telah tutup sejak awal Mei akibat kehabisan bahan untuk diolah menjadi makanan.

Amjad Al-Shawa, Direktur Jaringan Organisasi Non Pemerintah (NGO) mengatakan dari total 170 dapur umum di pusat Gaza, sebagian besar telah ditutup karena kehabisan bahan makanan untuk diolah, akibat blokade Israel yang masih terus berlanjut.

“Semua orang di Gaza saat ini kelaparan. Dunia harus bertindak sekarang untuk menyelamatkan orang-orang di sini,” kata Shawa, berbicara kepada Reuters melalui telepon dari Gaza.

Seolah belum puas sampai disana, Israel masih terus membombardir wilayah Gaza, bahkan serangan terbaru Israel 18 Mei lalu menargetkan Rumah Sakit Indonesia yang berada di Beit Lahiya, Gaza Utara. Serangan yang disertai pengepungan ini akhirnya melumpuhkan seluruh pelayanan Rumah Sakit Indonesia. Dengan demikian Rumah Sakit Indonesia adalah fasilitas kesehatan besar terakhir yang terpaksa ditutup di wilayah tersebut setelah RS Adwan dan RS Beit Hanoun.

Seluruh dunia telah menyaksikan kekejaman zionis yang biadab. Namun Barat, PBB dan penguasa Muslim pura-pura buta. Dan diam seribu bahasa terhadap kekejaman zionis.
Permasalahan palestina sejatinya adalah masalah bagi seluruh umat Islam. Sebab umat Islam tidak lain ibarat satu tubuh.

Sebagaimana Sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam: “Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya)” (HR Muslim).

Umat Islam hari ini memiliki kewajiban untuk membela rakyat Gaza yg mengalami penderitaan tiada akhir akibat kekejaman zionis Israel. Sebab setiap diri kita kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah atas diamnya kaum Muslim saat saudara mereka meregang nyawa di Gaza.

Gaza tidak butuh solusi 2 negara karena itu yang tidak lain hanyalah akal-akalan penjajah untuk menduduki tanah palestina. Gaza memang membutuhkan bantuan kemanusiaan, makanan, obat-obatan, tenaga kesehatan. Namun yang paling dibutuhkan Gaza hari ini adalah pasukan lengkap dan persenjataan lengkap yang melakukan jihad fi Sabilillah dan mengusir zionis Israel dari tanah palestina untuk selamanya. Sekaligus mengakhiri derita berkepanjangan rakyat Gaza.

Namun realitas yang terjadi, tak satu orang tentara pun yg dikirim oleh negeri-negeri muslim untuk mengusir Israel. Semua terkena penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Takut atas hegemoni Israel dan sekutu-sekutu Barat yang akan terus membela kepentingan Israel.

Tercatat dalam sejarah panjang Islam, satu-satunya yang mampu melakukan jihad fi Sabilillah tidak lain hanyalah khilafah Islam. Sebagaimana dahulu Shalahuddin Al Ayyubi Membebaskan tanah palestina. Karena sekali lagi tidak ada yang mampu mengusir zionis Israel selain Khilafah Islam. Wallahu a’lam bishawab

Penulis: Rafa Fatiha

Perusahaan Inggris Kirim Lebih dari 1.000 Kontainer Amunisi ke Israel Selama Perang Gaza

LONDON (jurnalislam.com)– Sebuah investigasi terbaru mengungkap bahwa sebuah perusahaan Inggris, Permoid Industries, telah mengirimkan lebih dari 1.000 kontainer amunisi ke Israel sejak dimulainya perang di Gaza pada Oktober 2023, memicu kekhawatiran serius tentang kebijakan ekspor senjata Inggris dan dugaan keterlibatan dalam kejahatan perang.

Laporan investigatif yang dirilis pada Senin (9/6/2025) oleh Declassified UK dan The Ditch menyebutkan bahwa perusahaan yang berbasis di Durham ini telah mengirim sedikitnya 16 pengiriman dengan total berat lebih dari 135 ton ke perusahaan pertahanan raksasa Israel, Elbit Systems, antara Oktober 2023 dan April 2025.

Permoid dikenal sebagai produsen kontainer amunisi berat, termasuk “amunisi berikat, kartrid, mortir, dan peluru artileri”, seperti amunisi artileri 155mm. Sebagian besar pengiriman tersebut ditujukan ke Elbit Systems Land di Ramat Hasharon, dekat Tel Aviv pemasok utama sistem artileri dan mortir untuk militer Israel.

Data menunjukkan bahwa sejak awal agresi militer Israel ke Gaza, Permoid telah memasok sedikitnya 920 kontainer ke pabrik Elbit di Ramat Hasharon. Bahkan pada April 2025 saja, terdapat 360 kontainer yang dikirim bertepatan dengan kembalinya serangan militer Israel ke Gaza setelah masa gencatan senjata yang sempat terjadi pada Januari.

Selain itu, 160 kontainer lainnya dikirim ke fasilitas Elbit di Haifa pada Desember 2023 untuk mengisi ulang stok amunisi yang diklaim habis dalam minggu-minggu awal perang. Seluruh pengiriman tersebut dilakukan melalui perusahaan pelayaran Israel yang kontroversial, Zim, dan tiba di Pelabuhan Ashdod.

Meski pemerintah Inggris melalui Departemen Bisnis dan Perdagangan menyatakan telah menangguhkan lisensi ekspor untuk barang-barang yang berpotensi digunakan di Gaza, Declassified UK menyoroti adanya celah hukum yang memungkinkan ekspor tetap berlangsung. Barang-barang seperti mesin drone dan dudukan senjata tetap lolos dari pembatasan.

“Fakta yang sulit adalah bahwa perusahaan-perusahaan Inggris masih menyediakan genosida,” tegas Joe Glenton, mantan tentara Inggris dan anggota kelompok kampanye ForcesWatch.

“Pergeseran retorika itu tidak berarti apa-apa jika tidak disertai dengan larangan total atas ekspor senjata ke Israel.” tegasnya.

Lebih jauh, Permoid juga bekerja sama dengan perusahaan Amerika Serikat untuk memproduksi kontainer bagi rudal Hellfire dan Longbow senjata udara-ke-darat yang diduga digunakan dalam serangan terhadap warga sipil Gaza. Seorang saksi mata menyebut serangan rudal Hellfire di sebuah sekolah di Nuseirat sangat brutal.

“Kami menarik tangan di sini dan kaki di sana dari bawah reruntuhan. Warga sipil yang tidak melakukan kesalahan apa pun jadi korban,” ungkapnya.

Sementara itu, menurut laporan Middle East Eye (MEE) pada Mei lalu, pemerintah Inggris telah menyetujui ekspor peralatan militer senilai $169 juta (setara sekitar Rp2,74 triliun) ke Israel dalam tiga bulan setelah diumumkannya penangguhan sebagian ekspor senjata. Data menunjukkan 20 lisensi berbeda telah dikeluarkan antara Oktober hingga Desember 2024, meliputi pesawat militer, radar, peralatan penargetan, dan alat peledak. (Bahry)

Sumber: Cradle

Serangan Udara Rusia Guncang Ibu Kota Ukraina, Pembicaraan Damai Masih Buntu

KYIV (jurnalislam.com)– Rusia kembali melancarkan serangan besar-besaran menggunakan pesawat nirawak (drone) ke ibu kota Ukraina, Kyiv, dan kota pelabuhan Odesa pada Selasa pagi (10/6). Serangan ini menewaskan satu orang, melukai sejumlah lainnya, dan menghantam infrastruktur sipil termasuk rumah sakit bersalin.

Menurut pejabat Ukraina, serangan intensif ini menjadi bukti bahwa Moskow terus mengabaikan seruan internasional untuk perdamaian, meskipun perundingan damai telah digelar akhir pekan lalu namun gagal mencapai terobosan berarti.

“Rusia berbohong setiap hari tentang keinginannya untuk perdamaian dan menyerang orang setiap hari. Saatnya untuk menjatuhkan sanksi. Saatnya untuk mendukung Ukraina dengan senjata. Saatnya untuk membuktikan bahwa demokrasi memiliki kekuatan,” tegas Kepala Kantor Kepresidenan Ukraina, Andriy Yermak, dalam pernyataan di Telegram.

Gubernur Odesa, Oleg Kiper, mengumumkan seorang pria berusia 59 tahun tewas dalam serangan terhadap bangunan tempat tinggal, sementara empat orang lainnya terluka. Ia menyebut serangan Rusia kali ini sangat besar dan menyebabkan kebakaran serta kerusakan parah pada infrastruktur sipil.

“Musuh menyerang Odesa secara besar-besaran dengan drone. Rumah sakit bersalin, bangsal medis darurat, dan bangunan tempat tinggal menjadi sasaran. Untungnya, rumah sakit telah dievakuasi tepat waktu,” ungkap Oleg Kiper.

Di pusat kota Kyiv, sedikitnya 12 ledakan terdengar pada dini hari, disertai suara tembakan antipesawat dan dengung drone. Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengimbau warga tetap berada di tempat perlindungan karena “serangan besar-besaran di ibu kota terus berlanjut.”

Serangan tersebut menghantam sedikitnya tujuh distrik di Kyiv, membakar bangunan dan kendaraan serta menyebabkan beberapa warga luka-luka.

Konflik yang dimulai pada Februari 2022 ini telah menjadi perang terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Meskipun Amerika Serikat melalui Presiden Donald Trump mencoba memediasi gencatan senjata, perundingan damai putaran kedua di Turki tidak menghasilkan kesepakatan berarti.

Satu-satunya kesepakatan yang dicapai adalah pertukaran tawanan perang yang terluka parah, sakit, atau masih berusia di bawah 25 tahun. Namun tidak ada kesepakatan soal gencatan senjata.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyambut kesepakatan pertukaran tahanan tersebut, namun menyebut perundingan lebih lanjut dengan delegasi Rusia “tidak ada gunanya,” bahkan menyebut mereka sebagai “orang bodoh” karena tidak mau menyetujui gencatan senjata.

Rusia menolak usulan gencatan senjata tanpa syarat selama 30 hari yang diminta oleh Ukraina dan Uni Eropa. Moskow menuntut agar Ukraina menyerahkan wilayah yang telah mereka aneksasi dan bersumpah untuk tidak bergabung dengan NATO, yang oleh Kyiv dianggap sebagai “ultimatum.”

Ukraina bersikeras bahwa penarikan penuh pasukan Rusia dan jaminan keamanan dari Barat adalah syarat mutlak untuk perdamaian.

“Rusia hanya memahami serangan, bukan kata-kata rasional,” ujar Yermak, menyiratkan kritik terhadap pendekatan diplomasi yang dianggapnya lemah terhadap Moskow.

Sementara itu, pada Minggu lalu, militer Rusia juga mengklaim menyerang wilayah Dnipropetrovsk yang berbatasan dengan Donetsk dan Zaporizhzhia sebagai bagian dari eskalasi konflik. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

Suriah Kembali Terhubung ke SWIFT, Langkah Besar Menuju Pemulihan Ekonomi dan Investasi Asing

DAMASKUS (jurnalislam.com)— Suriah resmi kembali terhubung ke sistem pembayaran internasional SWIFT melalui Bank Sentralnya. Pengumuman ini disampaikan oleh Gubernur Bank Sentral Suriah, Abdul Qader al-Husriya, pada Sabtu (7/6), menandai tonggak penting dalam rehabilitasi ekonomi negara itu setelah lebih dari satu dekade terkucil akibat sanksi internasional.

“Kami bertujuan untuk meningkatkan citra negara sebagai pusat keuangan mengingat investasi asing langsung yang diharapkan dalam pembangunan kembali dan infrastruktur – ini sangat penting,” ujar Husriya dalam wawancara dengan Financial Times (FT).

Menurut laporan FT, Husriya tengah bekerja sama dengan Kementerian Keuangan dalam menyusun “rencana stabilisasi enam hingga 12 bulan.” Prakarsa ini mencakup reformasi undang-undang perbankan dan Bank Sentral, serta upaya restrukturisasi jaminan sosial dan pembiayaan perumahan untuk menarik minat investor, khususnya dari diaspora Suriah.

Langkah ini disambut positif di Damaskus, namun Husriya menegaskan bahwa masih diperlukan reformasi kebijakan secara menyeluruh.

“Sejauh ini, kami hanya melihat penerbitan lisensi dan pencabutan sanksi selektif. Implementasinya harus komprehensif, bukan ad hoc,” tegasnya.

Kembalinya Suriah ke sistem SWIFT terjadi setelah negara tersebut menunjukkan kesediaan untuk memenuhi sejumlah kondisi politik dari negara-negara Barat.

Suriah terakhir kali terhubung ke SWIFT pada 2011, tahun dimulainya perang perubahan rezim yang didukung oleh Amerika Serikat.

Lebih lanjut, Husriya mengatakan bahwa sistem keuangan Suriah akan diperkuat oleh jaminan investasi. Ia mengungkapkan bahwa meskipun bank-bank milik negara telah mendapat dukungan pemerintah, pihaknya sedang menyiapkan lembaga penjamin simpanan untuk bank swasta.

“Rencananya adalah semua perdagangan luar negeri sekarang akan disalurkan melalui sektor perbankan formal,” jelasnya. Sebelumnya, penukar uang informal mengambil sekitar 40 sen dari setiap dolar yang masuk ke Suriah.

Kode SWIFT telah diberikan kembali kepada bank dan lembaga keuangan Suriah. “Langkah yang tersisa adalah agar bank-bank koresponden kembali memproses transfer,” ujarnya.

Menurut Husriya, kembalinya SWIFT akan memperlancar perdagangan luar negeri, mengurangi biaya impor, memperkuat ekspor, serta meningkatkan akses terhadap mata uang keras. Selain itu, langkah ini juga akan mendukung sistem anti pencucian uang dan mengurangi ketergantungan pada jaringan transaksi informal lintas negara.

Sebelumnya, Arab Saudi dan Qatar telah menjanjikan dukungan finansial kepada Damaskus setelah Amerika Serikat dan Uni Eropa mencabut sebagian besar sanksi bulan lalu, hal ini memberi Suriah jalur hidup baru setelah hampir 14 tahun perang dan isolasi ekonomi.

Sebagai bagian dari reformasi ekonomi yang lebih luas, Damaskus telah menandatangani kesepakatan energi senilai $7 miliar (sekitar Rp114 triliun) dengan Qatar, membuka kembali Bursa Efek Damaskus yang telah lama tidak aktif, serta meluncurkan proyek jaringan serat optik senilai $300 juta (sekitar Rp4,9 triliun) bekerja sama dengan perusahaan telekomunikasi dari Teluk.

Kembalinya Suriah ke sistem SWIFT menandai upaya serius negara tersebut untuk membangun kembali ekonomi dan kredibilitas internasionalnya.

Sebagai catatan, SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication) adalah jaringan global yang menghubungkan lebih dari 11.000 lembaga keuangan di lebih dari 200 negara untuk melakukan transaksi keuangan internasional secara aman dan terstandar. Akses ke SWIFT memungkinkan negara-negara melakukan transfer dana lintas batas, pembayaran ekspor-impor, serta memperkuat hubungan perbankan internasional. Kehadiran kembali Suriah dalam sistem ini merupakan sinyal positif bagi pemulihan keuangan negara tersebut. (Bahry)

Sumber: Cradle

Yayasan Nur Hidayah Surakarta Tebar Kurban Hingga Palestina

SOLO (jurnalislam.com)- Ada yang berbeda dalam perayaan Idul Adha 1446 Hijriyah di Yayasan Nur Hidayah Surakarta. Tidak hanya melaksanakan penyembelihan hewan kurban, tetapi juga melakukan penyaluran hewan kurban ke Palestina. Sejumlah unit di bawah naungan Yayasan Nur Hidayah Surakarta melakukan penyembelihan pada Jum’at-Senin (6-9/6/2025). Tercatat ada sebanyak 86 hewan kurban yang terdiri dari 12 sapi, 69 kambing, dan 5 domba.

LKSA Nur Hidayah Surakarta menyembelih 2 sapi dan 28 kambing pada hari pertama Jum’at (6/6/2025). Hari kedua, Sabtu (7/6/2025) PAUD IT Nur Hidayah Surakarta menyalurkan 1 sapi dan 2 kambing ke beberapa tempat. Satu sapi disalurkan ke Palestina melalui LAZ Nur Hidayah Surakarta bekerja sama dengan Yayasan Kesejahteraan Madani (YAKESMA) Cabang Surakarta dan dilaporkan melalui aplikasi zoom.

Penyembelihan sapi tersebut dilakukan di Lucknow, India, lalu disalurkan ke Palestina. Sedangkan 1 kambing disalurkan ke Pondok Pesantren Nur Hidayah Sawit dan 1 lagi disalurkan ke MI Muhammadiyah Walen 2, Simo, Boyolali.

Hari ketiga, Ahad (8/6/2025) Yayasan Nur Hidayah Surakarta melalui LAZ Nur Hidayah melakukan tebar hewan kurban ke Wonogiri. Sebanyak 1 sapi, 1 kambing, dan 5 domba tersebar di empat lokasi di Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri. Keempat Lokasi tersebut yaitu Masjid Al-Ikhlas Wonokriyo, Mushola Al-Hidayah Dringo, Masjid Nurul Iman Tawangharjo, dan Masjid Al Amin Ngluweng.

Pada hari yang sama, SD IT Nur Hidayah Surakarta, SMA IT Nur Hidayah Sukoharjo, serta Pondok Pesantren Nur Hidayah Kebakkramat juga melakukan penyembelihan hewan Kurban. SD IT Nur Hidayah Surakarta menyembelih 3 sapi dan 13 kambing. SMA IT Nur Hidayah Sukoharjo menyembelih 2 sapi dan 2 kambing. Adapun Pondok Pesantren Nur Hidayah Kebakkramat menyembelih 1 ekor sapi.

Adapun SMP IT Nur Hidayah Surakarta dan Pondok Pesantren Nur Hidayah Sawit melakukan penyembelihan pada hari terakhir tasyrik, Senin (9/6/2025). SMP IT Nur Hidayah Surakarta menyembelih 2 sapi dan 11 kambing. Daging hewan kurban disalurkan ke lima masjid di sekitar sekolah, yaitu Masjid Al-Hidayah, Masjid Al-Huda, Masjid Baiturrohim, Masjid Al-Fath, dan Masjid Istiqlal. Sedang Pondok Pesantren Nur Hidayah Sawit menyembelih 12 ekor kambing dan dibagikan ke warga sekitar.

MasyaAllah, semoga para donatur, orang tua atau wali murid, dan mitra yang telah mengamanahkan hewan kurbannya kepada Yayasan Nur Hidayah Surakarta mendapat pahala yang berlimpah dari Allah Ta’ala. Aamiin.

Tentara Israel Culik Aktivis Kapal Bantuan Kemanusiaan ‘Madleen’ di Perairan Internasional

GAZA (jurnalislam.com)– Tentara Israel dilaporkan menculik sejumlah aktivis kemanusiaan yang berada di atas kapal bantuan Madleen yang sedang menuju Gaza pada Ahad malam (8/6/2025), demikian disampaikan Koalisi Armada Kebebasan, penyelenggara misi tersebut.

“SOS! Para relawan di ‘Madleen’ telah diculik oleh pasukan Israel,” tulis LSM internasional itu melalui saluran Telegram resminya.

Pelapor Khusus PBB untuk Palestina, Francesca Albanese, mengonfirmasi bahwa ia sempat berbicara dengan kapten kapal sebelum komunikasi terputus.

“Pada saat kapal dicegat, tidak ada yang terluka kapten meminta saya untuk merekam,” ujarnya.

Albanese menyebut dirinya mendengar suara tentara Israel di latar belakang sebelum sambungan telepon terputus.

“Saya kehilangan koneksi dengan kapten saat dia memberi tahu saya bahwa ada kapal lain yang mendekat,” tambahnya.

Koalisi Armada Kebebasan menyatakan bahwa pasukan angkatan laut Israel menaiki kapal Madleen di perairan internasional. Sejak itu, komunikasi dengan kapal sepenuhnya terputus. Rekaman langsung yang sempat tersiar memperlihatkan kapal-kapal Israel mengelilingi Madleen, dengan tentara bersenjata memerintahkan para aktivis untuk mengangkat tangan.

Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan bahwa kapal tersebut diperintahkan untuk mengubah arah karena mendekati apa yang disebutnya sebagai “daerah terlarang”.

Kapal layar sepanjang 18 meter itu berlayar menuju Gaza pada 1 Juni lalu dari Pelabuhan San Giovanni Li Cuti di Catania, Sisilia, Italia. Misi ini merupakan bagian dari upaya Koalisi Freedom Flotilla untuk menembus blokade Israel atas Gaza dan mengirimkan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan.

Sebanyak 12 orang berada di atas kapal Madleen, terdiri dari 11 aktivis dan satu jurnalis. Di antara mereka terdapat nama-nama terkenal seperti aktivis iklim asal Swedia Greta Thunberg, anggota parlemen Eropa keturunan Prancis-Palestina Rima Hassan, serta aktivis dari berbagai negara: Jerman, Prancis, Brasil, Turki, Spanyol, dan Belanda. Seorang jurnalis dari Al Jazeera Mubasher, Omar Faiad, juga berada di kapal tersebut.

Kapal ini membawa berbagai bantuan penting bagi warga Gaza, termasuk susu formula bayi, tepung, beras, popok, produk sanitasi wanita, peralatan desalinasi air, pasokan medis, kruk, dan prostetik untuk anak-anak.

Hingga saat ini, nasib para aktivis dan kondisi kapal Madleen masih belum diketahui secara pasti. (Bahry)

Sumber: AA

Israel Bombardir Suriah Selatan, Satu Orang Dilaporkan Tewas

DAMASKUS (jurnalislam.com)– Militer Israel kembali melancarkan serangan udara ke wilayah selatan Suriah pada Ahad pagi (8/6/2025), dan mengklaim telah menewaskan seorang anggota Hamas dalam serangan tersebut. Ini menjadi bagian dari rangkaian serangan militer Israel terhadap Suriah yang terus berlanjut sejak awal tahun.

Dalam pernyataan yang disampaikan melalui Telegram, militer Israel mengatakan serangan menargetkan seorang yang diduga anggota Hamas di wilayah Mazraat Beit Jin.

Lembaga pemantau Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia melaporkan bahwa satu orang tewas dan dua lainnya luka-luka akibat serangan yang mengenai sebuah kendaraan di dekat zona penyangga yang diawasi pasukan PBB. Hingga kini, Hamas belum memberikan komentar terkait klaim Israel tersebut.

Sepanjang tahun ini, Observatorium mencatat Israel telah melakukan 61 serangan terhadap wilayah Suriah, terdiri dari 51 serangan udara dan 10 serangan darat.

Serangan terbaru Israel ini juga terjadi setelah dua roket ditembakkan dari wilayah Suriah ke arah Israel awal pekan ini serangan lintas batas pertama sejak jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada akhir tahun lalu. Dua kelompok yang sebelumnya tak dikenal mengklaim bertanggung jawab: “Brigade Martir Mohammed Deif” dan “Front Perlawanan Islam di Suriah”, keduanya diduga beroperasi dari wilayah selatan Suriah.

Israel merespons dengan serangan udara tambahan di wilayah tersebut. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa Tel Aviv menganggap Suriah sebagai pihak yang bertanggung jawab langsung atas serangan lintas batas tersebut.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad al-Shaibani, mengecam tindakan Israel dan menyebutnya sebagai “provokasi terkoordinasi” yang bertujuan mengganggu stabilitas nasional Suriah.

“Tindakan ini menciptakan peluang bagi kelompok terlarang untuk mengeksploitasi kekacauan,” kata Shaibani.

“Suriah telah memperjelas posisinya: kami tidak menginginkan perang, melainkan fokus pada rekonstruksi.” imbuhnya.

Serangan Israel ini terjadi di tengah upaya pemulihan Suriah di bawah pemerintahan baru Presiden Ahmed al-Sharaa, yang menggantikan Bashar al-Assad pada akhir tahun lalu. Pemerintahan baru telah memulai proses rekonsiliasi nasional dan menjalin kembali hubungan diplomatik dengan sejumlah negara.

Bulan lalu, Amerika Serikat dan Uni Eropa mencabut sanksi terhadap Suriah, langkah yang disebut sebagai titik balik penting dalam proses pemulihan ekonomi negara itu pasca perang yang berkepanjangan.

Meski demikian, Israel tetap menunjukkan sikap keras terhadap pemerintahan baru Suriah, dengan alasan kekhawatiran yang masih ada atas pemerintahan baru negara itu yang dipimpin oleh Presiden Ahmed al-Sharaa, yang dianggapnya sebagai “jihadis.”

Selain terus menggempur infrastruktur militer Suriah, Israel juga masih menduduki wilayah Dataran Tinggi Golan yang direbut sejak perang Arab-Israel tahun 1967 dan mengambil lebih banyak wilayah setelah al-Assad digulingkan. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera