Kemenkumham Sebut Wawancara Siti Fadilah oleh Deddy Corbuzer Ilegal

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Kepala Bagian Humas dan Protokol Direktorat Jenderal Pemasyarakatan  Kementeran Hukum dan HAM (Kemenkumham) Rika Aprianti menilai wawancara yang dilakukan oleh Deddy Corbuzer terhadap Mantan Menkes Siti Fadilah Supari adalah illegal.

“Bahwa kegiatan liputan dan wawancara Siti Fadilah dan Deddy Corbuzier tidak sesuai dan tidak memenuhi persyaratan yang tercantum pada Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI,” kata Rika dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com, Selasa (26/5/2020).

Ia mengatakan bahwa bahwa Peliputan untuk Kepentingan Penyediaan Informasi dan Dokumentasi harus mendapat izin secara tertulis dari Ditjenpas.

“Pihak Rutan Pondok Bambu mengatakan baru mengetahui adanya wawancara tersebut, setelah melihat video wawancara Siti Fadillah dan Deddy Corbuzier di instagram milik Deddy Corbuzier,” ungkapnya.

Idul Fitri Momen Saling Memaafkan di Tengah Pandemi

MEULABOH(Jurnalislam.com)—  Perayaan Idul Fitri 1441 Hijriyah merupakan momentum untuk saling memaafkan di tengah pandemi Covid-19.

“Apabila kita ingin mendapatkan piala kemenangan dan ampunan dari Allah SWT, di hari yang fitri ini kita harus saling memaafkan. Tidak perlu ada dendam,” kata Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, Teungku Abdurrani Adian, saat berkhutbah pada sholat Idul Fitri 1441 Hijriyah di Masjid Agung Baitul Makmur, Meulaboh, Ahad (25/5).

Menurutnya, manusia memiliki sifat amarah dan dendam dalam bergaul dan bersikap sehari-hari di lingkungan masing-masing.

Namun, kata dia, kedua sifat tersebut harus mampu dikendalikan dan tidak larut dalam emosi dalam menyikapi sebuah persoalan.

Teungku Abdurrani menjelaskan Allah SWT memberi batas toleransi kepada umat manusia yang marah kepada orang lain, dengan batas waktu selama tiga hari.

Apabila melebihi dari batas waktu yang sudah ditentukan tersebut, kata dia, maka manusia yang memiliki sifat dendam dan amarah kepada orang lain, maka amalan seseorang tidak akan diterima.

Di sisi lain, dia juga mengingatkan kepada seluruh masyarakat di Kabupaten Aceh Barat, agar dapat mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah dalam menghadapi wabah virus corona (Covid-19).

Masyarakat juga diajak agar menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari, seperti sering mencuci tangan dan hidup secara sehat lainnya.

Sumber: republika.co.id

 

Banyak UMKM Terdampak Covid-19, ACT Siapkan Program Sahabat UMI

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Tak sedikit warga Jakarta yang kini harus mengalami kelumpuhan ekonomi akibat pandemi Covid-19, seperti terlilit hutang, kehilangan modal, sampai harus gulung tikar.

Seperti yang dialami Siti Munasiroh (48), penjual nasi uduk dan donat di pinggir rel kereta api, yang terpaksa meminjam modal kepada rentenir demi membantu beban ekonomi keluarga. Kini, lapak Siti Munasiroh harus tutup lantaran pembeli yang semakin berkurang.

Jualan nasi uduk dan donat menjadi pilihan bagi Siti. Penghasilan suami sebagai supir angkot tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah ketiga anaknya. Selama berjualan, Siti mengandalkan pesanan dari orang-orang yang berjualan di Pasar Pagi. Kebutuhan sehari-hari, ia tutupi dengan meminjam uang ke bank keliling. Siti mengaku terjerat utang bank keliling.

“Punya utang di mana-mana. Sekarang enggak bisa jualan juga, (pembeli) berkurang karena Corona. Saya maunya lepas dari utang, saya tahu ini enggak boleh, tetapi bagaimana?” kata Siti menyeka air mata saat ditemui tim ACT di rumahnya.

Covid-19 memang semakin terasa menghimpit. Siti terus berikhtiar membuka dagangan kembali usai Idulfitri walau pembeli memang tidak sebanyak biasanya. Selain biaya sekolah anak, Siti juga harus membayar iuran air dan membeli gas masak. “Semoga masih ada masyarakat yang mau saling menolong. Setidaknya untuk modal usaha, dan semoga corona segera berakhir,” doa Siti.

Siti Munasiroh hanyalah salah satu potret masyarakat yang berusaha membantu perekonomian keluarga. Segalanya dilakukan demi menyambung hidup. Untuk terus membersamai saudara-saudara yang terdampak pandemi dalam aspek sosial dan ekonomi, Aksi Cepat Tanggap (ACT) menginisiasi program Sahabat Usaha Mikro Indonesia (Sahabat UMI) dengan untuk menumbuhkembangkan Usaha Mikro dengan dana sedekah dari para donatur.

Sahabat UMI merupakan sedekah modal kerja yang dikhususkan bagi pelaku usaha Perempuan pemilik usaha rumahan atau pedagang keliling yang terdampak pandemi Covid-19. Terealisasinya program ini dilandaskan oleh beberapa fakta yang terjadi di lapangan.

Beberapa usaha yang akan dibantu Sahabat UMI harus memenuhi beberapa kriteria diantaranya penggerak usahanya adalah perempuan dari keluarga prasejahtera dengan skala rumahan atau pedagang keliling, modal usaha di bawah Rp 1juta, produk siap jual (bukan dropshipper atau barang ada jika ada pesanan), tidak mensyaratkan agunan fisik atau hal lainnya, wajib memiliki usaha dan pengalaman berjualan sebelumnya, tidak dalam proses atau pengajuan modal usaha dari lembaga lainnya, dan tidak menggunakan dana tambahan modal untuk kebutuhan pribadi.

Seluruh bantuan modal ini akan menjadi bantuan terbaik untuk para Ibu yang berjuang menggerakkan perekonomian keluarga sekaligus menghidupkan sektor usaha mikro.

Taati Aturan Pembatasan, PM Belanda Tak Bisa Kunjungi Sang Ibu Sebelum Wafat

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Perdana Menteri Belanda Mark Rutte tidak dapat mengunjungi sang ibu yang sedang kritis di pekan terakhirnya sebelum meninggal dunia pada 13 Mei lalu karena mematuhi pembatasan pergerakan pencegahan penularan virus corona (Covid-19).

Rutte mengumumkan kematian ibunda, Mieke Rutte-Dilling, pada Senin (26/5). Perempuan berusia 96 tahun itu meninggal karena terserang virus.

“Perdana Menteri telah mematuhi semua aturan,” kata juru bicara Rutte kepada AFP.

Secara terpisah, Rutte mengatakan kematian sang ibu membawa kesedihan yang luar biasa bagi dirinya. Namun, Rutte mengatakan dia dan keluarga sangat bersyukur karena sang ibu bisa hidup bersama mereka untuk waktu yang sangat panjang.

“Kami sekarang telah mengucapkan selamat tinggal padanya dalam lingkaran keluarga dan berharap dapat melewati rasa kehilangan besar ini alam kedamaian dalam waktu dekat,” ujar Rutte.

Media lokal Belanda melaporkan ibu Rutte meninggal setelah terserang virus, namun bukan virus corona. Media lokal menuturkan kampung halaman ibu Rutte tengah diserang wabah penyakit ketika ia sakit.

Belanda mengonfirmasi kasus pertama virus corona pada 27 Februari lalu yakni seorang pasien berusia 56 tahun di Tilburg yang memiliki riwayat perjalanan dari Italia.

Pada Maret, pemerintahan Rutte mengumumkan pemberlakukan pembatasan pergerakan seperti membatalkan seluruh kegiatan publik dan perkumpulan massa, menutup tempat publik, sekolah, universitas, hingga membatalkan seluruh penerbangan dari dan menuju negara dengan kasus corona tinggi termasuk China, Italia, Iran, dan Korea Selatan.

sumber: cnnindonesia

Anies: Keberlanjutan PSBB Tergantung Perilaku Masyarakat

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meminta masyarakat tetap menaati peraturan terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hal ini untuk mengurangi penyebaran virus corona (Covid-19) di ibu kota.

Anies berharap PSBB di Jakarta bisa berakhir pada 4 Juni 2020. Namun menurutnya, PSBB bisa kembali diperpanjang apabila masyarakat tak menaati aturan.

“Jadi, yang menentukan PSBB diperpanjang atau tidak itu sebenarnya bukan pemerintah, bukan para ahli, yang menentukan adalah perilaku seluruh masyarakat di seluruh wilayah PSBB,” kata Anies dalam konferensi pers di Stasiun MRT Bundaran HI, Selasa (26/5).

PSBB di Jakarta sudah diterapkan sejak 10 April 2020. Saat itu, PSBB tahap pertama dilaksanakan selama dua pekan atau hingga 23 April 2020.

Anies kemudian memperpanjang PSBB pada 23 April hingga 21 Mei 2020. Alasannya, kasus virus corona di Jakarta masih cukup tinggi.

Terakhir, Anies kembali memutuskan PSBB kembali diperpanjang hingga 4 Juni. PSBB kali ini diharapkan menjadi yang terakhir untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona.

“Bila seluruh masyarakat di wilayah PSBB memilih taat, maka PSBB bisa berakhir. Bila masyarakat tidak (taat), PSBB terpaksa harus diperpanjang,” ujarnya.

Sumber: cnnindonesia

Sultan Brunei Minta Masyarakat Bersabar Tak Rayakan Idul Fitri

BRUNEI(Jurnalislam.com) – Sultan Hassanal Bolkiah tak menampik ada banyak tradisi Hari Raya Idul Fitri yang tidak dilakukan. Namun demikian, bukan berarti hal tersebut tak bisa diantisipasi dengan alternatif lainnya.

“Kita mungkin tidak bisa berjabat tangan, tetapi ada cara komunikasi lainnya. Kita tidak hanya dapat mendengar suara mereka, tetapi kita juga dapat berkomunikasi melalui konferensi video,” ujar dia seperti dilansir borneo bulletin, Ahad (24/5).

Meski demikian, dia merasa bersyukur dan memuji rakyat Brunei karena mematuhi aturan pencegahan penyebaran Covid-19 saat Idul fitri.

Dia menegaskan, perayaan Idul fitri dilakukan di seluruh penjuru dunia, begitupun Brunei. Tetapi, beberapa tradisi tidak bisa dilakukan karena ancaman yang masih ada. “Biasanya, perayaan dimulai dengan sholat Sunnat idul fitri. Tapi, tahun ini menjadi pertama kalinya tradisi itu tidak akan dilakukan,” kata dia.

Sambung dia, dalam situasi idul fitri kali ini, tak ada yang lebih bermakna dari pada menumbuhkan kesabaran. Sebab, ia beranggapan bahwa kesabaran adalah istana dari iman.

“Sebagaimana dinyatakan dalam Ayat 146 dari Surah Ali Imran: ‘Allah mencintai orang-orang yang sabar’. Tanda kesabaran adalah kesiapan kita untuk mematuhi peraturan,” tuturnya.

Dia melanjutkan, tradisi open house yang juga tak dilakukan, telah sesuai dengan pedoman keselamatan. Terlebih, dengan meniadakan hal tersebut di tengah pandemi, ia menilai bahwa semangat dan makna Hari Raya juga tak akan padam.

“Kita masih bisa terus melakukan tindakan kesalehan dengan membaca Al-Quran dan melakukan puasa enam hari di bulan Syawal, yang membawa banyak hadiah,” ucapnya.

Dia menambahkan, sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan Brunei, perayaan Hari Raya masih dapat diadakan dengan anggota keluarga dekat. Namun, pedoman tetap harus dilakukan di dalamnya, terlebih mencegah pertemuan lebih dari 20-30 orang.

“Dalam keluarga besar, kunjungan mereka dapat diatur dalam jadwal dan dengan bergiliran untuk menghindari jumlah orang yang dilarang dalam pertemuan,” ungkap dia.

Sumber: republika.co.id

Kapan Masuk Sekolah? Ini Kata Mendikbud

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengungkapkan pembukaan kembali sekolah ditetapkan berdasarkan pertimbangan Gugus Tugas Percepatan Penanganan (Coronavirus Disease (COVID-19).

Ia menggarisbawahi keputusan membuka kembali sekolah bukan sepihak oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

“Harus diketahui bahwa Kemendikbud sudah siap dengan semua skenario. Kami sudah ada berbagai macam. Tapi tentunya keputusan itu ada di dalam Gugus Tugas, bukan Kemendikbud sendiri. Jadi, kami yang akan mengeksekusi dan mengoordinasikan,” jelas Nadiem di situs resmi Kemendikbud, Selasa (26/8/2020).

Nadiem menegaskan, keputusan mengenai waktu dan metodenya akan juga berlandaskan pertimbangan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. “Tapi keputusan kapan, dengan format apa, dan seperti apa, karena ini melibatkan faktor kesehatan, bukan hanya pendidikan, itu masih di Gugus Tugas,” imbuhnya.

Terkait adanya berbagai rumor maupun pemberitaan yang mengabarkan Kemendikbud akan membuka sekolah pada awal tahun ajaran baru di bulan Juli dinyatakan Nadiem tidak benar.

“Kami tidak pernah mengeluarkan pernyataan kepastian, karena memang keputusannya bukan di kami. Jadi mohon stakeholders atau media yang menyebut itu, itu tidak benar,” tegas Nadiem.

Di banyak negara, awal tahun ajaran baru relatif tetap. Adapun demikian, penyesuaian metode belajar disesuaikan dengan kondisi dan status kesehatan masyarakat di masing-masing wilayah.

“Kemendikbud menilai saat ini tidak diperlukan adanya perubahan tahun ajaran maupun tahun akademik. Tetapi metode belajarnya apakah belajar dari rumah atau di sekolah akan berdasarkan pertimbangan gugus tugas,” tuturnya.

Sumber: cnbcindonesia

Nyaris 900 Ribu Orang Mudik ke Jateng, Pemerintah Dinilai Gagal

JAKARTA(Jurnalslam.com)–Meski mudik dilarang, namun masih banyak warga yang pergi ke kampung halaman di Lebaran 2020. Di Jawa Tengah saja, hampir 900 ribu pemudik masuk ke wilayah itu jelang Idul Fitri kemarin.

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI Pusat, Djoko Setijowarno, menyebut, sebenarnya aparat sudah semaksimal mungkin melakukan penyekatan di jalan raya. Namun, dia bilang bahwa ikhtiar warga untuk memaksa mudik memang tidak dapat dibendung.

“(Pemudik) melalui jalan-jalan tikus. Tidak taat aturan dan tidak membawa surat keterangan sehat. Upaya pemerintah untuk mencegah warga Jabodetabek tidak melakukan mudik mengalami kegagalan,” ungkapnya, Selasa (26/5/20).

Secara rinci, Dinas Perhubungan Jawa Tengah mencatat sebanyak 897.713 orang mudik telah memasuki Jawa Tengah sejak 26 Maret-23 Mei. Dari sejumlah itu, mayoritas pemudik datang menggunakan moda angkutan jalan raya.

Sebanyak 643.243 pemudik diperkirakan telah memasuki wilayah Provinsi Jawa Tengah menggunakan angkutan umum. Dari total 643.243 pemudik itu sebanyak 406.920 orang atau 63% menggunakan moda angkutan jalan.

Kemudian menyusul kereta api 176.749 orang atau 28%, lalu pesawat udara 52.275 orang atau 8% dan kapal laut 7.299 orang atau 1%. Djoko menyebut, pengawasan di terminal bus, stasiun, pelabuhan penyeberangan dan bandara udara memang cukup ketat, namun memang ada kendala.

“Selain keterbatasan personel untuk melakukan pencegahan juga tingkat kesadaran masyarakat masih sangat rendah terhadap bahaya penyeberan virus vorona di masa pandemi ini,” katanya.

Dikatakan, Jawa Tengah merupakan tujuan pemudik paling tinggi. Hal ini sejalan pula dengan catatan pergerakan pemudik pada tahun-tahun sebelumnya.

“Jika dibandingkan data pemudik ke Jawa Tengah tahun lalu sebanyak 5,6 juta orang, maka sudah sekitar 14% yang mudik ke Jawa Tengah hingga 23 Mei 2020,” imbuh Djoko.

Sementara itu yang menjadi lokasi paling banyak menjadi tujuan pemudik, yaitu Kabupaten Brebes 103.516 orang, Kabupaten Pemalang 97.009 orang, Kabupaten Banyumas 73.468 orang. Lalu ada pula Kabupaten Cilacap 65.738 orang, Kabupaten Tegal 60.228 orang dan Kabupaten Wonogiri 56.333 orang.

Sumber: cnbcindonesia

Jepang Cabut Status Darurat Wabah Corona

TOKYO(Jurnalislam.com) – Jepang pada Senin mencabut keadaan darurat yang diberlakukan untuk memerangi wabah virus corona, di seluruh negara itu. Demikian dilaporkan media setempat.

Keputusan itu diumumkan oleh Perdana Menteri Shinzo Abe, mengutip kantor berita Kyodo News. Langkah itu meliputi wilayah Tokyo, prefektur Kanagawa, Chiba dan Saitama, serta Hokkaido di Jepang utara, menurut laporan itu.

Dengan status bebas dari pembatasan, warga Jepang kini dapat pergi ke luar negeri secara bebas. Selain itu, bisnis dapat dilakukan. Sebelumnya perdana menteri Abe mengakhiri keadaan darurat di 42 dari 47 prefektur di Jepang.

Jepang memberlakukan keadaan darurat pada awal bulan lalu untuk jangka waktu satu bulan guna memerangi Covid-19 dan kemudian memperpanjangnya hingga 31 Mei. Mengutip data Worldometers, pada Senin, Jepang mencatatkan total kasus positif Covid-19 sebanyak 16.550 kasus, 820 pasien meninggal dunia, dan pasien yang sembuh sebanyak 13.413 orang.

Tercatat tidak ada penambahan kasus positif dan pasien meninggal dunia di Jepang pada Senin ini. Namun total pasien Covid-19 yang masih dirawat sebanyak 2.317 orang.

Data Worldometers menunjukkan penanganan Covid-19 di Jepang cukup tinggi dibandingkan dengan negara di lingkungannya yakni Taiwan dan Korea Selatan.

Sumber: republika.co.id

Hadapi Covid, Wasekjen MUI Minta Orang Mampu Bantu Kaum Dhuafa

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pandemi Covid-19  ini memang bukan musibah bagi bangsa Indonesia saja melankan musibah dunia yang belum ditemukan vaksinnya.

Karena kondisinya yang seperti sekarang, maka tidak ada  pilihan lain bagi seluruh rakyat Indonesia dan penduduk dunia untuk saling bergotong-royong dan bahu-membahu membantu satu sama lain.

Karenanya, Wakil Sekretaris Komisi Kerukunan Antarumat Beragama MUI Abdul Moqsith Ghazali menyampaikan dampak dari Covid-19 ini bukan hanya dari sudut kesehatan saja, tetapi juga dampak dari sudut ekonomi bagi semuanya.

“Oleh karena itu, saatnya yang mampu bisa membantu yang tidak mampu dengan berbagai cara. Karena kita diikat oleh satu ikatan kebangsaan sebagai bangsa Indonesia. orang-orang yang mampu secara ekonomi mengucurkan bantuan kepada kelompok-kelompok yang rentan mengalami dampak ekonomi akibat dari Covid-19 ini. Oleh karena itu sebaiknya kita bekerja sama satu dengan yang lain,” ujar Abdul Moqsith Ghazali beberapa waktu lalu.

Pria yang akrab dipanggil Kiai Moqsith ini juga menuturkan bahwa bulan puasa menjadi momen bagi umat manusia untuk melakukan refleksi diri terhadap apa yang sudah dilakukan baik itu untuk lingkungan, masyarakat dan juga untuk bangsa ini.

“Terlebih misalnya berpuasa di saat pandemi ini, zakat kita ini akan disalurkan kepada orang-orang yang betul-betul membutuhkan. Karena memang Covid-19 ini tidak cukup hanya ditangani oleh pemerintah saja. Maka dari itu masyarakat sipil harus menjadi bagian dari solusi, misalnya dengan tidak keluar rumah, dengan membantu menyebarkan masker, alat pelindung diri (APD) dan lain sebagainya yang itu sangat dibutuhkan,” kata pria yang pernah menimba ilmu di Universitas Leiden, Belanda itu.

Pria kelahiran Situbondo itu mencontohkan bahwa di dalam hadist dikatakan bahwa kesatuan umat, kesatuan bangsa itu adalah pondasi dari tercapainya sebuah cita-cita. Selain itu di Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 juga dikatakan untuk memajukan kesejahteraan dan bebas dari penindasan. Oleh karenanya kepedulian kepada satu sama lain memang  harus diberikan, tidak cukup hanya sekedar di khotbahkan.

“Tentu tugas dari tokoh-tokoh agama untuk menyadarkan masyarakat dari sudut agama. Demikian pula petugas kesehatan menyadarkan masyarakat dari sudut kesehatan. Begitu juga para ekonom misalnya menjelaskan hal-hal yang positif,” kata Dosen Tetap program studi Tafsir Hadits di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu

Sumber: republika.co.id