Pemerintah Kenalkan 5 Ventilator Karya Anak Bangsa, Siap Produksi Massal

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Kementerian Riset dan Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) membentuk Konsorsium Riset dan Inovasi untuk menghadapi pandemi Covid-19. Hasilnya, Kemenristek/BRIN sudah bisa memperkenalkan 5 ventilator hasil kerja keras anak bangsa.

Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19, Mego Pinandito mengatakan pembentukan konsorsiumnya bertujuan mensinergikan riset dan inovasi berbagai lembaga. Harapannya hal itu dapat mempercepat penanggulangan Covid-19.

Dalam waktu tiga bulan kerja, konsorsium itu menghasilkan 57 produk inovatif guna menanggulangi pandemic covid-19 dan diluncurkan pada Hari Kebangkitan Nasional oleh Presiden RI Joko Widodo. Para inovator Indonesia dalam Konsorsium Covid-19 terus mengembangkan berbagai alat-alat kesehatan (Alkes), obat dan terapi, sampai vaksin Covid-19.

“Sampai 15 Agustus, lima jenis ventilator yang dikembangkan anggota Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 berhasil mengantongi izin edar dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), setelah lulus uji sertifikasi dari Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Kemenkes,” kata Mego dalam keterangan pers yang diterima Republika.co.id, Sabtu (15/8).

Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 sudah menggelar sosialisasi lima ventilator inovasi Indonesia itu melalui webinar Zoom.  Kelima ventilator ini dikenalkan kepada komunitas dokter-dokter, rumah sakit, dan pemangku kepentingan lain.

Lima ventilator tersebut adalah BPPT3S-LEN, GERLIP HFNC-01, Vent-I Origin, COVENT-20, dan DHARCOV-23S. Kelima ventilator itu dibuat lembaga berbeda yaitu Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sekretaris Kemenristek/BRIN Abdul Kadir memberi apresiasi tinggi pada instansi yang turut serta membantu penanganan covid-19. Ia meyakini ventilator buatan anak bangsa jadi bukti kemampuan sumber daya manusia Indonesia.

“Setelah mengantongi izin edar, kelima ventilator tersebut segera memasuki tahap produksi massal. Bahkan beberapa ventilator sudah menghasilkan ratusan produk yang dimanfaatkan oleh rumah sakit dalam membantu menyelamatkan pasien Covid-19,” ucap Abdul.

Sumber: republika.co.id

 

PKS: Penemuan Obat Covid Peneliti Indonesia Kado Terindah Hari Kemerdekaan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakil Ketua Fraksi PKS, Sukamta menyampaikan apresiasi tinggi atas penemuan obat Covid-19 oleh peneliti Indonesia. Sukamta menyatakan bahwa penemuan obat Covid-19 ini merupakan kado terindah memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia.

 

“Obat ini menjadi terobosan luar biasa bagi proses penyembuhan pasien Covid-19 dan merupakan temuan obat pertama di dunia yang dihasilkan oleh kolaborasi hasil kerja sama TNI AD, BIN dan Tim Kedokteran Unair,” kata anggota Komisi I DPR RI yang turut hadir dalam launching obat Covid-19 di Jakarta, akhir pekan ini, dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi Senin (17/08/2020).

 

“Kita patut mengapresiasi dan bangga atas hasil uji klinis fase tiga yang menunjukan hasil lebih dari 90 persen efektif menyembuhkan pasien Covid-19,” lanjutnya.

 

Ia kemudian mendorong agar BPOM segera mengeluarkan izin edar sehingga bisa diproduksi massal. “Kami berharap BPOM bisa memberikan verifikasi secepatnya sesuai prosedur yang ada dengan waktu singkat sehingga bisa membantu masyarakat banyak lebih cepat,” ujar legislator asal dapil DIY ini.

 

“Sekali lagi selamat kepada semua pihak yang telah berjuang. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan balasan terbaik, pasien yang sakit Covid-19 bisa sembuh dan pandemi ini segera berakhir sehingga kita bisa hidup normal kembali,” kata Doktor lulusan negeri Ratu Elisabeth ini.

75 Tahun Indonesia Harus Jadi Momentum Lawan Krisis dan Covid

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Suasana perayaan HUT Kemerdekan RI ke-75 berbeda dari tahun sebelumnya. Masyarakat dihadapkan dengan pandemi Covid-19 yang membuat pola hidup berubah. Dalam situasi ini, masyarakat mendapatkan tantangan besar. Isu kesehatan semakin disorot, belum lagi berdampak pada ekonomi masyarakat yang hampir ke jurang resesi.

Karena itu, sudah sepatutnya perayaan kemerdekaan tahun ini menjadi momentum mempersatukan bangsa untuk melawan pandemi Covid-19. Semua kalangan berupaya mencari cara melawan pandemi, termasuk mencari obat dan vaksin Covid-19.

Sosiolog Imam Prasodjo membagikan renungan 17 Agustus di tengah wabah Covid-19. Dia mengatakan, Indonesia mendapatkan tantangan yang belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia.

“Maka kita secara kolektif sebagai bangsa, kita tidak tahu siapa diri kita dalam menghadapi situasi seperti ini. Harusnya ada banyak tokoh mengimbau dan mengingatkan, kita sekarang menghadapi sebuah krisis yang tidak terjadi dalam sejarah,” ungkapnya.

“Tanpa disadari, masyarakat saling menghadapi musuh dan menghadapi kondisi ini harus bergantungan sesama. Kalau kita tidak hati-hati ya udah kita akan menghadapi kesengsaraan,” sambung Imam.

Imam menambahkan, setelah memahami apa yang akan terjadi itu, renungan selanjutnya adalah bagaimana membangun solidaritas di dalam menghadapi masa sulit seperti ini. Menurutnya, perlu ada sebuah pola baru kehidupannya yang tidak mudah. Pandemi ini menjadi tantangan terbesar di 2020.

Imam menegaskan, masyarakat jangan menyepelekan pandemi Covid-19. Maka satu-satunya cara yang harus dilakukan perubahan perilaku. Masyarakat harus beradaptasi, cara hidup hingga cara interaksi harus berubah. Karena penyakit ini menular melalui manusia, perilaku harus dijaga.

“Sekarang tahun penentuan, kita ini akan terpuruk atau akan bangkit. Kita akan bisa beradaptasi atau tidak? Kalau ceroboh, apa yang kita lakukan bisa membahayakan orang lain, untuk keselamatan kita juga keselamatan keluarga dan masyarakat umum,” bebernya.

Sumber: sindonews.com

HUT RI ke-75, Momentum Bersatu Lawan Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Suasana perayaan HUT Kemerdekan RI ke-75 berbeda dari tahun sebelumnya. Masyarakat dihadapkan dengan pandemi Covid-19 yang membuat pola hidup berubah. Dalam situasi ini, masyarakat mendapatkan tantangan besar. Isu kesehatan semakin disorot, belum lagi berdampak pada ekonomi masyarakat yang hampir ke jurang resesi.

Karena itu, sudah sepatutnya perayaan kemerdekaan tahun ini menjadi momentum mempersatukan bangsa untuk melawan pandemi Covid-19. Semua kalangan berupaya mencari cara melawan pandemi, termasuk mencari obat dan vaksin Covid-19.

Bagi Sekretaris Jenderal Palang Merah Indonesia (PMI), Sudirman Said, dalam perayaan Hari Kemerdekaan selalu menjadi momen penting mengingat kembali cita-cita kemerdekaan. Apalagi setiap negara sama-sama berjuang melawan pandemi Covid-19 dan Indonesia harus menunjukkan jati dirinya.

“Menjadi bangsa merdeka adalah jalan menuju bangsa yang cerdas, yang sehat, yang sejahtera dan dihormati warga dunia,” tandas Sudirman melalui keterangan tertulisnya, baru-baru ini.

Masyarakat harus kompak melawan pandemi Covid-19 dengan mengubah pola hidup sehat. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang lengah dalam menghadapi situasi baru ini. Menghadapi pandemi, seluruh masyarakat harus bersatu. “Maka tepat rasanya menjadikan momentum 17 Agustus untuk menyatukan berbagai potensi,” ujar Sudirman.

Sumber: sindonews.com

Wapres dan Menag Bahas Regulasi Sertifikasi Halal

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Wapres K.H. Ma’ruf Amin mendukung langkah Menteri Agama Fachrul Razi dalam mempercepat proses sertifikasi halal.

Dukungan dan arahan ini, kata Menag, disampaikan Wapres yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) saat menerima kunjungannya di Istana Wapres, Rabu, 12 Agustus 2020.

Menag menegaskan kembali hasil audiensi dengan Wapres tersebut kepada jajarannya di Kemenag, Jumat (14/8), untuk ditindaklanjuti.

Dalam pertemuan dengan Wapres tersebut, Menag melaporkan sejumlah kendala yang menghambat pengurusan sertifikasi halal dan langkah-langkah yang ditempuh Kementerian Agama dalam mempercepat prosesnya. “Pada hari Rabu sore, saya menghadap Wapres RI yang juga Ketua Umum MUI, untuk melaporkan dan minta petunjuk tentang langkah-langkah percepatan proses Sertifikat Halal yang selama ini terasa mandek,” terang Menag.

Menurutnya, sejumlah kendala dalam proses sertifikasi halal tersebut antara lain masalah kepastian tarif, percepatan dan kepastian waktu, serta kurangnya Lembaga Pemeriksa Halal  (LPH) dan otoritas yang menerbitkan fatwa halal.

Terkait tarif layanan, kata Menag, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) berkoordinasi secara intensif dengan Kementerian Keuangan untuk menerbitkan regulasinya. Berkenaan dengan waktu, proses sertifikasi halal yang selama ini mencapai 93 hari dinilai sangat lambat dan akan dipercepat menjadi 21 hari.

Menag juga menyampaikan bahwa proses sertifikasi halal dipengaruhi oleh masih terbatasnya jumlah LPH dan lembaga yang memiliki otoritas menerbitkan fatwa halal.

Menag mengusulkan perlunya penambahan dua hal tersebut untuk memudahkan dan mempercepat proses sertifikasi halal. Pemeriksa halal nantinya juga bisa dilakukan oleh lembaga negara/yayasan Islam berbadan hukum dan universitas yang memenuhi syarat.

Sementara, fatwa halal tetap dikeluarkan oleh MUI dengan mengakomodasi keterlibatan lembaga fatwa ormas Islam yang berbadan hukum.

“Bapak Wapres punya sikap yang sama terhadap ide-ide tersebut dan memberi arahan teknis pelaksanaannya untuk memecahkan hambatan-hambatan yang sebelumnya belum terpecahkan,” tutur Menag.

“Pak Wapres juga memberikan arahan agar kami menyiapkan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) untuk RUU Cipta Kerja yang terkait dengan hal-hal tersebut,” lanjutnya.

Pada 13 Agustus lalu, kata Menag, dirinya telah menerima tim kecil dari MUI. Pertemuan itu membahas lebih detail hasil pertemuan dan arahan Wapres, termasuk tentang format Sertifikat Halal dan Logo Halal. Pertemuan itu juga  menyepakati bahwa  BPJPH harus mempercepat mekanisme pedaftaran  on-line.

“Intinya, semua hambatan kita coba carikan solusinya. Insya Allah ke depan semua akan dapat berjalan baik sesuai harapan bersama,” tutup Menag

 

Doa Menag saat Upacara HUT ke-75 Kemerdekaan RI di Istana Negara

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Menag Fachrul Razi didaulat membaca doa pada upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara, Senin (17/08). Upacara tingkat kenegaraan ini dipimpin oleh Presiden Joko Widodo.

Hadir, Wapres KH Ma’ruf Amin, Pimpinan Lembaga Tinggi Negara, Menteri Kabinet Indonesia Maju, dan sejumlah tamu undangan. Selaku komandan upacara, Kolonel Infanteri Muhammad Imam. Selaku perwira upacara, Brigadir Syafrudin.

“Ya Allah Tuhan Yang Maha Kuasa. Segala puji kami panjatkan ke hadirat-Mu atas nikmat tidak terhingga yang Engkau berikan kepada bangsa kami. Atas ridha dan kuasa-Mu, Engkau bebaskan kami dari belenggu penjajahan. Karenanya, perkenankanlah kami pada hari ini dengan penuh rasa syukur dan suka cita, memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan bangsa kami yang ke-75,” demikian Menag mengawali doanya usai membaca basmalah, hamdalah, dan shalawat Nabi.

Kenakan pakaian ada Aceh, Menag melangitkan harapan agar Indonesia terus mendapat limpahan rahmat Allah, sehingga mampu membangun diri menjadi bangsa yang maju dan kompetitif. Menag mendoakan para pahlawan bangsa senantiasa mendapat kasih sayang-Nya, serta Indonesia segera terbebas dari pandemi Covid-19.

“Sehat, kuatkan, dan tabahkan kami dalam menghadapinya,” harap Menag.

Berikut doa yang dibacakan oleh Menag Fachrul dalam upacara HUT ke-75 Kemerdekaan RI:

Ya Allah Tuhan Yang Maha Kuasa
Segala puji kami panjatkan ke hadirat-Mu atas nikmat tidak terhingga yang Engkau berikan kepada bangsa kami. Atas ridha dan kuasa-Mu, Engkau bebaskan kami dari belenggu penjajahan. Karenanya, perkenankanlah kami pada hari ini dengan penuh rasa syukur dan suka cita, memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan bangsa kami yang ke-75.

Ya Allah Tuhan Yang Maha Bijaksana
Dengan semangat proklamasi kemerdekaan yang ke-75 ini, berikanlah ridha-Mu yang tak terputus pada kami, untuk membawa bangsa ini menjadi bangsa yang maju, sejajar, dan berkompetisi dengan bangsa-bangsa maju lainnya di dunia. Teguhkan persatuan dan kesatuan kami, agar kami dapat menapak dengan kokoh kuat dalam membangun bangsa tercinta ini.

Ya Allah Tuhan Yang Maha Pengasih
Curahkanlah rahmat dan kasih sayang-Mu kepada para pahlawan kami yang telah mengorbankan jiwa dan raganya bagi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ampunilah segala kesalahan mereka dan terimalah budi baik dan keikhlasan pengorbanan mereka, serta tinggikan derajat dan muliakan mereka, dalam golongan hamba-hamba-Mu yang syuhada.

Ya Allah Tuhan Yang Maha Melindungi
Di tengah wabah Covid-19 yang masih berlangsung sampai dengan saat ini, semakin menyadarkan kami, bahwa betapa lemahnya kami tanpa pertolongan-Mu. Karenanya ya Allah, dengan qudrat dan iradat-Mu, mohon Engkau berkenan mengangkat wabah Covid-19 dari negeri Indonesia. Sehat, kuatkan, dan tabahkan kami dalam menghadapinya.

Ya Allah Tuhan Yang Maha Pengampun
Dengan sifat ‘Afuwwun Ghafuur-Mu, ampunilah dosa dan kesalahan kami, dosa dan kesalahan para pahlawan kami, serta dosa dan kesalahan para pemimpin kami. Perkenankan doa kami, Ya Allah.

Edukasi dan Literasi Zakat dan Wakaf Perlu Ditingkatkan

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Kementerian Agama meminta jajaran Penyuluh Agama Islam untuk dapat meningkatkan literasi serta komitmen umat Islam dalam menunaikan zakat dan wakaf.

Hal ini disampaikan Dirjen Bimas Islam saat menjadi narasumber dalam Kelas Intensif Literasi Zakat dan Wakaf Bagi Penyuluh Agama Islam, yang digelar secara virtual oleh Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama.

“Penyuluh agama, memiliki peran besar untuk meningkatkan kesadaran literasi serta partisipasi umat agar dapat meningkatkan komitmennya untuk melaksanakan zakat dan tentu wakafnya,” kata Kamaruddin, Kamis (13/08).

Kamaruddin yang membawakan materi tentang Perkembangan Regulasi Zakat dan Wakaf di Indonesia, menyoroti bahwa saat ini Rukun Islam yang masih perlu ditingkatkan pemahaman dan implementasinya oleh umat  adalah berzakat.

“Salat, saya kira hampir semua umat Islam salat. Puasa, apalagi, umat Islam bersemangat dalam melaksanakan Puasa di Bulan Ramadan. Semua orang juga memiliki semangat untuk menunaikan ibadah haji. Tetapi bagaimana dengan zakat?” tanya Kamaruddin.

“Untuk zakat fitrah, saya kira ini implementasinya sangat bagus. Semua orang di Indonesia, saya kira mayoritas menunaikan zakat fitrah ini. Tapi untuk zakat maalnya, ini yang menjadi problem ini. Saya kira ini tantangan kita, tantangan para penyuluh juga, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar menunaikan zakat maalnya,” lanjut Kamaruddin.

Ia menyampaikan, saat ini masih ada gap yang cukup jauh antara penerimaan zakat dan wakaf dengan potensi zakat dan wakaf di tingkat nasional. Berdasarkan survei yang dilakukan beberapa lembaga, menurut Kamaruddin, potensi zakat nasional Indonesia berkisar  sekitar Rp. 233 triliun. Sementara, potensi wakaf nasional berkisar Rp. 217 triliun.

“Ini potensi yang sangat besar sekali, tapi hingga saat ini potensi ini belum diberdayakan atau digali sepenuhnya,” tuturnya.

“Tugas kita adalah untuk menggali ekosistem perzakatan untuk menggali potensi zakat yang jumlahnya 233 triliun ini. Ini juga sumbernya berbeda-beda dari berbagai jenis zakat,” ungkapnya.

Meski demikian, menurutnya, Indonesia pun perlu bersyukur, karena berdasarkan World Giving Index, Indonesia merupakan negara paling dermawan se-dunia. “Oleh karena itu, karena kita merupakan negara yang paling dermawan, maka potensi zakat dan wakaf kita harusnya terimplementasi secara maksimal,” imbuhnya.

Maka, Kamaruddin berharap dengan diselenggarakannya Kelas Intensif Literasi Zakat dan Wakaf, akan menghasilkan penyuluh-penyuluh agama yang memiliki pengetahuan mumpuni di bidang zakat dan wakaf. Kelas Intensif Literasi ini terdiri dari 10 sesi, yang dilaksanakan mulai 13 Agustus hingga 15 September 2020.

 

40 Ribu Pasien Corona Indonesia Masih Dirawat

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Pemerintah kembali melaporkan jumlah kasus positif covid-19 di Tanah Air. Tercatat hingga 16 Agustus 2020, jumlah pasien corona yang masih dalam perawatan saat ini sebanyak 40.076 orang.

Sementara saat ini, tercatat kasus positif covid-19 bertambah 2.081 kasus, sehingga akumulasinya sebanyak 139.549 orang.

Data penambahan kasus positif COVID-19 di Indonesia kini dipublikasikan oleh Satuan Tugas Penanganan COVID-19 di https://www.covid19.go.id dan laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui laman https://www.kemkes.go.id/.

Saat ini tercatat total pasien COVID-19 sembuh sebanyak 93.103 orang. Angka itu menunjukkan tingkat kesembuhan corona di Indonesia saat ini tercatat menjadi 66,7% dari seluruh jumlah kasus terkonfirmasi COVID-19.

Sementara itu, jumlah pasien COVID-19 yang meninggal kembali bertambah 79, sehingga jumlahnya menjadi 6.150 orang. Angka ini menunjukkan tingkat kematian akibat virus corona tercatat 4,4% dari total kasus COVID-19. Selain itu, sebanyak 77.090 orang menjadi suspek COVID-19.

Sumber: sindonews.com

Jejak Pejuang Kemerdekaan Laskar Hizbullah di eks Karesidenan Besuki

Oleh: Budi Eko Prasetiya, S.S

Salah satu kontribusi terbaik para santri bagi Indonesia adalah terbentuknya Laskar Hizbullah. Laskar Hizbullah adalah kelompok pejuang yang terdiri dari pemuda-pemuda Islam dan para santri pondok pesantren yang memiliki andil besar dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945-1949.

Organisasi paramiliter yang dibentuk pada zaman Jepang tersebut membantu para santri mengenal tata militer modern, seperti : penggunaan senjata ringan, pelatihan fisik dan mental, serta teori-teori militer dasar lainnya.
Militer Jepang dan para ulama yang terhimpun dalam Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) bertindak sebagai pelatih para laskar tersebut.

Dikutip dari konten “Komunitas Pegon” yang termuat di laduni.com disebutkan bahwa pelatihan pertama dilaksanakan di Cibarusa, Bogor pada 28 Februari 1945. Latihan yang berlangsung selama 3 bulan tersebut, diikuti oleh berbagai elemen santri-pejuang dari Jawa dan Madura.

Setelah lulus, laskar Hizbullah mendapat tugas untuk melatih para laskar lainnya di berbagai daerah yang mulai tumbuh gairahnya. Mereka berduyun-duyun bergabung menjadi laskar yang dalam bahasa Jepang diistilahkan dengan ‘Kaiko Seinen Teishintai’, bermakna ‘tentara Allah’.

Kelanjutan pelatihan tersebut adalah membuat program pelatihan baru, salah satunya di wilayah paling timur Provinsi Jawa Timur, tepatnya di Karesidenan Besuki. Wilayah ini meliputi Kabupaten Situbondo, Bondowoso, Jember dan Banyuwangi.

Berdasarkan keputusan bersama antara militer Jepang di Besuki, Masyumi dan pimpinan Hizbullah maka pelatihan bertempat di Awu-Awu, yakni sebuah dusun di lereng Gunung Raung yang saat ini masuk wilayah Desa Temuasri, Kecamatan Temuguruh, Banyuwangi.

Pelatihan yang diadakan
mulai 20 Juni 1945 dan berakhir pada 21 Juli 1945 itu, diikuti oleh para bintara PETA dan Hizbullah dari seluruh Karesidenan Besuki. Pelatihan tersebut dipimpin langsung oleh Komando Militer Jepang (Butai) dan mendapat arahan dari KH. Mursyid selaku pimpinan Masyumi di Besuki. Sebagai kepala instruktur (Taicho) langsung dipegang oleh Yogeki Shudancho Wahyudi dan dibantu oleh Komandan Korp Hizbullah Karesidenan Besuki Sulthan Fajar dan 23 orang perwira Hizbullah lulusan Cibarusa sebagai Komandan Latihan Peleton (Sidokan).

Hasil pelatihan tersebut menghasilkan para pejuang yang militan dan tangguh. Dengan semboyan “isy kariman aw mut syahidan” (Hidup mulia atau mati syahid), mereka berada di barisan terdepan dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan.

Laskar Hizbullah telah tampil gemilang dalam panggung perjuangan melawan kaum penjajah. Pertempuran di Surabaya 10 November 1945 menjadi bukti nyata, bahwa Laskar Hizbullah merupakan pejuang yang handal. Meski dengan persenjataan yang terbatas, para Laskar Hizbullah bertempur melawan musuh yang bersenjata lengkap dan modern. Semangat juang yang begitu tinggi itulah yang tidak diperhitungkan musuh. Tentunya ini atas peran dan dorongan para ulama yang turut melahirkan eksistensi mereka.

Pakar Mitigasi Bencana: Kegiatan Belajar Tatap Muka Perlu Kesiapan Matang

PURWOKERTO(Jurnalislam.com) — Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Dr. Ridlwan Kamaluddin mengingatkan bahwa kegiatan belajar mengajar tatap muka memerlukan kesiapan yang sangat matang guna mencegah Covid-19.

“Misalkan perlu persiapkan panduan atau protokol mulai dari pemberangkatan sekolah hingga kepulangan,” katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Ahad (16/8).

Koordinator bidang kesehatan Pusat Mitigasi Bencana Unsoed itu juga mengingatkan bahwa pelaksanaan protokol kesehatan perlu benar-benar berjalan dengan ketat. Ia melanjutkan, perlu juga surat izin dan persetujuan dari orang tua murid serta perlu ada tim khusus dari sekolah yang mengawasi dan mengontrol kondisi sekolah sesuai dengan protokol pencegahan Covid-19.

Dia mengatakan perlu kajian yang benar-benar matang agar kegiatan belajar mengajar tatap muka dapat berjalan dengan aman dan juga nyaman. “Kuncinya adalah penerapan protokol kesehatan yang ketat dan adanya pengawasan bahwa penerapan protokol tersebut telah berjalan dengan baik,” ujarnya.

Untuk itu, kata dia, perlu ada sinergitas antarpemangku kebijakan dalam mengawasi pelaksanaan protokol kesehatan tersebut. Sementara itu, seperti diwartakan sebelumnya, Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Evy Mulyani menjelaskan pemerintah mengizinkan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tatap muka di sekolah di daerah dalam zona hijau dan zona kuning dalam peta risiko penularan Covid-19 apabila ada persetujuan dari pemerintah daerah, kepala sekolah, komite sekolah, dan orang tua murid.

“Meski sekolah sudah melakukan pembelajaran tatap muka, persyaratan terakhir adalah adanya persetujuan dari orang tua peserta didik. Jika orang tua tidak setuju maka peserta didik tetap belajar dari rumah dan tidak dapat dipaksa,” katanya.

Pemerintah pusat mengizinkan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tatap muda di sekolah secara bertahap dengan beberapa pembatasan, termasuk di antaranya setiap kelas hanya diisi 30 sampai 50 persen dari kapasitas standar kelas.

Sumber: republika.co.id