BMH Lakukan Pipanisasi untuk Mualaf Suku Tengger Jatim

LUMAJANG(Jurnalislam.com)–Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) terus menguatkan perannya dalam membantu meringankan kebutuhan masyarakat Mualaf di Indonesia, kali ini Laznas BMH bersama komunitas Notaris Muslim Indonesia (NMI) menyalurkan bantuan Pipanisasi kepada masyarakat Mualaf Suku Tengger di Dusun Pusung Duwur, Desa Argosari, Kec. Senduro, Lumajang (12/09/2020).

Alhamdulillah, Laznas BMH bekerjasama dengan Komunitas Notaris Muslim Indonesia (NMI) merealisasikan program bantuan pipanisasi air bersih untuk masyarakat mualaf Suku Tengger, ini adalah realisasi dari program kita yang ke-20 di tahun 2020,” papar Imam Muslim selaku Kepala Divisi Prodaya BMH Perwakilan Jawa Timur.

Ia menambahkan program pipanisasi ini bertujuan agar mempermudah masyarakat suku tengger di Dusun Pusung Duwur dalam mengambil air bersih.

“Masyarakat mualaf disini (Dusun Pusung Duwur) sering kesusahan dalam mengambil air bersih karena jaraknya yang jauh,” tambah Imam Muslim.

Masyarakat Mualaf Dusun Pusung Duwur sangat berterima kasih dengan realisasi pembangunan Pipanisasi air bersih ini.

“Alhamdulillah, terima kasih mas atas bantuan pipanisasinya, Insya Allah saya mengambil air jadi lebih mudah,” ucap Supono salah satu warga Dusun Pusung Duwur.

Tidak hanya bantuan pipanisasi yang diberikan, BMH bersama NMI juga memberikan bantuan Al-Qur’an untuk Mushollah Jabal Rahmah yang juga lokasi pesantren Mualaf Suku Tengger.

“Bantuan Al-Qur’an ini sudah jelas utamanya untuk sarana membantu masyarakat mualaf dalam belajar membaca dan mengamalkan Al-Qur’an melalui pesantren mualaf suku tengger,” tambah Imam Muslim.

Program realisasi pipanisasi air bersih ke 20 ini berhasil dilaksanak dari bantuan donatur Laznas BMH dan Komunitas Notaris Muslim Indonesia.

“Kami selaku perwakilan Laznas BMH mewakili masyarakat mengucapkan terima kasih banyak kepada donatur, khususnya kawan-kawan Komunitas Notaris Muslim Indonesia yang ikhlas membantu dalam program bantuan realisasi pipanisasi air bersih untuk saudara kita masyarakat mualaf suku tengger di Dusun Pusun Duwur,” tutup Imam Muslim.

Polisi: Tak Ada Bukti Pelaku Penusukan Terpapar Radikalisme

BANDARLAMPUNG(Jurnalislam.com) — Pihak kepolisian tidak menemukan bukti pelaku penusukan Syekh Ali Jaber terpapar paham radikalisme. Saat ini, polisi tengah mendalami kejiwaan pelaku.

“Saat ini polisi tengah melakukan pendalaman masalah kejiwaan pelaku penusukan Syekh Ali Jaber,” Kepala Bidang Humas Polda Lampung Kombes Zahwani Arsyad di Bandarlampung, Senin (14/9)

Zahwani mengatakan, untuk mendalami kejiwaan pelaku, polisi juga sudah mengundang dr Tendry Septa, spesialis kejiwaan dari RSJ Kurungan Nyawa serta tim ahli psikiatri dari Pusat Kedokteran dan Kesehatan Mabes Polri.

Terkait kemungkinan masalah radikalisme, pihaknya tidak menemukan dugaan yang mengarah ke sana, sebab saat dilakukan penggeledahan di kediaman pelaku, tidak didapat barang bukti yang bersinggungan dengan dugaan radikalisme.

“Untuk sementara dari hasil penggeledahan tadi malam, tidak ditemukan apa-apa di rumah tersangka, intinya seperti itu tidak ada barang-barang bukti yang mengarah kegiatan seperti itu (radikalisme), hanya menemukan pakaian pelaku saja,” ujar Zahwani.

Pascakejadian tersebut, ia menegaskan, pengamanan kegiatan kemasyarakatan akan lebih diperketat dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan. Ia juga mengimbau masyarakat jangan terprovokasi kejadian itu dan kewaspadaan tetap ditingkatkan.

“Kepolisian akan memproses pelaku sesuai proses hukum yang berlaku,” katanya.

Diketahui, pendakwah Syekh Ali Jaber mengalami insiden penusukan saat memberi ceramah di Bandar Lampung, Ahad (13/9). Melalui akun Youtube-nya, Syekh Ali Jaber, ulama yang lahir di Arab Saudi itu memberikan penjelasan soal insiden penusukan itu.

Saat menyampaikan klarifikasinya itu, Syekh Ali Jaber terlihat berada di sebuah ruangan rumah sakit. Dia memakai kaos oblong warna putih dan di tangan kanannya bajunya terlihat bersimbah darah.

Sumber: republika.co.id

Narasi Orang Gila

Oleh : Indra Martian*

Penusukan Syaikh Ali Jaber, saat acara tabligh akbar di masjid Falahuddin , Bandar Lampung menjadi perhatian dan sorotan publik bahkan kecaman mengalir deras dari para tokoh, alim ulama, dan masyarakat umum.

Din Syamsudin ketua dewan pembina majelis ulama Indonesia (MUI) , Ketua MPR Zulkifli Hasan, bahkan anggota DPR dari PKS Bukhori Yusuf mengatakan: “Kami harap, dalam waktu dekat, bisa segera merumuskan strategi yang lebih komprehensif untuk melindungi para tokoh agama,”

Penusukan dan penganiayaan Ulama, Ustadz dan tokoh Islam di Indonesia tidak hanya terjadi sekali, bahkan berkali-kali. KH Umar Basri di Ponpes al Hidayah Cicalengka Bandung, ustadz Prawoto, Ustadz Abdul Rachman di Masjid Depok, Ustadz Yazid Nasution imam masjid al Falah Pekanbaru dan yang terbaru Syaikh Ali Jaber.

Good Looking, Hafidz Qur’an Calon Radikal?

Yang menarik Penusukan Syaikh Ali Jaber terjadi setelah ramai statement menteri agama yang mengatakan bahwa calon terorisme dan gerakan radikal adalah orang yang mempunyai good looking dan hafidz al Qur’an, dan kita ketahui bersama bahwa Syaikh Ali Jaber adalah orang yang hapal al Qur’an dan mempunyai misi membumikan al Qur’an dan Juri disalah satu acara televisi untuk anak-anak penghapal al Qur’an. Ketua MPR Zulkifli Hasan mengatakan :

“Nah pelaku yg nusuk Syekh Ali Jaber ini pasti RADIKAL. Jangan justru curiga sama hafizh Al-Quran dan orang sholeh. Kasih tahu tuh yg ngomong radikal radikul kemarin…Thinking face”

Dimana kaitannya ? Entahlah …..terlalu pelik untuk dipikirkan !

Narasi Orang Gila

Yang mengherankan narasi pelaku penusukan dan penganiayaan terhadap ustad dan kyai semuanya di vonis gila dan mengalami gangguan jiwa, Terkait penusukan Syaikh Ali Jaber ini Zulkifli Hasan mengatakan :

“Saya meminta aparat untuk mengusut tuntas motif di balik penusukan ini. Sangat mungkin ini kejadian terencana dan rasanya tidak mungkin dilakukan orang gila/tidak waras”

Sejak kapan orang gila bisa melakukan rapat dan musyawarah untuk melakukan penyerangan terhadap ulama dan kyai?? Sehingga kita lihat polanya sama.

Dan sejak kapan orang gila punya akun instagram (IG) dan Facebook (FB) dan Update status ? Sungguh sangat mengherankan.

Kenapa vonis gila dan pelaku mengalami gangguan jiwa tidak juga disematkan kepada pelaku penusukan Wiranto menteri koordinator politik, hukum dan keamanan (Menkopolhukam), yang kemudian divonis teroris dan terlibat jaringan teroris ISIS ?

Apa karena pejabat negara yang begitu berharga sehingga pelaku penyerangan langsung di cap teroris? Sedangkan Ulama dan Kyai mungkin dianggap tidak terlalu berharga sehingga pelaku penyerangan kemudian di cap orang gila.
Seungguh sangat mengherankan…!!

Narasi orang gila sedang menghampiri dan menyapa kita semua, sebagaimana Abdul Rahim Loebis dalam Sajak Kepada Orang Gila

Hai orang waras
Yang tak sadar tingkah lakuknya sudah gila
Inilah sajak untuk orang gila
Jangan baca agar kau sadar tidak gila
Padahal sudah gila dalam segala-galanya
Gila memimpin dirinya
Gila memilih pemimpinnya
Akhirnya diri dan pemimpinnya gila semua
Gila dalam kewarasan
Gila di mata orang gila
Gila..gila..mengapa ada kata gila
Sehingga orang gila semuanya di jaman edan ini
Siapa yang tidak edan dianggap orang gila, kata Ronggowarsito
Yang gila sudah menganggap semua waras
Apakah itu tidak gila namanya?
(Dinukil dari buku Balada Wartawan – Sajak Pinggiran Untuk Siapa) karya A.R. Loebis (Abdul Rahim Loebis)

*Peneliti Center of Study for Islamic Leadership (CSIL) 

Hari Petama PSBB, Commuter Line Alami Penurunan Jumlah Penumpang

JAKARTA(Jurnalislam.com) – PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mencatat jumlah penumpang KRL Commuter Line mengalami penurunan pada Senin (14/9/2020) pagi.

Penurunan jumlah penumpang ini merupakan efek dari penerapan PSBB total di Jakarta mulai hari ini. VP Corporate Communications PT KCI, Anne Purba mengatakan, pada Senin pagi (14/9) ini situasi di sejumlah stasiun tampak sepi dibandingkan Senin pekan lalu.

Dari pantauan hingga pukul 08.00 WIB pagi ini pengguna KRL tercatat ada sebanyak 92.546 pengguna atau berkurang hingga 19% dibandingkan Senin, 7 September 2020 pekan lalu

yang mencapai 114.075 pengguna pada waktu yang sama. “Penurunan jumlah pengguna tercatat di hampir seluruh stasiun KRL.

Di Stasiun Bogor misalnya, jumlah pengguna hingga pukul 08.00 WIB tercatat 6.920 penguna (turun 17% dibanding Senin pekan lalu pada waktu yang sama).

Di Stasiun Bojonggede tercatat 6.899 pengguna (turun 4%), Stasiun Citayam terdapat 6.590 pengguna (turun 18%), dan di Stasiun Bekasi tercatat 5.224 pengguna (turun 25%),” kata Anne kepada wartawan, Senin (14/9/2020).

Anne menambahkan, salah satu penerapan protokol kesehatan yang ketat saat naik KRL yaitu dengan menggunakan masker. PT KCI mengajak pengguna senantiasa memakai masker dengan benar yaitu menutupi hidung dan mulut secara sempurna. Untuk kesehatan bersama, sangat dianjurkan menggunakan masker yang efektifitasnya mencukupi dalam mengurangi droplet atau cairan. Gunakan setidaknya masker kain yang terdiri dari minimal dua lapisan. Hindari penggunaan jenis scuba maupun hanya menggunakan buff atau kain untuk menutupi mulut dan hidung.

Sumber: sindonews.com

Syaikh Ali Jaber: Pelaku Penusukan Terlatih, Tak Cerminkan Gangguan Jiwa

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Pendakwah Syaikh Ali Jaber menyatakan, pelaku penusuk dirinya bukan seorang yang memiliki gangguan jiwa pada saat kejadian penusukan di halaman Masjid Falahuddin, Bandar Lampung, Ahad (13/9). Menurut dia, pelaku penusuknya sangat berani dan terlatih.

“Kekuatan dan keberaniannya, mohon maaf, dia bukan orang yang gangguan jiwa, dia sangat sadar dan sangat berani bahkan sangat terlatih. Kalau kata terlatih, berarti ada orang di belakang, siapa? Wallahua’lam,” kata Syekh Ali Jaber dalam konferensi persnya di sebuah restoran di Kota Bandar Lampung, Senin (14/9).

Menurut dia, setelah mengetahui pelaku seorang pemberani dan terlatih, biarkan proses hukum berjalan. Dia berharap aparat kepolisian menjalankan tugasnya secara amanah, jujur, dan kepercayaan kepada polisit sangat luar biasa mudah-mudahan tidak disalahgunakan.

Dia mengatakan, kejadian ini dapat diproses secara hukum di negeri ini bukan hanya karena dia pribadi, tapi untuk seluruh ulama, dai, habib di negeri Indonesia, supaya tidak lagi orang yang menjadi sasaran kepada mereka dan agama. “Mohon maaf, kejadian serupa ini selama ini ulama kita terlalu ikhlas, karena ini musibah sudahlah ikhlaskan,” ujarnya.

Menurut Syekh Ali Jaber, ikhlas ada waktunya, ikhlas ada poin-poinnya, jika terlalu ikhlas maka ada orang-orang yang akan memanfaatkan kejadian seperti ini terus menerus, dan mereka menganggap umat Islam dan ulama lemah, dan menganggapi tidak bisa apa-apa.

“Insya Allah, kita semua bisa melawan semua kebatilan. Tapi, kita tidak mau diadu domba, tidak mau terjadi fitnah, tidak mau terpublikasi. Makanya sebelum terjadi hal-hal tidak diinginkan. Mohon aparat polisi ditindaklanjuti dengan sebaik-baiknya, agar bisa menenangkan masyarakat, agar tidak terulang lagi kejadian ini,” kata Ali Jaber.

Sumber: republika.co.id

Pemprov DKI Minta Hotel Siapkan Layanan Isolasi Mandiri

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Pemprov DKI Jakarta meminta pengelola gedung perhotelan untuk menyiapkan kamar isolasi bagi pasien positif Covid-19. Pasien positif Covid-19 di Jakarta dilarang melakukan isolasi mandiri di lingkungan rumah.

Perintah ini tertuang dalam Pasal 10 Peraturan Gubernur Nomor 88/2020 terkait perubahan Pergub Nomor 33 tahun 2020 tentang Pelaksanaan PSBB dalam Penanganan Covid-19 di DKI Jakarta.

“Menyediakan layanan khusus bagi tamu yang ingin melakukan isolasi terkendali,” seperti yang dikutip dalam Pergub itu, Senin (14/9/2020).

Selain itu, dalam Pergub tersebut juga meminta agar pengelola hotel tidak sembarangan memberi akses pada tamu.

Membatasi tamu hanya dapat beraktivitas dalam kamar hotel dengan memanfaatkan layanan kamar (room service). Termasuk meniadakan aktivitas dan atau menutup fasilitas layanan hotel yang dapat menciptakan kerumunan orang dalam area hotel.

Kemudian, bagi tamu yang menunjukan gejala-gejala terjangkit wabah Covid-19 diminta untuk tidak menginap di hotel karena berisiko besar terjadi penularan.

“Melarang tamu yang sakit atau menunjukan suhu tubuh diatas normal, batuk, pilek, diare dan sesak napas untuk masuk hotel,” bunyi kutipan Pergub tersebut.

Diketahui sebelumnya, isolasi mandiri yang dilakukan selama PSBB belakangan ini justru menimbulkan kluster penyebaran Covid-19 di lingkungan keluarga. Untuk itu, pada PSBB ketat yang berlaku saat ini, pasien positif Covid-19 di Jakarta tidak boleh melakukan isolasi mandiri di lingkungan rumah.

Sumber: sindonews.com

Jokowi Akui Angka Kematian Covid-19 Indonesia Lebih Tinggi

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Presiden Joko Widodo mengakui angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia masih lebih tinggi dari rata-rata dunia.

Hal itu disebabkan oleh empat provinsi yang menyumbangkan kasus kematian cukup besar yakni berada di atas 6 persen.

Hal tersebut dikatakan Jokowi dalam rapat terbatas tentang “Laporan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional” di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (14/9/2020).

“Kalau kita lihat detail tingkat kematian tinggi tersebut disebabkan karena ada empat provinsi yang memiliki tingkat kematian di atas 6 persen,” tandasnya.

Adapun empat provinsi dengan tingkat kematian di atas 6 persen tersebut antara lain Bengkulu, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Pemerintah pusat terus memberikan dukungan supaya bisa menurunkan tingkat kematian di sana.

“Jadi, data ini perlu detail sehingga informasikan kepada provinsi tersebut dan kemudian kita pemerintah pusat memberikan dukungan penuh di sana, sehingga bisa menurunkan tingkat kematian,” paparnya.

sumber: sindonews.com

Ikatan Sarjana NU Kutuk Penyerangan Syaikh Ali Jaber

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa mengutuk penusukan terhadap Syekh Ali Jaber yang sedang berdakwah di Lampung, kemarin.

Aparat penegak hukum harus mengusut dan memprosesnya secara tuntas menurut hukum yang berlaku.

“Memang akhir-akhir ini kekerasan dalam dakwah banyak dialami oleh juru dakwah, baik dilakukan oleh sesama agamanya atau antaragama lain. Untuk itu, aparat hukum mengusut tuntas motivasi dan dalang penusukan dalam kehidupan berdakwah, khususnya yang terjadi di Lampung. Kekerasan terhadap juru dakwah harus dihindari,” ujar Cak Ali, sapaan Ali Masykur Musa, dalam rilisnya, Senin (14/9/2020).

Cak Ali mengatakan, di Indonesia, dakwah untuk amar ma’ruf nahi munkar adalah dibolehkan, bahkan menurut Islam sungguh sangat dianjurkan. Untuk itu, ISNU meminta agar negara memfasilitasi kegiatan dakwah dengan cara menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban sosial.

“Social order adalah syarat mutlak agar kehidupan sosial bisa berjalan tertib dan damai, bahkan kehidupan antar umat beragama bisa berjalan damai dan saling menghormati,” kata Cak Ali seraya meminta agar aparat penegak hukum menjaga keamanan dan ketertiban sosial di negara Indonesia yang demokratis dan menjunjung tinggi nilai moralitas dan agama.

Sumber: sindonews.com

Polisi: Berhalusinasi, Pelaku Spontan Tusuk Syaikh Ali Jaber

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Pelaku penusukan terhadap  Syaikh Ali Jaber, Alpin Adrian, telah ditetapkan sebagai tersangka kasus penganiayaan berat oleh kepolisian.

 

Namun, Alpin mengaku menusuk Syekh Ali Jaber di Lampung pada Minggu malam, 13 September 2020, tidak direncanakan.

 

“Kalau dari hasil pemeriksaan, dia (pelaku) spontan (menusuk Syekh Ali Jaber),” kata Kepala Satuan Reskrim Polres Kota Bandar Lampung, Kompol Rezky Maulana, saat dihubungi wartawan pada Senin, 14 September 2020.

Menurut Rezky, pelaku tidak tahu kalau ada kedatangan Syekh Ali Jaber karena dekat rumahnya. Selain itu, pelaku juga halusinasi pernah didatangi oleh Syekh Ali Jaber setahun lalu lantaran sering mengikuti melalui media sosial YouTube.

“Begitu mendengar dari masjid ada yang mendengar Ali Jaber, nah enggak lama dari situ dia ke dapur ambil pisau menuju ke tempat itu. Jadi secara spontan pada saat itu, tapi masih kita dalami nih. Sementara pengakuannya seperti itu,” ujarnya.

Di samping itu, Rezky mengatakan pelaku Alpin ini bukan bagian dari jemaah kajian yang diisi oleh Syekh Ali Jaber. Akan tetapi, pelaku memang langsung datang ke lokasi kejadian untuk menusuk Syekh Ali Jaber.

“Langsung datang, dia baju kaus biru. Kalau jadi peserta kan bajunya muslim. Tapi dia datang menggunakan kaus dari rumah jalan kaki langsung ke tempat itu,” jelas dia.

Sebelumnya diberitakan, Kepala Bidang Humas Polda Lampung Kombes Zahwani Pandra Arsyad membenarkan adanya penusukan terhadap Syekh Ali Jaber di wilayahnya. Saat itu, Ali Jaber tengah memberikan tausiah di Masjid Falahuddin. Menurut dia, acara yang dihadiri Ali Jaber dimulai pukul 16.00-18.00 WIB.

“Namun baru 15 menit pertama, dan sedang interaksi dengan jamaah tiba-tiba ada seorang laki-laki tidak dikenal langsung menghampiri dari sebelah kanan dan menusuk. Dengan itu maka terjadilah refleks yang tinggi dan melakukan tangkisan tapi kena lengan sebelah kanan,” ujar Pandra saat dihubungi wartawan, Minggu, 13 September 2020.

Pandra menambahkan, peristiwa penusukan itu persisnya terjadi pukul 17.15 WIB. Pasca kejadian, petugas yang ada di lokasi, panitia dan jemaah membawa Ali Jaber ke puskesmas terdekat.

“Sekarang kondisi Syekh sudah kembali pulih, artinya ada bekas luka lah bekas tusukan itu. Jadi barang buktinya saat ini masih dilakukan penyelidikan oleh Satreskrim Polres Bandar Lampung dan saat ini kondisi Syekh sudah sehat wal’afiat dan sedang istirahat,” ucap dia.

Sumber: sindonews.com

 

Bela Anies soal PSBB, Doni Monardo Enggan Media Beritakan Polemik

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Membela Anies, Ketua Satgas Penanganan COVID-19 sekaligus Ketua BNPB Doni Monardo membantah jika ada polemik dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terkait penanganan COVID-19.

Doni mengatakan Anies tak pernah menyebut PSBB total untuk wilayah DKI Jakarta.

“Saya selalu berkonsultasi, saya berkomunikasi terus dengan Pak Anies. Pak Anies juga sering menghubungi saya jadi tidak ada yang polemik tuh tidak ada ya. Saya juga mohon bantuan nih kepada teman-teman semua nih terutama kawan media, Pak Anies itu tidak pernah menyebutkan PSBB total, saya ulangi lagi, saya ikuti perkembangannya Pak Anies tidak pernah menyebutkan PSBB total,” kata Doni dalam siaran langsung di kanal YouTube BNPB, Minggu (13/9/2020).

Doni mengatakan implementasi PSBB hanya ada dua istilah, yakni diperketat atau dilonggarkan. Terkait kebijakan, konsep pemerintah pusat pun memiki tahap pra kondisi dengan simulasi.

“PSBB ya PSBB. Implementasinya ada yang diperketat, ada yang dilonggarkan kan cuman begitu. Kemudian dalam konsep satgas atau gugus tugas sebelumnya bahwa semua kebijakan itu ada tahapannya ada pra kondisi antara lain itu ada simulasi,” ujarnya.

Doni mencontohkan simulasi itu bisa dilakukan dalam pembukaan bioskop. Namun, kata Doni, hal itu tidak mungkin dilakukan saat ini mengingat grafik angka konfirmasi positif virus Corona di DKI tinggi.

“Jadi kalau ada bioskop yang dibuka ya, perlu dimulai, perlu ada sosialisasi kan, ternyata kan sekarang tidak mungkin ya, bioskop dibuka, tidak mungkin kasusnya lagi tinggi,” imbuh Doni.

Selain itu, dalam pra kondisi juga harus ditentukan waktu yang tepat. Berikut dengan bidang yang menjadi prioritas pertama ketika dibuka.

“Kedua adalah timing, kapan waktunya. Yang ketiga adalah prioritas bidang apa yang menjadi prioritas yang harus dibuka,” tuturnya.

Sumber: detik.com