Bimas Islam Kemenag Gelar Rakor, Bahas Program Prioritas

LAMPUNG(Jurnalislam.com)— Kementerian Agama menggelar sejumlah kegiatan bersamaan dengan helat Muktamar NU ke 34 di Kota Lampung, Provinsi Lampung.

Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama misalnya, menggelar Rapat Koordinasi Program Bimbingan Masyarakat Islam bersama jajaran keluarga besar Kanwil Kemenag Lampung.

Ragam kegiatan Kemenag di Lampung ini sebelumnya mendapat izin dari Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai bentuk penghargaan terhadap ormas keagamaan Islam Nahdlatul Ulama yang tengah menggelar Muktamar ke-34.

Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin mengatakan Rakor Program Bimbingan Masyarakat Islam bersama jajaran Kanwil Kemenag Lampung ini untuk meneguhkan kembali program prioritas Bimas Islam serta mewujudkan ASN sebagai pelayan publik yang bermutu dan berkualitas.

“Tugas besar Bimas Islam adalah bagaimana memberikan pelayanan kepada masyarakat, meningkatkan kualitas kehidupan beragama di Indonesia. Itu adalah tusi kita. Meningkatkan kualitas kehidupan beragama, kesalehan umat beragama, kerukunan umat beragama dan itu adalah cita-cita bersama. Amanah itu ada di pundak Kementerian Agama khususnya bimas Islam,” kata Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin di Lampung, Kamis (23/12/2021).

Rakor Program Bimas Islam yang berlangsung 22-24 Desember 2021 ini juga dihadiri para Direktur di lingkungan Ditjen Bimas Islam, ASN Kanwil Kemenag Lampung, para penyuluh dan KUA se Provinsi Lampung.

Menurut Kamaruddin Amin, untuk mencapai itu, tentu banyak hal yang harus dilakukan, banyak program yang harus dijalankan dan aktivitas yang harus dieksekusi oleh jajaran Bimas Islam.

Selain itu, lanjutnya, sebagai abdi negara, ASN Kemenag harus memastikan umat menjadi umat yang saleh, taat, dan religius.

“Itu sebabnya salah satu program prioritas Kemenag yang merupakan turunan dari RPJMN adalah Moderasi Beragama,” ujarnya.

“Jadi ini adalah salah satu program prioritas kita. Dan sebagai ASN, khususnya di Bimas Islam, harus paham dan bisa menjelaskan tentang Moderasi Beragama sehingga bisa memahamkan orang lain, dengan bersikap dan berperilaku moderat serta bisa mentransformasi umat menjadi masyarakat yang moderat, ” sambung Kamaruddin.

Ia menambahkan moderat dalam konteks Indonesia salah satu hal yang sangat penting atau menjadi prasyarat untuk kesalehan dan kerukunan umat beragama di Indonesia.

“Saya ingin berpesan mari kita menjadi pelayanan publik yang bermutu dan berkualitas. Sebelum memberikan pelayanan publik yang berkualitas kita sendiri harus berkualitas dulu dengan cara tidak berhenti belajar dari literatur, buku-buku dan dari masyarakat serta dinamika yang terjadi,” ujar Kamaruddin Amin.

“Kalau diri kita sudah berkualitas dan bermutu yang didukung oleh sistem dan prasarana, insya Allah, KUA kita akan menjadi kantor layanan publik yang bermutu yang  dibutuhkan oleh masyarakat serta bisa mencerahkan masyarakat sehingga tujuan mulia menciptakan masyarakat yang religius, soleh, rukun akan terwujud,” tutupnya.

Omicron Menjadi Pemicu Gelombang Baru

Oleh : Tsabilla Noer
Setelah 2 tahun lebih, seluruh dunia dilanda virus yang mematikan, yang bahkan seluruh dunia masih belum aman dengan virus yang menyebar dengan cepat ini. Virus yang berada pertama kali di China ini, membuat semua sistem di seluruh dunia menjadi berubah.
Seperti sekolah yang tatap muka, menjadi kelas daring, banyaknya orang yang di PHK, sulitnya mencari pekerjaan karena banyak pedagang yang gulung tikar, hingga jarangnya bertemu satu sama lain.
Bahkan hingga sekarang dunia masih belum benar-benar aman dengan virus ini. Walaupun sedikit mereda. Tapi semua orang tetap merasa waspada karena virus ini belum menghilang secara total.
Dan setelah mulai mereda, virus corona atau covid-19. Di berbagai belahan dunia ini ternyata bermutasi dengan virus baru.
Yang dimana ada varian pertama yaitu varian delta, varian ini terjadi pertama kali di India, dan menjadi gelombang kedua di India setelah di landa virus Corona sebelumnya.
Gejala yang ditimbulkannya yaitu sakit kelapa, sakit tenggorokan, pilek atau demam. Dan bahkan di Indonesia sudah terdapat 398 kasus orang yang terkena varian delta ini (per 04/07/2021). Yang dimana varian delta ini masuk ke Indonesia pada 03 Mei 2021.
Dan pada Juni 2021, Varian delta ini bisa di atasi dengan melakukan Vaksinasi, setelah melakukan dua dosis Vaksin, yaitu Vaksin Pfizer-BioNTech dan Oxford-AstraZeneca.
Setelah Varian delta, Virus yang bermutasi dari Virus Corona yang pertama ini sudah bisa ditangani dengan dua dosis Vaksin yang berbeda.
Muncul Varian mutasi baru dari Virus Corona yang terjadi saat ini. Varian ini disebut dengan Varian Omicron. Dimana Varian Omicron ini muncul pertama kali, di Afrika Selatan. Lalu terjadi di Hongkong, dan terjadi juga di Belgia.
Dimana pada tanggal 24 November 2021, Varian Omicron ini pertama kali di temukan di Afrika Selatan, dan segera di laporkan ke WHO. Hingga saat ini pun diketahui bahwa Varian Omicron menyebar ke berbagai belahan dunia dengan sangat cepat.
Varian Omicron ini sudah masuk ke Indonesia, kasus yang pertama kali ditemukan berada di wisma atlet, dimana ada seorang pekerja kebersihan wisma atlet, yang terjangkit Varian Omicron.
Setelah kasus yang pertama oleh pekerja kebersihan, terjadi kasus ke dua dimana ada dua orang yang terjangkit, dan kedua orang yang terjangkit tersebut mempunyai riwayat pernah ke luar negeri yakni ke Amerika Selatan dan Inggris.
Adapun gejala yang diderita para pasien yang terjangkit Varian Omicron ini terbilang cukup ringan dibandingkan dengan Varian delta yang sebelumnya, seperti yang dikutip dari health.detik.com menurut kepala asosiasi medis Afsel,  dokter Angelique Coetzee, ia menyebut gejala Varian Omicron mirip dengan gejala pilek atau flu, yaitu sakit kepala, nyeri tubuh, dan tenggorokan gatal.
Dan menurut pusat pencegahan dan pengendalian penyakit Amerika serikat (CDC) mengatakan beberapa gejala umum yang terdeteksi yaitu batuk kering, letih, hidung tersumbat, demam, mual, napas pendek atau kesulitan bernapas, dan diare.
Dengan cepatnya dalam menularkan Varian Omicron ini dari orang ke orang yang lain, dapat memungkinkan adanya gelombang baru yang terjadi, apalagi terdapat banyaknya negara yang sudah terjangkit.
Dan dalam hal ini Ketika sebuah negara tidak melakukan lockdown, untuk menutup rantai penyebaran. Maka tidak akan cepat hilangnya sebuah Virus di suatu wilayah.
Padahal dulu, pada zaman Rasulullah Saw. Pernah terjadi suatu wabah di suatu wilayah, dan Rasulullah  Memerintahkan untuk mendirikan tembok di sekitar daerah yang terjangkit oleh wabah, agar tidak tersebar luas.
 Seperti dalam Hadist, Rasulullah Saw. Bersabda
“Jika kalian mendengarkan wabah di suatu negeri, maka jangan memasuki tempat itu, tapi jika terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka jangan keluar darinya” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dalam hal ini, Islam mengatur dengan benar tentang suatu wabah agar tidak terjadi terus-menerus seperti saat ini.
Ketika dilockdown pun, negara Islam akan menjamin kebutuhan warganya dengan gratis. Dan Islam menangani orang sakit yang terpapar virus agar tidak menulari orang yang sehat yakni dengan memisahkan keduanya.
Yaitu dengan cara mengisolasi orang yang terjangkit wabah, di tempat khusus yang jauh dari pemukiman penduduk. Dan orang yang terkena wabah akan diperiksa dengan teratur, dan melakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat dan para penderita yang terjangkit wabah baru bisa keluar dari ruang isolasi ketika dinyatakan sudah sembuh total.
Dan meski demikian, orang-orang yang terjangkit oleh wabah akan ditangani dengan pelayanan terbaik oleh negara Islam secara gratis tanpa biaya sepeserpun.
Begitulah ketika aturan Islam diterapkan dalam suatu negara, maka suatu masalah tentang wabah akan terselesaikan. Karena semua ini didukung oleh prinsip Islam dalam menjaga nyawa rakyatnya.
Bukan sistem kapitalisme yang didorong oleh prinsip untuk menjaga eksistensi ekonomi para kapital yang hanya melihat sesuatu hanya karena uang.
Tsabilla Noer, Penulis opini dan cerpen, Penggiat Komunitas Remaja move on Karawang

Bangun Ekosistem Pendidikan yang Lebih Baik, Paragon Gelar Inspiring Lecturer Conference

Paragon Technology and Innovation, perusahaan kosmetik nasional terbesar di Indonesia, mengadakan Inspiring Lecturer Conference bersama 868 Dosen se-Indonesia 

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Dalam rangka membangun ekosistem pendidikan yang lebih baik, Paragon Technology and Innovation (Paragon) mengadakan acara bertajuk Inspiring Lecturer Conference (ILC) dalam rangkaian acara Festival Penggerak Kebaikan. Acara ini dihadiri oleh 868 dosen se-Indonesia dari berbagai disiplin ilmu. Dalam acara ini, para dosen mendapatkan pelatihan neuro-linguistic programming (NLP) dengan topik

“Membangun Komunikasi yang Baik dan Bermakna dengan Mahasiswa” yang disampaikan oleh Hingdranata Nikolay (Licensed Master Trainer of NLP pertama di Asia Tenggara dan CEO Inspirasi Indonesia). Lewat pelatihan NLP, para dosen diajarkan untuk dapat meningkatkatkan kapasitas dalam mengajar khususnya dalam hal berkomunikasi dengan mahasiswa. Adapun hal ini dilakukan karena para dosen merupakan penggerak yang memiliki tugas untuk mempersiapkan generasi muda bangsa.

 

Acara Inspiring Lecturer Conference turut dihadiri oleh Miftahuddin Amin (EVP and Chief Administration Officer Paragon) dan dr. Laila Isrona, M.Sc. (Dosen Universitas Andalas dan Alumni Inspiring Lecturer Program). Dalam sambutannya, dr. Laila menyampaikan pentingnya meningkatkan kapasitas diri untuk para dosen.

“Mahasiswa saat ini sudah bukan mahasiswa zaman dahulu. Kalau kita tidak tahu cara menghadapi mereka, kita tidak bisa berhadapan dengan mahasiswa dengan baik. Penting bagi dosen untuk upgrade kapasitas diri, baik dari sisi keilmuan maupun cara mengajar. Dari Inspiring Lecturer Program, kita tidak hanya belajar mengenai keilmuan kita, namun juga bagaimana mengajarkan keilmuan tersebut kepada mahasiswa. Itulah alasan saya ikut acara Inspiring Lecturer Program”.

 

Paragon berharap dapat menjadi penyemangat untuk para dosen serta mengembangkan ekosistem pendidikan yang lebih baik melalui penyelenggaraan Inspiring Lecturer Conference. “Harapan Paragon dengan berpartisipasinya para dosen dalam acara ILC, para dosen dapat menjadi pioneer untuk mengembangkan inisiatif yang bisa membangun ekosistem pendidikan yang lebih baik lagi. Merupakan kewajiban moral bagi kita para pendidik dan dosen untuk menyebarkan kepada mahasiswa dan dosen lain bahwa peran kita adalah penggerak, terutama di institusi masing-masing” ujar Miftahuddin Amin.

 

Festival Penggerak Kebaikan dilaksanakan pada Sabtu, 18 Desember 2021 dengan membawa tema “Muda, Bergerak, Berdampak”. Acara ini diselenggarakan sebagai bentuk apresiasi kepada masyarakat dan seluruh stakeholder yang telah turut membawa kebermanfaatan di tengah masyarakat. Adapun rangkaian acara Festival Penggerak Kebaikan meliputi Inspiring Lecturer Conference, Eduleads Gathering, Muda Bergerak Berdampak Talks, Sosialisasi Paragon Internship Program, Open Collaboration with Paragon, Paragon Coach Community Launching, serta Wardah Inspiring Teacher Conference.

 

Muktamar IV Wahdah Islamiyah Hasilkan Rekomendasi, Mulai dari Isu Palestina hingga Presidential Threshold

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Muktamar IV Wahdah Islamiyah baru saja berakhir. Forum yang  digelar full virtual ini menghasilkan beberapa keputusan di berbagai bidang seperti pendidikan, sosial, dakwah, keluarga, maupun ekonomi.
Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ustaz Muhammad Zaitun Rasmin mengatakan pada bidang ekonomi diluncurkan toko digital WI Niaga. WI Niaga diluncurkan untuk mempermudah umat dalam bermuamalah.
“WI Niaga ini merupakan marketplace pertama yang dimiliki ormas,” kata Ustaz Zaitun saat konferensi pers secara virtual, Kamis (23/12/2021).
Selain itu, diluncurkan pula program ‘Satu Rumah Satu Pengusaha’. Program ini, jelas Ustaz Zaitun, langsung diresmikan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno.
Kemudian, Muktamar IV Wahdah Islamiyah menghasilkan rekomendasi ekternal. Pertama tentang presidential threshold (PT) atau ambang batas pencalonan presiden 20 persen.
“Rekomendasinya meminta pemerintah dan DPR mengoreksi PT 20% dikembalikan menjadi 0% agar memberikan peluang calon-calon pemimpin untuk ikut berkontribusi,” ujar Ustaz Zaitun.
Hal tersebut, kata Ustaz Zaitun, juga demi terciptanya iklim perpolitikan yang lebih baik. Menurutnya, PT 20% ini tidak sejalan dengan prinsip demokrasi, dan para pakar menyatakan ini tidak perlu dipertahankan karena sudah tidak rasional.
“Mudah-mudahan dengan rekomendasi itu bisa direspon demi kemaslahatan bangsa,” harap Ustaz Zaitun yang kembali terpilih pada forum Muktamar IV sebagai Ketua Umum Wahdah Islamiyah periode 2021-2026.
Rekomendasi kedua meminta pemerintah menyelesaikan masalah karantina. Ustaz Zaitun mengatakan banyak kasus pendatang dari luar negeri belum teratasi masalah karantina.
“Ini harus diselesaikan sesuai protokol kesehatan, dan tidak boleh ada ketidakadilan seperti kasus pejabat yang boleh karantina di rumah. Sementara TKI yang baru pulang harus melakukan karantina dengan biaya mahal,” ungkap dia.
Rekomendasi ketiga tentang dukungan untuk Palestina dan Al Aqsha yang merdeka serta mendukung dan mendorong pemerintah Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar agar berperan aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
Kemudian rekomendasi keempat mendorong dan meminta pemerintah untuk mengoreksi Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS) secara mendasar karena bertentangan dengan Agama, Pancasila dan budaya di Indonesia.
Untuk diketahui, Muktamar IV Wahdah Islamiyah digelar pada 19-22 Desember 2021. Grand Opening Muktamar dihadiri oleh 130 ribu peserta secara virtual. Muktamar dibuka oleh Wakil Presiden Maruf Amin dan hadir pula sejumlah pejabat seperti Menko Polhukam Mahfud MD, Menparekraf Sandiaga Uno, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, dan lain sebagainya.*

KH Zaitun Rasmin Kembali Pimpin Wahdah Islamiyah

MAKASSAR(Jurnalislam.com)–DR KH Muhammad Zaitun Rasmin kembali menahkodai Wahdah Islamiyah periode 2021-2026 setelah terpilih dan ditetapkan melalui Muktamar IV Wahdah Islamiyah yang penutupan acaranya telah dilaksanakan, Rabu (22/12/2021).
“Alhamdulillah, beliau kembali yang diamanahkan untuk memimpin Wahdah Islamiyah,” kata Ketua Pengarah Muktamar IV Wahdah Islamiyah, Ustaz Syaibani Mujiono.
Dia menyampaikan, struktur kepengurusan yang dihasilkan dalam pelaksanaan muktamar kali ini tidak mengalami perubahan.
Selain Ustaz Zaitun, Sekjen DPP kembali dijabat Ustaz Syaibani Mujiono, Ustaz Muhammad Ikhwan Jalil sebagai Ketua Dewan Syuro, Ustaz Yusran Anshar sebagai Ketua Dewan Syariah, dan Ustaz Rahmat Abdul Rahman sebagai Ketua Harian, dan Profesor Abdul Hamid Habbe sebagai Ketua Dewan Pengawas.
Dengan berakhirnya muktamar tersebut, Ustaz Syaibani pun berpesan agar program dakwah kembali digiatkan dan ditingkatkan.
“Harapan kita bersama adalah mari kembali menggiatkan dan meningkatkan program dakwah. Kemudian, khusus untuk bidang keluarga, sebagaimana pesan dari pimpinan umum, ada tiga M, yakni madrasah, ma’wa dan markaz,” ujarnya.
Ustaz Syaibani menjelaskan, Pimpinan Umum Wahdah Islamiyah berharap agar para pengurus, kader, bahkan simpatisan dan keluarga ummat Islam pada umumnya agar betul-betul memperhatikan keluarga dan rumah tangga mereka, yang berkaitan dengan ma’wa. Kemudian, keluarga sebagai madrasah agar supaya keluarga menjadi pendidikan bagi anggota keluarga. Yang terakhir adalah markaz. Menjadikan keluarga sebagai lingkungan dakwah atau markaz dakwah, utamanya dalam melahirkan generasi Islam yang cemerlang.
“Itu harapan terbesar dari pimpinan umum yang semoga atas izin Allah Subhanahu wa Ta’ala mampu kita wujudkan bersama. Aamiin,” terang Ustaz Syaibani.*

Aliansi Umat Islam Karanganyar Minta Pelaku Penarikan Jilbab Dijerat Pasal Penodaan Agama

KARANGANYAR (Jurnalislam.com) – Ratusan umat Islam di Karanganyar pada Jum’at (24/12/2021) turun ke jalan menuntut aparat agar segera memproses hukum pelaku penarikan paksa jilbab seorang muslimah pegawai KSPPS BMT Alfa Dinar.

Aksi yang sedianya dilakukan di depan Mapolres Karanganyar akhirnya urung dilakukan dikarenakan aparat memblokade akses menuju lokasi aksi. Massa pun kemudian melakukan aksi konvoi menuju salah satu toko milik pelaku dan dilanjutkan menuju kantor DPD Golkar Karanganyar.

Setelah membentangkan beberapa spanduk dan poster berisi desakan kepada aparat untuk memproses pelaku, massa pun menuju Alun-alun Karanganyar untuk membacakan pernyataan sikap dari Aliansi Umat Islam Karanganyar (AUIK).

“Meminta kepada pihak resort Karanganyar untuk menjerat pelaku penarikan jilbab secara paksa muslimah di Karanganyar dengan pasal 156a KUHP tentang penodaan agama dan tetap mendukung diterapkannya pasal 335 KUHP tentang ancaman,” kata Sekjend AUIK Setyawan.

“Melanjutkan proses hukum pelaku sampai dengan persidangan,” imbuhnya.

Ia juga meminta pihak aparat untuk bisa bersikap adil dalam mengangani kasus tersebut.

“Kepada pihak resort Karanganyar untuk segera melengkapi berkas penyidikan dengan nenghadirkan beberapa saksi ahli, baik saksi ahli agama MUI Karanganyar, saksi ahli pidana maupun saksi ahli lain yang berkompeten,” ungkapnya.

“Meminta kepada pihak resort Karanganyar untuk adil dan bijak dalam melakukan penegakan hukum terhadap kasus ini,” pungkas Setyawan.

Sebelumnya, Wakapolres Karanganyar, Kompol Purbo Adjar Waskito berjanji akan memproses hukum pelaku sesuai dengan hukum yang berlaku. Menurutnya, saat ini pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Mapolres Karanganyar

“Polisi profesional. Tanpa ada permintaan dari rekan-rekan ini proses hukum terhadap pelaku tetap berjalan sesuai dengan ketentuan,” ujarnya.

Reporter: Riyanto

Sejumlah Relawan Hibur Anak-anak Korban Erupsi Semeru di Dusun Kebondeli Selatan

LUMAJANG (Jurnalislam.com) – Sejumlah organisasi kemanusian mengadakan giat Trauma Healing di Di Dusun Kebondeli Selatan Desa Sumber Wuluh RT 3 RW 7 & Dusun Kampung Baru Desa Sumber Wuluh, Kabupaten Lumajang, Kamis (23/12/2021). Daerah ini terdampak termasuk daerah yang langsung oleh banjir lahar dingin erupsi Gunung Semeru 4 desember lalu, tentunya menyisakan trauma terutama bagi anak-anak.

Relawan dari Forum Me-DAN Indonesia, YANMAS Ansharu Syari’ah, Kampung Dongeng Indonesia, Maqdis Bandung, dan ECR mendatangi kampung mereka memberikan edukasi yang dibalut dengan hiburan.

Anak-anak nampak antusias dengan kegiatan ini, mereka senang dan ceria ketika melihat kakak-kakak dari Kampung Dongeng Indonesia memulai dongengnya dengan menggunakan boneka. Tidak terlihat kekhawatiran dari wajah mereka, seakan lupa akan musibah yang menimpa mereka beberapa hari kebelakang.

Sejumlah Relawan menghibur anak-anak di Kampung Kebondeli Selatan, Lumajang, Kamis (23/12/2021)

Tidak hanya dongeng yang disuguhkan kepada anak-anak, tetapi juga para relawan dari Maqdis Bandung mengenalkan kepada mereka tentang huruf hijaiyah dengan metode bermain.

Kepala Dusun Kebondeli Pak Marzuki mengungkapkan kebahagiaannya dengan kedatangan para relawan ke dusunnya, beliau juga berterimakasih kepada tim karena telah menghibur warganya.

“Kami ucapkan jazakumullah Khairan katsiran terima kasih banyak kepada para donatur para relawan yang telah menyempatkan waktunya berkunjung ke desa kami ke tempat kami,” tuturnya.

Acara ditutup dengan pembagian bingkisan untuk anak-anak dari Forum Me-DAN Indonesia.

Reporter: Rifqi

MUI Harap Kepengurusan Baru PBNU Perkuat Persatuan Umat

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Anwar Abbas menyampaikan apresiasinya terhadap terpilihnya pimpinan PBNU. Dia berharap, NU dapat lebih memperkuat kesatuan dan persatuan umat.

“Saya menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya bapak Kiai Miftahul Akhyar sebagai rais am PBNU dan Gus Yahya sebagai Ketum PBNU. Dengan harapan semoga kehadiran beliau berdua dalam puncak kepemimpinan NU akan bisa memperkuat  persatuan dan kesatuan kita di kalangan umat, ” kata Buya Anwar dalam rilis yang diterima Republika, Jumat (24/12).

Selain itu dia berharap, para pimpinan NU dapat menjaga kesatuan dan persatuan di kalangan warga bangsa sehingga diharapkan kontribusi NU dan umat Islam dalam memajukan bangsa dan negara akan semakin lebih meningkat lagi secara signifikan.

Hal itu, kata dia, agar negeri ini dapat menjadi negara yang maju, adil, dan makmur. Di mana rakyatnya dapat hidup dalam suasana kebersamaan yang tinggi serta  bahagia, religius dan tunduk serta patuh  kepada konstitusi.

Sebagaimana diketahui, Mantan juru bicara presiden KH Abdurahman Wahid (Gus Dur), KH Yahya Cholil Staquf, resmi terpilih sebagai ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021-2026 dalam Sidang Pleno V Muktamar ke-34 NU di Gedung Serbaguna Universitas Lampung (Unila), Bandar Lampung, Jumat (24/12) pagi.

Dalam Muktamar ke-34 NU, mekanisme pemilihan ketua umum PBNU menggunakan mekanisme voting atau pemungutan suara. Dalam proses penghitungan suara, kiai yang biasa dipanggil Gus Yahya ini berhasil memperoleh 337 suara. Sedangkan, calon ketum PBNU petahana KH Said Aqil Siroj hanya mendapatkan 210 suara. Adapun, satu suara dianggap batal.

Proses pemungutan suara di Muktamar ke-34 NU dilakukan dua tahap. Pemilihan tahap pertama berlangsung sejak pukul 02.00 dini hari hingga pukul 06.00 pagi. Dalam proses ini, muncul beberapa nama sebagai bakal calon, seperti KH As’ad Said Ali dan KH Marzuki Mustamar.

Namun, hanya Gus Yahya dan Kiai Said yang lolos untuk maju dalam tahap kedua sebagai calon ketum PBNU setelah mendapat lebih dari 99 suara. Dalam pemilihan tahap pertama ini, Gus Yahya memperoleh 327 suara dan Kiai Said mendapatkan 203 suara

Sumber: republika.co.id

Mengenali dan Memahami Al-Qur’an dalam Kehidupan Kita

Oleh: Mas Andre Hariyanto

ALQURAN adalah kitab yang mulia dan juga pedoman bagi umat muslim, mengapa? Karena dengan Alquran, hidup kita akan tenang dan jauh dari permasalahan. Kenapa demikian? Karena Alquran adalah cahaya ilahi dan penyejuk hati. Hanya dengan membacanya, hati ini berasa bernyanyi. Pada umumnya seperti lagu cinta dan kasih sayang yang membawa perasaan.

Rasanya ingin sekali bernyanyi lama-lama dengan lantunan pada setiap ayat Alquran. Maka dari itu mari kita selami Alquran dengan membaca dan mengahafalnya, insyaallah akan menjadi syafaat kita kelak. Kita jadikan Alquran sebagai teman hidup kita, istilah populernya bermesra-mesraan kayak suami istri, meskipun single bagi yang belum.

Berikut delapan prinsip tentang Alquran yang selayaknya diterapkan dalam kehidupan kita.

  1. Menghafal tidak harus hafal

Allah memberi kemampuan menghafal dan mengingat yang berbeda-beda pada tiap orang. Bahkan imam besar dalam ilmu qiroat, guru dari Hafs -yang mana bacaan kita merujuk pada riwayatnya- yaitu Imam Asim menghafal Alquran dalam kurun waktu 20 tahun. Target menghafal kita bukanlah ‘ujung ayat’ tapi bagaimana kita menghabiskan waktu (durasi) yang sudah kita agendakan hanya untuk menghafal.

  1. Bukan untuk diburu-buru, bukan untuk ditunda-tunda

Kalau kita sudah menetapkan durasi, bahwa dari jam 6 sampe jam 7 adalah waktu khusus untuk menghafal misalnya, maka berapapun ayat yang dapat kita hafal tidak jadi masalah.Jangan buru-buru pindah ke ayat ke-2 jika ayat pertama belum benar-benar kita hafal. Nikmati saja saat-saat ini. Saat dimana kita bercengkrama dengan Allah. satu jam lho.

 

Masak untuk urusan duniawi delapan jam betah, bahkan bergadang demi melihat bola, tanpa ketib alias penghlihatan kita fokus ke depan terus, hehe. Inget, satu huruf melahirkan sepuluh pahala bukan? Apalagi kalau lancar, sudah tau pula kan. So, jangan buru-buru. Tapi ingat, juga bukan untuk ditunda-tunda. Habiskan saja durasi menghafal secara ‘pass’.

  1. Menghafal bukan untuk khatam, tapi untuk setia bersama Qur’an

Kondisi hati yang tepat dalam menghafal adalah bersyukur bukan bersabar. Tapi kita sering mendengar kalimat “Menghafal emang kudu sabar”, ya kan? Sebenarnya gak salah, hanya kurang pas saja. Kesannya ayat-ayat itu adalah sekarung batu di punggung kita, yang cepat-cepat kita pindahkan agar segera terbebas dari beban (khatam). Bukankah di awal surat Thoha Allah berfirman bahwa Alquran diturunkan bukan sebagai beban. Untuk apa khatam jika tidak pernah diulang? Setialah bersama Alquran.

  1. Senang dirindukan ayat

Ayat-ayat yang sudah kita baca berulang-ulang namun belum juga nyantol di memory, sebenarnya ayat itu lagi kangen sama kita. Maka katakanlah pada ayat tersebut “I miss you too…” hehe. Coba dibaca arti dan tafsirnya. Bisa jadi ayat itu adalah ‘jawaban’ dari ‘pertanyaan’ kita. Jangan buru-buru suntuk dan sumpek ketika gak hafal-hafal. Senanglah jadi orang yang dirindukan ayat.

  1. Menghafal sesuap-sesuap

Nikmatnya suatu makanan itu terasa ketika kita sedang memakannya, bukan sebelum makan bukan pula setelahnya. Nikmatnya menghafal adalah ketika membaca berulang-ulang. Dan besarnya suapan juga harus pas di volume mulut kita agar makan terasa nikmat. Makan pake sendok teh gak nikmat karena terlalu sedikit, makan pake centong nasi bikin muntah karena terlalu banyak.

Menghafal-pun demikian. Jika “‘amma yatasa alun” terlalu panjang, maka cukuplah “‘amma” diulang-ulang. Jika terlalu pendek maka lanjutkanlah sampai “‘anin nabail ‘adzhim” kemudian diulang-ulang. Sesuaikan dengan kemampuan ‘mengunyah’ masing-masing anda.

  1. Fokus pada perbedaan, baikan persamaan

“Fabi ayyi alaa’i rabbikuma tukadz dziban” jika kita hafal 1 ayat ini,1 saja! Maka sebenarnya kita sudah hafal 31 ayat dari 78 ayat yg ada di surat Ar-Rahman. Sudah hampir separuh surat kita hafal. Maka ayat ini dihafal satu kali saja, fokuslah pada ayat sesudahnya dan sebelumnya yang merangkai ayat tersebut.

  1. Mengutamakan durasi

Seperti yang dijelaskan di atas, komitmenlah pada durasi bukan pada jumlah ayat yang akan dihafal. Ibarat argo taxi, keadaan macet ataupun di tol dia berjalan dengan tempo yang tetap. Serahkan satu jam kita pada Allah.. Syukur-syukur bisa lebih dari satu jam.Satu jam itu gak sampe 5 persen dari total waktu kita dalam sehari loh! Lima persen untuk Alquran, harus bisa dong ah…

  1. Pastikan ayatnya bertajwid

Carilah guru yang bisa mengoreksi bacaan kita. Bacaan tidak bertajwid yang ‘terlanjur’ kita hafal akan sulit dirubah/diperbaiki di kemudian hari (setelah kita tahu hukum bacaan yang sebenarnya).

Jangan dibiasakan otodidak dalam hal apapun yang berkaitan dengan Alquran; membaca, mempelajari, mentadabburi, apalagi mengambil hukum dari Alquran.

*Ketua Pembina Yayasan Pusat Pembelajaran Nusantara (YPPN) Yogyakarta & Founder Muslim Hijrah Movement (MHM).

Kemenag: Indeks Kerukunan Umat Beragama 2021 Posisi Baik

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Nilai Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) Tahun 2021 masuk pada kategori baik. Nilainya berada pada rerata nasional 72,39 atau naik 4,93 poin dari tahun sebelumnya.

Hal ini disampaikan Tenaga Ahli Menteri Agama Mahmud Syaltout saat membacakan pidato Menag untuk Launching Indeks Kerukunan Umat Beragama. Kegiatan berlangsung atas kerja sama Balitbang Diklat Kemenag dengan ISI Surakarta.

“Hasil penelitian Indeks KUB menjadi kado terindah untuk menyambut Hari Amal Bakti Kementerian Agama Ke-76 yang akan diperingati tanggal 3 Januari 2022 nanti. Kami bersyukur nilai KUB mencapai nilai tinggi. Artinya, kinerja Kementerian Agama lebih baik,” ujar Gus Mahmud di Solo, Senin (20/12/2021).

Menurut Gus Mahmud, mendapatkan nilai baik bukanlah hal yang mudah. Untuk itu, diperlukan kerjasama dan sinergi seluruh pihak Kementerian Agama dan pemangku kepentingan.

“Indeks KUB bukan hanya melihat keberhasilan kita tapi yang paling penting adalah pemetaan masalah, prediksi masalah, dan deteksi masalah. Karena indeks KUB dibangun dari beberapa variabel yaitu toleransi, kerja sama, dan kesetaraan,” ungkapnya.

Indeks KUB, lanjut Gus Mahmud, menjadi early warning dan monitoring system yang baik karena dapat melihat pola pikir dan sikap di masyarakat Indonesia. “Ini adalah inventaris terbaik yang dimiliki Kemenag, maka perlu tindak lanjut dari hasil temuan,” katanya.