Jones, Warga Amerika yang Tergabung al Qaeda di Afrika Timur, Jalani Proses Persidangan AS

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Departemen Kehakiman telah mengumumkan bahwa Maalik Alim Jones, seorang warga negara Amerika berusia 31 tahun dari Maryland, telah didakwa karena diduga mendukung faksi jihad Shabaab, cabang resmi al Qaeda di Afrika Timur. Jones tampil di hadapan hakim di Distrik Selatan New York bulan lalu, namun DOJ merilis dakwaan dan tuduhan terhadapnya hari ini, The Long War Journal melaporkan, Selasa (12/01/2016).

Jones diduga melakukan perjalanan dari New York ke Kenya pada Juli 2011. Setelah di Kenya, menurut pengumuman DOJ, ia melakukan perjalanan darat ke Somalia, "Di mana ia dilatih, bekerja dan berjuang dengan Al Shabaab di Somalia. Jones menerima pelatihan militer di sebuah kamp pelatihan al Shabaab, dan belajar untuk mengoperasikan sebuah senapan serbu AK-47 dan granat roket."

Dia juga konon bergabung dengan kekuatan tempur khusus Shabaab, Jaysh Ayman, dan berpartisipasi dalam pertempuran melawan pasukan Kenya.

Dalam pengaduan yang menyertai tuduhan untuknya, seorang Agen FBI mencatat bahwa Jaysh Ayman, "Bertanggung jawab atas serangan komando dan serangan lintas batas, antara lain, melakukan perjalanan melintasi perbatasan darat antara Somalia dan Kenya untuk menargetkan sasaran dan melakukan serangan di Kenya."

Operasi yang dikaitkan dengan Jaysh Ayman meliputi: serangan 16 Juni 2014 di mana mujahidin melepaskan tembakan di sebuah Bar Hotel di Mpekatoni, Kenya, dan membunuh sekitar 40 orang didalam Bar; serangan di Hindi, Kenya, dimana sekitar 12  mujahidin Shabaab membakar gedung-gedung pemerintah dan gereja, menewaskan sembilan orang pada bulan Juli 2014; dan penyerbuan 14 Juni 2015 di sebuah pangkalan Militer Kenya di Lamu County, Kenya, membunuh sejumlah tentara Kenya.

FBI menerima tujuh video milik salah satu mujahidin Shabaab yang tertinggal saat penyebuan di Lamu. Menurut pengaduan, Jones teridentifikasi dirinya dalam dua video.

 

Deddy | TLWJ | Jurnalislam

Universitas Birzeit Bangkit Melawan Setelah Penangkapan 90 Mahasiswa oleh Israel

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Mahasiswa Universitas Birzeit di Tepi Barat mengadakan Aksi Protes dalam solidaritas terhadap sesama mahasiswa dan dosen yang ditahan oleh Zionis, World Bulletin melaporkan Selasa (12/01/2016).

"Kami berdiri di hadapan Anda hari ini, bersatu dalam nama Palestina, menentang strategi Israel menangkap kita, yang memaksakan kehendak, terlepas dari afiliasi politik," salah satu demonstran mengatakan kepada orang banyak.

Sekitar 90 mahasiswa dan dua dosen di Universitas itu telah ditangkap dalam beberapa bulan terakhir di tengah tindakan keras Israel.

Pada hari Senin (11/01/2016), pasukan zionis menyerbu sebuah universitas terkenal Palestina di Tepi Barat, menyita peralatan komputer dan menyebabkan kerusakan.

"Pasukan Israel secara khusus menargetkan siswa karena kita adalah orang-orang yang mampu mencapai bagian yang berbeda dari masyarakat Palestina," kata seorang mahasiswa Universitas Birzeit.

"Tujuan utama taktik ini adalah untuk menghancurkan kita, mematahkan perjuangan kita, dan memperkuat internalisasi bahwa tidak peduli apa yang kita lakukan, mereka akan mengikuti dan mengunci kita, karena mereka memiliki kekuatan untuk melakukannya," tambahnya .

Birzeit University telah lama menjadi sarang aktivitas politik. Dua dari alumni mereka yang terkenal adalah pemimpin politik Palestina Marwan Barghouti, yang menjalani tahanan hukuman seumur hidup di penjara zionis, dan pelaku demo Khader Adnan.

Mahasiswa mengorganisir aksi dan seminar, menentang agresi Israel, pejajahan dan kolonialisme pemukim, transportasi terkoordinasi yang menjadi titik benturan antara rakyat Palestina dan pasukan Israel, dan mendistribusikan brosur tentang bagaimana menghadapi taktik penyebaran Israel.

Aktivis di Birzeit percaya bahwa gelombang penangkapan merupakan bagian dari strategi Israel untuk menekan mobilisasi ini. "Semua yang terjadi dilakukan oleh pemuda, dan tidak dikendalikan oleh faksi. Sebaliknya, itu adalah usaha kolektif," kata Sondos Hamad, koordinator Hak Kampanye Pendidikan (Right to Education Campaign), yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan hambatan yang dihadapi mahasiswa Palestina, di universitas Birzeit.

"Israel menangkap siswa yang aktif dalam politik sebagai upaya memotong pemikiran revolusioner dan mengancam bahwa aktivitas apapun akan mendapatkan bentuk penindasan seperti penangkapan."

Pada awal Oktober Abdul Latif abu-Hijleh, presiden Universitas Birzeit, menyerukan pembebasan para siswa. "Israel bertanggung jawab atas kesejahteraan mahasiswa yang berdemonstrasi damai melawan pendudukan," kata Abu Hijleh, menambahkan bahwa organisasi HAM serta masyarakat internasional harus mengambil tindakan terhadap strategi Israel yang menghambat hak atas pendidikan bagi siswa Palestina .

Beberapa siswa Birzeit telah ditangkap akibat posting mereka di Facebook atau pesan pribadi mereka bersama dengan teman-teman dimana mereka membicarakan dukungan mereka terhadap eskalasi berkelanjutan.

Penangkapan Israel ini telah terjadi di tengah eskalasi perlawanan rakyat palestina “Intifadhah” di Tepi Barat dan Jerusalem sejak Oktober lalu, wilayah Palestina yang terjajah zionis, memprotes serangan Israel ke kompleks Masjid Al-Aqsha dan berlanjutnya perluasan pemukiman Yahudi.

Pada 2015, tentara penjajah Israel dan pemukim zionis Yahudi  menembak dan membunuh 179 warga Palestina.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

 

 

Hampir 600 Milisi Komunis PKK Tewas dalam Operasi Militer Turki

DIYARBAKIR (Jurnalislam.com) – Pasukan keamanan Turki telah menewaskan hampir 600 teroris PKK sejak operasi militer diluncurkan di seluruh tenggara bulan lalu, kata militer Selasa (12/01/2016).

Staf Umum Turki dan kantor gubernur provinsi Diyarbakir mengatakan 578 milisi komunis PKK telah tewas sejak 15 Desember di lima kabupaten di provinsi Diyarbakir, Sirnak dan Mardin.

Operasi telah selesai di Nusaybin dan Dargecit di provinsi Mardin dan sedang berlangsung di kabupaten Diyarbakir Sur serta Cizre dan Silopi di Sirnak.

Sur, daerah bersejarah di provinsi terbesar Diyarbakir, berada di bawah peraturan jam malam militer sejak 2 Desember, yang efektif mengunci kabupaten tersebut. Operasi aparat keamanan telah menewaskan 91 teroris sementara lebih dari 50 barikade dan parit telah dihapus.

Milisi PKK mendirikan hambatan barikade dan parit tersebut untuk menghalangi aparat keamanan.

Di Silopi dan Cizre, 387 PKK tewas, menurut militer, dan lebih dari 500 hambatan dibersihkan. Lebih dari 900 perangkat peledak improvisasi (IED) hancur.

Militer mengatakan operasi di Silopi akan segera berakhir.

Dalam Nusaybin dan Dargecit, 100 teroris tewas dan sekitar 100 parit dan barikade dihapus. Pasukan keamanan menghancurkan 43 IED.

PKK melanjutkan serangan bersenjata yang telah berlangsung selama30 tahun terhadap Turki pada akhir Juli.

Sejak itu, lebih dari 200 anggota pasukan keamanan telah tewas dan ribuan teroris PKK juga tewas dalam operasi di Turki dan Irak utara.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

 

Madaya: Derita Kelaparan yang Belum Pernah Terjadi Sejak Perang Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com) – Penderitaan di kota Madaya Suriah adalah yang terburuk yang pernah terjadi pada perang global di negara itu, sehari setelah memberikan bantuan ke daerah yang telah terkepung selama berbulan-bulan tersebut, PBB mengatakan, lansir World Bulletin Selasa (12/01/2016).

"Tidak ada yang bisa dibandingkan dengan apa yang kita lihat di Madaya," kata kepala badan pengungsi PBB di Damaskus, Sajjad Malik, mengatakan kepada wartawan di Jenewa, ketika diminta untuk membandingkan kehancuran di kota tersebut dengan daerah lain di Suriah.

Dia mengatakan ada "laporan yang dapat dipercaya" mengenai banyak penduduk yang mati kelaparan setelah berbulan-bulan berada dalam pengepungan oleh pasukan rezim Assad dan Syiah Hizbullah.

Konvoi 44 truk PBB, Bulan Sabit Merah Suriah dan Palang Merah Internasional (ICRC) mengirimkan persediaan makanan darurat untuk Madaya pada hari Senin (11/01/2016), dalam pertolongan pertama bagi daerah itu sejak Oktober.

"Tidak ada kehidupan," kata Malik, yang berada dalam konvoi, menggambarkan sebuah kota berisi penduduk yang putus asa yang terlalu lemah untuk menyuarakan kemarahan atas penderitaan mereka.

Makanan telah menjadi sangat langka. Orang-orang "berulang kali menyebutkan bahwa satu kilo beras harganya $ 300 (€ 275 = Rp 4.175.000,-)", kata Malik.

"Satu keluarga bahkan menjual sepeda motor untuk lima kilo beras," tambahnya, merinci sejauh mana kerusakan yang dialami sekitar  40.000 penduduk kota.

"Apa pun yang kita miliki di dalam mobil, kita berikan kepada mereka," kata Malik.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Ledakan Bom Guncang Tempat Bersejarah di Istanbul, 10 Tewas

TURKI (Jurnalislam.com) – Sebuah ledakan yang tidak diketahui asalnya mengguncang pusat bersejarah Istanbul, dan menimbulkan korban, kata laporan. Sedikitnya 10 orang tewas dan 15 orang lainnya terluka dalam ledakan di distrik Sultanahmet pada Selasa pagi (12/01/2016), menurut sumber polisi.

Ledakan terjadi pada pukul 10:20 waktu setempat (0820 GMT).

Ambulans dan polisi dikirim ke Sultanahmet, kota destinasi utama turis, yang merupakan lokasi monumen terkenal dunia termasuk Masjid Biru dan Hagia Sophia, kata laporan televisi.

Ledakan itu terjadi setelah terjadinya serangan mematikan di Turki dalam bulan terakhir.

Kekuatan ledakan itu cukup untuk didengar di lingkungan yang berdekatan, kata saksi kepada AFP.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

3 Tank Hancur, 8 Tewas dalam Pertempuran di Ghazni

GHAZNI (Jurnalislam.com) – Mujahidin Imarah Islam melakukan serangan balasan kepada musuh yang dikirim ke distrik Dayak provinsi Ghazni dalam misi meluncurkan operasi darat yang didukung oleh kekuatan udara. Setidaknya 8 tentara boneka tewas dan 2 lainnya menderita luka-luka dalam baku tembak tersebut, menurut laporan Al-Emarah News, Senin (11/01/2016).

Dua tank lapis baja musuh dan kendaraan tempur lapis baja hancur setelah mendapat serangan roket Mujahidin, tambahnya.

Dua Mujahidin dilaporkan syahid dalam operasi, sementara dua warga sipil juga tewas setelah musuh, seperti biasa menghantam bangunan milik warga sipil dengan senjata berat.

Musuh dipukul mundur dengan kerugian fatal, sedangkan tentara musuh memaksa masuk ke dalam bangunan milik warga sipil atas nama operasi pencarian dan merampok uang, perhiasan dan barang-barang berharga warga.

Di distrik Darqad provinsi Takhar Mujahidin Imarah Islam mengunci musuh dalam baku tembak, membunuh 10 milisi Arbaki.

Sementara, ledakan bom pinggir jalan yang ditanam oleh Mujahidin meledak di bawah kendaraan musuh, membunuh lebih banyak Arbakis.

Secara terpisah, musuh membunuh dua warga sipil, suami dan istri, secara brutal dalam serangan malam di tempat lain di distrik Darqad provinsi Takhar tadi malam.

 

Deddy | Shahamat | Jurnalislam

 

Kantor LSM Israel yang Serukan HAM untuk Palestina Dibakar

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Kebakaran terjadi Ahad malam di sebuah kantor LSM Israel yang menyuarakan hak asasi manusia di wilayah Palestina yang dijajah, juru bicara organisasi itu mengatakan, dengan dugaan pembakaran yang disengaja sebagai penyebabnya, lansir World Bulletin Senin (11/01/2016).

Api secara ekstensif merusak kantor kelompok B'Tselem di Yerusalem tapi tidak ada korban cedera karena tempat tersebut kosong pada saat itu, juru bicara mereka mengatakan dalam sebuah pernyataan.

"Kebakaran terjadi di kantor B'Tselem di Yerusalem malam ini. Tak satu pun dari staf kami sedang berada di dalam gedung," katanya.

"Laporan awal yang diterbitkan oleh media menunjukkan bahwa polisi menduga kebakaran terjadi akibat pembakaran yang disengaja," tambahnya.

"Jika ditemukan bahwa ini adalah serangan pembakaran, maka kasus ini harus dilihat dalam konteks gelombang hasutan pemerintah dan kampanye yang mengotori kelompok hak asasi manusia Israel, khususnya B'Tselem."

Tapi dia mengatakan api tidak akan menghentikan pekerjaan mereka mendokumentasikan dan mengekspos pelanggaran hak asasi manusia di bawah pemerintah penjajah Israel.

Berbicara di radio publik, seorang wakil petugas pemadam api tidak menutup kemungkinan pembakaran yang disengaja.

Dia menegaskan tempat tersebut rusak parah tapi tidak ada yang terluka.

Perdana Menteri zionis Benjamin Netanyahu mengancam dengan tindakan keras pada LSM sayap kiri tersebut pada bulan Desember dengan rancangan undang-undang kontroversial untuk menguatkan aturan tentang kelompok-kelompok yang berhak menerima dana dari luar negeri.

LSM sayap kiri tersebut menggambarkan langkah itu sebagai sebuah serangan.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

 

 

Kegagalan Pasukan AS di Afghanistan Buat Jenderal Campbell Kewalahan

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Komandan pasukan pendudukan asing, Jenderal Campbell menyatakan dalam sebuah wawancara dengan majalah USA today bahwa ia akan meminta pemerintahan Obama untuk mengukuhkan pasukan AS di Afghanistan lebih lama dari yang jadwal semula. Dia juga menyatakan bahwa ia tidak akan ragu untuk mengirim  lebih banyak pasukan AS di daratan Afghanistan, Al Emarah News melaporkan Senin (11/01/2015).

Baru-baru ini Obama menyatakan bahwa ia akan mempertahankan tingkat kekuatan saat ini yaitu sejumlah lebih dari 10.000 tentara sampai akhir 2016 sebelum dikurangi di pertengahan tahun 2017.

Jenderal Campbell menekankan bahwa ia akan mencoba selama mungkin mempertahankan tingkat kekuatan maksimum.

Pemerintahan Obama menyatakan berakhirnya misi tempur di Afghanistan pada akhir 2014 dan seolah-olah membatasi peran pasukan yang tersisa hanya untuk pelatihan dan member nasihat bagi pasukan keamanan di Kabul.

Namun meskipun telah menyatakan deklarasi ini, pasukan asing telah ambil bagian dalam pertempuran di provinsi Kunduz dan Helmand serta secara teratur melakukan serangan malam dan pemboman udara sembarangan. Kegiatan mereka di Kouduz mengakibatkan pemboman ilegal terhadap Rumah Sakit Doctors Without Frontiers yang menewaskan puluhan warga sipil.

Itu bukan satu-satunya insiden dimana pasukan asing membunuh warga sipil tahun 2015. Insiden itu mendapatkan momentum dan pengakuan publik hanya karena pekerja staf asing terlibat. Setiap waktu warga sipil Afghanistan menghadapi kematian tapi sayangnya penderitaan mereka hampir tidak diakui di media atau oleh pelaku kejahatan.

Dalam beberapa pekan terakhir keterlibatan asing di provinsi Helmand telah kembali membawa penderitaan dan kematian warga sipil di provinsi itu. Namun media tidak menyebutkan tragedi terhadap desa-desa dan keluarga ini.

Namun meskipun banyak penderitaan yang telah mereka sebabkan dan banyaknya kesia-siaan dalam misi mereka, Jenderal Campbell dan Pentagon terus menekan dengan meminta keterlibatan pasukan tambahan. Melihat lonjakan besar dalam anggaran dan kekuatan menyusul invasi ke Afghanistan dan Irak, Departemen Pertahanan sekarang enggan memberikan hak istimewa mereka.

Banyak analis mengutip kasus Irak setelah penarikan pasukan AS atau Afghanistan setelah penarikan pasukan Soviet dan berpendapat bahwa penarikan pasukan lengkap sama saja dengan kekalahan dan bahwa AS harus menyelamatkan muka mereka di Afghanistan untuk mencegah keruntuhan total rezim Kabul.

Beberapa analis Amerika menceritakan memori menyakitkan dari Vietnam dan meskipun telah melakukan semua upaya, Amerika masih tidak bisa mencegah kemenangan Vietnam Utara dalam perang itu. Begitu juga meskipun dengan semua upaya mereka di Afghanistan, Amerika akan dipaksa untuk merekam kekalahan di negeri ini dan tidak ada yang dapat mereka lakukan untuk mencegah kemenangan Imarah Islam Afghanistan.

 

Deddy | Al Emarah News | Jurnalislam

Pew Research Center: Ini Jawaban tentang Muslim dan Islam di Amerika Serikat

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Migrasi dan pertumbuhan daerah Muslim, dikombinasikan dengan konflik yang berkelanjutan di sejumlah negara yang berpenduduk mayoritas Islam, telah membawa umat Islam dan agama Islam ke garis depan perdebatan politik di banyak negara.

Seperti yang dilansir World Bulletin, Senin (11/01/2016), Pew Research Center telah melakukan penelitian untuk menjawab beberapa pertanyaan kunci tentang Muslim dan Islam di Amerika Serikat.

Berapakah jumlah Muslim yang ada di AS?

Menurut estimasi terbaik Pew Research Center, Muslim membentuk hanya kurang dari 1% dari populasi orang dewasa AS. The 2014 Religious Landscape Study menemukan bahwa 0,9% dari orang dewasa AS teridentifikasi sebagai Muslim. Sebuah survei Muslim Amerika 2011 memperkirakan ada 1,8 juta orang dewasa Muslim (dan 2,75 juta Muslim dari segala usia) di negara itu. Survei itu juga menemukan bahwa mayoritas Muslim AS (63%) adalah imigran.

Proyeksi demografis Pew Research Center memperkirakan bahwa Muslim akan meningkat menjadi 2,1% dari penduduk AS pada tahun 2050, melebihi orang yang teridentifikasi sebagai Yahudi sebagai kelompok terbesar kedua dalam hal agama. (peringkat ini tidak termasuk orang-orang yang mengatakan bahwa mereka tidak memiliki agama).

Sebuah laporan terbaru memperkirakan bahwa pangsa Muslim imigran yang diberikan status penduduk tetap (kartu hijau) meningkat dari sekitar 5% pada tahun 1992 menjadi sekitar 10% pada tahun 2012, yang mewakili sekitar 100.000 imigran pada tahun itu.

Apa yang dipercaya Muslim Amerika?

Survei Pew Research Center tahun 2011 terhadap Muslim Amerika menemukan bahwa sekitar setengah dari Muslim AS (48%) mengatakan bahwa pemimpin agama mereka sendiri belum cukup untuk berbicara menentang ekstrimis Islam.

Hidup dalam masyarakat beragama pluralistik, Muslim Amerika kemungkinan lebih banyak teman non-Muslim dibandingkan Muslim di negara lain. Hanya sekitar setengah (48%) dari Muslim AS yang mengatakan bahwa semua atau sebagian dari teman-teman dekat mereka adalah Muslim juga, dibandingkan dengan rata-rata global 95% di 39 negara yang disurvei.

Sekitar tujuh-per-sepuluh (69%) Muslim AS mengatakan agama sangat penting dalam hidup mereka. Hampir semua (96%) mengatakan mereka percaya pada Tuhan, hampir dua pertiga (65%) melaporkan mereka berdoa setidaknya setiap hari dan hampir setengah (47%) mengatakan mereka menghadiri acara keagamaan serentak setidaknya Jumatan. Dengan semua langkah-langkah tradisional, Muslim di AS kira-kira sama relijiusnya dengan orang Kristen AS, meskipun mereka kurang religius dibandingkan Muslim di banyak negara lain.

Mengenai pandangan politik dan sosial, Muslim jauh lebih teridentifikasi bersandar terhadap Partai Demokrat (70%) dibandingkan Partai Republik (11%) dan mengatakan mereka lebih memilih pemerintah yang lebih besar yang lebih memberikan layanan (68%) dibandingkan pemerintah lebih kecil yang menyediakan layanan lebih sedikit (21%).

Bagaimana orang Amerika memandang Muslim?

Sebuah survei Pew Research Center yang dilakukan pada tahun 2014 meminta warga Amerika untuk menilai para anggota dari delapan kelompok agama dengan "penilaian termometer" dari 0 sampai 100, dimana 0 mencerminkan perasaan terdingin, yang merupakan Peringkat paling negatif dan 100 mencerminkan perasaan terpanas, yaitu Peringkat paling positif. Secara keseluruhan, Amerika menilai Muslim agak dingin – rata-rata 40, sebanding dengan nilai rata-rata yang mereka beri untuk kelompok ateis (41). Amerika melihat enam kelompok agama lain yang disebutkan dalam survei lebih hangat.

Partai Republik dan mereka yang bersandar ke Partai Republik memberi Muslim nilai rata-rata 33, jauh lebih dingin dari penilaian Demokrat terhadap Muslim (47).

Dibandingkan Demokrat, Partai Republik lebih mengatakan bahwa mereka sangat prihatin dengan munculnya ekstremisme Islam di dunia (83% vs 53%) dan di Amerika Serikat (65% vs 38%), menurut sebuah survei Desember 2015. Survei itu juga menemukan bahwa Partai Republik dibandingkan Demokrat lebih menganggap bahwa Islam dibandingkan agama lain lebih mendorong kekerasan antarumat (68% vs 30% dari Demokrat) dan bahwa umat Islam harus lebih diawasi dibandingkan umat agama lain (49% vs 20%).

Secara keseluruhan, kebanyakan orang Amerika (61%) mengatakan umat Islam tidak seharusnya mendapat pemeriksaan tambahan semata-mata karena agama mereka, sementara orang dewasa AS terbagi pada dua pendapat mengenai pertanyaan apakah Islam lebih mungkin mendorong kekerasan dibandingkan agama lain.

Baca juga: Pew Research Center: Tahun 2050 Jumlah Penganut Kristen Anjlok, Islam Meningkat

Sumber: Pew Research Center

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

 

 

Konvoi Bantuan Kemanusian Mulai Menuju Kota-kota Suriah yang Terkepung

SURIAH (Jurnalislam.com) – Konvoi bantuan telah berangkat menuju kota-kota Suriah yang terkepung di mana ribuan warga sipil terjebak dan dilaporkan meninggal karena kelaparan, lansir Aljazeera, Senin (11/01/2016).

Truk-truk bertolak menuju Madaya, dekat perbatasan Lebanon, dan dua desa di barat laut negara itu pada hari Senin (11/01/2016), sebagai bagian dari kesepakatan antara pihak-pihak yang bersaing, Palang Merah mengatakan.

Kendaraan-kendaraan tersebut secara bersamaan memasuki Madaya. Madaya telah diblokade selama berbulan-bulan oleh pasukan rezim Assad dan Syiah Hizbullah Libanon, dan lembaga-lembaga bantuan telah memperingatkan adanya kelaparan yang  meluas di sana.

Fua dan Kefraya di provinsi Idlib, yang dikuasai oleh faksi fakzi jihad, termasuk Jabhah Nusrah, listrik dan air telah diblokade selama berbulan-bulan oleh rezim pemerintah.

Pemblokiran Madaya telah menjadi fokus isu bagi para pemimpin oposisi moderat Suriah yang mengatakan kepada utusan PBB pekan lalu bahwa mereka tidak akan ambil bagian dalam pembicaraan dengan pemerintah sampai pengepungan diangkat.

Seorang saksi Reuters mengatakan puluhan truk ICRC lainnya juga bersiap berangkat dari Damaskus menuju Madaya. Kendaraan menuju Fua dan Kefraya, yang berjarak hampir 300 km, telah berangkat lebih awal.

PBB mengatakan pada hari Kamis bahwa pemerintah Suriah telah setuju untuk mengizinkan akses ke Madaya, dimana badan dunia mengatakan ada laporan yang dapat dipercaya bahwa terdapat beberapa orang yang mati kelaparan.

Pemblokiran sebuah wilayah telah menjadi hal umum dari konflik hampir lima tahun tersebut.

Diperkirakan 400.000 orang hidup di bawah penindasan rezim di 15 daerah di seluruh Suriah, menurut PBB.

 

Baca juga: 400.000 Warga masih Terkepung Pasukan Assad, Penduduk Madaya Makan Rumput dan Serangga

 

Deddy | Aljazeera | Jurnalislam