151 Orang Tewas dalam Serangan Bom di Pusat Perbelanjaan Kota Baghdad

thumbs_b_c_871d42d4aae6295ba2ebcd3bc1f001feBAGHDAD (Jurnalislam.com) – Perdana Menteri Irak Haidar al-Abadi pada hari Ahad menyatakan tiga hari berkabung setelah serangan bom mobil di ibukota Baghdad yang menewaskan sedikitnya 151 orang.

Serangan, yang diklaim oleh Islamic State (IS), menghantam Al-Karada, sebuah distrik perbelanjaan yang sibuk di pusat kota Baghdad, pada pukul 01:00 waktu setempat (2200GMT), seorang sumber keamanan mengatakan kepada Anadolu Agency pada kondisi anonimitas, Ahad (03/07/2016)

Bom menewaskan 151 orang dan sedikitnya 185 lainnya terluka, menurut sumber Kementerian Kesehatan yang berbicara secara anonim karena kekhawatiran keamanan.

Dalam sebuah pernyataan yang beredar secara online, IS mengatakan bahwa pemboman mereka menargetkan Syiah. Pernyataan itu tidak bisa diverifikasi secara independen.

Saat mengunjungi lokasi bom, Abadi menghubungkan serangan dengan kerugian teritorial yang diderita IS baru-baru ini. “IS melakukan pemboman di distrik al-Karada setelah hancur dalam pertempuran Fallujah,” katanya, sambil bersumpah untuk menghukum para pelaku.

Fallujah direbut kembali dari IS oleh pasukan Irak pekan lalu.

Wilayah ini sibuk dengan para pembeli hingga larut malam pada bulan Ramadhan ketika bom yang paling mematikan di Irak tahun ini itu meledak melalui jalan utama.

Kementerian Luar Negeri Turki mengeluarkan pernyataan mengutuk pemboman. “Kami mengutuk serangan keterlaluan ini dan kami berharap belas kasihan bagi mereka yang kehilangan nyawa mereka dalam serangan ini, berharap agar korban cedera cepat sembuh dan menyampaikan belasungkawa kami kepada bangsa Irak,” katanya.

 

Iraqi security forces and civilians gather at the site after a car bomb hit Karada, a busy shopping district in the center of Baghdad, Iraq, Sunday, July 3, 2016. Dozens of people have been killed and more than 100 wounded in two separate bomb attacks in the Iraqi capital Sunday morning, Iraqi officials said. (AP Photo/Hadi Mizban)

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

2 Orang Tewas dalam Perjalanan Pulang dari Masjid oleh Serangan Bom di Thailand

thailandTHAILAND (Jurnalislam.com) – Dua orang tewas dalam sebuah serangan bom dan senjata di selatan Thailand yang dilanda konflik semalam saat mereka melakukan perjalanan pulang dari Masjid, lansir World Bulletin Ahad (03/07/2016).

The Bangkok Post melaporkan hari Ahad (bahwa ledakan terjadi pada pukul 01:00 (06.00GMT) saat Mahamayuding Pute dan Assuwan Yuso menyeberangi sebuah jembatan di atas sebuah kanal di Bannang Sata di bagian selatan Provinsi Yala.

Yala adalah salah satu dari tiga provinsi (Yala, Pattani dan Narathiwat) – dimana terdapat gerakan perlawanan selama lebih dari 50 tahun, dan telah menjadi salah satu konflik intensitas rendah yang mematikan di dunia.

Polisi mengatakan bahwa bom rakitan diledakkan, setelah sekelompok penyerang yang tidak diketahui jumlahnya itu melepaskan tembakan.

Laporan awal menunjukkan serangan dikoordinasikan oleh pejuang di daerah yang berusaha melakukan perlawanan.

Perlawanan di selatan berakar dalam masalah agama-etnis-budaya antara Muslim Melayu yang telah berabad lamanya tinggal di wilayah selatan dengan pemerintah pusat Thai yang menjadikan Buddhisme sebagai agama nasional de-facto.

Faksi perlawanan bersenjata dibentuk pada tahun 1960 setelah kediktatoran disusul militer rezim Thailand mencoba mengganggu sekolah-sekolah Islam.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Khutbah Ied Amir Jamaah Ansharusy Syariah: “Mewaspadai Persekongkolan”

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ وَلَا رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ، وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ، وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ.

وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

مَعَاشِرَ الْمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ

اِتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ ١٠٢

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ٧٠ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ٧١

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ:

مَا يُجَٰدِلُ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَلَا يَغۡرُرۡكَ تَقَلُّبُهُمۡ فِي ٱلۡبِلَٰدِ ٤كَذَّبَتۡ قَبۡلَهُمۡ قَوۡمُ نُوحٖ وَٱلۡأَحۡزَابُ مِنۢ بَعۡدِهِمۡۖ وَهَمَّتۡ كُلُّ أُمَّةِۢ بِرَسُولِهِمۡ لِيَأۡخُذُوهُۖ وَجَٰدَلُواْ بِٱلۡبَٰطِلِ لِيُدۡحِضُواْ بِهِ ٱلۡحَقَّ فَأَخَذۡتُهُمۡۖ فَكَيۡفَ كَانَ عِقَابِ ٥وَكَذَٰلِكَ حَقَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ عَلَى ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّهُمۡ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ ٦

أَمَّا بَعْدُ:

 

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Ma’aasyirol Muslimiin Rahimakumullaah !

 

Takbir, Tahmid, Tahlil dan Tasbih dikumandangkan tiada henti. Dosa-dosa telah berguguran seiring berlalunya bulan suci Ramadhan yang agung penuh berkah dan ampunan Allah Yang Maha Pengampun.

Pagi ini (1 Syawal 1437 H) kaum Muslimin merayakan hari kemenangan, hari penghapusan dosa dan hari kembalinya seseorang yang dikehendaki Allah kepada kesucian (Fithrah) bagaikan bayi yang baru terlahir dari rahim ibunya.

Buah dari keberhasilan seorang mukmin yang telah dapat mengalahkan dirinya, mengekang syahwatnya, mengendalikan nafsunya menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya bisa dilakukan, menghindarkan diri dari perilaku yang tidak terpuji sehingga menjadilah sosok manusia Muttaqien, semulia-mulia manusia di sisi Allah SWT.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Kaum Muslimin arsyadakumullaah!

Keberkahan bulan Ramadhan dalam lintasan sejarah sebagai wujud limpahan rahmat karunia Allah kepada umat Islam, kemenangan-kemenangan besar umat Islam atas musuh-musuhnya terjadi pada bulan Ramadhan.

  • Perang Badr al-Kubra terjadi pada 17 Ramadhan tahun 2 H, pada hari itu Allah SWT menolong Islam dan kaum Muslimin yang hanya berjumlah sekitar 300 orang dibawah komando langsung Rasulullah SAW, berhadapan dengan pasukan musyrikin yang berjumlah sekitar 1000 orang dipimpin oleh Abu Jahal.
  • Perang Khondaq disebut juga perang Ahzab (perang sekutu) diawali pada bulan Ramadhan tahun 5 H menggali parit sebagai pertahanan, pada bulan Syawal umat Islam meraih kemenangan besar terhadap tentara Ahzab.
  • Rasulullah SAW beserta sepuluh ribu sahabat beliau berangkat dari Madinah pada tanggal 10 Ramadhan, tanpa peperangan manaklukkan Makkah pada tanggal 21 Ramadhan peristiwa inilah yang sering disebut “Fathu Makkah”
  • Perang Hiththin, peperangan antara pasukan Muslimin yang dipimpin oleh Sultan Sholahuddin al Ayyubi melawan pasukan salibis (Nashrani). Sepuluh ribu pasukan salibis tewas ditangan kaum Muslimin. Baitul Maqdis yang sejak 3 Sya’ban 429 H dikuasai salibis dapat direbut dan kembali kepangkuan Umat Islam pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan 584 H.
  • Perang ‘Ain Jalut (Jum’at 25 Ramadhan 658 H). Di tempat yang bernama ‘Ain Jalut inilah terjadi peperangan antara pasukan Muslimin yang dipimpin oleh Al Muzhaffar Syaifuddin Qutuz dan Zhahir Pepris melawan pasukan Tartar yang dipimpin oleh Kitbuqa.

Dua tahun setelah Hulaqo Khan raja Tartar berhasil menduduki Baghdad pada tahun 656 H, setelah membumi hanguskan dan membantai seluruh penduduknya sekitar 800 ribu sampai 2 juta orang termasuk Khalifah Al Mu’tashin Billah (Khalifah terakhir Bani Abbasiyah).

Dalam peperangan inilah pasukan Muslimin memperoleh kemenangan besar dan berhasil menghancurkan tentara Tartar yang sadis dan bengis, bahkan pangeran Jamaluddin Aqusyi berhasil menerobos ke jantung pertahanan musuh dan membunuh panglima perang Tartar Kitbuqa.

  • Khususnya di negeri kita, pada 9 Ramadhan 1364 H (17 Agustus 1945) Allah SWT memberikan karunia kepada umat Islam di negeri ini dengan diproklamasikannya kemerdekaannya setelah merangkai perjalanan jihad fi sabilillah sejak abad ke-16 M melawan penjajah kafir Nashrani yang dimulai oleh Sultan Fattah, Raja Kerajaan Islam Demak yang kekuasaannya menginduk pada Khalifah Turki Utsmani (Ottoman). Demikian seterusnya estafet jihad fi sabilillah ini terus beralih sehingga kita pun mengenal tokoh-tokoh pahlawan nasional seperti Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Pattimura, HOS Cokroaminoto, KH Agus Salim, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, dll.

Demikianlah kemenangan-kemenangan yang dianugerahkan Allah SWT kepada Islam dan kaum Muslimin di bulan Ramadhan, bulan yang Agung nan penuh Berkah.

Momentum Ramadhan adalah ditundukkannya syahwat maupun nafsu oleh iman, dihancurkannya kebathilan dan dimenangkannya kebenaran.

وَقُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَزَهَقَ ٱلۡبَٰطِلُۚ إِنَّ ٱلۡبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقٗا ٨١

Artinya :

“Dan Katakanlah : “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”. (QS Al Isro’ : 81)

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Ikhwaniy fiddiin hadaakumullaah!

Akankah keberkahan bulan Ramadhan bisa diperoleh kembali oleh umat Islam hari ini? Tentu kita selalu meyakini bahwa Allah SWT tidak akan menyalahi janji-Nya, rahmat-Nya sangat luas meliputi segala sesuatu, nikmat-nikmat dan karunia-Nya tak terhitung, dan kalau Allah telah memberikan-Nya kepada satu kaum tidak akan pernah dicabut kembali kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya.

 

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ لَمۡ يَكُ مُغَيِّرٗا نِّعۡمَةً أَنۡعَمَهَا عَلَىٰ قَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡ وَأَنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ٥٣

Artinya :

“(siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (QS Al Anfaal : 53)

Dalam ayat di atas Allah SWT memberitahukan tentang keadilan-Nya yang sempurna dalam ketetapan hukum-Nya, dimana Dia (Allah) tidak akan merubah nikmat yang telah dikaruniakan kepada seseorang/kaum melainkan karena dosa yang dilakukannya, yang demikian itu seperti firman-Nya.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ سُوٓءٗا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥۚ وَمَا لَهُم مِّندُونِهِۦ مِن وَالٍ ١١

Artinya :

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (QS Ar Ra’du : 11)

Keadaan mereka tak ubahnya Fir’aun dan pengikutnya serta orang-orang yang seperti mereka, ketika mereka mendustakan ayat-ayat Allah. Allah membinasakan mereka disebab-kan dosa-dosa mereka dan Allah cabut kembali nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada mereka. Betapa sedih dan trenyuh kita hari ini. Ramadhan bulan yang Agung dan penuh berkah telah dilecehkan sedemikian rupa oleh pihak-pihak yang bersekongkol untuk merusak citra Islam dan kaum Muslimin. Gara-gara sweeping warung Tegal yang berjualan di siang hari di bulan Ramadhan, muncullah kata-kata yang benar-benar melecehkan “Ramadhan Raid”, serangan Ramadhan.

Seolah ibadah Shoum Ramadhan merupakan pemaksaan terhadap seseorang, umat yang tidak toleran, umat Islam Indonesia adalah umat yang keras memaksa orang berpuasa dan merampas makanan.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Kaum Muslimin Rahimakumullaah!

Adanya pergeseran nilai secara umum dalam tubuh kaum muslimin seperti itulah yang menyebabkan jauhnya rahmat Allah dari mereka. Sementara kondisi internal kaum muslimin sedemikian rupa, di pihak lain musuh-musuh Islam dan Umat Islam sangat antusias menempuh dengan segala cara yang memungkinkan untuk melenyapkan kebenaran (Al-Islam) ini, walau dengan cara/hujah-hujah bathil, tindakan-tindakan yang tak manusiawi, memenjarakan para aktivis muslim bahkan tak segan-segan membunuh mereka sekalipun belum tentu bersalah secara hukum dan memang belum ada ketetapan hukumnya.

Hal tersebut diperkuat dengan sebuah hadits Ibnu Abi Hatim :

وَقَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ بِسَنَدِهِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ قَالَ: أَوْحَى اللَّهُ إِلَى نَبِيٍّ مِنْ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ: أَنْ قُلْ لِقَوْمِكَ: إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِ قَرْيَةٍ وَلَا أَهْلِ بَيْتٍ يَكُونُونَ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ فَيَتَحَوَّلُونَ مِنْهَا إِلَى مَعْصِيَةِ اللَّهِ، إِلَّا تَحَوَّلَ لَهُمْ مِمَّا يُحِبُّونَ إِلَى مَا يَكْرَهُونَ، ثُمَّ قَالَ: إِنَّ مِصْدَاقَ ذَلِكَ فِي كِتَابِ اللَّهِ: {إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ}

Artinya :

Ibnu Hatim meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibrahim, ia mengatakan: “Allah mewahyukan kepada salah seorang Nabi dari Nabi-nabi Bani Israil: ‘Hendaklah kamu katakan kepada kaummu bahwa tidaklah penduduk suatu desa dan tidak pula anggota keluarga yang taat kepada Allah kemudian mereka merubah dari ketaatan menuju kemaksiatan kepada Allah, kecuali pasti Allah akan merubah untuk mereka dari apa yang mereka senangi menjadi sesuatu yang mereka benci’. Kemudian dia mengatakan: ‘Hal itu dibenarkan dalam kitabullah: Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS 13:11)”. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4 hal. 440)

Allah berpesan kepada Nabi-Nya (Muhammad SAW) yang tentu saja pesan untuk orang-orang beriman agar jangan sampai terperdaya tipu daya mereka, karena sejak dahulupun karakter orang-orang kafir memang seperti itu.

مَا يُجَٰدِلُ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَلَا يَغۡرُرۡكَ تَقَلُّبُهُمۡ فِي ٱلۡبِلَٰدِ ٤كَذَّبَتۡ قَبۡلَهُمۡ قَوۡمُ نُوحٖ وَٱلۡأَحۡزَابُ مِنۢ بَعۡدِهِمۡۖ وَهَمَّتۡ كُلُّ أُمَّةِۢ بِرَسُولِهِمۡ لِيَأۡخُذُوهُۖ وَجَٰدَلُواْ بِٱلۡبَٰطِلِ لِيُدۡحِضُواْ بِهِ ٱلۡحَقَّ فَأَخَذۡتُهُمۡۖ فَكَيۡفَ كَانَ عِقَابِ ٥وَكَذَٰلِكَ حَقَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ عَلَى ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّهُمۡ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ ٦

Artinya :

“tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir. karena itu janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu.

sebelum mereka, kaum Nuh dan golongan-golongan yang bersekutu sesudah mereka telah mendustakan (Rasul) dan tiap-tiap umat telah merencanakan makar terhadap Rasul mereka untuk menawannya dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu; karena itu aku azab mereka. Maka betapa (pedihnya) azab-Ku?

dan demikianlah telah pasti berlaku ketetapan azab Tuhanmu terhadap orang-orang kafir, karena sesungguhnya mereka adalah penghuni neraka”. (QS Mukmin : 4-6)

Kaum Muslimin tidak boleh terperdaya makar-makar jahat kuffar wal munafiqin, tentu harus senantiasa waspada terhadap persekongkolan yang mereka lakukan. Kondisi kita lebih sulit kalau dibanding pada masa-masa awal Islam, sebab dimasa itu orang-orang munafiq belum berani secara terang-terangan menampakkan permusuhannya, akan tetapi pada masa kita, hari ini kita saksikan mereka yang mengaku beriman secara terang-terangan bekerjasama dengan ‘aduwallah untuk memerangi kaum muslimin yang berjuang demi tegaknya Syari’at Allah dan Rasul-Nya.

Mereka lontarkan slogan yang menyesatkan jauh dari nilai-nilai Islam seperti “Pemimpin Kafir yang jujur lebih baik daripada pemimpin Muslim yang korup”.

Jelaslah pernyataan seperti ini sarat dengan kepentingan duniawi dan secara tidak langsung menghalalkan apa yang diharamkan Allah.

Allah SWT melarang orang-orang yang beriman mengangkat orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan mengabaikan orang-orang beriman.

لَّا يَتَّخِذِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡكَٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَلَيۡسَ مِنَ ٱللَّهِ فِي شَيۡءٍ إِلَّآ أَن تَتَّقُواْ مِنۡهُمۡ تُقَىٰةٗۗ وَيُحَذِّرُكُمُ ٱللَّهُ نَفۡسَهُۥۗ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلۡمَصِيرُ ٢٨

Artinya :

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali (mu)”. (QS Ali Imran : 28)

Maka barangsiapa berbuat yang demikian lepaslah dia dari agama Allah, lepaslah dia dari Syari’at Allah, karena hal yang demikian itu bukan berasal dari tuntunan Dienullah.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Saudara-saudaraku seiman yang dirahmati Allah!

Sangat jauh berbeda antara kehendak Allah dan kemauan orang-orang yang mengikuti syahwatnya. Allah berkehendak menjelaskan syari’at-syari’at-Nya, perintah-perintah-Nya dan larangan-larangan-Nya dan berkehendak memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki atas jalan hidup yang benar dan menyelamatkan baik di dunia dan di akhirat yang telah ditempuh orang-orang Shaleh dan para Nabi terdahulu serta senantiasa menerima taubat hamba-Nya.

Sementara mereka yang larut dengan syahwatnya berkemauan memalingkan orang-orang beriman dari kebenaran, tersesat dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya.

يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمۡ وَيَهۡدِيَكُمۡ سُنَنَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ وَيَتُوبَ عَلَيۡكُمۡۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ ٢٦وَٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيۡكُمۡ وَيُرِيدُ ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلشَّهَوَٰتِ أَن تَمِيلُواْ مَيۡلًا عَظِيمٗا ٢٧

Artinya :

“Allah hendak menerangkan (hukum syari’at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para Nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran)”. (QS An-Nisa : 26-27)

Kejahatan yang besar adalah upaya-upaya menjauhkan umat Islam dari agamanya, melecehkan Islam, membantah dengan hujjah yang bathil untuk melenyapkan kebenaran (al Islam). Perhatikan !

وَمَا نُرۡسِلُ ٱلۡمُرۡسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَۚ وَيُجَٰدِلُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِٱلۡبَٰطِلِ لِيُدۡحِضُواْ بِهِ ٱلۡحَقَّۖ وَٱتَّخَذُوٓاْ ءَايَٰتِي وَمَآ أُنذِرُواْ هُزُوٗا ٥٦وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِ‍َٔايَٰتِ رَبِّهِۦ فَأَعۡرَضَ عَنۡهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتۡ يَدَاهُۚ إِنَّا جَعَلۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ أَكِنَّةً أَن يَفۡقَهُوهُ وَفِيٓ ءَاذَانِهِمۡ وَقۡرٗاۖ وَإِن تَدۡعُهُمۡ إِلَى ٱلۡهُدَىٰ فَلَن يَهۡتَدُوٓاْ إِذًا أَبَدٗا ٥٧

Artinya :

“Dan tidaklah Kami mengutus Rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyap kan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat Kami dan peringatan- peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan.

dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu Dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya”. (QS Al Kahfi : 56-57)

Sungguh perbuatan mereka tidaklah berdampak kecuali untuk diri mereka sendiri akibat dari mengolok-olok ayat-ayat Allah, berpaling dari kebenaran, tidak bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan, hati mereka tertutup, telinga mereka tersumbat, maka tidaklah sekali-kali mereka akan mendapat petunjuk selama-lamanya.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ma’asyirol muslimin haadakumullah!

Pemikiran-pemikiran menyimpang, gagasan-gagasan busuk seperti skenario-skenario jahat dan semacamnya bersumber dari syahwat yang tidak terkendali, hawa nafsu yang diperturutkan. Mengutip perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa:

إِذَا تَوَحَّدَتِ الشَّهْوَةُ وَالْغَفْلَةُ كَـوَّنَتَا أَصْلَ كُلِّ سُوْءٍ فِي النَّفْسِ الْبَشَرِيَّةِ وَإِذَا الْـتَـقَتِ الشُّبْهَةُ وَالشَّهْوَةُ وَالْغَفْلَةُ فَهِيَ مَصْدَرُ كُلِّ شَرٍّ

Artinya :

“Apabila syahwat berkumpul dengan kelalaian maka keduanya menjadi sumber segala keburukan dalam diri manusia. Dan apabila syubhat, syahwat dan kelalaian bertemu maka ketiganya menjadi sumber kejahatan”.

Oleh karena itu seharusnyalah kita sebagai orang-orang yang beriman selalu menjaga diri dari hal-hal yang demikian. Fainsya Allah dengan melaksanakan ibadah shoum dengan sebenar-benarnya kita akan terlatih mengendalikan diri sehingga tidak terjerumus ke jurang kebinasaan.

Rasul SAW sangat khawatir menimpa umatnya dari penyimpangan syahwat dan kesesatan hawa nafsu.

عَنْ أَبِيْ بَرْزَةَ الْأَسْلَامِيْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِيْ بُـطُوْنِكُمْ وَفُرُوْجِكُمْ وَمُضِلاَّتِ الْهَوَى

Artinya :

“Dari Abiy Barzah Al-Aslamiy radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Hanyasanya yang aku khawatirkan menimpa kalian adalah syahwat yang menyimpang dari keinginan perut dan kemaluan kalian serta kesesatan hawa nafsu”. (HR Ahmad dan Ibnu Hibban)

Upaya konkrit yang harus kita lakukan untuk menjaga diri dari skenario-skenario jahat kuffar wal munafiqin adalah setiap individu muslim hendaklah mengekang diri dari hal-hal yang mengarah kepada kemaksiatan kepada Allah, sabar dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya dan optimis/yakin bahwa Allah tidak akan menyalahi janji-Nya.

Ibnu Qoyyim bertutur : “Sesungguhnya sumber segala kejahatan adalah syubhat dan syahwat. Syubhat tidak dapat diredam kecuali dengan yakin. Dan syahwat tidak dapat ditolak kecuali dengan sabar, dan dengan perantaraan sabar dan yakin engkau dapat mencapai tingkatan imam fiddin.

وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ وَكَانُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ ٢٤

Artinya :

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami”. (QS As-Sajdah : 24)

Semoga apa yang kami sampaikan dalam khutbah Iedul Fithri ini dapat bermanfaat bagi kita semua, jikalau ada benarnya dalam khutbah, ini sungguh kebenaran datangnya dari Allah, dan jikalau ada salah dan kekurangannya, itu semata-mata karena dhaifnya diri kami sendiri.

Wallahu a’lam bish showab

 

—-o0o—-

 

DOA

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِيْءُ مَزِيْدَةً. اللّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وآلِ إِبْرَاهِيْمَ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

اَللَّهُمَّ أَعِنَّا وَلَا تُعِنْ عَلَيْنَا وَانْصُرْنَا وَلَا تَنْصُرْ عَلَيْنَا وَامْكُرْ لَنَا وَلَا تَمْكُرْ عَلَيْنَا وَيَسِّرْ هُدَانَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا

رَبَّنَا اجْعَلْنَا لَكَ شَاكِرِيْنَ، لَكَ ذَاكِرِيْنَ، لَكَ رَاهِبِيْنَ، لَكَ مُطِيْعِيْنَ، إِلَيْكَ مُجِيْبِيْنَ أَوْ مُنِيْبِيْنَ

رَبَّنَا تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا وَاغْسِلْ حَوْبَتَنَا وَأَجِبْ دَعْوَتَنَا وَثَبِّتْ حُجَّتَنَا وَاهْدِ قُلُوْبَنَا وَسَدِّدْ أَلْسِنَتِنَا وَاسْلُلْ سَحِيْمَةَ قُلُوْبِنَا

اَللّهُمَّ أَصْلِحْ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَخُذْ بِأَيْدِيْهِمْ إِلىَ سَبِيْلِكَ وَاجْعَلْ هَوَاهُمْ تَبَعًا لِمَا جَاءَ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ وَأَرْشِدْهُمْ إِلىَ مَا فِيْهِ صَلاَحُ اْلإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِينَ.

اَللّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَانْصُرِ اْلمُجَاهِدِيْنَ فىِ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ

اَللّهُمَّ فُكَّ أَسْرَى الْمُسْلِمِيْنَ اَللّهُمَّ عَلَيْكَ بِالْحُكَّامِ الطَّوَاغِيْتِ الْمُرْتَدِّيْنَ وَاْلكَفَرَةِ وَالْمُنَافِقِيْنَ وَالْخَائِنِيْنَ

اَللّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْيَهُوْدَ وَالنَّصرى

اَللّهُمَّ ارْحَمْناَ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَاجْعَلْهُ لَناَ إِمَامًا وَنُوْرًا وَهُدًى وَرَحْمَةً

 

Ya Allah penguasa Alam Semesta kekuasaan-Mu tak terbatas kasih sayang-Mu melebihi kasih sayang seorang ibu yang menyusui bayinya ampunan-Mu seluas langit dan bumi.

Hamba-hamba-Mu yang sedang berkumpul ditempat ini merengek menjerit memohon dan memanjatkan do’a kepada-Mu, kami yakin Engkau pasti mengabulkan untuk kami semua yang hina ini hamba-hamba-Mu yang sering bermaksiat kepada-Mu berlumuran noda dan dosa yang menghinakan.

Maka ampunilah ya Allah dosa-dosa kami semua minal Muslimin baik yang masih hidup maupun yang sudah tiada, kami bertaubat kepada-Mu dengan taubat yang sesungguhnya

Yaa Mujiibas saailin.

اَللّهُمَّ ذَكِّرْناَ مَا نَسِيْناَ وَعَلِّمْناَ مِنْهُ مَا جَهِلْناَ وَارْزُقْناَ تِلاَوَتَهُ آناَءَ اللَّيْلِ وَآناَءَ النَّهَارِ

رَبَّناَ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَناَ وَصَلاَتَناَ وَرُكُوْعَناَ وَسُجُوْدَناَ وَتَحْمِيْدَناَ وَتَسْبِيْحَناَ. رَبَّناَ آتِنَا فىِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفىِ اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

 

1 Syawal 1437 H

Markaziyah

Jama’ah Ansharusy Syari’ah

Jakarta

 

Khutbah Ied Prof. Dr. KH. Miftah Farid: “Membangun Masyarakat Madani dalam Spirit Kesucian”

Berikut salinan Khutbah Idul Fitri Ketua Umum MUI Kota Bandung, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Jabar cum Ketua Dewan Pembina Sinergi Foundation “Membangun Masyarakat Madani dalam Spirit Kesucian” yang sedianya akan disampaikan usai shalat Id di Masjid Al Ukhuwah, Bandung, pada 1 Syawal 1437 H.

Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh,

Pagi ini, dalam kepasrahan yang tulus dan total, kita hadapkan keseluruhan eksistensi diri kita ke hadapan Allah yang Maha Luhur, tidak lain untuk menyerahkan hasil perjalanan amal dan ikhtiar selama bulan Ramadhan yang baru saja kita lewati. Rasulullah, diikuti para sahabatnya, menangis ketika Ramadhan berakhir meninggalkan kehidupan. Rasulullah mempersonifikasi Ramadhan sebagai kekuatan jiwa yang dapat memperkaya spiritualitas, sekaligus membuka pintu kesempatan untuk merakit kebahagiaan.

Satu bulan penuh, kita lalui kehidupan dalam suasana puasa. Selama itu pula kita mencoba menjadi hamba seutuhnya, menjadi hamba-Nya secara kāffah, mengabdikan segenap potensi kemanusiaan yang dimiliki, untuk mewujudkan rasa iman atas ajaran yang Allah wajibkan. Dan pada saat itu pula, kita berusaha menjadi individu yang dapat saling memahami dengan sesama untuk mewujudkan rasa solidaritas dalam semangat ukhuwah Islamiyah. Sebab, meski puasa merupakan salah satu ajaran Islam yang fundamental, namun pesan, spirit dan nilainya sesungguhnya bersifat universal, dan bisa diapresiasi oleh pemeluk agama dan masyarakat manapun. Baik dalam kesamaan ataupun kebhinekaan..

Pada momentum Iedul Fitri inilah pada akhirnya kita dapat mengevaluasi diri, mawas diri, serta mengukur kualitas diri dalam keseluruhan amal yang kita lakukan, khususnya dalam melewati hari-hari Ramadhan yang penuh hikmah. Bersamaan dengan itu pula, saat ini dan di sini, kita tengah menghadapi perjalanan mewujudkan ruang kehidupan kita yang lebih baik, kehidupan yang lebih berperadaban, tatanan kehidupan yang idealnya menjelma dalam tatanan sosial politik baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Kota yang kita huni saat ini memang punya sejarah. Bukan saja sejarah perjalanan manusia, tapi juga sejarah yang menggariskan seribu kenangan dengan kebaikan yang sulit dilupakan, dengan moralitas para penghuninya yang membanggakan, mutu intelektualitas yang banyak menginspirasi, serta suasana alam yang penuh spirit surgawi. Sebuah anugerah Allah yang tak terhitung nilainya, amanah yang harus kita rawat bersama, agar tidak berbalik menjadi bencana alam ataupun derita kemanusiaan.

Agar ikhtiar ini tidak terjebak dalam lubang kemubadziran, pada hari yang fitri ini, ada baiknya kita renungkan sebuah teladan yang pernah dilalui Nabi beserta para sahabatnya. Masyarakat Muslim pertama yang dibangun oleh Nabi adalah sebuah komunitas unggulan, komunitas yang sarat dengan teladan kebajikan, yang kalau terus kita teladani, Insya Allah masih relevan untuk kondisi saat ini dan juga di sini. Tatanan masyarakat itu adalah sebuah prototipe ideal sesuai dengan zaman dan potensi yang dimilikinya.

Hadirin jamaah ied yang berbahagia,

Madinah yang biasa disebut juga Kota Nabi merupakan ekspresi cita-cita dalam spirit relijiusitas yang kuat, dengan tatanan fisik yang sarat nilai, sekaligus membuka ruang dinamika sosial dalam tatanan ukhuwah Islamiyah. Proses pembangunannya diawali dari peristiwa hijrah umat Islam, yaitu sebuah gerakan perubahan tatkala Rasulullah beserta umat yang setia bersamanya pindah dari Makkah ke Madinah. Dalam arus perubahan inilah, Rasulullah menemukan nilai-nilai profetik untuk memperkuat bangunan kota yang ditatanya untuk mewujudkan kehidupan yang penuh rahmat dan kebajikan. Disediakannya fasilitas sosial agamis untuk memberikan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan warganya. Bukan saja kebutuhan fisik material, tapi juga mental spiritual.

Langkah pertama yang dilakukan Nabi adalah membangun masjid yang difungsikan, selain sebagai tempat shalat berjamaah juga sebagai pusat pembinaan dan tempat silaturahmi umat. Inilah pilar utama yang disiapkan Nabi dalam membangun kota yang hingga saat ini tetap dikenal sebagai kota agamis, dengan tetap memelihara peradaban umat yang dihadapinya. Di sinilah posisi kearifan lokal untuk memperkuat syara. Dan sebaliknya, hadirnya spirit ajaran untuk membangun tatanan yang diinginkan, Gemah Ripah Repeh Rapih.

Di masjid beliau memberikan pembekalan ilmu, kearifan, keteladanan, membangun semangat dan budaya ukhuwah, tasamuh (toleransi), musawah (persamaan), ta’awun (gotong royong), malu berbuat salah, semangat kompetitif, yang pada gilirannya dapat mengiring semua warganya berbuat cerdas dalam semangat akhlakul karimah. Itulah sebabnya, menyempurnakan akhlaqul karimah menjadi missi utama diutusnya Rasulullah ke muka bumi ini.

Hadirin jamaah yang berbahagia,

Dalam mewujudkan misi suci yang diembannya itulah, di atas semangat profetik, Rasulullah memulai menata kehidupan dengan berpedoman pada ajaran. Melalui kebiasaan shalat berjamaah, beliau mendidik masyarakat. Membiasakan hidup bermasyarakat yang Islami, berperadaban, berkemajuan. Dalam shalat berjamaah, umat Islam dididik untuk memiliki budaya yang cerdas, terhormat, dan bertanggungjawab yang berkaitan dengan prinsip-prinsip etika memilih pemimpin, kepatuhan kepada pimpinan, etika mengoreksi pimpinan, dan bahkan cara mengganti pimpinan.

Inilah di antara isu penting dan sensitif yang seringkali membingkai kuat kehidupan politik masyarakat kita, yang apabila terlepas dari nilai-nilai moral agama, semuanya tidak menutup kemungkinan malah dapat mendorong tindakan-tindakan destruktif, tindak kekerasan, pelecehan satu sama lain, saling tidak menghargai, dan pada akhirnya terjebak pada iklim disintegrasi. Bukankah tatanan disintegratif itu merupakan kondisi yang sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya?Na’uzubillāhi min dzālik.

Karena itu, terlepas dari sisi-sisi adanya kesenjangan sejarah, bias kultural, ataupun jarak ideologis lainnya, usaha Rasulullah dalam membangun kota bermartabat yang dibingkai dalam spirit wahyu, yang hingga kini tetap menjadi magnet umat manusi seluruh dunia, saya kira masih tetap relavan untuk diteladani jika kita ingin membangun sekaligus memiliki rumah berkah yang disebut kota.

Fondasi utamanya tentu adalah taqwa. Alqur’an dengan tegas menyebut itu. “Seandainya penduduk suatu negeri, masyarakat suatu wilayah, warga suatu kota bertaqwa, maka pasti Allah akan menurunkan keberkahan dari langit dan menumbuhkan berkah dari bumi”. Kita tidak bisa mengukur kebahagiaan warga suatu tempat hanya dengan ukuran-ukuran fisik-material, sementara dimensi mental spiritualnya kita abaikan.

Untuk itu adalah pada tempatnya jika kita kembali mempertimbangkan langkah-langkah penting yang pernah dilakukan Rasulullah SAW dengan sahabat-sahabatnya. Langkah-langkah itu merupakan teladan penting bagi kita dalam membangun Bandung yang bermartabat yang sekaligus Bandung Juara, sebab langkah-langkah itu terbukti dalam sejarah merupakan fondasi penting dalam membangun masyarakat Madinah yang sarat dengan teladan sepanjang masa.

Prinsip penting lainnya yang menjadi pegangan utama Nabi adalah berpegang pada prinsip ukhuwah. Ukhuwah adalah salah satu potret penting dari masyarakat Madinah. Tidak ada diskriminasi, atas nama apapun. Tidak ada kompetisi yang tidak sehat, kecuali dalam bingkaiFastabiqul Khairat. Sejarah memperlihatkan dengan jelas warna pluralisme Madinah, tapi Nabi tetap sanggup merawatnya dalam spirit ajaran yang santun. Allah menciptakan pria wanita, suku bangsa bukan karena kemulyaan dan keunggulan golongannya, tapi lebih didasarkan pada pertimbangan ketaqwaannya. (Q.S. Al Hujurat: 13).

Perbedaan pendapat harus menjadi rahmat untuk tumbuhnya semangat kritis dan semangat kompetitif. Semua orang mukmin adalah bersaudara. Diantara orang mu’min harus dibudayakan ishlah, tabayyun, tidak boleh terjadi sikap memperolok-olokan (taskhiriah), melecehkan, menghina, memanggil orang lain dengan panggilan yang menyakitkan, buruk sangka, mencari-cari kesalahan orang lain, membuka aib orang lain (ghibah). -Al Hujurat, 8-12). Orang muslim itu ialah apabila orang lain selamat dari gangguan lidah dan gangguan anggota badannya. Al muslimu man salimal muslimun min lisanihi wayadihi (Al Hadits).

Beliau membangun keakraban dan persahabatan antara Ansor dan Muhajirin, antara Qobilah satu dengan Qobilah yang lain, antara tokoh masyarakat, antara kaya dan yang miskin. Beliau bangun kesepakatan dan dialog dengan masyarakat penganut agama lain. Tidak ada paksaan dalam beragama. Masing-masing harus siap dan sepakat dalam perbedaan (Lakum Dinukum Waliadin). Dan semua penganut agama berkewajiban untuk menjaga keutuhan dan keberadaan Madinah.

Melalui gerakan dakwah yang dilakukannya beliau memantapkan umat untuk memiliki semangat dan jiwa tauhid. Bahwa yang patut disembah hanya Allah. Bahwa Allah adalah Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Menghitung, Maha Mengawasi. Bahwa kekayaan, kedudukan, kemulyaan sepenuhnya milik Allah SWT. Yang atas Qudrah dan Iradahnya ada yang diberikan kepada manusia yang berfungsi sebagai anugerah kasih sayang-Nya, sekaligus sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan serta sebagai ujian keimanan dan kehidupan.

Selanjutnya Nabi juga melakukan pemantapan sikap tauhid yang utuh dan sempurna. Dengan semangat tauhid diharapkan manusia menjadi orang yang ikhlas, tekun, sabar, tawadlu . Beliau mendidik masyarakat yang tidak hanya rajin beribadah tapi juga memiliki tanggung jawab sosial. Untuk meneladani salah satu watak positif, kerja keras, dapat kita temukan dalam pesan-pesan belaiu sebagai berikut:

  • Usaha yang paling utama adalah jual-beli yang baik dan kerja seseorang dengan tangannya (Hr. Al-bazzar dan Ahmad).
  • Tidak ada makanan yang lebih baik bagi seseorang, selain dari apa yang dihasilkan oleh karya tangannya sendiri (Hr. Bukhari).
  • Sesunggunya Allah Ta’ala senang melihat hamba-Nya yang penat karena sibuk dalam mencari rizki (Hr. Thabrani).
  • Barangsiapa yang pada malam hari kepayahan karena mencari rizki yang halal, maka dosanya diampuni (Hr. Ibn Asakir).
  • Apabila selesai shalat Shubuh janganlah kalian tidur lagi sampai tidak mencari rizki (Hr. Thabranui dan Dailami).
  • Pebisnis yang benar dan jujur akan bersama para Nabi, orang-orang shaleh dan syuhada (di Yaumil Qiyamah)(Hr. Tirmidzi, Hakim dan Ibnu Majah).
  • Barangsiapa yang pada sore hari kepayahan karena kerja tangannya, maka dosanya diampuni.(Hr. Thabrani).
  • Allah sangat mencintai orang-orang Mu’min yang gemar bekerja keras dalam usaha mencari nafkah. (Hr. Thabrani dan Baihaqi).

Hadirin jamaah ied yang berbahagia,

Selain pesan-pesan kebaikan seperti disebutkan di atas, beberapa pesan Nabi yang juga sangat penting untuk kita amalkan agar kita menjadi umat yang unggul, yang juara, yang kompetitif, antara lain:

  1. Nabi berpesan: Sebaik-baik kamu adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain.
  2. Beliau berpesan: Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin, kalau hari ini sama dengan hari kemarin berarti rugi dan apabila hari ini lebih jelek dari kemarin adalah musibah.
  3. Nabi SAW berpesan: Orang yang memberi lebih baik daripada orang yang diberi.
  4. Allah mencintai hamba-hambaNya yang apabila mengerjakan sesuatu ia kerjakan dengan penuh kesungguhan dan ketekunan.
  5. Dalam menghadapi musibah beliau berpesan: Orang mukmin itu kalau terperosok di sebuah lubang cukup satu kali dan ia boleh bilang itu musibah dan taqdir Allah. Tapi kalau ia terperosok dalam lubang yang sama berkali-kali itu adalah bodoh, tidak cerdas

Nabi juga berbesan untuk tetap berhati-hati dalam bersikap hasad dan hikdu (iri). Sebab al-Hasad dan al-Hikdu (iri), itu bisa menghapus pahala ibadah shalat dan ibadah lainnya. Kecuali dalam 3 hal: (1) Orang lain berilmu dan kita ingin melebihinya, (2) Orang lain beramal shaleh dan kita ingin melebihinya, dan (3) Orang lain banyak bersidkah dan kita ingin melebihinya. Inilah semangat kompetitif (Fastabiqul Hoirot) yang perlu terus kita pelihara terutama untuk membangun warga yang kompetitif, termasuk warga Bandung yang tengah berpacu untuk menjadi juara.

Terakhir saya ingin mengakhiri khutbah ini dengan menggarisbawahi 4 (empat) pesan Nabi diawal membangun masyarakat Madinah yang sangat penting untuk membangun keharmonisan dan sekaligus keunggulan hidup bermasyarakat. Pesan Nabi itu adalah: Ufsyussalam, Wasilul Arham Wat’imutto’am Wasollubillaili Wannasuniyam. Tebarkan salam kesantunan; Bangun silaturahmi dan persaudaraan; Wujudkankepedulian sosial, tolong orang lain yang mendapat kesulitan ekonomi; dan Biasakan shalat malam, pada saat orang-orang sedang tidur.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd.

Saat ini kita baru saja selesai melewati kewajiban menjalankan ibadah puasa. Kita seharusnya dapat memetik ketaqwaan sebagai hasil yang paling besar dari proses transendensi ibadah puasa. Kita seharusnya berhasil menjadi manusia utuh dan bermartabat sesuai karakter yang relevan dengan tuntutan syari’at dan masyarakat. Sebab seperti diisyaratkan al-Qur’an, kita adalah para pewaris manusia unggul yang pernah menerima kewajiban berpuasa untuk meraih ketaqwaan yang serupa.

Yā ayyuha al-ladzīna āmanū kutiba ‘alaikum al-shiyāmu kamā kutiba ‘ala al-ladzīna min qablikum la’allakum tattaqūn… (QS, al-Baqarah: 183)

Begitu santun Allah menunjukkan jalan menuju taqwa melalui proses puasa. Jika kesadaran kolektif yang menjadi target proses pembelajaran dari ibadah puasa dapat diraih setiap Muslim, maka saya yakin, tidak akan ada lagi tindak penyalahgunaan wewenang dengan alasan kesalahan prosedur, kekeliruan administratif, dan alasan-alasan memalukan lainnya.

***

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd.

Akhirnya, untuk memelihara buah Ramadhan yang Insya Allah telah berhasil kita petik, sekecil apapun, marilah kita perkokoh kembali kesabaran kita untuk tetap sanggup menahan diri, sesuai dengan misi utama puasa Ramadhan. Pada tataran ideal, berpuasa bukan hanya menahan diri dari syahwat yang bersifat fisik, tetapi juga menjaga suasana hati dan bathin dari perilaku rendah, materialistis, dan destruktif.

Marilah kita perkuat harapan ini dengan sejenak merundukan kepala. Kita bersihkan hati untuk bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla. Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan iman dan keperkasaan diri, untuk senantiasa sanggup menjalankan setiap titah-Nya dan menjauhi segala yang dilarang-Nya.

Ya Allah yaa Mujibassailin,

Kami sadar kalau kami belum sempurna menjadi hamba-Mu seperti yang Engkau inginkan

Tapi kami tetap ingin setiap langkah kami senantiasa mendapat Ridla-Mu

Kami masih sering gelap menemukan jalan menuju ampunan-Mu

Padahal betapa banyak kealfaan yang kami lakukan

Kami malu meminta kepada-Mu di tengah kelalaian dalam menegakkan ajaran-Mu

Sementara rasa takut akan murka-Mu pun tak pernah berhenti menyelimuti kami

Karena itu kami mohon wahai Tuhan Yang Maha Pemberi,

Limpahkan kepada kami kecintaan dan ampunan-Mu

Taburkan pula kepada ibu-bapak kami seluruh rahman dan rahim-Mu

Agar kami dapat memperbaiki amal dan ibadah kami

Agar ke depan kami tetap terpelihara bersama hamba-hamba-Mu yang shalih

Agar tidak ada lagi kegelisahan yang dapat memenjara kehidupan kami

Ya Allah Ya Rabbana,

Dalam menempuh perjalanan usia yang kian menepi ini, kami tidak ingin berujung dalam kekufuran ataupun ketakaburan.

Agar seluruh napas yang kami hembuskan selalu memancarkan pesan tauhidullah,

Agar setiap langkah yang kami kerjakan selalu memberikan warna tauhidul ummah,

Agar keseluruhan hidup yang kami jalani ini senantiasa menjadi amal ibadah.

Untuk itu wahai Tuhan Rabbul ‘Izzati,

Hindarkan kami dari tindakan menyekutukan-Mu dengan cara dan alasan apapun

Hindarkan kami dari sikap dan perilaku permusuhan di antara sesama kami

Hindarkan kami dari kebiasaan menyia-nyiakan waktu untuk mengabdi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Tuhan Yang Maha Ghafur,

Janganlah Engkau hukum kami lantaran kami lupa atau kami tersalah.

Ya Allah janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat, sebagaimana Engkau telah bebankan kepada orang-orang sebelum kami.

Ya Allah janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak sanggup memikulnya.

Maafkanlah kami

Ampunilah kami

Rahmatilah kami

Engkau-lah penolong kami,

Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.

Ya Allah Yang Maha Rahiem,

Jadikan ramadhan dan iedul fitri ini sebagai momentum pengampunan bagi kami

Pertemukan kembali kami dengan bulan yang penuh maghfirah ini

Jangan Engkau jadikan ramadhan tahun ini ramadhan yang terakhir bagi kami

Tapi sekiranya Engkau jadikan ramadhan tahun ini yang terakhir bagi kami

Maka gantilah dengan sorga-Mu untuk kami.

Ampunilah dosa kami, dosa ibu dan bapak kami

Taburkanlah benih-benih keimanan pada kami.

Terimalah rintihan ini wahai Tuhan Yang Maha Mendengar

Kabulkan segala permintaan kami wahai Tuhan Yang Maha Pemberi ..

Aamiin ya Rabbal ‘alamiin

 

 

Bandung, Idul Fitri 1 Syawal 1437 H

 

 

Prof. Dr. KH. Miftah Faridl

Ketua Umum MUI Kota Bandung, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Jabar, Ketua Dewan Pembina Sinergi Foundation

Bantah Pernyataan Siti Masrifah, Mustofa Nahrawardaya: Ibu Itu Tidak Paham

Mustofa B Nahrawardaya
Mustofa B Nahrawardaya

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengamat Terorisme Mustofa Nahrawardaya mengecam pernyataan anggota Komisi IX DPR Siti Masrifah yang melarang kaum muslimin untuk memberikan zakat kepada keluarga korban Densus 88. Menurut Mustofa, hal itu menunjukkan bahwa anggota DPR tersebut tidak paham hukum.

“Apa kesalahan keluarga maupun anak-anak terduga teroris maupun keluarga teroris sekalipun? Jadi, kalau ada anggota parlemen berbicara seperti itu, saya yakin (dia) tidak paham hukum sehingga harus belajar hukum di fakultas hukum,” ujar Mustofa B Nahrawardaya kepada wartawan, Kamis (30/6/2016).

Baca juga: Ketua MUI: Zakat Itu Hak Fuqara Masakin

Melihat pernyataan yang tidak dilandaskan dengan hukum tersebut, Peneliti Indonesian Crime Analyst Forum memandang bahwa efek dari pemberantasan terorisme menghasilkan korban, yaitu keluarga (istri dan anak-anaknya). Suaminya yang diberantas, istri dan anak-anaknya menjadi terlantar.

“Padahal, yang diberantas belum tentu teroris,” katanya.

Lebih lanjut, anggota Majelis Pustaka dan Informatika PP Muhammadiyah Mustofa B Nahrawardaya juga mempertanyakan nasib keluarga korban pemberantasan terorisme.

“Siapa yang membiayai keluarga itu kalau tidak ada yayasan yang menghidupi mereka? Oleh karena itu, mestinya negara memberikan penghargaan atau apresiasi kepada kelompok masyarakat yang membantu mereka,” tuturnya.

Karena katanya, selama ini selain kelompok masyarakat yang mengurusi keluarga terduga teroris ataupun keluarga teroris sekalipun, tidak ada yang mengurusi mereka.

“Siapa yang mengurusi mereka? Memangnya negara mau mengurusi umat Islam?” tanya dia.

Baca juga: Larangan Zakat dan Stigma Negatif “Keluarga Teroris” Bisa Menebar Kebencian Baru

Jadi, lanjutnya, kalo ada kelompok masyarakat yang mengumpulkan zakat untuk mereka justru harus diberikan apresiasi, saya yakin orang yang bicara ini tidak paham soal masalah itu.

“Jadi, jangan mencoba membentur-benturkan sesuatu yang tidak penting padahal pada intinya ibu itu tidak paham.” tandasnya.

Kontributor: DP | Editor: Ally Muhammad Abduh

Larang Zakat, FPI Nilai Siti Masrifah Hanya Cari Muka

Ketua Umum DPP FPI, Shabri Lubis
Ketua Umum DPP FPI, Shabri Lubis

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum DPP Front Pembela Islam (FPI) Shabri Lubis membantah pernyataan kontroversial anggota DPR komisi IX, Siti Masrifah. Beberapa waktu lalu, anggota DPR Fraksi PKB itu menyatakan umat Islam jangan menyalurkan zakat ke keluarga teroris.

“Itu orang hanya cari muka. Kalau keluarga teroris itu fakir miskin ya berhak menerima,” kata Shabri kepada wartawan, Kamis (30/6/2016).

Shabri menyatakan kalau mereka (keluarga teroris, -red) kaya raya, baru tidak berhak menerima zakat.

“Sebenarnya tidak berhak siapapun untuk menghukum orang lain. Kalau yang salah bapaknya misalnya, kita jangan ikut menyalahkan keluarganya,” ujarnya.

Seperti diketahui, anggota DPR dari fraksi PKB meminta masyarakat agar jangan memberikan zakat kepada pihak yang diragukan seperti keluarga teroris.

Kontributor: AW | Editor: Ally Muhammad Abduh

MUI Tegaskan Zakat Boleh Dibagikan Kepada “Keluarga Teroris”

Ketu MUI Pusat, KH Ma'aruf Amin
Ketu MUI Pusat, KH Ma’aruf Amin

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pernyataan kontroversial Anggota Komisi IX DPR, dari Fraksi PKB Siti Masrifah yang melarang umat Islam untuk memberikan zakat kepada keluarga teroris, ditanggapi serius Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Ma’ruf Amin.

Menurut Rais Amm Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu, zakat wajib diberikan kepada para mustahiq (yang berhak), tanpa harus mempersoalkan latarbelakang. Misalnya keluarga ‘teroris’ berstatus fakir miskin dibolehkan diberi zakat.

“Zakat diberikan kepada siapa pun. Apalagi ini zakat fitrah, untuk kebutuhan makanan di Hari Raya. Jangan dipersoalkan latar belakang. Zakat itu hak fuqara masakin, hak orang miskin dengan latar belakang apa pun,” ujar Kyai Ma’ruf kepada wartawan di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Jumat (1/7/2016) siang.

Selain itu, Kiai Ma’ruf, pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini melanjutkan bahwa label keluarga teroris tidak bisa disematkan kepada seluruh anggota keluarga yang kepala keluarganya melakukan tindakan terorisme.

“Masyarakat tidak boleh melakukan stigmatisasi kepada anggota keluarga yang tidak melakukan tindakan terorisme,” imbuhnya.

Pernyataan Kiai Ma’ruf ini menyikapi Anggota Komisi IX DPR, dari Fraksi PKB Siti Masrifah, yang melarang kaum muslimin untuk memberikan zakat kepada keluarga teroris.

“Kita tak perlu menyalurkan zakat ke pihak yang diragukan seperti keluarga teroris yang dianggap syuhada,” kata Masrifah, di Jakarta, sebagaimana dikutip Antara, Selasa (28/6/2016).

Sumber: voa-islam | Editor: Ally Muhammad Abduh

Pemuda Muhammadiyah Imbau Lembaga Zakat Tak Perlu Ragu Bantu Keluarga Terduga Teroris

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dr Dahnil Anzar Simanjuntak, SE, ME
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dr Dahnil Anzar Simanjuntak, SE, ME

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dr Dahnil Anzar Simanjuntak, SE, ME, mengimbau kepada lembaga zakat untuk membantu para keluarga terduga maupun tersangka terorisme.

Sehingga tak perlu menghiraukan adanya pernyataan tak berdasar dari salah seorang Anggota DPR RI yang melarang penyaluran zakat bagi mereka.

“Kita kan ingin mengembangkan toleransi beragama dan menebarkan Islam yang damai, tapi nanti tidak akan terwujud jika pernyataan-pernyataan kebencian itu muncul,” kata Dahnil Anzar kepada wartawan, Sabtu (2/7/2016).

Zakat dan moment hari raya Idul Fitri, menurut Dahnil, adalah saat yang tepat untuk membantu para keluarga tersebut.

“Imbauan saya, siapapun asnaf itu harus dibantu, itu wajib. Momentum Idul Fitri ini adalah momentum yang baik untuk melakukan pemberdayaan ekonomi, charity, berbagi. Para keluarga terduga, tersangka terorisme itu kan korban juga sebenarnya, mereka harus dibantu. Umat Islam para muzakki wajib itu membantu mereka untuk menyalurkan zakatnya, bila mereka ini faqir, miskin atau termasuk dalam delapan asnaf tadi,” ungkapnya.

Dengan demikian, ia berharap lembaga zakat tak perlu ragu lagi menyalurkan zakatnya untuk kaum Muslimin yang berhak, apa pun latar belakangnya.

“Tidak perlu ragu, bahkan harus, fardhu ‘ain itu membantu mereka. Dengan memberikan zakat kepada mereka itu justru akan membantu mereka keluar dari stigma terorisme dan menghapus kebencian dari kelompok lain. Sehingga di lingkungan sosial mereka bisa hadir dan tidak dikucilkan,” tandasnya.

Kontributor: AW | Editor: Ally Muhammad Abduh

Dahnil Anzar: Dakwah itu Merangkul Bukan Menendang

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dr Dahnil Anzar Simanjuntak, SE, ME
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dr Dahnil Anzar Simanjuntak, SE, ME

JAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dr Dahnil Anzar Simanjuntak, SE, ME, meminta umat Islam agar bersikap bijak dalam masalah terorisme.

Menurutnya, larangan menyalurkan zakat dan memberi stigma negatif keluarga terduga atau tersangka pelaku terorisme, bisa menimbulkan kebencian baru.

Hal itu menyusul sikap Anggota Komisi IX DPR, dari Fraksi PKB Siti Masrifah, yang melarang kaum muslimin untuk memberikan zakat kepada keluarga teroris.

Baca ini: Anggota DPR Larang Zakat untuk Keluarga Teroris, Ini Tanggapan Komnas HAM

Ia menyampaikan, para keluarga pelaku sejatinya merupakan obyek dakwah. Di mana dalam Islam, dakwah harus dilakukan dengan hikmah.

“Dakwah itu menebar kasih, menebar kebaikan. Mereka harus dirangkul supaya mereka bisa hidup lebih baik dan berdampingan dengan masyarakat. Dakwah itu harus merangkul bukan menendang, dakwah itu harus membangun jembatan bukan membangun tembok,” kata Dahnil Anzar kepada wartawan, Sabtu (2/7/2016).

Maka tak ada salahnya menyalurkan zakat kepada keluarga terduga, sebagai bentuk kepedulian. Bahkan itu merupakan hal positif.

“Melalui zakat itu momentum positif memberikan kepedulian kepada mereka, sehingga mereka merasa bagian dari umat Islam,” ujarnya.

Baca juga: Larangan Zakat dan Stigma Negatif “Keluarga Teroris” Bisa Menebar Kebencian Baru

Namun realitanya sangat dilematis, di satu sisi negara tidak hadir merangkul para keluarga terduga, tapi di sisi lain, bila ada lembaga sosial yang hendak membantu malah dikaitkan dengan terorisme.

“Inilah perspektif keliru dalam penanganan terorisme di Indonesia,” tandasnya.

Kontributor: AW | Editor: Ally Muhammad Abduh

Larangan Zakat dan Stigma Negatif “Keluarga Teroris” Bisa Menebar Kebencian Baru

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dr Dahnil Anzar Simanjuntak, SE, ME
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dr Dahnil Anzar Simanjuntak, SE, ME

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dr Dahnil Anzar Simanjuntak, SE, ME, menjelaskan bahwa siapa pun yang termasuk dalam delapan ashnaf, wajib diberikan zakat.

Ia mengutip Firman Allah dalam Al Qur’an Surat At Taubah ayat 60.

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk (1) orang-orang fakir, (2) orang-orang miskin, (3) amil zakat, (4) para mu’allaf yang dibujuk hatinya, (5) untuk (memerdekakan) budak, (6) orang-orang yang terlilit utang, (7) untuk jalan Allah dan (8) untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah: 60).

“Semua, umat Islam yang masuk dalam delapan asnaf itu mustahiq (berhak) memperoleh zakat, apapun latar belakang mereka,” kata Dahnil Anzar kepada wartawan, Sabtu (2/7/2016).

Selain itu, Dahnil juga meminta agar keluarga terduga atau tersangka pelaku, tidak dilabeli dengan stigma negatif dan diperlakukan diskriminatif. Sebab, pihak keluarga belum tentu tahu, apalagi terlibat dalam kasus terorisme.

“Soal stigma keluarga teroris, bisa jadi yang terlibat dalam terorisme itu adalah anggota keluarga, tapi kan belum tentu semua keluarganya atau keluarganya tidak terlibat. Menghukum mereka yang sama sekali tidak paham dengan terorisme dengan memberikan stigma kepada mereka, itu justru bukan sikap yang bijak,” jelasnya.

Baca juga: Dahnil Anzar: Dakwah itu Merangkul Bukan Menendang

Ia menambahkan, bila stigma negative dan perilaku diskriminatif itu terjadi, justru akan menimbulkan kebencian baru.

“Itu justru bisa menebar kebencian kalau keluarga yang tidak tahu apa-apa -hanya karena perilaku suami atau anaknya- tapi mereka kena imbasnya. Itu akan membuat mereka merasa kelompok lain membenci mereka dan bisa mendorong terorisme baru,” tegasnya.

Pernyataan Dahnil Anzar tersebut, menyikapi Anggota Komisi IX DPR, dari Fraksi PKB Siti Masrifah, yang melarang kaum muslimin untuk memberikan zakat kepada keluarga teroris.

“Kita tak perlu menyalurkan zakat ke pihak yang diragukan seperti keluarga teroris yang dianggap syuhada,” kata Masrifah, di Jakarta, sebagaimana dikutip Antara, Selasa (28/6/2016).

Kontributor: AW | Editor: Ally Muhammad Abduh