Taman Rusak dan Sampah Berserakan di PBTI

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Taman-taman di sekitar lokasi Parade Bhinneka Tunggal Ika (PBTI) rusak. Aksi itu digelar di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Sabtu (19/11/2016). Setidaknya, ada 3 titik taman yang rusak.

Pantauan wartawan Jitu Islamic News Agency, kerusakan pertama ada di sekitar kawasan Patung Kuda dan 2 titik lainnya di kawasan taman Monas.

Di taman Patung Kuda terlihat massa PBTI duduk-duduk serta berdiri-diri di atas rumput dan bunga. Ada yang berbaring, ada juga yang menduduki tali pagar pembatas taman. Kondisi serupa juga terjadi di dua titik taman yang rusak lainnya.

Selain itu, sampah-sampah berserakan di lokasi utama aksi di kawasan Patung Kuda dan Monas. Sampah itu berupa poster, kardus bekas, kertas-kertas, botol dan gelas plastik, pembungkus makanan serta banyak lagi.

Massa tampak membiarkan sampah-sampah itu berserakan. Sejauh pengamatan kami, tidak terlihat massa yang mengumpulkan atau membersihkan sampah-sampah itu. Massa lebih memilih untuk bercengkerama dan fokus melihat panggung utama.

Diakhir acara massa tampak bergegas pulang meninggalkan sampah-sampah yang berserakan. Kemudian, petugas kebersihan tampak membersihkan sampah-sampah di lokasi itu.

Sebelumnya, disela-sela aksi terlihat seorang ibu yang mencari anaknya yang hilang. Ibu yang berasal dari daerah Kapuk, Jakarta Utara itu tampak bingung dan segera melapor kepada panitia setempat.

“Bapa-bapa Ibu-ibu ada yang melihat anak kecil yang hilang?” tanya seorang panitia kepada massa disekitarnya.

Namun, selang setengah jam anak kecil itu ditemukan dan langsung diberikan kepada Ibunya.

Reporter: Muhammad Fajar/JituIslamicNewsAgency

Tanaman bunga diduduki
Tanaman bunga diduduki

 

Pagar pembatas taman di duduki
Pagar pembatas taman di duduki

Mahkamah Syariah Ansharusyariah: Aksi 411 Patut Disyukuri dengan Menjaga Semangat Jihad

TANGERANG (Jurnalislam.com) – Perkataan Jihad sudah dipakai sejak zaman Nabi Muhammad Saw saat di zaman dakwah Mekkah. Hal itu disampaikan ketua Mahkamah Syariah Ansharusyariah, Ustadz Muzayyin lantaran masih banyaknya umat Islam yang masih asing dengan kata itu.

“Pada Zaman Nabi di Mekkah, Nabi menggunakan bahasa Jihad Akbar kepada umatnya di setiap amalannya,” katanya dalam seminar Ilmiyah “Panduan Praktis dalam Menyikapi Hukum Positif” di Masjid Jami Al Ukhuwwah, Karawaci, Tangerang, Ahad (20/11/2016).

Ia menilai, banyak dari berbagai kalangan menyebut aksi 411 dengan Jihad Konstitusi, Jihad Lisan dan lain lain pantas disematkan pada aksi yang dihadiri 2 jutaan orang itu.

“Aksi 411 patut disyukuri dengan menjaga semangat jihad dari jutaan umat Islam itu. Juga menjaga jumlah umat Islam agar tidak berkurang, harus ditambah (pada aksi bela Islam III),” ujarnya.

Pengasuh ponpes Al Mukin, Ngruki, Solo itu memaparkan, umat Islam masih bingung dengan makna jihad. Mereka memahami jihad konstitusi yang diusung pada aksi 411 tidak bersumber dari Islam.

“Ini namanya gagal paham. Beribadah itu ada saatnya tidak penting sebuah kata. Tapi lebih kepada makna dan apa yang dikerjakan,” terangnya.

Untuk itu, jihad lisan memerlukan sebuah konsep yang tersusun dengan rapih. Membangun ukhuwah (tali persaudaraan –red), menggalang massa dengan banyak sampai pengadaan advokasi.

“Bangun ukhuwah, membangun opini (pilih isu sentral /kunci konflik), bangun kerjasama (mengatur konflik), galang masa sebanyak-banyaknya (seperlunya), agar aksi damai terkendali dan mendapatkan realisasi dan aktualisasi dari Quran surat Al Anfal : 60,” pungkasnya menutup materi.

Ansharusyariah Gelar Seminar Ilmiah “Panduan Praktis dalam Menyikapi Hukum Positif”

TANGERANG (Jurnalislam.com) – Jamaah Ansharusyariah wilayah Jakarta menggelar dauroh bertajuk “permasalahan berhukum kepada pemerintah dalam kondisi darurat ” di Masjid Jami Al Ukhuwwah, Karawaci, Tangerang, Ahad (20/11/2016). Menghadirkan pemerhati dunia Islam, Ustadz Fuad Al Hazimi.

“Ini adalah panduan praktis bagi kaum muslimin dalam berinteraksi kepada hukum positif ketika hukum syariat Islam belum tegak,” katanya membuka paparan materi.

Dauroh itu digelar bertujuan untuk menjawab keraguan umat Islam dalam aksi bela Islam II beberapa waktu lalu. Sebab, tidak sedikit dari umat Islam yang belum mengetahui apa hakikat aksi pembelaan al Qur’an itu.

“Ini adalah jihadul kalimah, memperjuangkan Islam melalui kalimat. Itu tidak mengapa, pada zaman salaf dulu pernah dicontohkan,” paparnya menjelaskan.

Ia mencontohkan, setidaknya ada 4 kritik pada zaman salaf yang dilontarkan di depan umum terhadap gubernur Damaskus. Ini menunjukan zaman salaf pernah berunjuk rasa seperti aksi 411 itu.

“Masyarakat waktu itu memprotes dan mengkritisi gubernur kepada khalifah Umar bin Khottob. Umat memanggil gubernur itu berkat kritikan yang diperolehnya dan diketahuilah alasan mengapa mereka berbuat itu,”

“Itulah yang harus dibahas oleh umat Islam,” tambahnya.

Namun, kata dia, bukan berarti umat Islam rela dan ridho terhadap hukum positif, ini merupakan tindakan yang paling memungkinkan untuk menolong agama Islam.

“Ini adalah keadaan darurat. Masa kita rela untuk berdiam diri ketika agama sedang dinistakan?. Ini bukan berhukum kepada mereka, ini adalah keadaan darurat karena hukum syariat belum tegak,” terangnya mengimbau peserta.

Pimpinan pondok Tahfidz An Nahl Magelang itu menyatakan, umat Islam sekarang untuk tidak terlalu berfikir keras tentang masalah ini. Sebab, persatuan dan kesatuan umat Islam dibutuhkan saat ini.

“Kalau bisa orang-orang Nasionalis dan yang lain diajak untuk membela Islam. Ini dapat menjadi momentum untuk persatuan umat Islam, kita harus menjaga semangat ini, bukan saatnya berdebat !” pungkasnya.

Ratusan Jamaat Memenuhi Masjid
Ratusan Jamaah Memenuhi Masjid

 

‘Janji Palsu’ di PBTI, dari Konser Iwan Fals dan Slank Hingga Istighotsah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Salah satu peserta Parade Bhinneka Tunggal Ika, Putra (24) mengungkapkan penyesalannya berpartisipasi dalam acara tersebut. Awalnya Putra berniatnya untuk menonton konser Iwan Fals dan grup Band Slank seperti dijanjikan panitia. Kenyataannya, Putra hanya disuguhi tari-tarian dan musik daerah.

“Saya dijanjikan nonton OI dan Slank tapi adanya cuma begitu, cuma muter-muter aja,” ujarnya kepada Jurniscom di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Sabtu (19/11/2016).

PutraPutra mengaku tidak tahu menahu inti dari parade tersebut, niatnya hanya ingin menyaksikan artis dan grup band kesukannya.

“Kita merasa kecewa, datang jauh-jauh, ditunggu-tunggu ga ada,” ungkap pria yang mengaku dipanggil Batak ini.

Tidak hanya Putra, sekelompok ibu-ibu pengajian yang datang dari Tanjung Priok juga merasa kecewa. Mewakili kelompoknya, Ita (45) mengaku diajak untuk mengikuti Istighotsah di Gelora Bung Karno, Senayan. Tapi Ita dan teman-temannya ternyata diturunkan di Kawasan Patung Kuda.

“Tadi kita dibilanginnya istighotsah, jadi kita pada mau ngikut. Ternyata nyampe sini mana istighosahnya,” ujar Ita kesal.

Akhirnya, Ita bersama kelompok pengajiannya hanya berdiam diri di jalanan sekitaran Monas. Bukan istighotsah yang ia ikuti, tapi lantunan lagu daerah yang menyasar ditelinganya.

Pengakuan serupa diutarakan seorang ibu berbaju putih yang tak mau menyebut namanya. Ia tak sungkan untuk mengutarakan kekecewaannya yang merasa ditipu oleh orang yang mengaku kordinator acara tersebut.

“Saya mendadak dapat informasinya, iming-imingnya istighotsah memakai baju putih semua. Pagi-pagi itu menyiapkannya, tapi gak ada,” tutur seorang wanita yang tidak ingin disebut namanya.

Reporter: Muhammad Fajar

Ibu-ibu Tj. Priok Ini Dibohongi Pakai Acara Istighosah dalam Parade Bhinneka Tunggal Ika

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sungguh malang nasib ibu-ibu dari Tanjung Priuk ini. Niatnya untuk berdoa dalam acara istighosah pupus lantaran dibohongin oleh orang dekat rumahnya.

“Tadi kita dibilanginnya istighosah, jadi kita pada mau ngikut. Ternyata nyampe sini mana istighosahnya,” ujar Ita, (45 tahun), salah seorang ibu rumah tangga.

Ia mengaku dijanjikan untuk diikutkan dalam acara sebuah acara istighosah hari ini, Sabtu (19/11). Namun, bukannya lafal kalimah tayyibah yang didengar, justru alunan musik tak jelas yang mampir di telinganya.

Dengan raut muka kecewa, Bu Ita menceritakan bahwa orang tersebut akan membawanya ke Gelora Bung Karno. Namun ia justru diturunkan di areal Patung Kuda, tempat parade Bhinneka Tunggal Ika dilangsungkan.

“Istighosah gitu katanya di Gelora bilangnya. Tahu-tahunya lho kok sampai sini naik mobilnya. Katanya di gelora, kan masih jauh,” tuturnya kepada JITU Islamic News Agency.

Ia mengatakan masih belum jelas untuk acara apa ia diturunkan di tempat itu. Apakah ikut istighosah atau acara tandingan aksi bela Islam 4 November lalu.

“Ngelihatnya ya gak jelas sih. Tujuannya juga kurang jelas. Masalahnya kita dari awal saja usah dibohongin.

Awalnya aja sudah gak baik, ya nggak tahu deh belakang-belakangnya mau dijadikan apaan gak tahu,” katanya dengan pasrah.

Lebih sedihnya lagi, Bu Ita mengaku harus meninggalkan kerjaan di rumah untuk acara istighosah yang dijanjikan. “Ternyata sampai sini kayak begini doang gak jelas. Gak ada doa-doanya sama sekali. Malah nyanyi-nyanyi,” imbuhnya.

Orang yang menjemputnya, kata dia, berjanji untuk mengantar pulang pukul setengah dua belas siang. Saat diwanti-wanti apakah akan diikutkan hingga akhir acara, ibu ini berharap tidak.

“Mudah-mudahan enggak ya,” pungkasnya.

Seperti diketahui, hari ini sejumlah orang mengikuti parade Bhinneka Tunggal Ika di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat. Acara diisi dengan berbagai hiburan untuk menari peserta berupa musik dan tari-tarian.

Reporter: M. Fajar/JITU Islamic News Agency

Ahok Hanya Tersangka, Ribuan Umat Islam Surakarta Unjuk Rasa “Tangkap Ahok”

SURAKARTA (Jurnalislam.com) – Penetapan status tersangka Basuki Tjahya Purnama alias Ahok beberapa waktu yang lalu tidak lantas membuat masyarakat puas. Sebab itu, DSKS bersama ribuan umat Islam Surakarta menggelar aksi ‘tangkap Ahok’ di Mapolresta Surakarta, Jumat (18/11/2016).

Dalam aksi unjuk rasa itu, Ahmad Sigit dalam orasinya mendesak Kapolri selaku pengambil keputusan tertinggi untuk segera menangkap Ahok dan tidak mengistimewakan petahana non aktif itu.

“Bapak Kapolri anda bukan pengacara Ahok, anda bukan pelindung Ahok maka segera tangkap Ahok,” terangnya.

“Jangan sampai di negara kita ini terjadi perbedaan di mata hukum antara orang Islam dan orang kafir,” cetusnya lagi.

Sematara orator lainnya, Ustadz Tengku Azhar mengimbau kepolisian untuk menjaga kepercayaan umat. Jangan sampai membuat umat, kata dia, mencabut apresiasi yang telah diberikan.

“Kami sangat apresiasi dengan Kepolisian dalam hal ini kepada Kapolri, akan tetapi kepercayaan kami ini jangan sampai dinodai dengan tidak ditahannya Ahok karena yang namanya tersangka harus di tahan,” tegasnya.

Aksi diakhiri dengan doa bersama oleh ustadz Syamsudin Ashori dari FUI Karanganyar di tengah derasnya hujan.

Komunitas Waroeng NKRI Datangi Polda Kampanyekan “Save Buni Yani”

BOGOR (Jurnalislam.com) – Komunitas Waroeng NKRI dan Pemuda Al-Azhar mendatangi Reskrimsus Polda Metro Jaya Jakarta Selatan pada Jum’at (18/11) guna memberikan dukungan kepada Buni Yani pengunggah video Gubernur DKI Jakarta Ahok saat berpidato di depan warga Kepulauan Seribu.

Salah satu koordinator Waroeng NKRI, Suhe, berharap Polda Metro dapat bertindak indipenden dalam memproses kasus Ahok.

“Kita datang ke Polda untuk memberikan dukungan penuh kepada saudara Buni Yani, kita meminta Polisi bertindak independen dalam melakukan proses twrsebut,” ujar Suhe kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jum’at (18/11).

Suhe menilai Buni Yani memiliki kepribadian yang baik dan tidak memiliki riwayat yang buruk di tengah masyarakat, lapor JITU Islamic News Agency.

“Kami mengenal mas Buni dengan baik, beliau sering hadir dalam kajian di Masjid Al-Azhar,” ujar Suhe.

Menurutnya, Buni Yani sebagai pengunggah video, tidak bersalah dalam kasus duagaan penistaan agama,yang dilakukan calon gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama.

Lebih lanjut, dirinya mengaku akan membuat sebuah gerakan dengan memberi tagar #savebuniyani. Ia berharap tagar tersebut menjadi viral di media sosial sebagai sebuah bentuk dukungan.

“Buni Yani tidak bersalah, hashtag save Buni Yani, akan kami jadikan viral di sosial media,” jelasnya.

Reporter: Heikal/JITUIslamicNewsAgency

Arifin Ilham: Siapa yang Cinta Allah, Pasti Cinta Al-Quran

BOGOR (Jurnalislam.com) – Da’i kondang, Ustadz Muhammad Arifin Ilham memandu langsung istighosah bersama yang digelar di Masjid Jami’ Azzikra, Sentul, Bogor pada Jumat (18/11/2016) siang, lapor JITU Islamic News Agency.

Arifin yang juga Pemimpin Majelis Azzikra menyatakan bahwa umat Islam ada saatnya lembut, ada saatnya pula keras.

“Ada saat keras ada saat lembut semuanya lillah. Wajarlah kalo Allah menampakkan keagungan dengan kalimat lillah,” ungkapnya dengan suara serak khas miliknya.

Lebih lanjut, Arifin juga menjelaskan bahwa seorang mukmin yang mencintai Allah, pastilah juga mencintai Al-Quran.

“Harokah dakwah setiap mukmin, dia cinta Allah maka dia cinta Al-Quran. Tidak jenuh-jenuh hidup dalam syariah, tidak ada yang mubadzir. Karena itulah dunia sebagai majlis dzikir, jadi energi ibadah, energi akhlak, energi amal sholeh, energi jihad,” jelasnya.

Bercerita tentang pertemuannya dengan Kapolri, Tito Karnavian, Kata Arifin, penetapan tersangka kepada Ahok adalah karena dorongan hati nurani Tito.

“Ada tiga alasan Tito menetapkan Ahok sebagai tersangka. Pertama, saya tidak takut pada siapapun, taruhannya jabatan saya, kedua setelah diperiksa memang pantas dia tersangka, ketiga karena hati nurani saya,” kisahnya.

Acara ditutup dengan istighosah dan do’a bersama ratusan peserta, baik dari masyarakat maupun santri Pesantren Azzikra, yang dipandu langsung oleh Ustadz Muhammad Arifin Ilham.

Reporter: Ali Muhtadin/JITUIslamicNewsAgency

Djarot Naik Jika Ahok Ditetapkan Terpidana dan Menang Pilkada

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Konstitusi dan Demokrasi (Kode) Inisiatif, Veri Junaidi mengatakan, jika calon petahana Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ditetapkan menjadi terpidana, namun memenangkan Pilkada, maka otomatis wakilnya yang akan naik menggantikan.

“Karena ada ketentuan jika kepala daerah tidak bisa menjalankan kewajibannya (terpidana) maka harus diganti. Otomatis wakilnya naik,” ujarnya kepada JITU Islamic News Agency di Kedai Kopi Deli, Jakarta, Kamis (17/11/2016).

Aturan itu, terangnya, merupakan mekanisme hukum yang menjamin jangan sampai ada kekosongan jabatan.

Terkait keikutsertaan Pilkada, Veri mengungkapkan, bahwa status tersangka tidak membatalkan kepesertaan kontestasi pemilihan kepala daerah.

Sementara itu, menanggapi desakan banyak pihak yang menyatakan Ahok agar mundur dari pencalonan, menurutnya, hal itu suatu yang dilematis.

“Dilemanya, bagi Ahok secara hukum kalau dia mundur atau dituntut mundur, maka dia harus bayar denda dan ada sanksi pidana yang melekat,” jelasnya.

“Bahkan terhadap partai politik pengusungnya juga kena,” tambah Veri.

Karenanya, menurut Veri, dengan ditetapkan sebagai tersangka, tidak ada pilihan bagi Ahok selain tetap maju.

Sebelumnya, calon gubernur DKI Jakarta nomer urut 2, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok ditetapkan sebagai tersangka kasus penistaan agama. Saat ini, kasus tersebut masih ditangani pihak kepolisian dengan status penyidikan.

Reporter: Yahya Nasrullah/JITUIslamicNewsAgency

Pengamat: “Rush Money” Tak Pengaruhi Apapun

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Peneliti Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Nailul Huda mengatakan, ajakan rush money (penarikan dana nasabah secara massal) yang beredar di media sosial menjelang rencana Aksi Bela Islam Jilid III tidak akan berdampak serius terhadap ekonomi dalam negeri. Sebab, dana yang akan ditarik hanya sedikit.

“Katanya Rp2 juta per rekening itu menurut saya tidak akan menimbulkan gejolak apapun karena andaipun tetap dilaksanakan jumlahnya tidak terlalu signifikan bagi keseluruhan dana masyarakat di bank. Ekonomi masih aman,” katanya, di Jakarta, Rabu (16/11/2016).

Menurut Huda, perbankan tidak akan goyah meskipun penarikan dana tersebut dilakukan secara serentak. “Tidak akan ada pengaruh signifikan ya karena jumlah yang akan ditarik tidak akan buat perbankan goyah,” ucapnya.

Dilansir JITU Islamic News Agency, Huda juga menilai isu itu tidak akan separah Mei 1998 di mana terjadi penarikan uang nasabah besar-besaran sehingga perbankan kolaps. Menurut Huda, situasi 1998 sangat berbeda dengan hari ini.

“Enggak se-crowded tahun 1998, jauh malah. Karena tahun 1998 itu kan ada krisis ekonomi parah. Saat ini kan walaupun menurun (perlambatan ekonomi) tapi nggak terjadi krisis kayak 1998,” kata dia.

Namun, Huda mengingatkan, pemerintah perlu mewaspadai pemilik rekening besar. Meskipun, hingga saat ini mereka belum memberikan kepastian tersebut. “Sarannya ya pemerintah dalam hal ini BI meningkatkan kepercayaan masyarakat trhdp BI. Bisa lewat stabilitas rupiah atau lainnya,” katanya.

Sementara itu pengamat politik Hendri Satrio juga memastikan stabilitas politik tetap terjaga. Meski demikian, pemerintah diminta membuat pernyataan yang menenangkan.

“Isu ini harus diredam oleh pemerintah. Tapi menurut saya keadaan akan aman aman saja di 25 November. Tapi Pemerintah perlu menginformasikan kondisi aman dan damai,” ujarnya.

Sementara itu, Presidium Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) MS Kaban mengatakan, wacana rush moneymendukung Aksi Bela Islam yang menuntut penegakkan hukum tidak pernah didiskusikan sebelumnya.

Rush money, tidak pernah didiskusikan, itu bukan dari kami dan gerakan ini, karena kami aksi damai dan menjaga kondisi kondusif, termasuk di bidang ekonomi,” ujarnya di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (16/11/2016).

Reporter: Suandri Ansyah/JITUIslamicNewsAgency