GNPF MUI Perkirakan Massa Aksi 212 Dua Juta Lebih

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Spekulasi jumlah massa Aksi Bela Islam III meningkat. Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI menyebut massa Aksi Super Damai 212 itu akan membludak. Lebih dari Aksi Damai 411 lalu.

“Jumlah peserta, Insya Allah di atas dua juta tiga ratus (orang) dari berbagai daerah,” kata Bendahara GNPF MUI, Lutfi Hakim di aula AQL Center, Tebet, Jakarta, Kamis (01/12/2016), lansir Islamic News Agency (INA).

Sementara itu, di tempat yang sama, perwakilan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM), Mashuri Masyhuda juga mengatakan hal serupa.

“Saya pribadi mengira jumlah peserta aksi lebih dari Aksi Bela Islam II kemarin. Monas tidak akan cukup untuk menampung mereka,” terangnya.

Namun demikian, Lutfi dan Mashuri menyayangkan pihak kepolisian dengan menghalangi dan menyulitkan peserta aksi yang akan berangkat ke Monas.

“Apakah Polri ingin melanggar kesepakatan yang telah dibuat GNPF MUI – Kapolri?” tandas Mashuri kecewa.*

Reporter: M Fajar/INA

Ahok Tak Ditahan, Tim Advokasi GNPF-MUI Menilai Ada Diskriminasi Hukum

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Anggota Tim Advokasi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI, Kapitra Ampera mengatakan, seharusnya Kejaksaan Agung melakukan penahanan atas tersangka kasus penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Hal itu ia katakan usai bertemu Kepala Pusat Penerangan dan Hukum Kejaksaan Agung, M. Rum di Kantor Kejagung RI, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (01/12/2016).

“Tujuan kita satu, ada kesamaan di mata hukum. Nah, kasus seperti ini tidak ada yang tidak ditahan selama prosesnya. Baik sejak penyidikan hingga pengadilan,” ujarnya.

“Hari ini karena kepolisian telah menyerahkan barang bukti dan tersangka ke Kejaksaan, maka momennya Kejaksaan harus menahan Ahok,” tambah Kapitra.

Dengan tidak ditahannya Ahok, menurutnya, ada preseden diskriminasi hukum dan terkesan ada kekuatan besar yang melindungi.

Terkait alasan Kejagung yang tak menahan Ahok, ia mengatakan, hal itu hanyalah alasan formil saja. Sedangkan secara yuridis harusnya Ahok ditahan.

Alasan yuridis yang dimaksud, kata dia, seperti mengulangi perbuatan yang mana itu diatur dalam pasal 21 KUHAP dan diperintahkan untuk ditahan.

“Terbukti setelah ditetapkan tersangka, Ahok menuduh macam-macam. Kejahatan mulut ini tidak akan berhenti kecuali dia ditahan,” tandas Kapitra.*

Reporter: Yahya G Nasrullah/INA

GNPF MUI Lontarkan Laporan Penghadangan Massa pada Kapolri

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI, Bachtiar Nasir membeberkan pertemuan akhir pihaknya dengan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian.

Dalam diskusi itu, GNPF MUI melontarkan laporan umat Islam terkait upaya penghadangan massa Aksi Bela Islam III oleh kepolisian.

“Kami berbicara dengan Ditlantas mengapa ada kesan dipersulit dan dihalang-halangi, dan Alhamdulillah ada solusi,” kata Bachtiar di aula AQL Center, Tebet, Jakarta, Kamis (01/12/2016).

Pimpinan AQL Center itu mengatakan, Kapolri mengaku sudah berusaha untuk tidak berkhianat dalam kesepakatan dengan GNPF MUI yang telah dibuat di kantor MUI, Senin (28/11/2016) lalu.

“Kapolri sebetulnya berusaha untuk tidak berkhianat. Ia mengatakan kepada anggotanya, ‘tolonglah jangan sampai hal-hal seperti ini saya yang kena lagi’,” tandas Bachtiar.

“Karena ada tagar ‘polisi berkhianat’,” pungkasnya meniru ucapan Kapolri.

Sebagaimana diketahui, massa dari berbagai daerah yang akan ikut Aksi Super Damai 212 itu dipersulit dan dihadang oleh aparat penegak hukum.*

Reporter: M Fajar/INA

Media Center GNPF MUI Luncurkan Aplikasi, Channel Youtube Hingga Situs Belaquran.com

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Media Center Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI meluncurkan situs resmi belaquran.com , channel Youtube hingga Aplikasi ‘Bela Quran 3’. Hal tersebut disampaikan oleh anggota Koordinator Media Broadcast Media Center GNPF MUI Erick Yusuf.

“Karena banyak sekali informasi yang tidak akurat pada aksi 411 kemarin,” kata Erick Yusuf di Jakarta, Kamis (1/12/2016).

Menurut Erick, media center akan meliput kegiatan Aksi Bela Islam dan akan disiarkan langsung melalui beberapa situs ataupun media Youtube. “Semua akan diliput dari berbagai sisi, kita akan mendapatkan titik-titik central ketika acara besok,” katanya.

Pembaca bisa langsun mengetik “212 live stream bela islam 3” di Youtube. “Ada juga aplikasi aksi bela islam 3 di android. Belaquran.com semua berita benar ada disana,” tambahnya.

Situs belaquran.com akan melaporkan laporan pandangan mata hingga wawancara para tokoh GNPF. “Kita ingin menyampaikan kebenaran dan semangat ukhuwah Islamiyah bangkit dalam Aksi super damai Islam,” pungkasnya.

Reporter: Fajar/Islamic News Agency

Rombongan Peserta Aksi Bela Islam III dari Tasikmalaya Dikawal Hingga Jakarta

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 20 Bus dan puluhan kendaraan pribadi yang mengangkut peserta aksi Bela Islam jilid 3 dilepas Wakapolresta Tasikmalaya, Kompol Syarif Zaenal Abidin dari halaman Pondok Pesantren Salalatul Huda Kota Tasikmalaya, Kamis (1/12).
Pelepasan juga dihadiri Pimpinan Pondok Pesantren KH. Aminudin Bustomi dan Walikota Tasikmalaya non-aktif, Budi Budiman.

Rencananya, rombongan 20 bus akan dikawal secara melekat oleh Kepolisian Polresta Tasikmalaya hingga tiba di Jakarta. Pengawalan juga akan dilakukan saat rombongam kembali ke Kota Tasikmalaya.

“Pelayanan terhadap aksi super damai ini kami dari Polresta Tasikmalaya melakukan pengawalan melekat dari titik keberangkatan hingga tiba di Jakarta. Pengawalan juga akan dilakukan saat pulang ke Kota Tasikmalaya,” papar Wakapolresta Tasikmalaya, Kompol Syarif Zaenal Abidin, Kamis (1/12/2016).

Setiap rangkaian akan dikawal 10 personil kepolisian. Dari hasil pantauan, di Kota Tasikmalaya sendiri ada 6 titik pemberangkatan. Semuanya dikawal secara melekat.

“Nantinya setiap rangkaian akan dikawal 10 personil polisi. Sementara ini info ada 6 titik yang akan memberangkatkan peserta aksi,” tambah Syarif.

Sementara Sekretaris MUI Kota Tasikmalaya, KH. Aminudin Bustomi, M.Ag, mengatakan, antusiasme warga Tasikmalaya terhadap Aksi Bela Islam jilid III sangat luar biasa.

“Ini warga Tasik sangat antusias menyambut Aksi Bela Islam, tidak hanya hari ini, malam nanti akan disusul 11 bis berangkat ke jakarta” katanya.

Reporter: Lutfi Habibulhaq

Sambangi Kejagung, Tim Advokasi GNPF MUI Pertanyakan Alasan Ahok Tak Ditahan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Tim Advokasi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI mendatangi Kejaksaan Agung (Kejagung) RI di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (01/12/2016). Kedatangan itu dimasudkan untuk mempertanyakan alasan Kejagung tidak menahan tersangka penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

“Kita banyak menerima desakan dari umat Islam yang mempertanyakan alasan kenapa Ahok tidak ditahan,” ujar salah seorang anggota tim advokasi GNPF MUI, Irfan Pulungan lansir Islamic News Agency (INA).

Pantauan INA di lokasi, tim advokasi GNPF-MUI ditemui oleh Kepala Pusat Penerangan dan Hukum Kejaksaan Agung, M Rum dan mengadakan diskusi tertutup selama hampir 1 jam.

“Ya mereka (tim advokasi GNPF MUI -red) menanyakan soal itu (kenapa Ahok tidak ditahan). Tadi juga mereka ingin bagaimana perkara ini terbukti di pengadilan. Silakan saja,” cetus Rum usai pertemuan.

Sebagaimana diketahui, saat ini berkas perkara kasus Ahok sudah diserahkan ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara oleh Bareskrim Polri.

 

 

Reporter: Yahya G Nasrullah/INA

 

Putri Proklamator RI: Ahok Harusnya Diproses Hukum dan Ditahan!

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Putri proklamator kemerdekaan RI Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri, mengungkapkan kesedihannya melihat permasalahan yang terjadi pada bangsa Indonesia akhir-akhir ini.

Menurutnya, kasus petahana DKI Jakarta non aktif, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dengan penistaan agama yang dibuatnya telah menyentuh masalah ketidakharmonisan yang menimbulkan bibit pemecah belah bangsa.

“Untuk itu, Ahok harusnya diproses hukum dan ditahan,” ungkapnya dengan suara tersekat sambil menitikkan air mata di Aula Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta, Rabu (30/11/2016), lansir Islamic News Agency (INA).

Namun, terang Rahmawati, tidak hanya kasus tersebut. Ahok dinilai telah beberapa kali melakukan sikap yang sangat bertentangan dengan nurani rakyat. Seperti, dugaan kasus korupsi, penggusuran, dan terutama soal reklamasi.

“Reklamasi hanyalah bagian kepentingan pengembang yang dilindungi oleh Ahok, dan notabene tidak ada kepentingannya untuk rakyat,” ujarnya.

Lebih lanjut Rachmawati menegaskan kasus hukum Ahok sudah membuat gaduh bangsa Indonesia.

Reporter: Yahya G Nasrullah/INA

 

UBN: Aksi Bela Islam III untuk Tegaknya Supremasi Hukum Indonesia

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gerakan Aksi Bela Islam III terjadi akibat adanya keraguan umat Islam terhadap penegakan supremasi hukum oleh pemerintah. Sebab, sampai saat ini kasus penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok belum tuntas tepat sasaran.

“Andai tidak ada Aksi Bela Islam 1 masyarakat pesimis Ahok akan diproses hukum, dan andai tidak ada Aksi Bela Islam 2 masyarakat juga pesimis Ahok akan diproses dengan tegas, cepat dan transparan,” demikian disampaikan Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI Bachtiar Nasir dalam media resmi GNPF-MUI, belaquran.com, Kamis (01/12/2016).

Menurutnya, atas dasar lumpuhnya keadilan hukum dan keadilan sosial inilah maka Aksi Bela Islam III disambut secara heroik oleh jutaan masyarakat Indonesia, baik dari muslim maupun agama lainnya.

Panggilan Aksi Bela Islam III, Jumat, 2 Desember 2016 tak terbendung. Sejak aksi ini dideklarasikan oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI), penghadangan secara sistematis, terstruktur, dan masif dilancarkan oleh mereka yang tidak ingin umat Islam bersatu menyuarakan keadilan sosial dan keadilan hukum. Mulai dari tudingan politisasi hingga isu makar.

“Semua tuduhan itu hanya isapan jempol belaka. Umat Islam tidak percaya lagi dengan propaganda dan agenda setting semacam itu. Sebaliknya, umat Islam semakin menguatkan ketaatan dan keterikatan kepada ulama dalam bingkai syariat. Itu terlihat pada aksi Bela Islam 2 dan berlanjut pada Aksi Bela Islam III,” ujarnya dirilis Islamic News Agency (INA).

Bahtiar Nasir atau yang karib dipanggil UBN menjelaskan, gejala Aksi Bela Islam III atau yang sering disebut Aksi 212 itu hakekatnya adalah gerakan soft Muslim People Power dalam bentuk Aksi Super Damai yang digerakkan oleh kesamaan rasa akibat penistaan agama dan Kitab Suci Umat Islam, dimana tersangkanya Gubernur DKI Jakarta (non aktif) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Pendiri Ar-Rahmān Quranic Learning Center (AQL) ini juga menegaskan, aksi ini hanya gunung es sebagai akumulasi berbagai kasus ketidakadilan sosial Indonesia, khususnya terhadap umat Islam sebagai pihak yang sering tersudutkan.

“Mereka sering tertuduh sebagai pihak yang tidak nasionalis, anti Pancasila, tidak pro Bhinneka Tunggal Ika, dan lain-lain. Ironisnya, hak-haknya sebagai rakyat kecil terpinggirkan demi kepentingan pemodal asing dan aseng,” papar pria yang sering menggunakan kopiah hitam dengan pin merah putih itu.

Di antara target Aksi Bela Islam, kata dia, adalah menguatkan rasa dan barisan Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan Islam) dan Ukhuwah Wathaniyah (Persaudaraan Nasionalisme) yang membawa pada Persatuan Indonesia, mengokohkan Bhinneka Tunggal Ika berdasarkan nilai-nilai UUD 1945 yang asli.

Sekali lagi ia tegaskan, meski konsep acara Aksi Bela Islam III adalah dzikir dan doa, tetapi tujuan utama tetap menginginkan agar penegak hukum segera memenjarakan tersangka penista agama.

“Yang tak kalah pentingnya juga, aksi ini menuntut keadilan sosial dan keadilan hukum bagi seluruh rakyat Indonesia serta melawan kekuatan oligarki yang telah membuat Indonesia terjajah secara politik, ekonomi, sosial, dan hukum. Penjarakan penista agama secepatnya,” pungkasnya.

 

Reporter: CAK

 

Pakai Dana Pribadi, Puluhan Ribu Kader Persis Siap Merapat ke Jakarta

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Persatuan Islam (Persis) menyatakan akan mengerahkan puluhan ribu warganya, terutama yang di daerah, untuk ikut Aksi Bela Islam III di Jakarta, Jumat (02/12/2016) besok.

Demikian disampaikan oleh Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Persis (HIMA PERSIS), Nizar Ahmad Saputra saat konferensi pers di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (30/11/16) sore.

“Ada dari daerah Sumatera, daerah Lampung, Maluku, daerah Kalimantan. Juga seluruh daerah yang ada pimpinan wilayah Persatuan Islam, terutama di Jawa Barat dan Jabodetabek. Itu semuanya akan hadir, ada sekitar puluhan ribu,” ujarnya.

Pengerahan massa Aksi Super Damai 212 tersebut murni dari dari swadaya kader Persis, kata dia, lansir Islamic News Agency (INA).

“Itu semua swadaya dari kader. Juga organisasi ini, kita rutin untuk melaksanakan urunan, infak organisasi. Oleh karenanya tidak sulit untuk kita mendatangkan kader-kader,” ungkapnya.

Terkait akomodasi, Nizar mengaku massa menggunakan uang pribadi karena dorongan hati nurani.

“Untuk akomodasi itu murni swadaya anggota kita yang tergerak hatinya untuk ikut Aksi Bela Islam,” katanya.

Melihat antusiasme tersebut, Nizar menyatakan bahwa umat juga mempunyai kekuatan dalam ukhuwahnya.

“Kita ini selain imamah imarah, kita juga kuat ukhuwahnya. Tali persaudaraannya, gotong-royongnya,” paparnya.*

Reporter: Ali Muhtadin/INA