Grand Design GNPF-MUI adalah Allah dan Al-Quran

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI), Ustadz Bachtiar Nasir menegaskan negara telah gagal dalam memahami situasi yang menyebabkan jutaan umat Islam sudah tiga kali melakukan Aksi Bela Islam.

“Terjadi benturan saat ini, kalau sampai negara gagal membaca situasi ini, semata-mata urusan politik, apakah orang Ciamis jalan kaki hanya untuk urusan Pilkada? Tidak, tapi karena Al-Quran,” tegasnya dalam orasinya di Monas, Jumat (2/12/2016).

Pria yang karib dipaggil UBN itu juga menepis tudingan terkait grand design Aki Bela Islam. Menurutnya, grand design yang bisa menggerakkan jutaan orang seperti ini hanya Al-Quran Surat Al-Ma’idah.

Grand design GNPF apa sih? Mau kemana? Kami tak punya grand desaign, kami hanya menjalankan grand design Allah dari surat al-Maidah,” ungkapnya sebagaimana pantauan Islami News Agency (INA).

Ia pun memaparkan kandungan Surat al-Maidah 54 yang menjelaskan bahwa Allah akan mendatangkan suatu kaum yang mencintai dan dicintai Allah SWT.

“Saya tidak ingin mengancam, tapi dalam Surat al-Maidah dikatakan andai murtad dari hukum Allah, maka Allah akan datangkan kaumnya dan hari ini kaum itu sudah datang. Kaum yang dicintai oleh Allah Subhanahu Wata’ala, kaum yang tidak ada urusanya dengan politik,” paparnya.

Selain itu, kaum tersebut juga digambarkan sebagai kaum yang lembut terhadap umat Islam dan tegas terhadap orang kafir. “Mereka adalah kaum baru yang lemah lembut kepada mukmin dan tegas kepada kafir, mereka tidak takut dicela, tidak takut dibully,” ujarnya.

Ia juga menegaskan, Allah lah yang mengumpulkan jutaan peserta aksi yang hadir dalam aksi Bela Islam III kemarin. “Yang mengumpulkan kita adalah Allah, shaf kita sampai Jalan Thamrin, Bundaran HI,” ungkapnya terharu.[]

Reporter: Ali Muhtadin (INA)

Tito Sebut Ahok Sudah Tersangka, Massa: Buktikan!

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Tito Karnavian yang ikut hadir dalam Aksi Bela Islam III menyampaikan sambutannya bahwa kasus Ahok sudah dilimpahkan ke kejaksaan.

“Untuk acara ini alhamdulillah 2 hari lalu kita serahkan kejaksaan,” ungkapnya di panggung utama Tugu Monumen Nasional, Jakarta pusat, Jumat (2/12/16).

Meski Ahok selalu gagal ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, Kapolri menegaskan pada kasus ini mampu menetapkan Ahok sebagai tersangka.

“Bayangkan dibeberapa kasus diperiksa KPK tidak bisa jadi tersangka, tapi ditangani Kapolri bisa jadi tersangka,” tuturnya lali disambut dengan teriakan masa aksi.

“Buktikan itu!” teriak massa secara serempak sebagaimana pantauan Islamic News Agency (INA).

Lebih lanjut, Tito menegaskan akan terus memproses kasus hukum.

“Untuk itu saya mohon dukungan dari saudara supaya proses hukum terus berjalan, dan Kapolri akan terus mengawal proses hukum,” ujarnya.

Menyambut pernyataan itu, Dewan Pembina GNPF MUI, Habib Rizieq Shihab menyampaikan apresiasi kepada Kapolri.

“Kita berikan apresiasi yang sudah menjadikan Ahok tersangka,” sambungnya.

Lanjutnya, habib meminta kejaksaan untuk segera menahan ahok yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kapolri.

“Kita minta kejaksaan untuk Ahok segera ditahan,” pungkasnya. []

Rep: Ali Muhtadin (INA)

Kapolri Sebut Aksi Bela Islam III Seperti Haji di Arafah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Tito Karnavian mengatakan Aksi Bela Islam III seperti haji di Padang Arafah.

“Betapa indahnya Islam, kita merasakan seperti kita melaksanakan haji dipadang Arafah,” lanjutnya.

Tito hadir di panggung utama dalam Aksi Bela Islam III, Jumat (2/12/16) di Tugu Monumen Nasional, Jakarta Pusat di tengah teriakan massa agar menangkap Ahok.

Dalam orasinya, Tito menyampaikan bahwa aksi tersebut adalah aksi Ibadah.

“Kita semua umat Islam berkumpul di sini dengan suasana betul betul damai dan membahagiakan kita semua,” tuturnya.

Meski sorak riuh peserta aksi semakin kencang, Tito tetap menyampaikan bahwa Islam itu indah.

Di tengah teriakan “tangkap si Ahok” oleh jutaan peserta, Kapolri menyatakan untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah.

“Mari kita laksanakan ibdah, kita dekatlan hari kita dengan niat Allah Subhanahu Wata’ala,” ungkap Tito yang menggunakan sorban dan peci putih. []

Rep: Ali Muhtadin/INA

MUI: Pemerintah Harus Serius Tanggapi Tuntutan Aksi Bela Islam III

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sekretaris Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Fahmi Salim menegaskan pemerintah harus menyerap aspirasi warga Indonesia pada Aksi Bela Islam III.

“Pemerintah dapat menyerap aspirasi umat Islam dengan serius dan tidak dianggap remeh,” katanya di belakang panggung utama Aksi Bela Islam III, Monas, Jakarta, kepada Islamic News Agency (INA), Jumat (2/12/2016).

Ulama muda lulusan Al Azhar ini menjelaskan, kasus penistaan agama di mana pun ditahan bahkan sebelum ditetapkan sebagai tersangka.

Lebih lanjut Fahmi mengucapkan apreasiasinya kepada peserta Aksi Bela Islam III yang telah datang dari berbagai daerah.

“Yang menggerakan bukan kita, bukan MUI, bukan GNPF, ini karena Allah,” ungkap Fahmi yang memakai rompi Aksi Bela Islam III.

“Monas Insyaallah penuh, meluber sampai Thamrin hingga Bunderan HI,” paparnya lagi.[]

Reporter: M Fajar/INA

Habib Rizieq Kukuhkan 2 Desember sebagai Hari Persaudaraan Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Penasehat GNPF MUI, Habib Rizieq Shihab mengukuhkan tanggal 2 Desember sebagai Hari Persaudaraan Islam.

“Jika tanggal 4 November bisa dikatakan sebagai Hari Anti Penistaan Agama, maka hari ini pada tanggal 2
Desember bertepatan dengan 2 Robiul Awal bisa-bisa kita katakan sebagai Hari Persaudaraan Islam,” tegasnya disambut pekik takbir jutaan peserta Aksi Bela Islam III di Monumen Nasional, Jumat (2/12/2016).

Jutaan umat Islam memadati monumen nasional (monas) hingga sepanjang jalan Thamrin. Mereka mengikuti dzikir bersama dan shalat Jum’at.

Meskipun hujan turun saat shalat Jumat dimulai, namun massa tak beranjak dan tetap mengikuti shalat jumat dengan khusyu.

Dalam Jurniscom, aksi berlangsung tertib dan damai. Massa membubarkan diri pada pukul 13.30 WIB.

Reporter: Ally Muhammad Abduh

Aksi Bela Islam III, Aa Gym Pesan Agar Jadi Umat yang Kokoh

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhid, Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym berpesan, agar umat Islam menjadi umat yang kokoh.

Menurutnya, untuk menjadi umat yang kokoh syaratnya ada tiga hal. Pertama, jangan salah menyikapi perbedaan.

“Beton kokoh karena bahan bangunannya itu beda-beda, saling mengisi. Jadi jangan sampai salah menyikapi perbedaan,” ujarnya saat menyampaikan tausyiah di gelaran Aksi Bela Islam III di Monas, Jakarta, Jum’at (02/12/2016).

Aa gym menyampaikan, untuk senantiasa menghargai pendapat. Dan jangan sampai berbeda membuat marah.

“Biasanya yang marah itu kurang ilmu,” tuturnya.

Syarat kedua, lanjutnya, tidak menonjolkan diri. Aa gym mengungkapkan, bahwa semua hendaknya adil menempatkan diri pada tempatnya.

“Dilihat orang atau tidak, Allah Maha Tahu. Semua ada balasan. Makanya nikmati berbuat yang terbaik asal Allah tahu, cukup bagi kita,” jelasnya.

Terakhir, sambungnya, jangan saling meremehkan satu sama lain. Ia menyatakan, acara Aksi Bela Islam III pun sukses karena kerja keras berbagai pihak.

“Jadi jangan pernah membangun kebersamaan dengan meremehkan yang lain,” pungkas Aa Gym.[]

Reporter: Yahya G. Nasrullah/INA

Beda Warga Papua Aksi 112 dengan Aksi 212

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Berbeda dengan warga papua yang membawa bendera Organisasi Papua Merdeka (OPM) saat berdemo di bundaran Hotel Indonesia (HI), kemarin (1/12/2016). Warga papua yang mengikuti aksi damai bela islam 3. Jum’at (2/12/2016), malah bawa banyak sajadah.

Sajadah yang dibungkus karung itu kemudian dibagikannya dengan cuma-cuma kepada umat islam yang akan melaksanakan shalat jum’at di lapangan silang monas dan sekitarnya. Salah satu yang membagikan sajadah tersebut adalah da’i terkenal asal tanah cendrawasih, Ustadz Fadlan Garamatan beserta para muridnya.

“Silahkan diambil sajadahnya. Gratis. Ayo!” Ujar Ustad Fadlan setengah berteriak kepada massa yang hendak masuk monas.

Tak ayal banyak massa yang mengambil sajadah dari tangan Ustadz Fadlan dan muridnya, sambil sesekali menyalami Ustad Fadlan dan berfoto bersama.

“Saya boleh (ambil) satu (sajadah) ustadz,” pinta salah satu massa kepada ustadz fadlan.

Berkat sajadah yang dibagikan tersebut, banyak umat islam terbantu. Pasalnya, saat mengikuti aksi damai 212 banyak umat islam yang tidak membawa alas untuk solat. Sedangkan, shalat Jum’at akan dilaksanakan di lapangan monas yang sebagian besar beralaskan aspal, rumput dan batako.

Reporter: Yahya G. Nasrullah/INA

Sejumlah Peserta Aksi 212 Keracunan Setelah Minum Air Teh Kemasan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sejumlah peserta aksi Bela Islam III harus dilarikan ke Rumah Sakit setelah mengalami mual-mual, pusing dan sakit perut yang sangat, lapor JITU Islamic News Agency (INA).

Salah seorang korban mengaku keluhan tersebut ia rasakan setelah meminum air teh kemasan.

“Keluhannya mual, pusing sama lemes,” kata petugas medis yang hendak membawa korban ke RS kepada reporter JITU INA di Monumen Patung Kuda, sore ini, Jumat (2/12/2016).

Korban yang mengenakan seragam FPI tampak sedang diinfus dan diberikan oksigen itu terlihat lemas tak berdaya.

Rekan korban menjelaskan, bahwa beberapa orang lainnya yang meminum air teh kemasan itu juga mengalami hal serupa. Namun ia tak menyebutkan jumlahnya.

Diduga air teh kemasan yang dibagikan cuma-cuma itu telah dicampur racun. Sebab, terdapat lubang kecil bekas jarum suntik pada bagian samping kemasan.

Belum ada keterangan pasti terkait penyebar air teh kemasan tersebut.

 

Hidayat Nur Wahid: Menfitnah Umat Islam Merugikan Kekuatan Bangsa dan Negara

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid mengatakan, jika ada yang mengatakan aksi 212 seolah anti NKRI atau makar, maka hal itu adalah fitnah.

Menurutnya, memfitnah kaum muslimin justru merugikan bangsa karena umat Islam punya sejarah panjang dalam kontribusi dan perjuangan Indonesia.

“Menfitnah umat Islam merugikan kekuatan bangsa dan negara,” ujarnya di Panggung Utama aksi damai bela Islam III, di Monas, Jakarta, Jum’at (02/12/2016).

Hidayat mengungkapkan, NKRI kokoh justru karena menghormati agama.

“Dan dari dulu umat Islam sangat cinta NKRI, sangat mencintai kebhinekaan,” ungkapnya.

“Penista agama yang justru tidak cinta terhadap kebhinekaan. Maka selayaknya penista agama itu dihukum,” pungkasnya menambahkan.

Reporter: Pizaro

Sekjen GNPF MUI: ABI 3 Menegaskan bahwa Islam adalah Agama Damai

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sekjen Gerakan Nasional Pembela Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI), Ustadz Zaitun Rasmi menegaskan, tuntutan Aksi Bela Islam Jilid III serupa dengan aksi sebelumnya yakni menuntut penegakan hukum atas kasus penistaan al- Qur’an oleh Ahok. Ia menilai penunatasan kasus Ahok lamban.

Ketua Wahdah Islamiyah ini berharap aksi super damai yang dilakukan jutaan umat Islam siang tadi menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat Indonesia tentang akhlak umat Islam dalam menyampaikan pendapat.

“Karena itu akan membuka masyarakat bahwa Islam itu agama damai, Islam adalah agama persatuan, Islam adalah agama cinta tanah air,” ujarnya wartawan di Silang Monas, Jum’at (2/12/2016) Jakarta Pusat.

Ia menambahkan, aksi tersebut juga menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang menjungjung tinggi nilai keadilan tanpa pandang bulu.

“Perpaduan keduanya ini sangat penting untuk keharmonian masyarakat dan keutuhan bangsa dan negara,” tukasnya.