Pasukan Khusus Irak Kuasai 31 Wilayah IS di Pinggir Kiri Kota Mosul

IRAK (Jurnalislam.com) – Komando operasi gabungan Irak mengatakan pada hari Sabtu bahwa pasukan Khususnya kembali menguasai 31 lingkungan di pinggir kiri kota Mosul yang dikuasai kelompok Islamic State (IS), Al Arabiya News Channel melaporkan, Ahad (11/12/2016).

Mereka terus maju ke tiga wilayah lain setelah menimbulkan kerugian besar terhadap IS selama pertempuran baru-baru ini.

Komando operasi gabungan juga mengatakan bahwa pasukan mereka berada dalam jarak kurang dari dua kilometer dari jembatan Mosul, menambahkan bahwa angkatan udara koalisi terus menghancurkan basis IS di Mosul timur.

Dua hari yang lalu, Abdul Ghani al-Assadi, komandan pasukan Irak mengatakan tahap pertama operasi militer dalam pertempuran untuk mengembalikan Mosul berakhir 50 hari setelah diluncurkan.

Dia menambahkan bahwa pasukannya benar-benar akan mengontrol pantai kiri Mosul setelah merebut beberapa lingkungan terakhir.

Sementara itu, sumber militer mengatakan pasukan khusus Irak menggerebek kawasan al-Taameem dan berjuang dalam pertempuran sengit untuk mengusir anggota IS dari sana.

Hadapi Mujahidin Aleppo, Rezim Assad Kumpulkan Ribuan Pemuda Syiah dari Berbagai Penjuru

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Rezim Nushairiyah Assad telah memaksa ribuan orang Syiah berusia muda 18-40 tahun, untuk bergabung di kamp militer, dalam persiapan untuk mengirim mereka ke garis depan pertempuran di berbagai daerah, khususnya di wilayah timur Aleppo untuk menghadapi para mujahidin, ElDorar AlShamia melaporkan, Ahad (11/12/2016).

Beberapa sumber melaporkan bahwa rezim Syiah Assad mengirim para pemuda tersebut ke dalam dua kubu utama di daerah Jibreen di pedesaan Aleppo, dan di Perumahan Hanano yang baru saja direbut oleh rezim. Sumber memperkirakan jumlah orang muda yang direkrut lebih dari 4000 orang.

Sumber-sumber militer menegaskan bahwa di antara pasukan Assad yang tewas dalam pertempuran di kabupaten Sheikh Saeed di Aleppo dalam melawan faksi revolusioner (Fath Halab dan Jaysh al Fath), ada pemuda yang berasal dari lingkungan timur kota, dua telah diidentifikasi.

Kantor Hak Asasi Manusia PBB, pada hari Jumat mengatakan bahwa “ratusan warga Aleppo timur menghilang setelah memasuki wilayah yang dikuasai rezim dan mengekspresikan keprihatinan atas nasib mereka karena mereka ditangkap oleh pasukan rezim Suriah yang kemungkinan mereka diperlakukan secara ekstrem.

 

Gereja Katedral Mesir Dibom, 25 Tewas

MESIR (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 25 orang tewas dalam ledakan bom di dalam gereja katedral Koptik utama di ibukota Mesir, Kairo, pada hari Ahad, menurut Kementerian Kesehatan, World Bulletin melaporkan, Ahad (11/12/2016).

Kementerian itu mengatakan 31 orang juga terluka ketika sebuah bom meledak di dalam Gereja Koptik Ortodoks di kawasan Abbasiya di pusat kota Kairo.

Menurut kementerian, sebagian besar korban yang terluka dalam ledakan itu adalah perempuan dan anak-anak.

Sebelumnya, televisi Mesir mengatakan 20 orang telah tewas dalam pemboman itu.

Tidak ada yang mengaku bertanggung jawab atas ledakan, yang terjadi dua hari setelah enam polisi tewas dalam ledakan bom di ibukota Mesir pada hari Jumat.

3 Serangan Bom Hantam Stadion Sepak Bola Istanbul, 38 Tewas

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Korban tewas dalam serangan teror Istanbul pada hari Sabtu telah meningkat menjadi 38, Menteri Dalam Negeri Turki Suleyman Soylu mengatakan Ahad (12/12/2016).

Di antara korban tewas, 30 adalah petugas polisi, tujuh warga sipil, dan satu belum diidentifikasi, kata Soylu.

Ia juga menegaskan pernyataan sebelumnya dari Kantor Gubernur Istanbul bahwa 155 orang telah terluka dalam serangan itu – 19 masih dalam kondisi kritis.

Pada sekitar 10:30 (1930GMT) Sabtu malam, dua ledakan mengguncang sisi Eropa Istanbul.

Di luar sebuah stadion sepak bola di distrik Besiktas Istanbul, sebuah bom mobil meledak dua jam setelah akhir pertandingan liga sepak bola Turki antara Besiktas dan Bursaspor.

Beberapa detik kemudian, serangan bom bunuh diri terjadi di Taman Macka di lingkungan yang sama. Pembom bunuh diri meledakkan dirinya setelah polisi melihat dia, menurut Soylu.

“Sebanyak 13 tersangka telah ditangkap sejauh ini,” katanya. “Tanda-tanda menunjuk ke keterlibatan kelompok teroris PKK.”

Wakil Perdana Menteri Numan Kurtulmus juga mengatakan pada hari Ahad bahwa kelompok teror PKK “kemungkinan besar” terlibat dalam serangan teror Sabtu yang mematikan tersebut.

KH Ma’ruf Amin: Isu “Islam Anti Kebhinnekaan” itu Menyesatkan

Jurnalislam.com) – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma’ruf Amin, menyoroti opini yang berkembang belakangan ini terkait tudingan seolah-olah umat Islam anti kebhinnekaan.

Hal itu dikatakan Kiai Ma’ruf pada pengajian bertema ‘Berislam dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika’ di Aula PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat malam (9/12/2016).

“(Tuduhan) ini menyesatkan, kita dikotak-kotakkan; seolah ada barisan bhinneka, ada yang tidak, ada yang NKRI, ada yang tidak,” ujarnya, lansir Islamic News Agency (INA).

Opini dimaksud terutama terkait Aksi Bela Islam yang menuntut penegakan hukum atas tersangka penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Dimana aksi-aksi damai itu dituding oleh segelintir pihak sebagai bentuk anti kebhinnekaan.

“Dan sepertinya kelompok Islam ini yang tertuduh. Aksi 212 dianggap tidak bhinneka, yang bhinneka 412,” tambahnya, menyinggung acara Parade Kita Indonesia di Bundaran HI, Jakarta, Ahad (04/12/2016).

Tak hanya terhadap umat Islam. Kiai Ma’ruf merasa, MUI juga tertuduh sebagai pihak yang dianggap tidak ber-bhinneka.

“Karena katanya asal mulanya (Aksi Bela Islam. Red) dari fatwa dan sikap MUI,” ucapnya tertawa.

Rois Aam PBNU ini mengungkapkan, opini yang berkembang tersebut berpotensi menimbulkan konflik.

Karenanya, ia mengimbau agar jangan ada pihak yang memberikan penafsiran yang tidak proporsional soal umat Islam dan kebhinnekaan.

“Suku Baduy dan Suku Tengger di Bromo misalnya, hidup di tengah umat Islam tidak terganggu, padahal sekitarnya Muslim. Umat Islam jelas sangat toleran,” tandasnya.*

Reporter: Yahya G Nasrullah/INA

PP Muhammadiyah: Umat Islam Paling Siap Hidup dalam Kebhinnekaan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua PP Muhammadiyah, Hajriyanto Y Thohari menegaskan, umat Islam adalah umat yang paling mempunyai kesiapan dalam hidup berkebhinnekaan.

Hal itu disampaikannya dalam Kajian Mingguan PP Muhammadiyah di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (9/12/2016) malam.

“Sebetulnya umat Islam itulah umat yang paling siap hidup dalam kebhinnekaan, kemajemukan, atau dalam multikulturalisme,” ungkapnya, lansir Islamic News Agency (INA).

Alasannya, menurut Hajriyanto, hanya al-Qur’an kitab suci yang berbicara tentang agama selain Islam.

“Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang berbicara tentang agama yang lain,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Hajriyanto menyampaikan bahwa al-Qur’an juga mengajarkan bagaimana bersikap terhadap agama yang lain.

Sebagai kitab suci terakhir, al-Qur’an sangat sempurna dalam mengatur hidup umat Islam, salah satunya hidup dalam kebhinnekaan, jelasnya.

“Karena dia (al-Qur’an) wahyu yang terakhir, ya dia menyempurnakan. Maka dia lengkap. Termasuk di dalamnya lengkap (diatur. Red) bagaimana hidup di tengah kebhinnekaan, baik dalam suku etnis ataupun budaya,” pungkasnya.

Oleh karenanya, ia mengatakan aneh jika ada umat Islam masih bingung hidup berkebhinnekaan.

“Aneh bin ajaib kalau umat Islam itu bingung dalam kebhinnekaan,” tegas Hajriyanto.*

Reporter: Ali Muhtadin/INA

Danai Perang untuk Konflik di Berbagai Negara, Anggaran Militer Iran Membengkak

ANKARA (Jurnalislam.com) – Belanja pertahanan pemerintah Republik Syiah Iran baru-baru ini meningkat hampir 40 persen mencapai $ 10,3 milyar, menurut proposal rancangan anggaran yang diajukan ke parlemen pekan ini, menempatkan pertumbuhan pengeluaran militer selama kepresidenan Hassan Rouhani ini menjadi sekitar 80 persen, lansir Anadolu Agency, Jumat (09/12/2016).

Dengan terlibat di berbagai konflik politik, ekonomi dan sosial eksternal, pemerintah Rouhani dan Garda Revolusi Syiah Iran bermain dalam kebijakan luar negeri.

Dia tampaknya tidak keberatan dengan peran Pengawal Revolusi ‘di wilayah perang, terutama di Suriah.

Pemerintah Rouhani menaikkan anggaran perang Iran menjadi di atas $ 8 miliar di tahun 2014 dari $ 6 miliar pada 2013, selama masa presiden Mahmoud Ahmadinejad.

Garda Revolusi Syiah Iran, yang memimpin operasi militer di wilayah Suriah, menerima bagian terbesar dari anggaran ini.

Koordinasi antara pemerintah Rouhani dan Garda Revolusi di bidang militer dan kebijakan luar negeri dibarengi dengan peningkatan jumlah yang dialokasikan untuk Garda Revolusi dalam APBN resmi.

Anggaran yang dialokasikan untuk Garda Revolusi berjumlah sebesar $ 3,3 milyar pada tahun 2013, $ 5 miliar pada tahun 2014 dan $ 6,1 miliar pada 2015.

Saat jumlah ini kemudian jatuh menjadi hanya $ 4,5 milyar, jumlah yang dialokasikan untuk Kementerian Pertahanan dan Militer Iran meningkat pada anggaran 2016.

Namun, jumlah yang dialokasikan untuk Garda Revolusi Iran dalam rancangan anggaran untuk 2017 naik 53 persen, mencapai sekitar $ 6.900.000.000,-

Jumlah yang dialokasikan untuk militer, Garda Revolusi, Organisasi untuk Mobilisasi Kaum Syiah (Basij) dan Staf Umum Angkatan Bersenjata semua naik hampir 80 persen sejak pertengahan 2013.

100 Pengungsi Warga Sipil Aleppo Hilang setelah Memasuki Wilayah yang Dikuasai Pasukan Assad

SURIAH (Jurnalislam.com) – Ratusan orang pengungsi dari Aleppo Timur hilang setelah meninggalkan wilayah yang dikuasai faksi oposisi anti Assad, menurut kantor hak asasi manusia PBB, Jumat, sambil menyuarakan keprihatinan yang mendalam atas nasib mereka di tangan pasukan rezim Assad, Aljazeera melaporkan, Jumat (09/12/2016).

Juru bicara HAM PBB Rupert Colville mengatakan dalam pengarahan media (news briefing) bahwa kantornya telah mendengar “dugaan mengkhawatirkan bahwa ratusan orang telah hilang setelah menyeberang ke daerah yang dikuasai rezim Assad di Aleppo.”

“Mengingat banyaknya catatan buruk tentang penahanan sewenang-wenang, penyiksaan dan penghilangan, kami tentu sangat prihatin,” katanya.

Colville mengatakan anggota keluarga telah melaporkan kehilangan kontak dengan orang-orang tersebut, yang berusia antara 30 dan 50, setelah mereka menghindari serangan udara brutal rezim dan Rusia di daerah Aleppo yang dikuasai mujahidin Suriah sekitar sepekan yang lalu.

Komentarnya muncul saat artileri rezim Suriah membombardir wilayah sipil di jantung Aleppo pada hari Jumat.

Serangan itu memicu terjadinya eksodus massal dari Aleppo timur di mana sedikitnya 80.000 orang telah meninggalkan rumah mereka, menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (the Syrian Observatory for Human Rights-SOHR) yang berbasis di Inggris.

Meski kehilangan sejumlah wilayah, faksi-faksi perjuangan selama beberapa pekan terakhir, tetap memberikan perlawanan.

“Ini adalah perang taktik – hanya karena kita menarik diri dari wilayah timur karena serangan udara berat, bukan berarti perang berakhir,” kata Feras Basha, seorang komandan faksi oposisi di Aleppo yang terkepung.

“Ini tidak berarti akhir perjuangan kami. Kami telah mempertahankan wilayah kami.”

Pada hari Jumat, Majelis Umum PBB melakukan voting dengan hasil 122 berbanding 13 untuk menuntut penghentian segera perperangan di Suriah, menyediakan akses bantuan kemanusiaan di seluruh negeri dan mengakhiri semua pengepungan, termasuk di Aleppo.

Tiga puluh enam negara abstain dalam pemungutan suara pada resolusi yang disusun Kanada mengenai konflik Suriah yang hampir berusia enam tahun. Rusia, Iran dan China ,malah menentang resolusi.

Resolusi Majelis Umum tidak mengikat tetapi dapat meningkatkan beban politik.

“Ini adalah suara untuk berdiri dan mengatakan kepada Rusia dan Assad untuk menghentikan pembantaian manusia melalui serangan udara,” Duta Besar AS untuk PBB Samantha Power mengatakan kepada Majelis Umum sebelum pemungutan suara.

Undang-undang Myanmar Hapus Kewarganegaraan Muslim Rohingya

MYANMAR (Jurnalislam.com) – Sebuah undang-undang yang disahkan di Myanmar pada tahun 1982 membantah kewarganegaraan muslim Rohingya membuat mereka menjadi stateless (tidak memiliki Negara), padahal banyak di antara mereka telah tinggal di Myanmar selama beberapa generasi, lansir World Bulletin, Jumat (09/12/2016).

Hukum menolak hak muslim Rohingya untuk memiliki kewarganegaraan Myanmar; membatasi kebebasan mereka untuk bergerak, mengakses pendidikan dan pelayanan publik; dan mengizinkan properti (harta) mereka disita secara sewenang-wenang.

Sejak itu Myanmar mengacu Rohingya sebagai Bengali, menunjukkan mereka bukan warga negara Myanmar tetapi sebagai penyusup dari negara tetangga Bangladesh.

PBB menyebut muslim Rohingya sebagai salah satu kelompok etnis yang paling teraniaya di dunia.

Warga Rohingya telah melarikan diri dari Myanmar secara berbondong-bondong selama bertahun, dengan gelombang baru migrasi dimulai pada pertengahan 2012 menyusul episode kekerasan (pembantaian) komunal di Rakhine oleh ekstremis Rakhine Buddha kepada Muslim Rohingya.

Uni Ulama Internasional Serukan Solidaritas untuk Muslim Rohingya

QATAR (Jurnalislam.com) – Uni Internasional Ulama Muslim (The International Union of Muslim Scholars-IUMS) yang berbasis di Qatar menyerukan umat Islam di seluruh dunia untuk menggelar “Friday of rage-Jumat kemarahan” pada 9 Desember kemarin, untuk menunjukkan solidaritas dengan minoritas Muslim Rohingya yang dianiaya, World Bulletin melaporkan, Jumat (09/12/2016).

Dalam pernyataan yang dirilis Kamis malam, IUMS mengatakan “mengamati perkembangan keadaan tragis yang dihadapi oleh umat Islam Rohingya di Myanmar”.

IUMS melanjutkan dengan mengkritik “diamnya dunia Islam dan masyarakat internasional mengenai operasi pemusnahan manusia [Rohingya] yang dilancarkan oleh militer Myanmar”.

IUMS juga mendesak pemerintah Arab dan Muslim untuk mengadopsi diplomatik sikap keras dengan Myanmar terkait penganiayaan, dan meminta organisasi kemanusiaan Islam, Arab dan internasional untuk memberikan bantuan segera bagi Muslim Rohingya.

Kelompok advokasi Rohingya mengumumkan sekitar 400 warga Rohingya telah tewas dalam operasi militer di wilayah negara bagian Rakhine di barat Myanmar sejak 9 Oktober.

Pemerintah Myanmar mengatakan 74 yang melawan telah tewas selama periode yang sama termasuk empat yang dikabarkan tewas selama interogasi.