Al Jubeir: Iran adalah Sponsor Utama Teror di Dunia

MUNICH (Jurnalislam.com) – Menteri Luar Negeri Arab Saudi pada hari Ahad (19/02/2017) menolak permintaan Iran untuk berdialog dan mengatakan Teheran adalah sponsor utama terorisme di dunia, dan kekuatan destabilisasi di Timur Tengah yang ingin “menghancurkan kita.”

“Iran tetap menjadi sponsor utama tunggal terorisme di dunia,” kata delegasi Adel al-Jubeir pada Konferensi Keamanan Munich. “Mereka bertekad untuk membelokkan aturan di Timur Tengah … (dan) jika Iran tidak mengubah perilakunya maka akan sangat sulit untuk berurusan dengan negara seperti ini,” lansir Al Arabiya News Channel, Ahad.

Al-Jubeir mengatakan Iran menopang pemerintah rezim Suriah Bashar al-Assad, mendanai pemberontak Houthi di Yaman dan kelompok-kelompok kekerasan di seluruh wilayah di dunia. Dia mengatakan masyarakat internasional perlu mengatur “garis merah” yang jelas untuk menghentikan tindakan Iran.

 

Pasukan Irak Lancarkan Serangan Besar, 350.000 Anak Terjebak di Mosul Barat

MOSUL (Jurnalislam.com) – Sekitar 350.000 anak-anak terjebak di Mosul barat, Save the Children memperingatkan pada hari Ahad saat pasukan Irak melancarkan serangan baru di kota strategis yang masih dikuasai IS tersebut.

“Pasukan Irak dan sekutu mereka, harus melakukan segala daya untuk melindungi anak-anak dan keluarga mereka dari bahaya, dan menghindari bangunan sipil seperti sekolah dan rumah sakit saat mereka merangsek masuk lebih dalam ke kota,” kata direktur amal negara Irak yang berbasis di London tersebut, Maurizio Crivallero, lansir World Bulletin, Ahad (19/02/2017)

“Ini adalah pilihan suram bagi anak-anak di Mosul barat sekarang: bom, baku tembak dan kelaparan jika mereka tinggal – atau eksekusi dan penembak jitu jika mereka mencoba untuk mengungsi,” kata Crivallero dalam sebuah pernyataan.

Dia menambahkan: “rute melarikan diri yang aman bagi warga sipil juga harus dibentuk sesegera mungkin.”

Serangan untuk merebut kembali tepi barat Mosul yang dimulai pada hari Ahad itu bisa menjadi pertempuran paling brutal dalam operasi empat bulan di kota kedua Irak, lokasi terakhir kelompok IS di Irak.

Pemerintah Irak melancarkan serangan untuk merebut Mosul pada 17 Oktober, dan menyatakan Mosul timur “sepenuhnya dibebaskan” pada 24 Januari.

Pasukan federal sekarang menghadapi salah satu tantangan terberat – jalan-jalan sempit Kota Tua di tepi barat Mosul, yang sulit dilewati banyak kendaraan militer.

Save the Children memperingatkan bahwa “dampak persenjataan artileri dan peledak lainnya pada jalan-jalan yang sempit dan padat penduduk cenderung lebih mematikan disbanding yang lain yang telah kita lihat dalam konflik sejauh ini”.

350.000 adalah jumlah orang yang berusia di bawah 18, seorang juru bicara badan amal mengkonfirmasi.

KH. Athian Ali: Lebih Baik Membebaskan Seribu Orang Bersalah Daripada Menghukum Satu Orang Tak Bersalah

SERANG (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS), KH. Athian Ali, M.Dai menegaskan, kasus-kasus hukum yang menjerat beberapa tokoh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI sangat kental dengan upaya kriminalisasi.

Ia menilai, pihak-pihak yang membenci Islam kaget dengan bangkitnya ruh umat Islam Indonesia yang terwujud dalam Aksi 212 lalu.

“Ini memang terasa sekali nuansa kriminalisasinya. Ketika umat Islam bergerak menunjukkan eksistensinya ini tentu saja membuat gerah musuh-musuh Islam yang selama ini mengiri bahwa ruh umat Islam itu sudah tenggelam, yang ada cuma tinggal simbol-simbolnya saja. Mereka kaget,” ungkapnya kepada Jurniscom di Aula Masjid At Taubah, Kemang, Serang, Ahad (19/2/2017).

Kekagetan itu, kata dia, membuat mereka terus berupaya untuk meredam kembali ruh umat Islam yang kian menggeliat.

“Akhirnya mereka mencari jalan untuk melumpuhkannya kembali. Sehingga fitnah pun disebar, umat Islam yang menuntut agar hukum ini ditegakkan malah dituntut sebagai anti kebhinekan anti NKRI dsb,” katanya.

Lebih lanjut, Kyai Athian mengatakan, pihaknya sangat mendukung upaya penegakkan hukum di negeri ini. Akan tetapi, ia akan tegas menolak jika hukum dijadikan alat untuk menjerat orang-orang yang tidak bersalah terlebih untuk kepentingan politik.

“Kita tidak akan pernah menolak ditegakkan hukum, bahkan harus didukung. Cuma yang kita tidak terima itu kalau orang-orang yang tidak bersalah itu dicari-cari kesalahannya hanya karena kepentingan politik,” tegasnya.

“Kalau dalam prinsip Islam itu lebih baik kita membebaskan seribu orang yang bersalah daripada harus menghukum seorang yang tidak bersalah,” pungkasnya.

Peringatan Revolusi Syiah Iran di Jakarta, ANNAS: Pemerintah Harus Waspada

SERANG (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS), KH. Athian Ali, M.Dai menanggapi kedatangan tokoh Syiah asal Australia, M. Tawhidi ke Jakarta belum lama ini. Kedatangannya untuk menghadiri seminar peringatan 38 tahun revolusi Iran di Aula Islamic Cultural Center (ICC), Jakarta yang juga dihadiri oleh tokoh Syiah Indonesia, Jalaluddin Rahmat.

Menurut Kyai Athian, sebagai gerakan politik yang Syiah mempunyai agenda besar di Indonesia. Sebab, revolusi Iran merupakan amanat langsung dari Khomeini untuk ditularkan di negara-negara lainnya.

“Kehadiran dia (M. Tawhidi) juga kita perlukan untuk mengungkap jati dirinya. Dan memang dalam seminar itu cukup terungkap keinginan mereka untuk melanjutkan revolusi yang diamanahkan oleh Imam mereka (Khomeini),” ungkapnya kepada Jurniscom di Aula Masjid At Taubah, Kemang, Serang, Ahad (19/2/2017).

Ia melanjutkan, agenda revolusi yang diemban oleh gerakan Syiah harus diwaspadai oleh pemerintah.

“Ini tentunya harus menjadi perhatian bagi pemerintah. Agenda mereka itu revolusi. Jadi kalau pemerintah masih tetap tidak waspada atau bahkan membiarkan, ya ini kelalaian, dengan membiarkan musuh negara itu semakin membesar,” paparnya.

Seminar memperingati 38 tahun revolusi Syiah di Iran itu sempat mendapat penolakan dari umat Islam. Puluhan massa dari ANNAS Jakarta menggelar aksi penolakan di depan Aula ICC, tempat seminar dilangsungkan.

Kyai Athian mengaku, pihaknya baru mendapat kabar acara tersebut pada hari H. Ia menilai, kedatangan tokoh Syiah ekstrim itu sengaja disembunyikan untuk menghindari penolakan dari umat Islam.

“Mereka telah menyusun rencana itu dengan rapih sehingga kehadirannya itu seperti hantu yang tiba-tiba hadir. Mereka juga memanfaatkan konsentrasi umat Islam yang sedang terfokus pada masalah lain,” imbuhnya.

Kyai Athian juga menanggapi kabar dukungan M. Tawhidi untuk terdakwa kasus penistaan agama, BTP alias Ahok. Ia pun mengaku tak heran atas dukungan Syiah untuk Ahok. Sebab menurut ia, Syiah akan merangkul semua musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam.

“Mereka akan bersatu dengan pihak-pihak yang memusuhi Islam untuk menggalang kekuatan. Kita sudah melihat itu, semua aliran sesat juga mereka rangkul,” tutupnya.

Selain M. Tawhidi dan Jalaludin Rahmat, seminar 38 tahun Revolusi Syiah Iran itu juga dihadiri oleh Duta Besar Iran untuk Indonesia, Dr. Valiullah Mohammadi dan Direktur ICC Jakarta, Dr. Hakimelahi.

Reporter: M. Fajar

 

 

Kanselir Jerman: Islam Bukan Sumber Terorisme

MUNICH (Jurnalislam.com) – Islam bukanlah sumber terorisme, ulama Islam dan negara-negara Muslim harus berbicara melawan fundamentalis untuk menjelaskan kepada dunia, Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan, lansir Anadolu Agency.

Dalam pidatonya pada Konferensi Keamanan Munich hari Sabtu (18/02/2017), Merkel menekankan pentingnya kerjasama yang erat dengan negara-negara Muslim dalam mengalahkan terorisme internasional.

“Saya pikir, negara-negara tersebut, pertama dan terutama harus memberikan kontribusi. Karena hanya dengan cara ini kita akan mampu meyakinkan orang bahwa Islam bukanlah merupakan sumber terorisme. Tapi Islam yang dipahami secara salah,” katanya.

“Saya harap otoritas keagamaan Islam dapat menemukan bahasa yang kuat untuk menentukan batas Islam yang damai dengan terorisme yang dilakukan atas nama Islam. Kita sebagai non-Muslim tidak bisa melakukannya, itu harus dilakukan oleh ulama dan penguasa Islam,” tambahnya.

Merkel mengatakan ia telah membahas perang melawan terorisme saat bertemu dengan Perdana Menteri Turki Binali Yildirim pagi ini di Munich.

Secara terpisah, Yildirim dan Merkel sepakat untuk melanjutkan dialog dan kerja sama mereka, Perdana Menteri Turki mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Perdana menteri Turki juga mengadakan pertemuan bilateral dengan Merkel.

Yildirim berbicara tentang peluang untuk bekerja sama dengan Jerman dalam memerangi organisasi IS, Organisasi Teroris Fetullah (Feto) dan PKK / PYD.

Kedua pemimpin juga membahas kerjasama di bidang ekonomi dan budaya.

Syeikh Umar Abdul Rahman Wafat di Penjara AS

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Syeikh Umar Abdul Rahman dari Mesir, pendiri dan pemimpin gerakan jihad berbasis Kairo Jamaah Islamiyah (Islamic Group), meninggal dunia pada usia 79 di rumah tahanan AS, anaknya mengumumkan Sabtu (18/02/2017).

“Pihak berwenang AS telah mengatakan kepada keluarga bahwa ayah saya meninggal,” anaknya, Muhammad, mengatakan kepada Anadolu Agency.

Syeikh Umar Abdul Rahman, ulama kelahiran Mesir terkait dengan pemboman World Trade Center tahun 1993, meninggal secara alami pada hari Sabtu dalam fasilitas penjara AS, kata Departemen Kehakiman.

Juga dikenal sebagai “Blind Sheikh”, Abdul Rahman telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup di AS karena dituduh berperan mendalangi pemboman World Trade Center tahun 1993.

Intelijen Zionis, Mossad, Dalang Pembunuhan Ilmuan-ilmuan Islam di Dunia

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Pembunuhan insinyur penerbangan Tunisia akhir tahun lalu yang diduga memiliki hubungan dengan kelompok perlawanan Islam Palestina Hamas menyoroti Mossad, badan intelijen zionis yahudi yang diduga banyak membunuh ilmuan Islam.

Mohamed al-Zawari ditembak mati pada bulan Desember di luar rumahnya di kota Sfax di tenggara Tunisia. Hamas dengan cepat menyalahkan Israel atas pembunuhan itu, mengatakan sang insinyur dibunuh setelah mengawasi Program drone Hamas.

Al-Zawari merupakan salah satu diantara sejumlah ilmuwan dan aktivis Muslim yang diyakini dibunuh oleh intelijen zionis.

Pada tahun 1967, ilmuwan nuklir Mesir Samir Naguib tewas dalam kecelakaan mobil di AS. Naguib dilaporkan berencana untuk kembali ke Mesir pada puncak perang melawan Israel untuk membantu memulai program nuklir Mesir ketika ia dibunuh.

Ilmuwan nuklir Mesir lainnya, Yahya al-Mashad, yang memimpin program nuklir Irak, dibunuh di sebuah kamar hotel di Paris pada tahun 1980.

Pada tahun 1991, fisikawan Lebanon Rammal Hassan Rammal meninggal dalam keadaan misterius di Perancis.

Pada tahun 1993, penulis Mesir Gamal Hemdan meninggal dalam kebakaran di apartemennya di ibukota Mesir. Kerabatnya menyatakan ia dipukul di kepala dan draft buku tentang Yahudi dan Zionisme yang sedang ditulisnya menghilang.

1997, agen Mossad juga mencoba – namun gagal – untuk membunuh Kepala politik Hamas Khaled Meshaal di Yordania dengan menyemprotkan racun ke telinganya.

Pada tahun 2004, ilmuwan nuklir Irak Ibrahim al-Dhahiri ditembak mati saat ia mengendarai taksi di kota Baquba di barat Irak.

Analis percaya bahwa pembunuhan ilmuwan Muslim adalah taktik Israel untuk mencegah negara-negara Muslim mendapatkan nuklir dan memahami teknologinya.

“Israel melihat Muslim yang memiliki alat-alat teknologi sebagai bahaya,” analis politik Turki Mustafa Ozcan mengatakan kepada Anadolu Agency, Sabtu (18/02/2017).

“Mereka tidak ingin umat Islam melakukan terobosan di bidang ini, sehingga mereka menargetkan para ilmuwan [dari negara-negara mayoritas Muslim seperti] Mesir, Irak, dan Pakistan,” katanya.

Analis Turki mengutip penghancuran reaktor nuklir Irak dalam serangan udara Israel sebagai contoh upaya Israel untuk mencegah negara-negara Muslim untuk memiliki pengetahuan nuklir.

Pada pertengahan tahun 1981, pesawat tempur Israel menyerang reaktor nuklir yang dibangun oleh Irak di tenggara Baghdad.

“Namun Israel menolak untuk mengomentari pembunuhan ilmuwan Muslim untuk menghindari diangkatnya masalah ini di tingkat internasional,” kata Ozcan.

Hatem al-Zoabi, seorang penulis Swedia asal Suriah, mengemukakan pendapat yang sama.

“Pembunuhan ilmuwan Muslim oleh Mossad bertujuan mencegah negara-negara tersebut mengembangkan penelitian mereka,” katanya kepada Anadolu Agency.

Dia berpendapat bahwa Israel “menargetkan setiap Muslim yang bisa membantu mengembangkan negaranya dalam bidang apapun”.

‘Gerakan Syiah itu Seperti Ular’

SERANG (Jurnalislam.com) – Dewan Pakar Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS), HM. Rizal Fadhillah menegaskan, gerakan Syiah itu seperti ular. Ia bersembunyi saat lemah dan menyerang dengan licik ketika mempunyai kekuatan.

“Gerakan Syiah ini seperti ular, bergerak sembunyi ketika belum kuat. Tapi ketika sudah tinggi dia akan menggigit dan menyemprotkan bisanya, menghabiskan umat,” katanya dalam kajian strategis bertajuk “Bahaya Laten Syiah” di Aula Masjid At Taubah, Kemang, Serang, Ahad (19/2/2017).

Ia mengungkapkan, pergerakan Syiah di Indonesia saat ini sedang bergerilya dengan memasuki berbagai lini termasuk pemerintahan. Syiah, kata dia, menipu umat dengan taqiyahnya, berkedok demokrasi agar dapat diterima.

“Itulah ular, gerilya ke parpol politik, ke istana Presiden, dan lain-lain. Tipuan demokrasi, untuk gerakan politik,” terangnya.

Sementara itu, salah satu tokoh Banten, Juheni M Rois menyatakan, Syiah itu aliran yang paling sesat dan berbahaya. Sebab, dalam pergerakannya Syiah didukung oleh internasional dan sebuah negara, yakni Iran.

“Mestinya peran ANNAS itu adalah peran negara. Karena Syiah ini amat sangat berbahaya. Tidak ada toleransi, harus tegas!,” tegasnya.

Reporter: M. Fajar

Deklarasi ANNAS Banten, KH. Athian Ali: ‘Semoga Tidak Ada Syiah di Banten’

SERANG (Jurnalislam.com) – Hari ini, Ahad (19/2/2017) Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) wilayah Banten resmi dikukuhkan. Pengukuhan wadah anti Syiah Banten ini diharapkan bermanfaat untuk menjaga aqidah umat Islam di provinsi agamis ini.

“Bagi kita akidah ini sesuatu yang termahal dari hidup ini. Kita tidak ingin akidah lepas dari tangan saudara kita, kita tidak ingin tiket masuk surga lepas dari mereka,” kata Ketum ANNAS Pusat, KH Athian Ali kepada Jurniscom di Aula Masjid At-Taubah, Kemang, Serang, Ahad (19/2/2017).

“Membiarkan tiket itu lepas merupakan sebuah dosa luar biasa di mata Allah,” tambahnya.

Ia berharap, Banten dengan wilayah yang banyak ulamanya serta kental dengan keagamaan Islam dapat bersinergi dengan ANNAS dalam mencegah perkembangan Syiah.

“Mudah-mudahan nanti tidak ada satu pun umat Islam di Banten yang tersesatkan oleh Syiah,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua terpilih ANNAS Banten, KH. Hafidin mengucapkan rasa syukur akan terbentuknya ANNAS di Banten. Ia berjanji akan memaksimalkan kinerja ANNAS untuk umat.

“Kami berharap nantinya umat Islam di Banten dapat memahami apa itu Syiah dan dapat mengambil sikap. Alhamdulillah, dengan adanya Aksi 411 dan 212 umat bersemangat dan dapat diajak menjadi pengurus ANNAS Banten,” tutup pimpinan Yayasan Ashabul Maimanah Serang ini.

Reporter: M. Fajar

Perhimpunan Donatur GNPF-MUI: ‘Sumbagan Kami Untuk Allah dan Agama Kami’

JAKARTA (Jurnalislam.com) Perhimpunan Donatur Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) menegaskan bahwa donasi yang mereka sumbangkan untuk Aksi Bela Islam melalui GNPF-MUI semata-mata hanya untuk Allah.

“Sumbangan kami untuk Allah dan agama kami. Latar belakang kami menyumbang hanya ingin mencari ilmu bersama para ulama. Kajian yang kami peroleh selalu maknanya kita ambil yang baik, bermanfaat ilmunya, siapa yang membela Islam maka Allah akan merebut di kemudian hari,” kata Ketua Komunitas Muslimah untuk Kajian Islam (KMKI), Raikaty Panyilie di Jakarta, Jumat (17/2/2017), dilansir Salam-Online.

Raikaty yang juga salah satu donatur GNPF-MUI mengatakan, dengan berdonasi untuk Aksi Bela Al Qur’an ia hanya ingin Allah membelanya di akhirat kelak.

“Kita ingin supaya di hari akhir kita dibela Allah dengan kita membela Al-Qur’an ini, tujuan kami karena Allah semata,” ungkapnya.

Bahkan, Raikaty menambahkan, ada ibu-ibu pekerja kebersihan menyumbang makanan. “Ada itu ibu-ibu pembersih jalanan sejak Subuh sudah menyiapkan makanan,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, Ketua GNPF-MUI KH Bachtiar Nasir dan Ketua Yayasan Keadilan untuk Semua (YKUS) Adnin Armas dipanggil Bareskrim Polri sebagai saksi dalam kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Kuasa Hukum Ketua YKUS, Abdullah Al Katiri, heran dana Aksi 411 dan 212 yang dihimpun melalui peminjaman rekening yayasan tersebut diusut sebagai perkara tindak pidana pencucian uang atau money laundring.

“Yang namanya money laundring itu artinya ada pencucian uang kotor. Sementara ini uang bersih. Kalau uang bersih apanya yang mau dicuci,” kata Al Katiri usai pemeriksaan Ketua YKUS, Adnin Armas sebagai saksi di Bareskrim Polri, Rabu (15/2/2017) lalu.

Al Katiri menjelaskan, TPPU adalah uang kotor dari hasil seperti korupsi, kejahatan narkoba dan kejahatan lainnya. Sementara uang yang dihimpun GNPF-MUI dengan meminjam rekening yayasan adalah sumbangan dari umat Islam untuk Aksi 411 dan 212.

Maka, perkumpulan donatur GNPF-MUI itu pun bereaksi. Mereka menilai apa yang dilakukan aparat kepolisian kepada para ulama di GNPF-MUI adalah sebuah kriminalisasi. Mereka menegaskan bahwa sama sekali tidak merasa dirugikan oleh siapa pun dengan mendonasikan dananya untuk Aksi Bela Islam melalui GNPF-MUI itu.

“Sama sekali nggak dirugikan,” jawab mereka serempak.

Sumber: Salam-Online