Sepakat Jaga Kerukunan, Tokoh Lintas Agama Ikrarkan Persatuan

BIMA (Jurnalislam.com) – Sejumlah tokoh lintas agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) menggelar pertemuan di Aula Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bima Jalan Pendidikan, Lewirato, Mpunda, Kota Bima pada Jum’at (2/3/2018).

Pertemuan dilakukan untuk menyatukan persepsi dalam menjaga kedamaian serta kerukunan antar setiap umat beragama khususnya di Kota Bima.

“Kemudian kami juga menolak adanya informasi-informasi palsu dan berita yang tidak benar (hoax) yang akan berpotensi menciderai adanya kerukunan antar umat beragama yang sudah lama terjalin,” kata Ketua (FKUB) Kota Bima H Eka Iskandar Zulkarnain.
Pertemuan tersebut menghasilkan enam poin kesepakatan yang ditandatangani oleh seluruh perwakilan agama di Kota Bima.

Berikut isi kesepakatan tersebut selengkapnya
PERNYATAAN DAMAI TOKOH LINTAS AGAMA :

Bersatu untuk Bima, tanpa memandang Suku, Ras dan Agama.
Bersatu kita jaya, bersama kita ciptakan hidup rukun dan damai.
Pada hari ini, Jumat tanggal Dua Maret T ahun Dua Ribu Delapan Belas, kami yang hadir sepakat dan menanda tangani Pemyataan Damai untuk Kota dan Kabupaten Bima, yang selanjutnya di baca; BIMA, demi terbinanya kerukunanunan hidup umat beragama,menyatakan:

1. Bima adalah daerah yang sangat menjaga dan menjunjung tinggi toleransi.
2. Bersama-sama menjaga dan merawat serta memelihara kerukunan interen dan antar umat beragama yang dilandasi rasa toleransi, saling menghormati dan saling menghargai antar sesama umat beragama.
3. Bersama sama menjaga kesucian rumah ibadah sebagai tempat ibadah dan menolak HOAX yang mengatasnamakan SARA.
4. Bersama-sama ikut berpartisipasi, mengawasi, menolak, dan mengutuk tindakan radikalisme yang kebablasan, intoleran dan terorisme demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945.
5. Kebebasan mengeksperesikan pemahaman keagamaan sangat indah dan nyaman.
6. Setiap masalah yang terjadi dapat diselesaikan secara musyawarah dan mufakat melalui FKUB setempat.

 

Di Semarang, Aksi Solidaritas untuk Ghouta Digelar di Depan Kantor Gubernur Jateng

SEMARANG (JurnalIslam.com) – Aksi solidaritas untuk Ghouta juga dilakukan umat Islam Semarang pada Jumat (2/3/2018) di depan kantor Gubernur Jawa Tengah, Jalan Pahlawan.

Aksi bertema “Taujih, Dzikir, Sholat Ghaib Selamatkan Ghauta Timur” ini diikuti oleh berbagai elemen umat Islam, tokoh, dan ormas Islam di Semarang.

“Ini menjadi kebiadaban kemanusiaan bersejarah yang sangat biadab, maka tentunya ini menjadi bagian kita terdepan aktif menyuarakan pembelaan mereka,” kata koordinator aksi, Ustadz Dimas.

Perwakilan Puskomda (Pusat Komunikasi Lembaga Dakwah) Semarang menyebutkan aksinya tersebut merupakan salah satu bentuk persatuan umat mengutuk kebiadaban rezim Syiah di Suriah.

“Pergerakan kita di Semarang ini akan mendukung pergerakan-pergerakan diseluruh dunia, bahwasannya kita satu umat muslim tidak boleh bercerai berai, namun kita harus bersatu padu guna menyongsong kemenangan Islam kedepan,” paparnya.

Sementara itu, perwakilan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Semarang, Hafidz menyampaikan bahwa kedzaliman-kedzaliman yang terjadi terhadap umat Islam ini disebabkan oleh belum adanya kepemimpinan Islam.

“Umat Islam saat ini belum memiliki pemimpin yang akan menyatukan seluruh umat Islam Indonesia bahkan dunia, dan salah satu caranya adalah bagaimana kita bisa menyingkirkan perbedaan -perbedaan yang ada, antar harokah antar ormas bisa besatu,” jelasnya.

Kurang dari dua pekan, serangan udara yang dilancarkan rezim Syiah Bashar Assad dan Rusia telah menewaskan lebih dari 400 jiwa. Muslim di Ghouta Timur juga masih terkepung blokade pasukan Syiah dan sekutunya.

“403 meninggal dalam serangan udara yang diluncurkan rezim suriah di ghouta timur sejak tanggal 23 febuari, kurang lebih 2 minggu, 94% kondisi saudarakita di ghouta terkepung tidak ada bantuan makanan dan obat-obatan, bahkan mereka nunggu dalam kelaparan dan mati secara pelan -pelan,” papar Sri Suroto dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) Jateng.

Selain orasi dan doa bersama, penggalangan dana untuk Muslim Ghouta juga dilakukan dalam aksi tersebut.

Sebelumnya, pada hari yang sama, aksi serupa juga dilakukan Forum Umat Islam Semarang (FUIS) di depan Masjid Baiturrahman Simpang Lima.

 

Pendidikan Gratis Berbasis Wakaf, Kuttab Al Fatih Sinergi Foundation Siap Di-launching

BANDUNG (Jurnalislam.com)– Sinergi Foundation berkolaborasi dengan Al Fatih Pilar Peradaban akan menyelenggarakan launching “Kuttab Al Fatih Sinergi Foundation” di area Cileunyi Bandung, Sabtu (3/3/2018). Ini merupakan lembaga pendidikan gratis pertama untuk semua kalangan, berbasis wakaf dan dana kebaikan lainnya, yang halal dan tak mengikat.

“Melalui Kuttab Al Fatih – Sinergi Foundation, yang dibangun melalui dana wakaf, SF bercita-cita membangun pendidikan yang tak dibatasi strata sosial. Poin pentingnya, pendidikan ini dilandasi pula oleh landasan utama ajaran Islam, yakni Al Quran dan Sunnah,” tutur CEO Sinergi Foundation, Ima Rachmalia.

Ia mengingatkan, sejarah gemilang peradaban Islam selalu berakar dari keadilan dan kesetaraan di ranah pendidikan. Tak peduli kasta, rupa, warna, ataupun suku bangsa, kata Ima, semua berhak mengenyam pendidikan terbaik, dan salah satunya melalui kuttab. Ini terbukti berhasil di masa salafus salih.

Kuttab sendiri adalah tempat utama di dunia Islam untuk mengajari anak-anak. Ima berkisah, keberadaan Kuttab begitu agung dalam kehidupan masyarakat Islam, khususnya dikarenakan Kuttab adalah tempat anak-anak belajar Al Quran dan tempat mengajarkan betapa mulianya ilmu dalam syariat Islam.

“Dahulu kuttab mengukir lahirnya karya-karya ilmiah yang abadi sampai hari ini. Dahulu kuttab disebutkan dengan detail di tanah Haramain (Mekkah dan Madinah). Dahulu kuttab melahirkan ulama-ulama yang menjadi rujukan lembaga-lembaga Islam zaman ini,” kata Ima.

Dalam sejarah, lanjutnya, catatan tentang kuttab masih tersimpan dengan rapi, rujukan dan aplikasi lapangan tersusun dengan sempurna. Kriteria Pengelola dan Pengembangan lembaga terkonsep dengan baik. Bahkan kurikulumnya pun disebutkan tanpa ada yang tertutupi. Sebab itu, Ima yakin, jika konsep ini kembali diterapkan, kejayaan Islam adalah keniscayaan.

Kegiatan digelar di Kawasan Wakaf Pendidikan Sinergi Foundation, Masjid Ansharullah, Jl. Cibiru Beet, Rt 003 Rw 015, Desa Cileunyi Wetan Kec Cileunyi, Bandung 40622. Acara ini sekaligus pula menghadirkan pakar sejarah Islam sekaligus inisiator Kuttab Al Fatih di Indonesia, Ustadz Budi Ashari, Lc. dan ketua dewan pembina Sinergi Foundation dan Ketua MUI Bandung, Prof. Dr. KH Miftah Faridl.

 

Sumber : Siaran pers

KNRP Gelar Konser Amal Peduli Palestina di Asahan

ASAHAN (Jurnalislam.com)– Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) Wilayah Sumatera Utara menggelar konser kemanusiaan bertema Konser Amal Kemanusiaan Peduli Palestina di GOR Kabupaten Asahan, Sumatera Utara pada Sabtu, 3 Maret 2018 pukul 13.00-17.00.

Ketua Umum KNRP Suripto mengatakan konser ini ditujukan menyampaikan pesan kepada ummat Islam yang ada di wilayah Kabupaten Asahan tentang kondisi terkini Palestina. Pesan ini hendaknya disadari dan agar ummat Islam peduli kepada kondisi Palestina.

“Konser diharapkan menjadi bagian dari gerakan moral force dalam rangka membangkitkan kepedulian, perhatian masyarakat Sumut terhadap permasalahan yang dihadapi bangsa Palestina,” katanya melalui siaran pers yang diterima redaksi Sabtu (03/03/2018).

Konser Amal Peduli Palestina di Kabupaten Asahan merupakan bagian dari mengokohkan eksistensi KNRP Sumatera Utara. Ketua KNRP Sumatera Utara Sarwedi, menegaskan ini dalam rangka menunjukkan komitmen dan kecintaan serta kepedulian masyarakat Kabupaten Asahan terhadap rakyat Palestina.

“Dengan konser ini harapannya menjadi bagian dari agenda yang tidak pernah terputus hingga terbebaskanya Masjid Al Aqsha dan kemerdekaan bangsa Palestina melalui gerakan sosialisasi dan edukasi tentang permasalahan bangsa Palestina,” ujarnya.

Konser Amal Peduli Palestina mendapat dukungan hangat dari beberapa lembaga diantaranya IKADI, Genpro, FSLDK, KAMMI, Yakesma, One Day One Juz (ODOJ), Amanah.id, PKPU, Rumah Zakat, BSMI, Salima dan lembaga lainnya. Acara konser juga akan dimeriahkan oleh sejumlah musisi dan seniman diantaranya tanah air seperti Shoutul Harokah dan Madany.

Hadir juga dalam konser kemanusiaan Ulama Palestina Syeikh Nashif Nashir untuk menyampaikan keberkahan dan keutamaan Masjid Al-Aqsha serta kondisi terkini Palestina. Diakhir acara KNRP akan menggelar aksi penghimpunan dana kemanusiaan untuk membantu saudara kita di Palestina.

“Kami ucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Sumut khususnya yang telah mendukung seluruh agenda dan program Komite Nasional untuk rakyat Palestina. Semoga Allah SWT memberikan dan melipatgandakan amal kebaikan kita semua, amiin,” demikian tutup Ketua KNRP Sumut, Sarwedi.

Silaturahim Nasional Ulama dan Pejuang Baitul Maqdis Digelar di Jakarta

JAKARTA (Jurnalislam.com)– Ratusan peserta yang terdiri dari ulama, aktivis, lembaga kemanusiaan dan wartawan berkumpul di Jakarta untuk menghadiri Silaturahim Nasional Ulama dan Aktivis Pejuang Baitul Maqdis, Sabtu (3/3/2018).

Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Ustadz Bachtiar Nasir mengatakan kegiatan ini digelar untuk menyatukan barisan para pejuang pembebasan Palestina.

“Umumnya elemen pejuang Baitul Maqdis masih berjalan sendiri-sendiri. Masih terjadi kurangnya komunikasi di antara kita,” jelas Ustadz yang akrab disapa UBN ini dalam pidato pembukaannya.

Ketua Spirit of Aqsa ini juga menilai masih sedikit ulama yang serius dalam memperjuangkan pembebasan Al Quds. Kalaupun ada, masih berjalan sendiri-sendiri dan bersifat sporadis.

“Jadi acara ini untuk menyemangati kembali para ulama dan dai,” terang UBN seperti dilansir Islam News Agency (INA), kantor berita yang diinisiasi Jurnalis Islam Bersatu (JITU).

Untuk membebaskan Al Quds, UBN mendorong penuh sinergitas antara lembaga kemanusiaan dengan para ulama.

“Jangan membiarkan para ulama sendiri,” pinta UBN. “Bicara soal Palestina tidak lagi hanya sektoral, tapi butuh kerja sama dan kerja-kerja besar,” sambung UBN.

Silaturahim Nasional Ulama dan Aktivis Pejuang Baitul Maqdis ini diisi oleh pemaparan kondisi Al Quds oleh Wakil Ketua Komite Al Quds Syekh Samir Said yang berada di bawah al-Ittihad al-Alami lil Ulama al-Muslimin atau Persatuan Ulama Muslim Dunia.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua MPR Dr Hidayat Nur Wahid, MA

Para peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang terdiri dari para ulama, ormas Islam dan lembaga kemanusiaan.

Reporter : (Syah/INA)

Dr. Syafi’i Antonio : Indonesia Memiliki Potensi Bagus Dalam Keuangan Syariah

ISLAMABAD (Jurnalislam.com)- Pakar Ekonomi Islam di Indoesia, Dr. Muhammad Syafi’I Antonio menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi bagus dalam keuangan Syari’ah.

Hal itu disampaikannya saat menjadi Keynote Speaker dalam Simposium Internasional Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Kawasan Timur-Tengah dan Afrika di Auditorium Allama Iqbal, Islamabad, Pakistan, Jum’at (02/02/18).

“Dengan adanya Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS). Lebih dari itu, karena Presiden juga menjadi Chairman KNKS,” ungkapnya dalam bahasa Inggris.

Meski negara dengan populasi muslim terbesar, kata Antonio, namun Ekonomi Indonesia tidak sepenuhnya dikuasai oleh Muslim.

Inilah yang Menghambat Perekonomian Islam di Indonesia Menurut Pakar Ekonomi

Namun, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Tazkia ini mengungkapkan bahwa masih banyak potensi untuk mewujudkan hal tersebut.

Salah satunya, sebutnya, banyaknya jumlah usia produktif yang hidup di Indonesia.

“Demographic Bonus, kita senang hidup di zaman ini karena banyak muslim dengan usia produktif,” lanjut Antonio.

Kedua, sambungnya, banyaknya muslim di Indonesia menjadi banyak pula potensi pasar untuk Muslim.

“Kita ingin membawa spirit dan nilai madrasah, pondok pesantren, dan masjid ke pasar,” terang Lulusan Melbourne University.

Untuk diketahui, turut hadir pula Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia untuk Pakistan, Iwan Suyudhie Amri, Assisitant International Institute of Islamic Economic (IIIE), Dr. Atiq-uz Zafar, Vice President International Islamic University of Islamabad (IIUI), Prof. Dr. Muhammad Munir, dan beberapa delegasi dari PPI Tim-Teng Ka.

Kontributor: Salman

Inilah yang Menghambat Perekonomian Islam di Indonesia Menurut Pakar Ekonomi

ISLAMABAD (Jurnalislam.com) – Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STEI) Tazkia, Dr. Muhammad Syafi’I Antonio menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang menghambat berkembangnya perekonomian Syariah di Indonesia.

“Pertama, karena adanya dominasi asing dan aseng dalam berbagai sektor strategis, terutama sektor ekonomi,” ungkapnya saat Simposium Internasional Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Kawasan Timur-Tengah dan Afrika 2018 di Auditorium Allama Iqbal, Islamabad, Jum’at (02/02/18).

Umat Islam, sebutnya, sebagai populasi terbesar di Indonesia, tapi tidak sanggup menguasai aset negara.

“Baik bank, industri, dan pasar maka kita ini kecil dan tidak memiliki peran,” tuturnya.

Faktor berikutnya, katan Antonio, aseng turut ikut campur dalam urusan politik nasional.

“Bahkan mengontrol lobi politik dengan kekuatan ekonomi yang dimiliki,” sebutnya.

Menututnya, Presiden, kepala daerah, dan anggota parlemen memang dipilih secara langsung oleh masyarakat melalui proses demokrasi.

Dr. Syafi’i Antonio : Indonesia Memiliki Potensi Bagus Dalam Keuangan Syariah

“Tapi kampanye yang dilakukan oleh kandidat kepala daerah membutuhkan dana yang tidak sedikit. Maka yang menjadi pertanyaan, siapa yang mampu menanggung biaya tersebut jika bukan para pengusaha-pengusaha aseng dengan kekuatan modal yang begitu besar?,” sambungnya.

Faktor terakhir, terang Antonio, kurangnya umat Islam dalam mengusai media.

“Siapa yang mengontrol pasar, dia akan mengontrol media. Siapa yang mengontrol media, dia akan mampu menggiring opini publik. Siapa yang bisa menggiring opini publik, dia akan mengontrol politik dan proses demokrasi. Artinya, siapa yang ingin memenangi perpolitikan, maka dia harus menguasai pasar dan media,” tukasnya.

Kontributor: Salman

Peduli Ghoutah, Anshorusyariah Jatim Gelar Aksi Serentak di Tiga Kota

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Jamaah Ansharusy Syariah wilayah Jawa Timur menggelar aksi solidaritas untuk Ghoutah Timur, Suriah serentak di tiga kota, Malang, Surabaya, dan Mojokerto kota pada Jumat (3/2/2018).

Aksi bertajuk ‘Peduli Umat Muslim Ghoutah’ ini diisi dengan orasi dan penggalangan dana untuk korban kekejaman rezim Syiah Bashar Assad dan sekutunya. Selain itu, mereka juga menggelar doa bersama. Seperti yang dilakukan aktivis Ansharusyariah di kota Mojokerto, mereka mengajak para pengguna jalan untuk berdoa bersama ketika sedang lampu merah.

“Ini adalah salah satu bentuk rasa kemanusiaan dan solidaritas serta kecintaan kami terhadap Ahlus Sunnah di Syam maka kami mengerahkan segala kemampuan memberikan intruksi kepada seluruh anggota Jama’ah Ansharusy Syariah di Wilayah Jawa Timur untuk turun memberikan edukasi dan membantu media untuk menginformasikan kepada umat islam bahwa hari ini ada saudara kita yang sengaja di bombardir dan di bunuh tanpa peduli anak-anak, orang tua dan wanita,” kata amir Ansharusyariah Jawa Timur, Ustadz Hamzah Baya di Surabaya, Jumat (2/3/2018).

Warga Ghouta: Sejak PBB Umumkan Gencatan Senjata, Belum ada Bantuan Kemanusian Hadir

Ia menambahkan, donasi yang terkumpul akan disalurkan langsung ke Suriah melalui lembaga kemanusiaan non pemerintah yang ditunjuk.
Aksi tersebut mendapatkan respon positif dari masyarakat Jawa Timur. Beberapa warga dan pengguna jalan menyatakan dukungannya terhadap aksi solidaritas ini.

“Semoga dengan seperti ini dapat menjaga Ukhuwah islamiyah diantara umat islam dimanapun berada,” kata Budi salah satu warga yang sedang melintas lampu merah perempatan Sooko, Mojokerto.

HAM PBB Tuntut Rezim Assad dan Rusia Diseret ke Pengadilan Pidana Internasional

JENEWA (Jurnalislam.com) – Kepala hak asasi manusia PBB pada hari Jumat (02/03/2018) mengatakan bahwa kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan berat terjadi di Ghouta Timur dan di tempat lain di Suriah dan harus diseret ke Pengadilan Pidana Internasional, lanasir Anadolu Agency.

“Apa yang kita lihat, di Ghouta Timur dan tempat lain di Suriah, kemungkinan adalah kejahatan perang, dan berpotensi juga merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan berat,” Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Zeid Ra’ad al-Hussein mengatakan dalam sebuah pertemuan mengenai situasi di pinggiran kota Damaskus yang terkepung pada sesi ke-37 Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa.

Warga Ghouta: Sejak PBB Umumkan Gencatan Senjata, Belum ada Bantuan Kemanusian Hadir

“Warga sipil dituntut untuk tunduk atau mati. Pelaku kejahatan ini harus tahu bahwa mereka diawasi, bahwa berkas sedang disusun dengan maksud untuk menuntut mereka, dan bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah mereka lakukan,” dia menambahkan.

Kepala hak asasi manusia PBB mengatakan bahwa meskipun jeda lima jam telah diumumkan oleh Rusia untuk memungkinkan bantuan medis dan kemanusiaan, serangan udara dan serangan darat oleh rezim Suriah dan Rusia terus berlanjut.

“Selain itu, badan-badan kemanusiaan telah sering benar-benar menjelaskan bahwa tidak mungkin untuk memberikan bantuan selama jendela lima jam karena untuk bisa melewati pos pemeriksaan saja membutuhkan waktu satu hari,” katanya.

“Rezim Suriah harus diseret ke Pengadilan Pidana Internasional. Upaya untuk menggagalkan keadilan, dan melindungi para penjahat ini, merupakan tindakan yang tercela,” tambahnya.

Perwakilan AS di dewan tersebut, Theodore Allegra, mengutuk serangan “brutal” oleh rezim Bashar al-Assad.

“Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan kebrutalan serangan rezim terhadap penduduknya sendiri. Kengerian situasi ini bahkan tidak mampu diucapkan dalam bahasa Inggris untuk menggambarkannya,” katanya.

Memperhatikan bahwa tidak ada upaya menghentikan permusuhan meski Dewan Keamanan PBB telah menetapkan resolusi gencatan senjata Sabtu lalu, Allegra menambahkan: “Rezim Assad dan pendukungnya, Rusia, terus melakukan serangan udara – serangan udara yang menyebabkan lebih banyak kematian orang-orang yang tidak bersalah, perempuan, dan anak-anak, dan yang menyebabkan lebih banyak penghancuran infrastruktur sipil, termasuk bangsal rumah sakit bersalin.”

“AS menyesalkan semua serangan senjata kimia, dan sangat prihatin dengan laporan lain tentang serangan senjata beracun klorin di Ghouta Timur kurang dari satu hari setelah gencatan senjata seharusnya mulai berlaku,” katanya.

Duta Besar Turki untuk PBB di Jenewa, Naci Koru mengatakan pengepungan yang diterapkan oleh rezim di wilayah sipil “tidak dapat diterima”, mengacu pada Ghouta Timur.

“Kami siap untuk merawat warga sipil yang kritis dan terluka [dari Ghouta timur] di Turki. Kami akan terus memberikan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Suriah dan mendukung usaha masyarakat internasional dan PBB,” katanya.

Rezim Suriah, Rusia, China dan beberapa negara lain menentang diadakannya diskusi semacam itu di Dewan Hak Asasi Manusia PBB sedangkan AS, Inggris, negara-negara Uni Eropa, dan Turki mendukung sesi mendesak mengenai Ghouta Timur.

Rusia menolak dengan alasan bahwa pertemuan tersebut “tidak berguna dan kontraproduktif”.

Ghouta Timur, pinggiran kota Damaskus, telah diblokade dan dikepung selama lima tahun terakhir, dan akses kemanusiaan ke daerah tersebut, yang merupakan rumah bagi sekitar 400.000 orang, telah benar-benar terputus.

Dalam delapan bulan terakhir, pasukan rezim Syiah Nushairiyah Bashar al-Assad telah mengintensifkan pengepungan mereka terhadap Ghouta timur, sehingga hampir tidak mungkin bagi makanan atau obat-obatan masuk ke distrik tersebut dan membuat ribuan pasien memerlukan pengobatan.

674 orang tewas akibat serangan udara rezim Syiah Assad dan Rusia dalam beberapa hari ini.

Sabtu lalu, Dewan Keamanan PBB mengadopsi sebuah resolusi yang menyerukan gencatan senjata 30 hari di Suriah tanpa penundaan.

Warga Ghouta: Sejak PBB Umumkan Gencatan Senjata, Belum ada Bantuan Kemanusian Hadir

GHOUTA TIMUR (Jurnalislam.com) – Warga telah menyatakan ketidakpercayaan mereka terhadap “jeda kemanusiaan lima jam sehari”, yang diajukan oleh Rusia, yang konon akan menciptakan “koridor kemanusiaan” untuk memungkinkan evakuasi mereka yang mencari perawatan medis dan masuknya konvoi bantuan.

Namun sejauh ini, tidak ada satu pun konvoi bantuan yang bisa masuk, dan warga mengatakan bahwa tidak ada jaminan keselamatan jika mereka memilih untuk meninggalkan daerah tersebut.

“Penduduk Ghouta Timur mengolok-olok berita tentang koridor keluar – mereka tidak mempercayainya sedetik pun karena mereka telah kehilangan kepercayaan pada kredibilitas rezim – terutama karena penembakan tidak berhenti, dan baik Rusia maupun rezim Suriah tidak menyatakan keseriusan apapun demi menjaga warga sipil keluar dari perang,” Abdelmalik Aboud, seorang aktivis dari kota Douma, sebelumnya mengatakan kepada Al Jazeera, Jumat (2/3/2018).

Rezim Assad dan Rusia Masih Terus Gempur Ghouta Timur, 674 Warga Tewas

Ribuan keluarga dipaksa untuk berlindung di ruang bawah tanah atau tempat penampungan bawah tanah darurat karena intensitas pemboman dan serangan bom.

Berbicara kepada sebuah kantor berita Suriah setempat, penduduk Ghouta Timur mengatakan bahwa tempat penampungan saat ini masih belum memberi mereka keamanan dan keselamatan.

Seorang pria yang menyebut namanya sebagai Abu Anas, mengatakan bahwa dia dan keluarganya dipaksa untuk pergi ke tempat penampungan di Douma setelah daerah tempat dia tinggal bersama keluarganya terkena tembakan.

Satu rudal menghantam pintu masuk tempat penampungan yang mereka tinggali, mengakibatkan sejumlah korban cedera.

“Tempat penampungan ini penuh sesak dan tidak memiliki fasilitas dasar,” kata Abu Anas, setelah memindahkan keluarganya ke rumah yang lain. “Mereka tidak dilengkapi dengan makanan dan air, dan kebanyakan orang bahkan tidak punya pakaian.”

Omar, yang hanya memberikan nama depannya, berasal dari kota Hazza. Dia mengatakan bahwa walaupun para pemuda mencoba memberikan kenyamanan kepada orang-orang tua, terutama mereka yang menderita berbagai penyakit, kondisi tempat penampungan ini “sulit”.

“Kami hidup berhari-hari tanpa makanan, dan saya tidak bisa menyediakan obat yang saya butuhkan untuk ibu saya,” kata Omar.

Juga tidak ada toilet di tempat penampungan. Terlepas dari risiko hidup mereka, Omar mengatakan bahwa dia harus membawa ibunya keluar dan masuk ke salah satu rumah di dekatnya kapan pun dia memerlukan toilet.

Kenapa Iran Tingkatkan Perannya di Suriah?