Lombok (Jurnalislam.com) – Jamaah Ansharusy Syariah menyalurkan bantuan untuk korban gempa di Lombok Utara. Bantuan disalurkan di Desa Rempek Darussalam, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara pada Senin (13/8/2018).
Amir Jamaah Ansharusy Syariah Wilayah Nusa Tenggara, Ustadz Muhammad Taqiyuddin mengatakan bantuan ini adalah hasil dari penggalangan dana yang dilakukan di wilayah Nusa Tenggara.
“Sebagai sebuah jamaah yang selalu peduli terhadap penderitaan yang dialami oleh saudara sesama muslim, kami merasa terpanggil untuk ikut membantu mereka,” katanya.
Salah satu bangunan yang ambruk akibat gempa di Lombok Utara. FOTO: Sirath
Penyerahan bantuan ini adalah yang kesekiankalinya dari Jamaah Ansharusy Syariah yang telah hadir di Lombok sejak gempa pertama pada 29 Juli lalu.
“Ketika terjadinya gempa kami langsung turun ke lokasi di Kabupaten Lombok Utara, setelah kami melakukan pendataan terhadap jumlah korban, kami langsung menyampaikan bantuan tahap awal berupa makanan kepada para pengungsi,” papar Ustadz Taqiyuddin.
Ia menjelaskan, bantuan masih sangat diperlukan melihat kebutuhan masyarakat korban gempa yang masih belum kembali beraktifitas karena trauma gempa.
Selain di Lombok, Jamaah Ansharusy Syariah juga mendirikan posko pengungsian di Pariwisata, Kelurahan Cakra, Mataram, Nusa Tenggara Barat.
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti mendesak Dinas Pendidikan di berbagai daerah untuk segera melaksanakan program Sekolah Ramah Anak (SRA). SRA adalah program dimana pihak sekolah tidak mengedepankan hukuman dalam pembinaan terhadap siswanya.
“Tidak ada lagi guru menghukum siswa tapi mengutamakan pemberian penghargaan pada siswa yang melakukan perbuatan positif dan menerapkan disiplin positif dalam menangani siswa bermasalah,” kata dalam siaran pers di kantornya, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (13/8/2018).
Ilustrasi Sekolah Ramah Anak
Retno pun mendorong Kemdikbud dan Kemenag untuk menjalankan program peningkatan kapasitas guru dalam pelaksanaan manajemen pengelolaan kelas. Menurutnya, hal tersebut sangat diperlukan untuk menghindari guru melakukan tindak kekerasan terhadap siswa.
“Agar kasus yang di Purwokerto berupa penamparan yang dilakukan guru inisial LK terhadap siswa inisial L tidak terulang,” pungkasnya.
Selain itu, KPAI meminta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) untuk bersinergi dengan lembaga terkait agar program SRA yang sempat mandeg sampai 2 tahun segera terlaksana.\
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan menyampaikan, kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah dengan dalih kedisiplinan masih terjadi. KPAI mencatat sebanyak 33 kasus terjadi selama April-Juli 2018.
“Selama April-Juli 2018, KPAI melakukan penanganan dan pengawasan kasus pelanggaran hak anak sebanyak 33 kasus,” kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti di kantornya, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (13/8/2018).
Hal tersebut, kata Retno, berdampak buruk terhadap tumbuh kembang anak karena menimbulkan trauma, cedera fisik hingga kematian.
Retno menjelaskan, dari 33 kasus yang ditangani KPAI, tertinggi adalah anak korban kekerasan/bully sebanyak 13 kasus (39%). Kemudian, diikuti kasus anak korban kebijakan sebanyak 10 kasus (30,30%), anak putus sekolah dan dikeluarkan dari sekolah sejumlah 5 kasus (15%), pungli di sekolah sebanyak 2 kasus (6,60%), tidak boleh ikut ujian sejumlah 2 kasus ( 6,60%), dan penyegelan sekolah sebanyak 1 kasus (3,30%).
Retno menjelaskan, sebagian guru beranggapan bahwa siswa hanya dapat didisiplinkan dengan hukuman kekerasan, ketimbang melakukan disiplin positif serta pemberian penghargaan kepada peserta didik.
KPAI mengungkapkan, di daerah Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumut, seorang siswa kelas 4 SD dihukum gurunya dengan menjilat WC karena lupa melaksanakan tugas untuk membawa kompos.
“Hukuman jilat WC diperintahkan sebanyak 12 kali, namun baru jilatan keempat siswa mengalami muntah. Hukuman ini tentu saja menimbulkan trauma bagi korban,” pungkasnya.
Lebih lanjut, KPAI juga mencatat ada kasus kematian siswa di lembaga pendidikan baik level sekolah daerah maupun nasional yang berpotensi melanggar hak anak-anak.
SOLO (Jurnalislam.com)-Perguruan bela diri muslim Tapak Siaga kembali meraih Juara 2 di di kelas B kategori SMA dan Juara 3 di kelas G kategori SMA, di kejuaraan Tranmart Cup 1.
Adalah Luthfi Syahputra dan Andre Kustanto siswa Tapak Siaga Pusat, Banyuanyar Solo yang berhasil mengharumkan nama perguruan yang baru menjadi anggota IPSI di tahun 2018 ini.
Muhammad Abdul Ghoniy, KetuaPerguruan Tapak Siaga mengaku bersyukur atas prestasi anah asuhnya di kejuaraan silat se- Jawa Tengah Transmart Cup 1 di Transmart studio mini Solo, Sabtu-Ahad(11-12/8/2018).
“Alhamdulillah kami penggurus tapak siaga bersykur atas prestasi yang ditorehkan siswa kami di kejuaraan Transmart Cup 1 ini,” katanya.
Menurutnya ini adalah awal yang bagus buat perguruan yang di pimpinya ini,bukan hanya masalah menangya tapi lebih ke arah ke mental dan pengalaman bertanding.
“Awal yang baik kami sebagai pimpinan ataupun pelatih tidak hanya mengajari anak untuk bisa memenangkan pertandingan saja,tapi juga harus siap kalah,karna kekalahan adalah awal dari keberhasilan dan yang paling utama adalah menguatkan mental dan pengalaman siswa”,tutupnya.
Kejuaraan Silat Sejateng Transmart cup 1 ini di di pertandingkan 4 kelas,yaitu SD, SMP, SMA dan Umum dan ikuti puluhan perguruan silat dari Jawa tengah.
Pengungsi Sembalun berbondong-bondong sumbang pengungsi di Lombok Utara
LOMBOK — Korban gempa bumi di pengungsian Dusun Jorong, Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, ramai-ramai menyumbangkan sayuran untuk korban gempa di Lombok Utara.
Sebanyak 15 mobil pick up berisi sayuran dan buah-buahan didistribusikan ke lokasi pengungsian di Lombok Utara.
“Kami salurkan ke pengungsian di Lombok Utara, tepatnya ke Desa Tanjung, Gangga, dan Pemenang,” kata Ozi, Kepala Dusun Jorong, Sembalun Bumbung, Senin (13/8/2018) seperti dilansir INA News Agency, kantor berita yang diinisiasi Jurnalis Islam Bersatu (JITU).
Rencananya, bantuan sayuran dan minuman dari warga Sembalun Bumbung akan terus disalurkan.
Padahal, menurut Ozi, Dusun Jorong merupakan lokasi yang terkena dampak parah gempa bumi. Terdapat 500 KK dengan jumlah 1328 warga mengungsi di sekitar perkebunan.
“Ndak ada satu pun keluarga yang tinggal di rumah. Semua rumah pada roboh, semua tinggal di tenda,” ungkap Ozi.
Ozi menambahkan warganya sangat antusias memberikan sumbangan.
Walau ditimpa musibah, warga Dusun Jorong, yang mayoritas petani, berlomba-lomba menyumbangkan hasil bumi.
“Alhamdulillah, setiap harinya warga di sini berbondong-bondong antarkan sayuran untuk Lombok Utara,” ungkap Ozi.
Lihatlah ke bawah, jangan melihat ke atas. Demikian pesan Ozi yang mengutip hadits Rasul saat menyampaikan alasan warganya tetap memberi dalam kesulitan.
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah,” pungkas Ozi.
reporter : Hilman, Foto: aghniya/ Jurnalis Islam Bersatu
LOMBOK (Jurnalislam.com) – Jamaah Ansharusy Syariah (JAS) Wilayah Nusa Tenggara (Nusra) mendirikan posko pengungsian di Pariwisata, Kelurahan Cakra, Kecamatan Mataram – Nusa Tenggara Barat, sejak Senin (5/8/2018).
Ketua Jamaah Ansharus Syariah Wilayah Nusra, Muhammad Taqiyuddin mengatakan bahwa JAS berkolaborasi bersama dengan berbagai relawan dan lembaga kemanusiaan hadir lebih awal pasca gempa untuk menunjukkan kepada mereka bahwasanya umat Islam itu bersaudara.
”Kami mendirikan posko tanggap bencana untuk bisa membantu meringankan beban dari para korban gemba, sekaligus melayani kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan mereka,”katanya.
Selain itu, JAS juga merasakan langsung penderitaan dan kepiluan mereka, mendengarkan keluhan dan harapan mereka, menyaksikan tangisan serta air mata kesedihan mereka, serta untuk membimbing dan membahagiakan mereka agar tidak larut dalam kesedihan.
“Oleh karena itu, kita perlu untuk membantu mereka, mari kita ringankan penderitaan mereka, karena mereka juga adalah saudara kit,” pungasnya.
LOMBOK (Jurnalislam.com) – Gempa bumi yang melanda daerah Lombok NTB para Ahad (5/8/2018) menyisakan duka tersendiri bagi segenap warga NTB. Pasalnya datangnya gempa tersebut membuat seluruh warga ketakutan dan panik.
Dari data yang dihimpun oleh tim Jurnalislam.com dari BNPB setidaknya lebih dari 300 orang meninggal dunia yang tersebar di beberapa tempat diantaranya Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Tengah, Kota Mataram, serta Kota Denpasar.
Selain ratusan korban meninggal, tercatat ribuan juga korban luka akibat gempa tersebut. Mereka menderita luka akibat terkena reruntuhan bangunan yang mereka tempati akibat dahsatnya goncangan gempa.
Sementara itu ratusan ribu warga juga mengungsi ditenda-tenda pengungsian untuk menyelamatkan diri dari gempa.
Dari pantauan tim Jurnalislam di lapangan pada (12/5/2018) sampai hari ini warga masih mengungsi di tenda-tenda pengungsian karena mereka masih merasa trauma dengan gempa dan merasa ketakutan akan datangnya gempa susulan.
Muhsin, warga Kabupaten Lombok Utara menuturkan, sampai nhari ini kami masih tidur di posko pengungsian, karena kami masih merasa trauma terhadap datangnya gempa bumi.
“Selain itu warga juga masih ketakutan akan kembali datangnya gempa susulan, sehingga akan menimbulkan kepanikan serta akan adanya korban lagi. Maka untuk saat ini tempat yan aman bagi kami adalah di posko pengungsian.”
Selain itu juga para relawan masih menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk para korban bencana gempa tersebut, sehingga mereka bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan Hari Raya Idul Adha 1439 Hijriyah jatuh pada tanggal 22 Agustus mendatang. Keputusan ini berdasarkan hasil sidang isbat penetapan 1 Dzulhijah 1439 Hijriyah di Kantor Kemenag Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (11/8/2018).
Dalam sidang yang dipimpin langsung oleh Dirjen Bimas Islam Kemenag, Muhammad Amin tersebut disepakati bahwa tanggal 1 Dzulhijah 1439 Hijriyah jatuh pada hari Senin (13/8/2018). Dengan demikian, Hari Raya Qurban jatuh pada 22 Agustus.
“Maka malam 1 Dzulhijah jatuh pada hari Senin tanggal 13 Agustus 2018. Maka tanggal 10 Dzulhijah atau Hari Raya Idul Adha jatuh pada 22 Agustus 2018,” kata Amin dilansir Jawapos.com
Penetapan itu berdasarkan dua mekanisme yang diterapkan oleh Kemenag, yaitu dengan cara hisab, dan ruqyatul hilal atau penglihatan hilal dari sejumlah titik pemantauan.
Kemenag melakukan ruqyatul hilal di 92 titik yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari laporan 29 pelaku ruqyatul hilal, tak satupun yang melihat hilal. Sehingga bulan Dzulqaidah digenapkan menjadi 30 hari.
“Atas dua hal itu dari perhitungan hisab dan ruqyatul hilal yang tidak terlihat, sebagaimana yang kita pedomani dari fatwa MUI, kita putuskan bulan Zulkaidah 1439 Hijriyah kita sempurnakan dengan cara ijtima menjadi 30 hari,” jelasnya.
Lebih jauh Amin berharap keputusan ini menjadi berkah bagi seluruh umat Islam di Indonesia. Tak lupa Kemenag atas nama pemerintah mengucapkan selamat hari raya Idul Qurban bagi seluruh umat muslim.
“Mudah-mudahan keputusan ini memberi berkah pada kita semua. Atas nama pemerintah khususnya untuk umat Islam selamat memasuki bulan Dzulhijah, selamat merayakan hari raya Idul Adha,” tutup Amin.
CIMAHI (Jurnalislam.com) – Jelang pemilihan presiden (pilpres) 2019, masyarakat Indonesia diimbau menjaga ukhuwah (silaturahim), tidak menuhankan pilpres dan tidak rusak akhlak akibat helatan politik lima tahunan tersebut.
Hal tersebut diungkapkan Pimpinan Daarut Tauhid, Abdullah Gymnastiar yang akrab disapa Aa Gym saat ceramah di acara Tabligh Akbar Mapolres Cimahi, Sabtu (11/8/2018). Dirinya bersyukur, satu tahapan pemilu sudah dilalui dan akan dilanjutkan dengan tahapan-tahapan berikutnya.
Ia berharap, ajang pilpres tidak dijadikan sebagai ajang pertandingan, namun sebagai ajang perlombaan. Artinya, tidak ada pihak yang saling mengalahkan, menjatuhkan, menghancurkan dan melumpuhkan.
“Kita bersyukur satu tahapan sudah dimulai. Kita jadikan perlombaan (dimana) semua berusaha memberikan yang terbaik,” ujarnya lansir Republika.co.id.
Dirinya menambahkan, persoalan saat ini yang dihadapi oleh bangsa adalah akhlak, bukan politik atau ekonomi. Oleh karena itu, selama proses penyelenggaraan pilpres harus menjaga ukhuwah.
“Saya ingin membantu agar pilpres ini akidah umat tetap terjaga, mendukung masyarakat terjaga akhlaknya dan mendukung agar ukhuwah terjaga,” ujarnya.
Kapolres Cimahi, AKBP Rusdy Pramana mengatakan kegiatan Tabligh Akbar Polres Cimahi dalam rangka tasyakur Kemerdekaan RI ke-73. Selain itu, menjaga kondusivitas menjelang Asian Games 2019 dan menjelang pengamanan pilpres dan pileg 2019.
Oleh: Beggy Rizkiyansyah – Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa
Suka tak suka perhatian kita saat ini terus dibombardir oleh satu topik: bursa penentuan Calon Presiden dan Wakil Presiden Indonesia. Bukan saja dalam setiap pemberitaan media, tetapi isu ini menggelayuti linimasa media sosial kita.
Apapun dinamika yang terjadi kenyataannya telah terbaca. Tak mudah bagi calon presiden yang ada (Prabowo Subianto) untuk menerima rekomendasi yang telah diperas oleh para ulama dari Ijtima Ulama tempo hari. Tak perlu dipungkiri, hasil rekomendasi Ijtima ulama masih dipandang politisi sejajar dengan faktor-faktor lainnya.
Rekomendasi ulama bukan dianggap satu keputusan yang harus ditaati. Tetapi masih sekedar pertimbangan-pertimbangan untung rugi politik belaka. Para politisi belum melihat Ulama sebagai satu pengarah umat yang signifikan. Lebih mengenaskan masih ada politisi yang mungkin melihat ulama sekedar mesin pendulang suara.
Setidaknya sejak era reformasi umat kerap menitipkan cita dan harapannya kepada perahu-perahu politisi sekular. Atau minimal tak berideologi Islam. Tak pelak situasi semacam ini menyiratkan bahwa Islam tak lagi dipandang sebagai satu sistem perikehidupan -yang bukan saja diridhai oleh Allah- tetapi juga mampu menyelesaikan berbagai persoalan.
Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional GNPF Ulama
Maka kejadian semacam ini seharusnya dilihat bukan sebagai sumber masalah, tetapi sebenarnya adalah gejala dari sebuah persoalan yang lebih besar, yaitu betapa mendominasinya sekularisme di Indonesia. Para figur (calon) pemimpin masih berparadigma memisahkan agama dengan negara. Menganggap Islam bukanlah solusi persoalan yang ada. Begitu pula masyarakatnya. Betapa banyak yang belum merasa perlu memilih solusi berdasarkan Islam.
Kita akhirnya terjebak dalam lingkaran setan. Calon pemimpin yang dititipkan cita Islam melihat aspirasi umat dan ulama bukanlah sebagai pondasi berpijak melainkan pertimbangan elektoral belaka. Masyarakat pemilih pun demikian. Figur yang tidak ideologis dianggap dapat memberi jalan keluar dari masalah yang membeli mereka.
Cukuplah figur tersebut didandani, dicocok-cocokkan, dipantas-pantaskan dengan simbol-simbol Islam belaka. Cukup dilabeli ‘keturunan ulama,’ berasal dari kelompok tertentu atau diberi label dekat dengan kelompok Islam, sudah terpuaskan dahaga masyarakat. Kita sepertinya cukup puas dibuai dongeng-dongeng semacam, si fulan seperti Umar bin Khattab; yang bermasa lalu kelam kemudian menemukan jalan Islam.
Gelar-gelar tempelan semacam “Umar abad ini”, atau “Natsir baru” sudah cukup untuk menutup mata kita. Modus semacam inilah yang akhirnya menjadi santapan akrobat para politisi. Dengan bungkus dan sorot lampu media, pencitraan “Islami” menjadi santapan sehari-hari. Mata rantai lingkaran setan ini memang harus diputus.
Kita harus berbesar hati melihat kenyataan bahwa semakin jauhnya para aktor politik dari ulama. Hal ini bisa saja diresapi sebagai satu kekecewaan. Tetapi kita juga dapat melihat sisi terangnya. Sudah saatnya umat bersama ulama berdiri sendiri. Tak lagi menggantungkan harapan dan menitipkan cita pada pemimpin yang tak seideologi.
Umat Islam beserta Ulama harus mengajukan (calon) pemimpinnya sendiri. Bukan lagi menitipkan aspirasi pada pemimpin berbeda perahu. Apalagi mencari pemimpin dadakan, dipaksakan, karbitan atau hasil gorengan media. Kita tak bisa lagi baru membicarakan pemimpin ketika mendekati masa pemilihan kepala daerah atau kepala negara.
Mencetak pemimpin umat bukanlah perkara satu dua tahun. Ia adalah satu proses kaderisasi oleh ulama yang ditempa sejak lama dengan berbagai kondisi. Mari kita lihat kenyataan sejarah. Berbagai tokoh pemimpin umat adalah hasil tempaan ulama dalam waktu yang lama.
Mohammad Natsir misalnya. Ia adalah pemimpin yang ditempa oleh ulama sekaliber Ahmad Hassan. Natsir sejak muda berguru ke Tuan Hassan. Bahkan Natsir memilih Bersama Tuan Hassan ketimbang mengambil peluang beasiswa studi oleh pemerintah kolonial Belanda. Tuan Hassan bukan saja menempa Natsir dengan ilmu agama, tetapi ia melatih Natsir muda untuk menjadi pengawal umat.
M. Natsir pendiri Dewan Dakwah Islam Indonesia
Kehadirannya di Majalah Pembela Islam membuktikan ia hadir untuk mengadvokasi umat Islam. Natsir muda tak puas berguru pada seorang guru saja. Pada Haji Agus Salim, Natsir Bersama kawan-kawan di Jong Islamieten Bond (JIB) memerlukan hadir menimba ilmu dari politisi senior Sarekat Islam tersebut. Buya Hamka menyebut para anggota JIB, “…yang lebih memperdalam pengertian dan amalan agama sehingga Islam tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi menjadi dasar dan pandangan hidup.” (Hamka: 2002)
Munculnya Natsir Bersama Jong Islamieten Bond (JIB) ini harus dilihat sebagai satu kriteria calon pemimpin, yaitu figur yang memang telah lama berjejaring dengan dunia gerakan Islam. Bukan figur yang sekonyong-konyong muncul ketika masa politik elektoral belaka. Kehadiran dalam dunia pergerakan memberikan makna bahwa calon pemimpin telah lama membersamai umat. Bukan sekedar cendikiawan yang hidup di menara gading.
Mohammad Natsir dan JIB adalah contoh generasi emas gerakan Islam. JIB bergerak bersama umat khususnya para pelajar muslim. Ditengah belantara sekularisme yang menyelimuti pelajar-pelajar ‘pribumi’ di sekolah Belanda, para aktivis JIB mencoba menghidupkan suluh bagi para pelajar tersebut. Diskusi-diskusi, tulisan-tulisan, aktivitas mengajar menjadi denyut sehari-hari generasi emas tersebut.
Dari JIB-lah kemudian muncul tokoh-tokoh seperti Mr. Kasman Singodimedjo, Mohammad Roem, Syamsurizal, dan lainnya. Sebagian besar dari mereka kemudian menjadi tokoh sentral di Masyumi. Buya Hamka menuturkan kesaksiannya tentang para pemuda generasi emas JIB ini:
“Intelek pejuang bekas didikan Haji A. Salim dan anggota Kernlingaam tadi, dengan sendirinya telah dapat menutup mulut kaum intelek didikan barat, yang siang malam bermimpi bahasa belanda tadi, yang memandang Islam sebagai, ‘Islam Sontoloyo, santri gudikan atau kiyai bini banyak atau kolam masjid kotor atau Islam yang tidak bisa dipakai untuk kemajuan atau orang Islam harus menganut modernisasi, kalau perlu musti pandai berdansa’ dan sebagainya.” (Hamka: 2002)
Organisasi Jong Islamieten Bond (JIB) memisahkan diri dari Budi Oetomo dan membentuk organisasi intelektual Muslim
Mohammad Natsir memang menjadi figur yang menonjol dari aktivitasnya “menutup mulut kaum intelek didikan barat.” Pena-pena tajamnya menjadi bukti betapa gigihnya Natsir membela kehormatan Islam. Majalah Pembela Islam yang dikelola Natsir di Bandung menjadi saksi pembelaan Natsir terhadap Islam. Mulai dari isu penistaan terhadap Islam, ketidakadilan pemerintah kolonial, hingga isu-isu kebangsaan. Semua disajikan Natsir dalam tulisan yang tajam tetapi tetap beradab. Tak mengumbar retorika dan amarah nista.
Buya Hamka, yang menjadi salah satu pembaca Pembela Islam, mengatakan, “Mulai saja majalah itu dibaca, timbullah dalam jiwa semangat yang terpendam yaitu semangat hendak turut berjuang dalam Islam. Artikel-artikel yang dimuat di dalamnya menggugah perasaan hati untuk bangun, bergerak, berjuang hidup dan mati dalam Islam.” (Hamka: 1978)
Semua tentu mengingat perdebatan Natsir dan Soekarno tentang agama dan negara yang aktual dan nikmat tersebut. Salah satu “monument” perdebatan antara Islam dan sekularisme. Tak mungkin kita mempelajari sejarah pemikiran di Indonesia tanpa merujuk pada perdebatan Natsir dengan Soekarno tersebut.
Dari perdebatan dan tulisan-tulisan Natsir lainnya kita dapat melacak jejak pemikiran Natsir. Seorang pemimpin haruslah figur yang dapat ditelusuri dan dikenali pemikiran dan gagasannya. Mudah bagi kita untuk mengetahui gagasan Natsir dari segudang tulisan-tulisannya. Tiga jilid Capita Selecta adalah contoh mudah menelusuri gagasan dan pemikirannya. Dari tulisannyalah kita dapat mengetahui bahwa Natsir adalah figur yang ideologis. Mengusung Islam sebagai pandangan hidup.
Dari sebaran tulisan-tulisannya pula kita dapat mengetahui Natsir adalah figur yang berwawasan luas. Tulisannya merentang dari persoalan dakwah (lihat Fiqhud Da’wah), politik, sejarah hingga budaya. Ketika membuka kembali perdebatan Natsir dengan Soekarno maka kita paham, bahwa Natsir pun menyelami bacaan-bacaan Soekarno. Ia (mampu) mengunyah bacaan dari lintas ideologi.
Dari tulisan-tulisannya Natsir dapat dikenal oleh khalayak yang lebih luas menembus batas geografis dan ideologi. Buya Hamka misalnya, meski dikenal sebagai aktivis dan mubaligh dari Sumatera Barat, namun mengenal Natsir pertama kali melalui tulisan-tulisannya di Majalah Pembela Islam.
“Artikel-artikel dari M. Natsir di dalam majalah Pembela Islam itu sangat menarik hati saya. Saya pun seorang pengarang. Tetapi saya mengakui bahwa karangan Natsir memberi saya bahan untuk hidup, sehingga saking tertariknya saya kepada tulisan-tulisannya itu, saya pun mencoba mengirim karangan kepada Pembela Islam,dan karangan saya disambut baik dan dimuat dalam Pembela Islam.” (1978)
Lewat surat-surat Soekarno selama masa tahanan kepada Tuan Hassan, kita dapat mengetahui bahwa Soekarno pun ‘mengenal’ dan memuji tulisan-tulisan Natsir meski secara pribadi belum pernah bertemu. Itu sebabnya Soekarno berhubungan baik dengan Natsir hingga mempercayainya saat Menteri Penerangan. Meski kemudian perbedaan politik tajam memisahkan mereka. Natsir memilih jalan memperjuangkan Islam sebagai Dasar Negara.
Presiden Sukarno dalam konvensi Masyumi bersama M. Natsir
Perjuangan Natsir untuk mengajukan Islam sebagai Dasar Negara adalah buah dari ideologinya. Ia maju memperjuangkan Islam sebagai Dasar Negara dalam Sidang Konstituante (1957-1959). Natsir konsisten memperjuangkan ideologinya baik kala ia menjadi aktivis maupun setelah ia menjabat berbagai jabatan tinggi di negeri ini. Natsir tidak menjadi pemimpin yang pragmatis apalagi oportunis. Tipikal pemimpin yang konsisten dengan ideologinya yang kita butuhkan. Bukan yang hidup dalam alam pragmatisme.
Dinamika dan intrik politik praktis tak membuat Natsir menjadi pragmatis. Ideologi justru membimbing Natsir menembus rintangan dan intrik dalam belantara politik kala itu. Sebab Natsir memang bukan tokoh karbitan atau yang dipaksakan terjun dalam politik. Ia telah memulainya jauh sejak menjadi Anggota KNIP, memimpin Masyumi, atau pun menjadi pejabat negara hingga Perdana Menteri. Pengalaman (ber)politik adalah satu kriteria yang dibutuhkan untuk menembus rimba politik yang penuh tipu daya.
Natsir juga tak tergoda kemewahan dunia yang dekat dengan kekuasaan. Kesederhanaan tentu yang diingat setiap orang yang pernah mengenalnya. Kesederhanaan Natsir bukanlah pencitraan. Tetapi buah dari keteladanan gurunya semacam Haji Agus Salim.
Kita tentu tidak hendak mencari duplikat dari Natsir di masa kini. Kita juga bukan ingin bernostalgia dan hidup dengan romantisme masa lalu. Yang kita perlu resap adalah pelajaran yang membentuk pribadi seorang pemimpin. Pemimpin yang ditempa oleh ulama, membersamai umat, menuliskan gagasan-gagasannya, konsisten dengan ideologi dan hidup dalam kesederhanaan. Sehingga kita dapat membentuknya di masa kini sebagai calon pemimpin umat Islam di masa depan.
Agar umat tak perlu (lagi) disodori pemimpin dadakan, karbitan dan tak lagi dijejali sekedar slogan memilih pemimpin dalam keadaan darurat. Memilih yang mudharatnya paling kecil. Disertai bunga-bunga pencitraan, ketergesaan dan pembenaran. Bisakah kita mulai melangkah jalan panjang tersebut? Di tangan para ulama dan umat yang bersatu kita dapat memulainya.