TAWANGMANGU (jurnalislam.com)- Tidak kurang 2000 Warga Tawangmangu khusuk mendengarkan Kajian dalam rangka malam tirakatan dalam rangka mensyukuri nikmat Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74 tahun.
Acara yang digelar di terminal bus Tawangmangu tersebut menghadirkan Da’i Nasional asal Yogyakarta Ustaz Salim A. Fillah, Jum’at (16/8/2019)
Dalam paparan Tausyiahnya Salim A. Fillah mengatakan bahwa kemerdekaan harus disyukuri.
“Kita harus mensyukuri nikmat Kemerdekaan Negara kita ini dengan belajar Sejarah dan mengetahui Sejarah yang benar mengenai perjuangan para pendahulu kita dalam berjihad melawan penjajah,”katanya.
Lebih lanjut Salim A. Fillah menjelaskan bahwa kemerdekaan Republik Indonesia tidak lepas dari Rahmat dari Allah.
Menurutnya ini seperti apa yang telah dituangkan oleh Founding Father’s, Bapak-bapak pendiri Negara kita ini dalam pembukaan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945.
Senada dengan Ustaz Salim A. Fillah, Bupati Karanganyar H. Juliatmono, MM. yang juga berkesempatan hadir dan memberikan sambutannya dalam Tabligh Akbar yang digelar oleh Panitia HUT RI ke 74 Kecamatan Tawangmangu dan Forum Umat Islam Tawangmangu tersebut.
Ia nomengungkapkan bahwa Kemerdekaan Republik Indonesia tidak mungkin bisa dilepaskan dari peran Ulama dan Kyai yang telah berjuang dengan tetesan darahnya untuk kemerdekaan Negeri ini.
Sementara itu menurut Ketua Panitia Malam tirakatan dan Tabligh Akbar, Sutardi Abu Fuad mengungkapkan rasa bangga dengan telah suksesnya digelar acara tersebut yang telah pada malam hari ini.
“Saya merasa bangga dan bersyukur dengan digelarnya Acara pada malam hari, karena selama 49 tahun umur saya ini belum pernah ada acara seperti ini, dan saya berharap acara ini bisa menjadi contoh di daerah lain dalam memperingati HUT RI yang selama ini identik dengan acara hura-hura” ungkapnya kepada jurnalislam.com usai acara.
“Kemerdekaan itu bukan soal main-main. Merdeka berarti harus mampu mengurus diri sendiri. Yang diurus segala macam kehidupan.”
JURNALISLAM.COM – Pada hari itu, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilakukan di Jakarta oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Baru di kemudian hari Ibnu Sutowo, seorang tokoh sentral dan hebat pada zamannya mengetahui betapa dramatisnya proklamasi kemerdekaan kita itu. Peristiwa Rengasdengklok, penyusunan teks proklamasi di rumah Laksamana Maeda, dan lain-lain peristiwa yang terkait, tidak begitu ia ketahui.
Tetapi ia gembira dan bangga karena Mas Diro yang ia kenal akrab cukup berperan dengan Barisan Pelopornya yang mengawal peristiwa proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. Kelak ia mendapat kesempatan mendengar cerita sekitar hari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 itu.
Ibnu Sutowo. Foto: Istimewa
Berita Proklamasi Kemerdekaan itu baru beberapa hari kemudian -kalau tidak salah pada tanggal 20 Agustus- sampai di Martapura. Kami sudah mengenal bendera Merah Putih sebab Jepang juga sudah pernah menjanjikan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Bahkan bendera Merah Putih sudah pernah dikibarkan di samping kiri bendera Jepang waktu ada acara tertentu.
Kemerdekaan itu bukan soal main-main. Merdeka berarti harus mampu mengurus diri sendiri. Yang diurus segala macam kehidupan.
Cerita Martapura
Meskipun Martapura daerah kecil di Pulau Sumatera tetapi Martapura adalah juga Indonesia, yaitu Indonesia yang sudah merdeka. Martapura dilintasi perjalanan kereta api yang datang dari Tanjungkarang, Lampung, menuju Palembang.
Berita Indonesia Merdeka itu kami ketahui dari orang-orang kereta api. Kereta apinya juga dihias dengan bendera Merah Putih, gerbongnya ditulisi “Indonesia Merdeka” dan macam-macam slogan.
Kami, para pemuda Martapura, juga menyambut kemerdekaan itu dengan menganjurkan orang memasang Merah Putih. Ibnu Sutowo mempunyai kain lambang Palang Merah yang besar untuk keperluan tanda perlindungan dalam keadaan perang. Lambang Palang Merah itu kami rombak, kami sulap, menjadi berpuluh-puluh bendera Merah Putih, antara lain untuk dipasang di rumah kami sendiri.
Ekspresi Kemerdekaan
Perubahan situasi yang mendasar bagi kehidupan ini tercium juga oleh masyarakat luas. Mereka mulai bergerak merdeka semau sendiri dengan melakukan kerusuhan kecil-kecilan dan perbuatan lainnya. Barisan pemuda yang kemudian memilih ia sebagai pemimpinnya mengambil tindakan tegas sehingga kekacauan tidak berlarut. Untunglah kekuasaan dan kewibawaan Pasirah tetap memancar. Ketertiban masyarakat terjaga oleh barisan anak muda yang dengan cepat mulai mengerti apa itu Indonesia Merdeka.
Sementara itu, di berbagai tempat pergolakan mulai merebak. Di pulau Jawa kesatuan-kesatuan tentara Jepang mulai dilucuti oleh para pemuda yang membentuk laskar-laskar perjuangan. Para bekas prajurit Pembela Tanah Air (PETA) dan Heiho, bersama-sama dengan masyarakat, membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR). Kabar itu sampai di daerah kami walaupun terlambat.
Maka di Sumatera Selatan BKR pun bertindak mengamankan tentara Jepang. Ia tahu kemudian bahwa kerajaan Jepang telah menyatakan menyerah terhadap sekutu setelah Hiroshima dan Nagasaki dihujani bom atom.
Kekalutan sementara terkait pelucutan senjata tentara Jepang boleh dikatakan sudah reda. Disaat pemerintah Republik mulai berjalan dengan perangkat apa adanya, masalah baru muncul, yaitu kedatangan tentara Sekutu yang disebut Allied Forces, sebagai sang pemenang Perang Dunia II.
Tentara Sekutu ini berkewajiban mengambil kekuasaan dari tangan Pemerintahan Jepang, melucuti tentara Jepang dan merepatriasikannya. Selain itu juga merawat dan menyelesaikan urusan orang interniran yang ditawan.
Arti Merdeka
Bagi masyarakat kita, kedatangan tentara asing membuat kita berwaspada. Bukankah kita sudah merdeka sehingga segala masalah di negeri ini adalah menjadi tanggung jawab kita? Pemikiran yang benar seperti itu bagi rakyat banyak masih belum jelas merata. Di antara orang kebanyakan masih banyak yang berpandangan samar-samar.
Yang tidak samar-samar hanyalah kenyataan Indonesia Merdeka, artinya bangsa Indonesia sudah tidak dijajah lagi oleh bangsa lain manapun juga. Untuk masalah selanjutnya, kita tunggu saja arus yang bakal tiba.
Namun, sebagai kaum intelektual kita menunggu sambil berpikir mengenai konsekuensi menjaga kemerdekaan yang sudah ada di tangan dan menjadi tanggung-jawab kita bersama. Kami menyadari bahwa semangat rakyat cukup besar, namun mereka memerlukan pimpinan oleh bangsanya sendiri. (Semua cerita ini diambil dari penggalan di buku yang ditulis oleh Ramadhan KH dengan judul Ibnu Sutowo: Saatnya Saya Bercerita!)
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum (Ketum) PP Muhammadiyah, Haedar Nashir mengajak segenap bangsa untuk mempererat persatuan di momen hari ulang tahun ke-74 Republik Indonesia.
Ia mengatakan, elite dan warga bangsa wajib bertanggung jawab untuk mewujudkan upaya Indonesia menjadi negara-bangsa yang benar-benar merdeka, bersatu, berdaulat, maju, adil, dan makmur. Itulah cita-cita para pendiri bangsa yang telah berjuang mengusir kolonialisme pada masa silam.
Nasihat ini, kata dia, terutama tertuju kepada para pemimpin bangsa. Sebab, mereka adalah pemangku amanat utama lebih dari 265 juta warga Indonesia.
“Peran dan tanggungjawab para pemimpin sangat penting dalam menentukan masa depan Indonesia setelah 74 tahun merdeka. Kata pepatah Itali, bahwa ‘Ikan busuk dimulai dari kepala’,” ujarnya.
Peran Pemimpin
Bagi Haedar, betapa penting posisi dan peran para pemimpin di negeri dan umat mana pun. Putih dan hitamnya umat dan bangsa tergantung pada pemimpinnya. Ia menyebutkan, pemimpin itu seperti jantung dan kepala dari tubuh manusia. Jika pemimpin itu baik, maka baiklah seluruh umat dan bangsa.
“Sebaliknya nasib umat dan bangsa akan nestapa manakala para pemimpinnya berperangai dan bertindak buruk, khianat, dan ugal-ugalan. Padahal yang dipertaruhkan nasib manusia yang banyak dengan segala urusannya,” paparnya.
Haedar juga meyakini, masih banyak elite dan warga bangsa yang jernih hati dan pikirannya, termasuk tindakannya untuk membangun Indonesia yang berkemajuan dalam bingkai cita-cita luhur dan masa depan peradaban bangsa.
“Maka saatnya energi positif ruhaniah dan kecerdasan akal-budi bangsa Indonesia di tangan para pemimpin dan warga bangsa di seluruh persada tanah air digelorakan untuk menggoreskan tinta emas 74 tahun Indonesia Merdeka,” katanya.
Para pemimpin, lanjut Haedar, punya kemuliaan posisi dan peran dalam membawa nasib umat dan bangsanya menuju tangga kemajuan. Nasib ini jangan dibiarkan menjadi pertaruhan tidak berguna dan bermakna di tengah kegaduhan politik yang disebar oleh para aktor yang haus kuasa dan tahta minus pertanggungjawaban moral politik nurani yang luhur.
Menurut Haedar, ketika kontestasi dan perebutan kursi politik makin bebas dengan segala hasrat dan kepentingan para elite, maka di sisi lain sebetulnya umat dan bangsa ini tengah menanti jaminan ubahan nasib hidupnya ke tangga terbaik di pundak para pemimpinnya.
“Mereka berebut kursi untuk dan atas nama apa? Untuk benar-benar kepentingan rakyat atau hanya memperjuangkan diri dan golongan sendiri?,” pungkas mantan pemimpin redaksi Majalah Suara Muhammadiyah itu.
Oleh sebab itu, Haedar menyatakan para pemimpin bangsa mesti melipatgandakan pengorbanannya untuk rakyat di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
“Kiai Haji Ahmad Dahlan pendiri Muhammmadiyah dalam falsafahnya yang keenam berpesan: “Kebanyakan pemimpin-pemimpin rakyat, belum berani mengorbankan harta benda dan jiwanya untuk berusaha tergolongnya umat manusia dalam kebenaran. Malah pemimpin-pemimpin itu biasanya hanya mempermainkan, memperalat manusia yang bodoh-bodoh dan lemah,” jelas Haedar.
JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera memuji ketegasan TNI dalam merespons soal dinamika siswa Taruna Enzo Zenz Allie yang dituduh kaum islamfobia terpapar radikal usai foto dengan kalimat tauhid yang menyerupai dirinya beredar di sosial media.
“Profesionalisme TNI punya standart test tersendiri yang ketat, sehingga mengakomodir putra-putri terbaik bangsa dalam menjaga negeri yang ingin bergabung dalam militer,” kata Mardani kepada Jurnalislam.com, Rabu (14/08/2019).
Selain itu, apresiasi juga ditujukan khusus kepada Jenderal Andika. Menurutnya, keputusan itu dilakukan dengan cermat dan tidak gegabah.
“Apresiasi KSAD yang berpikir jernih. Enzo dan anak muda lainnya adalah aset bangsa. Tugas kita mendidiknya menjadi aset bangsa ke depan,” tandasnya.
JAKARTA(Jurnalislam.com) – Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa yang mempertahankan Enzo Zenz Allie sebagai taruna Akmil diapresiasi banyak pihak.
Wakil Ketua Komite I DPD RI Fahira Idris yang membidangi urusan politik, hukum dan HAM memberikan apresiasi kepada TNI AD karena mampu menjawab keraguan sekolompok pihak atas nasionalisme Enzo secara proporsional dan profesional.
Jika merujuk uji tambahan terkait moderasi bernegara yang dilakukan TNI AD terhadap Enzo yang hasilnya cukup baik, Enzo berhak menempuh pelatihan dan pendidikan di Akademi Militer (Akmil).
“Cara TNI AD merespon isu terhadap calon tarunanya yang dituding radikal sangat proporsional dan profesional. Semua isu dijawab dengan alat ukur alternatif yang cukup valid dan akurasinya sudah teruji. Sejak awal saya pribadi tidak meragukan proporsionalitas dan profesonalitas TNI terkait persoalan ini,” kata Fahira melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com, Rabu (14/08/2019).
Fahira berharap semua pihak menghargai dan menghormati keputusan TNI AD ini dan mengakhiri tudingan radikal terhadap Enzo dan tuduhan bahwa TNI AD sudah kecolongan karena meloloskan Enzo. Keputusan TNI AD ini diharapkan tidak lagi memunculkan keraguan terhadap Enzo sebagai taruna Akmil.
“Saya harap kepercayaan ini dibalas Enzo dengan prestasi. Saya mengucapkan selamat berjuang, tidak hanya kepada Enzo tetapi kepada semua taruna lainnya agar dapat menyelesaikan pendidikan dengan hasil yang baik. Nanti, 10 atau 20 tahun ke depan, kalian lah yang menjadi garda terdepan mempertahankan republik ini,” pungkas Senator Jakarta ini.
KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa menegaskan pihaknya meyakini Enzo Zenz Allie tidak berpaham radikal. Keyakinan ini diambil setelah TNI AD memberikan penilaian tambahan khusus untuk Enzo dan beberapa taruna lainnya secara acak terkait ideologi pada 10 dan 11 Agustus 2019 lalu. Hasilnya, indeks moderasi bernegara Enzo cukup bagus, yaitu mendapat nilai 5,9 dari maksimum 7
SOLO (Jurnalislam.com)- Ketua Jamaah Ansharu Syariah Jawa Tengah ustaz Surawijaya menyebut orang yang mempermasalahkan bendera tauhid yang dikibarkan Enzo Zenz Allie Taruna militer berdarah perancis dan Sunda sebagai bentuk kebencian terhadap Islam.
“Sesungguhnya orang-orang yang mempermasalahkan tentang bendera tauhid atau Al Liwa maupun Ar Rayah merupakan kebencian kepada Islam menurut saya hal seperti itu sangat disayangkan oleh orang-orang yang mengatakan bangsa Indonesia,” katanya kepada jurniscom rabu, (14/8/2019).
“Apalagi ditujukan kepada simbol-simbol dan syiar-syiar Islam yang notabene daripada simbol dan syiar Islam itu hari ini memang baru dipermasalahkan oleh pemerintah sekuler,” imbuh ustaz Rowi.
Ustaz Rowi melanjutkan maraknya pelecehan terhadap simbol Islam baik kepada Enzo maupun yang lain ini menunjukkan bahwa ada islamfobia yang akut di dalam tubuh pemerintahan Indonesia.
“Yang mana ini merupakan tanda-tanda bahwa Indonesia sedang ada penitrasi dari pihak pihak luar dan pihak-pihak dalam yang tidak menginginkan Indonesia dibina dikelola oleh orang Islam,” paparnya.
Lebih lanjut, ustaz Rowi meminta umat Islam terus melakukan pembelaan terhadap simbol dan syiar Islam.
Sebab, katanya, pemerintah saat ini justru lebih mempermasalahkan orang yang mengunakan atribut Islami daripada orang yang memakai simbol terlarang seperti PKI.
“Maka wajib bagi kaum muslimin untuk sadar membela saudara-saudara mereka dan syiar-syiar Islam yang hari ini dinistakan dan juga di apa kriminalisasi,” ujarnya.
“Oleh orang-orang yang mereka adalah orang-orang liberal dari kalangan orang-orang PKI marxisme, dan orang-orang yang rasis,” tandas ustaz Rowi.
WONOGIRI (Jurnalislam.com)- Dalam momen Idul Adha 1440 H, Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) bersama Yanmas Jamaah Ansharu Syariah, Masjid Raya Iska, Baitulmal Salimah, Kajian Joglo Ar Rahman dan Rumah Quran menggelar aksi bakti sosial di Desa, Nagan, Johunut, Giribelah, Paranggupito, Wonogiri, selasa, (13/8/2019).
Dalam Kegiatan yang bertajuk ‘Tebar Kurban dan Air Bersih Bentengi Umat dari Pemurtadan’ tersebut elemen umat Islam Soloraya memberikan 1 ekor Sapi dan 200 tanki air bersih.
Tokoh DSKS Kasum Mustofa mengaku sedih saat melihat kondisi desa Nagan yang minim air bersih, warga Nagan sendiri harus membeli air saat musim kemarau seharga 150 ribu pertanki dan terkadang harus menjual hewan ternaknya untuk membeli.
“Dengan melihat keadaan yang ada kita yang q Solo harus lebih banyak bersyukur, wudhu dan minum setiap hari kita menghambur hamburkan air, sementara disini air begitu berharganya,” katanya.
“Kalau biasanya kita bisa dapat daging kurban sampai 5 kg, maka disini mungkin ada yang bahkan tidak bisa menikmati rasanya daging kurban,” imbuhnya.
Sementara itu, Sukardi Kadus Desa Nagan mengucapkan terimakasih kepada umat Islam Soloraya yang ikut memberikan bantuan kepada warganya.
“Mudah-mudahan apa yang diberikan kepada warga kami di desa Nagan, Johunut dibalas pahala oleh Allah Subhanahu Wata’ala,” ujarnya.
BANJARNEGARA (jurnalislam.com)- Emergency Crisis and Response (ECR) bekerjasama dengan KAHMIVET, Garis Depan dan Lawu Park menyalurkan hewan kurban sebanyak 8 ekor kambing di wilayah terdampak longsor Banjarnegara tahun 2014 yakni di Dukuh Pencil Muktisari, Desa Karang Tengah, Wanayasa, Banjarnegara, (13/8/2019).
Ketua Panitia Muntoha mengatakan kegiatan bertajuk ‘Tebar Kurban’ tersebut merupakan salah satu program rutin ECR dalam setiap momen Idul Adha.
“Idul Adha atau momen kurban merupakan salah satu waktu yang tepat untuk mendekatkan diri kepada Allah, dimana Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang yang mau berkurban,” katanya kepada jurniscom.
Lebih lanjut, Muntoha mengatakan bahwa ECR akan terus melakukan aksi sosial dalam momen Idul Adha di tempat yang benar benar membutuhkan.
“Program tersebut akan terus kita lakukan setiap tahunnya dan dilakukan di berbagai tempat, kali ini di Dukuh Pencil yang merupakan salah satu desa binaan ECR paska bencana longsor tahun 2014 yang lalu,” paparnya.
Sementara itu, Kadus Dukuh Pencil Muktisari Taufik berterimakasih kepada ECR dan para donatur yang telah memberikan bantuan kepada desanya.
“Alhamdulillah, saya mewakili dukuh Pencil mengucapkan terimakasih kepada ECR dan para donatur semoga apa yang diberikan kepada kami menjadi amal kebaikan dan dibalas pahala oleh Allah Subhanahu Wata’ala,” katanya.
(Jurnalislam.com)–Peraturan mengenai wajib pajak makin ketat. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperingatkan wajib pajak bahwa mereka tak bisa lagi menghindarkan diri dari kewajibannya.
Ditjen Pajak kini bisa mengendus harta sekalipun disembunyikan. Bahkan upaya seperti pengakalan pajak seperti tax avoidance dan tax evasion tidak akan mempan dilakukan.
“Jadi Anda mau pindah nggak jadi ke bank tapi ke insurance ya tetap akan laporin. Kalau mau ya gali aja sumur di belakang rumah taruh duitnya di situ. Oh masih ada yang seperti itu? Nanti saya pakai drone cari di situ”, tutur mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu (finance.detik.com 02/08/19).
Hal tersebut menunjukkan bahwa pendapatan negara kian melorot dan berusaha keras mendapatkan pemasukan berupa pajak dari rakyat. Lagi-lagi rakyat yang “dipalak” untuk membiayai negara. Pajak seolah menjadi jalan satu-satunya pemasukan negara.
Pendapatan negara yang kian melorot tak mengherankan. Bagaimana tidak? Sumber daya alam yang melimpah justru pengelolaannya diserahkan kepada asing. Keuntungan banyak mengalir ke kantong mereka. Ditambah kasus korupsi yang kian menggurita.
Negeri ini yang katanya memiliki sumber daya alam yang melimpah justru sangat miris kondisinya. Dalam hal pendapatan harus menghisap rakyat lewat pajak. Rakyat terus diperas tak peduli miskin kaya, tua muda di manapun berada. Yang miskin makin miskin dan yang kaya makin berkuasa.
Inilah fakta penerapan sistem ekonomi kapitalisme neoliberal di negeri ini. Di mana arus pasar bebas kencang, pembengkakan hutang, kepentingan para korporasi dan pemilik modal dipermudah, sampai privatisasi sektor publik. Sementara layanan kepada rakyat semakin dipersulit dan terasa sangat mencekik.
Dalam sistem kapitalisme yang saat ini bercokol, ukuran kesejahteraan bukan terletak pada kesejahteraan per orang melainkan pendapatan nasional (per capita income). Tidak diperhatikan lagi kebutuhan per orang sudah tercukupi atau belum. Distribusi kekayaan juga tidak proporsional. Di tengah kondisi ini rakyat terus dipaksa dengan membayar pajak. Ini yang membuat beban rakyat makin berat dan terasa begitu dzalim.
Padahal dalam Islam mengambil hak orang lain secara paksa tidak diperbolehkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman “ Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil” (TQS. An-Nisa:29). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda “ Tidak halal mengambil harta seorang muslim kecuali dengan kerelaan dirinya (HR. Abu Dawud dan Daruquthni)”.
Pajak menjadi pendapatan utama dalam penerapan sistem ekonomi kapitalisme neoliberal. Seolah-olah jika rakyat tidak membayar pajak maka tidak ada pendapatan untuk mengelola negara. Padahal anggapan ini tidaklah benar. Dalam Islam sudah ada aturan mengenai hal ini.
Dalam Islam, pajak memang diperbolehkan namun bukan merupakan pendapatan yang utama. Pajak akan dipungut dari kaum muslim sesuai dengan ketentuan syara’ untuk menutupi pengeluaran Baitul Mal.
Dengan syarat pungutannya berasal dari kelebihan kebutuhan pokok setelah pemilik harta memenuhi kewajiban tanggungannya dengan cara yang lazim. Artinya hanya yang mampu saja, bukan menjadi kewajiban seperti sekarang ini. Pemungutannya hanya pada kondisi darurat misal bencana kelaparan dan Baitul Mal belum bisa mencukupi.
Dalam hal kesejahteraan, negara menjamin seluruh kebutuhan pokok setiap individu secara sempurna. Pengelolaan sumber daya alam dilakukan oleh negara untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat seperti di bidang pendidikan, sosial, kesehatan, dan sebagainya.
Haram hukumnya jika sektor yang menyangkut hajat hidup orang banyak diserahkan kepada asing karena Islam jelas memiliki aturan mengenai kepemilikan yakni kepemilikan individu, umum dan negara. Juga larangan orang mukmin dikuasai oleh kafir.
Allah berfirman “Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin” (TQS. An-Nisa:141). Dalam hadist juga dijelaskan “Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).
Maka dengan pengelolaan sesuai dengan syariatNya kesejahteraan hidup akan diperoleh. Rakyat tidak lagi harus diperas atau menanggung beban hidup yang berat. Allah berfirman
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (TQS. Al-A’raf:96).
BULUKUMBA (Jurnalislam.com)– Pasca mengalami kebakaran 31 Juli lalu yang mengakibatkan asrama santri Pondok Pesantren Tahfiz Abu Bakar Ash-Shiddiq Wahdah Islamiyah Bulukumba sebanyak 3 gedung tak bisa lagi digunakan.
Kebakaran ini mengakibatkan kerugian ratusan juta rupiah, berbagai organisasi dan masyarakat mulai memberikan bantuan untuk renovasi gedung asrama yang ada.
“Alhamdulillah sampai saat ini, bantuan dari ormas, instansi pemerintah dan masyarakat terus berdatangan seperti Polres Bulukumba, Kodim 1411, LIDMI, Stikes, Akbid, IMM, dan HILMI,” ungkap Supriadi Nasir kepala sekolah tingkat SMP.
Bangunan asrama santri yang rusak kini mulai di renovasi mulai dari bagian atap, pengecatan dinding dan pemasangan lantai.
“Sampai saat ini renovasi asrama yang kebakaran masih sekitar 20%,” lanjutnya.
Supriadi Nasir mengajak kepada seluruh masyarakat agar memberikan bantuan untuk renovasi asrama santri yang terbakar.
“Kami mengajak kepada masyarakat Bulukumba secara khusus dan masyarakat Indonesia secara umum untuk membantu renovasi asrama santri yang terbakar untuk mempercepat pembangunan agar aktifitas santri dalam menghafal Al-Qur’an bisa berjalan sebagaimana mestinya,” harapnya.
Lebih lanjut, Supriadi Nasir berterima kasih kepada masyarakat yang telah memberikan bantuannya.
“Terakhir kami ucapkan Syukron Jazakumullahu Khairon kepada para donatur yang telah membantu semoga Allah membalas kebaikan Anda dengan sesuatu yang jauh lebih baik,” tutupnya.