DPR Minta Kapolri Jelaskan Pihak Asing yang Bermain di Isu Papua

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Anggota Komisi III DPR RI Arsul Sani meminta Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjelaskan pernyataannya yang menyebut adanya pihak asing berkecimpung dalam kerusuhan di Papua.

“Kalau Pak Kapolri menangkap indikasi adanya “penumpang asing” itu harus diselidiki secara tuntas, dan kalau itu kemudian bisa diproses hukum harus ditingkatkan ke penyidikan,” kata Arsul, Senin (2/9).

Arsul mengatakan, sebagai Kapolri, Tito seharusnya tidak mengeluarkan pernyataan yang menimbulkan perdebatan publik.

Bila benar yang diucapkan, maka Tito diminta untuk menjelaskan pernyataan soal keterlibatan asing itu pada publik.

“Kapolri ini kan pimpinan dari lembaga penegak hukum tidak kemudian statement seperti itu menguap begitu saja.

Artinya berstatement seperti ini tapi kemudian tidak jelas kebenarannya, kalau penegak hukum tidak boleh seperti itu,” kata Arsul.

Maka itu, Arsul berharap Kapolri benar-benar melakukan penyelidikan terkait keterlibatan asing dalam kerusuhan di Papua. Kemudian, hasil penyelidikan itu harus diumumkan pada rakyat.

“Paling tidak tentu nanti disampaikan juga di forum DPR ini. Karena hal-hal yang seperti itu pasti akan mendapatkan atensi dari komisi III,” kata Arsul.

Sebelumnya, Tito Karnavian menuding kelompok masyarakat yang berlaku anarkis di Papua dan Papua Barat memiliki hubungan dengan organisasi di luar negeri.

“Kita sama-sama tahu dari kelompok-kelompok ini ada hubungannya dengan network di internasional,” kata Tito di Jakarta, Ahad (1/9). Oleh karena itu, Polri berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dan Badan Intelijen Negara (BIN) untuk menangani masalah tersebut.

Sumber: republika.co.id

Sambut 1 Muharram, Pemuda Masjid Laweyan Bersihkan Sungai Janes Solo

SOLO (Jurnalislam.com)- Pemuda Serambi Masjid Laweyan (PSML) bersama masyarakat sekitar Masjid Laweyan menginisiasi kegiatan Bersih Bersih Sungai Jenes, Depan Masjid Laweyan ( jl. Liris No 1, Pajang, Laweyan).

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka peringatan Tahun Baru Islam/ 1 Muharrom 1441 H dengan tema “Mengembalikan Sungai Jenes Jalur ‘Perdagangan'”, pada Ahad 1 September 2019.

Setelah mendengar keluhan dari masyarakat yang merasa resah dengan permasalahan sampah, pendangkalan dan limbah pabrik di Sungai Jenes yang kian hari kian memperhatikan.

Membersihkan sungai, kegiatan baru bagi PSML, oleh karenanya sempat belajar membesihkan sungai di Kampung Klaseman, Laweyan, yang sudah memulai lebih dulu.

“Dahulu, sungai ini adalah jalur perdagangan, bicara jalur (perdagangan) artinya bicara kelancaran akses/jalan, maka sungai harus bebas sampah pendangkalan dan limbah, seperti dulu. Dan ini dimulai di hari yang tepat”. Ujar Mukhlis Alaudin, Ketua PSML.

Untuk merealisasikannya, kurang lebih 50 orang sukarelawan lintas usia, dari anak-anak hingga dewasa. Terjun untuk mengangkat sampah yang sudah menahun. Sampah langsung diangkat ke mobil bak khusus pengangkut sampah.

Disisi lain, menurut Sutanto, selaku Ketua Harian Masjid Laweyan, pernah ada penanganan untuk masalah ini dengan mempekerjakan orang dan digaji, namun belum tuntas.

“Oleh karenanya, untuk mengapresiasi aksi ini, dengan cara tidak membuang sampah sembarangan”. Lanjut dia.

Kegiatan ini harapannya akan terus berlanjut, karena bagaimanapun juga semua pihak harus tetap menjaga semangat ini. Syukur syukur ini bisa merambat ke desa lain disepanjang bantaran sungai Jenes Laweyan.

Dan tentu harapannya, ada perhatian lebih lanjut oleh Pemerintah Kota Surakarta, melalui Dinas Lingkungan Hidup, karena bagaimanapun masalah ini masih dalam pengawasan tugas mereka.

LBH Pelita Ummat: Kami Dicegah Aparat Ikut Parade Muharram

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Hedro  Dahsyat, perwakilan LBH Pelita Ummat menyampaikan bahwa dirinya bersama rombongan pawai parade Muharram diadang aparat saat sedang start pawai akbar penyambutan tahun baru hijriah di semarang pada Ahad, (1/9/2019)

“Saat kami ingin bergabung dengan rombongan, kemudian satu truk berhenti mengadang kami yang ingin melakukan pawai satu muharram,” ucapnya kepada Jurnalislam.com.

Alasan aparat mengadang parade Muharram dikarenakan membawa bendera dari ormas terlarang

“Dalilnya adanya pelarangan membawa simbol organisasi terlarang, kemudian mereka membacakan SK Kemenkumham HTI,” jelasnya

Tak hanya pengadangan yang dilakukan, aparat juga melakukan upaya-upaya perampasan terhadap bendera tauhid

“Sempat juga terjadi upaya-upaya perampasan,”cetusnya

Menurutnya ini adalah sebuah opini pembodohan masyarakat terhadap panji Rasulullah, padahal bendera ini sudah umum diketahui

“Ini adalah kebodohan yang terus menerus dipertontonkan, “katanya

“Yang ada ini adalah liwa arroya, panji Rasulullah, semua sudah mafhum,” tambahnya

Dari pihak yang melarang, Hendro menyampaikan ada beberapa kemungkinan, diantaranya adalah pesanan pihak-pihak yang tidak menyukai Panji Rasulullah

“Kalau mereka yang tidak paham itu menurut saya ada dua kemungkinan, ada yang benar-benar tidak tahu dan pura-pura bodoh kalaupun ada yang ketiga itu ya pesanan pihak tertentu,”jelasnya

Terakhir sosok yang terjun dilembaga hukum tersebut menjelaskan bahwa yang dilarang pemerintah adalah bendera yang bersimbol logo HTI, karena badan hukumnya telah dicabut

“Pelarangan itu yang saya pahami dalam kacamata hukum, itu adalah bendera yang ada tulisan hizbut tahrir indonesia, yang tidak punya badan hukum sebagai sebuah ormas, disini tidak ada arroya alliwa berlogo HTI, “pungkasnya

 

Reporter Agus riyanto

 

Indonesia Muslim Lifestyle Festival Sambut Kebangkitan Ekonomi Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Indonesia Muslim Lifestyle Festival (Muslim Lifestyle) resmi dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Jakarta Convention Center (30/8/2019).

Pameran industri halal dan syariah terlengkap di Indonesia ini akan berlangsung selama tiga hari dari 30 Agustus hingga 1 September 2019.

Gelaran yang menempati area hampir seluas 15 ribu meter, menampilkan serangkaian program seminar dan workshop bisnis, mulai dari pelatihan ekspor, digital marketing, konseling bisnis tentang pengurusan legalitas usaha, HAKI, ISO bahkan hingga sertifikat halal.

Para pengusaha juga dapat mengembangkan usahanya lewat forum bisnis, investor forum dan business matching dengan internasional buyers serta kompetisi social entrepreneurship.

Indonesia Muslim Lifestyle Festival terselenggara berkat kolaborasi antara Lima Event dengan Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI), Perkumpulan Lembaga Dakwah dan Pendidikan Indonesia (PULDAPII), Yayasan Alumni Pesantren Islam Al lrsyad Tengaran (YAPIAT) Puldapia.

Dengan menyajikan berbagai inspirasi gaya hidup halal dan berbasis syariah, Muslim Lifestyle Fest menjadi momentum bagi Indonesia dalam mempersiapkan diri sebagai tuan rumah keuangan dan ekonomi syariah dunia 2024.

KPMI didirikan pada tahun 2010 di Bogor oleh beberapa assatidzah dan pengusaha muslim yang memiliki keinginan kuat menyebarluaskan ilmu tentang bagaimana pengusaha muslim melaksanakan dan mengelola bisnisnya sesuai dengan tuntunan Alquran dan Sunah Rosulullah SAW.

Saat ini anggota KPMI tersebar di 43 Korwil, 40 Korwil Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia dan 3 Komil di luar negeri. Anggota KPMI yang terdaftar berjumlah lebih dari 32.000 orang baik yang sudah jadi pengusaha maupun calon pengusaha.

Sementara Puldapi adalah sebuah perkumpulan lembaga dakwah dan pendidikan Islam Indonesia yang bermanhaj Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang representative, akomodatif dan legal dalam bidang pendidikan, dakwah, social, ekonomi, advokasi dan pemberdayaan umat.

Sumber: republika.co.id

 

Anies: Gaya Hidup Halal Seharusnya Jadi Pondasi Ekonomi Bangsa

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Indonesia Muslim Lifestyle Festival (Muslim Life Fest) resmi dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Jakarta Convention Center (30/8).

Dalam sambutannya Anies mengatakan sudah seharusnya konsepsi bisnis berbasis syariah dan gaya hidup halal tertanam kuat dan menjadi pondasi yang menggerakkan roda perekonomian bangsa.

Anies mengatakan populasi Muslim di Indonesia tertinggi di dunia, yaitu 87 persen dari total penduduk Indonesia sebanyak 261 juta jiwa, atau sebesar 12,7 persen dari seluruh Muslim di dunia ada di Indonesia.

Jumlah populasi Muslim tersebut menciptakan pasar baru produk-produk halal yang ternyata perputaran bisnisnya sangat potensial dalam tiga tahun terakhir.

Tahun 2017, Global Islamic Forum mengkalkulasi total belanja masyarakat muslim dunia dari berbagai sektor halal seperti makan dan minum, farmasi, kosmetik, busana Muslim, wisata dan media hiburan halal serta keuangan syariah telah mencapai 2,1 triliun dolar AS yang nilainya setara dengan 0,27 persen dari total produk bruto dunia.

Global Islamic Economic Forum memperkirakan tahun 2023 perputaran ekonomi syariah akan mencapai tiga triliun dolar AS atau sekitar Rp 45 ribu triliun rupiah, linier dengan pertumbuhan penduduk Muslim dunia.

Saat ini, Indonesia baru di peringkat 11 dan 15. Sedangkan untuk sektor seperti keuangan Islam, halal travel dan halal kosmetik atau farmasi, Indonesia masuk dalam 10 besar.

Halal travel menduduki peringkat tertinggi yaitu di nomer 4. “Sudah saatnya Indonesia menjadi pemain utama ekonomi syariah,” tandas Anies.

Sebagai pemain utama, Anies mengatakan, umat Islam harus memiliki jiwa entrepreneurship dan memahami prinsip-prinsip syariah dalam kegiatan ekonomi. Satu sisi,  antusiasmi gairah gaya hidup halal di kalangan anak muda saat ini sudah kelihatan bergema.

Terlihat dari gerakan-gerakan anak muda yang hijrah untuk bisa sepenuhnya menjalani gaya hidup halal. Perkembangan ini, tentu memunculkan fenomena  maraknya digunakan istilah syariah dan halal.

Sumber: republika.co.id

MUI: Spirit Hijrah Harus Lahirkan Kesalehan Sosial

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa’adi mengimbau pada kaum muslimin agar memiliki semangat hijrah menuju kesalehan dan kemenangan hakiki, dalam memasuki tahun baru Islam 1 Muharam 1441 Hijriyah.

“Hijrah harus dimaknai sebagai proses transformasi dari kondisi kehidupan yang gelap menuju peradaban yang terang dan mencerahkan, baik dalam konteks kehidupan pribadi maupun kemasyarakatan dan kebangsaan,” terang Zainut Tauhid Sa’adi dalam siaran pers yang diterima Ahad (01/09/2019).

Dijelaskan Zainut Tauhid Sa’adi, dari aspek kehidupan pribadi, hijrah harus memberikan perubahan dari pribadi yang sombong, culas dan zalim menuju pribadi yang adil, jujur dan terpuji.

Dari perilaku yang suka menggunjing, mengumpat dan memfitnah menuju pribadi yang santun, ramah dan suka menebarkan cinta dan kedamaian.

Dari pribadi yang konsumtif, boros dan koruptif menuju pribadi yang produktif, hemat dan sederhana.

Zainut juga menuturkan, dari aspek tatanan kehidupan kemasyarakatan dan kebangsaan, hijrah harus memberikan perubahan kepada masyarakat bangsa, dari masyarakat jahiliyah menuju masyarakat madani, yaitu masyarakat yang beriman, maju, mandiri, bahagia lahir batin, menjunjung tinggi nilai-nilai agama, hukum dan norma susila, serta jujur, adil, setara atau demokratis, beradab dan berakhlak mulia.

Usung Halal dan Non Riba 100 Persen, Plaza Ummat Marketplace Diluncurkan

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Di tengah ramainya bermunculan bisnis e-commmerce, kini hadir satu lagi bisnis sejenis dengan bendera Plaza Ummat Marketplace (PUM) dengan mengusung tag line 100 % halal dan non ribawi.

Soft launching PUM digelar pada Rabu 28 Agustus 2019 di hotel Mulya, Jakarta Pusat.

Gebrakan selanjutnya akan dilakukan dengan melakukan sosialisasi dan publikasi massif dengan fokus pemasaran terkonsentrasi di daerah Pulau Jawa dan Sumatera.

Pada 2019, pihak PUM menargetkan volume transaksi bisa menembus diatas Rp 1 triliun.

Sebagai pelopor Marketplace berbasis syariah, menurut Chief of Executive Officer PUM Getta Leonardo Arisanto, PUM menampilkan fitur halal sesuai dengan data produk yang terdaftar di LPPOM MUI.

Ada juga  pelaporan bila ada produk-produk yang tidak sesuai kaum muslim.

Sekaligus yang membedakan dengan Marketplace lain yaitu: halal dan non ribawi menjadikan PU Platform  sesuai bagi sebagian mayoritas kaum muslim.

Semua produk barang ataupun jasa, baik itu produk kebutuhan dasar (pangan, sandang, dan papan) sampai dengan kebutuhan aktualisasi diri (mobil, gadget, dan lainnya).

Bahkan kebutuhan akan urusan ibadah bisa terlayani dengan baik.

 

“Dengan demikian, kehadiran PUM memiliki peluang besar,” ujar Getta.

 

 

Semangat Sambut Tahun Baru Islam Sampai Ke Soloraya, Ribuan Warga Merapat

SOLO (Jurnalislam.com) – Semangat menyambut tahun baru Islam di Indonesia sampai di Soloraya, Jawa Tengah. Ratusan ribu warga mengikuti Parade Ukhuwah 1 Muharrom 1441H di Jalan Slamet Riyadi sampai perempatan Ngarsopuro, Solo, Ahad (1/9/2019).

Parade diawali dengan aksi long march, yang diisi oleh marching band diikuti pasukan berkuda, dengan membawa bendera tauhid hitam dan putih serta bendera kebangsaan Indonesia, merah putih.

Ribuan warga memadati acara

Ketua panitia Ustaz Edi Lukito dalam sambutanya mengucapkan terimaksih kepada semua elemen yang membantu terselengarakan parade ini, serta menyerukan kaum muslimin untuk bersatu.

“Terimakasih semua yang telah membantu. Luar biasa,” ungkapnya.

Ketua Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) ini menambahkan, jika umat Islam Islam bersatu, pertolongan akan datang.

“Kembali ke fitrahnya dan kepada syariatnya insyaAllah pertolongan Allah akan turun diatas kita,” jelasnya.

Diketahui, longmarch parade ukhuwah mengambil rute lapangan Kota Barat-perempatan DKT-Jalan Slamet Riyadi-Perempatan Ngarsopuro. Peserta terdiri dari kaum muslimin dari berbagai ormas, pondok pesantren, sekolah Islam dan perguruan Silat.

Tampak hadir ustaz milenial, Felix Siauw, dan sejumlah tokoh Islam Soloraya.

Parade Ukhuwah Walisongo Semarang: Islam Kaffah dan Jauhi Sifat Munafik

SEMARANG (Jurnalislam.com) –Ribuan umat Islam Semarang menggelar “Parade Ukhuwah Muharram” di Simpang 5 Semarang, Ahad (1/9/2019). Membawa atribut bendera tauhid dan merah putih, pawai akbar ini bertujuan untuk menyambut tahun baru Islam 1441 Hijriyah.

Ketua panitia Sohibul Hadi mengatakan, selain memuliakan tahun baru Islam, kegiatan ini sebagai syiar Islam Kaffah (menyeluruh).

“Menyeru kepada umat untuk Hijrah menuju Islam Kaffah,” katanya kepada Jurniscom disela-sela kegiatan.

Pawai akbar yang mengambil tema napak tilas Walisongo tersebut dimulai dari Balai Kota menuju Jalan pandanaran, dan berakhir di depan Masjid Baiturrahman Simpang Lima.

Orasi

Danang Setyadi salah seorang orator menyebut, umat Islam harus menjauhi sifat munafik yang notabene dilarang oleh agama. Termasuk, kata dia, masalah bendera tauhid.

“Ini bukan bendera ormas, tapi ini adalah bendera Rasulullah, dimana wahai kalian yang melihat bendera bintang Kejora berkibar di Istana (Presiden)?,” tegas Amir Jamaah Ansharusy Syariah Semarang ini.

Pawai akbar tersebut diikuti dari berbagai ormas Islam di Semarang, Jamaah Pengajian, Remaja Masjid, para santri dan santriwati pondok, Anak-anak TPQ dan komunitas pakaian Adat Jawa.

Sambut Tahun Baru Islam, Warga Cilegon Gelar Tarhib 1 Muharram

CILEGON (Jurnalislam.com) – Menyambut tahun baru Hijriah, puluhan warga Cilegon menggelar Tarhib 1 Muharam di Cilegon, Sabtu (31/8/2019).

Koordinator aksi Agus Surahmat mengatakan, kegiatan ini untuk mengingatkan umat Islam mempunyai tahun tersendiri, yaitu Hijriyah.

“Tahun Baru umat Islam itu Muharram bukan Januari. Dan Muharram adalah tonggak awal perjuangan umat Islam,” katanya kepada Jurniscom disela-sela kegiatan.

Aksi ini diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat, dari Persatuan Alumni (PA) 212 Cilegon hingga Perguruan Pencak Silat ikut memeriahkan Tarhib ini. Kegiatan Tarhib 1 Muharam 1441 Hijriah di mulai dari halaman Masjid Agung Cilegon dan berakhir di tugu Landmark Cilegon.

Tarhib 1 Muharram

Antusiasme warga terlihat sesaat peserta melakukan aksi melewati sepanjang jalan di kota Cilegon. Rumiati warga Cilegon yang menyaksikan acara tersebut mengungkapkan rasa senangnya. Ia menyebut Tarhib ini positif dan membuat warga semangat untuk menyambut tahun baru Islam.

Sementara itu Nugraha, salah seorang peserta mengatakan, memperingati bulan Muharram atau tahun baru Islam merupakan suatu kebanggaan.

Kegiatan Tarhib

“Muharram adalah momentum tonggak awal sebuah peradaban di tetap kan dan saya bangga bisa memperingati momentum ini,” ujarnya.

Selain itu, Joni dari PA 212 Cilegon menjelaskan memperingati tahun baru Islam penting dilakukan, khususnya kepada generasi muda untuk mengenal sejarah kebangkitan Islam.

“Terutama bagi anak-anak muda supaya bangga dengan Islam dan mengenal tonggak pergerakan awal umat Islam,” pungkasnya.