Ratusan Mahasiswa Korban Demo Dirawat Tersebar di 24 Rumah Sakit

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan Pemerintah Provinsi Jakarta siap menanggung biaya perawatan terhadap 273 orang yang menjadi korban atas kericuhan yang terjadi karena demo kemarin.

Lebih lanjut Anies merinci, dari 273 orang tersebut, mayoritas sudah pulang. Hingga pukul 13.00 WIB, tersisa 14 orang yang masih dirawat pasca demo di gedung DPR/MPR.

“Mereka ada [dirawat] di 24 rumah sakit yang disiapkan. Dan kita bebas kita tanggung biaya pengobatan siapa pun yang jadi korban, yang harus dirawat di rumah sakit,” ujar Anies di Kompleks Parlemen, Rabu (25/9/2019).

Anies juga mengatakan  bahwa Pemprov Jakarta mengkomodir aksi mahasiswa yang terjadi selama kurang lebih tiga hari kemarin.

Kata dia, pihaknya menyiapkan 40 mobil ambulance dan menyediakan mobil toilet. Serta memastikan rumah sakit sekitar bisa responsif jika ada korban yang harus dirawat.

“Saya datangi rumah sakit yang memang kita kelola untuk pastikan bahwa rumah sakit kita siap responsif. Jadi itu yang kita lakukan,” tuturnya.

Sebelumnya, Direktur Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Kurniawan Iskandarsyah mengatakan, pihak rumah sakit menerima sebanyak 90 korban luka.

Berdasarkan pendataan hingga pukul 01.00 dini hari, kondisi korban bervariasi dari luka ringan hingga berat. Namun sebagian besar mereka dirawat karena mengalami dampak dari adanya gas air mata.

Kurniawan juga mengatakan, ada tiga korban yang hingga saat ini memerlukan penanganan intensif, sehingga harus dirawat inap.

Tiga orang ini mengalami trauma tumpul atau luka di beberapa bagian tubuh, di bagian kepala dan tulang punggung belakang.

Sumber:cnbcindonesia

Pemprov DKI Gratiskan Seluruh Biaya Perawatan Mahasiswa Korban Demo

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan Pemerintah Provinsi Jakarta siap menanggung biaya perawatan terhadap 273 orang yang menjadi korban atas kericuhan yang terjadi karena demo kemarin.

Lebih lanjut Anies merinci, dari 273 orang tersebut, mayoritas sudah pulang. Hingga pukul 13.00 WIB, tersisa 14 orang yang masih dirawat pasca demo di gedung DPR/MPR.

“Mereka ada [dirawat] di 24 rumah sakit yang disiapkan. Dan kita bebas kita tanggung biaya pengobatan siapa pun yang jadi korban, yang harus dirawat di rumah sakit,” ujar Anies di Kompleks Parlemen, Rabu (25/9/2019).

Anies juga mengatakan  bahwa Pemprov Jakarta mengkomodir aksi mahasiswa yang terjadi selama kurang lebih tiga hari kemarin.

Kata dia, pihaknya menyiapkan 40 mobil ambulance dan menyediakan mobil toilet. Serta memastikan rumah sakit sekitar bisa responsif jika ada korban yang harus dirawat.

“Saya datangi rumah sakit yang memang kita kelola untuk pastikan bahwa rumah sakit kita siap responsif. Jadi itu yang kita lakukan,” tuturnya.

sumber: cnbcindonesia.com

Luka Faisal Karena Benturan Benda Tumpul yang Sangat Keras

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Faisal Amir (21) mahasiswa hukum Universitas Al-Azhar yang menjadi salah satu korban bentrokan antara mahasiswa dan aparat di depan Gedung DPR RI, Jakarta pada Selasa (24/9/2019) masih kritis.

Saat ini Faisal masih dirawat intensif di ruang ICU Rumah Sakit Pelni, KS. Tubu, Jakarta Pusat. Faisal menderita retak tulang tengkorak dan patah tulang bahu kanan akibat hantaman benda tumpul.

“Jadi Faisal itu dilakukan operasi dua kali. Operasi pertama untuk menghentikan pendarahan di otak. Tengkoraknya retak. Jadi dari jidat kiri sampai kepala belakang dibelah untuk menghentikan pendarahan di otak. Tempurungnya dibuka. Operasi kepala dari jam 9 malam sampai jam 2,” kata Rahmat Ahadi, kakak kandung Faisal saat ditemui di RS. Pelni, Rabu (25/09/2019) siang ini.

Setelah itu, lanjutnya. Jam 2 pagi sampai jam 5 operasi bahu kanan yang patah. Kata dokter, pendarahan di kepala dan bahu yang patah karena benturan benda tumpul yang sangat keras.

“Tapi sampai saat ini, tempurungnya belum ditutup. Karena otaknya Faisal membengkak,” pungkasnya.

Faisal Amir (21 tahun) mengalami luka serius usai berlari ke arah polisi mata untuk mengevakuasi rekan-rekannya yang menghindari tembakan gas air mata.

“Jadi katanya dia (Faisal) terpisah dari teman-temannya karena mau mengevakuasi teman yang lain ke arah polisi yang menembakkan gas air mata, setelah itu hilang,” ungkap Rahmat.

Ia mengatakan, Faisal adalah koordinator aksi dari Universitas Al-Azhar sehingga mempunyai tanggung jawab untuk memastikan keadaan teman-temannya. Akibat rasa tanggung jawab yang besar, kini Faisal harus menjalani dua kali operasi. Operasi kepala karena mengalami pendarahan di otak dan operasi di bagian bahu kanan karena patah.

AILA Sebut Kelompok Pendukung Seks Bebas Kotori Gerakan Mahasiswa

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Aliansi Cinta Keluarga Indonesia (AILA) menyatakan, aksi unjuk rasa serentak mahasiswa yang digelar di berbagai kota di Indonesia pada Senin hingga Selasa (23-24/9/2019) kemarin disusupi oleh kelompok pendukung kebebasan seksual.

Sekjen AILA, Rita Subagio mengatakan, indikasi keberadaan mereka dalam aksi tersebut dapat dilihat dari munculnya spanduk-spanduk pro feminisme dan mendukung disahkannya Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS).

“Tuntutan pengesahan terhadap RUU P-KS bukanlah tuntutan mayoritas mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi di berbagai daerah. Tuntutan pengesahan RUU P-KS telah disusupkan oleh kelompok berpaham “kebebasan seksual” yang ingin mendompleng aksi mahasiswa terkait isu korupsi serta agenda reformasi lainnya,” katanya melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com hari ini, Rabu (25/9/2019).

Menurutnya, desakan pengesahan RUU tersebut merupakan desakan yang irasional dan tidak beralasan secara filosofis, normatif, dan sosiologis.

Rita menilai, kampanye kebebasan seksual yang diusung oleh para pendukung RUU P-KS dan para penolak pasal zina dan LGB dalam RKUHP telah mengotori gerakan mahasiswa.

“Kampanye kebebasan seksual yang diusung oleh para pendukung RUU P-KS dan para penolak pasal zina dan LGBT dalam RKUHP, kami nilai telah mengotori gerakan mahasiswa dan masyarakat yang selama ini telah tulus berjuang demi mewujudkan bangsa Indonesia yang bermoral dan beradab,” paparnya.

Rita menjelaskan, permintaan revisi secara substantif terhadap RUU P-KS bukan datang dari segelintir organisasi, namun telah menjadi pendapat banyak pakar hukum, akademiisi, tokoh masyarakat, dan pihak otoritatif lainnya.

“Revisi secara substantif terhadap RUU P-KS juga menjadi semangat sebagian besar anggota Panja RUU P-KS, ketika mengatakan bahwa RUU PKS lebih tepat diubah menjadi RUU “Kejahatan Seksual” dan diperbaiki substansinya agar tidak mengakomodasi perilaku seksual menyimpang seperti zina dan LGBT,” jelasnya.

Oleh sebab itu, pihaknya mengajak mahasiswa untuk terus bergerak menolak dan mengkritisi RUU P-KS serta RUU bermasalah lainnya dengan tetapa mengedepankan nilai-nilai moral dan agama tanpa kehilangan daya kritisnya dalam menyikapi proses legislasi yang sedang berjalan.

“Pastikan tidak terjadi lagi pengesahan berbagai RUU yang tidak melalui proses pengkajian secara mendalam, cacat secara formil maupun materil, dan tidak melibatkan seluruh elemen masyarakat,” tegas Rita.

Lebih lanjut, AILA berharap DPR dan pemerintah dapat menerima aspirasi dan masukan dari berbagai pihak terkait produk perundangan yang ada.

“Masukan dari berbagai elemen di tengah masyrakat sangat diperlukan untuk memastikan RUU tersebut selaras dengan nilai-nilai Pancasila yang berketuhanan dan berkemanusiaan yang adil dan beradab, serta tidak mengusik rasa keadilan di masyarakat,” pungkasnya.

Mahasiswanya Izin Demo, Jawaban Dosen Ini Bikin Warganet Terharu

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Wakil Dekan Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Universitas Padjadjaran Bandung, Dr Dwi Indra Purnomo mengungkapkan kisah sebelum mahasiswanya berangkat demo ke Jakarta Senin (23/9/2019) lalu.

Dalam akun instagramnya, Dwi mengungkapkan dirinya mendapati beberapa mahasiswa yang minta izin tidak ikut perkuliahan untuk bergabung bersama mahasiswa lainnya berunjuk rasa di Gedung DPR/MPR.

“Pak minta ijin dispen kuliah buat demo” sekelumit pembicaraan saya dengan anak- anak beberapa hari lalu,” tulis Dwi.

Dwi pun mengijinkan mahasiswanya seraya menyemangati mereka.

“Saya menimpalinya dengan mengatakan bahwa jika kita berjuang secara tulus apalagi menyuarakan hati rakyat, niatkanlah dengan baik dan bersungguh-sungguhlah. Tidak perlu lagi menimbang-nimbang tentang hal-hal yang remeh temeh apalagi absensi,” ungkapnya.

Menurut dia, mahasiswa harus keluar dari pragmatisme yang selama ini diajarkan di ruang kelas. Seharusnya, kata dia, mahasiswa diberi kebebasan untuk memandu pemikiran kepada arah yang lebih baik.

“Pergerakan ini melegakan, hal yang dirindukan dari anak-anak muda saat ini yang kerap dicap manja, apatis pada kehidupan bernegara. Karena memang sistem mengarahkannya kesana tanpa sadar. Menyuarakan lantang kebenaran, menerapkan idealisme dengan langkah nyata dan membudayakannya dengan konsistensi adalah tantangan kita bersama,” tutur Dwi.

Ia menegaskan, mahasiswa sekarang harus bersuara lantang selama keadilan belum ditegakkan.

“Sudah bosan dengan kaum muda masa lalu yang ketika itu hadir dengan idealisme dan seiring beranjaknya usia, panggung-panggung yang terisi juga meluluhkan idealismenya perlahan tak terasa. Semoga ini tidak terjadi lagi pada kaum muda saat ini, jangan mengulang lagi masa lalu. Tetaplah bersuara lantang sepanjang hayat, selama keadilan memang belum berdiri,” kata dia.

“Turun beraksi nyata, belajarlah dengan benar, berjejaringlah dengan luas, asah pula idealismenya dan segeralah menaiki panggung dan kawal cita-cita “mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur,” tutupnya.

https://www.instagram.com/p/B2ys_dLBS9R/?igshid=1ixtafn5znmbp

Selain dibanjiri pujian, cuitannya Dosen Unpad ini pun mengundang haru pembacanya. Salah satunya yang diungkapkan oleh @elsalalasari.

“Totally agree, tears drop,” katanya.

Sebelumnya, beberapa dosen di Malang juga menyatakan dukungannya kepada mahasiswa yang turun ke jalan menolak sejumlah revisi undang-undang oleh DPR dan pemerintah.

“Biarkan mahasiswa mengikuti ritme dinamika sosial masyarakat,” kata Dekan Fakultas Hukum Universitas Widyagama Malang Purnawan Dwikora Negara, Selasa (24/9/2019).

Mahasiswa Universitas Al Azhar Kritis, Pendarahan Diotak hingga Patah Tulang

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Al-Azhar, Faisal Amir (21 tahun), kritis setelah mengalami luka serius saat berlari menghindari gas air mata. Ia harus menjalani operasi di bagian kepalanya karena mengalami pendarahan pada otaknya.

“Terakhir saya lihat kondisinya kata dokter dia pendarahan di otak,” ujar Rahmat Ahadi, kakak kandung mahasiswa semester delapan itu, saat ditemui di RS Pelni, Jakarta Pusat, Rabu (25/9) dini hari.

Selain mengalami pendarahan di otak, Faisal juga mengalami retak tulang di bagian kepalanya.

Di bagian badan, bahu kanan Faisal patah dan terdapat memar di bagian dada, tangan, hingga lengan kanannya.

Berdasarkan keterangan Rahmat, keluarga sudah mengetahui niat Faisal untuk turut ikut turun ke jalan bersama mahasiswa-mahasiswa lain.

Pada aksi itu, Faisal bertugas menjaga rombongan mahasiswa perempuan dari Universitas Al-Azhar.

“Sekitar jam lima dia posisi di depan DPR. Dipukul mundur dari arah Slipi menuju ke arah Senayan. Tiba-tiba dia maju ke depan untuk buka jalan rombongan,” kata Rahmat.

Setelah berhasil membuka jalan untuk rombongan itu, Faisal kembali ke arah Gedung DPR sekitar pukul 17.00 WIB. Tak lama berselang, situasi di depan Gedung DPR mulai kacau. Gas air mata megepul di kerumunan para mahasiswa.

Kemudian, sekitar pukul 17.40 WIB, Faisal ditemukan dalam kondisi terluka.  Kemudian, teman-teman Faisal datang dan membawanya ke RS Pelni dengan menggunakan mobil bak terbuka.

“Jam enaman sampai sini jam tujuh. Pas ditemui (Iman) itu sudah dievakuasi. Penyebab tidak ada yang tahu,” tutur Rahmat.

Atas luka tersebut tindakan operasi dilakukan terhadap Faisal. Operasi mulai berlangsung sekitar pukul 21.00 WIB. Dokter sempat meminta transfusi darah karena Faisal kekurangan darah akibat luka yang dideritanya. Operasi masih berlangsung hingga pukul 01.00 WIB.

Sumber: republika.co.id

Warga Bahu Membahu Bantu Mahasiswa yang Diserang Polisi

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Warga Danau Gelingggang, Blok C2, Bendungan Hilir, membantu puluhan mahasiswa untuk kabur dari serangan tembakan gas air mata.

Sebab, gerbang masuk area perumahan ini tepat di seberang gerbang utama Gedung DPR/MPR RI, tempat mahasiswa berdemonstrasi.

Tepat di depan portal area perumahan tersebut, sejumlah warga berusaha mengarahkan mahasiswa yang mulai kelelahan untuk kabur.

Terlebih, mata dan kerongkongan para mahasiswa sudah sakit lantaran terkena gas air mata.

“Ke arah kiri ke Slipi, kalau ke kanan ke Semanggi. Sebaiknya adek-adek mahasiswa ke arah Semanggi untuk evakuasi,” ucap salah seroang warga yang berdiri tepat di portal perumahan.

Meski demikian, masih saja ada sejumlah mahasiswa yang ingin kembali ke area depan Gedung DPR.

Warga pun mengingatkan agar para mahasiswa yang perempuan agar tak ikut kembali ke depan gerbang utama DPR.

Memasuki waktu magrib, warga pun mengingatkan para mahasiswa untuk berhenti terlebih dahulu.

“Ayo shalat dulu. Berdoa agar diberikan keselamatan,” ucap warga sembari menunjukkan lokasi masjid.

Seperti diketahui, aparat kepolisian mulai menggunakan gas air mata untuk membubarkan demonstran sekitar pukul 16.20 WIB.

Ribuan mahasiswa yang berkumpul untuk menyuarakan aspirasinya itu langsung berhamburan kabur ke arah Semanggi dan Slipi.

Usai tembakan gas air mata itu, ternyata massa mahasiswa masih berupaya untuk kembali ke gerbang utama DPR.

Polisi pun mulai keluar dari area kompleks parlemen. Aparat pun mulai menembakkan puluhan gas air mata untuk memukul mundur mahasiswa sekitar pukul 16.30 WIB.

Mahasiswa kembali berhamburan. Pihak polisi mulai menduduki area JPO tempat wartawan berkumpul.

Sejumlah mahasiswa yang tak sempat lagi kabur melewati Jalan Gatot Subroto karena sudah ramai polisi dan menyeruaknya gas air mata, akhirnya bisa kabur ke area perumahan warga.

Aksi demonstrasi mahasiswa digelar untuk menolak sejumlah rancangan undang-undang (RUU) yang dinilai merugikan publik. Selain itu, mereka juga menolak pelemahan KPK.

Adapun RUU yang dikecam mahasiswa adalah Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) yang dinilai antidemokrasi dan mencampuri urusan privat warga negara. Mereka meminta DPR mencabut UU KPK yang telah disahkan.

Mereka juga meminta agar DPR menunda pengesahan RUU bermasalah lainnya, seperti RUU Pemasyarakatan, RUU Minerba, RUU Pertanahan, dan RUU Ketenagakerjaan.

Sumber: republika.co.id

Sedang Menembakkan Gas Air Mata, Polisi Imbau Ketua DPR Tak Dekati Mahasiswa

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Aksi mahasiswa di depan Kompleks Parlemen, Senayan, masih terus berlangsung hingga Selasa (24/9). Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) pun menemui mahasiswa yang tengah menyampaikan aspirasi.

“Kami bersedia, kalau ingin dialog kita undang ke dalam,” kata Bamsoet. 

Dengan berjalan kaki, Bamsoet yang mengenakan kemeja putih langsung berjalan menuju dari ruang rapat paripurna ke pintu gerbang DPR/MPR tempat mahasiswa berkumpul. Seorang polisi mengimbau agar Bamsoet dan rombongan tidak mendekat. 

Tidak lama, setelah polisi langsung melepaskan gas air mata untuk membubarkan massa.

Serentak wartawan dan kerumunan orang di sekitaran Bamsoet langsung berhamburan ke arah gedung Nusantara V. 

Beberapa polisi tampak ikut berlindung di halaman Nusantara V.

Beberapa ada yang terlihat kesulitan bernafas sehingga harus dibantu dengan rekan sesama polisi. 

Hingga pukul 17.23 WIB suara petasan masih menggema di sekitaran Kompleks Parlemen, Senayan.

Sumber: republika.co.id

Demo Mahasiswa Di Depan DPRD Kota Malang Berakhir Ricuh

MALANG (Jurnalislam.com)Aksi unjuk rasa mahasiswa kembali terjadi di Kota Malang, Jawa Timur pada Selasa (24/9/2019). Ratusan mahasiswa dari berbagai universitas di Kota Malang menggeruduk Kantor DPRD Kota Malang dengan tuntutan yang sama, yaitu menolak upaya pemerintah terkait revisi UU KPK, RKHUP dan RUU Pertanahan.

Massa aksi merupakan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat untuk Demokrasi (ARD). Berasal dari sejumlah kampus seperti; UMM, UB, UIN dan lainnya. Serentak mereka menyuarakan penolakan terhadap pemerintah terkait isu yang sedang menghangat, yaitu revisi RUU KPK, RKHUP dan RUU Pertanahan.

Bertepatan dengan Hari Tani Nasional, massa dengan lantang meneriakan yel-yel sebagai bentuk pembelaan mereka terhadap petani.

Menurut salah satu orator, Helmi, rezim saat ini dinilai telah membohongi rakyat dengan reforma agraria palsu. Karena itu, poin utama dari aksi itu adalah penolakan terhadap RUU Pertanahan yang dinilai akan merugikan rakyat kecil.

“Demokrasi oligarki, reformasi dikorupsi,” tegasnya.

Dalam aksinya, massa meminta aparat kepolisian untuk membuka pintu gerbang Kantor DPRD agar mahasiswa dapat bermediasai langsung dengan Dewan. Namun hanya 23 perwakilan mahasiswa saja yang dijinkan.

Polisi membubarkan paksa massa dengan menggunakan water cannon. Alhasil, demonstrasi berakhir ricuh. Setidaknya tiga orang terluka dalam bentrokan tersebut. Korban terdiri dari mahasiswa, polisi, dan wartawan.

Sehari sebelumnya, mahasiswa dan aktivis Kota Malang melakukan demonstrasi juga di depan Kantor DPRD Kota Malang dengan tuntutan yang sama dan berakhir damai.

Reporter: Lik

 

 

Terkena Gas Air Mata, Sejumlah Mahasiswi Terkapar di Stasiun Palmerah

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Sebanyak lima mahasiswa terkapar di Stasiun Palmerah, Jakarta Barat, akibat kehabisan oksigen setelah terkena asap gas air mata sepulang aksi menolak Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan revisi UU KPK di depan Gedung DPR RI, Selasa.

Lima mahasiswa tersebut terdiri dari dua laki-laki dan tiga perempuan yang berasal dari pergurungan tinggi berbeda. Tiga mahasiswa asal STMIK Bani Saleh Bekasi, satu mahasiswa dari STIKES Bani Saleh, dan satu orang mahasiswa dari ISIP Jakarta.

Lima mahasiswa itu mengeluhkan sesak nafas, batuk, lemas dan pusing. Selanjutnya petugas Stasiun Palmerah membantu memberikan perawatan medis.

Dua orang mahasiswa laki-laki ditandu karena kondisinya cukup lemah dan tiga mahasiswa lainnya dibopong ke pintu masuk stasiun yang dijadikan posko darurat.

Tiga tim medis Stasiun Palmerah memberikan pertolongan pertama kepada mahasiswa yang mengalami sesak nafas, pusing dan lemas.

Irma (21) mahasiswa STMIK Bani Saleh Bekasi mengaku terkena asap gas air mata saat berjalan pulang dari DPR RI ke Stasiun Palmerah.

“Saya tadi kena asapnya gas air mata padahal kita sudah berjalan pulang, langsung mual, perih dan sesak nafas,” kata Irma.

Hingga berita ini diturunkan sebanyak empat mahasiswa sudah berangsur pulih kondisinya setelah mendapatkan pertolongan pertama dan oksigen dari petugas kesehatan di stasiun.

Sisa satu orang mahasiswa dari STMIK Bani Saleh Bekasih masih dirawat menggunakan infus di tempat tidur darurat. Saat berita ini diturunkan situasi di Stasiun Palmerah padat oleh mahasiswa dan penumpang kereta yang jam pulang kerja.

Sumber: republika.co.id