Kaderisasi Stagnan Tinggal Menunggu Waktu

SOLO (jurnalislam.com)– Ustaz Dwi Jatmiko, dai champions standardisasi Majelis Ulama Indonesia Pusat sekaligus anggota dari Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhamamdiyah Solo menyampaikan tausiah dalam agenda Silaturahmi dan turun ke bawah (Turba) MPKSDI Daerah ke MPKSDI Cabang.

Dalam kesempatan itu, Dwi Jatmiko menyampaikan terkait penyebab kaderisasi stagnan, maka umur perjalanan sebuah organisasi itu tinggal menunggu waktu.

“Hidup matinya sebuah organisasi sangat tergantung pada kaderisasi. Jika kaderisasi lancar, maka organisasi bisa ‘survive’,” katanya saat mengisi tausiah di Masjid Nurul Hidayah Komplek Pakym Kecamatan Laweyan, Jumat Malam (2/5/2025).

Dia mencontohkan seperti youtube, jam tayang utama ketika seorang pegang smartphone di rumah pukul 18.00-20.00 WIB, 11.00-13.00 WIB. “Kaderisasi sangat penting dan harus dilakukan secara terus-menerus agar organisasi tak kekurangan kader. Kaderisasi harus konsisten agar algoritmanya tidak tenggelam. Dari sinilah banyak tokoh bahkan pemimpin bangsa muncul atau pahlawan,” bebernya.

Ia menegaskan, Kaderisasi Muhammadiyah tidak hanya mencetak pengurus organisasi, tetapi harus melahirkan pemimpin yang memiliki visi, integritas, dan kesiapan untuk berkontribusi. Misal pentingnya keterlibatan anak muda dalam kepengurusan masjid, dengan membentuk direktur utama masjid, menambah indikator kemakmuran masjid, serta membuat program berbasis media sosial dan kegiatan khusus anak muda agar lebih tertarik untuk aktif di masjid.

“Membuka ruang refleksi bahwa kaderisasi bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan proses strategis untuk memastikan keberlanjutan gerakan dakwah Muhammadiyah,” tegasnya.

Ia menyitir firman Allah dalam al Quran surat Al-An’am 6: Ayat 125, “Maka, siapa yang Allah kehendaki mendapat hidayah, Dia akan melapangkan dadanya untuk menerima Islam,” ujarnya menyitir quran.

Sementara itu, Ketua MPKSDI PDM Solo Suyanto, menyampaikan program bahwa kaderisasi terus digalakkan dengan adanya perkuliahan Kemuhammadiyahan.

“Program Pendidikan Kemuhammadiyahan (PKMD) sebagai upaya strategis untuk mendukung kaderisasi Muhammadiyah dengan gelar D1 yang diikuti guru-guru dari berbagai tingkat lembaga pendidikan Muhammadiyah di Solo di pusatkan di Universitas Muhammadiyah PKU atau UMPKU Surakarta dengan rektor Weni Hastuti,” jelasnya dalam sambutan.

BRIN dan MER-C Satukan Sikap terkait Rencana Evakuasi Warga Palestina ke Indonesia

JAKARTA (jurnalislam.com)– Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menggelar talkshow terkait “Problematika Evakuasi Warga Gaza ke Indonesia”, pada Rabu (30/4/2025) di Jakarta.

Talkshow ini diadakan sebagai respons atas pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait rencana evakuasi 1.000 warga Gaza Palestina yang terluka ke Indonesia untuk mendapatkan pengobatan dan rehabilitasi sementara.

Dalam sambutannya, Ketua Presidium MER-C, dr. Hadiki Habib, menegaskan pentingnya membangun narasi kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) untuk merespons situasi Gaza. Ia menyampaikan bahwa fakta dan data di lapangan harus menjadi dasar dalam menentukan sikap dan langkah, terutama dalam menghadapi upaya-upaya yang berpotensi memutarbalikkan informasi.

Menurutnya, ini merupakan langkah yang sangat penting untuk membangun evidence melalui talkshow yang nanti diikuti oleh sebuah policy brief.

Kepala Pusat Riset Politik BRIN, Athiqah Nur Alami, dalam sambutannya menyatakan bahwa rencana Presiden Prabowo perlu diapresiasi sebagai bentuk nyata komitmen pemerintah Indonesia terhadap Palestina. Namun, ia juga menekankan perlunya diskusi untuk mengkaji kelayakan serta dampak kebijakan tersebut dari berbagai aspek.

Ia mengatakan, diskusi ini penting untuk menilai kesiapan Indonesia, juga mencakup tantangan sosial dan budaya, kesiapan regulasi, serta sikap masyarakat terhadap kehadiran warga Gaza.

Selain itu, pengalaman MER-C yang baru kembali dari Gaza diharapkan bisa memberikan pembaruan kondisi terkini di lapangan, serta respons terkait rencana evakuasi ini.

Kegiatan ini menghadirkan dialog interdisipliner antar para akademisi, pembuat kebijakan, praktisi kemanusiaan, dan masyarakat sipil. Harapannya, mereka dapat berkontribusi dengan memberikan pemahaman yang tepat dalam merespons kebijakan evakuasi warga Palestina ke Indonesia.

Adapaun narasumber yang hadir sebagai pembicara yaitu M. Hamdan Basyar, M.Si., Peneliti Bidang Timur Tengah, Pusat Riset Politik BRIN; Dr. dr. Hadiki Habib, SpPD., SpEM., Ketua Presidium MER-C; dan Prof. Dr. Tri Nuke Pudjiastuti, Peneliti Bidang Migrasi Paksa, Pusat Riset Politik BRIN.

Diskusi ini diharapkan akan menghasilkan potensi solusi dan peran aktif Indonesia dalam merespons kebijakan evakuasi warga Palestina ke Indonesia, sehingga dapat menentukan langkah terbaik dalam membantu warga Palestina ke depannya di tengah konflik yang terus memanas.

Hamas Lakukan Penyergapan Mematikan Terhadap Pasukan Israel di Rafah

RAFAH (jurnalislam.com)– Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, mengklaim telah melancarkan penyergapan mematikan terhadap pasukan Israel di wilayah Tal as-Sultan, Rafah, Jalur Gaza selatan, beberapa hari lalu.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis hari ini Jum’at (2/5/2025), sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, menyebut penyergapan dilakukan secara “kompleks” di Jalan al-Tayaran, dengan memancing pasukan mekanis Israel masuk ke zona jebakan.

Empat kendaraan militer jenis Hummer dan satu truk disebut terkena ledakan alat peledak rakitan. Setelah ledakan terjadi, para pejuang Hamas dilaporkan maju dan menyerang dari jarak dekat, menewaskan serta melukai sejumlah tentara Israel.

Militer Israel sendiri belum merilis rincian korban akibat insiden tersebut. Namun, korban terbaru yang diumumkan adalah seorang komandan peleton berusia 21 tahun dari unit lapis baja, yang tewas di wilayah Gaza utara. Identitasnya dipublikasikan pada 26 April lalu. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

“Kami Sekarat dalam Diam”: Pasien Gagal Ginjal RS Al-Shifa Gaza Berjuang untuk Tetap Hidup

GAZA (jurnalislam.com)- Di sisa-sisa Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza, para pasien gagal ginjal kronis duduk diam di kursi plastik atau terbaring di atas tandu berkarat, menunggu giliran menggunakan mesin dialisis—yang belum tentu berfungsi.

Dialisis adalah satu-satunya harapan hidup bagi mereka yang ginjalnya tidak lagi bekerja. Tanpanya, racun akan menumpuk dalam tubuh dan menyebabkan gagal jantung, koma, hingga kematian. Namun, di Gaza yang porak-poranda akibat perang, layanan vital ini kini menjadi korban pengepungan Israel, membuat harapan hidup kian menipis.

“Saya datang ke sini karena saya ingin tetap hidup. Tapi terkadang saya berpikir, mungkin lebih mudah jika saya mati,” ujar Hind Awadallah, seorang ibu yang mengungsi dari Kamp Pengungsi Jabalia, kini tinggal di tenda di Gaza Tengah.

Sejak 2022, Awadallah menjalani dialisis setelah bertahun-tahun menderita hipertensi yang tak terdiagnosis. Sebelum perang, ia menerima empat sesi per minggu. Kini, ia hanya bisa mendapat satu atau dua sesi, dengan durasi perawatan dipangkas dari empat jam menjadi dua jam, memperburuk kondisinya.

“Mesin selalu mati saat listrik padam,” katanya. Meski demikian, Awadallah memuji dedikasi para perawat, meski sumber daya sangat terbatas.

Rumah Sakit yang Tak Lagi Layak

Al-Shifa, rumah sakit terbesar dan paling lengkap di Gaza, kini hanya menjadi bangunan kosong setelah berbulan-bulan dikepung dan diserang Israel. Laboratoriumnya tak lagi berfungsi, ruang operasinya gelap gulita.

Unit dialisis yang dulu mampu melayani ratusan pasien kini rusak. Mesin-mesin digunakan bersama oleh tiga pasien atau lebih, durasi sesi dipangkas, kebersihan terabaikan, bahkan air yang digunakan sering kali tak disaring dengan benar.

“Tidak ada lagi infrastruktur. Tidak ada listrik, air bersih, atau obat-obatan,” kata Dr. Ghazia-Yazji, Kepala Departemen Nefrologi RS Al-Shifa.

“Kami berusaha sekuat tenaga menyelamatkan pasien. Tapi sering kali, kami hanya menyaksikan mereka meninggal. Kami tidak berdaya,” ujarnya.

Sameh Nijim, pasien lainnya, menyebut Al-Shifa tak ubahnya “ruang tunggu bagi mereka yang sekarat.”

Nour Siam, bocah sembilan tahun dengan kelainan ginjal bawaan, kini menjalani hidup dalam penderitaan. Ayahnya, Ahmed Siam, membawa Nour ke RS Al-Shifa setiap minggu. “Dia seharusnya bersekolah, bukan berada di sini. Dia tak bisa berjalan sendiri selama berminggu-minggu,” katanya.

Angka Kematian Meningkat Tajam

Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, sejak perang dimulai, lebih dari 400 pasien ginjal telah meninggal dunia, mayoritas akibat gangguan perawatan, air terkontaminasi, dan runtuhnya layanan medis. Banyak yang meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit atau di tempat penampungan yang penuh sesak.

“Krisis kesehatan di Gaza sudah mencapai tingkat bencana,” ujar Munir al-Batish, Direktur Kementerian Kesehatan Gaza. “Sistem kesehatan hancur, rumah sakit kewalahan, dan penargetan fasilitas medis oleh Israel membuat kami tak mampu menanggapi jumlah korban yang terus bertambah.”

Serangan Sistematis terhadap Infrastruktur Sipil

Mustafa Ibrahim, analis politik Gaza, menyebut penghancuran rumah sakit sebagai bagian dari strategi Israel yang disengaja. “Al-Shifa adalah simbol ketahanan Gaza. Penghancurannya merupakan pesan bahwa Gaza tidak dimaksudkan untuk pulih.”

Menurutnya, para pasien ginjal adalah gambaran nyata dari masyarakat Gaza yang paling rentan. Tanpa akses terhadap dialisis, mereka tak punya harapan hidup.

Hingga kini, upaya internasional untuk mengirimkan bantuan medis masih belum mencukupi. Ribuan warga Gaza bergantung pada solidaritas global untuk mengakhiri pengepungan dan mencegah kehancuran lebih lanjut.

Selama pengepungan masih berlangsung dan sistem kesehatan tak pulih, pasien ginjal di Gaza akan terus sekarat dalam diam. (Bahry)

Kisah ini dilansir dari The New Arab tanggal 29 April 2025

Kerahkan Tentara Bantu Atasi Kebakaran Hebat, Menhan Israel: Ini Darurat Nasional

YERUSALEM (jurnalislam.com)– Pemerintah Israel menetapkan situasi darurat nasional setelah kebakaran hutan yang meluas mengancam wilayah dekat Yerusalem. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada Rabu (30/4/2025) memerintahkan pengerahan pasukan militer untuk membantu petugas pemadam kebakaran yang tengah berjuang mengendalikan kobaran api.

“Kita menghadapi keadaan darurat nasional, dan semua pasukan yang tersedia harus dikerahkan untuk menyelamatkan nyawa dan mengendalikan kebakaran,” ujar Katz dalam pernyataan resminya.

Lembaga layanan darurat nasional Israel, Magen David Adom (MDA), melaporkan bahwa ratusan warga sipil saat ini berada dalam risiko akibat meluasnya kebakaran. Enam belas orang dilaporkan mengalami luka ringan akibat menghirup asap dan telah mendapatkan perawatan medis.

Sebagai langkah pengamanan, pihak kepolisian menutup jalan raya utama penghubung Yerusalem dan Tel Aviv. Evakuasi juga dilakukan terhadap penduduk yang tinggal di sepanjang jalur tersebut. Area yang terbakar diketahui merupakan lokasi yang sama dengan kebakaran hebat yang terjadi seminggu sebelumnya.

Pihak berwenang meningkatkan status siaga ke level tertinggi dan memperingatkan kemungkinan memburuknya kondisi akibat cuaca kering dan angin kencang. (Bahry)

Sumber: TNA

Israel Paksa Tutup Enam Sekolah UNRWA di Yerusalem Timur, 800 Siswa Terancam Kehilangan Akses Pendidikan

WEST BANK (jurnalislam.com)– Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyampaikan keprihatinan mendalam atas keputusan otoritas Israel yang akan menutup enam sekolah UNRWA di Yerusalem Timur. Kebijakan tersebut disebut membahayakan hak pendidikan bagi sekitar 800 anak laki-laki dan perempuan Palestina.

Dalam pernyataan resmi yang diunggah di akun X UNRWA pada 30 April 2025, disebutkan bahwa perintah penutupan ini akan mulai berlaku dalam waktu kurang dari sepuluh hari.

“Perintah ini melanggar kewajiban Israel berdasarkan hukum internasional,” tegas UNRWA.

Sebagai bentuk dukungan internasional terhadap UNRWA dan hak pendidikan anak-anak Palestina, delegasi gabungan yang terdiri dari 12 mitra UNRWA mengunjungi sekolah-sekolah anak perempuan di Kamp Shufat. Dalam kunjungan tersebut, mereka mendengarkan langsung kesaksian dari para siswa, orang tua, dan staf pengajar terkait kondisi yang tengah mereka hadapi.

Selama beberapa dekade, sekolah-sekolah UNRWA di Kamp Shufat telah menjadi bagian penting dari tatanan sosial kamp pengungsi, menyediakan akses pendidikan berkualitas yang dekat dengan tempat tinggal mereka. Namun kini, masa depan para siswa, khususnya anak-anak perempuan, berada di ambang ketidakpastian.

“Anak-anak perempuan kecil sekarang takut bahwa impian mereka untuk menjadi dokter atau ilmuwan akan menguap jika mereka kehilangan akses terhadap pendidikan,” tulis UNRWA.

Keputusan penutupan ini dinilai sebagai bagian dari tekanan berkelanjutan terhadap lembaga-lembaga internasional yang beroperasi di wilayah pendudukan Palestina. UNRWA sendiri telah lama menjadi target kritik dari pemerintah Israel, meskipun lembaga ini menyediakan layanan penting seperti pendidikan, kesehatan, dan bantuan sosial bagi jutaan pengungsi Palestina.

Kontributor: Bahry

Lebih dari 50 Pekerja Bantuan UNRWA di Gaza Alami Penyiksaan di Tahanan Israel

GAZA (jurnalislam.com)– Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyampaikan bahwa lebih dari 50 staf mereka di Jalur Gaza mengalami penyiksaan dan dijadikan tameng manusia selama berada dalam tahanan militer Israel. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, melalui akun X pada Selasa, 29 April 2025.

“Sejak dimulainya perang pada Oktober 2023, lebih dari 50 staf UNRWA — termasuk guru, dokter, dan pekerja sosial — telah ditahan dan mengalami penyiksaan,” tulis Lazzarini.

Menurutnya, para staf UNRWA diperlakukan secara kejam dan tidak manusiawi. Mereka mengaku dipukuli, dihina, diancam, hingga digunakan sebagai tameng manusia oleh militer Israel.

“Saya berharap kematian mengakhiri mimpi buruk yang saya alami ini,” ujar salah satu staf UNRWA yang ditahan dan kemudian dibebaskan, sebagaimana dikutip Lazzarini dalam unggahannya.

Ia menambahkan bahwa para staf tersebut juga mengalami berbagai bentuk penyiksaan lainnya seperti kurang tidur, ancaman terhadap diri dan keluarga, serta serangan dari anjing militer. Beberapa dari mereka juga dipaksa memberikan pengakuan di bawah tekanan.

Laporan ini menambah daftar panjang tuduhan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh militer Israel terhadap warga sipil dan pekerja bantuan kemanusiaan selama konflik di Gaza.

Hingga saat ini, pihak militer Israel belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan yang dilontarkan UNRWA. Sebelumnya, Israel telah melarang UNRWA beroperasi di wilayahnya, dengan alasan bahwa sejumlah staf UNRWA diduga terlibat dalam serangan 7 Oktober 2023. Namun, investigasi independen internasional hingga kini belum menemukan bukti yang mendukung klaim tersebut.

Sementara itu, Mahkamah Internasional (ICJ) masih mendengarkan pernyataan dari puluhan negara dan organisasi internasional mengenai tanggung jawab Israel terhadap krisis kemanusiaan di Gaza. Lebih dari 50 hari telah berlalu sejak Israel memblokade total akses bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut.

Israel sendiri menolak berpartisipasi dalam sidang ICJ dan menyebut proses tersebut sebagai bentuk “penganiayaan dan upaya sistematis untuk mendelegitimasi Israel.” Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, menyatakan bahwa yang seharusnya diadili bukanlah Israel, melainkan PBB dan UNRWA. (Bahry)

Sumber: TNA

Tank-Tank Israel Terlihat di Perbatasan Gaza-Mesir, Ketegangan dengan Kairo Meningkat

GAZA (jurnalislam.com)– Beberapa tank tempur Merkava milik militer Israel dilaporkan terlihat di sepanjang perbatasan antara Jalur Gaza dan Mesir, tepatnya di wilayah yang berseberangan dengan desa-desa selatan Kota Rafah. Hal itu diungkapkan sejumlah sumber suku kepada media The New Arab, sebagaimana dilansir dalam laporannya tertanggal 29 April 2025.

Menurut sumber-sumber tersebut, pasukan Israel diduga telah membangun sejumlah bukit buatan dan area tinggi sebagai posisi strategis untuk menempatkan tank-tank tersebut. Tank-tank itu dilaporkan terus bergerak sepanjang hari di jalur perbatasan tersebut.

Sementara itu, penjaga perbatasan Mesir disebut tidak memiliki alat berat di kawasan itu dan hanya mengandalkan kendaraan bermotor berpenggerak empat roda untuk patroli.

Penampakan militer Israel ini terjadi di tengah konflik yang masih berlangsung di Gaza, serta meningkatnya ketegangan diplomatik antara Israel dan Mesir terkait dugaan pelanggaran terhadap perjanjian damai Camp David tahun 1979.

Pada bulan lalu, anggota parlemen Mesir, Mustafa Bakri, mengajukan permintaan pengarahan kepada Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdel Aati, mengenai dugaan pelanggaran perjanjian damai oleh Israel. Ia merujuk pada pendudukan wilayah Gaza secara luas oleh militer Israel sejak perang dimulai.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, juga menuding Mesir melakukan pelanggaran serupa. Ia menyebut bahwa pembangunan infrastruktur militer Mesir di Semenanjung Sinai melanggar kesepakatan damai, dan menyerukan agar Mesir segera membongkar fasilitas militer tersebut.

Media Israel sebelumnya melaporkan bahwa militer Mesir telah memperkuat pasukannya di sejumlah wilayah selama beberapa bulan terakhir. Di saat yang sama, militer Israel juga terus menambah pasukan dan posisi pertahanannya di sepanjang perbatasan Gaza-Mesir sejak Mei 2024.

Perkembangan ini terjadi di tengah perang yang terus berkecamuk di Gaza. Menurut kantor media pemerintah Gaza, hingga akhir April 2025, lebih dari 61.700 warga Palestina telah tewas sejak perang pecah pada Oktober 2023. Konflik ini telah membawa Gaza ke dalam krisis kemanusiaan besar, menghancurkan permukiman warga, serta meningkatkan risiko penyakit dan kekurangan gizi akut, terutama di kalangan anak-anak. (Bahry)

Sumber: TNA

Kondisi Gizi di Gaza Memburuk, Ribuan Anak Alami Malnutrisi Akut

GAZA (jurnalislam.com)– Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza semakin memburuk. Kondisi gizi masyarakat, terutama anak-anak, mengalami penurunan drastis di tengah blokade total yang diberlakukan Israel sejak awal Maret lalu.

Dalam laporan yang dirilis Senin malam (28/4/2025), Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mencatat sekitar 10.000 kasus malnutrisi akut di kalangan anak-anak di seluruh wilayah Gaza. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.600 di antaranya tergolong dalam kategori malnutrisi akut parah.

“Terjadi peningkatan laporan aksi penjarahan di tengah situasi kemanusiaan yang memprihatinkan. Pada akhir pekan lalu, kelompok bersenjata dilaporkan menjarah sebuah truk di Deir al-Balah dan sebuah gudang di Kota Gaza,” tulis OCHA dalam laporannya.

Kementerian Kesehatan Gaza menambahkan, saat ini setidaknya 60.000 anak menunjukkan gejala malnutrisi.

“Kami menangani kasus anak-anak dengan malnutrisi akut sedang hingga berat. Kami juga menemukan ibu hamil dan menyusui yang kesulitan memberikan ASI karena tubuh mereka sendiri kekurangan gizi dan asupan kalori yang sangat minim,” ujar Julie Faucon, Koordinator Medis dari organisasi Médecins Sans Frontières (Doctors Without Borders/MSF), kepada Reuters dari Yerusalem.

Pemerintah Gaza menyatakan bahwa kelaparan bukan lagi ancaman, tetapi telah menjadi kenyataan. Hingga Jumat lalu, setidaknya 52 orang dilaporkan meninggal dunia akibat kelaparan dan malnutrisi, termasuk 50 anak-anak.

Sementara itu, kondisi harga bahan makanan di Gaza melonjak drastis. Salah Abu Haseera, pengelola dapur umum di Gaza, mengatakan harga makanan saat ini tidak masuk akal. “Harga melonjak hingga 1.400 persen dibandingkan masa gencatan senjata,” katanya.

Program Pangan Dunia (WFP) juga melaporkan bahwa stok makanan mereka kini telah habis. Pada 31 Maret lalu, seluruh 25 toko roti yang mereka dukung terpaksa tutup karena kekurangan tepung terigu dan bahan bakar untuk memasak. Pada minggu yang sama, paket makanan yang biasanya didistribusikan WFP untuk memenuhi kebutuhan dua minggu keluarga juga telah habis.

Meski demikian, Israel masih membantah bahwa Gaza tengah menghadapi krisis kelaparan. Pemerintah Israel mengklaim bahwa masih ada cukup bantuan yang masuk ke Gaza, namun tidak memberikan penjelasan rinci kapan dan bagaimana bantuan tersebut bisa didistribusikan. (Bahry)

Sumber: TNA

Blokade Israel Membuat Dapur Umum di Gaza Terancam Tutup

GAZA (jurnalislam.com)– Blokade total Israel yang terus berlangsung semakin memperparah krisis kemanusiaan di Jalur Gaza. Kini, puluhan dapur umum yang menjadi tumpuan hidup ratusan ribu warga Palestina terancam tutup dalam hitungan hari akibat kekurangan pasokan makanan.

Di Distrik Nuseirat, seorang nenek pengungsi, Um Mohammad Al-Talalqa, harus mengantre selama lima jam di dapur umum demi mendapatkan satu porsi makanan untuk anak dan cucu-cucunya yang kelaparan.

Namun, upaya mendapatkan makanan kemungkinan akan semakin sulit. Beberapa organisasi kemanusiaan menyebut, puluhan dapur umum lokal kini terancam kehabisan bahan makanan. Jika bantuan tidak segera masuk, sumber makanan terakhir yang tersisa bagi sebagian besar dari 2,3 juta penduduk Gaza akan lenyap.

“Kami benar-benar mengalami kelaparan,” kata Talalqa yang rumahnya di Kota Mughraqa hancur akibat serangan Israel. “Saya belum makan apa pun sejak pagi.” terangnya sebagaimana dilansir The New Arab (29/4/2025).

Di dapur umum Al-Salam Oriental Food di Kota Gaza, Salah Abu Haseera khawatir bahwa makanan yang disiapkannya bisa jadi merupakan yang terakhir bagi sekitar 20.000 warga yang setiap hari dilayani oleh timnya.

“Kami menghadapi tantangan besar untuk bisa terus bertahan. Mungkin dalam waktu satu minggu, atau bahkan kurang, kami harus berhenti beroperasi,” ujarnya kepada Reuters melalui sambungan telepon.

Sejak 2 Maret lalu, Israel sepenuhnya memutus pasokan ke Gaza. Cadangan makanan yang sebelumnya masuk saat jeda gencatan senjata kini telah menipis. Penutupan ini menjadi yang terpanjang yang pernah dialami Gaza.

Dapur umum di wilayah ini sangat beragam, mulai dari usaha rumahan berskala kecil hingga restoran biasa. Dalam beberapa bulan terakhir, antrean panjang warga yang membawa panci plastik dan aluminium menjadi pemandangan umum di Gaza.

“Dapur umum ini sangat diandalkan warga Gaza karena hampir tidak ada lagi cara lain untuk mendapatkan makanan,” kata Juliette Touma, juru bicara Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), kepada Reuters.

Direktur Jaringan Organisasi Non-Pemerintah Palestina (PNGO) di Gaza, Amjad Shawa, menyebut saat ini hanya tersisa 70 hingga 80 dapur umum yang masih beroperasi.

“Dalam empat hingga lima hari ke depan, dapur umum tersebut akan tutup,” ujarnya.

Sebelum penyeberangan perbatasan ditutup, diperkirakan ada sekitar 170 dapur umum aktif di Gaza. Namun, 15 dapur tambahan dilaporkan telah tutup pada Senin lalu.

Reporter: Bahry
Sumber: TNA