Oposisi Moderat Suriah Rencanakan Transisi Politik dalam 6 Bulan

JENEWA (Jurnalislam.com) – Oposisi Moderat Suriah mengatakan pihaknya tertarik untuk bergerak cepat dalam jangka waktu enam bulan melaksanakan rencana PBB tentang transisi politik di Suriah, lansir World Bulletin, Jumat (18/03/2016).

Berbicara setelah pertemuan antara Komite Tinggi Negosiasi (HNC) dan Utusan Khusus PBB untuk Suriah Staffan de Mistura, anggota HNC Bassma Kodmani mengatakan: "Kami sangat tertarik untuk menghindari proses yang tidak memberikan hasil … De Mistura menegaskan kembali bahwa jangka waktunya adalah enam bulan, mudah-mudahan kurang, tapi pasti tidak lebih. Itu adalah jaminan kami."

"Jangka waktu telah diatur … kita mengalami kemajuan serius," tambahnya.

Kodmani mengatakan: "Kami menyajikan de Mistura memo rinci tentang visi kita tentang masa transisi dan pembentukan lembaga transisi."

"Kami mendengar dari de Mistura tentang posisi pihak lain … Di sisi kami, kami merasa nyaman dengan dokumen tertulis dan itulah apa yang kita lakukan saat ini. Kami berharap dia bisa menekan pihak lain untuk melakukan hal yang sama, untuk memberikan dokumen tersebut," katanya.

Tentang posisi oposisi di federalisme Suriah, negosiator HNC George Cabra mengatakan: "Tentu saja, diskusi kami dengan de Mistura tidak menyentuh titik ini. Kami percaya langkah-langkah ini adalah tidak sah, tidak dapat diterima, dan benar-benar ditolak.."

Setelah pertemuan itu, de Mistura mengatakan kepada wartawan bahwa "tidak ada diskusi tentang federalisme" mengenai deklarasi wilayah federal di utara Suriah oleh PYD.

Utusan PBB mengatakan jarak antara rezim Syiah Nushairiyah  Assad  dan oposisi sangatlah "besar".

"Hari ini, menurut pendapat saya, kami memiliki pertemuan yang sangat produktif dan intens dengan HNC … Itu sangat substantif. Rencana transisi politik dibagikan."

Mencatat bahwa ia akan berbagi dokumen HNC dengan delegasi rezim, de Mistura mengatakan ia akan bertemu secara terpisah dengan delegasi rezim dan oposisi pada hari Jumat.

Babak baru pembicaraan di Jenewa bertujuan untuk mengakhiri perang yang telah mengakibatkan sedikitnya 400.000 warga Suriah tewas dan lebih dari 11 juta lainnya menjadi pengungsi, memicu krisis pengungsi.

Pembicaraan berakhir tiba-tiba bulan lalu di tengah serangan militer pemerintah Suriah yang didukung oleh kekuatan udara Rusia. Kemudian, AS dan Rusia menyetujui kesepakatan "penghentian permusuhan parsial”  yang berakibat penurunan perperangan secara dramatis.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses