“Mukhlis Ihlas Jika Ayah dan Adiknya Tak Ditemukan”

“Mukhlis Ihlas Jika Ayah dan Adiknya Tak Ditemukan”

Oleh: Ally Muhammad Abduh, Jurnalis Jurnalislam.com

“Saya ihlas, Insya Alloh,” tuturnya tampak tegar menerima musibah yang membuat Indonesia dan sejumlah negara luar berduka tersebut.

PALU (Jurnalislam.com) – Aroma dan suasana langsung berubah ketika kami memasuki komplek Perumahan Balaroa, Kota Palu, Senin (8/10/2018). Bau amis, gosong, dan busuk bercampur jadi satu. Tanah, jalan, dan bangunan di komplek perumahan ini yang pun menyatu seperti diaduk. Jalan di atas, atap rumah di bawah, dan air hitam yang menggenang.

Belum lagi perasaan tak karuan para korban selamat yang sedang menanti tim SAR menemukan sosok demi sosok mayat yang ditemukan selama proses evakuasi. Mereka berharap penemuan jenazah selanjutnya adalah jenazah salah satu anggota keluarga yang hilang tenggelam bersama rumah mereka.

Setiap jenazah yang ditemukan sudah sukar diidentifikasi. Jasadnya hancur seperti terkoyak reruntuhan dan air yang mempercepat proses pembusukannya. Mengerikan. Hanya naluri keluarga atau kerabat terdekat yang dapat mengenali mayat-mayat itu.

Seperti jasad anak kecil berumur tiga tahun bernama Abdullah Ar Rafi. Sang ayah yang menolak diwawancara dengan yakin mengatakan bahwa itu adalah jenazah anak tercintanya.

“Keluarganya meyakini kalau itu adalah anaknya, dari baju biru yang dikenakannya,” kata Setiawan Abbas, Kepala Tim 5 Recue Basarnas di Perumnas Balaroa kepada wartawan.

eskavator tim SAR sedang memasukan jenazah ke kantong mayat

Sudah enam jenazah diketemukan tim SAR yang dibantu dengan 6 unit eskavator hari itu. Namun hasil nihil kembali didapati Abdul Mukhlis Tabelo, warga Perumnas yang sedang mencari jenazah sang ayah dan adik perempuannya.

Ibunya berhasil ia temukan dalam kondisi meninggal terjepit beton pada hari ketiga pasca musibah mengerikan itu terjadi.

Mukhlis, panggilannya, tampak tegar. Ia bersukur dapat dengan mudah menemukan jenazah sang ibu.

“Lantai ruang tengah rumah itu terangkat, jadi Alhamdulillah saya dapat dengan mudah mengambil ibu saya,” tuturnya dengan raut wajah yang nampak tak kuasa menahan airmata.

Saat kejadian, Mukhlis sedang berada di Kantor Perhutani Provinsi Sulawesi Tengah tempat ia bekerja. Mukhlis mengaku baru mengetahui kondisi Perumnas Balaroa itu rusak berat saat dikabari temannya pada jam 10 malam, Jumat (28/9/2018).

Ia langsung menghubungi istrinya yang sedang berada di rumah mertuanya bersama dua anaknya. Setelah memastikan anak istrinya selamat, pria 40 tahun ini bergegas menuju lokasi, namun upayanya terhalang api. Komplek perumnas Balaroa di bagian utara terbakar hebat. Menurut Mukhlis, kebakaran dipicu oleh api yang berasal dari ledakan tabung gas.

“Mungkin saat kejadian, ada ibu-ibu yang sedang masak,” katanya.

Dia pun mencoba masuk komplek perumahan dari arah timur. Di sana ia terhalang reruntuhan bangunan yang sudah setinggi atap rumah. Akhirnya ia menaiki atap-atap rumah di kampung Kelor -kampung yang berbatasan langsung dengan Perumnas Balaroa di arah Timur- untuk dapat memasuki komplek perumahan Balaroa.

“Akses masuk satu-satunya itu ya naik ke atap rumah. Reruntuhan bangunan saat itu sudah setinggi atap pak. Ada beberapa rumah yang jadi satu, jalan aspal di atas rumah,” kata Mukhlis menggambarkan getirnya suasana saat itu.

Saat itu Mukhlis tidak berhasil menemukan rumah orangtuanya. Ia pun dengan ikhlas membantu teman-temannya mengevakuasi warga Perumnas yang berhasil ditemukan.

Esok harinya, Ahad (30/9/2018) api masih menyala, meski tidak sebesar dihari pertama tapi akses masuk dari utara belum bisa dilalui karena terhalang bara. Rumah Mukhlis terletak di utara komplek Balaroa di samping masjid Daarul Muttaqin yang ikut luluh lantak digerus pencairan tanah atau likuifaksi. Sembari menunjuk pijakannya, Mukhsin meyakini itulah rumahnya.

Masjid Darul Mutaqin

“Rumah kami di sini, (menunjuk pada tanah yang dipijak) di samping masjid ini (masjid daarul muttaqin),” ujarnya.

“Ini adalah tehel rumah kami,” kata Mukhsin menujuk lantai yang terdiri dari empat keramik berwarna merah.

Disitulah Mukhsin menemukan jenazah Ibunya.

Ibunya dimakamkan di pemakaman umum pada Ahad (30/9/2018) malam.

Sore itu, Senin (8/10/218) kami melihat Mukhlis sedang mengorek tanah mengambil tumpukkan buku. Rupanya itu buku tulis milik anak keduanya yang masih duduk di SD kelas 2.

“Ini buku anak saya pak, ini tasnya, makanya saya yakin jenazah ayah dan adik perempuan saya ada di sekitar sini,” kata pria asli To Kaili ini.

Mukhlis pun mencoba menerka posisi jenazah ayahnya dalam timbunan reruntuhan. Perkiraan berdasarkan kebiasaan ayahnya ketika menjelamg magrib.

“Kejadian kan pas mau magrib ya, ayah saya biasanya mengambil (air) wudu di samping rumah, jadi kemungkinan dia ada di sekitar sini,” kata Mukhlis seraya menunjuk ke arah depan masjid yang bersebelahan dengan rumahnya.

Muhlis tetap bersemangat mencari ayah, adik, dan para korban yang belum ditemukan jasadnya.

Upayanya hari itu memang belum membuahkan hasil. Tapi esok ia akan tetap kembali mencari ayahanda dan adik tercintanya, Nur Fitriyah Sari.

Mukhlis mengaku sudah ihlas jika ayah dan adiknya memang tidak ditemukan.

“Saya ihlas, Insya Alloh,” tuturnya tampak tegar menerima musibah yang membuat Indonesia dan sejumlah negara luar berduka tersebut.

Setidaknya, kata Mukhlis, dia sudah mengetahui keberadaan rumahnya.

Likuifaksi atau pencairan tanah yang melanda kawasan ini akibat gempa berkekuatan 7,7 SR yang terjadi pekan lalu membuat kompleks perumahan seluas 2,38 km persegi ini luluh lantak.

Perumnas Balaroa menjadi jalur patahan gempa yang membuat dataran tanah naik dan turun sehingga menenggelamkan rumah di atasnya. Perumahan Balaroa terletak di atas jalur sesar Palu Koro yang menjadi salah satu daerah yang mengalami kerusakan terparah.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X