MUI Ajak Umat Islam Jabar Berterimakasih pada Habib Rizieq. Alasannya?

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Ucapan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq yang memplesetkan salam sunda Sampurasun menjadi Campuracun dinilai beberapa pihak sebagai bentuk pelecehan terhadap adat sunda. Namun, ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Cholil Ridwan mengajak umat untuk melihat secara keseluruhan pernyataan Habib Rizieq tersebut.

Menurutnya, pernyataan Habib Rizieq tersebut merupakan wujud semangat Habib Rizieq dalam menyelamatkan akidah umat Islam dari upaya bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dalam menghidupkan budaya dan tradisi yang berbau khurafat dan syirik.

"Saya kira itu semangat Habib Rizieq untuk menyelamatkan umat dari kemusyrikan. Kita harus melihat semangatnya itu," kata Kyai Cholil kepada Jurnalislam usai menghadiri acara Mudzakarah Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) di Masjid Al Fajr, Jl Cijagra, Bandung, Ahad (29/11/2015).

Menurut Kyai Cholil, umat Islam justru harus berterimakasih dan mendukung upaya Habib Rizieq dalam meluruskan akidah umat Islam dari kemusyrikan. "Kita harus berterimakasih sama dia (Habib Rizieq-red), karena masih ada orang model Habib Rizieq. Umat harus mendukung Habib Rizieq karena dengan itu (dakwah Habib Rizieq-red) umat akan selamat daripada kemusyrikan," tegasnya.

Seperti diketahui, atas pernyataannya itu Habib Rizieq kemudian dilaporkan ke polisi oleh Aliansi Masyarakat Sunda Menggugat yang diinisiasi oleh Angkatan Muda Siliwangi (AMS) atas tuduhan penghinaan dan pelecehan terhadap budaya sunda. Tidak hanya itu, AMS juga melarang Habib Rizieq masuk ke Jawa Barat.

"Itu berlebihan. Kenapa dilarang, apa hak mereka?" kata Kyai Cholil menanggapi pelaporan itu.

"Dakwah Habib Rizieq itu kan untuk kebaikan orang-orang Jawa Barat juga. Dia punya niat baik, hanya mungkin salah tehnis atau bagaimana, itu harus dimaklumi. Yang terpenting umat Islam selamat daripada kemusyrikan," tuturnya.

Beliau juga menyinggung peran Gubernur Jawa Barat yang seolah mendiamkan "hinduisasi" yang dilakukan bupati Purwakarta di kota yang dikenal dengan kota santri itu, seperti membuat patung-patung pewayangan dan menghiasi kota Purwakarta dengan hiasan-hiasan ala hindu.

"Gubernur bertanggungjawab terhadap terjadinya hinduisasi atau nenekmoyangisasi di Purwakarta, karena gubernur itu atasan daripada bupati. Apalagi dia (gubernur-red) dari partai Islam. Jika tidak, dia akan mendapat dosa sebesar orang yang melakukannya," pungkasnya.

Ally | Jurnalislam

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.