Menlu Turki Tolak Upaya Lain dalam Mencapai Solusi Suriah Setelah Konferensi Astana

Menlu Turki Tolak Upaya Lain dalam Mencapai Solusi Suriah Setelah Konferensi Astana

ANKARA (Jurnalislam.com) – Ankara tidak akan mengizinkan siapa pun membuat upaya lain untuk mencapai solusi permanen di Suriah setelah pembicaraan damai Astana, pejabat Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan hari Kamis (26/01/2017), lansir Anadolu Agency.

Selama konferensi pers rutin di Ankara, juru bicara kementerian Huseyin Muftuoglu mengatakan pembicaraan damai Astana antara kelompok yang bertempur di Suriah, awal pekan ini, telah berakhir dengan sukses.

“Pertemuan di Astana bukan merupakan alternatif bagi perundingan damai Jenewa yang ditengahi PBB, melainkan sebuah pelengkap,” katanya.

Pada pertemuan di ibukota Kazakhstan, Rusia, Turki dan Iran menyepakati pembentukan mekanisme trilateral untuk mengamati dan memastikan gencatan senjata di Suriah dipatuhi.

Pembicaraan Astana, yang diikuti perwakilan dari rezim, kelompok oposisi bersenjata, Rusia, Turki, Iran serta utusan khusus PBB Staffan de Mistura dan duta Besar AS untuk Kazakhstan, George Krol, berfokus pada perluasan gencatan senjata yang mulai berlaku di Suriah pada 30 Desember 2016.

Muftuoglu menyatakan, “Perundingan perdamaian Suriah adalah proses yang berkesinambungan, dan mungkin ada beberapa pertemuan ataupun diskusi, baik di tingkat teknis dan politik.”

Dia mengatakan kepada wartawan mungkin ada pertemuan tingkat ahli sebelum pertemuan Jenewa mendatang yang dijadwalkan pada 8 Februari.

Juru bicara itu menambahkan bahwa Turki akan waspada dalam memastikan keberhasilan proses, dengan segala upaya dan melawan siapa pun yang ingin membahayakan proses itu. Dia menyerukan kepada negara-negara penjamin lain untuk menunjukkan sikap yang sama.

Ditanya tentang pandangan Turki atas peran Bashar al-Assad, Muftuoglu menjawab bahwa pemimpin rezim Suriah yang menyebabkan kematian sekitar 600.000 rakyatnya sendiri tidak boleh memiliki tempat di masa depan negara.

Bagikan