Memaksimalkan Fungsi Mata, Telinga dan Akal

AL QUR'AN sebagai satu-satuya sumber ilmu dari sekian banyak ilmu pengetahuan yang berkembang di dunia ini, masih sangat relevan untuk terus kita kaji secara mendetail. Karena Al Qur'an dengan segala keunggulannya menawarkan metode ilmiah yang realistis dan menjauhkan manusia dari perdebatan teoristik dan hipotis yang berkembang pada perbedaan pemikiran dan pemahaman. Seiring dengan perkembangan sumber daya manusia, Al Qur'an mengharuskan manusia untuk menggunakan inderanya sebagai media memperoleh ilmu pengetahuan. Namun demikian Al Qur'an tidak cukup dengan memberikan isyarat dan pengarahan, akan tetapi Al Qur'an meletakan kerangka-kerangka ilmiah yang sangat cermat dan teliti diantaranya adalah pemikiran logis dan sehat sebagai faktor dari pengalaman praktis yang selama ini telah membelenggu potensi berfikir lebih bebas dan menemukan suatu kebenaran atas ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia.

Bicara masalah manusia, tentu kita bertanya siapa manusia? Dapat dijawab dari berbagai pandangan; misalnya ahli ilmu mantiq (logika) menyatakan bahwa manusia adalah hewan yang berfikir (Al-hayawan al-natiq), ahli antropologi budaya mengatakan manusia adalah mahkluk budaya (homo sapiens), kalangan sosiolog berpendapat manusia adalah makhluk social (zoon politicon), dan tidak ketinggalan kaum agamawan mengatakan manusia adalah makhluk yangsenangtiasa bergantung kepada kekuatan “Supranatural” yang ada di luardirinya, dan kaum komunis berpandangan bahwa manusia adalah makhluk biologis dan ekonomis.

Fokus pandangan ini (komunis) mengutamakan unsur materinya, karena itu Allah yang bersifat immaterial (Transenden) di tolak eksetensinya dan agama adalah candu masyarakat. Adapun manusia adalah makhluk ekonomis (homo ekonomicus) maka faktor kerja dan produksilah yang merupakan hakikat manusia. Pandangan di atas hanya memberikan gambaran sebagian potensi dan kemampuan yang di miliki manusia, dan belum memberikan gambaran utuh siapa sesungguhnya yang dimaksud manusia.

Al Qur'an berbicara dari wahyu pertama yang di turunkan Allah SWT. Dalam surat itu, Allah SWT menyebut tiga kali menyebut kata al-Insan (manusia), yang mencerminkan gambaran umum tentang manusia tercipta dari ‘alaq (segumpal darah). Kedua, bahwa hanya manusia yang dikaruniai ilmu; dan ketiga; bahwa manusia memiliki sifat sombong yang biasa menyebabkan lupa kepada sang pencipta.

Dari ketiga ilustrasi di atas, tulisan ini fokus pada yang kedua, yaitu bahwa manusia dikaruniai ilmu manusia dapat mengubah kualitas hidupnya. Hal ini akan berlaku sepanjang kehidupan manusia mulai generasi dulu, kini dan yang akan datang. Bagaimana para generasi dapat memfungsikan potensi dirinya untuk terus belajar dan belajar, tanpa mengenal batas waktu, usia dan jabatan. Sebagaimana generasi pewaris generasi sebelumnya harus membebaskan diri dari kekangan taqlid (mengikuti tanpa ilmu) dan pelestarian tradisi yang secara turun-temurun kita ikuti sejak dari kecil. Dan tanpa kita sadari, bahwa apa yang kita lakukan selama ini bukanlah sesuatu yang mempunyai nilai kebenaran yang sesungguhnya. Dengan cara membebaskan diri kita dapat berfikir, meneliti dan mencermati secara bebas untuk memperoleh kebenaran yang hakiki.

Allah SWT berfirman; (Rasul itu) berkata; “Apakah kamu akan mengikutinya juga sekalipun aku membawa untukmu agama yang lebih nyata memberi petunjuk dari pada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?” Mereka menjawab; ”Sesungguhnya kami mengingkari yang kamu di utus untuk menyampaikanya.”(QS Az-Zukhruf;43:24). Hal ini juga dipertegas dengan sabda Rasulullah SAW, ”Janganlah kamu menjadi pembebek yang berkata, jika manusia baik, akupun baik, jika mereka jelek akupun jelek. Hendaknya teguhlah pendirianmu, jika manusia baik baiklah kamu, jika mereka jelek hedaknya kamu menjauhinya,” (HR. Tirmindzi)

Coba kita perhatikan bagaimana pola hidup generasi kita? Apakah mereka lebih suka mengikuti apa yang menjadi kebiasaan generasi sebelumnya, tanpa bersusah payah mencari kebenarannya atau mereka selalu berusaha mencari kebenaran dari apa yang mereka ikuti? Al Qur'an mengajak kita untuk menggunakan indera dan akal sehatnya dalam mengamati pengalaman, baik yang besifat material maupun spiritual. Indera dan akal saling melengkapi dan tidak mungkin dapat dipisahkan lalu berdiri-sendiri, sebagaimana pendapat filsafat emperis dan rasionalis.

Dan Allah SWT mengingingatkan kita dalam firmanNya; “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan dia memberikan kau pendengaran, penglihtan dan hati, agar kamu bersyukur, “(QS. An- Nahl;16:78, Al- Mukminun;23:78, Al-Mulk;67:23. As-Sajadah;32:9). Ayat ini mengindikasikan ciri khas manusia yang terpentingdan paling bermakna dalam hidupnya yaitu bahwa manusia berkompetensi berfikir dan berencana dan menentukan segala sesuatu, terbukti bahwa apa yang manusia ketahui sekarang ini hasil dari pendengaran, penglihatan dan hati serta akal sehat yang di anugerahkan Allah SWT kepada manusia lalu mengapa kita tidak mensyukurinya? Dan rasa syukur dapat mengikat atas nikmat telinga, mata dan hati akal sehat adalah dengan menuntut ilmu (thalabul ‘Ilmmi).

Selain indera telinga, mata dan akal sehat, Allah juga memberikan hikmah secara tersembunyi (membuka tabir rahasia). Dalam kajian hikmah adalah al-Bashirah al- Mulhamah, dan bagi filosof modern dikenal dengan istilah intuisi atau menurut psikolog hikmah disebut dengan indera ke-enam. Kekuatan hikmah ini diberikan oleh Allah SWT hanya kepada hamba yang memiliki pengetahuan.

Selain al-hikmah ada juga an-Nuur (Cahaya) QS.al-Hadid;57:28, al-Furqaan (Pembeda antara hak dan batil) QS. Al-Anfal;8:29. Jadi al-Hikmah di namai oleh ilmu pengetahuaan, yaitu tentang rahasia-rahasia kesadaran terhadap fakta-fakta dan pencapaiaan realitas.

Hal ini dianugerahkan oleh Allah karena kesucian kesholihan seorang hamba, dan mereka mampu membedakan antara ilham dari Allah SWT dan godaan setan, antara kebenaran dan kepalsuan karena Allah akan memberikan kebijaksanaan sungguh ia telah diberi kebaikan yang melimpah yang tidak bisa diketahui oleh siapapun kecuali oleh orang yang berakal sehat. Imam Shidiq mengatakan bahwa hikmah adalah pengetahuaan dan terdidik dalam bidang agama yang di imbangi dengan ketaatan kepada Allah SWT (QS. Yusuf;12:22).

Paparan di atas merupakan salah satu langkah dan cara memperoleh ilmu pengetahuan yang telah ditawarkan dalam Al Qur'an dengan memfungsikan alat indera telinga, mata dan hati akal sehat agar ilmu pengetahuan dapat diperoleh dengan baik dan benar. Pada akhirnya kita akan memiliki sifat al-hikmah. Hikmah yang dijanjikan Allah SWT sekaligus sebagai uraian akhir dari tulisan ini.

Firman Allah SWT “(Dia Allah) memberikan kebijaksanaan hikmah) kepada yang dia kehendaki, dan barang siapa yang telah di beri kebijaksanaan, sesungguhnya telah diberi kebaikan yang melimpah namun tidak ada yang mengetauinya melainkan orang yang berakal sehat (ulul albab).” (QS. Al-Baqarah;2:269)

Dengan demikian, maka kedepan generasi akan lebih semangat untuk menuntut ilmu sebagai langkah perubahan dalam hidupnya, dan jauh dari sekedar taqlid pada para generasi sebelumnya tanpa harus mengetahui benar salahnya apa yang diikutinya, [Uswatun hasanah]. Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis adalah Mahasiswi Biologi Universitas Malang dan santriwati Ponpes Firdaus, Kota Malang

 

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X