Melacak Akar Sejarah Solidaritas Indonesia-Palestina: PCPM Jatiasih dan JIB Ungkap Peran Vital Tokoh Muhammadiyah Sejak Era Pra-Kemerdekaan

Melacak Akar Sejarah Solidaritas Indonesia-Palestina: PCPM Jatiasih dan JIB Ungkap Peran Vital Tokoh Muhammadiyah Sejak Era Pra-Kemerdekaan

BEKASI (jurnalislam.com)— Kepedulian bangsa Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina bukanlah fenomena baru yang muncul akibat algoritma media sosial, melainkan ikatan sejarah mendalam yang diwariskan oleh ulama Nusantara hingga founding fathers Indonesia.

Hal tersebut terungkap dalam acara Empower Youth Book Talk bertajuk bedah buku “Akar Sejarah Solidaritas Indonesia-Palestina” yang diselenggarakan pada Sabtu, (12/9/2026) di Typica Coffee, Bekasi, serta disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Ummatica.

Acara diskusi kolaboratif yang diinisiasi oleh Jejak Islam untuk Bangsa (JIB), Ummatica, PC Pemuda Muhammadiyah Jati Asih, dan PC Nasyiatul Aisyiyah ini menghadirkan penulis buku Beggy Rizkiansyah serta pegiat literasi Fajar Sadikov sebagai pengulas.

Dalam pemaparannya, Beggy Rizkiansyah menjelaskan bahwa jejak kecintaan terhadap Palestina bahkan sudah tertanam sejak era Wali Songo melalui pendirian Kota Kudus dan Masjid Al-Aqsa (Menara Kudus) di Jawa Tengah.

“Kalau dibilang Palestina itu baru-baru aja, enggak juga sih sebetulnya. Ada warisan ulama yang sudah lama banget yang tentang Palestina tuh ada di Indonesia, dan itu menariknya sebuah kota namanya Kudus. Kudus itu dari asal kata Al-Quds, makanya masjidnya nama masjidnya Masjid Al-Aqsa sebetulnya, dan itu didirikan oleh Sunan Kudus waktu itu di abad ke-16,” ujar Beggy Rizkiansyah.

Lebih lanjut, Beggy menyoroti peran kunci tokoh pemuda Muhammadiyah, K.H. Abdul Kahar Muzakir, yang pada tahun 1931 menjadi orang Indonesia pertama yang memegang posisi strategis dalam diplomasi Islam internasional untuk Palestina.

“Kia Haji Abdul Kahar Muzakir… inilah orang pertama yang kenapa dia bisa terlibat dalam solidaritas itu. Tahun 30-an dia kuliah di Darul Ulum Mesir… K.H. Abdul Kahar Muzakir ini bukan cuma penggembira, tapi dia menjadi sekretaris kongres [Kongres Muslim Sedunia 1931 di Yerusalem]. Peran dia penting banget, orang Muhammadiyah jadi sekretaris kongres,” tegas Beggy.

Sementara itu, Fajar Sadikov memberikan apresiasi tinggi terhadap pembuktian sejarah dalam buku ini. Menurutnya, karya ini memberikan landasan riset ilmiah yang kokoh bagi para aktivis dan generasi muda.

“Buku ini jelas punya uniqueness dan novelty, ada kebaruan penelitian atau kebaruan temuan… betul-betul berasal dari riset. Buku ini meletakkan pondasi sejarah… sangat mengakar. Selain radikal, juga fundamentalis sekali karena berbicara secara funden, secara akar, secara filosofis,” ungkap Fajar Sadikov.

Bagikan