Kronologi Ikhsan Tewas Usai Ditangkap Densus, Keluarga Minta Keadilan

Kronologi Ikhsan Tewas Usai Ditangkap Densus, Keluarga Minta Keadilan

SUKOHARJO (jurnalislam.com)- Aksi penangkapan terhadap terduga teroris berujung kematian yang dilakukan oleh Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri kembali terulang.

Muhammad Jihad Ikhsan (22) warga Mojosongo, Jebres, Surakarta harus meregang nyawa usai ditangkap oleh tim Densus 88 di Dukuh Ngruki, Desa Cemani, Kecamatan Grogol, Sukoharjo pada jum’at, (10/7/2020).

MJI ditangkap usia melakukan shalat Jum’at berjamaah di Masjid Baiturahman tak jauh dari lokasi penangkapan. MJI diketahui mengontrak rumah di Dukuh Ngruki RT 01/RW 16.

Warga setempat mengaku mendengar ada suara tembakan saat terjadi pengkapan yang terjadi begitu cepat tersebut, diduga MJI ditembak oleh Densus 88, hal itu diperkuat adanya bercak darah di lokasi pengkapan MJI.

“Saya waktu itu dirumah, tapi sempat mendengar ada bunyi tembakan,” kata Suwarno Kamto (72) pria penjual es kelapa muda yang berjualan di sekitar lokasi penangkapan MJI dikutip dari tribunsolo.com.

Suwarno melanjutkan bahwa MJI yang melintas mengunakan sepeda tersebut sebelumnya dipepet oleh beberapa motor dan mobil.

Hingga akhirnya menyebabkan MJI dua kali terjatuh dan kemudian melarikan diri menuju kebun pisang yang berada di belakang lapak es degan muda miliknya.

Kemudian beberapa orang dari dalam mobil keluar untuk mengejar MJI sambil menodongkan senjata hingga menuju kebun pisang. Dan terdengar tiga kali suara letusan yang diduga dari senjata api milik Densus 88.

MJI akhirnya ditangkap dan dimasukan ke dalam mobil kemudian dibawa pergi meninggalkan lokasi penangkapan.

MJI Meninggal

Sehari usai penangkapan, MJI dikabarkan meninggal dunia setelah sempat dilakukan operasi pengangkatan proyektil di RS Dr Kariadi Semarang. MJI sebelumnya juga sempat dirawat di RS Bhayangkaraya Semarang.

MJI sendiri diduga meninggal dunia akibat luka tembak tembak di bagian paha dan perut.

Sementara ayah korban, Kemis (55) mengaku mendapatkan informasi kematian anaknya pada sabtu, (11/7/2020) malam.

Ia kemudian dampingi Sekertaris The Islamic Study and Action Center (ISAC) Endro Sudarsono menuju Semarang untuk mengambil jenazah anaknya.

Keluarga diinapkan oleh petugas sebab proses penyerahan jenazah anaknya baru diberikan pada hari ahad, (12/7/2020) di RS Bhayangkara Semarang.

Jenazah keluar dari kamar jenazah RS Bhayangkara Semarang pada ahad, sekitar pukul 14.00 wib untuk dibawa ke Sukoharjo dan kemudian dimakamkan di Tempat Pemakaman Muslim Polokarto, Sukoharjo.

“Dan mereka polisi bilang bahwa ada dua luka tembakan di kaki dan perut,” kata ayah korban Kemis saat membawa jenazah putranya menuju Sukoharjo.

Saat ini, pria yang sehari hari bekerja sebagai buruh tersebut tidak mengetahui kesalahan apa yang dilakukan anaknya hingga harus meregang nyawa di tangan Densus 88.

Kemis pun berharap aparat kepolisian bisa memberikan penjelasan secara detail kepada keluarga terkait tindakan sewenang wenang pihak aparat terhadap anaknya.

“Saya menyesalkan, apakah tidak ada tindakan lain kok harus seperti itu, kok harus ditembak, (kenapa harus ditembak-red),” katanya kepada jurnalislam.com ahad, (12/7/2020).

“Berarti kan ada unsur supaya anak ini mau dipateni (dibunuh-red), karena nyatane ditembak di kakinya masih bisa melawan terus perutnya yang di tembak kok,” imbuhnya.

Keluarga Minta Keadilan

Kemis menjelaskan bahwa keluarga akan berkonsultasi dengan tim kuasa hukum keluarga dalam upaya mencari keadilan atas kematian anaknya.

“Kemungkinan ada, nanti kita akan konsultasi dulu, saya sebagai keluarga berharap ada penjelasan yang sebenarnya dari pihak aparat,” ungkapnya.

MJI sendiri dikaitkan dengan aksi penyerangan terhadap anggota Polres Karanganyar di lereng Gunung Lawu Karanganyar yang dilakukan oleh Karyono Widodo beberapa waktu yang lalu.

Sementara itu, Kadiv Humas Polri Inspektur Jendral Argo Yuwono dalam siaran persnya mengaku bahwa MJI melakukan perlawanan saat akan ditangkap oleh tim Densus 88.

“Tersangka melawan dengan senjata tajam, sehingga dilakukan tindakan yang terarah dan terukur,” katanya.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X