Kemenag Paparkan Tiga Langkah Menjaga Kepercayaan Publik terhadap Pesantren

BEKASI (jurnalislam.com)— Kementerian Agama menekankan pentingnya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pesantren melalui penciptaan lingkungan pendidikan yang aman, penguatan keteladanan, serta pemeliharaan harmoni sosial.

Hal tersebut disampaikan Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama, Thobib Al Asyhar, dalam acara Rawasapi Bershalawat di Yayasan Nur Al-As’adiyah Rawasapi, Jatimulya, Bekasi, Jumat (23/10/2026). Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Santri 2026 dan dihadiri sekitar 800 jemaah.

“Pesantren memiliki sejarah panjang dalam mendidik generasi bangsa dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Karena itu, kita perlu terus menjaga kepercayaan terhadap pesantren, sekaligus memastikan lingkungan pendidikan pesantren menjadi tempat yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang santri,” ujar Thobib.

Ia menjelaskan tiga langkah yang perlu diperkuat untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan Islam tersebut.

Pastikan Lingkungan Pesantren Aman

Pertama, pesantren perlu memastikan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi para santri. Menurut Thobib, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai tempat mendalami ilmu agama atau tafaqquh fiddin, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter dan pendidikan akhlak.

Karena itu, kondisi lingkungan pendidikan yang mendukung tumbuh kembang santri menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga kepercayaan orang tua dan masyarakat.

Perkuat Tradisi dan Keteladanan Ulama

Kedua, Thobib mengajak masyarakat merawat tradisi pesantren serta meneladani perjuangan para ulama dan kiai.

Menurutnya, pesantren memiliki kontribusi panjang dalam pendidikan dan perjalanan bangsa. Selain mengajarkan ilmu agama, lembaga ini turut menanamkan nilai kemandirian, kecintaan terhadap Tanah Air, pembentukan karakter, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ia juga menyebut momentum Rawasapi Bershalawat sebagai kesempatan untuk menghidupkan keteladanan Rasulullah SAW dalam menyampaikan kebenaran, menjaga persaudaraan, dan menyikapi perbedaan.

Bijak Bermedia Sosial dan Jaga Harmoni

Ketiga, Thobib menyoroti pentingnya pemahaman agama yang utuh dan penggunaan media sosial secara bijak di tengah derasnya arus informasi.

Ia menilai pemahaman agama yang baik dapat membantu masyarakat menyikapi perbedaan secara proporsional, tidak mudah terpancing provokasi, serta menjaga persaudaraan di tengah dinamika sosial.

“Semangat beragama harus berjalan seiring dengan semangat menjaga harmoni. Kita perlu terus belajar memahami agama secara utuh, tidak mudah terprovokasi, dan bijak menggunakan media sosial. Dengan begitu, agama benar-benar menjadi sumber kedamaian dan perekat persatuan,” pesannya.

Pesantren dan Perjuangan Bangsa

Dalam kesempatan yang sama, KH Daud Hendi Ismail mengajak masyarakat meneladani perjuangan para kiai pesantren yang telah berkontribusi bagi bangsa dan negara.

Ia menekankan pentingnya mewariskan nilai keikhlasan, pengabdian, kemandirian, dan kecintaan terhadap Tanah Air kepada generasi muda, terutama para santri.

“KH Hasyim Asy’ari dan para kiai pesantren tidak hanya mendidik umat melalui ilmu agama, tetapi juga berperan dalam menanamkan semangat perjuangan, kecintaan terhadap Indonesia, serta tanggung jawab menjaga keutuhan bangsa,” ujarnya.

Rawasapi Bershalawat merupakan bagian dari peringatan Hari Santri 2026 yang mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Kegiatan ini menjadi momentum untuk menegaskan peran pesantren dalam mendidik generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu berkontribusi bagi masyarakat serta bangsa.