Kembali Alami Kekerasan, 200 Lebih Muslim Rohingya Menunggu Masuk Bangladesh

Kembali Alami Kekerasan, 200 Lebih Muslim Rohingya Menunggu Masuk Bangladesh

DHAKA (Jurnalislam.com) – Lebih dari 200 warga Rohingya sedang menunggu di dekat perbatasan selatan Bangladesh untuk memasuki negara itu guna mencari tempat berlindung yang aman menghindari tindakan keras yang dilakukan oleh militer Myanmar, media lokal melaporkan pada hari Selasa (28/8/2018), lansir Anadolu Agency.

Letnan Kolonel Asaduzzaman Chowdhury, direktur Penjaga Perbatasan Bangladesh (Border Guards of Bangladesh-BGB) Batalyon-II, mengatakan kepada Daily Star mereka mengetahui bahwa Kamis lalu lebih dari 200 orang Rohingya sedang menunggu di dekat Shah Porir Dwip di Teknaf.

Pasukan penjaga perbatasan Bangladesh telah memperkuat pengawasannya di daerah itu, tambah laporan itu.

Baca juga: 

Selain BGB, para anggota Penjaga Pantai berpatroli di Sungai Naf, satu-satunya sungai perbatasan antara Bangladesh dan Myanmar, untuk menghindari gelombang masuk.

Abdul Motaleb Mater, seorang tokoh masyarakat Rohingya di kamp pengungsi Leda di Cox’s Bazar, mengatakan kepada harian itu bahwa dari anggota keluarganya dan kontak lain di Myanmar ia mengetahui banyak orang Rohingya dari beberapa desa berkumpul di sisi timur sungai Naf.

Mereka berkumpul di sana untuk mencari tempat berlindung yang aman karena tentara Myanmar telah memulai lagi tindakan keras pada hari Kamis, katanya.

Sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh pasukan negara Myanmar, menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (the Ontario International Development Agency-OIDA).

Dalam laporan baru-baru ini, berjudul Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman Tak Terungkap (Forced Migration of Rohingya: The Untold Experience), OIDA memperkirakan bahwa jumlah warga Rohingya yang terbunuh adalah 23.962 (± 881) lebih banyak dari laporan Dokter Tanpa Perbatasan yang berjumlah 9.400.

Baca juga: 

Lebih dari 34.000 orang Rohingya ditembak senjata api, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, kata laporan OIDA, menambahkan bahwa 17.718 (± 780) wanita dan gadis Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar. Lebih dari 115.000 rumah Rohingya juga dibakar dan 113.000 lainnya dirusak, tambahnya.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan keras terhadap komunitas Muslim minoritas tersebut.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok etnis yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

PBB telah mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan, pembakaran  – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal, mutilasi dan penghilangan yang dilakukan oleh pasukan negara Myanmar. Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut bisa dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X