Kebebasan Abu Bakar Ba’asyir dan Masa Depan Gerakan Islam di Indonesia

Kebebasan Abu Bakar Ba’asyir dan Masa Depan Gerakan Islam di Indonesia

Oleh : Indra Martian Permana 

Peneliti CSIL

 

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dinyatakan bebas dari tahanan Lapas Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat pada hari Jumat (8/1/2021) lalu setelah menjalani hukuman 11 tahun dari vonis 15 tahun atas tuduhan keterlibatan kasus pelatihan militer di Janto, Aceh pada tahun 2010 lalu.

Kepulangan dari Lapas Gunung Sindur, Bogor lepas dari hiruk pikuk dan Euforia dari jamaah dan massa umat Islam yang berempati terhadap beliau.

Pihak keluarga dan pihak pondok pesantren al-Mukmin pun hanya menyambut dengan sambutan sederhana dan jauh iring-iringan massa, tentu tindakan ini diambil karena kekhawatiran Ustadz Abu Bakar Ba’asyir akan dikenakan pasal yang sama dengan pasal yang menjerat Habieb Rizieq Shihab sekembalinya dari Mekah yaitu pasal kerumunan massa.

 

Figur Istiqomah

Mengenal dan mempelajari figur Abu Bakar Ba’asyir tentu menarik, Penulis pernah membuat buku terkait pemikiran politik Abu Bakar Ba’asyir. Pribadi yang sangat istiqomah memegang prinsip dan mengedepankan nilai-nilai Islami.

14 Tahun Hijrah ke Malaysia dan total 15 tahun dan 6 bulan di penjara menghiasi kehidupannya dari mulai penjara order baru 2 tahun penjara karena menolak asas tunggal Pancasila sampai terakhir 11 tahun untuk pelatihan militer Jantho, Aceh tentu sebuah nilai dan harga yang tidak sedikit untuk ulama sepuh yang sudah berusia 82 tahun ini.

Tidak ada ulama atau tokoh di Indonesia modern ini yang mengalami masa penjara selama itu untuk sebuah nilai dan keyakinan keagamaan yang diyakini. Keyakinan Abu Bakar Ba’asyir bahwa hanya Dinul Islam dan syariat Islam yang pantas menjadi pedoman hidup pribadi, berkeluarga, bermasyarakat bahkan bernegara membuat Gerah pemimpin negara yang Gagal Paham soal konsep Dinul Islam, syariat Islam dan khilafah Islamiyah, Bahkan dalam satu ceramah Ustadz Abu Bakar Ba’asyir menyampaikan : “Biarkan saja saya yang mati dari pada Islam yang mati, Islam tidak boleh mati”

Ustadz Ba’asyir mengajarkan kita untuk Istiqomah dalam berjuang dan mempertahankan nilai-nilai Islami yang kita yakini Ustadz Ba’asyir mengajarkan kita keikhlasan dan kesabaran dalam memegang prinsip perjuangan, termasuk mengalami masa tahanan.

Bahkan dari keluarga Ustadzz Ba’asyir juga kita belajar, kesetiaan dan kesabaran seorang istri mendampingi suaminya berdakwah, keihlasan dan kesabaran anak-anak yang tumbuh jauh dari asuhan seorang ayah.

 

Abu Bakar Ba’asyir  dan Masa Depan Gerakan Islam

 

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir Figure Gerakan Islam Masa Depan? sebuah analisa yang terburu-buru dan dipaksakan namun penulis menilai bisa dipertimbangkan. Ada beberapa catatan penulis terkait kebebasan Abu Bakar Ba’asyir dan gerakan Islam kedepan :

 

Pertama, Abu Bakar Ba’asyir berpotensi memimpin gerakan Islam. Gerakan Islam hari ini mengalami tantangan yang sangat berat dengan dikuasainya seluruh elemen dan struktur pemerintahan seperi DPR, Polisi, TNI dan lainnya oleh pemerintah sehingga seolah lumpuh dan umat Islam tidak punya power untuk memberikan kritikan dan masukan pada kerja pemerintahan.

Di sisi lain Civil Society seperti gerakan mahasiswa, gerakan pemuda, gerakan buruh yang merupakan elemen terbesar kedua setelah struktur pemerintahan menjadi lumpuh setelah para pemimpinnya diberikan posisi strategis dibeberapa perusahaan BUMN, dalam kondisi seperti ini butuh seorang pemimpin yang kuat, tegas, tidak berkompromi dengan penguasa, yang mempunyai reputasi  nasional bahkan internasional.

Figur itu penulis jumpai pada sosok Habib Rizieq Shihab dan Abu Bakar Ba’asyir dengan tidak mengecilkan tokoh ummat yang lainnya yang juga keras dan berani mengkritik penguasa seperti  Busryo Muqoddas dari Muhammadiyah, Teungku Zulkarnaen dari Mathla’ul Anwar, Hidayat Nur Wahid dan Mardani Ali Sera dari PKS,  dan tokoh Islam lainnya. Bulan November 2020 ketika awal mendengar bahwa Abu Bakar Ba’asyir akan bebas Januari 2021, penulis membayangkan pasti akan seru kalau kedua tokoh (Habib Rizieq Shihab dan Abu Bakar Ba’asyir) ini menjadi tokoh Islam dan memimpin oposisi terhadap pemerintahan dan melawan kedzoliman pemerintah.

Namun politik berbicara lain pemerintah mengetahui hal tersebut dan menahan Habib Rizieq Shihab sehingga “Duet Maut” tersebut urung terjadi. Sehinga peluang tokoh yang ada, bisa dan berani memimpin pergerakan dengan gerakan lisan dan tulisan menasehati penguasa dengan gerakan amar ma’ruf nahi mungkar yang masih ada diharapkan muncul dari Ustadz Ba’asyir, dan beliau punya reputasi itu terbukti dengan nasihat beliau berupa tulisan berupa surat maupun buku yang ditujukan kepada KH. Abdurahman Wahid (Gusdur), Hamzah Haz, Megawati, Ketua MPR RI, Ketua MA, Jaksa Agung, Ikhwanul muslimin dan PKS, bahkan surat untuk internasional ditujukan George Bush,Thein Sein Presiden Myanmar, dan Beniqno Aquino dengan nasihat baik persoalan dalam dan luar negeri (Baca buku : Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir)

 

Kedua, Potensi Hambatan Hambatan yang bisa terjadi bisa dari Ustadz Ba’asyir sendiri. Usia yang sudah sepuh 82 tahun dan kondisi fisik yang tidak prima membuat Ustadz Ba’asyir harus mulai menghitung langkah yang paling efektif yang dilakukannya dalam membangun kekuatan dan gerakan umat Islam.

Silaturahim tokoh ormas Islam, Orpol Islam dan tokoh dan elemen bangsa yang mendukung gerakan umat Islam kelihatannya menjadi opsi yang paling bagus yang harus dilakukan Ustadz Ba’asyir. Selain membangun ukhuwah dan perspektif perjuangan Ustadz Ba’asyir mempunyai tugas mencairkan hubungan dan stigma negatif disebagian ormas dan elemen Islam terhadap beliau dengan isu yang dilempar musuh Islam seperti tokoh radikalisme dan terorisme menjadi PR untuk Ustadz Ba’asyir, selain juga menulis buku untuk jadi pegangan generasi muda.

 

Selain itu Ustadz Ba’asyir juga mempunyai tugas untuk meng Create generasi pemimpin umat berikutnya melahirkan tokoh-tokoh muda yang memiliki ilmu dan semangat perjuangan yang kuat. Da’i dan tokoh muda Muhammadiyah seperti Bachtiar Nasir, Sekjen Front Pembela Islam (FPI) Munarman, atau bahkan anak Biologis dari beliau sendiri Abdurochim Ba’asyir yang menjadi juru bicara di Jamaah Anshar Syariah (JAS) dan Ketua Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) yang humble namun memiliki ketegasan tersendiri.  Pertemuan dengan tokoh-tokoh muda ini kelihatannya akan menjadi issue strategis untuk kepemimpinan gerakan Islam berikutnya.

 

Ketiga, Generasi Takfir tantangan berikutnya dari Ustadz Ba’asyir adalah bagaimana beliau membatasi ruang untuk bertemu dengan generasi ghuluw fi takfir yang kemarin berhasil memamfaatkan Ustadz Ba’asyir untuk berbai’at dengan ISIS, karena ketidaktahuan Ustadz Ba’asyir terkait informasi sebenarnya terkait ISIS dan keadaan di Iraq dan Suriah.

Generasi ghuluw fi takfir ini hari ini kehilangan tokoh yang bisa dijadikan ikon perjuangan, dan berusaha mengambil kembali Ustadz Ba’asyir agar menjadi pemimpin mereka diluar skenario gerakan intelijen berikutnya yang perlu di waspadai.

 

Kebebasan dan kehadiran Ustadz Abu Bakar Ba’asyir setidaknya menjadi ruh dan semangat tersendiri untuk gerakan Islam dimana kepemimpinannya mulai berusaha diamputasi.

 

Habib Rizieq Shihab adalah aset umat Islam

 

Busyro Muqoddas Adalah aset umat Islam

 

Teungku Zulkarnaen adalah aset umat Islam

 

Hidayat Nur Wahid adalah aset umat Islam

 

Mardani Ali Sera adalah aset ummat Islam

 

Bachtiar Nasir adalah aset ummat Islam

 

Munarman adalah aset ummat Islam

 

Abdurochim Ba’asyir adalah aset ummat Islam

 

Dan Abu Bakar Ba’asyir pun adalah aset ummat Islam

 

Maka marilah kita jaga semua aset umat Islam, agar umat Islam di Indonesia tidak kehilangan aset pemimpin di masa depan.

 

Dan Ustadz Ba’asyir mempunyai tugas yang berat menjadi pemimpin ummat disaat ummat Islam kehilangan pemimpin, mampukah ? wait and see waktu dan takdir yang akan menjawabnya…..

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X