Diduga Jadi Sarang Maksiat, Kos-kosan di Tambora Dirazia

JAKARTA – Kecamatan Tambora khususnya di lima kelurahan merazia tempat kosan yang dianggap sebagai tempat kumpul kebo, mabuk-mabukan serta para penjahat.

Pantauan Wartakotalive di kelurahan Duri Selatan, Tambora, Senin (26/1/2015), kosan yang dirazia berada di Jalan TSS Raya RW 01 yakni RT 06, 07, dan 08. Para penghuni kosan di kawasan tersebut mengaku bekerja di tempat konveksi serta sebagai SPG dan SPB di mall Season City.

Kosan yang dirazia tersebut merupakan kosan campur antara perempuan dan pria. Ada yang diisi pria dengan pria, perempuan dengan perempuan, serta perempuan bersama pria.

Rata-rata kosannya tersebut seluas 2×3 meter. Saat dirazia, para penghuninya tampak kaget. Ada yang pintunya sudah dibuka, ada juga yang baru bangun tidur. Beberapa penghuni pria bahkan tak memakai baju hanya celana pendek. Sementara ada satu pria yang memakai handuk ditemukan bersama seorang perempuan.

AM (25), salah seorang penghuni kos, mengaku kaget dengan razia tersebut. Pasalnya, selama ini aman-aman saja terkait masalah tempat tinggal.

"Saya sudah izin sama pemilik kosan, saya pikir sudah disampaikan ke ketua RT," ujar pria yang bekerja menjadi tukang sablon tersebut.

Dia mengaku bahwa Kartu Tanda Penduduk (KTP) miliknya masih Tangerang karena setiap akhir pekan kerap pulang ke rumah. Makanya, ia mengaku tak perlu mengurus KTP Tambora.

"Saya kasih foto kopi KTP ke pemilik kos, nah itu kan sudah izin namanya. Apalagi saya masih pulang ke rumah di Tangerang," kata pria yang tinggal berdua bersama teman kerjanya tersebut.

Sementara, pasangan wanita dan pria yang ditemukan sedang berduaan di kamar enggan berkomentar banyak. Mereka lebih memilih diam lantaran tak memiliki akta nikah.

Lurah Duri Selatan, Novi Indria Sari mengatakan, kamar kos tersebut tidak hanya banyak dihuni pasangan kumpul kebo melainkan tempat untuk selingkuh. Pasalnya, banyak kamar kosong dan hanya malam hari ramainya.

"Biasanya yang ngekos itu prianya atau wanitanya. Tapi ditinggali berdua pada malam hari. Ada juga yang nyewa kos hanya untuk selingkuh saja karena tempatnya aman," tutur lurah berkerudung tersebut.

Berdasarkan data yang dihimpun, rata-rata penghuni kosan berumur 20 hingga 30 tahun. Mereka bekerja konveksi, SPG, serta bekerja sebagai buruh lainnya. Selain razia KTP, pihak petugas gabungan juga menemukan minuman keras di beberapa kamar kosan.

Ally | Tribunnews | Jurniscom

 

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.