Berita Terkini

MUI: Wabah Terjadi Seizin-Nya, Mari Minta Pertolongan kepada Allah

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Sebagai makhluk, manusia harus meyakini terhadap kekuasaan Allah SWT. Segala hal yang terjadi di alam semesta adalah dengan seizin Allah, tak terkecuali pandemi Covid-19.

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, menjelaskan Allah telah membuat aturan dan ketentuannya yang disebut sunnatullah atau natural law.

Begitupun dengan wabah virus corona, yang menurut Buya Anwar juga tidak bisa keluar dari ketentuan yang dibuat Allah. Karenanya hanya Allah seorang hamba meminta pertolongan.

Dia menjelaskan, bila virus masuk ke dalam tubuh orang yang rendah tingkat imunitas tubuhnya maka tentu orang itu bisa sakit dan bahkan bisa meninggal.

Sedangkan jika ada orang yang rajin sholat malam tapi rendah tingkat immunitas tubuhnya, tentu tidak mustahil dia juga bisa sakit.

Tapi karena Tuhan sangat suka kepada orang yang berusaha mendekatkan diri kepada-Nya maka tentu tidak mustahil Allah SWT membuat ketentuan lain di luar ketentuan yang sudah ada.

“Sehingga yang bersangkutan meskipun rendah tingkat immunitas tubuhnya maka dia tidak sakit karena virus tersebut,” kata Buya Anwar Kamis (23/4).

Karenanya, kata dia, sangat tidak mustahil bagi seorang hamba yang senantiasa menggantungkan dirinya kepada Allah melalui mendirikan sholat dapat selamat dan tidak terkena virus corona.

Namun demikian untuk mencapai sebuah ibadah terutama sholat malam yang berkualitas, menurut Buya Anwar, harus terpenuhi  syarat dan rukunnya serta segala ketentuan yang terkait serta melaksanakan sholat dengan khusyuk.

“Ini memang tidak rasional karena masa orang yang rendah tingkat imunitas tubuhnya tidak sakit. Tetapi kalau kita pergunakan pendekatan supra rasional tentu hal itu akan bisa kita terima karena kita tahu virus itu dan manusia itu adalah makhluk Tuhan,” ujar dia.

Dia pun menukilkan kisah Nabi Ibrahim yang tidak terbakar oleh api Raja Namrud. Allah SWT sudah memerintahkan kepada api itu untuk tidak membakar maka Nabi Ibrahim selamat dari tindakan durjana Namrud.

“Begitu juga karena Tuhan sayang kepada hamba-Nya yang mendekatkan diri kepada-Nya maka dia perintahkan makhluknya untuk tidak mencelakai orang yg mendekatkan diri kepada-Nya,” katanya.

Sumber: republika.co.id

 

Haedar Minta Jernihkan Hati, Tetap Ibadah di Rumah

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nasir mengatakan, di tengah berlangsungnya masa penyebaran pandemi virus corona jenis baru (Covid-19), umat Muslim diharapkan menaati imbauan beribadah di rumah saja.

Di masa darurat, hal ini dibolehkan. Dia menjabarkan, terdapat beberapa orang yang beranggapan meninggalkan masjid karena takut wabah Covid-19 merupakan tindakan keliru sebab masjid adalah tempat yang suci.

Menurutnya, pandangan inilah yang justru keliru sebab hanya melihat sesuatu tidak secara komprehensif.

“Kita jangan melihat sesuatu dengan pandangan yang hitam-putih saja. Sunatullah saja berwarna-warni. Artinya, kita perlu gunakan nalar, keimanan, serta kejernihan hati kita dalam menyikapi suatu permasalahan,” kata Haedar dalam live streaming Pengajian Menyambut Ramadhan Keluarga Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (23/4).

Dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini, dia menjelaskan, umat Islam perlu menggunakan nalar yang kuat dan jernih.

Hal itu sebagaimana yang dicontohkan oleh Sayyidina Umar bin Khattab ketika menemui lembah yang terdapat wabahnya.

Ketika itu Sayyidina Umar ‘melarikan’ diri dari wabah tersebut dan langkahnya dipertanyakan: “Hai Umar, apakah engkau lari dari takdir Allah?”

Sayyidina Umar, kata Haedar, menjawab dengan jawaban yang cerdas bahwa benar dia telah lari dari takdir Allah yang satu untuk menghadapi takdir Allah yang lain. Allah Mahatinggi, Mahasuci, dan kesucian masjid pun tidak perlu dipertanyakan lagi.

Sehingga menurutnya, bukan perkara ketakutan mana yang manusia rasakan lebih tinggi antara Allah SWT dengan Covid-19 sehingga harus memilih keluar dan beribadah di masjid dalam kondisi seperti ini, namun bagaimana nalar berpikir secara benar.

Secara perbandingan, kata dia, ketakutan antara keduanya tidak apple to apple. “Untuk itu, saya mengajak kepada keluarga besar Muhammadiyah untuk memahami setiap permasalahan secara rasional, kontekstual, dan juga situasional,” ujarnya.

Sumber: republika.co.id

 

Corona Tidak Bisa Jadi Dalih Tolak Pengungsi Rohignya

 

JENEWA(Jurnalislam.com) – Badan Pengungsi PBB (UNHCR) mengatakan para pengungsi Rohingya yang terdampar di laut menghadapi masalah yang mengerikan.

 

Oleh karenanya UNHCR meminta negara-negara mengizinkan para pengungsi untuk turun dari kapal terdampar dengan alasan kemanusiaan meskipun ada krisis kesehatan Covid-19 ini.

Direktur UNHCR Asia-Pasifik, Indrika Ratwatte, mengatakan badan PBB semakin prihatin dengan laporan pengungsi Rohingya di kapal penangkap ikan yang ditolak masuk ke negara-negara tujuan mereka. Para pengungsi ditolak meskipun kondisi berbahaya pada kapal penyelundup mengintai mereka.

 

“Kami semakin prihatin dengan laporan-laporan tentang kegagalan untuk menurunkan kapal-kapal dalam kesusahan dan risiko yang serius yang ditimbulkannya pada pria, wanita, dan anak-anak di atas kapal,” kata Ratwatte dikutip Aljazirah, Kamis (23/4).

“Pencarian dan penyelamatan, bersama dengan pendaratan cepat, adalah tindakan yang menyelamatkan jiwa,” ujarnya menambahkan.

Dalam beberapa hari terakhir, dilaporkan pesawat pengintai Malaysia mencegah sebuah kapal yang membawa sekitar 200 pengungsi Rohingya memasuki perairan Malaysia. Kapal berisi pengungsi itu kemudian terpaksa kembali ke perairan di selatan Thailand.

Angkatan udara Malaysia mengatakan pihaknya khawatir kelompok pengungsi membawa virus corona ke negara yang dipimpin perdana menteri Muhyiddin Yasin tersebut.

 

Malaysia mengatakan bahwa awak kapal angkatan laut Malaysia telah membagikan makanan kepada orang asing di atas kapal sebelum mengawal kapal mereka keluar dari perairan negara.

Sehari sebelum insiden 17 April, penjaga pantai Bangladesh melaporkan setidaknya 24 pengungsi Rohingya meninggal dunia di laut setelah kapal mereka gagal mencapai Malaysia. Hampir 400 lainnya selamat di atas kapal yang telah terpaut di Laut Andaman selama berminggu-minggu.

Thailand sebagai negara yang berbatasan dengan Myanmar memiliki kebijakan yang lebih ketat terhadap pengungsi Rohingya.

 

Mereka yang berhasil sampai ke pantai Thailand dikenakan penahanan yang tidak terbatas. Bangkok juga menolak mengizinkan UNHCR melakukan penentuan status pengungsi bagi Rohingya sehingga memaksa banyak orang untuk berusaha mencapai Malaysia.

Ratwatte mengatakan negara-negara di kawasan itu seharusnya tidak membiarkan terulangnya krisis pengungsi Rohingya 2015. Kala itu, ribuan orang terjebak di laut mencoba melarikan diri dari Myanmar. “Kita tidak boleh kembali ke ketidakpastian yang mengancam jiwa hari ini,” kata Ratwatte.

sumber: republika.co.id

Fatwa Terbaru MUI Tegaskan Dana Zakat Boleh untuk Tangani Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Komisi Fatwa engeluarkan Fatwa Nomor 23 tahun 2020 Tentang Pemanfaatan Harta Zakat, Infak, dan Shadaqah untuk Penanggulangan Covid-19 dan Dampaknya.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Asrorun Niam Sholeh, mengatakan fatwa ditetapkan di Jakarta saat rapat pleno Komisi Fatwa pada 22 Sya’ban 1441 H/16 April 2020 M.

Setelah melalui rangkaian finalisasi dan disetujui  Ketua Komisi Fatwa MUI dan Dewan Pimpinan MUI resmi dikeluarkan pada Kamis (23/4).

Asrorun menjelaskan,  fatwa ini dikeluarkan dalam rangka meneguhkan komitmen dan kontribusi keagamaan untuk penanganan dan penanggulangan wabah Covid-19.

Untuk itu Komisi Fatwa MUI melakukan ijtihad dan menetapkan fatwa agar zakat, infak, dan sedekah dapat dimanfaatkan secara optimal dalam mengatasi masalah yang ditimbulkan wabah Covid-19.

“Termasuk masalah kelangkaan APD, masker, kebutuhan pokok masyarakat terdampak,” kata Asrorun, di Jakarta, Jumat (24/4).

Berikut isi lengkap Fatwa MUI Nomor 23 Tahun 2020 Tentang Pemanfaatan Harta Zakat, Infak, dan Shadaqah untuk Penanggulangan Covid-19 dan Dampaknya.

Ketentuan Hukum:

1.Pemanfaatan harta zakat untuk penanggulangan wabah Covid-19 dan dampaknya, hukumnya boleh dengan dhawabith sebagai berikut:

 

  1. Pendistribusian harta zakat kepada mustahik secara langsung dengan ketentuan sebagai berikut:

 

1).Penerima termasuk salah satu golongan (asnaf) zakat, yaitu Muslim yang fakir, miskin, amil, mualaf, yang terlilit  utang, riqab, ibnu sabil,                   dan/atau fi sabilillah;

 

2). Harta zakat yang didistribusikan boleh dalam bentuk uang tunai, makanan pokok, keperluan pengobatan, modal kerja, dan yang sesuai                 dengan kebutuhan mustahik

 

3). Pemanfaatan harta zakat boleh bersifat produktif antara lain untuk stimulasi kegiatan sosial ekonomi fakir miskin yang terdampak wabah.

 

  1. Pendistribusian untuk kepentingan kemaslahatan umum, dengan ketentuan sebagai berikut:

 

1) Penerima manfaat termasuk golongan (asnaf) fi sabilillah

 

2) Pemanfaatan dalam bentuk aset kelolaan atau layanan bagi kemaslahatan umum, khususnya kemaslahatan mustahik, seperti untuk               penyediaan alat pelindung diri, disinfektan, dan pengobatan serta                       kebutuhan relawan yang bertugas melakukan aktifitas kemanusiaan                   dalam penanggulangan wabah.

 

  1. Zakat mal boleh ditunaikan dan disalurkan lebih cepat (ta‘jil al-zakah) tanpa harus menunggu satu tahun penuh (haul), apabila telah mencapai nishab.

 

  1. Zakat fitrah boleh ditunaikan dan disalurkan sejak awal Ramadhan tanpa harus menunggu malam Idul Fitri.

 

  1. Kebutuhan penanggulangan wabah Covid-19 dan dampaknya yang tidak dapat dipenuhi melalui harta zakat, dapat diperoleh melalui infak, sedekah, dan sumbangan halal lainnya.

325 Tenaga Medis Malaysia Tercatat Positif Covid-19

KUALA LUMPUR (Jurnalislam.com) — Kementerian Kesehatan Malaysia (KKM) melaporkan hingga Kamis (23/4) terdapat sebanyak 325 petugasnya yang dideteksi positif Covid-19.

 

Jumlah tersebut mencapai 5,8 persen dari jumlah kumulatif kasus positif Covid-19 di Malaysia.

Dirjen Kesehatan Malaysia, Dr Noor Hisham Abdullah, mengemukakan hal itu dalam jumpa pers rutin di Putrajaya. Dari jumlah tersebut, menurut dia, sebanyak 185 pasien telah pulih sepenuhnya dan dipulangkan, 137 penderita sedang dirawat di rumah sakit dan tiga orang meninggal dunia.

Kasus-kasus itu, dikemukakannya melibatkan 77 orang pegawai medis, 66 orang jururawat, 34 orang petugas medis, 23 orang pakar medis, 21 orang asisten staf medis dan 104 orang di bidang lain-lain pelayanan.

“Berdasarkan penyelidikan penyebab terjangkit bagi semua anggota KKM ini bukan disebabkan oleh penanganan kasus yang telah disahkan positif Covid-19 difasilitasi petugas kesehatan KKM. Didapati, 70 persesn kasus adalah akibat dari aktivitas sendiri, misalnya menghadiri acara hiburan, ke luar negeri, dan sebagainya,” katanya.

KKM menegaskans upaya semua anggota petugas media dan barisan depan (frontliners) senantiasa mempraktikan langkah-langkah pencegahan, seperti memastikan tangan senantiasa bersih, menghindari kawasan yang sesak (crowded space) dan kawasan yang tertutup (confined space) secara beramai-ramai pada masa yang sama, seperti di ruang makan (pantry) di tempat kerja.

“Jaga jarak satu meter ketika bercakap-cakap dengan orang lain (close conversation), memastikan kawasan kerap disentuh adalah bebas daripada kuman, termasuk di kawasan yang kerap digunakan secara bersama oleh banyak petugas, misalnya ruang makan di tempat kerja, menggunakan alat pelindung diri mengikut keperluan, terutama penggunaan alat penutup mulut dan hidung (face mask) semasa menangani pasien,” katanya.

Sumber: republika.co.id

PCNU Hongkong Bantu UMKM Terdampak Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Hong Kong menggandeng Santri Milenial Center (Simac) menggalang bantuan untuk pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang terdampak pandemi Covid-19.

Rais Syuriyah PCINU Hong Kong yang juga CEO Kopi Abah Group, Nur Rohman, dalam pernyataannya, Kamis (23/4), mengatakan pihaknya menggandeng Simac berinisiatif melakukan gerakan penggalangan dana untuk membantu warga dan UMKM terdampak wabah corona.

“Kami sadar banyak warga yang terdampak, sehingga inisiatif bantuan ini muncul. Kami melakukan penggalangan dana guna membantu saudara-saudara kami di Indonesia, terutama UMKM dan jamaah Nahdliyin yang khususnya terkena dampak langsung secara sosial,” katanya.

Kegiatan penyaluran ini dilakukan tidak hanya di Tangerang, namun juga di Malang, Ponorogo, Kebumen, dan Semarang.

Sebagai penyaluran bantuan di Indonesia, PCINU Hong Kong menggandeng Simac yang memiliki jaringan UMKM serta program-program pemberdayaan umat.

Ketua Dewan Pembina Simac, Syauqi Ma’ruf Amin, menyambut baik inisiatif dari PCINU Hong Kong atas kepedulian dan gerakan tersebut.

“Kami menyambut baik langkah ini yang telah peduli terhadap kondisi saudara-saudaranya di Tanah Air. Semoga kegiatan positif ini juga menjadi inspirasi jaringan masyarakat lain untuk saling gotong royong menghadapi wabah corona,” kata Syauqi.

Dia berharap hal ini menjadi inspirasi bagi seluruh elemen masyarakat terutama yang berada di dalam negeri.

“Karena saudara kita yang jauh di Hong Kong saja peduli dengan keadaan di Indonesia. Bagaimana saudara, mari kita saling bantu dan gotong royong,” ajaknya.

Wabah Covid-19mengakibatkan dampak ekonomi dan sosial di banyak daerah, di Tangerang, Banten, misalnya banyak masyarakat yang harus dirumahkan akibat bencana ini karena produksi dan fasilitas distribusi tidak berjalan normal, bahkan sebagian sudah tutup.

Hal itu juga yang dialami Han, pemuda asal Kecamatan Rajeg yang sehari-harinya beraktivitas sebagai barista Kopi Abah di Bandara Soekarno-Hatta.

“Saya biasa menjalankan aktivitas sebagai barista kedai Kopi Abah di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, tempat pemberangkatan haji dan umrah. Sejak haji dan umrah ditiadakan, kedai kami tutup,” katanya.

Sumber: republika.co.id

 

Ramadhan di Tengah Pandemi, Saatnya Tingkatkan Ibadah Sosial!

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Menyongsong bulan suci Ramadhan tahun ini, Rabithah Alawiyah mendorong anggotanya dan umat Muslim untuk meningkatkan ibadah sosial.

 

Masyarakat diminta membantu orang-orang yang terdampak ekonominya akibat Covid-19.

Adanya Covid-19 ini, menurut Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Zen bin Umar Smith, membawa dua dampak dalam kehidupan masyarakat.

 

Pertama dampak secara medis, dimana banyak yang terpapar virus dan melemahkan imun mereka. Dampak kedua, yaitu masalah sosial yang muncul karena masyarakat kecil terganggu aktivitas ekonominya

“Saat ini menjadi kesempatan bagi setiap orang untuk beribadah secara sosial. Berbondong-bondong membantu saudara-saudara sesama bangsa Indonesia yang terdampak dengan adanya virus ini,” ujarnya, Kamis (23/4)

Dalam Hadits Qudsi, Allah SWT bersabda, “Aku (Allah SWT) bisa ditemui di sisi orang yang sedang sakit, orang-orang yang kelaparan, dan mereka yang menderita.” Umat Muslim diwajibkan bergerak dalam kegiatan yang bersifat membantu saudara sesama yang lemah, dari sisi ekonomi maupun yang lain.

Dalam segi fikih, ia menyebut, ibadah sosial lebih diutamakan dari pada ibadah individual. Karenanya, dalam bulan penuh pahala ini, program-program Rabithah diarahkan ke sana. Setiap anggotanya, diminta untuk mengerahkan bantuan kepada yang membutuhkan.

Cabang Rabithah di Indonesia yang berjumlah 68, diperintahkan untuk mulai mengambil sikap membantu masyarakat. Bantuan sosial yang diberikan diharap dapat meringankan kehidupan sehari-hari mereka.

Selain bantuan kepada masyarakat, yang tidak kalah penting saat ini adalah memberi perhatian dan bantuan kepada petugas medis. Banyak di antara mereka harus berjuang di lini terdepan, tanpa menggunakan peralatan pelindung diri yang memadai.

“Rabithah menggalang dana untuk membeli APD, masker, serta vitamin. Bantuan ini akan disalurkan ke rumah sakit yang telah ditunjuk sebagai rujukan penanganan pasien positif Covid-19,” ujar Habib Zen.

Tak hanya memberikan bantuan kepada rumah sakit, Rabithah juga menyasar lembaga atau laboratorium yang melakukan riset dan pengecekan terhadap virus ini. Salah satunya yang disasar adalah Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME).

Untuk membantu mengurangi penyebaran virus Covid-19, Rabithah telah mengeluarkan imbauan. Seluruh anggota diminta mengikuti perintah yang dikeluarkan pemerintah dan rekomendasi Majelis Ulama Indonesia (MUI). Rekomendasi yang dikeluarkan diyakini pasti memiliki dasar-dasar fikih dan dalil yang kuat.

Sumber: republika.co.id

Ketersediaan APD Minim, Dokter Inggris Resmi Gugat Pemerintah

LONDON(Jurnalislam.com) — Sebanyak dua dokter dari Inggris melayangkan tuntutan secara hukum terhadap pemerintah karena kurangnya alat pelindung diri (APD).

 

Padahal tenaga medis merupakan garis terdepan dalam melawan virus korona.

Masalah APD untuk dokter dan perawat merupakan salah satu masalah yang telah menggerogoti pemerintah.

 

Keterbatasan hingga kualitas APD yang tidak cukup baik membuat nyawa petugas kesehatan terancam.

Pengacara untuk dua dokter yang mengajukan tuntutan ini menulis surat kepada Menteri Kesehatan Matt Hancock pada Kamis (23/4).

 

Mereka menuntut peninjauan mendesak terhadap pedoman APD resmi dan mengeluh tentang bagaimana perangkat tersebut dapat digunakan.

“Adalah tugas pemerintah untuk melindungi petugas kesehatannya, dan ada kecemasan besar di antara staf sehubungan dengan protokol keselamatan yang tampaknya berubah tanpa sajak atau alasan,” kata Meenal Viz dan Nishant Joshi, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan melalui firma hukum Bindmans.

Viz adalah tenaga ahli klinis dalam kedokteran dan Joshi adalah dokter umum peserta pelatihan. Keduanya bekerja di Layanan Kesehatan Nasional (NHS) yang dikelola pemerintah. Sejauh ini, 69 orang yang bekerja untuk NHS telah meninggal karena Covid-19.

Pasangan dokter ini mengatakan, pedoman APD Inggris tidak sesuai dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kondisi tersebut membuat petugas layanan kesehatan berisiko lebih besar tertular virus, menepatkan dalam kondisi tidak jelas, dan mengakibatkan praktik tidak konsisten.

Tuntutan yang dilayangkan itu menginginkan pedoman tersebut diubah agar konsisten dengan standar WHO. Cara itu akan memperjelas risiko terkait dengan penggunaan berbagai jenis APD dan memperjelas hak staf untuk menolak bekerja di mana petugas medis menganggap APD tidak memadai.

 

Sumber: republika.co.id

Imam Masjid Washington Sebut Tahun Ini Bisa Jadi Ramadhan Terbaik

AMERIKA(Jurnalislam.com) — Bulan suci Ramadhan dimulai di tengah pandemi virus corona atau Covid-19.

 

Akibatnya, umat Islam di seluruh dunia tidak bisa merayakan buka puasa bersama selama Ramadhan.

 

Sebaliknya, mereka akan menghabiskan hari-hari puasa yang panjang di rumah mereka.

Namun, Imam Masjid Washington DC, Talib Shareef memiliki prediksi yang mengejutkan.

 

Dia mengatakan bagi sebagian orang ini akan menjadi Ramadhan terbaik yang pernah ada.

Imam Shareef membayangkan pada bulan ini setiap keluarga lebih akrab karena orang tua dan anak-anak berbuka puasa dan sahur setiap hari di rumah.

 

“Saya membayangkan satu bulan ketika orang-orang akan mendapat waktu untuk membaca seluruh Alquran,” kata Imam Shareef, dilansir dari Washington Post, Kamis (23/4).

Ia juga membayangkan bulan ketika umat Islam mengemas kalender sosial mereka.

 

Tidak lagi ada pesta tatap muka. Sebagian besar Muslim memulai Ramadhan pada Kamis (23/4) malam.

Di Masjid di Virginia Utara di sebelas lokasi biasanya menyelenggarakan shalat taraweh dengan jamaah sekitar 4.000 sampai 7.000 orang.

 

Pada Jumat, jamaah akan lebih banyak mencapai sekitar 9.000 orang. Sementara saat shalat Idul Fitri jamaah mencapai 25 ribu orang.

Tahun ini masjid-masjid akan kosong, termasuk fasilitas baru yang rencananya akan digunakan untuk Ramadhan tahun ini.

 

Tapi staf masjid dan sukarelawan telah merencanakan kelas, program anak-anak, bacaan Alquran dan azan selama Ramadhan.

 

Mereka berencana menggunakan Zoom, WebEx, Tim Microsoft, Google, dan Facebook.

Nampaknya banyak masyarakat Muslim yang antusias mengikuti program Ramadhan.

 

Terbukti kelas Ramadhan selama empat jam yang disiarkan langsung oleh masjid pada Sabtu lalu menarik 17 ribu penonton.

Jamaah yang sebagian besar terdiri dari para profesional muda telah menyusun program kelas online, telepon dukungan, hotline kesehatan mental, layanan masyarakat, dan resep untuk membantu orang-orang menjalani puasa secara terpisah.

 

Anggota akan berkumpul dalam kelompok kecil dua kali sehari untuk bersosialisasi secara virtual dan melakukan panggilan telepon ke anggota tertua di Masjid Muhammad di Washington.

Sumber: republika.co.id

 

 

Larangan Mudik Diberlakukan, Jasa Marga Tutup Tol Japek Layang

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Menindaklanjuti surat dari Kepala Korps Lalu Lintas Kepolisian Negara Republik Indonesia tanggal 23 April 2020, perihal Permohonan Penutupan Tol Layang Elevated, Jasa Marga sedang melaporkan rencana penutupan, kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), yang berwenang untuk memberlakukan penutupan jalan tol.

 

Informasi yang diterima dari Kepolisian, penutupan Jalan Tol Jakarta-Cikampek Elevated tersebut rencananya akan dimulai pada hari Jumat (24/04) pukul 00.00 WIB.

 

Sementara itu, Jalan Tol Jakarta-Cikampek (jalur bawah) akan tetap beroperasi, namun diberlakukan beberapa titik penyekatan.

 

“Jasa Marga siap mendukung Kementerian Perhubungan dan Kepolisian, untuk memberlakukan penyekatan di beberapa titik di jalan tol yang dioperasikan Jasa Marga, dalam rangka memastikan kendaraan yang lewat, sesuai dengan aturan yang ditetapkan Pemerintah,” kata Dwimawan Heru, Corporate Communication & Community Development Group Head

PT Jasa Marga (Persero) Tbk.

Jasa Marga juga, katanya, mengimbau seluruh pengguna jalan tol kendaraan pribadi agar menaati peraturan yang ditetapkan Pemerintah terkait pelarangan mudik ini.

“Kami himbau agar beraktifitas di rumah saja, untuk menekan penyebaran covid-19,” tambahnya.

Penutupan Jalan Tol Jakarta-Cikampek Elevated ini juga akan disosialisasikan Jasa Marga melalui VMS yang ada di Jalan Tol Jabotabek, juga di akun media sosial Jasa Marga.

Untuk mengetahui informasi terkini terkait jalan tol yang dikelola oleh Jasa Marga, pengguna jalan tol juga dapat mengakses Call Center Jasa Marga 24 jam di nomor telepon 14080.