Berita Terkini

UNRWA: Israel Bunuh Rata-Rata Satu Kelas Anak Palestina Setiap Hari Sejak Serangan ke Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengungkapkan fakta mengerikan terkait dampak serangan militer Israel di Jalur Gaza. Dalam sebuah pernyataan di platform media sosial X (dahulu Twitter) pada Senin (14/7), UNRWA menyatakan bahwa sejak dimulainya agresi Israel pada 7 Oktober 2023, rata-rata 35 hingga 45 anak Palestina tewas setiap harinya setara dengan satu kelas sekolah UNRWA.

“Setiap hari sejak awal perang di Gaza, rata-rata satu kelas anak-anak terbunuh,” ujar Sam Rose, Direktur Urusan UNRWA di Gaza.

Rose juga menggambarkan penderitaan anak-anak yang setiap pagi harus mengantre demi mendapatkan air dan makanan bagi keluarga mereka aktivitas yang justru membuat mereka menjadi sasaran tembakan.

“Kami melihat anak-anak berdiri di pinggir jalan dengan jeriken kuning, menunggu truk air datang. Salah satu antrean ini menjadi lokasi serangan kemarin,” katanya, merujuk pada insiden pada Ahad lalu di Gaza tengah, di mana pasukan Israel menembaki kerumunan warga di titik distribusi air dan menewaskan sedikitnya tujuh anak.

“Setiap kematian adalah tragedi. Namun yang ini sangat simbolik, mengingat konteksnya. Mereka bukan satu-satunya anak yang tewas di Gaza kemarin, dan sayangnya bukan yang terakhir hari ini,” tambahnya.

Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza, setidaknya 18.000 anak Palestina telah tewas sejak serangan dimulai. Jumlah total korban jiwa mencapai 58.600 orang, dengan rata-rata hampir 100 korban meninggal setiap harinya dalam beberapa pekan terakhir. Jumlah ini diyakini masih jauh dari angka sebenarnya karena ribuan korban masih terkubur di bawah reruntuhan bangunan.

𝗞𝗿𝗶𝘀𝗶𝘀 𝗚𝗶𝘇𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗞𝗲𝘀𝗲𝗵𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗔𝗻𝗮𝗸-𝗔𝗻𝗮𝗸 𝗚𝗮𝘇𝗮

Penderitaan anak-anak Gaza tak berhenti pada ancaman kematian akibat serangan. Menurut UNRWA, 1 dari 10 anak yang diperiksa di fasilitas kesehatan mereka mengalami malnutrisi.

“Kasus-kasus ini sebelumnya hanya kami lihat di buku teks dan film dokumenter,” ujar seorang perawat kepada UNRWA.

“Sekarang kami menanganinya langsung, setiap hari.”

Direktur Komunikasi UNRWA, Juliette Touma, menambahkan bahwa malnutrisi akut pada anak-anak sebelumnya jarang terjadi di Gaza sebelum perang. Namun kini, sistem kesehatan yang runtuh dan blokade ketat Israel memperburuk kondisi kemanusiaan secara drastis.

Hingga Juni 2025, sedikitnya 66 anak Palestina dilaporkan meninggal akibat kekurangan gizi. Pemerintah Gaza menyalahkan larangan Israel atas pengiriman susu formula dan makanan bayi, serta penutupan perbatasan yang membuat distribusi bantuan kemanusiaan terhenti.

𝗔𝗻𝗮𝗸-𝗮𝗻𝗮𝗸 𝗚𝗮𝘇𝗮 𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗞𝗼𝗿𝗯𝗮𝗻 𝗔𝗺𝗽𝘂𝘁𝗮𝘀𝗶 𝗠𝗮𝘀𝘀𝗮𝗹

Kantor HAM PBB untuk wilayah Palestina pada hari Selasa juga melaporkan statistik mengejutkan: sedikitnya 10 anak per hari kehilangan satu atau kedua kaki akibat serangan Israel. Selain itu, sekitar 40.500 anak mengalami luka baru terkait perang.

Banyak prosedur amputasi dilakukan tanpa anestesi karena keterbatasan fasilitas medis dan obat-obatan. Gaza kini disebut UNICEF sebagai wilayah dengan jumlah anak amputasi tertinggi di dunia.

“Dunia tidak bisa terus membuang muka,” tegas UNRWA. (Bahry)

Sumber: TNA

Menteri Israel Serukan Pembunuhan Presiden Suriah, Israel Lancarkan Serangan Udara ke Damaskus

DAMASKUS (jurnalislam.com)– Ketegangan antara Suriah dan Israel kembali meningkat setelah Menteri Urusan Diaspora Israel, Amichai Chikli, menyerukan pembunuhan Presiden Suriah Ahmed Al-Sharaa. Chikli menjuluki Presiden Suriah sebagai “teroris” dan “pembunuh brutal”, menyusul eskalasi kekerasan sektarian di provinsi Sweida yang mayoritas penduduknya berasal dari komunitas Druze.

“Shar’a adalah teroris. Lebih baik kita singkirkan dia sekarang,” ujar Chikli dalam pernyataannya yang kontroversial, seperti dikutip The New Arab, Rabu (16/7).

Ia menyamakan Presiden Suriah dengan kelompok Hamas, dan menuduh rezim Suriah melakukan pembantaian terhadap kaum Druze di selatan negara itu. Pernyataan tersebut menuai kritik keras dari berbagai pihak yang menilai hal itu sebagai hasutan untuk melakukan pembunuhan terhadap kepala negara berdaulat.

Tak lama setelah pernyataan Chikli, militer Israel melancarkan serangan udara ke beberapa sasaran strategis di ibu kota Suriah, Damaskus. Serangan tersebut menghantam wilayah dekat Kementerian Pertahanan dan Istana Kepresidenan. Menurut laporan awal, sedikitnya tiga orang tewas dan 18 lainnya luka-luka.

Militer Israel mengonfirmasi bahwa serangan itu dilakukan atas perintah langsung Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang saat ini sedang dicari oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan perang di Gaza.

Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, juga ikut melontarkan tuduhan terhadap Presiden Suriah, menyebut kepemimpinan negara tersebut sebagai “ekstremis Islamis yang brutal.”

Ia menegaskan bahwa Israel harus mempertahankan kendali atas zona penyangga dan wilayah Gunung Hermon—bagian dari Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel—untuk “melindungi permukiman Yahudi”.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad al-Shibani, menegaskan bahwa melindungi komunitas Druze merupakan tanggung jawab internal pemerintah Suriah. Ia memperingatkan pihak asing, termasuk Israel, agar tidak mencampuri urusan dalam negeri Suriah.

“Campur tangan luar hanya akan memperburuk ketegangan dan mengancam kedaulatan nasional kami,” tegas al-Shibani.

Dalam perkembangan di lapangan, pasukan Suriah dan aparat Kementerian Dalam Negeri dikerahkan ke Sweida untuk meredam bentrokan antara milisi Druze dan pejuang suku Badui yang telah berlangsung sejak Ahad (13/7). Menurut sejumlah saksi mata, bentrokan menyebabkan puluhan orang tewas atau terluka.

Namun, laporan dari aktivis dan media lokal menyebut bahwa pasukan pemerintah diduga terlibat dalam ‘eksekusi lapangan’ terhadap warga sipil Druze. Beberapa video yang beredar menunjukkan pria-pria Druze yang dianiaya dan dipermalukan oleh aparat Suriah. Laporan-laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Kantor berita resmi Suriah, SANA, mengonfirmasi adanya serangan udara Israel di wilayah Sweida pada Selasa (15/7), namun tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai dampaknya.

Israel secara rutin menyatakan bahwa serangan udaranya di Suriah ditujukan untuk mencegah pengaruh Iran atau untuk melindungi komunitas Druze, khususnya mereka yang memiliki hubungan dengan Druze Israel. Namun, sebagian besar tokoh Druze di Suriah menolak segala bentuk intervensi asing dan menegaskan dukungan terhadap kedaulatan Suriah.

Diperkirakan terdapat sekitar 800.000 warga Druze di Suriah, yang tersebar di provinsi Sweida, pedesaan Damaskus, Quneitra, serta sebagian wilayah Idlib. Mereka merupakan bagian dari populasi Suriah yang berjumlah sekitar 22 juta jiwa. (Bahry)

Sumber: TNA

Tolak Peredaran Miras, SMIJ Temui DPRD Surakarta

SURAKARTA (jurnalislam.com)- Solo Madani Indonesia Jaya (SMIJ) bersama sejumlah elemen umat Islam mendatangi Gedung DPRD Surakarta guna melakukan audensi dengan anggota dewan terkait peredaran Minuman Keras (Miras) di kota Surakarta pada Rabu, (16/7/2025).

Dalam kesempatan, rombongan SMIJ diterima oleh Wakil ketua DPRD dari Fraksi PKS Daryono, Agus Widodo dari komisi 2 dan Wahyu Haryanto dari komisi 1 Fraksi Partai PDIP sejumlah anggota dewan lainnya.

Ketua SMIJ Ustaz Yusuf Suparno meminta kepada Presiden Republik Indonesia Jend. Purn. H. Prabowo Subianto untuk meninjau ulang dan mencabut Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol
demi melaksanakan Konstitusi negara dan Undang-Undang.

“Presiden Republik Indonesia segera mencabut Perpres No. 74 Tahun 2013 Tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol dan mengganti dengan Perpres yang sesuai dengan konstitusi, nilai agama, dan aspirasi masyarakat Indonesia yang berfalsafah Pancasila,” katanya.

“DPR RI melakukan pengawasan serta menyuarakan kehendak rakyat terkait regulasi
minuman beralkohol. Segera mengagendakan RUU Larangan Minuman Beralkohol yang
sudah dimasukkan ke Baleg (Badan Legislasi) DPR RI tahun 2020 dalam pembahasan
Prolegnas Prioritas DPR RI,” imbuh ustaz Yusuf.

Ia juga berharap kepada anggota dewan di DPRD Kota maupun Kabupaten yang ada di Indonesia untuk bisa membuat Perda tentang pelarangan dengan pembatasan miras.

“DPRD Kabupaten atau Kota seluruh Indonesia agar membuat Perda atau Perdais pelarangan dengan pembatasan minuman beralkohol sebagai upaya membangun jati diri bangsa (Nation and Character Building) sesuai dengan falsafah negara Pancasila dan UUD NRI 1945,” terangnya.

Lebih lanjut, Ustadz Yusuf dan sejumlah perwakilan elemen umat Islam juga menyampaikan soal temuan temuan pelarangan peredaran miras di kota Surakarta.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Surakarta Daryono berjanji akan menindaklanjuti aspirasi yang disampaikan oleh SMIJ dan perwakilan elemen umat Islam.

“Saya kira ini menjadi masukan bagi kami, atas nama DPRD Supaya bisa memfollow up i aspirasi dari bapak bapak yang tadi hadir terkait dengan peredaran miras di kota Surakarta,” ungkapnya.

“Yang saya kira juga ketika tidak ada pembatasan dan pengaturan itu yang terjadi adalah kerusakan moral masyarakat kemudian ada pelanggaran ketertiban yang ini pasti akan berdampak negatif juga dalam konteks masyarakat Surakarta,” pungkasnya.

Jurnalis: Podcast Jadi Media Strategis Sebar Isu Palestina, Tapi Waspadai Hoaks

JAKARTA (jurnalislam.com)– Jurnalis Gazamedia sekaligus host Timteng Podcast, Pizaro Gozali Idrus, menegaskan pentingnya literasi media dan validasi informasi di era digital, khususnya terkait isu Palestina dan geopolitik global.

Hal itu disampaikan saat menjadi pembicara dalam seminar bertema Navigasi Informasi di Era Digital, di hadapan mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) STID Mohammad Natsir, pada Senin (14/7).

Menurut Pizaro, saat ini pola konsumsi informasi masyarakat telah bergeser dari teks ke visual. “Orang sekarang lebih suka lihat visual. Karena itu, penyebaran informasi tentang Palestina dan geopolitik dunia sekarang bisa melalui platform seperti podcast,” ujar kandidat Doktor Hubungan Internasional USM Malaysia ini.

Namun, ia mengingatkan bahwa arus informasi yang deras juga membawa risiko misinformasi dan hoaks.

“Seperti hoaks tentang pesawat China yang disebut berhasil menembus blokade Israel di Gaza. Faktanya, video pesawat itu diambil di wilayah lain, bukan di Gaza,” tegas Duta Kemanusiaan Dewan Dakwah ini.

Dalam era banjir informasi ini, ia mendorong jurnalis maupun masyarakat untuk tidak sekadar menerapkan prinsip check and recheck, tetapi triple check.

“Pastikan sumber yang kita kutip berasal dari media kredibel, bukan hanya dari Instagram, TikTok, Facebook, dan sebagainya. Kita juga harus lakukan validasi sana-sini untuk menulis berita,” kata mantan redaktur Kantor Berita Anadolu ini.

*Perhatian Dunia terhadap Palestina Meningkat*

Pizaro menilai bahwa dalam satu dekade terakhir, perhatian dunia terhadap isu Palestina semakin tinggi. “Kalau dulu, 10–20 tahun lalu, isu Palestina seolah jadi isu Timur Tengah saja. Tapi sekarang dunia mulai peduli karena fakta-fakta genosida di Gaza sudah terbuka,” ujarnya.

Ia menyebut tekanan publik internasional terhadap Israel meningkat tajam, terutama setelah banyak bukti visual yang menunjukkan jatuhnya korban jiwa, termasuk anak-anak, tersebar di berbagai platform.

“Untuk mengalihkan perhatian dari tekanan itu, Israel kemudian menyerang Iran. Itu strategi menciptakan musuh baru agar dunia lupa pada Gaza, dan sekaligus meredam desakan agar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mundur. Iran seolah-seolah dijadikan kapal penyelamat oleh Netanyahu untuk keluar dari tekanan atas genosida Gaza.”

Seminar ini merupakan bagian dari upaya penguatan literasi media dan pemahaman geopolitik global bagi mahasiswa, agar mampu menyikapi isu-isu internasional secara kritis dan bertanggung jawab.

Israel Serang Tank di Sweida Suriah, Hamas Kutuk Keras Agresi Militer

DAMASKUS (jurnalislam.com)– Militer Israel mengonfirmasi telah melancarkan serangan terhadap beberapa tank di wilayah selatan Suriah pada Senin (14/7/2025), di tengah meningkatnya ketegangan sektarian yang menewaskan puluhan orang di provinsi Sweida.

Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di platform X, juru bicara militer Israel berbahasa Arab, Avichay Adraee, menyatakan bahwa serangan dilakukan di wilayah desa Sami, provinsi Sweida. Serangan tersebut disebut sebagai bagian dari respons terhadap situasi keamanan yang memburuk di kawasan itu.

Sebelumnya, bentrokan sengit pecah antara kelompok bersenjata Druze dan milisi suku Badui Sunni di kota Sweida pada Ahad (13/7), menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar. Menurut laporan salah satu pemantau konflik di Suriah, sedikitnya 89 orang tewas, meski angka ini belum dapat diverifikasi secara independen.

Sumber keamanan menyebutkan bahwa enam anggota pasukan keamanan Suriah yang dikerahkan untuk meredam bentrokan turut tewas dalam insiden tersebut. Kementerian Pertahanan Suriah menyatakan telah mengirim tambahan pasukan ke ibu kota provinsi untuk menjaga ketertiban dan menjamin keselamatan warga sipil yang mengungsi.

Media lokal Sweida24 melaporkan bahwa baku tembak kembali terjadi pada Senin pagi, mengindikasikan situasi yang masih belum kondusif. Sumber Kementerian Pertahanan kepada Reuters mengonfirmasi enam tentara Suriah tewas dalam bentrokan lanjutan itu.

Pertikaian ini menandai babak baru konflik sektarian di wilayah selatan Suriah, yang mayoritas penduduknya berasal dari kelompok minoritas Druze. Ketegangan di Sweida telah meningkat sejak pejuang pembebasan yang menggulingkan Presiden Bashar al-Assad pada Desember lalu. Meski sejumlah kelompok pejuang menyatakan bergabung dengan Kementerian Pertahanan, proses integrasi milisi dari kelompok minoritas seperti Druze dan Kurdi belum sepenuhnya berhasil.

Situasi di wilayah selatan kian rumit dengan sikap Israel yang menolak kehadiran militer baru Suriah di kawasan tersebut. Israel menuntut agar wilayah Sweida dan sekitarnya dijadikan zona demiliterisasi—sebuah posisi yang ditolak oleh pemerintah Damaskus karena dinilai melanggar kedaulatan negara.

Menteri Dalam Negeri Suriah, Anas Khattab, menyebut tidak adanya peran aktif lembaga negara, khususnya militer dan keamanan, sebagai faktor utama meningkatnya ketegangan di Sweida dan daerah pedesaan di sekitarnya. Ia juga merujuk pada serangkaian penculikan sebagai pemicu kekerasan terbaru, termasuk penculikan seorang pedagang Druze pada Jumat lalu di jalan raya penghubung Damaskus-Sweida.

𝗛𝗮𝗺𝗮𝘀 𝗞𝘂𝘁𝘂𝗸 𝗔𝗴𝗿𝗲𝘀𝗶 𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹

Menanggapi serangan tersebut, Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam keras agresi Israel terhadap wilayah Suriah. Dalam siaran pers yang diterbitkan pada Selasa (15/7), Hamas menyebut tindakan militer Israel sebagai “agresi fasis” dan pelanggaran berat terhadap hukum internasional.

“Agresi Zionis terhadap Suriah merupakan bentuk arogansi dan upaya untuk memaksakan hegemoni atas negara-negara di kawasan,” tulis Hamas dalam pernyataannya. Mereka menyerukan solidaritas negara-negara Arab dan Islam serta rakyat dunia untuk bersatu melawan agresi dan rencana pendudukan Israel di wilayah tersebut. (Bahry)

Sumber: TNA

Abbas: Hamas Tak Bisa Memerintah Gaza, Harus Serahkan Senjata ke Otoritas Palestina

AMMAN (jurnalislam.com)- Presiden Otoritas Palestina (PA), Mahmoud Abbas, menegaskan bahwa Hamas “tidak dapat memerintah” Jalur Gaza apabila perang dengan Israel yang sedang berlangsung saat ini berakhir. Hal itu disampaikan Abbas dalam pertemuan dengan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair di Amman, Yordania, pada Ahad (13/7/2025).

Menurut Abbas, Hamas harus menyerahkan seluruh persenjataannya kepada Otoritas Palestina dan hanya dapat terlibat dalam aktivitas politik jika mengikuti kerangka program Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) serta legitimasi internasional. Ia juga menekankan pentingnya “satu otoritas dan satu senjata yang sah di Jalur Gaza.”

Dalam pertemuan tersebut, Abbas dan Blair membahas perkembangan politik dan kemanusiaan terbaru di Palestina, khususnya di Jalur Gaza. Melalui unggahan di laman resmi Kepresidenan Palestina, Abbas kembali menyerukan gencatan senjata segera dan pembebasan seluruh tawanan—baik warga Israel yang ditahan di Gaza maupun warga Palestina yang ditahan oleh Israel. Ia juga menuntut percepatan masuknya bantuan kemanusiaan darurat ke wilayah yang dilanda perang tersebut.

“Satu-satunya solusi yang layak atas krisis ini adalah penarikan penuh Israel dari Jalur Gaza dan penyerahan tanggung jawab penuh kepada Negara Palestina, dengan dukungan aktif dari dunia Arab dan komunitas internasional,” kata Abbas.

Selain itu, ia juga mendesak penghentian pembangunan permukiman Israel di Tepi Barat serta serangan terhadap situs-situs keagamaan di wilayah Palestina yang diduduki.

Pada April lalu, Abbas juga sempat menuntut Hamas agar menyerahkan kekuasaan di Gaza, melucuti senjata, dan membebaskan seluruh sandera sebagai syarat rekonsiliasi.

Hamas dan Fatah telah berselisih selama hampir dua dekade, sejak Hamas memenangkan pemilu legislatif Palestina pada 2006. Ketegangan memuncak ketika Hamas merebut kendali atas Gaza pada 2007, setelah ditolak menjalankan pemerintahan oleh Otoritas Palestina. Sejak itu, kedua kubu telah beberapa kali mencoba berdamai, namun belum menghasilkan kesepakatan yang bertahan lama. (Bahry)

Sumber: TNA

Tiga Tentara Israel Tewas dalam Ledakan Tank di Gaza Utara, Satu Perwira Luka Parah

GAZA (jurnalislam.com)– Militer Israel mengumumkan bahwa tiga tentaranya tewas dan satu perwira terluka serius setelah tank yang mereka tumpangi terkena ledakan di Jabalia, Jalur Gaza utara, pada Senin (14/7/2025). Ledakan terjadi di tengah pertempuran yang sedang berlangsung dengan kelompok Hamas.

Ketiga prajurit yang tewas diidentifikasi sebagai:

– Sersan Staf Shoham Menahem (21), asal Yardena

– Sersan Shlomo Yakir Shrem (20), asal Efrat

– Sersan Yuliy Faktor (19), asal Rishon Lezion

Sementara itu, seorang perwira yang tidak disebutkan namanya saat ini tengah dirawat di rumah sakit dalam kondisi kritis. Keempatnya diketahui berasal dari Batalyon ke-52 Brigade Lapis Baja ke-401.

Militer Israel (IDF) menyatakan bahwa penyelidikan awal menduga tank tersebut awalnya terkena tembakan granat berpeluncur roket dari Hamas. Namun, dugaan sementara berubah setelah investigasi menunjukkan kemungkinan kesalahan operasional, dengan ledakan berasal dari peluru yang gagal fungsi dan meledak di dalam menara tank. Penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut.

Kematian tiga prajurit ini menambah jumlah korban militer Israel yang tewas dalam serangan darat di Gaza dan sepanjang perbatasan menjadi 454 tentara, termasuk dua perwira polisi dan tiga kontraktor sipil Kementerian Pertahanan.

Sejak Israel kembali melanjutkan serangan di Jalur Gaza pada Maret mengakhiri gencatan senjata yang sebelumnya berlaku sedikitnya 44 tentara Israel dilaporkan tewas. Jumlah ini meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir, dengan 13 di antaranya terjadi sepanjang Juli.

Di sisi lain, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, serangan Israel sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan sedikitnya 58.386 warga sipil Palestina. (Bahry)

Sumber: TNA, TOI

42 Tentara Israel Bunuh Diri, 3 Kasus Terjadi dalam Sepekan Terakhir

GOLAN (jurnalislam.com)- Seorang tentara Israel dilaporkan bunuh diri di sebuah pangkalan militer di Dataran Tinggi Golan, wilayah Suriah yang diduduki Israel. Insiden ini menandai kasus ketiga bunuh diri di kalangan tentara aktif dalam sepuluh hari terakhir, menurut pernyataan militer Israel pada Senin (14/7/2025).

Militer tidak merinci lebih lanjut mengenai peristiwa tersebut, hanya menyebutkan bahwa sang prajurit ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di dalam pangkalan.

Media Israel Channel 12 melaporkan bahwa tentara yang tewas merupakan anggota Brigade Nahal dan diketahui pernah terlibat dalam operasi tempur di Jalur Gaza. Polisi Militer telah membuka penyelidikan untuk mengungkap latar belakang kematian tersebut.

Pekan lalu, seorang prajurit cadangan juga bunuh diri, diikuti oleh seorang tentara lainnya yang ditemukan meninggal dalam kondisi serupa.

“Tiga tentara bunuh diri dalam seminggu terakhir. Ini adalah kenyataan yang menyesakkan,” ujar pemimpin oposisi Yair Lapid melalui platform X.

“Setidaknya 15 tentara telah tewas karena bunuh diri sejak awal tahun. Perang ini menghancurkan kehidupan,” tambahnya.

Laporan media Israel mencatat tren peningkatan bunuh diri di kalangan militer sejak dimulainya perang Gaza pada Oktober 2023.

Pada 6 Juli lalu, seorang tentara cadangan ditemukan meninggal karena bunuh diri di hutan dekat kota Safed, Israel utara, yang diduga dipicu oleh gangguan psikologis akibat perang.

Surat kabar Israel Hayom menyebutkan bahwa 21 tentara Israel telah mengakhiri hidup mereka sepanjang 2024. Sementara Haaretz melaporkan bahwa sejak perang Gaza dimulai, total 42 tentara telah bunuh diri. (Bahry)

Sumber: anews

Serangan Intensif Brigade Al-Qassam: Tank, Ekskavator, dan Pos Komando Israel Jadi Sasaran

GAZA (jurnalislam.com)– Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, melaporkan serangkaian serangan terhadap posisi militer Israel di sejumlah titik di Jalur Gaza pada Sabtu (12/7/2025). Serangan itu mencakup penghancuran kendaraan tempur dan serangan terhadap pos komando militer Israel.

Dalam pernyataan resminya, Al-Qassam menyebut bahwa pejuang mereka berhasil menyerang sebuah tank militer Israel dengan alat peledak berkekuatan tinggi di kawasan timur permukiman Zeitoun, selatan Kota Gaza. Setelah serangan itu, dilaporkan terjadi pendaratan helikopter militer Israel yang diduga untuk evakuasi pasukan.

Selain itu, pos komando dan kendali militer Israel di Qizan al-Najjar, wilayah selatan Khan Yunis, juga diserang menggunakan mortir pada sore hari. Brigade Al-Qassam juga melaporkan aksi penembakan terhadap seorang tentara Israel hingga tewas di daerah Abasan al-Kabira, timur Khan Yunis.

Dalam laporan terpisah, kelompok itu menyatakan telah menghancurkan sebuah ekskavator militer Israel di sebelah timur permukiman Zeitoun pada Rabu (9/7) lalu, dengan alat peledak serupa. Pendaratan helikopter juga dilaporkan terjadi setelah serangan tersebut.

Serangan mortir lainnya dilancarkan ke arah pos komando Israel di permukiman Al-Tuffah, bagian timur Kota Gaza.

Sementara itu, militer Israel (IDF) mengonfirmasi bahwa empat tentaranya terluka dalam insiden terpisah di Gaza pada hari Sabtu (12/7). Dua di antaranya mengalami luka di Gaza utara dan dua lainnya di Gaza selatan. Seluruh korban luka telah dievakuasi ke rumah sakit.

IDF juga menyatakan bahwa mereka telah meluncurkan lebih dari 250 serangan udara ke berbagai target di Gaza sejak Kamis (10/7). Pada Sabtu malam, lebih dari 35 sasaran diserang di Beit Hanoun, wilayah utara Gaza, sebagai bagian dari gelombang baru operasi militer. (Bahry)

Sumber: TOI

Mayoritas Warga Israel Ingin Perang Gaza Diakhiri dan Netanyahu Mundur

GAZA (jurnalislam.com)- Sebanyak 74 persen warga Israel, termasuk 60 persen dari pemilih koalisi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, mendukung kesepakatan dengan Hamas untuk membebaskan seluruh sandera sekaligus dengan imbalan penghentian perang di Gaza. Hal itu terungkap dalam survei yang disiarkan Channel 12 pada Jumat (11/7/2025).

Sebaliknya, hanya 8 persen responden mendukung usulan Netanyahu yang menawarkan pembebasan sebagian sandera terlebih dahulu, dilanjutkan dengan negosiasi gencatan senjata permanen dan pembebasan sisanya. Sebanyak 12 persen menolak kesepakatan apa pun yang mensyaratkan diakhirinya perang, dan 6 persen menyatakan tidak tahu.

Ketika ditanya mengapa Netanyahu bersikeras pada kesepakatan bertahap, 49 persen responden menilai alasan tersebut bermotif politik, sementara 36 persen mengatakan pertimbangan keamanan. Sisanya, 15 persen, mengaku tidak tahu.

Dalam pertemuan dengan keluarga para sandera di Washington pada Rabu lalu, Netanyahu menyatakan bahwa kesepakatan menyeluruh untuk memulangkan seluruh sandera sekaligus “tidak pernah menjadi pilihan”, menurut laporan penyiar publik Kan.

Survei juga menunjukkan bahwa 55 persen warga Israel menilai penanganan Netanyahu terhadap perang di Gaza buruk, dibandingkan dengan 41 persen yang menilainya baik, dan 4 persen tidak memberikan penilaian. Untuk Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, 52 persen menilai kinerjanya buruk, 37 persen baik, dan 11 persen tidak tahu.

Satu-satunya pejabat tinggi yang mendapatkan penilaian positif adalah Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF), Letnan Jenderal Eyal Zamir. Sebanyak 62 persen responden menilai kinerjanya dalam perang baik, 24 persen buruk, dan 14 persen tidak tahu.

Di tengah spekulasi bahwa Netanyahu dapat mengundurkan diri sebagai bagian dari kesepakatan hukum guna mengakhiri proses pengadilan korupsi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, sebanyak 55 persen responden, termasuk 27 persen pemilih koalisi, menyatakan ia sebaiknya mengambil opsi tersebut. Sementara itu, 34 persen ingin Netanyahu tetap menjabat dan maju pada pemilu berikutnya, dan 11 persen tidak memiliki pendapat.

Mengenai isu yang akan menentukan pilihan dalam pemilu mendatang, 27 persen responden menyebut ekonomi dan biaya hidup sebagai faktor utama. Sebanyak 26 persen menyebut perang Gaza dan serangan Hamas yang memicunya, 14 persen menyoroti isu wajib militer bagi warga ultra-Ortodoks (Haredi), 13 persen menyebut perpecahan internal Israel, 8 persen menyoroti program nuklir Iran, dan 12 persen lainnya belum menentukan sikap.

Saat ditanya siapa yang layak memimpin blok oposisi anti-Netanyahu dalam pemilu mendatang, 35 persen pemilih oposisi memilih mantan Perdana Menteri Naftali Bennett. Sementara itu, 13 persen menyebut Benny Gantz (Ketua Partai Biru Putih), 12 persen mendukung Yair Lapid (Ketua Partai Yesh Atid), 12 persen menyebut Avigdor Liberman (Ketua Partai Yisrael Beytenu), 11 persen memilih Gadi Eisenkot (mantan Kepala IDF), dan 6 persen menyebut Yair Golan (Ketua Partai Demokrat).

Partai baru yang dibentuk Bennett, sementara diberi nama Bennett 2026, telah menyelesaikan pendaftaran bulan lalu. Meskipun pernah menjadi sekutu Netanyahu di sayap kanan, Bennett kehilangan dukungan dari kalangan tersebut setelah membentuk pemerintahan pada 2021–2022 yang melibatkan partai sayap kiri dan Arab.

Pemilu Israel berikutnya dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026, kecuali terjadi pembubaran parlemen lebih awal. Tekanan untuk pemilu ulang terus meningkat setelah pemerintah dinilai gagal mencegah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menjadi pemicu perang di Gaza.

Dari dalam koalisi, faksi ultra-Ortodoks mengancam menarik dukungan karena kekecewaan terhadap kebijakan pengecualian wajib militer bagi siswa yeshiva. Sementara itu, partai-partai sayap kanan mengancam menjatuhkan pemerintahan jika perang di Gaza dihentikan.

Meski secara terbuka berjanji akan terus memerangi Hamas hingga organisasi itu dikalahkan, Netanyahu dilaporkan tengah bekerja sama dengan mantan Presiden AS Donald Trump untuk menyusun rencana mengakhiri perang. Rencana tersebut juga mencakup komitmen kembali terhadap solusi dua negara dan normalisasi hubungan diplomatik Israel dengan Arab Saudi dan Suriah.

Survei Channel 12 ini dilakukan oleh perusahaan riset Midgam, bekerja sama dengan iPanel. Namun, ukuran sampel dan margin of error tidak disebutkan dalam laporan. (Bahry)

Sumber: TOI