Berita Terkini

Prajurit Israel Tewas dengan Luka Tembak, Diduga Bunuh Diri

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Seorang prajurit Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang tengah menjalani pelatihan sebagai penerjun payung dan diduga mencoba bunuh diri pekan lalu, dilaporkan meninggal dunia akibat luka-lukanya. Informasi tersebut disampaikan militer Israel pada Ahad (20/7/2025).

Korban diketahui bernama Kopral Dan Phillipson, seorang prajurit muda yang berasal dari Norwegia. Ia pindah ke Israel sekitar setahun lalu tanpa didampingi keluarganya, untuk bergabung dengan militer sebagai bagian dari program prajurit tunggal.

IDF melaporkan bahwa Phillipson ditemukan dengan luka tembak yang diduga dilakukan sendiri di sebuah pangkalan pelatihan di wilayah selatan Israel, pada Selasa pekan lalu. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, namun akhirnya meninggal dunia pada Jumat (18/7) akibat luka yang dideritanya.

IDF menyatakan bahwa Polisi Militer telah membuka penyelidikan atas insiden ini. Hasil penyelidikan nantinya akan diserahkan kepada Advokat Jenderal Militer untuk ditinjau lebih lanjut.

Phillipson tinggal di Kibbutz Be’erot Yitzhak sebagai bagian dari program Reut untuk prajurit tunggal. Menurut unggahan di Facebook oleh Yosi Shnior, yang menjadi ayah angkat Phillipson dalam program tersebut, ia dibesarkan di Oslo dalam keluarga Zionis yang religius dan telah bercita-cita untuk bergabung dengan IDF sejak duduk di bangku SMA.

“Selama pelatihannya sebagai penerjun payung, ia dikenal sebagai prajurit yang disiplin, luar biasa, dan dicintai oleh rekan-rekannya,” tulis Shnior.

Upacara pemakaman Phillipson digelar pada Ahad pukul 15.00 waktu setempat di Pemakaman Militer Mount Herzl, Yerusalem.

Dalam dua pekan terakhir, tercatat empat tentara Israel, termasuk seorang prajurit cadangan yang sedang tidak bertugas, meninggal dunia akibat dugaan bunuh diri. Dengan demikian, total kasus dugaan bunuh diri di tubuh militer Israel sepanjang tahun 2025 telah mencapai 19 kasus.

Militer Israel mengakui adanya peningkatan signifikan kasus bunuh diri di kalangan tentaranya sejak dimulainya perang yang masih berlangsung hingga saat ini. (Bahry)

Sumber: TOI

Laporan PBB: 19 Warga Gaza Meninggal karena Kelaparan dalam Satu Hari

GAZA (jurnalislam.com)- Otoritas kesehatan Gaza melaporkan bahwa sedikitnya 19 orang meninggal dunia akibat kelaparan dalam satu hari pada Ahad (20/7/2025), menyoroti kondisi yang semakin memburuk di bawah blokade ketat bantuan oleh Israel.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Antoine Renard, perwakilan Program Pangan Dunia (WFP) untuk Palestina, menyatakan bahwa badan PBB tersebut telah memperingatkan selama berminggu-minggu bahwa warga Palestina di Gaza menghadapi ancaman kelaparan akut.

“Ada tingkat keputusasaan di mana orang-orang rela mempertaruhkan nyawa hanya untuk mendapatkan bantuan yang masuk ke Gaza,” kata Renard dari Yerusalem Timur yang diduduki.

Ia juga menyebut adanya lonjakan jumlah warga yang mengalami malnutrisi. “Situasi ini benar-benar mencapai tingkat yang belum pernah kami lihat sebelumnya,” ujarnya.

Sementara itu, UNRWA, badan PBB untuk pengungsi Palestina, menyatakan menerima “pesan-pesan putus asa tentang kelaparan” dari dalam Gaza, termasuk dari staf mereka sendiri, seiring memburuknya kondisi kemanusiaan.

“Penderitaan di Gaza adalah buatan manusia dan harus dihentikan. Hentikan pengepungan, dan izinkan bantuan masuk dengan aman dan dalam skala besar,” demikian pernyataan UNRWA yang dipublikasikan melalui platform X.

Amjad Shawa, kepala Jaringan LSM Palestina, mengatakan kepada Al Jazeera pada Senin (21/7) bahwa sekitar 900.000 anak-anak di Gaza kini mengalami berbagai tingkat malnutrisi.

𝗧𝗲𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹

Sebanyak 25 negara, termasuk Inggris, Prancis, Australia, Kanada, Jepang, dan sejumlah negara Eropa lainnya, mengeluarkan pernyataan bersama yang menyerukan diakhirinya perang di Gaza dan menuntut Israel mematuhi hukum internasional.

“Penderitaan warga sipil di Gaza telah mencapai titik terendah,” bunyi pernyataan para menteri luar negeri tersebut. Mereka mengutuk lambannya distribusi bantuan dan tindakan tidak manusiawi terhadap warga sipil, termasuk anak-anak, yang mencoba memenuhi kebutuhan dasar seperti air dan makanan.

“Model penyaluran bantuan pemerintah Israel berbahaya, memicu ketidakstabilan, dan merampas martabat manusia warga Gaza,” tegas mereka.

Pernyataan itu juga menyoroti bahwa penolakan Israel terhadap masuknya bantuan kemanusiaan esensial merupakan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional. “Israel harus mematuhi kewajibannya berdasarkan hukum internasional,” tutup pernyataan tersebut. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Israel Gempur Deir el-Balah, Sedikitnya 65 Warga Palestina Tewas

GAZA (jurnalislam.com)- Sedikitnya 65 warga Palestina tewas dalam serangan Israel di Gaza pada Senin (21/7/2025), menurut sumber medis. Serangan ini berlangsung saat militer Israel untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023 mengerahkan tank ke wilayah Deir el-Balah, Gaza tengah.

Israel melancarkan serangan darat di wilayah selatan dan timur kota tersebut, yang kini dipenuhi pengungsi Palestina. Serangan terjadi sehari setelah militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi paksa bagi warga, yang memaksa ribuan orang mengungsi ke arah barat menuju pantai Mediterania dan ke selatan menuju Khan Younis.

Penembakan tank di kawasan itu menghantam rumah-rumah dan masjid, menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai beberapa lainnya, lapor Reuters mengutip petugas medis setempat.

Melaporkan dari Deir el-Balah, jurnalis Al Jazeera, Tareq Abu Azzoum, mengatakan bahwa suara tembakan terdengar jelas saat tank-tank Israel memasuki wilayah tersebut pada Senin pagi.

“Kami dapat melihat bahwa seluruh kota diserang Israel,” ujarnya.

“Kami tidak bisa tidur tadi malam. Terjadi pemboman Israel yang berkelanjutan. Jet tempur, tank, dan kapal perang angkatan laut terus menghantam beberapa permukiman. Tiga lapangan hancur, dan rumah-rumah warga diratakan,” lanjutnya.

Banyak warga dilaporkan melarikan diri menggunakan kereta keledai dan berbagai moda transportasi darurat lainnya.

𝗦𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗹𝘂𝗮𝘀, 𝗞𝗼𝗿𝗯𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗕𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗯𝗮𝗵

Sumber medis mengatakan kepada Al Jazeera bahwa dari 65 korban tewas pada hari itu, termasuk 11 di antaranya adalah pencari bantuan.

Di Khan Younis, Gaza selatan, serangan udara Israel menewaskan sedikitnya lima orang, termasuk satu pasangan suami istri dan dua anak mereka yang berada di dalam sebuah tenda, menurut keterangan petugas medis.

Lima warga Palestina lainnya tewas dalam serangan terpisah di Jabalia al-Balad, Gaza utara. Sebelumnya, Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan bahwa timnya menemukan jenazah satu orang dan mengevakuasi tiga orang yang terluka setelah serangan artileri Israel di Jabalia al-Nazla.

Sumber dari Rumah Sakit al-Shifa juga melaporkan adanya serangan pesawat nirawak di Kota Gaza yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa, meski jumlah pasti belum diketahui.

Sehari sebelumnya, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 134 orang tewas dan 1.155 lainnya luka-luka akibat serangan pasukan Israel. Sejak perang dimulai, jumlah korban tewas di Gaza telah mencapai sedikitnya 59.029 orang. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

WHO: Israel Serang Kediaman dan Gudang WHO di Gaza, Staf Ditahan dan Ditelanjangi

GAZA (jurnalislam.com)- Pasukan Israel dilaporkan menyerang kediaman staf Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Gaza sebanyak tiga kali pada Senin (21/7/2025), termasuk gudang utama WHO, serta menahan sejumlah staf dan anggota keluarga mereka. Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam sebuah pernyataan resmi.

Tedros menyebutkan bahwa serangan terjadi di Deir al-Balah, wilayah tengah Gaza.

“Militer Israel memasuki lokasi tersebut dan memaksa perempuan dan anak-anak mengungsi dengan berjalan kaki menuju Al-Mawasi, di tengah konflik yang masih berlangsung,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa staf pria dan anggota keluarga mereka diborgol, ditelanjangi, diinterogasi di tempat, dan diperiksa dengan todongan senjata. Dua staf WHO beserta dua anggota keluarga mereka ditahan. Tiga orang telah dibebaskan, namun satu staf WHO masih ditahan hingga saat ini.

Sebanyak 32 staf WHO dan anggota keluarga mereka berhasil dievakuasi ke kantor WHO setelah akses memungkinkan.

“WHO menuntut pembebasan segera staf yang ditahan dan perlindungan penuh bagi seluruh personelnya,” tegas Tedros.

Ia juga menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap perintah evakuasi terbaru Israel di Deir al-Balah yang berdampak langsung pada beberapa fasilitas WHO.

“Gudang utama WHO yang berada di Deir al-Balah kini berada dalam zona evakuasi, dan mengalami kerusakan akibat serangan yang menyebabkan ledakan dan kebakaran,” ujarnya.

Tedros mendesak negara-negara anggota PBB untuk membantu menjamin aliran pasokan medis ke Gaza secara berkelanjutan. Ia menekankan bahwa terganggunya operasi WHO dapat melumpuhkan seluruh respons kesehatan di wilayah tersebut.

“Gencatan senjata bukan hanya dibutuhkan, tapi sudah sangat terlambat,” pungkasnya. (Bahry)

Sumber: AA

Houthi Lancarkan Serangan Drone ke Bandara dan Pelabuhan Israel

SANA’A (jurnalislam.com)- Kelompok Houthi Yaman (Ansarallah) mengumumkan pada Senin (21/7/2025) bahwa mereka telah melancarkan serangkaian serangan menggunakan pesawat nirawak (drone) terhadap sejumlah target di Israel. Serangan ini diklaim sebagai balasan atas serangan udara Israel di pelabuhan Laut Merah Yaman, al-Hudaydah.

Juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, menyatakan bahwa operasi tersebut melibatkan lima pesawat nirawak dan berhasil menghantam beberapa lokasi strategis, termasuk Bandara Ben Gurion, Bandara Ramon, fasilitas penting di kota pelabuhan Ashdod, pangkalan militer di Jaffa, serta pelabuhan Eilat (Umm al-Rashrash).

“Operasi ini merupakan respons langsung terhadap agresi Israel baru-baru ini terhadap pelabuhan al-Hudaydah,” ujar Saree.

Ia menambahkan bahwa pesawat nirawak tersebut “berhasil mencapai targetnya.”

Sebelumnya pada hari yang sama, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengonfirmasi bahwa Angkatan Udara Israel telah meluncurkan serangan terhadap infrastruktur milik Houthi. Militer Israel menyebutkan bahwa serangan itu menargetkan “instalasi militer” yang digunakan oleh kelompok tersebut.

Sementara itu, militer Israel juga melaporkan telah mencegat sebuah pesawat nirawak yang diyakini diluncurkan dari wilayah Yaman. Namun, tidak ada sirene peringatan yang diaktifkan sesuai dengan protokol standar. (Bahry)

Sumber: Shafaq

Saraya Al-Quds dan Al-Qassam Intensifkan Serangan Terhadap Pasukan Israel di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Video terbaru yang dirilis Saraya Al-Quds menunjukkan keberhasilan penargetan kendaraan lapis baja milik militer Israel di Jalur Gaza, memperlihatkan berlanjutnya operasi perlawanan terhadap pendudukan Zionis.

Pada Ahad (20/7/2025), faksi-faksi perlawanan Palestina di Gaza mengumumkan bahwa mereka akan meningkatkan intensitas serangan terhadap pasukan Israel yang masih melakukan operasi militer di wilayah tersebut.

Brigade Al-Qassam menyatakan bahwa mereka, dalam koordinasi dengan Brigade Al-Quds, berhasil menargetkan tiga tank Merkava Israel di lingkungan Shujaiya, Gaza timur. Serangan tersebut menggunakan alat peledak jenis Shawaaz dan Thaqib, serta peluru kendali tandem.

Dalam pernyataan resminya, Al-Qassam juga mengonfirmasi bahwa salah satu pejuangnya berhasil menembak mati seorang tentara Israel di dalam tank Merkava yang berada di dekat Sekolah Al-Nazareth, lingkungan Shejaiya.

Sementara itu, Brigade Al-Quds (Saraya Al-Quds) dari kelompok Jihad Islam Palestina (PIJ) juga merinci sejumlah operasi militer mereka yang dilakukan pada Ahad, 20 Juli 2025, antara lain:

– Menembakkan mortir kaliber 60 mm ke pusat komando dan kendali militer Israel di area Aula Insinyur al-Satr al-Gharbi, utara Khan Yunis.

– Menghancurkan kendaraan militer Israel dengan alat peledak kejut “Barq” di wilayah Ma’an, tenggara Khan Yunis, pada Sabtu sore.

– Pada 7 Juli lalu, bersama Brigade Al-Qassam, melakukan penyergapan terhadap tiga tank Merkava Israel di dekat Masjid al-Ridwan, Shujaiya, dengan menggunakan dua alat peledak (Thaqib dan Shuath) serta peluru Tandem.

– Meluncurkan roket 107 mm ke pusat komando dan kendali Israel di dekat Jalan 5, utara Khan Yunis, sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Setelah serangan, terlihat helikopter mendarat, disertai suara tembakan dan granat asap, yang mengindikasikan proses evakuasi korban dari lokasi tersebut.

Operasi-operasi perlawanan ini dilaporkan terus berlangsung di berbagai wilayah Gaza dan menyebabkan jatuhnya korban jiwa di pihak militer Israel.

Di sisi lain, media resmi Israel melaporkan bahwa Brigade Pasukan Terjun Payung dan Komando dari Divisi ke-98 telah ditarik dari Jalur Gaza. Meski militer Israel menyebut masih memiliki lima divisi yang aktif di Gaza, laporan menyebutkan jumlah sebenarnya jauh lebih sedikit. Brigade Paratrooper dikabarkan akan dikerahkan kembali ke wilayah pendudukan Tepi Barat dalam waktu dekat untuk menggantikan pasukan cadangan.

Menurut data dari berbagai sumber Israel, sejak 7 Oktober 2023, sedikitnya 900 tentara dan perwira militer Israel telah tewas dalam pertempuran melawan kelompok perlawanan Palestina.

Sumber: PC

Israel Perluas Operasi Militer, Warga Gaza Tengah Dipaksa Mengungsi

GAZA (jurnalislam.com)– Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) menyebut perintah militer Israel yang memaksa warga dan pengungsi di wilayah Deir el-Balah untuk mengungsi ke selatan sebagai “pukulan telak lainnya” terhadap upaya kemanusiaan di Jalur Gaza yang telah porak-poranda akibat perang.

Dalam pernyataan resminya pada Ahad (20/7/2025), OCHA memperingatkan bahwa perintah evakuasi massal yang dikeluarkan militer Israel semakin melemahkan “jalur kehidupan yang sudah rapuh” bagi warga sipil Gaza.

“Lokasi-lokasi ini seperti halnya semua lokasi sipil harus dilindungi, terlepas dari perintah pengungsian,” tegas OCHA, seraya menambahkan bahwa kerusakan terhadap fasilitas kesehatan, infrastruktur air, dan gudang bantuan “akan mengakibatkan konsekuensi yang mengancam jiwa.”

Pada Ahad pagi, tentara Israel memerintahkan warga Gaza tengah untuk segera mengungsi karena akan dilakukan operasi militer. Ribuan keluarga pun terlihat meninggalkan rumah mereka dengan membawa barang seadanya, bergerak menuju wilayah selatan.

Menurut OCHA, sekitar 50.000 hingga 80.000 orang berada di wilayah yang terkena dampak saat perintah evakuasi diumumkan. PBB menyatakan bahwa staf kemanusiaan masih tetap berada di wilayah tersebut dan koordinat lokasi mereka telah dibagikan kepada pihak-pihak terkait untuk menjamin keselamatan.

OCHA menyatakan bahwa hampir seluruh penduduk Gaza kini telah mengungsi setidaknya satu kali sejak perang dimulai, menyusul serangkaian perintah evakuasi yang dikeluarkan militer Israel. Selain kehilangan tempat tinggal, mereka juga menghadapi kekurangan pangan yang semakin parah.

Perintah terbaru ini berarti 87,8 persen wilayah Gaza kini berada di bawah perintah evakuasi atau zona militer Israel.

“Sebanyak 2,1 juta warga sipil kini terjepit di 12 persen wilayah Jalur Gaza yang terfragmentasi, di mana layanan-layanan vital telah lumpuh,” ujar OCHA.

Perintah tersebut juga dinilai sangat membatasi kemampuan PBB dan mitra kemanusiaannya untuk bergerak dengan aman dan efektif di lapangan, sehingga menghambat distribusi bantuan saat sangat dibutuhkan.

Di hari yang sama, pemerintah Israel mencabut izin tinggal kepala kantor OCHA di negara itu, Jonathan Whittall, yang selama ini dikenal vokal dalam mengkritik kondisi kemanusiaan di Gaza.

Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan di Gaza, sedikitnya 58.895 warga Palestina sebagian besar adalah warga sipil telah tewas sejak agresi Israel dimulai. (Bahry)

Sumber: TNA

Puluhan Ribu Warga Maroko Demo Dukung Palestina, Desak Cabut Normalisasi dengan Israel

RABAT (jurnalislam.com)– Puluhan ribu warga Maroko turun ke jalan pada Ahad (20/7/2025) di ibu kota Rabat untuk mengecam kondisi kemanusiaan yang memburuk di Jalur Gaza. Mereka juga mendesak pemerintah Maroko membatalkan kesepakatan normalisasi hubungan dengan Israel.

Massa berkumpul di pusat kota Rabat, mengibarkan bendera Palestina dan membawa berbagai plakat bernada solidaritas. Mereka menyerukan pembukaan akses bantuan kemanusiaan ke wilayah yang terkepung tersebut.

“Sungguh memalukan, Gaza sedang diserang”, “Cabut blokade”, “Maroko, Palestina, satu bangsa”, dan “Tolak normalisasi”, demikian seruan yang diteriakkan para demonstran.

Aksi ini diselenggarakan atas inisiatif sejumlah organisasi, termasuk koalisi yang melibatkan gerakan Islam Al-Adl Wal-Ihssane serta partai-partai berhaluan kiri.

Perang yang berlangsung di Gaza telah menyebabkan krisis kemanusiaan parah bagi lebih dari dua juta warga. Sebagian besar penduduk terpaksa mengungsi lebih dari satu kali, sementara lembaga kemanusiaan dan para dokter terus melaporkan dampak fisik dan mental yang mengkhawatirkan akibat konflik yang telah berlangsung selama 21 bulan, termasuk meningkatnya kasus malnutrisi.

“Warga Palestina kelaparan dan dibunuh di depan mata seluruh dunia,” ujar Jamal Behar, salah satu peserta aksi di Rabat. “Adalah tugas kita untuk mengecam situasi dramatis dan tak tertahankan ini.”

Maroko dan Israel menandatangani perjanjian normalisasi hubungan pada tahun 2020 melalui mediasi Amerika Serikat. Namun, kesepakatan tersebut semakin menuai kecaman di tengah meningkatnya kekerasan di Gaza yang kini telah memasuki bulan ke-22. (Bahry)

Sumber: TNA

Pemerintah Suriah Umumkan Gencatan Senjata di Suwayda, Kelompok Badui Mundur

DAMASKUS (jurnalislam.com)– Pemerintah Suriah pada Sabtu (19/7/2025) mengumumkan penghentian bentrokan mematikan di Provinsi Suwayda, menyusul perintah langsung dari Presiden Ahmed al-Sharaa untuk melakukan pembersihan terhadap kelompok bersenjata Badui dan memberlakukan gencatan senjata.

Langkah ini dilakukan hanya beberapa jam setelah pasukan keamanan dikerahkan ke wilayah selatan yang tengah dilanda kekacauan. Pengumuman tersebut juga mengikuti kesepakatan terpisah yang ditengahi oleh Amerika Serikat guna mencegah eskalasi lebih lanjut, termasuk serangan udara Israel terhadap Suriah.

Sebelum pengumuman resmi, sejumlah laporan menyebutkan masih terdengar suara tembakan senapan mesin dan penembakan mortir di kota Suwayda serta desa-desa sekitarnya. Namun, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa dalam insiden terakhir tersebut.

Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Suriah, Nour al-Din Baba, mengatakan dalam pernyataan yang disiarkan kantor berita resmi SANA bahwa pertempuran berhasil dihentikan setelah “upaya intensif” untuk melaksanakan kesepakatan gencatan senjata dan pengerahan pasukan pemerintah ke wilayah utara dan barat Suwayda.

“Kota Suwayda kini telah dibersihkan dari seluruh pejuang suku, dan bentrokan di lingkungan kota telah berhenti,” ujar Baba.

𝗘𝗳𝗲𝗸 𝗗𝗼𝗺𝗶𝗻𝗼 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗲𝗻𝗰𝘂𝗹𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗼𝗽𝗶𝗿

Ketegangan memuncak sejak Ahad lalu (13/7), setelah penculikan seorang sopir truk asal Druze memicu serangkaian aksi balas dendam. Insiden itu mendorong pejuang bersenjata dari berbagai suku di seluruh negeri menuju Suwayda untuk mendukung komunitas Badui.

Bentrokan kemudian meluas, dan pasukan pemerintah Suriah terlibat langsung. Pada Rabu, Israel turut melancarkan serangan udara ke Suwayda dan Damaskus, dengan alasan untuk melindungi komunitas Druze yang menuduh pasukan pemerintah melakukan pelanggaran terhadap mereka.

Pasukan pemerintah Suriah sempat mundur dari Suwayda pada Kamis (18/7) sebagai respons atas ancaman Israel.

𝗞𝗼𝗿𝗯𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗗𝗮𝗺𝗽𝗮𝗸 𝗞𝗲𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮𝗮𝗻

Kementerian Kesehatan Suriah mencatat setidaknya 260 orang tewas dan lebih dari 1.700 orang terluka dalam bentrokan tersebut. Namun, laporan dari kelompok pemantau independen menyebutkan jumlah korban jiwa melebihi 900 orang. Selain itu, lebih dari 87.000 warga dilaporkan telah mengungsi dari wilayah konflik.

Pertempuran ini menjadi tantangan besar bagi pemerintahan Presiden Ahmed al-Sharaa, yang baru mengambil alih kekuasaan setelah menggulingkan Bashar al-Assad pada Desember lalu.

Dalam pidatonya yang disiarkan televisi pada Sabtu, Presiden al-Sharaa menyerukan kepada semua pihak untuk menghentikan pertempuran dan bekerja sama dengan pemerintah dalam memulihkan perdamaian.

“Meskipun kami menghargai keberanian klan Badui, kami menyerukan kepada mereka untuk menghormati gencatan senjata dan mematuhi perintah negara,” tegasnya. “Saat ini, kita memerlukan persatuan dan kerja sama untuk melindungi negara dari intervensi asing dan provokasi internal.”

Al-Sharaa juga mengecam serangan Israel, menyebutnya sebagai tindakan yang “mendorong Suriah ke fase berbahaya yang mengancam stabilitas nasional.”

𝗞𝗲𝗹𝗼𝗺𝗽𝗼𝗸 𝗕𝗮𝗱𝘂𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗗𝗿𝘂𝘇𝗲 𝗦𝗲𝗽𝗮𝗸𝗮𝘁 𝗠𝘂𝗻𝗱𝘂𝗿

Setelah pernyataan Presiden, pemerintah mulai mengerahkan pasukan ke Suwayda. Kelompok Badui kemudian mengumumkan kesediaan mereka untuk mundur dari kota dan menghormati gencatan senjata.

“Setelah berkonsultasi dengan para pemimpin klan dan suku, kami sepakat untuk mengutamakan akal sehat, menahan diri, dan memberi ruang bagi negara untuk menjalankan tugasnya memulihkan keamanan dan stabilitas,” demikian pernyataan faksi-faksi Badui. “Dengan ini, kami menyatakan bahwa semua pejuang telah ditarik dari kota Suwayda.”

Jurnalis Al Jazeera, Mohamed Vall, melaporkan dari Damaskus bahwa komunitas Druze juga tampaknya menerima kesepakatan gencatan senjata. Ia menyebutkan bahwa Sheikh Hikmat al-Hijri, salah satu pemimpin spiritual Druze, telah menyerukan pengawalan aman bagi pejuang Badui untuk meninggalkan kota.

“Pasukan keamanan dari Kementerian Dalam Negeri telah dikerahkan untuk memisahkan kelompok-kelompok yang bertikai dan mengawasi implementasi gencatan senjata,” ujar Vall.

Namun, ia juga mencatat masih adanya laporan pertempuran sporadis dan penolakan dari sejumlah pemimpin Druze terhadap penghentian permusuhan.

“Meski harapan untuk damai mulai tumbuh, ada kekhawatiran bahwa konflik ini belum sepenuhnya berakhir,” tambah Vall. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Rumah Sakit di Suwayda Kolaps, Jenazah Berhamburan di Jalanan: “Ini Bukan Lagi Rumah Sakit, Tapi Kuburan Massal”

SURIAH (jurnalislam.com)– Rumah sakit pemerintah terakhir yang masih beroperasi di Suwayda, Suriah selatan, kini berada di ambang kolaps di tengah kekerasan yang telah melanda kota mayoritas Druze tersebut selama hampir sepekan. Jenazah dilaporkan berhamburan di luar kamar jenazah dan lorong-lorong rumah sakit, sementara fasilitas medis nyaris lumpuh total.

“Ini bukan rumah sakit lagi, ini kuburan massal,” ujar Rouba, seorang tenaga medis di rumah sakit tersebut, sambil menangis dan memohon bantuan internasional.

Dr. Omar Obeid, Ketua Divisi Suwayda di Ordo Dokter Suriah, mengatakan bahwa rumah sakit telah menerima lebih dari 400 jenazah sejak Senin (14/7), termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia.

“Tidak ada lagi ruang di kamar mayat. Jenazah-jenazah berserakan di jalan di depan rumah sakit,” tuturnya.

Bentrokan di kota itu bermula pada Ahad malam (13/7), ketika milisi Druze terlibat konflik bersenjata dengan kelompok suku Badui lokal. Pemerintah Suriah kemudian mengerahkan pasukannya pada Selasa dalam upaya meredam kekerasan. Namun, menurut kesaksian warga, organisasi hak asasi manusia, dan kelompok Druze, kehadiran pasukan pemerintah justru diwarnai dugaan pelanggaran berat terhadap komunitas minoritas tersebut.

Pasukan pemerintah akhirnya mundur dari Suwayda pada Kamis, menyusul ancaman dari Israel yang telah menyatakan komitmennya untuk melindungi komunitas Druze.

Situasi di rumah sakit semakin mengerikan. Seorang koresponden AFP melaporkan bahwa bau busuk mayat memenuhi seluruh lorong rumah sakit. Banyak jenazah telah membusuk hingga sulit dikenali. Tenaga medis yang tersisa hanya berjumlah sembilan orang dan bekerja tanpa henti merawat korban luka yang terus berdatangan.

“Situasinya sangat buruk. Kami tidak punya air, tidak ada listrik, dan pasokan obat-obatan mulai habis,” kata Rouba.

“Ada orang-orang yang terluka di rumah mereka selama tiga hari dan kami tak mampu menyelamatkan mereka.”

Ia menambahkan, “Jenazah-jenazah tergeletak di jalan dan tak ada yang berani mengambilnya. Kemarin, lima mobil besar yang membawa jenazah datang ke rumah sakit. Ada perempuan, anak-anak, bahkan korban yang tidak dapat diidentifikasi, dengan lengan dan kaki yang terpotong.”

Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Jumat menyerukan diakhirinya kekerasan dan mendesak dilakukannya investigasi yang independen, cepat, dan transparan terhadap seluruh pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi.

Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, kekerasan yang meletus sejak Ahad telah menewaskan hampir 600 orang.

Dr. Obeid juga menyampaikan bahwa tiga rekan sejawatnya tewas dalam konflik tersebut. Salah satunya ditembak mati di rumahnya di depan keluarganya, seorang lainnya dibunuh dari jarak dekat di mobilnya saat melintasi pos pemeriksaan. Sementara itu, seorang ahli bedah bernama Talaat Amer tewas di dalam rumah sakit pada Selasa, ketika tengah mengenakan pakaian operasi.

“Mereka menembaknya di kepala saat ia bersiap menjalankan tugasnya,” kata Obeid.

“Lalu mereka menelepon istrinya dan berkata: suamimu memakai topi bedah sekarang warnanya merah.” (Bahry)

Sumber: TNA