Berita Terkini

Korban Tewas di Suwayda Suriah Capai 400 Orang, Bentrokan Meluas hingga Serangan Udara Israel

SURIAH (jurnalislam.com)– Jumlah korban tewas akibat bentrokan yang terjadi sejak Ahad (13/7/2025) di kota Suwayda, Suriah selatan, telah mencapai sedikitnya 400 orang hingga Jumat (18/7), menurut laporan terbaru dari berbagai sumber lokal dan organisasi hak asasi manusia.

Pertempuran terjadi antara pendukung tokoh agama Druze, Sheikh Hikmat al-Hijri, dengan pasukan pemerintah Suriah dan kelompok bersenjata dari suku Badui. Bentrokan ini diperparah oleh serangan udara Israel yang mengklaim memberikan dukungan kepada komunitas Druze.

Seorang dokter di Rumah Sakit Umum Suwayda, Omar Obeid, menyatakan kepada AFP bahwa fasilitas medis tersebut telah menerima lebih dari 400 jenazah sejak Senin pagi.

“Termasuk di antaranya perempuan dan anak-anak,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kamar jenazah rumah sakit telah penuh, sehingga banyak jenazah tergeletak di jalan di depan rumah sakit.

Jaringan Hak Asasi Manusia Suriah (SNHR) juga merilis laporan yang menyebutkan sedikitnya 321 warga Suriah tewas, termasuk enam anak-anak dan sembilan perempuan. Lebih dari 436 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.

Korban tewas mencakup warga sipil — termasuk anak-anak, perempuan, dan tenaga medis — serta pejuang bersenjata dari suku Badui, warga lokal yang tidak berada di bawah kendali pemerintah, serta anggota militer dan pasukan keamanan Suriah. SNHR menekankan bahwa angka tersebut masih bersifat estimasi awal, dan proses identifikasi korban serta pelaku kekerasan masih berlangsung.

Sementara itu, beberapa sumber lokal memperkirakan jumlah korban jiwa bisa mencapai lebih dari 600 orang.

Kerusuhan ini menyoroti tantangan besar yang dihadapi oleh pemerintah Suriah dalam menjaga stabilitas di tengah ketegangan antar-komunitas dan eskalasi militer dari luar negeri, termasuk serangan udara Israel.

Menteri Darurat dan Penanggulangan Bencana Suriah, Raed Al-Saleh, pada Jumat mengumumkan pembentukan ruang operasi gabungan untuk merespons situasi kemanusiaan di wilayah terdampak.

Dalam pernyataan video pada Kamis pagi, Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa menegaskan bahwa perlindungan terhadap hak-hak komunitas Druze merupakan prioritas pemerintahnya. Ia menyalahkan “kelompok-kelompok terlarang” atas upaya provokasi dan kekerasan terhadap warga sipil, serta berjanji akan menindak tegas pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pelanggaran tersebut. (Bahry)

Sumber: TNA

PBB Desak Israel Hentikan Serangan di Gaza: Skala Kehancuran “Tidak Dapat Diterima”

GAZA (jurnalislam.com)– Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali mendesak Israel untuk menghentikan serangan mematikan yang masih berlangsung di Jalur Gaza. PBB memperingatkan bahwa skala kehancuran saat ini “tidak dapat diterima” dan menimbulkan penderitaan besar bagi warga sipil.

“Kami telah memperingatkan bahwa tidak dapat diterima bahwa begitu banyak bangunan telah hancur, begitu banyak orang kehilangan rumah mereka, dan terpaksa mengungsi—bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali selama dua tahun terakhir,” ujar juru bicara PBB, Farhan Haq, dalam konferensi pers pada Jumat (18/7/2025).

Menurut Haq, PBB terus memantau kerusakan luas di seluruh Gaza sejak agresi dimulai pada Oktober 2023, menggunakan data citra satelit dari UNOSAT.

“Kami terus meminta otoritas Israel untuk menghindari kerusakan besar seperti yang telah terjadi sejak Oktober 2023. Kami sekali lagi menyerukan gencatan senjata segera,” tegasnya.

𝗕𝗮𝗻𝘁𝘂𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮𝗮𝗻 𝗗𝗶𝗵𝗮𝗺𝗯𝗮𝘁

Haq juga menyoroti pembatasan Israel terhadap operasi kemanusiaan di wilayah tersebut. Ia menyebut bahwa pada hari sebelumnya, dari 13 upaya koordinasi pergerakan pekerja bantuan dan distribusi pasokan yang diajukan ke otoritas Israel, hanya tujuh misi yang difasilitasi.

Misi yang diizinkan memungkinkan pengiriman bahan bakar, air bersih, generator, perlengkapan kebersihan, dan bantuan medis ke wilayah-wilayah terdampak.

Namun, kata Haq, enam misi lainnya ditolak mentah-mentah, atau semula disetujui namun kemudian mengalami hambatan di lapangan, sehingga tidak bisa dilaksanakan.

Agresi militer Israel yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan hampir 58.600 warga Palestina, mayoritas di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. Serangan tanpa henti itu juga menyebabkan kehancuran masif infrastruktur sipil dan krisis kemanusiaan yang mendalam.

𝗡𝗲𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗵𝘂 𝗗𝗶𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗣𝗿𝗼𝘀𝗲𝘀 𝗛𝘂𝗸𝘂𝗺 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹

Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant, atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Selain itu, Israel juga sedang menghadapi gugatan kasus genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas tindakannya di wilayah kantong yang diblokade tersebut. (Bahry)

Sumber: TRT

Hari ke-650 Perang, Israel Hancurkan 88 Persen Wilayah Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Israel telah menghancurkan lebih dari 88 persen wilayah Gaza dan menggusur sekitar dua juta warga Palestina sejak melancarkan agresi militernya pada 7 Oktober 2023. Hal ini diungkap dalam laporan statistik yang dirilis Kantor Media Pemerintah di Gaza pada Jumat (18/7/2025), bertepatan dengan hari ke-650 perang.

Dalam laporan tersebut, diperkirakan Israel telah menjatuhkan lebih dari 125.000 ton bahan peledak di wilayah kantong Palestina itu. Kerugian material akibat serangan itu ditaksir mencapai lebih dari 62 miliar dolar AS (sekitar Rp1.010 triliun).

Serangan brutal ini telah menyebabkan “evakuasi paksa terhadap dua juta warga sipil” dan pendudukan 77 persen dari total luas wilayah Gaza yang mencapai 360 kilometer persegi.

𝗥𝗶𝗯𝘂𝗮𝗻 𝗞𝗼𝗿𝗯𝗮𝗻 𝗝𝗶𝘄𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗛𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴

Jumlah korban jiwa dan orang hilang akibat agresi tersebut dilaporkan mencapai 67.880 orang. Angka ini mencakup lebih dari 19.000 anak-anak dan 12.500 perempuan, termasuk 8.150 ibu dan 953 bayi.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat jumlah korban tewas resmi mencapai 58.667 orang. Perbedaan data ini disebabkan oleh banyaknya korban yang masih tertimbun reruntuhan dan belum ditemukan.

Kantor Media juga menyebutkan sekitar 9.500 warga Palestina masih hilang di bawah reruntuhan. Selain itu, Israel dilaporkan telah membunuh 1.590 tenaga medis, 228 jurnalis, dan 777 staf bantuan kemanusiaan.

Sebanyak 2.613 keluarga Palestina dilaporkan telah terhapus dari catatan sipil. Setidaknya 68 anak meninggal akibat malnutrisi dan 17 lainnya akibat cuaca dingin di kamp-kamp pengungsian.

𝗞𝗲𝗵𝗮𝗻𝗰𝘂𝗿𝗮𝗻 𝗙𝗮𝘀𝗶𝗹𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝗜𝗻𝗳𝗿𝗮𝘀𝘁𝗿𝘂𝗸𝘁𝘂𝗿

Serangan Israel juga menghancurkan 38 rumah sakit, 96 pusat layanan kesehatan primer, dan menargetkan 144 ambulans. Sebanyak 156 sekolah hancur total dan 382 lainnya mengalami kerusakan parah.

Tak hanya itu, 833 masjid, tiga gereja, dan 40 pemakaman juga menjadi sasaran serangan. Israel bahkan dituduh mencuri 2.420 jenazah dari pemakaman dan membangun tujuh kuburan massal di dalam rumah sakit selama agresi berlangsung.

Sebanyak 288.000 keluarga kehilangan tempat tinggal, menyusul kehancuran 223.000 unit rumah dan rusaknya 130.000 unit lainnya. Tak kurang dari 261 pusat penampungan juga diserang.

𝗞𝗿𝗶𝘀𝗶𝘀 𝗞𝗲𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗹𝗮𝗽𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗦𝗶𝘀𝘁𝗲𝗺𝗮𝘁𝗶𝘀

Sebagai bagian dari kampanye kelaparan sistematis, laporan menyebut pasukan Israel menyerang titik distribusi bantuan kemanusiaan, menewaskan 877 warga sipil dan melukai 5.666 lainnya.

Selama lebih dari 139 hari berturut-turut, Israel juga dilaporkan mencegah masuknya puluhan ribu truk bantuan ke Gaza. Sementara itu, sektor pertanian menderita kerugian sebesar 2,2 miliar dolar AS (sekitar Rp35,9 triliun) akibat kehancuran 92 persen lahan subur.

Infrastruktur utama seperti pasokan air, listrik, sanitasi, hingga situs arkeologi mengalami kerusakan besar-besaran. Hingga kini, lebih dari dua juta warga Gaza menderita penyakit menular di zona pengungsian, termasuk 71.000 kasus hepatitis. Sebanyak 44.500 anak kehilangan setidaknya satu orang tua.

𝗣𝗲𝗹𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗛𝗔𝗠 𝗱𝗮𝗻 𝗞𝗮𝘀𝘂𝘀 𝗚𝗲𝗻𝗼𝘀𝗶𝗱𝗮

Kantor Media Gaza juga melaporkan penangkapan terhadap 6.633 warga sipil, termasuk 362 tenaga medis, 48 jurnalis, dan 26 anggota pertahanan sipil.

Agresi militer Israel ini terus menuai kecaman dunia internasional. Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Israel juga tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas tindakan militernya yang dianggap sistematis dan melanggar hukum internasional. (Bahry)

Sumber: TRT

Serangkaian Serangan di Jabalia, Al-Qassam Klaim Lumpuhkan Tank dan Tentara Israel

GAZA (jurnalislam.com)– Brigade Al-Qassam, sayap militer Gerakan Hamas, mengklaim telah melancarkan serangkaian serangan mematikan terhadap pasukan dan kendaraan militer Israel di utara Jalur Gaza, khususnya di wilayah Jabalia. Aksi-aksi tersebut disebut sebagai bagian dari operasi yang mereka namai “Batu Daud.”

Dalam laporan resmi yang dirilis melalui kanal Telegram Hamas, Al-Qassam menyebut bahwa pada 23 Juni 2025, pejuang mereka berhasil menyergap pasukan Israel dari jarak dekat di timur Jabalia, menewaskan tiga tentara Zionis.

Kemudian pada 12 Juli 2025, dua kendaraan tempur Israel menjadi sasaran dalam sebuah operasi pengorbanan diri di daerah Al-Omari, Jabalia tengah. Brigade Al-Qassam menyatakan bahwa kendaraan tempur jenis Merkava dihantam dengan rudal tandem 85 mm, sementara kendaraan kedua dihancurkan menggunakan alat peledak berdaya ledak tinggi.

Dalam pengumuman lanjutan, Al-Qassam menyampaikan bahwa pada 14 Juli 2025, sebuah buldoser militer D9 milik Israel dihantam ranjau darat berkekuatan tinggi di dekat Sekolah Erbakan, kota Jabalia.

Masih pada hari yang sama, mereka mengklaim telah menargetkan dua tank Merkava Israel dengan bom darat berdaya ledak tinggi di Jalan Al-Dabour dan Jalan Gaza Lama. Brigade Al-Qassam juga menyebut adanya pendaratan helikopter militer Israel untuk evakuasi korban dari lokasi tersebut.

Pada 15 Juli 2025, sebuah tank Merkava dilaporkan menjadi sasaran bom darat di sekitar Klub Namaa, Jabalia. Sementara pada 16 Juli 2025, Al-Qassam meluncurkan rudal anti-tank Yasin 105 ke arah tank Merkava yang berada di sekitar Masjid Omari.

Rangkaian serangan itu berlanjut pada 17 Juli 2025, saat sebuah tank Merkava kembali dihantam ranjau darat di dekat Masjid Omari, menandai intensitas serangan yang terus berulang di kawasan tersebut.

Hingga kini, militer Israel belum mengeluarkan pernyataan resmi untuk mengonfirmasi atau membantah klaim-klaim tersebut. Namun, Brigade Al-Qassam menegaskan bahwa operasi “Batu Daud” akan terus berlanjut hingga “seluruh agresi dan pendudukan dihentikan sepenuhnya.”

Dalam pidatonya pada Jumat (18/7), Juru Bicara Brigade Al-Qassam, Abu Ubaidah, menegaskan bahwa perlawanan telah memberikan tekanan besar terhadap pasukan Israel, baik secara fisik maupun mental.

“Selama beberapa bulan ini, kita telah membunuh dan melukai ratusan tentara musuh, dan ribuan lainnya menderita penyakit psikologis dan trauma. Jumlah tentara musuh yang bunuh diri meningkat karena tindakan mengerikan dan berdarah yang mereka lakukan, dan besarnya perlawanan yang mereka hadapi, ditemani oleh Allah dan para prajurit-Nya,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa para mujahidin terus berinovasi dalam medan tempur.

“Mujahidin kita mengejutkan musuh dengan taktik dan metode yang baru dan beragam, setelah belajar dari perang dan konfrontasi terpanjang dalam sejarah bangsa kita. Mujahidin kita telah melaksanakan operasi-operasi heroik yang unik dan terus menargetkan kendaraan dengan peluru dan alat peledak, berhadapan langsung dengan musuh, menembaki tentara dan perwiranya, meledakkan bangunan, terowongan, dan penyergapan yang kompleks, serta menyerang pasukan musuh,” tegas Abu Ubaidah. (Bahry)

Trump: Sepuluh Sandera Akan Segera Dibebaskan dari Gaza

WASHINGTON (jurnalislam.com)- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Jumat (18/7/2025) menyatakan bahwa sepuluh sandera tambahan akan segera dibebaskan dari Gaza. Namun, ia tidak memberikan rincian lebih lanjut terkait waktu maupun identitas para sandera tersebut.

Pernyataan itu ia sampaikan saat menghadiri jamuan makan malam bersama para anggota parlemen di Gedung Putih. Dalam kesempatan itu, Trump memuji kerja keras utusan khususnya, Steve Witkoff, dalam upaya mediasi pembebasan sandera.

“Kami telah berhasil memulangkan sebagian besar sandera. Kami akan segera membebaskan 10 sandera lagi, dan kami berharap dapat menyelesaikannya dengan cepat,” ujar Trump.

Saat ini, negosiator dari Israel dan Hamas tengah melangsungkan putaran terbaru perundingan gencatan senjata di Doha, Qatar, yang telah berlangsung sejak 6 Juli. Perundingan tersebut membahas proposal gencatan senjata selama 60 hari yang didukung oleh Amerika Serikat.

Proposal itu mencakup pembebasan 10 tawanan yang masih berada di Gaza, beserta pengembalian jenazah 18 orang lainnya, secara bertahap selama masa gencatan senjata. Sebagai gantinya, Israel akan membebaskan sejumlah warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara mereka.

Seorang juru bicara sayap bersenjata Hamas pada Jumat mengatakan bahwa kelompoknya mendukung tercapainya gencatan senjata sementara dalam perang Gaza. Namun, ia menegaskan bahwa Hamas dapat kembali menuntut kesepakatan paket penuh apabila negosiasi saat ini tidak menghasilkan kesepakatan final.

Perang yang telah berlangsung selama lebih dari 21 bulan itu telah menewaskan lebih dari 58.600 warga Palestina, mayoritas adalah warga sipil, menurut otoritas kesehatan di Jalur Gaza.

Upaya untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera terus dilakukan di tengah tekanan internasional dan memburuknya kondisi kemanusiaan di wilayah Gaza. (Bahry)

Sumber: TNA

Brigade Al-Qassam: Tawanan Israel Tak Akan Bebas Tanpa Gencatan Senjata dan Pertukaran Seimbang

GAZA (jurnalislam.com)– Juru bicara Brigade Izzuddin Al-Qassam, Abu Ubaidah, menegaskan bahwa satu-satunya jalan bagi Israel untuk membebaskan warganya yang ditawan di Gaza adalah melalui kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tawanan yang adil.

Pernyataan itu disampaikan dalam pidato resmi yang disiarkan Jumat (18/7/2025), tepat 21 bulan sejak dimulainya agresi Israel ke Jalur Gaza.

“Jika kalian ingin tawanan kalian kembali, satu-satunya cara adalah menghentikan perang secara menyeluruh dan melakukan pertukaran yang adil,” tegas Abu Ubaidah.

Ia juga membantah klaim Israel bahwa pihaknya tidak lagi menguasai para tawanan, dan mengungkap bahwa jumlah tawanan yang tewas akibat serangan udara Israel sendiri jauh lebih banyak dari yang diakui.

“Jumlah tawanan kalian yang gugur akibat pengeboman kalian sendiri lebih banyak dari yang kalian bayangkan. Beberapa hari lalu, serangan kalian membunuh sejumlah dari mereka. Kalian akan tahu rinciannya nanti,” ujarnya.

Abu Ubaidah mengatakan, para tawanan Israel yang masih hidup dirawat oleh para pejuang Al-Qassam meskipun Gaza berada dalam kondisi kehancuran.

“Kami memiliki sejumlah besar tawanan, terutama dari kalangan militer. Kami tetap menjamin perlakuan terhadap mereka, meskipun Gaza dibombardir dan dihancurkan setiap hari.”

Dalam pidato tersebut, ia juga menuduh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah mengorbankan para tawanan demi kepentingan kekuasaan politiknya.

“Netanyahu tidak hanya mengabaikan nasib mereka, dia bahkan sengaja membiarkan mereka terbunuh. Dia menjual ilusi kepada rakyatnya dan menjerumuskan mereka ke dalam kubangan kebohongan.”

Abu Ubaidah menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa rakyat Palestina dan kelompok perlawanan tidak akan menyerah, dan bahwa Israel tidak akan meraih kemenangan atau keamanan di tanah yang mereka jajah.

“Kami bersumpah demi darah syuhada, Gaza tidak akan menjadi kuburan bagi rakyat kami. Sebaliknya, Gaza akan menjadi kutukan bagi para penjajah. Kalian tidak akan pernah bisa keluar dari rawa perlawanan, kecuali dalam keadaan kalah dan terhina.” pungkasnya.

Abu Ubaidah: Perlawanan Kami Akan Terus Berlanjut hingga Zionis Angkat Kaki dari Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Juru bicara Brigade Izzuddin Al-Qassam, Abu Ubaidah, menegaskan bahwa perlawanan terhadap penjajah Zionis Israel akan terus berlanjut, meski wilayah Gaza hancur total akibat agresi brutal zionis.

Pernyataan ini disampaikan dalam pidatonya yang disiarkan pada Jumat (18/7/2025), bertepatan dengan 21 bulan serangan Israel ke Jalur Gaza. Dalam pidato tersebut, Abu Ubaidah menegaskan bahwa kekuatan pendudukan tidak akan mampu memaksakan syarat-syaratnya kepada rakyat dan kelompok perlawanan.

“Kalian tidak akan pernah bisa mendiktekan syarat-syarat kalian kepada kami. Tak satu pun dari syarat kalian akan terpenuhi,” tegas Abu Ubaidah.

Ia juga mengatakan bahwa tentara Israel telah kehilangan kemampuan untuk melindungi diri, apalagi memenangkan perang.

“Kami menyatakan kepada kalian dan kepada dunia bahwa kalian telah kehilangan kemampuan untuk menang, bahkan sekadar untuk bertahan.”

Menurutnya, kekuatan Israel telah mengalami kebangkrutan militer, keamanan, politik, dan moral, serta menderita trauma kolektif akibat kegagalan di medan tempur.

“Hari ini, kami berada dalam kondisi yang jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Kami menyalakan api di bawah kaki para penjajah. Mereka tidak akan pernah menikmati rasa aman, bahkan untuk sesaat,” ujarnya.

Abu Ubaidah juga mengecam keras rencana pendudukan untuk mendirikan zona penyangga di perbatasan Gaza, dengan menyebutnya sebagai “ilusi belaka.”

“Zona penyangga yang kalian bangun akan menjadi zona pembantaian, kuburan dan kehinaan bagi kalian.”

Ia mengingatkan bahwa penjajah tak akan mampu memisahkan Gaza dari Tepi Barat dan Al-Quds, apalagi memaksakan normalisasi atas bangsa Palestina.

“Kalian tidak akan mampu melenyapkan perlawanan, bahkan jika kalian menghancurkan Gaza berkeping-keping.”

Pernyataan Abu Ubaidah tersebut menegaskan bahwa konflik di Gaza belum menunjukkan tanda-tanda mereda, seiring meningkatnya tekanan internasional terhadap Israel dan terus menguatnya dukungan moral terhadap perjuangan rakyat Palestina dari berbagai belahan dunia.

AS dan Saudi Semakin Mesra, Gelar Latihan Gabungan Jaga Keamanan Laut Merah

ARAB SAUDI (jurnalislam.com)- Amerika Serikat dan Arab Saudi telah menyelesaikan fase terakhir dari serangkaian latihan keamanan maritim gabungan, menandai langkah strategis dalam mempererat kemitraan militer kedua negara.

Latihan bertajuk Marine Defender 25 itu melibatkan Angkatan Laut Kerajaan Saudi dan Armada Kelima Komando Pusat AS (CENTCOM), yang dipimpin oleh Angkatan Laut AS. Latihan ini mencakup berbagai skenario operasi, mulai dari penanggulangan ranjau, pelatihan penjinakan bahan peledak, integrasi sistem nirawak, hingga latihan tempur perkotaan dan patroli maritim gabungan.

“Latihan ini menunjukkan kekuatan kerja sama bilateral serta kapabilitas mutakhir dalam peperangan modern,” demikian pernyataan CENTCOM.

Kegiatan berlangsung selama sepekan di Jubail, wilayah timur Arab Saudi yang berbatasan langsung dengan Teluk Arab. Serangkaian kegiatan terkoordinasi dilakukan, seperti inspeksi kapal, pengoperasian kendaraan jarak jauh, pelatihan penanggulangan ranjau darat, serta pemanfaatan teknologi nirawak generasi terbaru. Puncaknya adalah pembentukan formasi angkatan laut gabungan yang mengintegrasikan aset militer AS dan Arab Saudi.

“Latihan militer-ke-militer ini menggarisbawahi komitmen bersama kami terhadap stabilitas kawasan, kesiapan operasional, serta kemitraan pertahanan jangka panjang antara Amerika Serikat dan Kerajaan Arab Saudi,” ujar Dave Eastburn, juru bicara senior CENTCOM, kepada Al Arabiya English pada Jumat (18/7).

Ketika ditanya mengenai tujuan latihan, Eastburn menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan efektivitas operasional di lingkungan yang belum dikenal serta memperkuat interoperabilitas antarnegara mitra. Ia menambahkan, CENTCOM tetap berkomitmen memperdalam pemahaman bersama, membagikan taktik, teknik, dan prosedur, serta mempertahankan kesiapsiagaan pasukan untuk menghadapi ancaman bersama.

“Bekerja sama dengan mitra regional utama seperti Kerajaan Arab Saudi merupakan peluang berharga untuk memperkuat keamanan kawasan,” tegasnya.

Sebelumnya pada awal tahun ini, kedua negara juga menggelar latihan besar bertajuk Nautical Defender 25 di lokasi yang sama, yang bertujuan meningkatkan koordinasi keamanan maritim dan interoperabilitas militer.

Latihan Marine Defender 25 digelar tidak lama setelah kunjungan Jenderal Erik Kurilla, Kepala CENTCOM, ke Arab Saudi. Dalam kunjungan tersebut, ia bertemu dengan Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Saudi, Jenderal Fayyad bin Hamed Al-Ruwaili, dan menyaksikan pencapaian operasional penuh baterai pertahanan udara Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) pertama milik Kerajaan.

Sementara itu, pada Kamis lalu, diplomat tertinggi AS juga mengadakan pembicaraan dengan mitranya dari Saudi mengenai upaya bersama untuk menstabilkan kawasan. Menurut Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Tammy Bruce, kedua belah pihak turut membahas kerja sama dalam menjaga keamanan Laut Merah serta memperkuat hubungan strategis AS-Saudi yang terus berlangsung.

Latihan ini juga menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Laut Merah, yang belakangan diblokade oleh kelompok Houthi di Yaman. Aksi tersebut telah mengganggu jalur pelayaran internasional dan memicu kekhawatiran global terkait keamanan maritim. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

Blokade Houthi Efektif, Pelabuhan Eilat Israel Bangkrut dan Resmi Tutup Mulai Ahad

PALESTINA (jurnalislam.com)- Pelabuhan Eilat, pelabuhan paling selatan Israel yang terletak di Laut Merah, dilaporkan akan menghentikan seluruh operasinya mulai Ahad (21/7/2025), setelah gagal membayar utang dan mengalami krisis keuangan akibat blokade yang diberlakukan oleh kelompok Houthi Yaman.

Menurut laporan Channel 12 Israel, Pemerintah Kota Eilat telah membekukan rekening bank milik pelabuhan dengan nilai sekitar 10 juta shekel atau sekitar Rp42 miliar. Dana tersebut merupakan tunggakan utang pelabuhan kepada pemerintah kota yang tidak dapat dibayarkan karena penurunan pendapatan yang sangat tajam.

Pendapatan Pelabuhan Eilat anjlok drastis pada tahun 2024 menjadi hanya 42 juta shekel atau sekitar Rp176 miliar, turun hampir 80 persen dibandingkan tahun 2023 yang mencatat pendapatan sebesar 212 juta shekel atau sekitar Rp888 miliar. Penurunan ini terjadi setelah pengalihan rute pengiriman kapal menuju pelabuhan di Mediterania seperti Ashdod dan Haifa.

“Menyusul penutupan Pelabuhan Eilat dari operasi reguler dan krisis keuangan yang dialaminya akibat konflik yang sedang berlangsung, Pemerintah Kota Eilat memberi tahu manajemen pelabuhan tentang penyitaan semua rekening banknya karena utang kepada pemerintah kota,” demikian pernyataan Otoritas Pelabuhan dan Pengiriman Israel yang dikutip oleh The New Arab, Kamis (17/7).

“Sebagai konsekuensinya, pemberitahuan telah diterima dari Otoritas Pengiriman dan Pelabuhan bahwa Pelabuhan Eilat diperkirakan akan ditutup dan menghentikan seluruh aktivitasnya mulai Minggu mendatang,” lanjut pernyataan tersebut.

Pelabuhan Eilat selama ini merupakan salah satu jalur penting perdagangan Israel, menghubungkan rute dari Terusan Suez Mesir serta menjadi lokasi strategis jaringan pipa Eilat-Ashkelon yang mengalirkan minyak mentah ke Laut Mediterania.

Namun sejak November 2023, kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran telah meluncurkan berbagai serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke kapal-kapal yang terafiliasi dengan Israel sebagai bentuk dukungan terhadap rakyat Palestina dan kecaman terhadap genosida Israel di Gaza.

Pada Rabu (16/7), kelompok Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan drone ganda yang menghantam Pelabuhan Eilat dan satu lokasi militer di wilayah Negev, dan menyebutnya sebagai “operasi simultan yang sukses.”

Hingga berita ini ditulis, Pemerintah Israel belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait rencana penutupan permanen Pelabuhan Eilat. (Bahry)

Sumber: TNA

Setelah 90 Serangan Udara di Suriah, Netanyahu Umumkan Gencatan Senjata

DAMASKUS (jurnalislam.com)— Para diplomat Barat dilaporkan berada hanya beberapa meter dari kompleks Kementerian Pertahanan Suriah saat serangan udara besar-besaran Israel mengguncang ibu kota Damaskus pada Rabu (16/7/2025). Informasi ini diungkap oleh dua sumber yang mengetahui insiden tersebut serta sejumlah saksi mata yang berbicara kepada kantor berita Reuters.

Para diplomat yang tengah melintas dengan kendaraan lapis baja dilaporkan tetap melanjutkan perjalanan mereka setelah beberapa rudal menghantam area sekitar Kementerian Pertahanan. Identitas serta jumlah diplomat tidak diungkapkan demi alasan keamanan.

Di tengah meningkatnya ketegangan, kantor berita Anadolu asal Turki pada Kamis (17/7) melaporkan bahwa Ankara memainkan peran penting dalam menengahi gencatan senjata di wilayah Sweida pada hari yang sama. Menurut sumber keamanan Turki, pihak intelijen negara tersebut mengadakan pembicaraan intensif dengan para pejabat dari Amerika Serikat, Suriah, dan Israel guna meredakan situasi. Kepala intelijen Turki disebut aktif terlibat dalam proses diplomasi tersebut.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merilis pernyataan resmi melalui sebuah video pada Kamis, menjelaskan tujuan dan dampak serangan Israel terhadap Suriah. Ia menyatakan bahwa Damaskus telah melanggar dua “garis merah” Israel: yakni pemerintah Suriah mengirim pasukan ke zona demiliterisasi selatan Damaskus dan menyerang warga Druze di wilayah Pegunungan Druze.

“Kami memiliki kebijakan yang jelas: demiliterisasi wilayah selatan Damaskus dari Dataran Tinggi Golan hingga Pegunungan Druze serta perlindungan atas saudara-saudara kami dari kaum Druze,” ujar Netanyahu.

“Karena rezim Damaskus melanggar itu, saya menginstruksikan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) untuk merespons dengan tegas. Angkatan Udara kami menghantam regu-regu pembunuh dan kendaraan lapis baja mereka. Saya juga memerintahkan serangan langsung ke Damaskus termasuk Kementerian Pertahanan.”

Netanyahu menambahkan bahwa gencatan senjata berhasil dicapai usai serangan besar-besaran tersebut, menyebutnya sebagai “perdamaian melalui kekuatan.”

Selain menghantam Kementerian Pertahanan, IDF juga dilaporkan menargetkan pintu masuk utama kompleks militer Suriah di Damaskus. Media Suriah menyebut dua serangan tambahan menyasar bangunan strategis di sekitar Lapangan Umayyah, yang diketahui sebagai pusat penting militer Suriah. Sebuah saluran televisi setempat menggambarkan serangan itu menciptakan “cincin api” di sekitar markas militer.

Laporan juga muncul terkait serangan di area belakang Istana Rakyat, kediaman resmi Presiden Suriah, Ahmad al-Sharaa.

Menurut pernyataan militer Israel, sekitar 90 serangan udara dilancarkan di berbagai wilayah Suriah. Lebih dari 100 rudal dan bom dijatuhkan oleh jet tempur dan drone, menyasar kendaraan tempur, tank, dan kendaraan lapis baja milik rezim Suriah. Penilaian awal menyebutkan bahwa pusat komando utama militer Suriah mengalami kerusakan besar dan kemungkinan hancur total.

Sebagai catatan, wilayah Sweida dan Dataran Tinggi Golan secara hukum internasional merupakan bagian sah dari wilayah kedaulatan Suriah. Sweida terletak di selatan Suriah dan dikenal sebagai wilayah mayoritas Druze yang relatif stabil selama konflik. Sementara itu, Dataran Tinggi Golan diduduki oleh Israel sejak Perang Enam Hari tahun 1967 dan dianeksasi secara sepihak pada 1981 langkah yang tidak diakui oleh mayoritas komunitas internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa. Klaim Israel atas wilayah ini tetap menjadi sumber ketegangan dalam hubungan regional. (Bahry)

Sumber: ynetnews