Berita Terkini

Tanzania Akan Gelar Pameran Hijab Internasional

DODOMA(Jurnalislam.com) — Pameran hijab Islami akan segera digelar di Tanzania dengan tujuan menampilkan budaya busana Islami

Seperti dilansir Iqna.ir pada Kamis (4/11) Atase Kebudayaan Iran untuk Tanzania Morteza Pirani mengadakan pertemuan dengan Duta Besar Qatar untuk Tanzania Hussain Ahmad Al Homaid di Dar es Salaam. Utusan Iran itu membahas kerja sama budaya dan agama dengan duta besar Qatar, juga mengangkat isu pameran jilbab di negara itu.

“Pameran ini bertujuan untuk menampilkan budaya pakaian Islami dan dipentaskan di negara-negara Islam yang berbeda,” kata Pirani.

Acara ini juga akan mencakup lukisan seniman Tanzania yang terkait dengan jilbab.

“Kami dapat membangun kerja sama dengan kedutaan aktif lainnya di Tanzania melalui pelaksanaan program agama dan budaya dan realisasi rencana ini dapat mengarah pada persatuan di antara umat Islam,”

Dia juga mengundang kedutaan Qatar untuk mengambil bagian dalam program budaya. Sementara itu, Hussain Ahmad Al-Homaid menyambut baik terjalinnya kerjasama dengan pusat kebudayaan Iran tersebut.

Sumber: republika.co.id

Perlu Sinergi Gerakan Digital untuk Bangkit Dari Covid

TERNATE(Jurnalislam.com)—Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku Utara, KH. Samlan Ahmad Hi menyoroti kelemahan media digital yang dianggap kunci bangkit dari Pandemi Covid-19.

Menurutnya, digitalisasi ekonomi bisa menolong pengusaha modal besar bangkit dari Pandemi Covid-19 tetapi tidak dengan pemilik usaha modal pas-pasan. Masyarakat menengah ke bawah di Maluku Utara, kata dia, tidak bisa seleluasa kalangan ekonomi lain dalam memperoleh akses digital.

“Perlu adanya gerakan bersama agar ada keadilan dalam hal ekonomi dan akses digital. Itu diperlukan untuk melindungi golongan usaha menengah ke bawah agar tidak semakin terperosok akibat ketimpangan modal,” ujarnya dalam webinar bertajuk “Bangkit dari Covid-19 dengan Nalar dan Aksi Bersama Berlandaskan Nilai-Nilai Islam dan Fatwa MUI: Penguatan Peran dan Da’i Milenial dalam Kebangkitan dari Dampak Covid-19”, Sabtu (30/10) secara virtual.

“Di Maluku Utara khususnya Ternate, dua tahun terakhir ini masyarakat kelas menengah ke bawah yang modalnya pas-pasan yang hidup dari warung kecil-kecil, dengan adanya Covid-19, kalah dengan pemodal besar,“ imbuhnya.

Kiai Samlan menyebut, terdapat sekitar 60 sampai 70 minimarket di seluruh Ternate. Animo masyarakat untuk belanja condong kepada minimarket dibandingkan warung-warung kelontong di pinggir jalan.

Menurutnya, itu menjadi gambaran sederhana ketimpangan modal dan akses yang merugikan pengusaha kecil. Alih-alih ekonomi mereka pulih, Covid-19 membuat mereka semakin terperosok karena kesenjangan modal.

 

Dalam Webinar Hasil Kerjasama MUI dan Kementerian Komunikasi dan Informatika tersebut, Kiai Samlan juga mengingatkan bahwa Covid-19 adalah tanggung jawab bersama. Ekonomi umat tidak akan bangkit jika diurus perorangan. Selain kesehatan, ekonomi menjadi persoalan paling krusial sehingga umat tidak boleh lengah apalagi frustasi.

“Tugas kita semua dalam urusan Covid-19 adalah bagaimana bangkitnya ekonomi umat. Ekonomi yang jadi titik sentral dalam menghadapi musibah yang luar biasa ini, kita tidak boleh lengah. Karena itu cukup berpotensi untuk bisa mengurangi nilai dari imun, atau frustasi berkepanjangan,” jelasnya. (mui)

 

Transformasi Digital Sangat Penting untuk Pengembagan Lembaga Wakaf

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Beberapa tahun ini, penerapan manajemen berbasis digital sedang menjadi tren di lingkungan lembaga publik, jasa dan bisnis, ataupun organisasi kemasyarakatan. Hal tersebut juga diterapkan dalam pengelolaan wakaf di Lembaga Wakaf Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Sekretaris Lembaga Wakaf MUI, Guntur Subagja Mahardika mengatakan, penerapan manajemen berbasis digital tersebut didasari pada adanya perubahan paradigma sejak tahun 2000-an yang disebut megatren. Megatren ditandai dengan terjadinya perubahan pada cara kehidupan masyarakat dan perubahan pada teknologi.

“Megatren adalah transformasi terhadap perubahan teknologi dan kehidupan masyarakat. Kita mengenal saat ini ada revolusi industri satu sampai empat, bahkan sekarang sudah memasuki yang kelima,” ucap Guntur dalam webinar bertajuk “Manajemen Wakaf Berbasis Digital Untuk Tingkatkan Produktivitas dan Akuntabilitas Publik” pada Selasa, 2 November 2021.

Webinar ini digelar atas kerjasama MUI dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Selain megatren, ada juga perubahan lain yakni tren teknologi yang dimulai sejak 1990 yang ditandai dengan kemunculan internet. Kemunculan internet mengubah perilaku masyarakat dengan beralih ke layanan digital, terutama ketika pandemi Covid-19 melanda dunia.

“Yang menarik selama pandemi covid ada perubahan konsumen yang dilakukan secara sporadis dan masif, di mana konsumen tidak lagi bersikap atau berperilaku melakukan transaksi secara langsung, tetapi melalui digital seperti pembayaran e-money, virtual. Berhubungan pun melalui media sosial dan sarana interaksi lainnya,” ujarnya.

 

Pria yang juga Asisten Staf Khusus Wakil Presiden itu menjelaskan, perubahan perilaku masyarakat dan teknologi inilah yang melandasi MUI mengupayakan manajemen berbasis digital dalam mengelola wakaf. Tujuan utamanya ialah MUI ingin mengembangkan wakaf sebagai gerakan dakwah dan juga penguatan ekonomi umat.

Dalam pemaparannya, ia menyebut terdapat lima hal yang harus diupayakan dalam menerapkan manajemen wakaf berbasis digital.

Pertama, mempermudah donasi. Dengan mempermudah cara berdonasi, masyarakat tidak lagi harus mendatangi lembaga wakaf secara langsung.

“Mempermudah masyarakat berdonasi. Bisa didemokan di lembaga wakaf MUI tidak perlu lagi nanya norek (nomor rekening). Sekarang cukup melihat barcode, di-scan, udah langsung tinggal ditransfer berapa donasi yang akan diberikan,” jelasnya.

 

Kedua, akuntabilitilas pengelolaan keuangan, yakni bagaimana laporan keuangan dikelola secara akuntabel. Ketiga, publikasi berbagai kegiatan melalui sosial media. Keempat, menyampaikan program-program yang akan dikerjakan. Kelima, perlunya ada sistem informasi yang padu, termasuk database.

Pria lulusan Universitas Indonesia tersebut menerangkan bahwa MUI telah menerapkan manajemen wakaf berbasis digital sejak sebulan lalu. Sehingga kini masyarakat dapat dengan mudah bertransaksi dalam urusan wakaf.

“Bagaimana Lembaga Wakaf MUI menerapkan itu? Sudah sejak sebulan lalu Lembaga Wakaf MUI sudah bisa bertransaksi secara digital baik melalui barcode ataupun melalui mobile banking,” terangnya. (mui)

 

Covid Masih Ada, MUI Ingatkan Umat Agar Tetap Waspada

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ahmad Zubaidi mengingatkan para dai untuk terus berjuang memperbaiki keadaan masyarakat. Sebab, seorang dai bukan hanya menyampaikan nilai-nilai agama, tetapi bagaimana bisa menciptakan dan mendukung kemaslahatan umat.

Pandangan itu disampaikan oleh KH Ahmad Zubaidi dalam Webinar bertema “Penguatan Peran Dai Milenial dalam Kebangkitan dari Dampak Covid-19 di Sulsel dan Maluku Utara” pada Ahad, (31/10). Webinar ini merupakan hasil Kerjasama antara MUI dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

“Sebagai umat Islam kita punya tugas untuk ishlahiyyah (memperbaiki) umat, terutama para dai, untuk amar ma’ruf nahi munkar (mengajak pada kebaikan, mencegah keburukan), di tengah situasi Covid-19 ini sangat dibutuhkan,” ungkapnya.

KH Zubaidi mengatakan, bila menemukan kebaikan, para dai harus menyampaikan konten kebaikan itu kepada masyarakat. Terutama konten yang sangat dibutuhkan saat ini.

Kiai Zubaidi mencontohkan, di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini, konten tentang menjaga protokol kesehatan dan vaksinasi harus dikabarkan kepada umat.

Meski saat ini mengalami pelandaian jumlah kasus Covid-19, Kiai Zubaidi mengingatkan bahwa para ahli sampai saat ini belum menjamin pandemi ini sudah berakhir.

Apalagi, lanjutnya, apabila tidak dicegah, masih ada potensi penularan. Ditambahkan Kiai Zubaidi, hal itu tentu sangat mengkhawatirkan dan perlu dijadikan perhatian oleh seluruh masyarakat.

 

Untuk itu, Kiai Zubaidi meminta para dai bisa membantu pemerintah. Kondisi pelandaian yang belakangan mulai terjadi bisa menjadi momentum bagi masyarakat kembali dalam kehidupan normal yang terbebas dari pandemi Covid-19.

“Apapun yang memberikan kemaslahatan bagi umat itu bagian dari amar ma’ruf. Kemudian nahi munkar, kita mencegah umat ini kepada kemungkaran dalam konteks Covid-19 kerusakan itu sendiri, kalau ada orang yang melanggar atau jelas yang menyebabkan penularan dan itu masuk bagian dari kemungkaran itu sendiri,” terangnya.

Kiai Zubaidi mengajak para dai untuk melakukan kampanye terhadap hal-hal yang kontraproduktif terkait dengan upaya penanggulangan Covid-19.

Selain itu, ia mengingatkan para dai dapat menyampaikan pesan positif dengan argumentasi yang baik dan bijaksana.

 

“Dai mengedepankan hikmah, kebijaksanaan kepada mereka-meraka yang menolak kita sampaikan dengan bijaksana. Tidak perlu dengan marah-marah, dengan perkataan halus dan bijaksana,” tuturnya. (mui)

 

Budaya Digital di Lingkungan Madrasah Perlu Ditingkatkan

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Pendis Kemenag) Muhammad Ali Ramdhani mengajak Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah untuk mengembangkan kultur digital di lingkungan madrasah.

Hal ini disampaikan Ramdhani saat memberikan arahan secara virtual dalam Pelatihan Peningkatan Literasi Digital bagi GTK Madrasah Kabupaten Garut, Selasa (02/11/2021).Dikatakan Ramdhani, digitalisasi sudah menjadi tuntutan, bahkan kebutuhan sehari-hari dan madrasah harus meyesuaikan ke arah itu.

“Untuk menjadi madrasah hebat bermartabat, kita harus membangun sistem digital yang kuat. Kita tidak bisa lagi bekerja hanya secara manual, pelan-pelan kita harus mulai mengarah pada penguatan digital culture,” kata Ramdhani.

Pelatihan Peningkatan Literasi Digital bagi guru dan tenaga kependidikan madrasah, lanjut Ramdhani, merupakan langkah konkrit Kemenag dalam upaya meningkatkan kompetensi dan mutu madrasah. Sehingga ke depan, madrasah dapat terus bersaing dan mampu menunjukan kualitasnya dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas.

“Literasi digital pada madrasah akan memberikan penguatan pada kompetensi guru madrasah dengan tujuan utama untuk menghadirkan pendidikan yang terbaik bagi anak bangsa,” imbuhnya.

Teknologi digital, lanjut Dhani, memberikan peluang yang memungkinkan peserta didik di madrasah untuk mengekspresikan diri mereka sebagai konsumen dan produsen konten digital. Oleh sebab itu, guru memiliki peran penting dalam mengawal pemahaman literasi digital kepada peserta didik.

Direktur GTK Madrasah Muhammad Zain, menambahkan sebagai pendidik, peran guru bukan sekedar melakukan transfer pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi juga membentuk karakter siswa. Karenanya, untuk dapat bertahan di era digital, seorang guru harus menguasai lima literasi, yaitu literasi membaca, menulis, numerasi, sains, dan sosial budaya.

“Untuk literasi sains sangat penting dikuasai, agar kita bisa merebut kunci-kunci peradaban di masa mendatang,” papar Zain.

Kepada peserta Zain berharap, dapat mengikuti pelatihan dengan baik. Sehingga materi yang diperoleh dari pelatihan dapat ditransfer kembali kepada peserta didik di madrasah.

Pelatihan Peningkatan Literasi Digital diikuti oleh 90 guru dan tenaga kependidikan madrasah swasta se-Kabupaten Garut. Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, 2-5 November 2021.

Otoritas Bandara Matangkan Persiapan Pemberangkatan Umrah

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Kementerian Agama bersama Otoritas Bandara (Otban) Wilayah I menggelar pertemuan untuk membahas persiapan keberangkatan umrah.

Kepala Sub Direktorat Pemantauan dan Pengawasan Umrah dan Haji Khusus, M Noer Alya Fitra, menjelaskan sejumlah langkah persiapan yang dilakukan pihaknya, antara lain skema “umrah satu pintu”. Skema tersebut dimaksudkan agar memudahkan pengendalian, pengawasan, dan memastikan kesehatan, keamanan, dan keselamatan jemaah umrah yang dilaksanakan pada masa pandemi covid-19.

Dengan skema ini, lanjut pria yang akrab disapa Nafit, pemberangkatan dan pemulangan jemaah umrah pada tahap-tahap awal keberangkatan melalui satu titik, yaitu Bandara Soekarno Hatta. Asrama haji akan dijadikannsebagai titik awal keberangkatan jemaah umrah.

“Jemaah umrah harus sudah clear di asrama haji, baik dari sisi kelengkapan dokumen perjalanan maupun kesehatannya. Oleh karena itu, kami sangat membutuhkan bantuan Otban untuk memastikan fasilitas asrama haji memenuhi persyaratan untuk diberlakukan sebagai tempat keberangkatan internasional, seperti pelayanan jemaah haji reguler,” terang Nafit di Jakarta, Rabu (3/11/2021).

Hadir juga, Kasubdit Perizinan, Akreditasi, dan Bina PPIU Rudi Ambari, serta Kasubdit Perizinan, Akreditasi, dan Bina PIHK Mujib Roni.

Nafit menambahkan bahwa pihaknya bersama Kementerian Kesehatan sudah menyiapkan regulasi teknis pelayanan kesehatan bagi jemaah umrah, di antaranya terkait data sertifikat vaksin serta integrasi siskopatuh dengan pedulilindungi.

“Kami juga akan segera membahas tentang data jemaah umrah yang harus disinkronisasi bersama Direktorat Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil,” ujarnya.

Kepala Otoritas Bandara Wilayah I, Yufridon Gandoz Situmeang mengapresiasi langkah Kemenag dalam persiapan penyelenggaraan umrah. Gandoz menegaskan komitmennya untuk mendukung Kemenag dalam penyiapan pelayanan umrah di Bandara Soekarno Hatta.

“Tentu kami sangat mendukung Kementerian Agama. Terkait hal teknis di asrama haji, kami akan segera melakukan evaluasi kesiapannya sebagai terminal internasional. Dengan konsep seperti haji reguler, berarti di asrama haji sudah melaksanakan pemeriksaan kesehatan dan imigrasi jemaah umrah, termasuk alat angkut dari asrama ke bandara harus benar-benar save dan secure,” terang Gandoz.

Gandoz juga mendorong agar Kementerian Agama berkoordinasi lebih detail tentang teknis keberangkatan jemaah. “Secara prinsip Otban siap berkoordinasi lebih cepat agar semua hal-hal teknis keberangkatan, layanan penerbangan, dan bandara siap saat umrah dibuka,” tegasnya.

Ditambahkan Gandoz, penerbangan jemaah umrah lebih secure dengan penerbangan langsung (direct flight). Dia juga mengusulkan agar pesawat yang digunakan jemaah umrah tidak bersama dengan penumpang reguler. “Kita harus menjamin bahwa jemaah umrah aman dan tidak terpapar covid-19 saat di perjalanan, maka akan lebih baik bila tidak bercampur dengan penumpang reguler,” usul Gandoz.

Gandoz juga berharap Kementerian Agama bersama Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dapat mengedukasi jemaah. Apalagi, saat ini status pandemi Covid-19 belum dicabut oleh otoritas kesehatan dunia.

“Otban harus menjamin keselamatan dan keamanan penerbangan, termasuk bagi jemaah umrah. Kami juga berharap Kemenag bersama travel umrah menginformasikan secara lengkap kepada jemaah agar disiplin ikuti prokes, dalam rangka ketertiban dan kelancaran pelayanan di bandara,” pungkasnya.

Donatur Wakaf Kini Didominasi Kaum Milenial

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Berdasarkan data dari Forum Wakaf Produktif, para donator wakaf didominasi oleh kalangan milenial yang berusia 24-35 tahun dengan 48 persen. Angka ini jauh lebih besar dibanding rentang usia 35-55 tahun yang hanya 35 persen, kemudian usia lebih dari 55 tahun di angka 11 persen.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Lembaga Wakaf Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Lukmanul Hakim dalam Webinar bertajuk: “Manajemen Wakaf Berbasis Digital untuk Tingkatkan Produktivitas dan Akuntabilitas Publik”.

Webinar ini merupakan hasil Kerjasama MUI dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang digelar pada Selasa pagi, (2/11).

“Itulah kenapa MUI juga melalui Lembaga Wakaf MUI mendirikan lembaga wakaf yang berdiri sejak 2018, kita akan masuk wakaf uang. Digitalisasi wakaf bisa kita manfaatkan, apalagi melihat potensi masyarakat saat ini yang sudah mulai melek digital,” ujarnya.

“Jadi, ini penting kita gelorakan. Sesuai juga sama yang disampaikan Pak Wapres, “dan platform digital bagi peningkatan kesadaram berwakaf sangat penting terutama bila kita ingin menjangkau generasi milenial yang sehari-hari akrab dengan teknologi digital,” tambahnya sambil mengutip pernyataan Wakil Presiden RI, KH Ma’ruf Amin.

Kendati demikian, Kiai Lukman mengungkapkan, beberapa tantangan dalam penyerapan wakaf di antaranya, masih belum optimalnya tata regulasi wakaf, rendahnya regulasi wakaf, dan kapasitas nazhir yang masih rendah.

 

Selain itu, kata kiai Lukman, potensi wakaf belum dioptimalkan secara maksimal untuk mengurangi angka kemiskanan dan ketimpangan di Indonesia.

“Padahal seharusnya wakaf bisa menjadi instrumen yang sangat potensial dalam mengatasi permasalahan tersebut,” tuturnya.

Kiai Lukman menuturkan, bahwa Islamic Social Fun (ISF), itu harus dekat dengan masyarakat yang membutuhkan.

Meski demikian, pihaknya mengatakan karena wakaf nilainya tidak boleh hilang, maka harus dijamin keberadaanya selama seseorang yang wakaf masih hidup.

“Prinsip dana sosial semisal wakaf harus kita kawal. Ketika masyarakat membutuhkan dia mudah dijangkau,” jelasnya. (mui)

 

Ingin Sukses? Amalkan 4 sifat Rasul Ini

Oleh: Willy Azwendra M.Ag

(Dosen STAI PTDII JAKARTA)

Kesuksesan merupakan suatu keberhasilan, suatu keberuntungan atau suatu kebaikan yang diperoleh oleh seseorang. Semua orang pasti ingin sukses, karena semua orang berlomba-lomba ingin menjadi orang yang sukses, baik sukses (kebaikan) di dunia maupun sukses di akhirat. Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya agar berdoa meminta kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat. Doa tersebut sudah sangat popular di dengar oleh umat Islam yaitu :

Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirat hasanah, waqina adzabannar.” Artinya “Ya Robb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (Al-Baqarah: 201). Ini merupakan salah satu doa yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah. Namun, setiap kesuksesan yang diraih oleh rasul, tentu saja tidak hanya didapatkan dengan berdoa saja, namun juga dibarengin dengan ikhtiar dan akhlak yang baik kepada siapapun.

Rasulullah merupakan contoh teladan bagi umat Islam dalam kehidupan sehari-hari. Setiap rasul terkenal dengan kepandaian, kecerdasan, dan kesuksesanya dalam menyampaikan wahyu Allah. Selain menjadi seorang rasul, Nabi Muhammad adalah seorang yang sukses dalam mendakwahkan Islam, sukses dalam menjalankan pemerintahan dan juga sukses dalam berdagang. Jika kita ingin sukses maka tirulah Rasulullah SAW. Berikut adalah sifat wajib Rasulullah yang mesti kita tiru dan amalkan agar kelak nanti kita bisa menjadi orang yang sukses, yaitu sebagai berikut :

  1. As-siddiq (berani benar)

As-siddiq berarti selalu benar, atau berani menyampaikan kebenaran. Seorang nabi dan rasul selalu berbuat yang benar dan berkata yang jujur. Seorang nabi dan rasul tidak akan berkata bohong ataupun menipu. Benar berbeda dengan baik. Benar sudah pasti baik, sedangkan baik belum tentu benar.

Sebagai contoh memberi adalah perbuatan baik, tetapi jika maksud dari pemberian itu agar orang yang diberi bisa dimanfaatkan untuk kepentingan kita, istilahnya ada udang dibalik batu, maka perbuatan baik ini tidak benar. Contoh lainnya seorang calon wakil rakyat berbuat baik dengan bagi-bagi sembako ke rakyat yang kurang mampu tetapi ada syaratnya harus memilih dirinya ketika pemilu nanti. Ini juga merupakan contoh perbuatan baik dengan berbagi tetapi maksudnya tidak benar. Artinya baik saja belum cukup jika tidak benar.

Para rasul selalu berkata yang benar, baik benar dalam menyampaikan wahyu yang bersumber dari Allah SWT, maupun benar dalam perkataan-perkataan yang berhubungan dengan persoalan keduniaan. Contohnya apa yang dikatakan Nabi Ibrahim as. kepada bapaknya adalah perkataan yang benar. Apa yang disembah oleh bapaknya Ibrahim adalah sesuatu yang tidak benar dan tidak mendatangkan manfaat. Peristiwa nabi Ibrahim ini diabadikan dalam firman Allah SWT: “Wazkur fil Kitaabi Ibraahiim; innahuu kaana siddiiqan Nabiyyaa” Artinya: “Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur’an), sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan, seorang Nabi”. (Q.S. Maryam: 41).

Berbuat benar itu terkadang banyak tantangannya dan beresiko, tetapi lihatlah ending cerita dari nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim berani menyampaikan kebenaran kepada bapaknya dan kepada penguasa saat itu. Walaupun nabi Ibrahim hendak akan dibakar oleh penguasa saat itu, namun Allah menolong nabi Ibrahim ketika dibakar. Api yang tadinya membakar nabi Ibrahim dijadikan terasa sejuk oleh Allah. Kisah ini membuktikan bahwa Allah bersama orang-orang yang berbuat benar. maka sudah seharusnya kita berbuat benar dan berani dalam menyampaikan kebenaran jika kita ingin sukses dan berhasil.

 

  1. Amanah (dapat dipercaya)

Amanah berarti dapat dipercaya. Nabi dan rasul dapat dipercaya baik perkataan maupun perilakunya. Amanah juga berarti bahwa nabi dan rasul memegang tanggung jawab terhadap semua tugas, melaksanakan perintah, dan menepati janji. Semasa hidup rasulullah sangat dipercaya oleh kolega bisnisnya. Barang apapun yang dititipkan oleh orang kepada rasulullah pasti akan aman dan orang tersebut akan merasa tenang, karena rasulullah terkenal dengan sifat amanahnya. Demikian juga dengan Khadijah sangat mempercayai Rasulullah dalam menjalankan usahanya yang akhirnya usaha tersebut sukses.

 

Amanah merupakan dampak dari perilaku siddiq. Orang yang perilakunya selalu benar, jujur, dan tidak pernah berbohong, maka orang tersebut otomatis akan dipercaya oleh orang lain. Begitulah sifat Rasulullah SAW, karena pada saat itu, rasulullah terkenal dengan sebutan gelar al amin, yaitu sifat jujur, benar dan amanahnya. Oleh sebab itu, jika kita ingin sukses maka jadilah orang yang amanah atau dapat dipercaya seperti rasulullah SAW.

 

  1. Tabligh (kemampuan berkomunikasi)

Tabligh berarti menyampaikan wahyu. Artinya, Allah SWT mengutus Nabi dan rasul untuk menyampaikan pesan kepada setiap umatnya. Tabligh Bisa diartikan juga sebagai kemampuan berkomunikasi nabi dalam menyampaikan wahyu, dalam menyampaikan peringatan, dalam menyampaikan berita gembira dan dalam menyampaikan kebenaran kepada umatnya. Allah memerintah nabi dan rasul untuk menyampaikan wahyu seperti yang terdapat dalam surat Al-Maidah ayat 67 :

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Robmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir,”(terjemahan surat Al-Maidah ayat 67)

Selain jujur dan amanah, sifat ketiga rasulullah yang harus ditiru agar kita bisa menjadi orang sukses adalah pandai berkomunikasi. Rasulullah adalah orang yang pandai berkomunikasi, terbukti dengan kesuksesan rasulullah dalam menyampaikan dakwahnya kepada keluarga, kerabat dan sahabat-sahabatnya. Hasilnya sedikit demi sedikit selalu bertambah orang dalam memeluk Islam. Artinya rasulullah pandai dalam menyampaikan dakwahnya dan juga pintar dalam berkomunikasi.

Begitu juga dengan zaman modern sekarang, kita juga dituntut harus pandai berkomunikasi, karena ini merupakan salah satu soft skill yang harus dimiliki. Orang yang sukses dalam bisnis salah satunya juga disebabkan oleh skill komunikasinya. Setiap perusahaan yang sedang membuka lowongan kerja pasti menginginkan calon pekerja yang pandai dalam berkomunikasi. Untuk itu marilah kita mulai melatih cara berkomunikasi kita, ini bisa dilakukan dengan cara latihan sendiri, mengikuti pelatihan-pelatihan public speaking dan lain sebagainya.

 

  1. Fatanah (Cerdas)

Terakhir sifat rasulullah yang harus kita tiru adalah fatanah, berarti cerdas. Kesuksesan Rasulullah dalam berdakwah, berdagang, berperang dan menjalankan pemerintahannya tak lain adalah disebabkan oleh kecerdasan Rasulullah.  Rasulullah merupakan manusia yang memiliki kecerdasan baik secara intelektual, emosional, maupun spiritual.

Kecerdasan rasulullah terlihat ketika Perang Badar. Perang  Badar merupakan perang yang sangat penting dalam sejarah Islam, Jumlah kekuatan kaum muslimin saat perang tersebut adalah sekitar 317 orang yang terdiri dari kaum Muhajirin 86 orang, Bani Aus 61 orang, dan kalangan Khazraj 170 orang. Mereka berjalan dengan hanya membawa dua kuda dan 70 unta. Maka, setiap dua atau tiga orang saling bergantian dalam mengendarai satu unta.

Sangat berbeda jauh dengan jumlah yang di miliki oleh kaum kafir Qurais, Jumlah mereka mencapai 1.300 orang. Mereka membawa 100 tentara berkuda, 600 tentara berbaju besi, dan sejumlah unta yang sangat banyak jumlahnya. Pasukan bangsa Quraisy ini dipimpin oleh Abu Jahal. Ketika pasukan Islam dan pasukan Quraisy sedang mempersiapkan diri untuk pertempuran di Badar, Rasulullah SAW mencari informasi dari dua orang pemuda penyedia air minum pasukan Quraisy tentang kondisi pasukan mereka.

Rasulullah bertanya tentang lokasi perkemahan tentara Ouraisy. Mereka menjawab, “Mereka berada di balik bukit pasir ini, di bibir lembah yang paling ujung.” Kemudian Rasulullah menanyakan tentang jumlah pasukan Quraisy. Kedua pemuda itu tampak kebingungan tidak tau dikarenakan jumlahnya yang begitu banyak. Para sahabat dibuat tidak sabar oleh sikap kedua orang tersebut yang tidak segera menjawab pertanyaan Rasulullah. Meskipun didesak sedemikian rupa, tetap saja mereka tidak bisa menjawabnya kecuali dengan kalimat, “Kami tidak tahu, sungguh!”

Akhirnya, Rasulullah SAW mengganti pertanyaannya seraya berkata kepada kedua pemuda itu, “Berapakah jumlah unta dan kambing yang mereka sembelih setiap harinya?” Mereka hanya menjawab bahwa setiap harinya pasukan Quraisy menyembelih unta dan kambing sekitar 9-10 ekor. Mengetahui hal itu, Rasulullah langsung bisa memprediksikan jumlah pasukan musuh sekitar sembilan ratus hingga seribu orang. Beliau pun tahu kekuatan musuh sebenarnya. Kisah perang badar ini memperlihatkan kepada kita akan kecerdasan Rasulullah dalam mempersiapkan segala sesuatu termasuk dalam menyiapkan strategi perang melawan musuh. Akhirnya rasulullah sukses mengalahkan kaum kafir qurais dalam peperangan ini.

Begitu juga kita, jika ingin sukses maka jadilah orang yang cerdas, pergunakan akal sebelum bertindak, jangan tergesa-gesa, sabar dan tetap focus dengan tujuan yang akan dicapai.[]

 

 

 

 

Dijamin Fatwa MUI, KH Cholil Nafis Ajak Warga Vaksin

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Muhammad Cholil Nafis, mengajak masyarakat tidak perlu takut vaksin. Selain sudah banyak contoh vaksinasi yang berjalan sukses (tanpa risiko), juga karena sejak lama MUI sudah mengeluarkan fatwa tentang vaksin. Dia menilai, kelompok masyarakat yang belum mau diberikan vaksin perlu diedukasi dengan tepat.

“Terdapat tiga sikap masyarakat terhadap hadirnya vaksinasi. Pertama, yang setuju vaksin apapun bahannya. Kedua, yang tidak mau vaksin apapun bahannya. Ketiga, kelompok wait and see yang menyikapi kehalalan dan efektivitas vaksin yang disediakan” jelas Kiai Cholil dalam webinar hasil kolaborasi antara Majelis Ulama Indonesia Kementerian Komunikasi dan Informatika, Sabtu (30/10) secara virtual.

Pada webinar bertajuk “Bangkit dari Covid-19 dengan Nalar dan Aksi Bersama Berlandaskan Nilai-Nilai Islam dan Fatwa MUI” itu, Kiai Cholil menilai, ada sebagian masyarakat yang masih enggan vaksin karena terpengaruh teori konspirasi. Ada pula disebabkan keyakinan masing-masing bahwa adanya Covid-19 semata ujian dari Allah SWT.

“Oleh karena itu, hadirnya fatwa MUI sebagai penguat keraguan bagi masyarakat yang anti vaksin. Terhitung terdapat 12 fatwa yang dikeluarkan oleh MUI merespon persoalan umat terkait pandemi Covid-19,” ujarnya.

Dia menyampaikan, posisi MUI sebenarnya bukan mufti negara, melainkan lebih sebagai mitra pemerintah. Karena itu, fatwa MUI tidak mengikat secara utuh. Meski begitu, fatwa halal/haram MUI mampu membimbing umat terkait kehalalan produk yang akan dikonsumsi.

“MUI sudah mengeluarkan 12 fatwa selama pandemi. Terdapat fatwa mengenai status kehalalan vaksin, seperti sinovac dan astrazeneca. Jika masih khawatir, masyarakat bisa diberi edukasi untuk merujuk kepada fatwa MUI. Meskipun pada dasarnya fatwa tersebut tidak mengikat secara utuh” ungkapnya.

 

Lebih lanjut, Kiai Cholil berpesan, kehadiran vaksin adalah usaha mencegah penyebaran dampak Covid-19 yang lebih buruk. Allah SWT, kata dia, menciptakan hukum kausalitas untuk hamba yang tidak melanggar hukum-Nya.

Selain vaksin, imbuh Kiai Cholil, penerapan protokol kesehatan seperti mencuci tangan, memakai masker, jaga jarak, dan tidak mudah panik saat adanya wabah harus dikombinasikan dengan tawakkal dan sabra (mui)

 

Jawa Timur Juara Umum Konferensi Sains Madrasah 2021

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Kementerian Agama telah mengumumkan hasil Kompetisi Sains Madrasah (KSM) pada 30 Oktober 2021. Hasil KSM Nasional dipublikasikan melalui Portal Resmi KSM.

Provinsi Jawa Timur menjadi juara umum KSM 2021 setelah berhasil meraih lima medali emas dan tiga medali perak. Tim Jawa Timur meraih lima medali emas pada bidang studi Matematika Terintegrasi (MI/SD), IPA Terintegrasi (MI/SD), Matematika Terintegrasi (MTs/SMP), IPA Terpadu Terintegrasi (MTs/SMP), dan Fisika Terintegrasi (MA/SMA). Tiga medali perak seluruhnya diraih pada jenjang MA/SMA untuk bidang studi Matematika Terintegrasi, Biologi Terintegrasi, dan Ekonomi Terintegrasi.

Menyusul di urutan kedua Provinsi Gorontalo dengan empat medali emas dan tiga medali perak. Sementara DKI Jakarta menempati urutan ketiga dengan empat medali emas, satu medali perak, dan lima medali perunggu.

“Selamat untuk provinsi Jawa Timur yang menjadi juara umum KSM 2021,” ujar Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah M Isom Yusqi di Jakarta, Selasa ((2/11/2021).

Isom mengatakan, KSM Nasional diikuti 374 siswa yang lolos seleksi di 34 provinsi. Mereka adalah para siswa terbaik tingkat provinsi untuk setiap bidang studi yang dilombakan. Ada 11 bidang studi yang dilombakan dalam KSM 2021. Dua bidang studi untuk jenjang MI adalah Matematika Terintegrasi dan IPA Terintegrasi. Total ada 68 siswa MI yang ikut ambil bagian di KSM Nasional. Untuk jenjang MTs, ada tiga bidang studi yang dilombakan adalah Matematika Terintegrasi, serta IPA dan IPS Terpadu Terintegrasi. Total peserta 102 siswa.  Sedang untuk jenjang MA, ada enam bidang studi lomba, yaitu: Matematika, Biologi, Fisika, Kimia, Ekonomi, dan Geografi Terintegrasi. Jenjang ini diikuti 204 siswa. Setiap bidang studi disediakan 15 medali. Jumlah ini terdiri atas tiga medali emas, 5 medali perak, dan 7 medali perunggu.

“Jadi untuk 11 bidang studi, total ada 165 medali yang diperebutkan, terdiri atas 33 medali emas, 55 medali perak, dan 77 medali perunggu,” terang Isom di Jakarta, Selasa (2/11/2021).

“Para peraih medali akan mendapatkan dana Bantuan Studi Apresiasi Prestasi Pemenang KSM dari Direktorat KSKK Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam,” sambungnya.

Menurut Isom, penilaian soal KSM dilaksanakan oleh Tim Juri yang ditetapkan oleh Komite KSM Nasional. Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan nilai tes dan nilai integritas peserta selama mengikuti tes. Soal KSM menggunakan tiga bahasa: Indonesia, Arab, dan Inggris sebagai persiapan go international di masa mendatang.

“Peringkat pemenang ditentukan dengan penilaian yang sudah tercantum di juknis KSM 2021 serta merupakan nilai tertinggi dari peserta yang lain,” tegasnya.

Jika ada nilai yang sama, lanjut Isom, maka penentuan yang terbaik dengan memperhatikan lima hal berikut: 1) Nilai benar CBT Nasional terbanyak, 2) Nilai salah CBT Nasional tersedikit, 3) Nilai Provinsi tertinggi, 4) Nilai Kab/Kota tertinggi, dan 5) Umur termuda.

“Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia Gorontalo menjadi yang terbanyak meraih medali, tiga medali emas dan tiga medali perak,” jelas Isom.

“Urutan kedua, ada SMA Cahaya Rancamaya Bogor dengan dua medali emas dan satu medali perunggu. Disusul pada urutan ketiga ada MAN Insan Cendekia Serpong dengan dua medali emas,” sambungnya.

KSM tingkat nasional ini berlangsung dua hari, 23 – 25 Oktober 2021. KSM dilaksanakan secara nasional serentak menggunakan sistem yang disiapkan dan di bawah kendali Komite KSM Nasional. KSM Nasional digelar secara luring dengan peserta dikumpulkan di lokasi yang ditetapkan Kanwil Kemenag Provinsi masing-masing.