Berita Terkini

Dugaan Konflik di ACT, Bukan Pada Persoalan Yang Mendasar

Oleh: Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Saya pengamat politik, bukan pengamat ACT (Aksi Cepat Tanggap). Saya bukan orang ACT, dan sama sekali tidak pernah terlibat dengan kegiatan ACT. Saya orang luar, yang benar-benar berada di luar. Hanya saja, saya kenal cukup baik dengan sejumlah tokoh di lembaga yang sudah berusia 17 tahun ini. (ACT lahir 21 april 2005).

Saya ingin menyorot soal “suksesi mendadak” di ACT. Pecat memecat, gonta ganti pimpinan, itu hal biasa dalam dinamika organisasi. Ganti presiden di tengah jalan aja sudah sering terjadi, apalagi cuma ketua ACT.

Soekarno, Soeharto dan Gus Dur diturunkan di tengah jalan. Itu hal biasa di era demokrasi ini. Aspek politis selalu akan mewarnai proses suksesi mendadak itu. Triggernya bisa macam-macam. Jika isu itu kuat, ini bisa menjadi trigger yang memantik terjadinya suksesi.

Memang, terlalu jauh membandingkan suksesi bangsa ini dengan ACT. Tapi, secara teoritis, bisa dijelaskan dengan analisis yang sama. Teori konflik dan transformasi itu tidak hanya berlaku untuk hal-hal makro seperti bangsa, tetapi juga berlaku untuk hal-hal mikro seperti ormas, yayasan, bahkan struktur organisasi sekelas OSIS. ACT masuk di dalamnya.

Konflik di ACT yang melengserkan Ahyudin sebagai pucuk pimpinan triggernya hanya pada gaji dan fasilitas yang “dianggap” kegedean. Mosok gaji ketua ACT di atas 250 juta? Mosok ketua ACT pakai mobil Alphart? Lembaga philanthropy yang notabene hari-harinya bertemu dan mengurus nasib fakir-miskin dan dhuafa kok hidup mewah? Di sini letak obyek yang dipersolkan. Tentu, ada banyak hal lain yang ikut menjadi bagian yang mungkin saja ikut dipersoalkan. Tapi tidak terlalu substantif dan primer. Bukan masalah yang utama. Secara politik itu bukan trigger.

Di sisi lain, muncul pendapat: apakah pimpinan yang dengan kerja kerasnya mampu mengahasilkan lebih dana 1 T pertahun tidak layak mengapresiasi dirinya dengan gaji ratusan juta? Dirut dan komut BUMN yang sering rugi aja take home pay-nya bisa di atas 1 M perbulan. Mosok mengurus orang miskin harus bergaya miskin juga? Perlu juga performence supaya tidak ada image sebagai pengemis di depan para donatur.

Toh semua gaji, fasilitas dan dana yang keluar itu tercatat dengan rapi dan bisa dipertanggung jawabkan. Secara hukum dan administratif, beres! Gak ada yang dilanggar.

Nah, dari sini ada dua pandangan yang berbeda. Satu pihak berpendapat bahwa gaji dan fasilitas seperti itu wajar. Ini menganut asas profesionalisme. Di pihak lain ada anggapan itu tidak wajar,. Ini ACT bung, bukan BUMN. Bukan pula PT. Sinar Mas, PT. APL atau PT. ARTHA GRAHA.

Dari sisi profesionalitas, gaji pimpinan ACT dengan semua fasilitasnya itu wajar. Lumrah dan sangat biasa. Ini jika dilihat dari kerja-kerja besar, baik dalam scope nasional maupun internasional yang dihasilkan oleh ACT. Namun, jika dilihat dari fungsi kelembagaan dimana ACT mengurus fakir-miskin dan dhuafa, gaji segitu dianggap berlebihan. Ini kurang pas dan tidak etis. Inilah yang kemudian menghadirkan protes yang intens selama bertahun-tahun.

Rupanya, protes yang bertubi-tubi telah mengakibatkan komunikasi di internal ACT semakin tidak hormonis. Protes ini pada akhirnya membelah ACT dalam dua kelompok. Kelompok pemrotes dan kelompok yang diprotes. Puncaknya, terjadi penggalangan (solidaritas pengurus dan anggota) yang semakin kuat. Kelompok solidaritas inilah yang kemudian berhasil “dengan paksa” melengserkan Ahyudin. Suksesi mendadak terjadi, dan Ahyudin diganti.

Apakah setelah suksesi mendadak itu, gejolak di ACT selesai? Mestinya begitu. Semua berharap selesai. Toh para penggantinya juga orang-orang yang punya integritas dan kemampuan. Untuk ini, dibutuhkan kematangan kedua belah pihak.

Tidak semestinya pihak di luar ikut campur. Toh, masalahnya hanya soal gaji dan fasilitas, pantas atau tidak pantas. Layak atau tidal layak. Patut atau tidak patut. Ini hanya soal bagaimana membuat stadar gaji dan fasilitas untuk lembaga philanthropy sebesar ACT. Bukan persoalan moral, bukan soal korupsi, bukan soal nguntit uang umat. Toh semua dana yang dipercayakan ke ACT bisa dipertanggungjawabkan penggunaannya. Tidak ada ketentuan syariat yang dilanggar. Tidak ada sistem dan prosedur hukum yang ditabrak. Jadi, ini murni urusan gaji internal. Tidak perlu melibatkan orang lain, termasuk donatur dan apalagi media.

Uang donatur yang dititipkan aman dan dioperasionalkan sesuai dengan ketentuan hukum syariah dan aturan negara yang berlaku. Semua dana dipastikan sampai kepada mustahiq. Siapapun pimpinan di ACT, saat ini, sistem sudah jalan. Pergantian pimpinan tidak banyak pengaruhnya.

Biarkan riak-riak kecil di luar. Jika diperlukan, cukup temui secara personal dan klarifikasi. Ajak berdialog. Gak bijak main di media, apalagi medsos. Salah paham yang justru akan terus berkembang, dan ini merugikan ACT, merugikan umat, dan merugikan bangsa ini.

ACT hadir untuk membantu negara diantaranya dalam mengentaskan kemiskinan. Jangan dirusak hanya karena ketidakmatangan sikap yang dipertontonkan oleh para pengurusnya. Jangan juga rusak oleh komentar-komentar para tokoh publik yang tidak tahu persis persoalan dan cenderung tidak diwasa. Go ahead ACT. Umat tetap mendukung keberlangsungan aksi tanggapmu.

Jakarta, 4 Juli 2022

Dewan Gereja Dunia Kecam Israel 

JENEWA(Jurnalislam.com) — Komite Sentral dari Dewan Gereja Dunia atau World Council of Churches ( (WCC), Jumat (1/7), mengutuk tindakan Israel yang mendiskriminasi warga Palestina secara sistematis. Kantor berita Wafa melaporkan, WCC menilai pemindahan paksa warga Palestina dari Tepi Barat dan Yerusalem Timur, menjadi hambatan untuk menciptakan perdamaian yang adil.

WCC adalah persekutuan dari 352 gereja di lebih dari 120 negara, yang mewakili lebih dari 580 juta orang Kristen di seluruh dunia. WCC mengungkapkan keprihatinan mendalam mengenai gangguan Israel terhadap ibadah agama Kristen.

Hal ini terkait keputusan Mahkamah Agung Israel yang memungkinkan pemukim Israel mengambil alih properti gereja di dekat Gerbang Jaffa, di Kota Tua Yerusalem. Pekan lalu, Mahkamah Agung Israel menolak petisi yang diajukan oleh Patriarkat Ortodoks Yunani untuk membatalkan penyitaan tiga aset oleh organisasi pemukim Ateret Cohanim di daerah Gerbang Jaffa.

WCC juga menyoroti lemahnya tindakan hukum terhadap personel militer Israel yang dianggap paling bertanggung jawab atas pembunuhan jurnalis veteran Aljazirah, Shireen Abu Akleh.  Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyebutkan, Abu Akleh gugur karena peluru militer Israel.

WCC menyerukan kepada pemerintah dan otoritas Israel untuk memastikan hak asasi manusia bagi semua orang. Termasuk memastikan pertanggungjawaban atas serangan dan pelanggaran yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina, tempat-tempat suci, gereja, komunitas Kristen, Muslim, dan kelompok lain.

WCC menyoroti aksi penggusuran dan pengusiran yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina. “Kami menyerukan masyarakat internasional mendesak semua orang untuk berbicara menentang penggusuran di Masafer Yatta, dan ancaman pemindahan komunitas Palestina lainnya di wilayah pendudukan,” kata Komite Sentral WCC dalam pernyataannya, dilaporkan Middle East Monitor, Sabtu (2/7).

Israel telah menduduki Tepi Barat sejak 1967. Setiap hari warga Palestina menghadapi pelanggaran hak asasi manusia terhadap dan pelanggaran hukum internasional.

Kelompok Hamas di Jalur Gaza menyambut kecaman WCC. “Sikap ini (Dewan Gereja Dunia) adalah bukti baru yang mengungkap kejahatan dan pelanggaran yang dilakukan pendudukan Israel terhadap tanah, rakyat, dan tempat suci kami,” kata Hamas dalam sebuah pernyataan, dikutip laman Yeni Safak, Sabtu.

Sebelumnya, Komite Kepresidenan Tinggi Urusan Gereja di Palestina mengutuk keputusan Israel untuk mendaftarkan tanah Palestina yang berdekatan dengan Masjid al-Aqsa digunakan oleh orang Yahudi. Kantor Berita Petra melaporkan, komite tersebut mengatakan tindakan ini adalah bagian dari rencana Israel untuk mengontrol kota suci dan Yahudisasi.

Sumber: republika.co.id

MUI: Puasa Arafah Ikut Keputusan Pemerintah

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Umat Islam di Indonesia banyak yang bertanya-tanya mengenai waktu puasa Arafah yang berbeda di Arab Saudi.  Dalam hal ini Sekretaris Komisi Fatwa MUI KH Miftahul Huda menjelaskan hingga saat ini belum ada fatwa yang menjelaskan jika terjadi perbedaan puasa sunnah Arafah antara Indonesia dan Arab Saudi. Berbeda dengan Ramadhan, puasa Arafah terkait dengan ritual haji di Saudi.

“Perbedaan waktu bulan qomariyah ini memang telah terjadi dari waktu ke wakru diantara para ulama (ikhtilaf) dengan adanya sidang itsbat yang dilakukan pemerintah maka perbedaan tersebut kemudian disatukan,”ujar dia, Senin (4/7/2022).

Dalam kaidah ushul fikih maka keputusan pemerintah dalam sidang itsbat seperti terakhir kali pada penentuan satu Zulhijjah jatuh pada Jumat, (1/7) maka pemerintah menghapus perbedaan pendapat kajian fikih termasuk perbedaan puasa sunnah Arafah.

“Sehingga seharusnya umat Islam di Indonesia tidak perlu galau lagi untuk menjalankan puasa Arafah dan tetap mengikuti keputusan pemerintah,”jelas dia.

Namun dalam hadits disebutkan perintah puasa Arafah terkait dua hal yakni tempat dan waktu. Puasa Arafah bertepatan dengan jamaah haji yang berkumpul untuk wukuf di Arafah pada 9 Zulhijjah yang jatuh pada Jumat (8/7) waktu Saudi.

Tetapi di Indonesia, puasa Arafah jatuh pada Sabtu (9/7). Karena ada perbedaan waktu 4 hingga enam jam dengan Saudi.

Kyai Miftah berharap hal ini tidak lagi menjadi kegalauan atau perdebatan diantara umat Islam di Indonesia. Puasa Ramadhan yang sifatnya wajib saja sering terjadi perbedaan waktu apalagi puasa Arafah yang hanya puasa sunnah.

Sumber: republika.co.id

Kloter 43 Solo Tutup Penerbangan Haji Reguler Jamaah Indonesia

SOLO(Jurnalislam.com)— Kelompok terbang (Kloter) 44 Embarkasi Solo (SOC 43) tiba di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Minggu (3/7/2022). Pesawat berbadan jumbo milik Garuda Indonesia dengan kode penerbangan GA6143 itu mendarat sekitar pukul 11.30 Waktu Arab Saudi.

Kepala Daerah Kerja (Daker) Bandara Haryanto mengungkapkan, bahwa hadirnya 354 orang asal Kota Tegal, Kota Pekalongan, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Purbalingga ini sekaligus menandai berakhirnya gelombang kedatangan jemaah haji Indonesia reguler di Arab Saudi.

Haryanto bersyukur, proses kedatangan jemaah haji Indonesia, baik gelombang 1 maupun 2, berjalan dengan baik. Pada gelombang 1, jemaah haji Indonesia mendarat di Bandara Internasional Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah. Sedangkan untuk gelombang 2, jemaah haji tida di Terminal Haji Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi.

“Total ada 240 kloter yang kita layani pada fase kedatangan ini. Alhamdulillah secara umum bisa berjalan dengan baik sesuai dengan rencana kerja,” kata Haryanto.

Lebih lanjut, Haryanto mengaku bahwa ada beberapa catatan evaluasi selama proses kedatangan ini untuk perbaikan ke depan. Catatan itu antara lain, masih ada jemaah yang membawa barang melebihi kapasitas. Selain itu, ada juga jemaah yang keluar dari bandara sebelum melakukan proses sidik jari di imigras.

Catatan berikutnya, ada jemaah yang namanya sama persis dengan daftar nama orang lain yang masuk dalam blacklist pemerindah Arab Saudi. Ada juga jemaah yang sempat kehilangan barang bawaan berisi uang tunai.

“Semua kasus itu bisa terselesaikan dengan baik atas kerja sama tim bandara dan otoritas Saudi,” pungkas Haryanto.

Jamaah Diminta Fokus Siapkan Kondisi Puncak Ibadah Haji

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Menjelang puncak Haji di Arafah, 9 Dzulhijjah, yang akan jatuh pada hari Jumat, 8 Juli 2022, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadzily mengimbau kepada jemaah haji Indonesia untuk fokus mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

“Ibadah haji itu puncaknya pada hari Arafah, dilanjutkan dengan pergerakan menuju Muzdalifah, dan Mabit di Mina. Rangkaian ritual Haji ini memerlukan tenaga yang cukup,” ujar Ace di Makkah, Minggu (03/07/2022).

“Oleh karena itu, saya mengimbau kepada jemaah haji Indonesia untuk fokus mempersiapkan dirinya untuk aktivitas tersebut yang tentu memerlukan stamina yang prima,” lanjutnya.

Ia berpesan, dalam tiga hari ke depan jemaah lebih baik beribadah di hotelnya masing-masing dan menjalankan Ibadah di sana.

Dikatakan Ace, panitia haji juga telah menyediakan konsumsi yang cukup, sehingga jemaah tak perlu keluar hotel walaupun untuk tujuan ke Masjid Al-Haram, apalagi hanya untuk berbelanja.

“Inilah momentum yang tepat bagi calon jemaah haji kita untuk mempersiapkan diri menyempurnakan rukun Islamnya,” pesan Ace.

Sementara itu, sampai dengan Sabtu (2/7/2022) tengah malam, ada 91.106 jemaah haji Indonesia yang sudah diberangkatkan ke Tanah Suci. Mereka saat ini terkonsentrasi di Makkah untuk menunggu puncak haji. Wukuf di Arafah akan berlangsung pada 8 Juli 2022 (9 Zulhijah 1443 H). Jemaah akan mulai diberangkatkan menuju Arafah, sehari sebelumnya, tepatnya 7 Juli 2022.

Hari ini, Minggu (3/7/2022), dua kloter dijadwalkan akan tiba di Bandara Internasional King Abdul Aziz Jeddah. Mereka berangkat dari dua embarkasi, yaitu: Embarkasi Jakarta – Bekasi (JKS) dan Embarkasi Solo (SOC).

Kedatangan dua kloter ini sekaligus menandai berakhirnya fase kedatangan jemaah haji reguler dari Indonesia. Adapun untuk jemaah haji khusus, masih ada kedatangan dalam beberapa hari ke depan.

Pemegang Visa Mujamalah Wajib Berangkat Melalui PIHK

MAKKAH(Jurnalislam.com) — Kementerian Agama mengingatkan bahwa pemegang visa mujamalah wajib berangkat ke Arab Saudi melalui Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK). Penegasan ini disampaikan oleh Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Nur Arifin.

Menurut Arifin, ketentuan ini diatur dalam Pasal 18 ayat (2) Undang-Undang No 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah. “Dalam ayat itu, tegas disebutkan bahwa Warga negara Indonesia yang mendapatkan undangan visa haji mujamalah dari pemerintah Kerajaan Arab Saudi wajib berangkat melalui PIHK,” jelas Nur Arifin di Makkah, Jumat (1/7/2022).

Ketentuan ini dimaksudkan agar proses pemberangkatan setiap WNI yang akan menunaikan ibadah haji tercatat. Di samping itu, ada pihak penyelenggara yang bertanggung jawab dan dalam hal ini adalah PIHK.

Regulasi juga mengatur keharusan PIHK untuk melaporkan keberangkatan jemaah haji yang menggunakan visa mujamalah kepada Menteri Agama. “Ayat (2) pasal 18 mengatur, PIHK yang memberangkatkan WNI yang mendapatkan undangan visa haji mujamalah dari pemerintah Kerajaan Arab Saudi wajib melapor kepada Menteri,” tandasnya.

 

KH Cholil Serukan Umat Gunakan Medsos untuk Dakwah

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis memandang pentingnya media sosial (Medsos) sebagai sarana dakwah di ruang maya. Menurutnya, era milenial sangat terikat dan dipengaruhi oleh media sosial.

Hal itu ia sampaikan secara tertulis kepada MUIDigital sebagai respons poitif terhadap adanya acara Anugerah Syair Ramadan 2022 oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Komisi Penyiaran Islam Indonesia (KPI), Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), dan Kementerian Agama (Kemenag) di Auditorium TVRI, Senayan Jakarta Pusat, Jumat (1/07/2022).

“Kita sekarang tidak melulu dakwah melalui TV atau radio tapi ada yang baru seperti YouTube, IG, dan Tik Tok harus bisa mewarnai dakwah di dunia Maya,” kata Kiai Cholil.

 

Kiai Cholil menjelaskan, sedari awal Anugerah Syiar Ramadan 2022 diinisiasi oleh MUI. Di dua tahun pertama pelaksanaan pada tahun 2017-2018 MUI sendiri yang mengadakan. Kemudian pada tahun 2019 mulai bekerja sama dengan KPI, sampai sekarang menjadi Anugerah Syiar Ramadan yang diinisiasi MUI.
“Selanjutnya mengajak KPI hingga Kemenpora dan Kementerian Agama guna meluaskan penghargaan kepada orang-orang yang memberikan tontonan dan tuntunan inspirasi, ” lanjutnya.

Adanya penganugerahan syiar Ramadan, menurut Kiai Cholil juga bentuk standarisasi yang dilakukan oleh MUI terkait pemahaman keagamaannya yang benar, keilmuan yang cukup, serta bahan kebangsaan dan tauhid yang baik.

 

Dia pun berharap kerja sama antara MUI, KPI¸ Kemenpora, dan Kemenag bersama-sama memberikan tontonan dan motivasi kepada anak bangsa agar memberikan dampak dalam kehidupan moral dan juga perilaku yang sehat pula.

“Ditingkatkan untuk kreativitasnya kepada teman-teman yang sudah mendapat penghargaan dan bagi yang belum,” harap Kiai Cholil. (mui)

 

IDEAS: Walau PMK Mewabah, Potensi Ekonomi Kurban 2022 Tembus 24,3 Triliun

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) memproyeksikan potensi nilai ekonomi kurban Indonesia tahun 2022 ini sebesar Rp 24,3  triliun yang berasal dari 2,17 juta pekurban (shahibul qurban).

 

Proyeksi tersebut meningkat tipis dari tahun lalu (2021) yang  diestimasikan mencapai Rp 22,3 triliun dari 2,11 juta orang pekurban.

 

“Meski tahun ini keberangkatan jama’ah haji ke tanah suci sudah kembali dibuka, namun terhambatnya pemulihan ekonomi pasca pandemi akibat krisis global, melemahnya daya beli masyarakat akibat kenaikan harga pangan dan energi, serta penyebaran wabah PMK (penyakit mulut dan kuku), menyebabkan kami mengambil estimasi kenaikan yang konservatif,” kata Yusuf Wibisono, Direktur IDEAS dalam keterangan tertulisnya pada Senin, (04/07/2022).

 

Dia menambahkan bahwa penyebaran wabah PMK yang marak dalam beberapa bulan terakhir berpotensi memberi tekanan pada harga hewan ternak akibat pembatasan mobilitas hewan ternak serta minimnya pasokan akibat terbatasnya hewan ternak yang bebas penyakit.

 

Dari 2,17 juta keluarga muslim berdaya beli tinggi yang berpotensi menjadi shahibul qurban ini, kebutuhan hewan kurban terbesar adalah kambing-domba sekitar 1,31 juta ekor, sedangkan sapi-kerbau sekitar 519 ribu ekor.

 

“Dengan asumsi berat kambing-domba antara 20-80 kg dengan berat karkas 41 persen serta berat sapi-kerbau antara 250-750 kg dengan berat karkas 57 persen, maka potensi ekonomi kurban 2022 dari sekitar 1,8 juta hewan ternak ini setara dengan 106,2 ribu ton daging,”tutur Yusuf.

 

Potensi kurban terbesar datang dari Pulau Jawa, terutama wilayah aglomerasi dimana mayoritas kelas menengah muslim dengan daya beli tinggi berada.Potensi kurban Pulau Jawa kami proyeksikan terdiri dari 396 ribu sapi-kerbau dan 936 ribu kambing-domba, senilai Rp 18,3 triliun, setara 80,4 ribu ton daging.

 

“Sedangkan potensi kurban Jawa tertinggi berasal dari Jabodetabek, yaitu 117 ribu sapi-kerbau dan 280 ribu kambing-domba, senilai Rp 5,3 triliun, setara 24 ribu ton daging. Potensi kurban Jawa terbesar lainnya datang dari Bandung Raya, Surabaya Raya, Yogyakarta Raya, Malang Raya dan Semarang Raya,” ucap Yusuf.

 

Riset tersebut memperlihatkan bahwa kurban tidak hanya ritual ibadah, namun telah menjadi tradisi sosial-ekonomi besar tahunan. Sebagai negara muslim terbesar, potensi kurban di Indonesia sangat signifikan.

 

Menurut Yusuf jika kurban terkelola dengan baik, semestinya mampu menjadi kekuatan ekonomi yang tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat kelas bawah namun juga memberdayakan peternak rakyat yang tingkat kesejahteraannya juga rendah.

 

“Pada masa pemulihan ekonomi pasca pandemi ini, upaya mengarusutamakan kurban sebagai pranata sosial-ekonomi ini semakin menemukan relevansi dan urgensi-nya,” tutup Yusuf.[]

 

MUI: Anugrah Syiarh Ramadhan Ajang Berkompetisi dalam Kebaikan

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ketua Majelis Ulama Indonesia Bidang Informasi dan Komunikasi, KH Masduki Baidlowi, menyebut acara Anugerah Syiar Ramadhan 2022 sebagai ajang fastabiqul khairat (kompetisi meraih kebaikan) di antara sesama.

“Di satu sisi acara ini adalah kompetisi yang bagus, yakni fastabiqul khairat,” kata Kiai Masduki dalam acara Anugerah Syiar Ramadan 2022 di Auditorium TVRI, Senayan Jakarta Pusat, Jumat (1/7/2022).

Dia menjelaskan, penganugerahan syiar tersebut mulanya adalah inisiasi program MUI yang sudah dicanangkan sejak tahun 2000. Sejak itu pula, acara itu diadakan secara mandiri oleh MUI dalam menginspirasi dan mengedukasi tayangan syiar Ramadhan di Indonesia.

Pada gilirannya, lanjut Kiai Masduki, program tersebut mendapat antusias dan apresiasi dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat sebagai agenda inspiratif dalam penyiaran di Indonesia. Belakangan ini juga dalam rentang tahunan, menyusul Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menjadi bagian dari kerja sama acara tersebut.

“Tentunya ini menjadi kegiatan yang kami andalkan bagaimana syiar Ramadhan yang ditayangkan memiliki spirit yang sama dengan orang-orang yang beribadah,” kata dia.

Sebagai wujud apresiasi, Kiai Masduki berharap untuk para pemenang agar terus meningkatkan kreasi dan inspirasi. Begitupun dengan yang belum beruntung, Kiai Masduki mengajak untuk tidak berkecil hati dan mengajak berbenah diri.

“Ini wujud semangat kita semua bagaimana melaksanakan syiar dengan baik,” jelas Kiai Masduki dalam sambutannya.(mui)

 

 

Anugrah Syiar Ramadhan Pastikan Norma Keagamaan jadi Arus Utama Masyarakat

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, KH Asrorun Niam Sholeh menyampaikan bahwa sebagai penerus cita-cita bangsa, pemuda harus dibekali dengan dasar kuat terkait dengan karakter dan keteladanan.

Pada sambutannya yang mewakili Kemenpora dalam acara Anugerah Syiar Ramadhan 2022, yang berlokasi di Auditorium TVRI, Senayan Jakarta Pusat, Kiai Niam menyebut inovasi dan kreativitas dapat diwujudkan sebagai tuntunan tuntunan melalui tontonan yang baik.

“Kegiatan Anugerah Syiar Ramadan merupakan bagian dari inisiasi Majelis Ulama Indonesia guna memastikan norma nilai keagamaan menjadi arus utama masyarakat, termasuk di dalamnya adalah media penyiaran,” jelas Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kemenpora RI, Jumat (1/7/2022).

 

Menurut dia, KPI sebagai presentasi kekuatan publik berwenang untuk mengedukasi, mengawasi, serta memastikan bahwa media penyiaran di Indonesia memiliki tugas mencerdaskan dan membangun peradaban.

Lebih lanjut, Kiai Niam menuturkan dalam 4 tahun terakhir, Kementerian Pemuda dan Olahraga memandang bahwa komitmen kolaborasi dan sinergi untuk membangun peradaban melalui media penyiaran adalah satu keniscayaan.

Oleh sebab itu, melalui Anugerah Syiar Ramadhan 2022 yang merupakan hasil kolaborasi dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), dan Kementerian Agama (Kemenag) adalah bagian dari wujud komitmen dan tanggung jawab kolektif dalam memberikan tuntunan melalui tontonan yang baik.

 

“Hadirnya konten siaran yang berisikan pesan-pesan peradaban dan kedamaian akan memberi rasa nyaman dan edukasi positif bagi para penonton, khususnya kaum muda,” katanya.

Kiai Niam juga berharap agar media penyiaran dapat menjadi sarana aktualisasi kaum muda untuk berkreasi dan berinovasi yang mampu berperan sebagai subjek tidak hanya sebatas objek kreativitas. (mui)