Berita Terkini

Pemain Basket Muslimah Luncurkan Petisi ke FIBA untuk Izinkan Penggunaan Hijab

ggggNEW YORK (Jurnalislam.com) – Setahun yang lalu, Indira Kaljo, seorang pemain basket Muslimah, memilih untuk memakai jilbab.

Dia mengambil keputusan menyusul hidayah selama perjalanan amal untuk gempa Haiti.

Tapi pemain Bosnia-Amerika itu dengan cepat menyadari dia tidak akan bisa bermain secara profesional di Eropa karena organisasi basket telah melarang penggunaan semua jenis tutup kepala, termasuk jilbab, turban atau yarmulkes, selama pertandingan resmi.

“Ini tidak masuk akal,” kata Kaljo, yang percaya bahwa larangan tersebut diskriminatif terhadap atlet yang ingin mengikuti keyakinan mereka, termasuk Sikh dan Yahudi.

Seperti yang dilansir World Bulletin, Kamis (21/07/2016), mengatakan bahwa pada tahun 2014, ia meluncurkan sebuah petisi online, yang mengumpulkan sekitar 70.000 tanda tangan, menarik perhatian seluruh dunia atas larangan dan, katanya, mempengaruhi Federasi Bola Basket Internasional, atau FIBA, untuk melunakkan sikap mereka terhadap jilbab.

Pada bulan September 2014 FIBA memang mengumumkan bahwa perempuan akan diizinkan untuk memakai penutup kepala berdasarkan agama dalam permainan basket dalam negeri untuk jangka waktu sementara dua tahun.

Namun, FIBA belum memberikan kebijakan yang sama di kompetisi internasional, mengatakan akan mempertimbangkan materi tersebut di pertemuan dewan akhir tahun ini.

Dua minggu setelah keputusan FIBA, tim bola basket wanita Qatar menarik diri dari Asian Games 2015, memprotes larangan jilbab yang masih berlaku di pertandingan internasional.

FIBA mengatakan keputusannya tidak ada hubungannya dengan agama, tetapi hanya terkait dengan masalah olahraga. Menurut peraturan, semua tutup kepala, aksesoris rambut dan perhiasan dilarang.

“Menyebalkan,” kata Kaljo, yang saat ini berada di Istanbul. “Ini adalah semangat kami, mimpi kami. Ini adalah apa yang kami kerjakan sejak kami masih menjadi anak kecil.”

Kaljo mengatakan dia tidak mengerti alasan masalah keamanan yang dinyatakan FIBA dalam aturan.

Dia bilang nyaman saat bermain dengan kepala tertutup.

“Saya bermain dengan cara yang sama. Bagi saya, saya lebih nyaman sekarang daripada sebelumnya waktu belum memakai jilbab,” kata Kaljo, menambahkan gaun lengan panjangnya dibuat dalam bahan olahraga yang lebih membantu penyerapan keringat, sehingga nyaman, terutama dalam kontak dekat dengan pemain lain.

“Pertama kali bermain mengenakan jilbab, saya bermain dengan baik,” katanya.

“Saya benar-benar sedih ketika mendengar para wanita berhenti bermain setelah memutuskan untuk mengenakan jilbab,” keluh Kaljo.

Atlet yang bergairah tersebut percaya akan ada lebih banyak perempuan Muslim yang bermain basket mewakili negara mereka, jika FIBA memperluas peraturan September 2014 hingga di tingkat internasional.

Dia saat ini meneruskan karirnya di tim Saudi, yang didirikan pada tahun 2006, mengambil bagian dalam kompetisi lokal dan internasional swasta, karena tidak ada liga nasional resmi di negara ini.

“Saya pikir wanita Muslim harus nyaman dengan kulit mereka, apakah mereka memakai jilbab atau tidak, tertutup atau tidak tertutup,” kata Kaljo, yang juga menjalankan sebuah LSM, Activne, yang bertujuan untuk mempromosikan pengembangan pribadi bagi perempuan Muslim melalui olahraga.

Dua wanita di Arab Saudi dibebaskan pekan lalu setelah lebih dari dua bulan dipenjara karena mengendarai mobil, yang dilarang bagi wanita di negara ini.

Kaljo berpikir larangan ini juga harus dihapus seperti putusan lain yang membatasi partisipasi perempuan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Bunuh Puluhan Anak-anak, Masyarakat Internasional Kutuk Serangan Udara AS di Manbij, Suriah

syria-children

MANBIJ (Jurnalislam.com) – Serangan udara AS yang menargetkan sekelompok warga sipil yang berusaha mengungsi dari pertempuran di desa Tukhar di Manbij, pada hari Selasa kemarin mendapat kecaman keras dari masyarakat Internasional, Aljazeera melaporkan, Kamis (21/07/2016).

“Seluruh keluarga telah tewas dalam serangan itu,” kata sumber lokal, mengatakan bahwa serangan udara AS membunuh 85 orang dan melukai sedikitnya 100 orang.

Oposisi Koalisi Nasional Suriah pada hari Rabu mendesak aliansi anti-IS pimpinan AS untuk menghentikan serangan sehingga memungkinkan penyelidikan menyeluruh.

Presiden Koalisi Anas al-Abdah mengatakan aliansi bertanggung jawab atas kejahatan perang di Manbij, yang ia katakan menewaskan sedikitnya 125 warga sipil.

Dan ada juga kekhawatiran internasional, dengan badan anak-anak PBB UNICEF mengatakan telah menerima laporan hingga 20 anak-anak mungkin telah tewas dalam insiden itu.

“Tidak peduli di mana mereka berada di Suriah atau di bawah kontrol siapa mereka hidup – tidak ada siapapun yang membenarkan serangan terhadap anak-anak,” kata perwakilan UNICEF Suriah, Hanaa Singer.

Namun untuk Kesekian kalinya AS menanggapinya dengan mengatakan akan menyelidiki laporan kematian warga sipil dalam serangan udaranya.

“Komando sentral AS telah mengkonfirmasi kepada Al Jazeera bahwa mereka melakukan serangan udara di daerah dan mengatakan perlu menyelidiki laporan bahwa warga sipil tewas atau terluka dalam insiden ini,” reporter Al Jazeera Rosiland Jordan, melaporkan dari Washington, Selasa.

Aktivis Suriah menyerukan protes internasional atas insiden tersebut, dan demonstrasi lokal telah diselenggarakan di dalam wilayah Suriah.

Kelompok hak asasi Amnesty International juga menyatakan kekhawatirannya dan menuntut penyelidikan yang cepat, independen dan transparan.

Pentagon telah mengakui 41 kematian warga sipil dalam serangan di Suriah dan Irak sejak 2014, namun Observatory melaporkan hampir 600 warga sipil tewas dalam serangan yang dipimpin AS di Suriah saja.

Pertempuran dan serangan udara berlanjut hari Kamis di Manbij, di mana pasukan oposisi dukungan AS, SDF maju dalam waktu semalam, kelompok Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris mengatakan.

Kepala Observatorium Rami Abdel Rahman mengatakan SDF menyita sebuah distrik selatan kota, sehingga mereka berhasil mencapai lokasi yang paling dekat dengan pusat Manbij.

Pada Kamis sore, Observatorium melaporkan situasi tenang di Manbij, meskipun tidak jelas apakah tenang itu sementara atau hanya menanggapi ultimatum SDF.

Sebelumnya pada hari itu, monitor telah melaporkan tambahan serangan udara yang dipimpin AS dan mengatakan SDF telah masuk ke dalam kota dalam waktu semalam.

Di tempat lain di negeri ini, Observatorium mengatakan sedikitnya 51 warga sipil tewas dalam pemboman daerah yang dikuasai mujahidin Suriah.

Organisasi itu mengatakan sedikitnya 13 orang, termasuk tiga anak-anak, tewas dalam serangan udara rezim Syiah Assad dan penembakan di daerah Timur Ghouta di luar ibukota Damaskus.

23 orang tewas lainnya dalam serangan di provinsi Idlib, meskipun tidak jelas apakah serangan tersebut dilakukan oleh rezim Assad atau sekutu Rusia-nya.

Pemboman oleh rezim Nushairiyah Assad juga menghantam dua lingkungan pemukiman di timur Aleppo yang dikuasai mujahidin Suriah, di mana 15 warga sipil tewas, enam di antaranya anak-anak, kata Observatorium.

Lingkungan Aleppo yang dikuasai mujahidin Suriah berada dalam pengepungan selama dua minggu terakhir, setelah pasukan pemerintah memutuskan satu-satunya rute pasokan yang tersisa ke timur dari kota.

PBB pada hari Kamis menyerukan gencatan senjata mingguan 48 jam di Aleppo untuk memungkinkan pengiriman bantuan ke wilayah timur yang dikepung.

Jan Egeland, kepala satuan tugas kemanusiaan yang didukung PBB untuk Suriah, memperingatkan bahwa lebih dari 200.000 orang di Aleppo Timur terancam kelaparan.

“Konvoi Kemanusiaan siap, pekerja kemanusiaan siap. Kami memiliki persediaan. Kita perlu gencatan dari pertempuran,” katanya.

Deddy | Al Jazeera | Jurnalislam

Oposisi Suriah Dukungan AS Beri Waktu IS Dua Hari Untuk Kosongkan Manbij

www.aljazeera.commritemsImages201671071e40323d29c4eaa930aa3971abc4c17_18-afdac7e0eda9bcdbb9a9aa11189379cdb15cdb96SURIAH (Jurnalislam.com) – Kelompok oposisi Suriah yang didukung AS memberikan waktu 48 jam bagi kelompok Islamic State (IS) untuk meninggalkan kubu mereka di Manbij Suriah, setelah aggressor AS memimpin serangan udara di wilayah terdekat yang dilaporkan menewaskan puluhan warga sipil termasuk wanita dan anak-anak, lansir Aljazeera, Kamis (21/07/016).

Di tempat lain di Suriah, lembaga monitor mengatakan sedikitnya 51 warga sipil tewas dalam serangan bom di wilayah yang dikuasai oposisi.

Pengumuman hari Kamis tersebut muncul dua hari setelah serangan yang diluncurkan oleh koalisi pimpinan AS melawan IS dilaporkan membunuh sedikitnya 85 warga sipil di daerah Tokhar di utara kota Manbij di propinsi Aleppo.

“Inisiatif ini adalah kesempatan terakhir yang tersisa bagi anggota IS yang terkepung untuk meninggalkan kota,” Dewan Militer Manbij, bagian dari aliansi Pasukan Demokratik Suriah (SDF), mengatakan, menurut agen berita AFP.

SDF, aliansi Arab dan Kurdi yang didukung oleh AS, melancarkan serangan terhadap IS untuk merebut Manbij akhir bulan lalu.

Mereka telah mengepung kota dan maju ke pusat kota di bawah dukungan serangan udara oleh koalisi internasional yang dipimpin AS.

Dewan mengatakan bahwa para pejuang IS akan diizinkan untuk membawa senjata individu ringan.

Pernyataan tersebut juga menyerukan warga sipil untuk meninggalkan kota atau menjauhkan diri dari daerah tempat pertempuran berlangsung.

“Kami mengambil keputusan ini sekarang setelah IS menggunakan warga sebagai perisai manusia, setelah tekanan media pada kami, dan untuk melindungi warga sipil yang tertinggal di kota,” kata seorang komandan SDF kepada AFP pada kondisi anonimitas.

Observatorium Suriah yang berbasis di Inggris untuk Hak Asasi Manusia mengatakan bahwa warga sipil yang tewas pada hari Selasa adalah penduduk desa yang mengungsi dari pertempuran di desa al-Tukhar, 14 kilometer dari Manbij.

 

Deddy | Aljazeera | Jurnalislam

Turki: Sudah 10.410 Orang Terkait dengan Aksi Kudeta Resmi Ditahan

366077AB00000578-0-image-m-8_1468826965566ANKARA (Jurnalislam.com) – Lebih dari 10.400 tersangka telah resmi ditahan sejauh ini setelah kudeta yang gagal Jumat lalu, wakil ketua Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) mengatakan pada Anadolu Agency, Kamis (21/07/2016).

Berbicara pada konferensi pers setelah pertemuan Dewan Pimpinan Pusat, juru bicara Partai AK Yasin Aktay mengumumkan jumlah terbaru tersangka yang ditahan sejak kudeta hari Jumat.

“10.410 tersangka, termasuk 287 petugas polisi, 7.423 tentara, 2.014 anggota peradilan dan 686 warga sipil telah dibawa ke tahanan, sejauh ini,” kata Aktay.

Selain itu, juru bicara juga mengatakan bahwa Wakil Presiden AS Joe Biden membuat panggilan telepon ke Perdana Menteri Turki Binali Yildirim dan mengatakan permintaan resmi Ankara untuk ekstradisi Fetullah Gulen, tersangka utama yang terkait dengan upaya kudeta hari Jumat yang gagal, akan diteliti dengan seksama dan secepatnya.

“Biden menelepon Perdana Menteri kami karena upaya kudeta dan menyampaikan keinginannya untuk melewatinya,” katanya.

Pada hari Selasa, Perdana Menteri Turki menegaskan bahwa permintaan resmi telah dikirim ke AS untuk ekstradisi Fetullah Gulen yang tinggal di Pennsylvania.

Memimpin pertemuan Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) yang berkuasa di parlemen di Ankara, Binali Yildirim mengkritik AS karena berkali-kali meminta Turki memberikan bukti keterlibatan tokoh berbasis Pennsylvania, tersebut dalam kudeta sebelum mengekstradisi dia.

Selain itu, Aktay mengatakan dia kesulitan memahami kritik Eropa terhadap penetapan keadaan darurat negara Turki yang telah disetujui oleh parlemen hari Kamis untuk jangka waktu tiga bulan.

Menyinggung tentang aksi unjuk rasa oposisi utama Partai Rakyat Republik (CHP) yang direncanakan, ia mengatakan bahwa Partai AK diundang untuk aksi hari Ahad tersebut yang akan diselenggarakan di Taksim Square Istanbul.

“Kami mendapat undangan dari CHP. Terima kasih banyak. Kami akan mengikuti aksi itu, “katanya.

Sedikitnya 246 orang, termasuk anggota pasukan keamanan dan warga sipil, tewas di Istanbul dan Ankara, dan lebih dari 1.500 lainnya luka-luka ketika mereka memprotes kudeta.

Pemerintah Turki mengatakan kudeta dilakukan oleh pengikut Fetullah Gulen, yang melakukan kampanye yang telah lama dijalankan untuk menggulingkan pemerintah Turki melalui infiltrasi lembaga Turki, khususnya militer, polisi, dan pengadilan, serta membentuk negara paralel.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

 

Zionis Dirikan Dinding Pemisah Sepanjang 42 Km di Tepi Barat, Palestina

filistin-duvar

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Israel saat ini sedang membangun dinding penghalang sepanjang 42 kilometer dekat kota Hebron Tepi Barat (Al-Khalil) yang diduduki, yang menurut para pejabat akan selesai dalam waktu satu tahun.

Seperti yang dilansir World Bulletin, Kamis (21/07/2016), berdasarkan pernyataan yang dikeluarkan oleh kantor perdana menteri Israel, penghalang direncanakan akan terbentang dari kota Tarqumiyah Palestina (terletak 12 kilometer di sebelah barat laut Hebron) ke daerah pemukiman zionis yahudi di dekat pos pemeriksaan militer Mitar.

Pernyataan itu menegaskan bahwa dinding masif tersebut dimaksudkan untuk mencegah infiltrasi jihadis dan imigran ilegal ke Israel.

Pemerintah yahudi tersebut menyatakan bahwa penghalang sepanjang 42-kilometer yang akan dilengkapi dengan perangkat monitoring elektronik tersebut akan selesai dalam waktu satu tahun.

Portal berita online i24news Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri zionis Benjamin Netanyahu pada hari Rabu memeriksa daerah yang akan dibangun dinding.

“Kami akan mencegah para pekerja yang tidak memiliki dokumen dan militan masuk ke kota-kota Israel,” kata Netanyahu seperti dikutip selama melakukan inspeksi.

Dalam kunjungannya Perdana menteri yahudi itu dilaporkan didampingi Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman; Menteri Keamanan Internal Gilad Erdan; Gadi Eizenkot, kepala tentara staf umum Israel; dan Avi Dichter, ketua komite urusan luar negeri di Knesset (parlemen yahudi Israel).

Yahudi Israel menjajah Yerusalem Timur dan Tepi Barat Palestina selama Perang Timur Tengah tahun 1967 dan terus melakukannya pencaplokan wilayah Palestina meskipun resolusi PBB menyerukan mereka untuk mundur.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Muktamar III Wahdah Islamiyah Ditutup, Ustadz Zaitun Rasmin Kembali Jadi Ketua Umum

Penutupan Muktamar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu (20/07/2016)
Penutupan Muktamar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu (20/07/2016)

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Muktamar III Wahdah Islamiyah di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur secara resmi ditutup. Penutupan muktamar yang diikuti oleh 2500 perserta dari seluruh Indonesia ini dilakukan oleh Ketua Umum terpilih KH Muhammad Zaitun Rasmin.

“Dengan mengucapkan rasa syukur kepada Allah, Muktamar III Wahdah Islamiyah saya nyatakan ditutup,” kata Ustadz Zaitun Rasmin sembari memukulkan palu sidang dalam penutupan Muktamar III Wahdah Islamiyah, Rabu (20/7/2016) petang.

Sebelumnya, kepada ribuan kader-kadernya Zaitun menyampaikan rasa terharunya atas suksesnya penyelenggaraan Muktamar ketiga ini. Terlabih muktamar ini digelar di ibu kota Jakarta yang sangat jauh dari basis utama massa ormas Islam ini, yakni Makassar, Sulawesi Selatan.

“Karena kekuatan Wahdah di ibu kota masih lemah. Ini akan memberi semangat yang lebih besar ke depan,” ungkap Zaitun.

Mengenai dirinya yang dipilih kembali menjadi Ketua Umum, Zaitun mengakui bahwa hal itu merupakan tugas dan tanggung jawab yang berat.

“Beban berat ada di pundak saya. Tugas kita ke depan tidak ringan. Apalagi kita akan kembangkan (Wahdah) ke kabupaten dan kota seluruh Indonesia,” katanya semangat.

Sementara itu Ketua Lajnah Taujihiyah Muktamar III Wahdah Islamiyah Dr H Rahmat Abdurrahman, MA., mengatakan, Ustaz Zaitun Rasmin terpilih secara mufakat untuk kembali memimpin Wahdah Islamiyah.

“Kita bermufakat memilh Ketua Umum DPP yakni Ustaz Zaitun Rasmin. Tiga dewan yang lain kita jadikan agenda dalam tim formatur,” ungkap Rahmat Abdurrahman kepada wartawan usai penutupan Muktamar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu petang (20/7/2016).

Tiga Dewan yang dimaksud Rahmat adalah Dewan Syuro, Dewan Syariah dan Dewan Pengawas Keuangan.

Rahmat menyebutkan, selain memilih Ketua Umum, Muktamar juga telah menetapkan H Muhammad Ikhwan Abdul Jalil, M.HI sebagai Ketua Dewan Syuro, H Muhammad Yusron Ansar, MA sebagai Ketua Dewan Syariah dan Dr H Abdul Hamid Habbe sebagai Ketua Dewan Pengawas Keuangan.

“Saya sendiri terpilih sebagai Ketua Harian DPP Wahdah Islamiyah yang insya Allah akan membantu Ketua Umum DPP dalam perjalanan selama lima tahun ke depan,” tandasnya.

Untuk posisi Sekretaris Jenderal dan Bendahara Umum, Rahmat menyebut Muktamar tidak menunjuk nama untuk posisi tersebut. “Sekjen dan Bendum kami tunda, wewenang Ketum untuk menentukan hal itu,” jelasnya.

Muktamar III Wahdah Islamiyah berlangsung sejak 17-20 Juli 2016. Diikuti kurang lebih 2500 peserta dari seluruh Indonesia. Wapres HM Jusuf Kalla secara resmi membuka muktamar ini pada Selasa (19/07/2016), walaupun pembukaan secara besar-besaran telah dilakukan di Masjid Istiqlal Jakarta pada Ahad, 17 Juli 2016 lalu.

Kontributor: Shadiq Ramadhan | Editor: Ally Muhammad Abduh

Adakan Sekolah Advokasi, IPM Jabar Berharap Jadi Jembatan Kaum Mustadz’afin

Puluhan pelajar Muhammadiyah mengikuti Sekolah Advokasi Pelajar di Gedung Islamic Centre Sumedang, Jawa Barat, Kamis (21/7/2016)
Sejumlah Pelajar Muhammadiyah dari berbagai sekolah Muhammadiyah se-Jawa Barat mengikuti Sekolah Advokasi Pelajar di Gedung Islamic Centre Sumedang, Jawa Barat, Kamis (21/7/2016)

SUMEDANG (Jurnalislam.com) – Sebagai salah satu bentuk peningkatan kapasitas emosional, intelektual dan sosial dari pelajar Muhammadiyah Jawa Barat, Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Jawa Barat mengadakan Sekolah Advokasi. Kegiatan ini akan berlangsung selama tiga hari terhitung sejak Kamis hingga Sabtu, 21-23 Juli 2016 di Gedung Islamic Centre Sumedang, Jawa Barat.

Dengan mengusung tema “Advokasi Pelajar Sebagai Solusi Jembatan Kaum Mustad’afin”, sekolah advokasi ini diharapkan dapat melahirkan lulusan yang sanggup menjembatani kaum mustad’afin (kaum tertindas) sebagaimana yang dituliskan dalam Al Qur’an Surat An Nisa ayat 9.

“Pelajar hari ini harus bisa menjadi jembatan bagi kaum yang tertindas (mustad’afin) serta bisa membenarkan sistem yang menyebabkan penindasan (istid’af) tersebut, serta tidak lupa sekaligus menyadarkan penindas tersebut mustad’if),” tutur Ketua Pelaksana Sekolah Advokasi, Muhammad Ihsan Abdussami. Kamis (21/7/2016).

Menurut Ihsan, pelajar Muhammadiyah hari ini harus bisa menjadi problem solver dari segala permasalahan yang ada di sekitarnya, khususnya terhadap isu-isu yang berkaitan dengan kepelajaran.

Kegiatan yang diikuti oleh 31 orang peserta yang merupakan perwakilan dari tiap-tiap Pimpinan Daerah IPM se-Jawa Barat ini dihadiri langsung oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat, Prof Dr. Mahmud Syafi’i M.Pd serta Ketua Pimpinan Daerah Muhmmadiyah Sumedang dan Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Sumedang.

“Selain itu, saya pun tidak lupa menghaturkan beribu terimakasih kepada Ayahanda PWM Jabar yang telah menghadiri kegiatan sekolah advokasi ini, dan tidak lupa kepada keluarga besar Muhammadiyah Sumedang yang telah memfasilitasi beberapa kebutuhan dalam kegiatan ini,” terangnya.

Selaras dengan itu, Ketua Umum PW IPM Jawa Barat, Hafizh Syafa’aturrahman mengatakan pelajar Muhammadiyah hendaknya selalu menjaga akhlaq, karena ketika seseorang sudah memiliki akhlaq yang baik maka akan menunjang segala aspek kehidupan termasuk penerapan nilai advokasi yakni pembelaan terhadap kaum mustad’afin.

“Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Barat haruslah bisa menjadi role model bagi pelajar-pelajar lain di Jawa Barat bahkan di tingkat Nasional, dan senantiasa menjadi uswatun hasanah bagi sekitarnya,” kata Hafizh.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum PWM Jawa Barat, Prof. Dr. Mahmud Syafi’i merasa bangga dengan kepedulian IPM Jawa Barat terhadap kaum Mustad’afin yang sering dilupakan itu. Ia mengatakan bahwa IPM Jawa Barat haruslah menjalankan tri dimensi kader (pelopor, pelangsung, penyempurna amanah) pada segala ranah, apalagi yang berkaitan dengan pembelaan kaum mustad’afin.

“IPM sebagai pionir bangsa haruslah bisa selalu tampil terdepan dalam membela islam, dan membela kaum mustad’afin pun termasuk kedalam kategori tersebut. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain,” tandas Prof Mahmud.

Kontributor: Wanda Aprilia | Editor: Ally Muhammad Abduh

3 Hari Pertempuran Taliban Kuasai 70 Persen Distrik Qala-e-Zal, Kunduz

5520KUNDUZ (Jurnalislam.com) – Ratusan mujahidin Imarah Islam Afghanistan (Taliban) sebagian besar telah mengambil alih sebuah distrik di provinsi Kunduz, Afghanistan utara, saat pertempuran sengit dengan Pasukan Nasional Afghanistan (ANA) terus berlanjut, lansir Aljazeera Kamis (21/07/2016).

Setelah tiga hari pertempuran, mujahidin Taliban mengambil alih 65 hingga 70 persen dari distrik Qala-e-Zal, para pejabat Afghanistan mengatakan pada hari Rabu, sebagai bagian dari gelombang serangan intensif di seluruh negeri.

“Sebagian dari kabupaten telah jatuh ke tangan Taliban, namun pasukan kami mencoba memerangi mereka kembali,” Mahmoud Denmark, juru bicara gubernur provinsi, mengatakan pada Al Jazeera.

Dalam sebuah pernyataan kepada Al Jazeera, Taliban mengakui bahwa seluruh kabupaten telah jatuh ke tangan mereka.

Nabi Ghichi, komandan polisi setempat, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan Taliban dimulai pada Senin dini hari, memperingatkan bahwa ia memiliki sedikit dukungan logistik untuk mendorong mundur pasukan Taliban.

Sejumlah keluarga meninggalkan kabupaten setelah pertempuran meletus.

“Sebagian besar rumah kosong karena banyak yang melarikan diri dari konflik yang sedang berlangsung di kabupaten ini,” Ajmal, seorang wartawan lokal yang berbasis di Kunduz, mengatakan kepada Al Jazeera.

“Sepertinya pertempuran akan berlanjut selama beberapa hari ke depan.”

Kunduz adalah salah satu provinsi yang paling tidak stabil di utara negara itu. Ibukota provinsi Kunduz jatuh secara singkat ke tangan Taliban tahun lalu, sebelum direbut kembali oleh pasukan pemerintah, dan di sebagian besar kabupaten terdapat sejumlah besar pasukan Taliban.

Kota Kunduz hampir dikuasai Taliban kembali pada bulan April, namun serangan mereka ditahan oleh pasukan Afghanistan yang bekerja dengan pasukan AS.

Presiden AS Barack Obama mengumumkan awal bulan ini bahwa ia berencana menempatkan 8.400 tentara Amerika di Afghanistan pada akhir masa jabatannya – meningkat dari rencana sebelumnya, mencerminkan kesulitannya mengurangi kehadiran AS di negara itu.

Menanggapi pengumuman Obama, juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan kepada Al Jazeera: “Apakah AS memutuskan untuk menempatkan tentaranya di Afghanistan atau tidak, apakah jumlahnya bertambah atau berkurang, kami akan terus memerangi mereka.”

Taliban Afghanistan, pada Selasa (19/07/2016) menolak tuduhan bahwa perlawanannya telah melemah setelah transisi kepemimpinan, Taliban mengatakan bahwa jeda operasi baru-baru ini adalah karena bulan suci Ramadhan.

 

Deddy | Al Jazeera | Jurnalislam

Beginilah Cara Media Barat Memelintir Berita Kudeta Turki

ANKARA (Jurnalislam.com) – Setelah kudeta gerakan Fetullah Gulen di Turki yang gagal yang menewaskan sedikitnya 240 orang dan melukai lebih dari 1.500 orang lain, media Barat tampaknya mencoba meremehkan upaya kudeta yang sebenarnya, namun sebaliknya malah berfokus mengkritik respon pemerintah terpilih menghadapi upaya kudeta, Anadolu Agency mengatakan, Kamis (21/07/2016).

Pemerintah Turki mengatakan Organisasi Teror Gulenist atau Struktur Negara Paralel (FETO/PDY) berada di balik kudeta yang untuk menggulingkan pemerintah Turki yang terpilih secara sah, namun media Barat mengabaikan fakta bahwa orang-orang Turki turun ke jalan untuk melindungi pemerintahnya dan aturan hukum terhadap komplotan kudeta yang ilegal. Sebaliknya, media barat malah berfokus pada reaksi otoriter partai yang berkuasa dalam merespon kudeta.

20160720_5_001A186842B484597880857681DE5C5B1

Media Barat yang memiliki banyak artikel berdasarkan opini mereka menilai bahwa langkah pemerintah Turki menahan pegawai negeri sipil yang terhubung dengan Feto dan birokrat di lembaga-lembaga publik seolah-olah bisa lebih berbahaya daripada kudeta gagal yang merenggut ratusan nyawa tersebut.

Beberapa media dan penyiar Barat memilih untuk mengangkat teori konspirasi aneh bahwa kudeta itu sebenarnya dipentaskan oleh pemerintah Turki itu sendiri, sementara yang lain memilih untuk menggambarkan pemimpin kudeta diduga sebagai salah satu ulama muslim paling kuat di dunia.

BBC Inggris menayangkan sebuah video yang menuduh pemimpin FETO Fetullah Gulen memiliki jutaan pengikut di Turki, tanpa menyebutkan infiltrasi FETO selama 40 tahun ke dalam lembaga penting negara seperti tentara, pengadilan, keamanan, unit intelijen dan berbagai lembaga birokrasi dengan berbagai identitas, yang bertujuan untuk menguasai negara.

Sebuah artikel BBC berjudul “Erdogan: Presiden kejam Turki” menggambarkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai salah satu pemimpin yang paling memecah belah dalam sejarah modern Turki, mengabaikan fakta bahwa semua orang dari seluruh sektor negara dan kepercayaan politik bergegas ke jalan-jalan untuk menghentikan upaya kudeta ilegal yang bertujuan menggulingkan pemerintah terpilih.

The Economist menerbitkan sebuah artikel berjudul “Kudeta Turki yang gagal memberikan presidennya kesempatan untuk lebih merebut kekuasaan,” mengklaim bahwa peradilan Turki yang independen akan sepenuhnya dihilangkan, namun tidak menyebutkan bahwa penangkapan pejabat negara dan pegawai negeri sipil bertujuan untuk menjaga lembaga-lembaga negara dari infiltrasi oleh pasukan yang menerima instruksi dari luar negeri.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN International, Senin, Erdogan menolak keras tuduhan bahwa upaya kudeta sebenarnya diatur olehnya (palsu).

“Sayangnya, itu adalah informasi yang salah. Bagaimana seseorang bisa merencanakan hal seperti itu? Bagaimana orang bisa membiarkan begitu banyak warga sipil kehilangan nyawa mereka? Bagaimana bisa nurani manusia mengizinkan hal itu? Itu sangat tidak mungkin,” kata Erdogan.

Fox News Channel yang berbasis di AS memposting secuil berita di situs web mereka berjudul “harapan terakhir Turki telah gugur,” katanya, “Kudeta Jumat malam yang gagal adalah harapan terakhir Turki untuk menghentikan Islamisasi pemerintah dan degradasi masyarakatnya.”

us-fox-news

Fox News, mengabaikan fakta bagaimana orang Turki turun ke jalan dan menghentikan tank yang dikendalikan tentara yang menghianati rantai komando, mengatakan: “Erdogan menggunakan kudeta sebagai alasan untuk mempercepat Islamisasi negaranya dan memimpin Turki memasuki kegelapan yang melanda dunia Muslim. Visinya adalah salah satu dari megalomaniak neo-Ottoman.”

Pejabat pemerintah Turki, di setiap penampilan media, menegaskan bahwa kudeta dilakukan oleh pengikut tokoh Turki Fetullah Gulen yang berbasis di AS, yang melakukan kampanye lama untuk menggulingkan pemerintah melalui infiltrasi negara Turki, khususnya militer, polisi, dan hakim (yudikatif), dan membentuk negara paralel.

Kolom media lainnya, oleh Kebijakan Luar Negeri Michael Rubin, mengatakan, “Tidak ada orang yang bisa disalahkan Erdogan untuk Kudeta melainkan dirinya sendiri,” dan mengklaim kebijakan luar negeri Erdogan, yaitu “tidak ada masalah dengan tetangga” telah menyebabkan masalah dengan “hampir setiap tetangga.”

The New York Times mengatakan di akun Twitter resminya, “Pendukung Erdogan adalah domba, dan mereka akan mengikuti apa pun katanya,” tapi kalimat ini tidak muncul dalam artikel yang utuh, sehingga sangat menunjukkan bias jurnalisme.
nyt-bias2
Cerita yang berjudul “Pembersihan besar-besaran di Turki saat Ribuan Ditahan dalam serangan balasan Pasca Kudeta,” juga mengabaikan fakta bahwa semua orang – bahkan para pengkritik Erdogan – turun ke jalan untuk menyelamatkan negara mereka dari pengambilalihan militer ilegal.

Dalam cerita lain berjudul, ” Kemenangan Erdogan Setelah upaya kudeta, tapi nasib Turki tidak jelas,” surat kabar memberi kesan palsu bahwa semua warga negara Turki yang membanjiri jalan-jalan di malam hari saat upaya kudeta adalah pendukung Presiden Erdogan dan Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) yang saat ini berkuasa.

Apa yang sebenarnya terjadi benar-benar berbeda. Banyak warga tanpa afiliasi politik – atau berafiliasi dengan partai oposisi utama negara itu (termasuk Partai Republik Rakyat, atau CHP, dan Partai Gerakan Nasionalis, atau MHP) – juga berpartisipasi dalam demonstrasi anti-kudeta yang menyerang negara itu pada Jumat malam.

Sebelum kekalahan kudeta Jumat, situs AS Daily Beast memposting cerita yang mengatakan bahwa Erdogan telah meninggalkan negara dan keberadaannya tidak diketahui.

Website tersebut bahkan mengklaim bahwa Erdogan sedang mencari suaka di Jerman, mengutip klaim palsu seorang pejabat militer AS ke NBC News. Website itu kemudian merubah judul nya, namun hanya berubah menjadi, “Lokasi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tidak diketahui,” dan menambahkan, “The Daily Beast tidak bisa mengkonfirmasi laporan-laporan ini.”

Faktanya adalah presiden tidak pernah meninggalkan negara selama upaya kudeta ilegal. Sebaliknya, ia dengan cepat kembali menuju ke Istanbul setelah mendesak warga turun ke jalan untuk menegakkan lembaga-lembaga demokratis Turki.

Mayor harian Jerman Die Welt, sementara itu mengkritik tanpa ampun tindakan keras pemerintah Turki pada tersangka komplotan kudeta, sementara mengabaikan pembantaian yang dilakukan oleh unsur-unsur pro-kudeta militer terhadap warga sipil pada malam kudeta yang gagal itu.

Duta Besar AS: Fetullah Gulen Jadi Prioritas Kami

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – John Bass, Duta Besar AS untuk Turki, pada hari Rabu mengatakan kasus Fetullah Gulen, tokoh yang berada di balik kudeta yang gagal pekan lalu, akan menjadi prioritas yang sangat tinggi untuk Washington, Anadolu Agency melaporkan, Rabu (20/07/2016).

“Prioritas akan tergantung pada ruang lingkup dan kualitas bukti yang diberikan serta seberapa mendesaknya untuk dilakukan. Tapi saya dapat meyakinkan Anda bahwa kami berkomitmen untuk segera meninjau cepat setelah kami menerima materi. Ini akan menjadi prioritas yang sangat tinggi bagi Departemen Kehakiman AS,” kata Bass kepada sekelompok wartawan sebelum penerimaan Konsulat Jenderal AS di Istanbul 4 Juli, mengomentari berapa lama waktu yang dibutuhkan pejabat AS untuk meninjau dokumen.

Turki mengtakan Gulen yang berbasis di AS berada di balik upaya kudeta dan menuntut agar ia diekstradisi untuk diadili.

Materi yang berhubungan dengan ekstradisi tokoh yang tinggal di pengasingan di negara bagian Pennsylvania AS tersebut telah disampaikan kepada otoritas AS.

Jumat lalu upaya kudeta oleh oknum-oknum militer menewaskan sedikitnya 240 orang dan melukai hampir 1.500 orang lainnya.

Bass menolak berkomentar tentang masa depan hubungan Turki-Amerika jika Washington tidak menyerahkan Gulen kembali ke Ankara.

“Pemerintah Amerika Serikat fokus pada apa yang bisa kita lakukan bersama antara dua negara untuk membantu Turki mengejar penyelidikan ini,” tegasnya.

Bass juga mengangkat kekhawatiran tentang langkah-langkah Ankara untuk memecat puluhan ribu karyawan publik di militer, polisi, sektor pendidikan, dan layanan sipil yang terlibat.

“Kami melihat penangkapan massal atau penahanan dan pemecatan massal orang-orang dari posisi pekerjaannya dalam waktu yang sangat cepat tanpa banyak bukti yang tersedia untuk tindakan tersebut menciptakan kekhawatiran,” katanya.

Tentang bagaimana kudeta yang digagalkan mempengaruhi operasi terhadap Islamic State (IS) di Incirlik Air Base di Adana, Turki selatan, Bass mengatakan bahwa masih tidak ada listrik di pangkalan tersebut.

Dia mengatakan pemerintah Turki memotong seluruh listrik di pangkalan udara dalam menanggapi upaya kudeta.

“Jika semakin lama akan semakin banyak dampak yang akan terjadi bagi operasi, yang tidak menguntungkan baik bagi Turki atau Amerika Serikat atau negara lain yang terancam oleh IS,” katanya.

Para menteri pertahanan Turki dan Amerika Serikat juga membahas situasi di Incirlik Air Base melalui telepon, Selasa.

Pemerintah Turki mengatakan komplotan kudeta menggunakan pangkalan udara sebagai stasiun utama untuk upaya pengambilalihan. Tanker udara pengisian bahan bakar yang digunakan dalam kudeta diluncurkan dari pangkalan tersebut, di mana 3.000 tentara AS dan pesawat AS ditempatkan dalam operasi anti-IS.