Berita Terkini

13 Pasukan Gabungan AS Tewas dalam Pertempuran di Nangarhar Timur

NANGARHAR (Jurnalislam.com)Al-Emarah News melaporkan pada hari Senin (29/08/2016) bahwa pasukan boneka lokal dan AS digagalkan dalam usaha mereka untuk melakukan serangan ke arah posisi mujahidin di distrik Chaprihar provinsi Nangarhar timur.

Sebuah pertempuran sengit pecah setelah musuh mencoba mendobrak pertahanan mujahidin dini hari senin yang berlangsung berjam-jam.

Sebanyak 13 pasukan gabungan penjajah AS dan boneka mereka tewas dan lebih dari 7 lainnya terluka dalam pertempuran berikutnya, sementara 5 Mujahidin memeluk kesyahidan dengan lebih dari 3 lainnya terluka.

Helikopter-helikopter ambulans melakukan 3 putaran untuk membawa korban tewas dan terluka dari lokasi pertempuran.

Musuh kemudian menyerang daerah pemukiman dengan serangan udara berat untuk membalas, menyebabkan warga sipil menderita kerugian besar. Beberapa anak, perempuan dan laki-laki menderita korban.

Sebuah Masjid dan sejumlah bangunan diratakan dalam serangan udara besar-besaran, sedangkan banyak binatang ternak juga tewas.

Laporan juga datang dari Helmand, mengatakan Mujahidin melakukan serangan terhadap pasukan musuh gabungan ANP dan ANA yang tiba di Shindak Manda dengan APC dan beberapa kendaraan untuk mendirikan pos pemeriksaan baru semalam, Senin.

3 APC musuh dihancurkan oleh serangan IED, menyebabkan 12 orang bersenjata terbunuh atau terluka parah dan memaksa sisanya melarikan diri.

Dua Kelompok Militer yang Didukung AS Saling Bunuh di Suriah Utara

SURIAH (Jurnalislam.com) – Sebagai bagian dari operasi militer Turki yang sedang berlangsung di Suriah utara, dua kelompok militer yang didukung AS di sisi berlawanan saling bunuh di dekat kota Jarabulus di provinsi Aleppo utara, lansir The Long War Journal, Senin (29/08/2016).

Jaysh al Tahrir, sebuah kelompok bersenjata yang beroperasi di bawah naungan Tentara Pembebasan Suriah (the Free Syrian Army) dan telah menerima beberapa rudal anti-tank TOW dari AS, mengklaim telah menguasai dua desa dari Pasukan Demokratik Suriah (Syrian Democratic Forces-SDF) yang dipimpin di Kurdi selatan Jarabulus. SDF juga telah menerima cukup dukungan militer AS, termasuk serangan udara dan pasukan operasi khusus yang bergabung dalam kelompok SDF.

Dalam salah satu video, pasukan Jaysh al Tahrir terlihat berjalan melalui bangunan salah satu desa dekat kota Al Amarnah. Seorang pasukannya kemudian ditampilkan mengacungkan bendera SDF yang mereka rebut dari daerah. Di lain video (yang sekarang sudah dihapus), Jaysh al Tahrir mengklaim telah mengambil “lebih dari delapan” pasukan SDF sebagai tawanan dalam operasi dekat Al Amarnah. Video ini juga menunjukkan gambar pasukan SDF yang mati di Twitter feed-nya.

Jaysh al Tahrir bertempur bersama beberapa kelompok Islam yang didukung Turki dalam Operasi Perisai Efrat Turki. Operasi ini dilakukan untuk melindungi perbatasan Turki dari Islamic State, sekaligus juga dimaksudkan untuk mendorong kembali SDF dukungan AS. Kelompok SDF adalah Unit militer Perlindungan Masyarakat Kurdi (YPG), yang merupakan cabang Suriah dari organisasi ektremis Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang ditunjuk sebagai teroris oleh Turki. Ketika SDF merebut kota Manbij dengan dukungan berat AS, Turki diminta untuk mempercepat intervensi untuk mencegah kemajuan Kurdi lebih banyak lagi.

AS kini terlibat dalam tindakan muka dua antara menjaga hubungan dekat dengan Turki dan mitra utamanya dalam memerangi Islamic State. Peter Cook, seorang juru bicara Pentagon mengatakan dalam email ke The New York Times, bahwa AS memantau situasi antara kedua kelompok dan bahwa pemerintah “menegaskan bahwa pertempuran tersebut tidak dapat diterima.” Namun, AS berada dalam posisi canggung sebagaimana terlihat oleh Kurdi, dengan adanya dukungan diam-diam atas intervensi Turki, sebagai pengkhianatan.

Kecanggungan ini juga muncul setelah Wakil Presiden AS Joe Biden mengatakan agar YPG mundur kembali ke sisi timur Sungai Efrat, yang juga cenderung dilihat sebagai penghinaan oleh sekutu AS tersebut.

 

 

Komisi Pemilihan Umum Irak Tolak Usulan Milisi Syiah Masuk dalam Daftar Peserta Pemilu

BAGHDAD (Jurnalislam.com) – Komisi pemilihan resmi Irak pada hari Ahad menolak usulan untuk memungkinkan Hashd al-Shaabi, sebuah kelompok payung milisi Syiah pro-rezim Irak, untuk mendaftarkan diri sebagai partai politik sebelum pemilihan dijadwalkan untuk tahun depan, Anadolu Agency melaporkan Senin (29/08/2016).

Keputusan itu muncul satu hari setelah tokoh Syiah ekstrim Muqtada al-Sadr menyatakan bahwa pemerintah mendatang negara itu akan menjadi “pemerintah milisi Syiah” jika Hashd al-Shaabi diizinkan maju sebagai kandidat di pemilihan dewan provinsi dan parlemen yang masing-masing dijadwalkan berlangsung pada tahun 2017 dan 2018.

Dalam sebuah pernyataan hari Ahad, komisi mengatakan telah mendasarkan keputusan pada fakta bahwa Hashd al-Shaabi merupakan “organisasi militer dengan link ke badan keamanan Irak.”

Partai Politik Hukum Irak, yang telah diratifikasi oleh parlemen tahun lalu, kemudian menjelaskan melarang pendaftaran “organisasi militer atau paramiliter” sebagai partai politik.

Pada tanggal 20 Juli, komisi pemilihan memulai proses pendaftaran bagi partai politik yang direncanakan untuk berpartisipasi dalam pemilu mendatang.

Menurut juru bicara Sekte Syiah, Hashd al-Shaabi Karim al-Nouri, tanggung jawab utama kelompok milisi Syiah saat ini adalah untuk berusaha melawan kelompok Islamic State (IS), di wilayah Irak yang dilanda perang. (baca juga: Irak Lakukan Penangkapan atas Pelanggaran Kemanusiaan Milisi Syiah di Fallujah)

“Kehadiran kami di medan perang saat ini adalah untuk menghadapi ISIS,” kata al-Nouri kepada Anadolu Agency pada hari Ahad.

“Kami tidak ingin mempersenjatai diri, tapi situasi keamanan negara yang mencekam memaksa kita untuk berubah dari sebuah organisasi sipil menjadi sebuah organisasi militer,” katanya.

Dia menambahkan, “Beberapa pemimpin Hashd al-Shaabi, termasuk Hadi al-Amiri (mantan menteri transportasi Irak dan komandan Organisasi Al-Badr yang berafiliasi Hashd saat ini) pada dasarnya adalah seorang politisi, bukan seorang tokoh militer.” (baca juga: Milisi Syiah Irak Bunuh 31 Warga Sipil Fallujah)

“Perhatian utama kami sekarang sedang berusaha memerangi ISIS,” al-Nouri menegaskan.

Irak telah mengalami kekosongan keamanan yang menghancurkan sejak pertengahan 2014.

Dalam beberapa bulan terakhir, tentara Irak – yang didukung oleh serangan udara yang dipimpin AS dan sekutunya di darat, termasuk milisi Syiah Hashd al-Shaabi – merebut banyak wilayah dari ISIS.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

 

 

 

 

Pesawat Tempur Turki Serang Sasaran Pasukan PKK di Irak Utara

Pesawat Tempur Turki Serang Sasaran Pasukan PKK di Irak Utara

ANKARA (Jurnalislam.com) – Militer Turki mengatakan jet-nya telah menyerang sasaran teroris PKK di Irak utara, Anadolu Agency melaporkan Senin (29/08/2016).

Empat jet tempur melakukan serangan udara terhadap sasaran-sasaran PKK di wilayah Avasin-Basyan pada pukul 18:50-18:57 waktu setempat (1550 dan 1557GMT), menghancurkan sejumlah target yang tidak diketahui, kata pernyataan itu.

PKK – yang juga terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki dan Uni Eropa – melanjutkan operasi bersenjata 30 tahun terhadap negara Turki pada bulan Juli 2015.

Sejak itu, lebih dari 600 personel keamanan, termasuk tentara, polisi dan penjaga desa, telah tewas dan lebih dari 7.000 teroris PKK juga tewas atau “dinetralkan” dalam operasi di seluruh Turki dan Irak utara.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

Operasi Perisai Efrat: Setelah ISIS Kini Milisi Kurdi YPG Mundur dari Jarablus

Operasi Perisai Efrat Setelah ISIS Kini Milisi Kurdi YPG Mundur dari Jarablus

SURIAH (Jurnalislam.com) – Faksi mujahidin Suriah telah menguasai 12 daerah baru selama operasi Perisai Efrat pada hari Senin setelah serangan lain yang dilancarkan terhadap milisi YPG, sayap bersenjata Partai Uni Demokratik PYD di barat daya Kota Jarabulus, ElDorar AlShamia melaporkan, Senin (29/08/2016).

Faksi-faksi jihad Suriah menguasai 12 daerah yang berada di bawah kontrol milisi YPG, yaitu desa Emm Sous dan al-Hdra, atau secara lokal disebut (Boldakk Kecil dan Boldakk Besar). “Faksi juga menguasai desa-desa Dulaimi, Aldokhar dan Hlonji, Dahr al-Mughara, peternakan al-Tamorah, Umm Rosoum, al-Malhamyah, al-Yakobya, Arab Hassan dan Mahsenli,” koresponden dari jaringan ElDorar AlShamia menjelaskan.

Faksi mengambil kendali pada hari Ahad di kota-kota el-Amarna, dan Dabes, Ain al-Beida, Be’r al-Kosa, dan Balaban,yang terletak antara Jarabulus dan Manbej, setelah pertempuran sengit yang melibatkan penerbangan pesawat tempur Turki dan membunuh 15 milisi.

Dalam laporan lain, kelompok Islamic State (IS) kemarin malam melancarkan serangan dengan kendaraan yang dipasangi bom pada posisi milisi YPG di selatan kota Manbej yang sebelumnya dikuasai IS.

 

Deddy | Al Shamia | Jurnalislam

Tak Sesuai Syariat, Persis Dukung Upaya Muhammadiyah Ajukan JR UU Tax Amnesty

Illustrasi Tax Amnesty
Illustrasi Tax Amnesty

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) mendukung upaya Majelis Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) PP Muhammadiyah yang akan mengajukan judicial review (JR) Undang-Undang Pengampunan Pajak (tax amnesty).

Melalui Waketumnya Dr Jeje Zaenudin Persis juga mengajak masyarakat untuk mendukung langkah Muhammadiyah tersebut.

“Saya sangat mendukung langkah PP Muhammadiyah melakukan JR dan mengajak seluruh masyarakat mendukung langkah Muhamadiyah tersebut,” kata Ustadz Jeje kepada Jurnalislam, Senin (29/8/2016).

Selain sasarannya yang tidak jelas, pengampunan pajak juga dinilai tidak sesuai dengan hukum Islam.

“Kalau ditinjau dari teori hukum Islam yang menyatakan bahwa pada dasarnya harta manusia dilindungi oleh syariat dan haram diambil oleh siapapun termasuk oleh penguasa atas nama negara,” tegasnya.

Diketahui pengajuan Judicial Review UU pengampunan pajak merupakan hasil dari rapat kerja nasional (Rakernas) Majelis Hukum dan HAM (MHH) PP Muhammadiyah di Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta yang berlangsung pada 26-28 Agustus 2016 kemarin.

Reporter: Muhammad Fajar | Editor: Ally Muhammad Abduh

ISAC Desak Polri Usut Tuntas Kasus Teror Pembakaran Mapolsek Sugapa Papua

polsek-di-bakarITrmo
Mapolsek Sugapa

SOLO (Jurnalislam.com) – The Islamic Study and Action Center (ISAC) mendesak aparat untuk mengusut tuntas kasus pembakaran Mapolsek Sugapa, Kabupaten Intan Jaya pada Sabtu (27/8/2016). ISAC menilai peristiwa tersebut merupakan perilaku teror. Sebab sudah mengancam nyawa masyarakat bahkan aparat.

“Tindakan pembakaran Mapolsek Sugapa Kabupaten Intan Jaya yang disertai dengan pemutusan jaringan seluler dan pemalangan jalan akses bandara Sugapa sudah masuk kategori tindakan teror, karena sudah merusak obyek vital, mengganggu masyarakat luas dan melawan simbol Negara,” tegas Sekjen ISAC, Endro Sudarsono kepada Jurnalislam, Senin (29/8/2016).

Endro menegaskan, Polri harus tegas terhadap semua pelaku teror. Selain itu, Densus 88 juga harus dilibatkan untuk membongkar otak dari kasus tersebut.

“Disamping itu, Ditpropam Polda Papua juga harus segera mengusut kematian Etinus Songgonau yang juga masih dibawah umur,” lanjutnya.

“Jika Polri tidak tegas penegakan hukum di Papua maka potensi gangguan kamtibmas semakin besar dan meluas,” sambungnya.

Selain itu, ISAC juga meminta Polri untuk menindak aparat yang melakukan penembakan. “Itu harus dipertanggungjawabkan secara hokum,” tegasnya.

Reporter: Dyo | Editor: Ally Muhammad Abduh

Gelar Mukernas Perdana, Wajah Baru Jurnal Islam Segera Diluncurkan

KARANGANYAR (Jurnalislam.com) – Jurnal Islam menggelar Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) di villa Hanif, Sekipan, Tawangmangu, Karanganyar, Sabtu (27/6/2016).

Musyawarah yang berlangsung hingga Ahad (28/6/2016) membahas pembenahan struktur kepengurusan dan tampilan baru Jurnalislam.

“Tujuan kami dalam mukernas pertama ini adalah membenahi dan mengukuhkan struktur pengurusan dan kinerja, dengan harapan kami dapat bekerja lebih baik lagi ke depan,” kata Pemimpin Redaksi Jurnalislam.com, Deddy Purwanto.

Selain itu, dirinya akan melakukan perubahan baru pada tampilan Jurnalislam. Tampilan baru yang akan dirilis dalam waktu dekat itu diharapkan menjadi semangat baru media Islam yang profesional.

“Kami juga membahas layout baru Jurnis (Jurnal Islam), perbaikan dan penambahan pada konten juga kami lakukan, ‎sehingga penampilan baru Jurnis yang akan kami rilis ini diharapkan semakin memudahkan pengunjung dalam mengeksplor situs kami,” jelasnya.

Dibawah kepemimpinannya, Deddy menargetkan Jurnalislam akan menjadi rujukan utama informasi umat dalam menghadang sekularisasi yang digencarkan media-media arus utama.

Reporter: Dyo | Editor: Ally Muhammad Abduh

Al Shabaab Serang Pantai Restoran Asing di Mogadishu, 10 Tewas

A Somali policeman looks at the wreckage of a vehicle destroyed in a car bomb explosion at the Banadir beach restaurant at Lido beach in Somalia's capital Mogadishu, August 25, 2016. Picture taken August 25, 2016. REUTERS/Feisal Omar

SOMALIA (Jurnalislam.com) – Sejumlah pria bersenjata meledakkan sebuah bom mobil dan menyerbu restoran pantai di ibukota Mogadishu, menewaskan sedikitnya 10 orang.

Sedikitnya 10 orang tewas setelah al-Shabab menyerang sebuah restoran asing di pantai ibukota Mogadishu dengan bom mobil sebelum terlibat baku tembak dengan pasukan Somalia, menurut polisi setempat dan Al Shabaab.

“Sebuah bom mobil meledak di restoran pantai Banadir di pantai Lido dan terjadi tembak-menembak. Kami tidak memiliki rincian lainnya sejauh ini,” Mayor Ahmed Ibrahim, seorang polisi, mengatakan kepada kantor berita Reuters, Kamis.

Al-Shabab yang merupakan al-Qaeda di Somalia mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

“Kami menyerang restoran pantai Banadir dan sekarang para mujahidin kami bertempur di dalamnya,” Abdiasis Abu Musab, juru bicara operasi militer, kepada Reuters.

Al-Shabab telah melakukan serangkaian serangan mematikan di Somalia untuk menggulingkan pemerintah korup yang didukung Barat.

Pada bulan Januari, para pejuangnya menyerbu restoran lain di pantai Lido, menewaskan 17 orang.

Pada hari Kamis, saksi Reuters di dekat lokasi serangan pantai mengatakan restoran telah ditutup oleh aparat bersenjata dan bahwa penyerang melemparkan granat ke arah petugas dan menembaki mereka.

Mereka mengatakan mereka juga melihat dua mayat tergeletak di tanah.

Menteri Keamanan Internal Abdirizak Omar Mohamed mengatakan di akun Twitter-nya: “Peringatan: Orang-orang yang berada dekat lokasi ledakan harus tinggal di hotel dan di rumah-rumah mereka dan yang sedang berada di dalam mobil tidak seharusnya masuk daerah pantai Lido..”

Al-Shabab didorong dari Mogadishu oleh pasukan AMISOM Uni Afrika pada tahun 2011 tetapi tetap menjadi ancaman potensial di Somalia, dan sering meluncurkan serangan yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintah boneka Barat.

Dalam insiden terpisah di Somalia selatan, sebuah bom pinggir jalan yang diyakini telah ditanam oleh para pejuang al-Shabab melukai tiga orang di kota Baardheere di wilayah Gedo, Kolonel Hussein Nur, seorang perwira polisi di kota itu, mengatakan kepada Reuters melalui telepon.

Pada hari Ahad, lebih dari 20 orang tewas ketika pembom yang meledakkan dua bom mobil di sebuah markas militer pemerintah daerah di wilayah semi-otonomi Puntland Somalia.

 

Deddy | Aljazeera | Jurnalislam

Evakuasi Warga Sipil Daraya atas Kesepakatan untuk Akhiri Pengepungan Pasukan Assad

Evakuasi Warga Sipil Daraya atas Kesepakatan untuk Akhiri Pengepungan Rezim Assad 2

SURIAH (Jurnalislam.com) – Bus pertama pengungsi meninggalkan pinggiran Damaskus yang dikepung, sebagai kelompok oposisi bersiap untuk menyerahkan kontrol wilayah kepada pasukan rezim Nushairiyah Assad, Aljazeera melaporkan Jumat (26/08/2016).

Warga dan kelompok oposisi mulai meninggalkan Daraya, pinggiran Damaskus yang terkepung hari Jumat, sebagai bagian dari kesepakatan evakuasi untuk mengakhiri salah satu perang terpanjang lima tahun lamanya di Suriah.

Konvoi bantuan yang diatur oleh badan amal medis Bulan Sabit Merah memasuki pinggi kota awal hari Jumat, saat ratusan pejuang oposisi bersiap menyerahkan kontrol wilayah kepada pasukan rezim.

Pejuang oposisi dan pasukan rezim Assad setuju mencapai kesepakatan pada hari Kamis untuk mengevakuasi kota, yang telah dikelilingi pasukan dan milisi Syiah pro-rezim sejak 2012. Sejak itu, hanya satu pengiriman bantuan yang telah mencapai daerah tersebut, menurut PBB.

Seorang saksi kantor berita Reuters melihat enam bus meninggalkan kota, dan rekaman di televisi pemerintah menunjukkan bus dengan hati-hati berkendara melewati sekelompok besar prajurit melalui jalan-jalan yang berjajar dengan puing-puing.

Sumber mengatakan kepada Al Jazeera bahwa sekitar 8.000 warga sipil dan 800 pasukan oposisi akan dievakuasi dari pinggiran Damaskus, yang sebelum perang adalah rumah bagi seperempat juta orang.

Reporter Al Jazeera Hashem Ahelbarra, melaporkan dari Gaziantep di sisi Turki perbatasan Suriah-Turki, mengatakan kelompok oposisi “dipaksa untuk menandatangani kesepakatan”.

“Selama hampir empat tahun, warga Daraya telah hidup di bawah pengepungan, dengan warga sipil kelaparan sampai mati oleh pasukan rezim Suriah. Ini adalah kesepakatan yang harus ditandatangani kelompok pejuang oposisi dan sekarang kita akan melihat warga sipil pindah ke Sahnaya – sebuah kota di Gubernuran Damaskus – di bawah kendali rezim, “katanya.

PBB, yang telah berulang kali menyerukan pencabutan pengepungan, mengatakan bahwa mereka “tidak terlibat dan tidak berkonsultasi dalam kesepakatan ini,” dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Utusan Khusus PBB untuk Suriah Staffan de Mistura.

De Mistura, yang bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS John Kerry dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di Jenewa, Jumat, mengatakan situasi di Daraya “sangat serius dan tragis” dan bahwa “permintaan berulang untuk mencabut pengepungan Daraya belum menuju terlaksana.”

Dilansir dari Jenewa, editor diplomatik Al Jazeera, James Bays mengatakan pemerintah Suriah “strategi kebijakan menyerah karena kelaparan sebenarnya telah sukses karena mereka sekarang berhasil menutup Daraya dan mengeluarkan semua orang dari Daraya.”

Pasukan oposisi dari Daraya akan dibawa ke provinsi utara Idlib, yang dikuasai oleh Tentara Pembebasan (Army of Conquest), sebuah koalisi kelompok bersenjata anti-Assad

Kelompok pejuang Suriah yang menguasai Daraya adalah Ajnad al-Sham dan the Martyrs of Islam, kelompok yang berafiliasi dengan Tentara Pembebasan.

1ab7a563740e4d75bfb111944c1d914f_18Namun, aktivis mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Pasukan oposisi sangat prihatin atas keselamatan warga sipil, banyak dari mereka adalah kerabat dari para pejuang oposisi, karena rezim hanya menawarkan sedikit atau bahkan tidak memberikan jaminan.

Berbicara kepada Al Jazeera dari Yordania, penasihat advokasi Charmain Mohamed dari Dewan Pengungsi Norwegia mengatakan meskipun akhir penyanderaan di kota itu adalah langkah positif, timnya “prihatin tentang perlindungan warga sipil” dan bahwa setiap evakuasi “seharusnya dilakukan secara sukarela.”

“Harus ada akses kemanusiaan yang benar-benar tak terkekang dan warga sipil harus dilindungi, menurut hukum kemanusiaan internasional.”

Beberapa kelompok oposisi lain juga mengkritik kesepakatan itu, menyebutnya sebagai kemunduran besar saat Muslim Sunni akan dipaksa keluar dari rumah mereka, yang selanjutnya akan memecah belah negara itu di sepanjang garis Sunni – Syiah.

“Ini adalah pola rezim Syiah untuk mendorong Sunni dari komunitas yang mereka kontrol dan telah tinggal di sana selama beberapa dekade. Pada 2015, ada kesepakatan serupa di Zabadani di pinggiran ibukota,” tambah wartawan kami.

Pada tahun 2012, beberapa ratus orang tewas di Daraya, termasuk warga sipil, banyak eksekusi terjadi, ketika pasukan Syiah Assad menyerbu pinggiran setelah penduduk setempat mengangkat senjata.

Menurut PBB, hampir 600.000 penduduk hidup di bawah pengepungan di Suriah, sebagian besar dikelilingi oleh pasukan rezim dan milisi Syiah pro Assad.

Di beberapa tempat, pengepungan pemerintah yang berlangsung lama telah mendorong pejuang Suriah menyetujui penawaran evakuasi oleh rezim, aktivis terkemuka menuduh Damaskus menggunakan taktik keji bagi warga sipil “kelaparan atau menyerah.”

Awal tahun ini, de Mistura memperkirakan bahwa 400.000 orang lebih telah meninggal sepanjang lima tahun terakhir.

PBB tidak lagi melacak korban tewas karena tidak dapat mencapai banyak daerah dan terdapat komplikasi navigasi statistik bertentangan yang diajukan oleh rezim Suriah dengan kelompok oposisi moderat dan faksi-faksi mujahidin Suriah

 

Deddy | Al Jazeera | Jurnalislam