Berita Terkini

Lagi, Panglima Garda Revolusi IranTewas di Damaskus

SURIAH (Jurnalislam.com) – Sumber media Iran mengungkapkan terbunuhnya seorang pemimpin Garda Revolusi Iran (IRGC) di daerah Sayeda Zainab dekat Damaskus Suriah akibat terluka parah, kata sumber-sumber, ElDorar AlShamia melaporkan Selasa (30/08/2016).

Kantor berita Iran Fares mengatakan bahwa Mustafa Rachidbor tewas akibat cedera selama bentrokan berlangsung beberapa waktu lalu di distrik Sayeda Zainab Provinsi Rif Dimashq, di mana ia memimpin “misi penasehat.”

Kematiannya menambah jumlah korban yang diakui oleh otoritas Iran lebih dari 400 orang tewas.

Iran mengirimkan pasukan IRGC untuk berperang di Suriah, dan merekrut milisi Irak, Afghanistan dan Lebanon, dan mereka semua telah menderita sejumlah besar korban jiwa.

 

Deddy | Al Shamia | Jurnalislam

Juru Bicara IS, Adnani, Terbunuh di Provinsi Aleppo

SURIAH (Jurnalislam.com) – Juru bicara utama kelompok bersenjata Islamic State (IS), Abu Mohamed al-Adnani, terbunuh di provinsi Aleppo Suriah, menurut sebuah situs terkait IS, Aljazeera melaporkan Rabu (31/08/2016).

Amaq, outlet media yang berafiliasi IS, mengatakan pada hari Selasa (30/08/2016) bahwa Adnani terbunuh saat memantau operasi militer di Aleppo.

Adnani, yang digambarkan sebagai pemimpin paling senior kedua IS, telah menjadi salah satu tokoh kelompok yang paling lama di IS.

Reporter Al Jazeera Patty Culhane, melaporkan dari Washington DC, mengatakan belum ada komentar atau konfirmasi langsung dari para pejabat AS mengenai terbunuhnya.

Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada kantor berita Reuters hari Selasa bahwa AS telah mengurangi serangan udara di kota Suriah al-Bab yang menargetkan pejabat senior IS, namun operasi itu masih dikaji.

Analis menjelaskan Adnani sebagai tokoh kunci dari kelompok IS.

“Dalam memori kolektif militan, Abu Mohamed al-Adnani akan selalu menjadi orang yang mengumumkan restorasi kekhalifahan sepihak pada bulan Juni 2014,” kata ahli militan Romain Caillet, lansir Al Arabiya News Channel, Rabu.

Adnani awalnya berasal dari provinsi Idlib, Suriah barat dan bergabung dengan faksi jihad Al-Qaeda di Irak pimpinan Syeikh Abu Musab al-Zarqawi dan memegang beberapa posisi.

Aymenn Jawad Tamimi, seorang ahli kelompok militan, mengatakan kematian Adnani ” secara simbolis yang signifikan menunjukkan runtuhnya kekuatan IS.”

“Jika serangan koalisi udara memukulnya, itu menunjukkan penetrasi intelijen oleh koalisi sangat tinggi. Kalau tidak, tidak akan mungkin untuk mengambil begitu banyak tokoh berpangkat tinggi,” katanya.

Analis lain, Charles Lister, tweeted bahwa kematian Adnani merupakan “pukulan besar bagi ISIS”.

Orang Muslim Pertama di Washington DC

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Bagi sebagian besar Muslim, apa yang terjadi pada tubuh orang yang sudah meninggal tidak sama pentingnya dengan apa yang terjadi pada jiwa orang itu.

Namun, sejarawan dari semua latar belakang berebut untuk mencari jenazah dan barang-barang seorang Muslim yang dimakamkan di Washington, DC hampir 200 tahun yang lalu, karena menyentuh jiwa sejarah Amerika awal.

Almarhum Yarrow Mamout, di antara puluhan ribu – bahkan mungkin jutaan – Muslim dibawa ke Amerika selama masa perdagangan budak, tapi hanya sedikit sejarawan yang memiliki banyak informasi tentangnya.

Dokumen bersejarah menyatakan bahwa Yarrow mungkin terkubur di properti yang ia beli setelah mendapatkan kemerdekaannya pada tahun 1797. Tanah itu terletak di kawasan bersejarah Georgetown Washington di mana rumah-rumah yang berada di lingkungan itu sekarang dijual dengan harga beberapa juta dolar. Pemiliknya adalah pengembang real estate Deyi Awadallah, yang berencana untuk membangun dan menjual rumah baru di tanah itu. Dia tidak mengetahui apapun tentang Yarrow ketika ia membeli tanah tersebut, tapi dia bersedia untuk memberikan arkeolog kesempatan – beberapa minggu atau bulan – untuk menyelidiki sebelum ia melaksanakan rencana pembangunan rumah di propertinya itu.

“Saya mencoba untuk menghormati situasi, “katanya dalam sebuah wawancara pada tahun 2013.

Menurut James H. Johnston, Yarrow dijual sebagai budak saat masih remaja di Senegal tahun 1752. Pengacara yang berbasis di Washington dan juga seorang penulis lepas itu menghabiskan delapan tahun menyelidiki cerita Yarrow untuk bukunya di tahun 2012, “Dari Kapal Budak ke Harvard: Yarrow Mamout dan Sejarah Keluarga Afrika-Amerika (From Slave Ship to Harvard: Yarrow Mamout and the History of an African American Family).”

“Dia cukup terkenal di zamannya, tapi (di masa itu), tidak ada yang pernah memperhatikan siapakah dia,” kata Johnston. Inspirasi untuk penelitian Johnston datang setelah ia melihat dua potret Yarrow, yaitu penggambaran aristokrat seorang pria Amerika-Afrika yang berasal dari masa perbudakan.

Sebuah lukisan yang lebih populer dari dua lukisan tentang Yarrow dilukis oleh seniman Amerika awal terkenal, Charles William Peale, dan lukisan itu kini berada di Philadelphia Museum of Art. Bagi Johnston, lukisan itu mewakili martabat, ketekunan, dan ketangguhan selama masa-masa gelap sejarah Amerika.

“Orang-orang terkesan dengan lukisan itu karena Anda sedang melihat potret indah seorang pria yang tampak kaya, namun ia sebenarnya telah mengalami kondisi perbudakan yang mengerikan,” kata Johnston.

Yarrow terkenal di komunitas Georgetown. Dia adalah asisten Samuel Beall dan anaknya Brooke, dua profesional berpengaruh yang dekat dengan tokoh penting seperti Presiden pendiri AS George Washington. Ia dikenang sebagai sosok yang ceria, rajin dan sangat taat dalam imannya, berhenti untuk sholat lima kali sehari di mana pun ia berada.

Yarrow juga seorang pengusaha yang bisa membaca dan menulis. Di Georgetown, budak diizinkan untuk memiliki bisnis sampingan milik mereka sendiri, sehingga Yarrow menjadi pembuat batu bata. Bahkan, ia mendapatkan kebebasannya dengan membangun sebuah rumah untuk majikannya dan menyimpan uang untuk membangun rumahnya sendiri.

Kisah ini membuat Yarrow menjadi sebuah “catatan kaki besar” dalam sejarah, kata Amir Muhammad, direktur Museum Warisan Islam (Islamic Heritage Museum) Washington.

“Ini menunjukkan bahwa Muslim Amerika adalah bagian dari sejarah yang membentuk Amerika. Dia adalah pribadi yang nyata, bukan hanya dalam lukisan tetapi dalam karya-karya dan perbuatannya,” katanya.

Bagi arkeolog resmi Washington DC, Ruth Trocolli, setiap jejak arkeologi Yarrow membantu masyarakat untuk lebih memahami bagaimana hidup para budak, terutama budak Muslim.

Tapi upaya pemulihan sejarah ini cukup menantang. Beberapa tahun yang lalu, arkeolog menemukan sebuah pemakaman kecil dengan makam lima orang Afrika-Amerika dari era perbudakan di tanah yang berbatasan dengan bagian belakang tanah Yarrow, tapi tak satu pun dari kelima jasad tersebut yang cocok dengan deskripsi Yarrow.

Rumah Yarrow dihancurkan lebih dari satu abad yang lalu dan yang sekarang berada di properti yang dijadwalkan akan dibongkar karena secara struktural tidak sehat. Sebuah kolam renang di halaman belakang menghambat upaya penggalian. Tapi Trocolli berharap bahwa bagian terbuka dari properti Yarrow mungkin berisi fitur asli seperti sumur, jamban, gudang, atau bahkan kuburan Yarrow.

“Cerita Yarrow sangat signifikan,” kata Trocolli. “Ini adalah cerita tentang seseorang yang bertahan. Dia adalah seorang budak yang berhasil membeli kebebasannya sendiri.”

Awadallah mengakui bahwa ia memiliki minat yang lebih besar dalam bisnis real estate daripada di properti bersejarah, tapi sebagai Muslim Amerika keturunan Palestina, ia mengakui proses penyelidikan ini adalah suatu kebetulan.

“Saya tahu ada Budak Afrika yang Muslim, saya hanya tidak tahu mereka berada sedekat ini dengan rumah – hanya lima mil dari rumah saya di Falls Church, Virginia,” katanya.

Deddy | OnIslam | Jurniscom

 

Kisah Masjid Pertama di Amerika

NORTH DAKOTA (Jurnalislam.com) – Pemukim Muslim pertama dari Kekaisaran Ottoman datang ke Amerika Serikat pada tahun 1909 dan membangun masjid pertama mereka pada tahun 1929.

Imigran Muslim memiliki tempat yang unik di North Dakota dan sejarah AS. Pemukim Muslim datang ke Amerika mencari tempat yang bisa mereka anggap rumah. Dan mereka menemukan bahwa tempat itu adalah North Dakota.

Sebuah monumen pemukim awal tersebut berdiri sendirian di padang rumput di barat North Dakota. Sebuah monumen yang tidak diketahui orang-orang hanya enam mil jauhnya di Stanley. Tanpa diketahui oleh keturunan orang-orang yang beribadah di sana, dan keturunan orang yang dikuburkan di sana.

Masjid khusus ini merupakan masjid pertama yang pernah dibangun di Amerika.

“Selama periode tersebut,” Bapa William Sherman, yang menulis buku tentang para pemukim Muslim pertama, menjelaskan, “orang-orang datang ke sini karena lahan gratis.”

Tanah yang dijanjikan didatangi pemukim dari yang sekarang disebut Lebanon modern. Saat itu, wilayah tersebut berada di Suriah dan masuk ke dalam Kekaisaran Ottoman.

300 keluarga Muslim datang ke Dakota Utara. Salah satu imigran adalah Ali Omar, yang hendak direkrut menjadi tentara Ottoman tapi dia tidak ingin bertarung untuk Kekaisaran Ottoman, jadi dia datang ke Amerika Serikat. Dia datang ke North Dakota pada tahun 1909. Tapi tidak sampai 20 tahun kemudian masjid pertama di Amerika dibangun. Saat itu masyarakat yang ada tidak cukup untuk membangun masjid. Masjid ini dibangun pada tahun 1929, tempat di mana pemukim Muslim pertama bisa mempraktikkan ibadah mereka.

Tanpa pemimpin agama tetap, masjid jatuh ke tangan lain di pertengahan tahun 1930-an, Great Depression dan the Dust Bowl menimbulkan korban pada populasi Muslim. Kemudian banyak orang pergi ke pantai barat, di mana ada beberapa pekerjaan.

Orang akan berpikir bahwa ketika masjid asli ditutup maka jamaahnya akan menutup pintu sejarah North Dakota. Tapi lebih dari 80 tahun kemudian, penerus mereka tinggal di seluruh negara bagian. Keturunan dari para pemukim Muslim telah memenuhi peta. Di Williston, Bismarck, Lembah Sungai Merah. Sebuah fakta menunjukkan bagaimana para imigran mampu hidup harmonis dengan warga awal North Dakota lainnya.

Meskipun terdapat sejarah panjang umat Islam di North Dakota, namun sentimen anti-Muslim tampaknya tetap tumbuh. Lutheran Social Services diserang karena membantu pengungsi yang bermukim di Fargo. Dan restoran milik Somalia diserang bom di Grand Forks, setelah graffiti bertema Nazi disemprotkan pada bangunan.

Orang-orang yang tahu tentang Islam awal mengatakan pelajaran dapat dipelajari hari ini.

Mereka berharap sejarah Muslim dapat membantu menciptakan harmoni di masa sekarang, dan masa depan di North Dakota. Muslim dari seluruh negeri melakukan perjalanan untuk mengunjungi masjid pertama Amerika. Masjid dan pemakaman yang dikelola oleh anak-anak dan cucu pemukim asli. Mereka membahas kemungkinan mengubah perawatan situs itu ke North Dakota State Historical Society.

Sumber: KVRR | Deddy | Jurnalislam

Akibat Aniaya Jurnalis, KJI Boykot Lomba Foto Peringatan Hari TNI

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sebagai bentuk solidaritas terhadap jurnalis korban penganiayaan oknum TNI di Medan, Kamerawan Jurnalis Indonesia (KJI) menyatakan menolak berpartisipasi dalam lomba foto dan video yang diselenggarakan oleh Pusat Penerangan (Puspen) TNI yang digelar dalam rangka menyambut dan memeriahkan Peringatan Hari TNI ke-71.

Array Argus (wartawan Tribun Medan) dan Andry Safrin (MNC TV) menjadi korban penganiayaan oknum TNI AU saat sedang melakukan tugas peliputan aksi unjuk rasa warga di Sarirejo, Kecamatan Medan Polonia, Kota Medan yang bersengketa lahan dengan TNI AU pada Senin 15 Agustus lalu.

“Sikap KJI ini bentuk solidaritas atas tindak kekerasan yang di lakukan oknum-oknum TNI AU Lanud Medan terhadap rekan se-profesi kami Array Argus (Tribun Medan) dan Andry Safrin (MNC TV),” kata ketua KJI Andi Riccardi dalam pernyataanya kepada Jurniscom, Selasa (30/8/2016).

Array dan Andry harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Mitra Sejati, Kota Medan. Andry mengalami luka serius pada dada dan perut hingga mendapat bantuan pernafasan dengan oksigen. Selain itu tulang rusuk dan leher Andry juga patah.

“Demikian sikap KJI secara tegas menolak ikut dalam perlombaan yang diadakan TNI hingga kasus ini benar-benar selesai,” tegas Andry.

Lomba foto dan video memperingati Hari TNI itu bertema “Bersama Rakyat TNI Kuat, Hebat dan Profesional”.

Dinilai Dukung LGBT, Menteri Agama Sampaikan Klarifikasi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan penjelasan terkait orasi kebudayaan yang ia sampaikan dalam Ulang Tahun Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada Sabtu (27/8/2016) lalu. Dalam rangkaian acara tersebut, AJI memberikan penghargaan Tasrif Award kepada komunitas Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Interseksual dan Queer (LGBTIQ) dan Pengadilan Rakyat Internasional (IPT) 1965.

Orasi Lukman dinilai sebagai bentuk dukungan terhadap kedua komunitas tersebut. Dalam orasinya Lukman menyebut Indonesia sebagai bangsa yang bercirikan kemajemukan dan keberagaman, namun belakangan didera berbagai ancaman dari kalangan yang hendak memaksakan keseragaman.

Namun Lukman membantah pernyataan tersebut sebagai bentuk dukungan. Ia mengaku tidak tahu menahu siapa yang akan mendapat penghargaan tersebut. Ia pun membantah orasinya sama sekali tidak menyinggung para pemenang.

“Saya dan semua hadirin tak ada yang tahu siapa yang akan mendapatkan award di masing-masing kategori itu, sampai diumumkan pada malam itu. Ternyata yang menjadi pemenang memperoleh Tasrif Award adalah Komunitas LGBTIQ dan IPT. Saya tentu tak bisa intervensi apapun terhadap penetapan award yang masing-masing dilakukan oleh tim penilai tersendiri. Saya menyampaikan orasi sama sekali tak menyinggung para pemenang award tersebut,” terang Lukman dalam pernyataannya yang diterima Jurniscom, Senin (29/8/2016).

Lukman menjelaskan, dirinya hanya diminta untuk menyampaikan orasi kebudayaan dalam acara tersebut.

“Saya diminta menyampaikan orasi kebudayaan dalam ultah Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ke-22. Ternyata dalam acara itu juga diberikan tiga award, (Tasrif Award utk kategori lembaga/komunitas yg paling gigih memperjuangkan hak2nya, Udin Award utk wartawan yg paling gigih, dan SK Trimurti Award utk perempuan yg gunakan media utk berjuang),” pungkasnya.

Tasrif Award adalah penghargaan yang diberikan kepada lembaga atau komunitas yang paling gigih memperjuangkan hak-haknya. Selain Tasrif Award, dalam acara ulang tahun itu, AJI memberikan dua penghargaan lainnya, yaitu Udin Award (wartawan yang paling gigih dengan liputan atau kehormatan profesinya) dan SK Trimurti Award (penghargaan untuk perempuan yang menggunakan media untuk berjuang).

Sedangkan, Lukman Hakim sendiri dikecam oleh netizen melalui sebuah petisi berjudul Menteri Agama Lukman Saifudin Harus Mengundurkan Diri. Hingga saat ini, sudah 880 tanda tangan terbubuh dalam Petisi online yang dimuat dalam situs change.org itu.

Ribuan Warga Makassar Ikuti Gerakan Subuh Berjamaah di Pantai Losari

Ribuan Warga Makassar Ikuti Gerakan Subuh berjamaah di Pantai Losari, Ahad (28/8/2016)
Ribuan Warga Makassar Ikuti Gerakan Subuh berjamaah di Pantai Losari, Ahad (28/8/2016)

MAKASSAR (Jurnalislam.com) – Ribuan warga Makassar menghadiri shalat subuh berjamaah di Pantai Losari, Ahad (28/8/2016). Kegiatan bertema Gerakan Subuh Berjamaah itu digagas oleh Walikota Makassar Sendiri, Mohammad Ramdhan ‘Danny’ Pomanto.

Shalat Subuh berjamaah di Pantai Losari yang telah digelar untuk kedua kalinya ini mengikuti imam di mesjid Amirul Mukminin atau yang lebih dikenal masjid terapung. Dalam shaff juga terlihat berbagai unsur TNI dan Polri berseragam lengkap.

“Hadirnya elemen TNI-POLRI kali ini agar semua orang bisa melihat bahwa kami pemerintah, TNI, dan Polri serta Masyarakatnya sangat solid dan kompak,” ucap Danny kepada wartawan, Ahad (28/8/2016) sebagaimana dilansir Republika.

Danny mengatakan akan terus melakukan perbaikan pelaksanaan gerakan spiritual ini seiring masukan dari tokoh-tokoh agama dan alim ulama agar ibadah yang ingin dicapai menjadi lebih sempurna lagi ke depan.

“Selain ibadah, gerakan ini juga kita maksudkan untuk melatih kedisiplinan melalui shalat subuh. Lebih dari itu juga akan terus terjalin kekompakan di tengah-tengah masyarakat,” kata Danny.

Setelahnya kata Danny, pihaknya juga akan memerintahkan camat agar kegiatan serupa bisa dilakukan di masjid-masjid besar di wilayah kecamatannya masing-masing setiap satu kali per dua pekan.

Sementara pada tingkatan kelurahan kata Danny, diharapkan bisa dilaksanakan salat subuh berjamaah satu kali setiap pekan di masjid setempat.

Sumber: Republika | Editor: Ally Muhammad Abduh

Media-media Sekuler itu Bak Tukang Sihir pada Zaman Fir’aun

Abdul Rachim Ba'asyir dalam Mukernas Jurnalislam.com, Ahad (28/8/2016) | Foto: Muhammad Fajar
Abdul Rachim Ba’asyir dalam Mukernas Jurnalislam.com, Ahad (28/8/2016) | Foto: Muhammad Fajar

KARANGANYAR (Jurnalislam.com) – Pemerhati media Islam, Abdul Rachim Ba’asyir mengatakan, media-media sekuler berperan bak tukang sihirnya Fir’aun. Mereka mengelabui pandangan umat Islam dengan informasi-informasi bohong dan propaganda busuk.

Pria yang karib disapa ustadz Iim itu mengutip penjelasan Syeikh Imran Husein tentang peran media sekuler dalam menghancurkan semangat perjuangan umat Islam. Syeikh Imran Husein mengatakan, media-media sekuler ibarat tukang sihir pada zaman Fir’aun merubah pandangan masyarakatnya supaya mengakui Fir’aun sebagai Tuhan.

“Sehingga umat Islam tidak memiliki semangat untuk melawan, tidak ada kekritisan, begitulah fungsi media-media sekuler saat ini,” katanya saat menjadi narasumber dalam acara Mukernas Jurnal Islam di Villa Hanif, Tawangmangu, Karangnyar, Ahad (28/8/2016).

Ustadz Iim melanjutkan, untuk mengesankan bahwa Fir’aun itu sebagai Tuhan, mereka membuat tali-tali terlihat seperti ular. Namun tongkat Nabi Musa AS memakan ular-ular sihir itu dengan kekuatan mukjizat Allah SWT.

“Begitulah Allah SWT mengalahkan media-media Fir’aun. Setelah dijelaskan bahwa propaganda-propaganda itu hanya sihir yang mengelabui pandangan, maka saat itu masyarakat menjadi terbelalak. Akhirnya rakyat Mesir tahu bahwa sebenarnya Fir’aun itu bukan Tuhan,” paparnya.

Selanjutnya ustadz Iim berpesan kepada aktivis-aktivis media Islam untuk terus berupaya menanamkan keyakinan dalam diri umat Islam bahwa media-media sekuler yang memusuhi Islam itu hanyalah tukang sihir-tukang sihir yang membohongi umat dengan segala sajiannya.

“Supaya umat Islam tidak menjadikan mereka (media-media sekuler) sebagai rujukan karena mereka itu membawa misi berbahaya untuk mengelabui umat Islam dari kebenaran,” tegasnya.

Oleh sebab itu, Ustadz Iim berharap agar media-media Islam tidak hanya menjadi media alternatif akan tetapi menjadi media arus utama yang menjadi rujukan utama umat Islam.

Reporter: Dyo | Editor: Ally Muhammad Abduh

UU Pengampunan Pajak Hanya Akan Menteror Rakyat Kecil

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakil Ketua Umum PP Persatuan Islam (Persis), Dr Jeje Zaenudin menilai tax amnesty atau pengampunan pajak berpotensi menjadi teror bagi masyarakat kecil. Alih-alih menarik uang dari perusahaan kelas kakap, kata dia pada prakteknya justru akan menyasar seluruh lapisan masyarakat.

Wakil Ketua Umum PP Persis Dr Jeje Zaenudin
Dr Jeje Zaenudin

“Tax amnesty yang sedianya ditempuh sebagai siasat menarik uang dari perusahaan kelas kakap yang mengemplang pajak, pada prakteknya akan menyasar seluruh lapisan masyarakat, bahkan pengusaha-pengusaha kecil yang harus dilindungi. Mereka pada umumnya rakyat asli pribumi. Ini yang berpotensi ‘menteror’ masyarakat dengan ketidakpastian,” kata Dr Jeje kepada Jurnal Islam melalui pesan singkat, Senin (29/8/2016).

Ulama kelahiran Tasikmalaya itu mengatakan, salah satu problem mendasar tentang konsep negara demokrasi sekuler yaitu menyandarkan kekuatan devisa utamanya kepada pajak. “Ketika anggaran negara defisit dapat dipastikan jalan keluarnya adalah mencekik rakyatnya sendiri dengan menaikan pajak,” terangnya.

Untuk itu, ia mendesak pemerintah untuk membatalkan Undang-undang tersebut dan menawarkan hukum Islam sebagai solusinya.

“Islam hanya menghalalkan pengeluaran harta dengan cara zakat, infaq, sedekah, wakaf, jual beli, hibah, wakaf, dan transaksi lain yang disyariatkan. Sekarang diambil pajak paksa seakan semacam upeti dari rakyat pada negara,” pungkasnya.

Walikota Perancis Tolak Keputusan Pengadilan atas Larangan Burkini Bagi Wanita Muslim

PERANCIS (Jurnalislam.com) – Beberapa walikota Perancis menentang putusan pekan lalu oleh pengadilan tertinggi negara yang menjungkirbalikkan kontroversial “larangan burkini” di beberapa pantai publik dan kota resor, World Bulletin melaporkan, Senin (29/08/2016).

Laporan berdatangan dari beberapa wanita Muslim yang didenda dan diperintahkan untuk meninggalkan pantai selama akhir pekan.

Dewan Negara Perancis pekan lalu memutuskan bahwa larangan tersebut membawa “pelanggaran serius dan ilegal bagi kebebasan fundamental yang nyata seperti kebebasan untuk datang dan pergi, kebebasan hati nurani dan kebebasan pribadi.”

Keputusan tersebut, yang diterapkan pada larangan yang diberlakukan oleh kota Villeneuve-Loubet, membatalkan perintah yang dikeluarkan oleh hakim pengadilan lebih rendah di Nice dan mewakili penundaan langsung dari pembatasan yang diberlakukan di 26 daerah yang terpisah.

Namun, walikota beberapa kota telah bersumpah untuk menantang keputusan pengadilan dan menolak untuk mencabut larangan tersebut. Sebagian besar pembatasan masih terjadi di beberapa tempat sepanjang French Riviera, termasuk di Nice dan sederet resor di sepanjang Cote d’Azur.

Di Nice, rekaman video menunjukkan polisi di atas perahu motor memerintahkan seorang wanita Muslim yang mengenakan jilbab, atasan panjang dan legging untuk meninggalkan pantai pada hari Sabtu.

Gambar lain dari Nice menunjukkan polisi memerintahkan dua wanita yang mengenakan topi pantai dan jilbab untuk meninggalkan pantai.

Feiza Ben Mohamed, sekretaris jenderal Federasi Muslim dari Selatan, men-tweeted surat yang dikirim oleh kelompok mereka untuk Menteri Dalam Negeri Bernard Cazeneuve, meminta campur tangannya “untuk menghentikan pelanggaran aturan hukum.”

“Aturan hukum adalah inti dari Republik kita. Dan sekarang sedang ditertawakan oleh wakil-wakil terpilih lokal untuk tujuan murni pemilu dan populis,” tulis Ben Mohamed.

Mantan Presiden kanan tengah Nicolas Sarkozy, yang berkampanye kembali untuk pemilu tahun depan, telah menyerukan hukum yang memungkinkan walikota untuk melarang pakaian renang muslim.

Namun, Cazeneuve mengatakan kepada surat kabar La Croix pada hari Ahad bahwa hukum seperti itu tidak mungkin bertahan di bawah pemerintahan Sosialis saat ini.

“Pemerintah … menolak untuk mengatur hal ini karena hukum akan inkonstitusional, tidak efektif dan cenderung menciptakan antagonisme dan ketegangan yang tidak dapat diperbaiki,” katanya. “Kami tidak membutuhkan undang-undang baru. Hukum sekarang jelas-jelas menolak sekularisme Perancis.”

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam