Berita Terkini

Unjuk Rasa Penolakan RS Siloam Kembali Digelar, Umat Islam Datangi DPRD Kota Solo

SOLO (Jurnalislam.com) – Upaya penolakan pembangunan Rumah Sakit Siloam di Jalan Honggowongso 137, Kratonan, Serengan, Solo terus berlanjut. Kemarin, Jumat (2/9/2016) ratusan elemen umat Islam bersama warga Kratonan mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Solo di Jl. Adi Sucipto 143A, Karangasem, Laweyan, Solo.

Ratusan umat Islam dari Laskar Umat Islam Surakart (LUIS), Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Forum Komunikasi Aktivis Masjid (FKAM), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan yang lainnya itu membawa spanduk bertuliskan “Warga Solo Menolak Siloam Apapun Alasannya”.

Dalam kesempatan itu, Sekjen DSKS Ustad Tengku Azhar membacakan Surat Terbuka untuk Presiden RI Jokowi dan Walikota Solo FX Rudi dan pernyataan sikap warga kota Solo.

“Setelah mencermati aspirasi warga Kratonan, kami DSKS menolak RS Siloam di kota Solo jalan Honggowongso 137 dan 139 Rt 05/05. Pada tahap sosialisasi, pemerintah mengabaikan semua tokoh masyarakat dibuktikan beberapa ketua RT dan RW keberatan dengan pembangunan RS Siloam,” kata ustadz Tengku.

DSKS menilai Walikota lebih memberi izin dan berpihak kepada aspirasi investor asing daripada aspirasi warga Kratonan. Ustadz Tengku menambakan, proyek pembangunan RS Siloam yang memakan waktu 32 bulan itu dipastikan akan mengganggu kegiatan belajar di sekolah terdekat.

“Semoga dengan aksi kami Presiden Jokowi dan Walikota peka terhadap kegelisahan sosial, mengerti perasaan warga, membela nasib wong cilik,” tuturnya usai membacakan Surat Terbuka yang juga akan disampaikan kepada Panglima TNI, Kapolri, Mentri Kesehatan RI dan Ketua DPRD Solo itu.

Tokoh masyarakat Kratonan H.Muhammad Rofi’i mengatakan, pembangunan RS Siloam mengatakn keberadaan RS Siloam akan berdampak buruk kepada masyrakat Kratonan dan sekitarnya yang mayoritas beragama Islam.

Sementara itu, Amir Jamaah Ansharusy Syariah Jawa Tegah Ustadz Suro Wijoyo, Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) Solo Ustadz Aris Munandar, Ketua Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Klaten Ustadz Boni Azwar juga ikut menyampaikan orasi sebelum mereka menemui anggota DPRD Solo diruang rapat.

Aksi kemudian dilanjukan dengan konvoi kendaraan menuju Tanah Kosong Jl. Honggowongso, lokasi dimana RS Siloam akan dibangun. Disana massa memasang spanduk penolakan.

Forum Me-DAN Bima Gelar Jum’at Sodaqoh

BIMA (Jurnalislam.com) – Sebagai bentuk kepedulian kepada sesama, Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-DAN) Kota Bima menggelar kegiatan Jum’at Berbagi, Jumat (3/9/2016) di tiga lokasi sekaligus.

Kegiatan berupa pembagian nasi bungkus sebanyak 70 paket di tiga tempat yaitu di Kelurahan Na’e, kompleks Dinas Kebersihan Kota Bima, serta di panti asuhan Nurul Mubin Jalan Soekarno – Hatta, Kota Bima.

Selain untuk meningkatkan ukhuwah, Ketua forum Me-DAN Kota Bima Dian Ramadhan mengatakan aksi itu juga sebagai bentuk solidaritas serta kepedulian forum Me-DAN kepada sesama.

“Kami melihat pada hari ini masih banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan serta perhatian dari kita, oleh karena itu kami dari forum Me-DAN tergerak untuk bisa membantu mereka semua,” katanya kepada Jurniscom, Jumat (3/9/2016).

Kegitan itu juga merupakan langkah formal Me-DAN, dimana Me-DAN adalah sebuah forum yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan yang otomatis akan turun langsung untuk mengayomi serta membantu masyarakat, terlebih mereka yang tidak mampu.

“Kegiatan-kegiatan seperti ini akan terus kita intensifkan kedepannya untuk terus bisa berpartisipasi dan berkontribusi secara langsung bagi masyarakat, karena merupakan kebanggaan tersendiri bagi kami apabila bisa membantu mereka secara langsung,” terangnya.

Merindukan Wajah Indonesia yang Menggembirakan

BANGSA ini baru saja merayakan pesta pora menyambut hari kemerdekaan, hingar bingar beragam selebrasi pun dilangsungkan. Namun peringatan hari kemerdekaan seolah hilang makna karena jauh dari refleksi perjuangan para pendirinya. Pasca perayaan kemerdekaan, negeri tercinta ini secara bertubi-tubi dirundung beragam permasalahan, mulai dari eskalasi konflik aparat dan sipil yang kian tinggi, permufakatan jahat dibalik Tax Amnesti, LGBT yang kembali menguat, postur APBN yang begitu rapuh sampai pada konstelasi politik yang gaduh. Dan implikasi dari serangkaian persoalan diatas mempengaruhi stabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ini merupakan kado pahit bagi umat. Sehingga menumbuhkan memori kolektif dalam benak masyarakat bahwasanya pemerintah belum mampu menciptakan kondusifitas di tengah-tengah masyarakat. Kalaulah diibaratkan, Indonesia ini layaknya perahu besar yang membawa banyak penumpang, sang nahkoda harus memastikan bahteranya berlayar sampai dermaga tujuan. Tetapi sayang baru setengah perjalanan kapal ini berhasil dibajak oleh para penyusup dan perompak sampai akhirnya sang nahkoda dengan begitu mudah dikendalikan oleh para pembajak.

Begitupun kondisi negeri ini, sudah berhasil disusupi para pembajak dengan melakukan penetrasi ke berbagai sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, meraka dengan lantang berteriak atas dasar keterwakilan umat padahal sejatinya ia sedang membokongi umat. Para pembajak pun memainkan peran strategisnya, membuat dan mempengaruhi kebijakan agar produk-produk kebijakan bisa menguntungkan dia dan tuannya tanpa menghiraukan kepentingan masyarakat.

Demokrasi yang digaungkan oleh mereka hanya mengkapasitaskan umat sebagai pemain cadangan bukan sebagai pemain utama, jargon vox populi vox dei (suara rakyat suara tuhan) dan dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat pun hanya sekedar mitos belaka yang sengaja dikontruksi untuk mengelabui umat. Sehingga sangat wajar kondisi umat menjadi rusak karena dijadikan bancakan politik. Kebijakan tidak berpihak kepada umat. Dan yang begitu memilukan adalah ketika negara ini hanya dinikmati segelintir elit yang rasa nasionalismenya patut dipertanyakan.

Inilah potret buram yang melanda negeri. Mereka para pemangku kebijakan belum mampu mengeluarkan negeri ini dari segala problematika masalah yang melanda. Mantra-mantra kebijakan yang disusun tidak mampu menjadi solusi konkret, hanya sekedar pelipur lara sementara. Ini menjadi indikasi kuat bahwa sistem yang dianut sudah tidak mampu merawat keberlangsungan negeri ini.

Kegaduhan politik, miskinnya integritas, dekadensi moral generasi, terpuruknya ekonomi serta kejahatan yang kian tak terbendung seakan menegaskan wajah Indonesia menjadi begitu menakutkan, menyedihkan, bermuram durja. Padahal tercatat dalam sejarah bangsa ini bisa berdiri dengan tinta dan darah. Teganya mereka para pengurus negeri yang begitu mudah melacurkan idealismenya untuk menggadaikan negeri ini kepada para tuan majikannya. Tentu ini harus menjadi refleksi mendalam bagi umat. Nalar kritis umat harus dibangun agar mampu mengawal serta melawan dzalimnya para pemangku kebijakan.

Umat menginginkan serta merindukan wajah Indonesia yang menggembirakan, mencerahkan serta membahagiakan. Maka tentu untuk mewujudkannya umat mesti melakukan proses kaderisasi untuk melahirkan kader-kader bangsa atau kader umat yang mampu menjadi pelopor bukan pengekor, pembaharu bukan peniru. Sebab, pangkal dari segala persoalan bangsa ini adalah lemahnya kepemimpinan, lemahnya sistem serta miskinnya keteladanan. Tiga faktor ini merupakan bagian yang begitu fundamental yang harus segera direspon oleh umat.

Islam sebagai alternatif sistem!

Menarik pernyataan yang di lontarkan oleh pemimpin senior Singapura, Le Kwan Yew, “Jika pemimpin Indonesia membangun negara dengan SDA makan kami Singapurna akan membangun negara dengan SDM.” Dan terbukti hari ini Singapura menjadi mercusuar Asia Tenggara meninggalkan Indonesia yang membangun negara dengan menggadaikan SDM serta mengandalkan hutang terhadap asing dan aseng. Ini sudah dicontohkan dalam sejarah bahwasanya sang maestro politik Islam, Nabi Muhammad SAW membangun peradaban dengan kapasitas SDM-nya sehingga saat itu Islam tampil dengan wajah yang begitu menggembirakan dan mencerahkan.

Tentu bangsa ini pun harus segera dipulihkan dari sakitnya. Dibutuhkan obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit bangsa. Tentu obat tersebut adalah alternatif sistem, karena sistem yang diterapkan hari ini tak mampu menyembuhkan penyakit bangsa bahkan cenderung menaikan level stadium penyakit.

Sistem yang dianut tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur masyarakat negeri ini, maka wajar para pendiri bangsa sangat kokoh pendiriannya agar dasar negara berlandaskan Islam karena Islam linear dengan kepribadian bangsa Indonesia. Kekuatan Islam yang dipegang oleh para pendiri bangsa ini berperan besar untuk memerdekakan serta membangun negeri ini. Maka lekat dalam ingatan ketika sejarah mencatat akan kokohnya tokoh-tokoh Islam untuk menjadikan Islam sebagai sistem berbangsa dan bernegara.

Kita mengenal sosok Ki Bagus Hadikusumo atau pernyataan Buya Hamka dalam sidang konstituante, “tidak menjadikan Islam sebagai dasar negara sama saja meniti jalan menuju neraka”. Dan hari ini benar adanya, negeri ini terus dirunduk duka tak berkesudahan, masyarakat menjerit-jerit serasa hidup di neraka. Ini karena pengkianatan para pemimpin bangsa saat ini terhadap pendiri bangsa yang menginginkan Indonesia dirawat dengan Islam.

Di belahan dunia lain, negara-negara barat sudah mulai melirik Islam sebagai sebuah solusi, sebuah alternatif untuk mengeluarkan mereka dari keterpurukan. Segala bentuk persoalan yang mendera bangsa ini Islam sudah punya jawabannya, Islam sudah punya solusi konkretnya. Islam akan membangun pilar-pilar kekuatan bangsa, menciptakan pemimpin yang kuat, membangun sistem yang kuat, serta keteladanan yang menggerakan. Dan yang lebih penting, Islam mampu merubah wajah Indonesia yang menakutkan menjadi membahagiakan. Lebih dari itu, Islam memberikan keberkahan terhadap penduduk suatu negeri seperti yang telah dijanjikan-Nya.

“Dan sekira nya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti kami akan melimpahkan mereka berkah dari langit dan bumi” QS Al Araaf : 96

***

Cabang AQIM, Batalyon Uqba bin Nafi, Serang Pasukan Tunisia di Kasserine

TUNISIA (Jurnalislam.com) – Batalyon Uqba bin Nafi, cabang al Qaeda Maghreb Islam (AQIM) di Tunisia, melaporkan penyergapan terhadap tentara Tunisia di wilayah Gunung Sammama di Kasserine Governorate pada 29 Agustus lalu mengikuti laporan serupa hanya sebulan sebelumnya.

The Long War Journal melaporkan Kamis (01/09/2016), dalam pernyataan yang pertama kali dirilis di pakan Twitter-nya pada 30 Agustus dan kemudian dikonfirmasi oleh AQIM, mengatakan bahwa kelompok jihad “Sammama Brigade” meledakkan alat peledak improvisasi (IED) di salah satu kendaraan lapis baja militer Tunisia saat berpatroli.

Setelah ledakan, ia mengatakan para mujahidin bentrok dengan tentara lainnya yang mengakibatkan kematian “sejumlah” pasukan dan penangkapan tiga senapan serbu Steyr AUG. Media lokal melaporkan bahwa tiga tentara Tunisia tewas dalam serangan itu, sementara tujuh lainnya luka-luka. Laporan lain menunjukkan sebanyak sembilan tentara terluka.

Sebagai balasan, militer Tunisia meluncurkan operasi penyisiran di daerah. Dalam operasi ini, daerah Kasserine di Hay el Karma menjadi tempat pertempuran mematikan antara pasukan jihadis dan pasukan Tunisia, menewaskan dua jihadis dan satu warga sipil. Salah satu jihadis yang gugur, syahid, dilaporkan adalah Mbarki, yang diyakini adalah wakil senior untuk Lokman Abou Sakhar, mantan amir Batalyon Uqba bin Nafi. Sakhar gugur dalam operasi militer Tunisia Maret 2015.

Pada bulan Juli, Batalyon Uqba bin Nafi melaporkan menargetkan kendaraan militer dengan dua ranjau darat, menewaskan seorang tentara di wilayah Gunung Sammama. Laporan tersebut menandai serangan pertama sejak Maret.

Dalam penyergapan itu, penjaga perbatasan Tunisia menjadi sasaran di Bouchebka dekat perbatasan dengan Aljazair. Dalam sebuah pernyataan yang dirilis secara online oleh salah satu sayap media AQIM, kelompok jihad mengatakan pasukannya “melukai sejumlah tentara dengan berbagai tingkat kerusakan dan membakar kendaraan militer.” Otoritas Tunisia mengkonfirmasi serangan itu, namun para pejabat mengatakan bahwa hanya satu penjaga perbatasan yang terluka dalam serangan itu.

Selama dua tahun terakhir, cabang AQIM telah melaporkan beberapa serangan lainnya terhadap pasukan Tunisia. Pada bulan Desember tahun 2014, Batalyon Uqba bin Nafi mengklaim dua serangan terhadap pasukan Tunisia di kawasan Gunung Chaambi, dan memposting foto serangan beberapa hari kemudian. Hanya dua bulan kemudian, kelompok melaporkan telah membunuh empat tentara dalam serangan di Kasserine. Pada bulan Agustus tahun lalu, kelompok juga membunuh agen pabean di Bouchebka.

Penyergapan Uqba bin Nafi paling mematikan terhadap militer Tunisia terjadi di wilayah Gunung Chaambi pada bulan Juli 2014, sebuah pertempuran yang menewaskan 15 tentara dan melukai 20 lainnya.

Milisi Syiah Saraya al Salam Serahkan Wilayah Tikrit ke Tentara Irak

BAGHDAD (Jurnalislam.com) – Milisi Syiah, Saraya al-Salam, menyerahkan beberapa bagian kota Tikrit di barat laut Irak ke tentara Irak pada Kamis (01/09/2016) sekitar satu tahun setelah merebut daerah tersebut dari Islamic State (IS).

“Saraya al-Salam telah secara resmi menyerahkan tanggung jawab keamanan kepada tentara Irak dari Komando Operasi Baghdad di daerah yang terletak di sebelah barat daya distrik Al-Ishaqi (Tikrit ini),” sekte Syiah Saraya. Iyad al-Musawi mengatakan kepada Anadolu Agency, Kamis.

Menurut al-Musawi, semua elemen milisi Syiah sekarang telah ditarik dari daerah dan sejak itu telah digantikan oleh personil militer Irak.

Sekte Saraya al-Salam adalah sayap militer dari gerakan ekstremis Syiah Sadr yang dipimpin oleh tokoh Syiah Irak dan tokoh oposisi Moqtada al-Sadr.

Kelompok ini merupakan bagian dari Hashd al-Shaabi, payung milisi Syiah pro militer Irak yang saat ini terlibat dalam memerangi IS.

Pada pertengahan 2014, IS menyerbu distrik Al-Ishaqi Tikrit, ibukota daerah provinsi Saladin utara Irak.

Hampir satu tahun kemudian, pasukan Irak – yang didukung oleh milisi Syiah Hashd al-Shaabi – merebut kembali distrik dari IS, dengan Saraya al-Salam bertanggung jawab atas setiap kondisi di wilayah Samarra, Balad dan Al-Dujail.

Pasukan Rezim Assad Gagal Rebut Hama dari Mujahidin Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com) – Sejumlah area provinsi Hama Suriah yang diberhasil direbut oleh koalisi mujahidin Suriah dihantam serangan udara berat pada hari Kamis saat pasukan pro-rezim Assad berusaha menghadang serangan besar kelompok mujahidin Suriah di daerah strategis yang penting bagi rezim Bashar al-Assad, lansir Al Jazeera Kamis (01.08.2016).

Serangan yang dimulai pada hari Selasa adalah serangan koalisi mujahidin yang terkoordinasi terbesar di provinsi Hama sejak 2014, menurut kelompok monitoring Observatorium Suriah untuk HAM (the Syrian Observatory for Human Right-SOHR).

Observatorium yang berbasis di Inggris tersebut mengatakan sedikitnya 25 orang warga sipil, termasuk enam anak, tewas dalam serangan udara rezim Assad semalam, Rabu.

Televisi pemerintah Suriah mengatakan pada hari Kamis bahwa angkatan udara telah melakukan “serangan terkonsentrasi” terhadap daerah yang mereka gambarkan sebagai “daerah jihadis”.

Dorongan kelompok pejuang Suriah di Hama menandai tantangan baru bagi rezim Assad dan sekutunya di wilayah Suriah di mana Nushairiyah Assad mencoba mengkonsolidasikan kekuasaannya terhadap upaya lima tahun untuk menggulingkan dia.

Seorang pejabat di salah satu faksi yang melancarkan serangan, Jaish al-Nasr, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa jet Suriah dan Rusia terlibat dalam serangan udara berat. Rusia telah membom pemukiman sipil selama hampir satu tahun.

 

Pemimpin Garda Revolusi Iran, Jenderal Ahmad Gholami, Tewas di Selatan Aleppo

SURIAH (Jurnalislam.com) – Media Iran melaporkan kematian salah satu pemimpin Garda Revolusi Iran (IRGC) di dalam wilayah Suriah selama pertempuran berlangsung di pedesaan selatan Aleppo, ElDorar AlShamia mengatakan Kamis (01/08/2016).

Sumber Media melaporkan bahwa mantan wakil Ketua IRGC dan pemimpin Batalion Sayed al-Shohadaa, Brigadir Jenderal Ahmad Gholami, tewas dalam pertempuran pedesaan selatan Aleppo dalam 24 jam terakhir.

Lewaa Fatemion” Afghanistan berkabung atas kematian tiga prajuritnya yaitu Abbas Kamel, Mustafa Husseini dan Hussein Rezai dalam pertempuran yang sama di selatan Aleppo, menunjukkan bahwa mereka dibunuh “di garis depan saat bertugas.”

Milisi Syiah Iran, Irak, Afghanistan dan Hizbullah Libanon bergabung dengan pasukan rezim Nushairiyah Assad pada pertempuran di selatan Aleppo, wilayah kendali faksi mujahidin Suriah, dengan tujuan untuk memotong jalan pasokan antara Aleppo dan seluruh pedesaan nya.

 

 

 

Teror Masa Depan Anak, Pemuda Muhammadiyah: Pemerintah Harus Nyatakan Perang Terhadap LGBT

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan bahwa perilaku gay adalah ancaman nasional dan telah menjadi teror bagi masa depan anak Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan menanggapi terkuaknya prostitusi anak laki-laki untuk melayani kaum gay dewasa di kawasan Puncak, Bogor.

“Fakta ini membuktikan bahwa perilaku gay ini adalah ancaman nasional. Mengancam masa depan Anak-Anak Indonesia, ancaman kelompok gay yang menggunakan prostitusi anak ini adalah fakta bahwa mereka sudah menjadi teror bagi masa depan anak-anak Indonesia,” tegasnya dalam pernyataan yang diterima Jurniscom, Kamis (1/9/2016).

Menurut Dahnil, kasus ini juga dapat menjadi landasan kuat bagi pemerintah untuk mengkriminalkan pelaku homoseksual dan menghukum seberat-beratnya para pelaku perdagangan anak dibawah umur untuk pemuas nafsu bejad kaum gay.

“Masa depan anak-anak kita dan keamanan mereka sedang dibawah teror para teroris yang berperilaku menyimpang tersebut, maka pemerintah harus bersikap tegas dan terang perang terhadap mereka, dan kami percaya pemerintah bisa melakukan hal tersebut, jangan sampai masyarakat yang bereaksi berlebihan,” terangnya.

Untuk diketahui, Subdit Cyber Crime Bareskrim Polri berhasil mengungkap jaringan prostitusi pada Selasa (30/8/2016) malam kemarin di wilayah Cipayung, Puncak, Jawa Barat. Seorang residivis berinisial AR yang baru enam bulan keluar penjara adalah germo yang menawarkan anak-anak laki-laki kepada sesama jenis atau homoseksual lewat media sosial atau secara online.

Faksi Mujahidin Suriah Siap Gagalkan Pengepungan Pasukan Assad pada Penduduk Al Waer, Homs

SURIAH (Jurnalislam.com) – Faksi mujahidin Suriah menegaskan bahwa mereka akan berusaha menggagalkan rencana rezim Syiah Assad untuk mengubah keadaan demografi di Suriah dan mencegah perpindahan penduduk yang tinggal di lingkungan “al-Waer” di Homs, ElDorar AlShamia melaporkan, Kamis (01/09/2016).

11 Faksi mengancam melalui pernyataan pada hari Rabu untuk mengebom barak dan pertemuan milik pasukan Nushairiyah Assad: “Kami tidak akan membiarkan lingkungan dan desa-desa pro Assad tetap aman dan pasukan kami telah melakukan pemboman dan perusakan.”

Pernyataan itu juga menegaskan organisasi-organisasi internasional berkontribusi pada perpindahan warga sipil Muslim dan berkolusi dengan rezim Assad, serta mempertanyakan: “Mengapa mereka khawatir tentang lingkungan pro rezim Assad di Aleppo dan tidak pernah berbicara tentang apa yang terjadi di Homs”.

Rezim Syiah Assad menerapkan kebijakan mengepung dan menciptakan kelaparan terhadap banyak daerah di Suriah, sehingga memaksa penduduk Daraya untuk keluar beberapa hari lalu setelah lima tahun pengepungan serta pemboman berat, dan saat ini mereka bersiap mengulangi skenario yang sama di lingkungan “al-Waer” yang terkepung di Homs.

 

Bantuan Idul Adha Turki Mencapai 130 Negara

TURKI (Jurnalislam.com) – Ribuan hewan kurban sebagai bagian dari perayaan Idul Adha mendatang akan disumbangkan kepada keluarga yang membutuhkan di 130 negara, menurut seorang pejabat senior dari Direktorat Urusan Agama Turki, lansir World Bulletin, Kamis (01/09/2016).

Yayasan, yang merupakan salah satu badan amal terbesar di negara itu, memimpin persiapan untuk hari raya dan mendistribusikan daging hewan kurban untuk keluarga Muslim di seluruh dunia.

Wakil Presiden Abdurrahman Cetin mengatakan 225.000 hewan akan dikorbankan selama Idul Fitri.

“125.000 dari 225.000 hewan kurban akan disembelih di luar negeri dan didistribusikan kepada orang-orang yang membutuhkan di 130 negara,” kata Cetin.

Dia mengatakan 100.000 hewan yang tersisa akan dikorbankan di Turki dan akan didistribusikan kepada ribuan orang di seluruh Turki, terutama lokasi para pengungsi Suriah.

Menurut yayasan, mereka yang ingin mengambil bagian dalam perayaan ini dapat membayar 500 lira Turki (sekitar $ 169) di luar negeri, sementara itu untuk mengambil bagian dalam perayaan domestik di Turki akan dikenakan biaya 690 lira Turki (sekitar $ 230).

Dimulai pada 12 September, Muslim akan merayakan Idul Adha tiga hari, yang juga dikenal sebagai Hari Raya Kurban, yang merayakan kesediaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan anaknya Ismail untuk Allah Swt.

Ini adalah hari raya utama kedua dari dua hari raya utama yang dirayakan oleh umat Islam dan menandai hari terakhir ibadah haji bagi kaum muslimin di Arab Saudi, di mana jutaan jamaah berkumpul ke Makkah dan Madinah.